• Tidak ada hasil yang ditemukan

Inovatif dan Kreatif

10. Kerajaan Bali Kuno

Kerajaan Bali Kuno terletak di Pulau Bali yang berada di sebelah timur Provinsi Jawa Timur. Kerajaan Bali mempunyai hubungan sejarah yang erat dengan kera-jaan-kerajaan di Pulau Jawa, khususnya di Jawa Timur, seperti kerajaan Singasari dan Majapahit.

a. Kehidupan Politik

Berita tertua mengenai Bali bersumber dari Bali sendiri, yakni berupa beberapa buah cap kecil dari tanah liat yang berukuran 2,5 cm yang ditemukan di Pejeng, Bali. Cap-cap itu dibuat pada abad ke-8 M. Adapun prasasti tertua di Bali berangka tahun 882 M, memberitakan perintah

membuat pertapaan dan pasanggrahan di Bukit Kintamani. Di dalam

prasasti tersebut tidak ditulis nama raja yang memerintah pada masa itu. Demikian juga prasasti yang berangka tahun 911 M yang isinya memberikan izin kepada penduduk Desa Trunyaan untuk membangun tempat suci bagi pemujaan Bhattara da Tonta.

Munculnya Kerajaan Bali dapat diketahui dari Prasasti Blanjong (Sanur) yang berangka tahun 914 M. Prasasti tersebut itulis dengan huruf Pranagari dan Kawi, sedang bahasanya ialah Bali Kuno dan Sanskerta. Raja Bali yang

Kecakapan Personal

Kerjakan tugas di bawah ini

1. Sebut dan jelaskan adanya sumber yang menyebutkan keberadaan Kerajaan Sunda di Jawa Barat!

2. Apa isi dari Prasasti Sanghyang Tapak 1030 M?

3. Kapan Kerajaan Sunda mengalami masa kejayaan dan tunjukkan dengan bukti-buktinya!

4. Bagaimanakah kehidupan masyarakat Kerajaan Sunda? 5. Mengapa akhirnya Kerajaan Sunda mengalami kehancuran? Hasilnya kumpulkan kepada guru kalian!

pertama ialah Kesari Warmadewa. Ia bertakhta di Istana Singhadwala dan

merupakan raja yang mendirikan Dinasti Warmadewa. Dua tahun

kemudian, Kesari Warmadwa digantikan oleh Ugrasena (915–942). Raja

Ugrasena bertakhta di Istana Singhamandawa. Masa pemeritahannya

sezaman dengan pemerintahan Empu Sendok dari keluarga Isana di Jawa Timur. Raja Ugrasena meninggalkan sembilan prasasti yang umumnya berisi tentang pembebasan pajak untuk daerah-daerah tertentu.

Raja yang memerintah setelah Ugrasena adalah Aji Tabanendra

Warmadewa (955–967). Raja ini memerintah bersama-sama permaisurinya yang bernama Sri Subadrika Dharmadewi. Pengganti berikutnya ialah Jaya-singha Warmadewa (968–975). Raja ini membangun sebuah pemandian dari sebuah mata air yang ada di Desa Manukaya. Pemandian itu disebut

Tirtha Mpul yang terletak di dekat Tampaksiring.

Raja Jayasingha digantikan oleh Janasadhu Warmadewa (975–983). Pada tahun 983 muncul seorang raja wanita yang bernama Sri Maharaja Sri Wijaya Mahadewi. Pengganti Sri Wijaya Mahadewi ialah Udayana War-madewa. Ia memerintah bersama permaisurinya, yaitu Gunapriya Dharmapatni yang lebih dikenal sebagai Mahendradatta. Udayana meme-rintah bersama permaisurinya sampai dengan tahun 1001 M karena pada tahun itu Mahendradatta meninggal. Udayana meneruskan pemerintahannya sampai dengan tahun 1011 M.

Raja Udayana mempunyai tiga orang putra, yakni Airlangga, Marakata,

dan Anak Wungsu. Airlangga tidak pernah memerintah di Bali sebab menjadi menantu Dharmamangsa di Jawa Timur. Oleh karena itu, setelah Udayana meninggal, takhtanya digantikan oleh Marakata. Setelah naik takhta,

Marakarta memakai gelar Dharmawangsawardhana Marakata

Pangkaja-sthana Uttunngadewa. Masa pemerintahan Marakata sezaman dengan Airlangga (1011–1022 M). Ia dianggap sebagai kebenaran hukum yang selalu memerhatikan dan melindungi rakyatnya. Oleh karena itu, Marakata disegani dan ditaati oleh rakyatnya.

Pengganti Marakata ialah Anak Wungsu. Anak Wungsu merupakan Raja Bali yang paling banyak meninggalkan prasasti, yakni ada kurang lebih 28 buah prasasti dan tersebar di Bali Utara, Bali Tengah, dan Bali Selatan. Anak Wungsu berhasil memegang tampuk pemerintah di Bali selama 28 tahun (1049–1077). Semasa pemerintahannya, ia berhasil mewujudkan kerajaan yang aman, damai, dan sejahtera. Penganut agama Hindu dapat hidup berdampingan dengan agama Buddha. Anak Wungsu berhasil mem-bangun sebuah kompleks percandian di Gunung Kawi (sebelah selatan Tam-paksiring) yang merupakan peninggalan terbesar di Bali. Masa pemeritah-annya yang gemilang, Anak Wungsu dianggap oleh rakyatnya sebagai penjilman Dewa Hari (Dewa Kebaikan). Setelah meninggal, Anak Wungsu didharmakan di Candi Gunung Kawi.

Anak Wungsu tidak meninggalkan putra. Permisurinya dikenal dengan nama Batari Mandul. Raja yang memerintah setelah Anak Wungsu yang terkenal ialah

Jayasakti (1133–1150). Masa pemerin-tahan Jayasakti sezaman dengan Raja Jayabaya di Kediri. Pada saat itu agama Buddha, Siwaisme, dan Waisnama ber-kembang dengan baik. Raja Jayasakti disebut sebagai penjilmaan Dewa Wisnu. Sebagai seorang raja yang bijaksana, ia memerintah kerajaan berdasarkan pada hukum keadilan dan kemanusiaan. Kitab undang-undang yang berlaku pada masa

pemerintahannya ialah Utara Widdhi

Balawan dan Raja Wacana atau Rajaniti. Raja Bali yang terkenal lainnya ialah

Jayapangus (1177–1181). Raja Jayapangus dianggap sebagai penyelamat rakyat yang terkena malapetaka karena melalaikan ibadah. Jayapangus menerima wahyu dari Dewa untuk mengajak rakyat kembali melakukan upacara rital agama yang sampai sekarang dikenal dan diperingati sebagai

upacara Galungan. Kitab undang-undang yang digunakan sebagai pedoman masa pemerintahannya ialah kitab Mana Wakamandaka.

Setelah Jayapangus, Bali diperintah oleh raja-raja yang lemah. Bali kemudian berhasil ditaklukan oleh Gajah Mada dan menjadi wilayah kekuasaan Majapahit.

b. Kehidupan Sosial Ekonomi

Struktur masyarakat yang berkembang pada masa Kerajaan Bali Kuno, sesuai dengan kebudayaan Hindu di India, yaitu pada awalnya diwarnai dengan sistem kasta yang disebut caturwarna. Untuk masyarakat yang berada di luar kasta disebut budak atau njaba.

Selain itu, ada hal yang menarik dalam sistem keluarga di Bali yakni berkaitan dengan pemberian nama anak. Misalnya, Wayan, Made, Nyoman

dan Ktut. Untuk anak pertama dari golongan brahmana dan kesatria disebut

Putu.

Kehidupan perekonomian masyarakat dari Kerajaan Bali Kuno bertumpu pada pertanian. Beberapa istilah yang berkaitan dengan bercocok tanam, antara lain sawah, parlak (sawah kering), gaga (ladang), kebwan (kebun), dan kasuwakan (irigasi). Selain bercocok tanam, ada yang bekerja sektor di kerajinan. Mereka memiliki kepandaian membuat barang-barang kerajian dari emas dan perak, perlatan rumah tangga, dan alat-alat pertanian. Bahkan, ada memiliki kepandaian memahat dan melukis.

Sumber: Insight Guides

Gambar 2.13 Candi Gunung Kawi merupakan makam Anak Wungsu

Kegiatan perdagangan pun, sudah cukup maju. Di beberapa desa terdapat golongan saudagar yang disebut wanigrama (saudagar laki-laki) dan wanigrami (saudagar perempuan). Mereka memiliki kepala atau pejabat

yang mengurus kegiatan perdagangan yang disebut banigrama atau

banigrami.

c. Kehidupan Budaya

Masuknya kebudayaan Hindu–Buddha ke Bali, ber-pengaruh besar pada masyara-katnya. Sampai saat ini mayo-ritas penduduk Bali menganut agama Hindu. Agama Hindu di Bali te-lah bercampur dengan adat isti-adat setempat sehingga Hindu khas Bali disebut Hindu Dharma. Agama Buddha juga berkem-bang, meskipun tidak sepesat agama Hindu. Hal ini dapat diketahui dari jumlah pe-danda (pendeta) agama Hindu

(Siwa) yang bergelar dang

acarrya lebih banyak dari pada pendeta Buddha yang bergelar dang upadhyaya. Agama Hindu dan Buddha dapat hidup berdampingan secara damai, menunjukkan adanya tolerasi yang tinggi dalam masyarakat Bali.

Di bidang budaya berkaitan dengan kehidupan keagamaan dapat dijumpai pada bangunan peninggalan masa kuno yang sampai sekarang masih dapat kita saksikan, seperti candi dan pura. Peninggalan bangunan candi, seperti Candi Padas di Gunung Kawi. Sebaliknya, untuk peninggalan pura di antaranya ialah Pura Agung Besakih.

Sumber:Indonesian Hertage;Sejarah Modern awal

Gambar 2.14 Pura Agung Besakih

Jawablah pertanyaan di bawah ini dengan singkat dan padat!

1. Bagaimana isi prasasti tertua di Bali yang menyangkut Raja Bali? 2. Mengapa Anak Wungsu berhasil memegang pemerintahan di Bali cukup

lama?

3. Apa jasa Jayapangus ketika memegang pemerintahan di Bali? 4. Jelaskan kehidupan sosial ekonomi masyarakat pada masa Kerajaan

Bali Kuno!

5. Bagaimana kehidupan kebudayaan pada masa Kerajaan Bali Kuno?

Latihan