TINJAUAN PUSTAKA
KERANGKA BERPIKIR DAN HIPOTESIS Kerangka Berpikir
Kerangka Berpikir
Kerangka berpikir merupakan alur pemikiran proses penelitian yang akan dilakukan. Alur berpikir dimulai dari kenyataan adanya masalah tentang kondisi kapasitas pembudidaya ikan yang umumnya tergolong rendah, di lain pihak terdapat tantangan dan masalah global yang cukup besar baik yang berdimensi ekonomi maupun berdimensi lingkungan. Hipotesis yang ditetapkan diperoleh dengan menggunakan alur berpikir secara deduktif melalui kajian berbagai literatur, sehingga diperoleh pemahaman tentang berbagai teori dan konsep pendukung penelitian. Pada proses penelitian secara empiris, diperoleh temuan atau kesimpulan sebagai suatu bentuk berpikir secara induktif. Pada akhirnya melalui temuan proses empiris ini dapat dijadikan suatu rumusan strategi untuk mengembangkan kapasitas pembudidaya ikan. Pada penelitian ini kerangka berpikir disusun seperti yang terlihat pada Gambar 10.
Gambar 10. Kerangka Berpikir Penelitian Globalisasi : - Perubahan preferensi pasar dan tuntutan pasar atas kualitas produk - Krisis pangan dan tuntutan ketahanan pangan Perubahan kondisi lingkungan alam: - perubahan iklim - penurunan kualitas lingkungan perairan Tantangan dan masalah usaha akuakultur Kapasitas Pembudidaya yang tinggi: - Menjalankan fungsi-fungsi usaha -Memecahkan masalah - Merencanakan dan mengevaluasi usaha - Beradaptasi Usaha Berkelanjutan Kinerja Penyuluh:
Identifikasi kebutuhan dan penyusunan rencana kerja
Pelaksanaan proses pembelajaran Pengembanga kelompok Pengembangan jejaring Pembudidaya ikan yang sejahtera dan bermartabat Lembaga pendukung agribisnis:
Lembaga keuangan
Lembaga penyedia input.
Lembaga penyedia informasi
Lembaga pemasaran
Kelompok pembudidaya ikan
Strategi Pengembangan Kapasitas
Pembudidaya ikan dalam menjalankan usahanya tidak lepas dari masalah yang timbul dari adanya perubahan-perubahan global yang terjadi di sekitarnya, baik yang terkait dengan perubahan lingkungan hidup maupun perubahan ekonomi pasar. Perubahan iklim global secara langsung maupun tidak langsung berpengaruh pada perubahan lingkungan perairan sebagai wahana pertumbuhan ikan. Perubahan ekonomi pasar yang terbuka mengharuskan pembudidaya ikan mampu bersaing dengan produk luar baik dari mutu maupun harga. Sebagai upaya untuk meningkatkan kemampuan pembudidaya ikan menghadapi tantangan-tantangan tersebut diperlukan kapasitas yang tinggi.
Kapasitas yang tinggi diperlukan untuk dapat menjalankan fungsi-fungsi usaha akuakultur secara lebih baik, tidak hanya pada aspek produksi saja, melainkan juga pada aspek usaha yang lain, seperti aspek pengelolaan keuangan, tenaga kerja, serta pemasaran. Pembudidaya ikan juga harus mampu mengatasi segala masalah usahanya, mampu merencanakan dan mengevaluasi usaha, serta beradaptasi dengan perubahan yang dihadapinya. Keseluruhan kapasitas ini berpotensi menjadikan usahanya berkelanjutan.
Kapasitas dalam diri pembudidaya ikan tersebut tidak terlepas dari kemampuannya dalam mengambil keputusan yang rasional. Menurut Baron (1994), keputusan yang rasional diperoleh dari hasil pencarian pembuktian dan penilaian dari beberapa kemungkinan. Pengetahuan sangat penting dalam pengambilan keputusan (Ilbery 1978), namun menurut Baron (1994) umumnya pengetahuan yang dimiliki oleh petani tidak cukup untuk mengambil keputusan yang rasional, sehingga diperlukan pengetahuan luar yang diperoleh dari para ahli.
Pengambilan keputusan yang rasional menjadikan tindakan yang rasional. Menurut Popkin (1979) yang menentang teori Scott tentang moral petani, bahwa petani adalah orang-orang kreatif yang penuh perhitungan rasional bahkan bila ada kesempatan terbuka maka mereka ingin mendapatkan akses ke pasar. Pernyataan ini bertentangan dengan Scott yang menyebutkan bahwa kolonialisme dan kapitalisme merupakan musuh petani karena mengancam eksistensi komunitas melainkan karena ”eksistensi ekonomi individual”. Pada prinsipnya petani bersikap mengambil posisi yang menguntungkan dirinya. Terkait dengan hal ini, pembudidaya ikan akan memperhitungkan untung rugi dalam usahanya.
Rasionalitas pembudidaya ikan membutuhkan perspektif pengetahuan tentang hal-hal yang terkait dengan usahanya, sehingga tujuan yang diinginkan tercapai secara efektif. Dalam hal ini, peran penyuluh sangat diperlukan untuk menciptakan proses pembelajaran (learning process) bagi pembudidaya ikan, sehingga potensi yang ada dalam diri pembudidaya bisa tergali dan secara mandiri dapat mengatasi permasalahannya, serta dapat meningkat daya kreativitas dan keinovatifannya.
Peran penyuluh dalam meningkatkan kapasitas pembudidaya ikan dapat dilihat dari kinerja penyuluh, yang meliputi penggalian masalah dan potensi di wilayah kerjanya, pengembangan jejaring, pelaksanaan proses pembelajaran, dan penumbuhkembangan kelompok.
Peran lembaga-lembaga agribisnis juga penting untuk meningkatkan kapasitas pembudidaya ikan, baik yang bergerak di bidang keuangan (penyedia modal), penyediaan input produksi, penyediaan informasi dan teknologi, serta pemasaran. Pengambilan keputusan pembudidaya ikan untuk menjalin kerjasama dengan lembaga-lembaga tersebut dipengaruhi oleh pandangannya kepada lembaga-lembaga tersebut. Pengalaman negatif maupun ketidaktahuan tentang peran lembaga-lembaga ini akan bisa berakibat pada perilakunya untuk tidak berinteraksi dengan lembaga-lembaga tersebut. Seperti yang dinyatakan oleh Hegel (1999), pandangan seseorang akan mempengaruhi pemahaman dan penerimaan kondisi lingkungan, serta perilakunya. Pandangan ini membentuk kerangka referensi (frame reference) untuk bertindak.
Jaringan sosial berperan dalam membentuk perspektif pengetahuan individu, karena antar individu dalam suatu komunitas terjadi interaksi. Haverkort et al. (1993) menyatakan bahwa jaringan (network) sebagai kelompok yang terdiri dari individu-individu yang mengorganisasikan dirinya secara bersama-sama yang berbasis sukarela dengan tujuan pertukaran informasi, materi, pelaksanaan kegiatan bersama, dan pemberdayaan. Engel (Naksung 2003) menyatakan, networking sebagai proses resultante relasi sosial yang terbangun dari beberapa orang untuk mencapai tujuan tertentu, karakteristik dan fungsinya ditentukan oleh misi yang ditetapkan. Jaringan menggambarkan ide komunitas, dasar bagi individu untuk berbagi ide, berinteraksi satau sama lain dengan basis
minat bersama, dan saling percaya, sehingga keberhasilan jaringan sosial ditentukan oleh sinergi sosial yang ada.
Terkait dengan hal tersebut, kelompok pembudidaya ikan sebagai suatu jaringan sosial, berperan penting untuk mendukung usaha para anggotanya. Melalui kelompok kekuatan tawar (bargaining position) pembudidaya ikan menjadi lebih kuat, dan kelompok bisa sebagai wadah belajar bagi seluruh anggotanya. Hubungan antar peubah penelitian dapat dilihat pada Gambar 11.
Gambar 11. Hubungan antar Peubah Penelitian
Paradigma Kapasitas Pembudidaya Ikan
Konsep kapasitas sering diartikan secara sempit sebagai kemampuan menjalankan pekerjaan (ability) oleh seseorang, kelompok, atau masyarakat.
X1. Karakteristik internal: X1.1. umur X1.2. pendidikan formal X1.3. pendidikan non formal X1.4. pengalaman usaha X1.5. pendapatan X1.6. tanggungan keluarga X1.7. skala usaha Y1. Kapasitas Pembudidaya Ikan:
Y1.1. Menguasai fungsi-fungsi usaha (produksi, pemodalan, penyediaan input produksi, pemasaran) Y1.2. Mampu memecahkan masalah Y1.3. Mampu merencanakan dan mengevaluasi usaha
Y1.4. Memiliki daya adaptasi Y2. Keberlanjutan usaha: Y2.1. Perkembangan usaha Y2.2. Terjaminnya kondisi lingkungan Y2.3. Peningkatan kesejahteraan X3. Dukungan kelembagaan agribisnis X3.1. penyediaan modal
X3.2. penyediaan input produksi X3.3. kelancaran pemasaran X3.4. penyediaan informasi X4. Dukungan kelompok pembudidaya ikan X4.1. Tingkat kedinamisan kelompok X4 2. Peran pemimpin kelompok X2. Kinerja penyuluh X2.1. Identifikasi kebutuhan dan penyusunan rencana kerja X2.2. Pengembangan kelompok X2.3. Pelaksanaan proses pembelajaran X2.4. Pengembangan jejaring
Beberapa pendefinisian kapasitas, seperti pada Tabel 6 memperlihatkan, kapasitas memiliki makna yang lebih luas.
Kapasitas mengarah pada beberapa konteks, seperti: (a) kompetensi, yaitu karakteristik dasar seseorang yang mempengaruhi cara berpikir dan bertindak, yang dapat diukur dari tingkatan kinerjanya sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Pada ranah pengetahuan dan keterampilan dengan lebih mudah diukur, sedangkan untuk ranah sikap, nilai, dan traits (sifat) lebih sulit dilakukan; (b) kinerja, yaitu tingkat keberhasilan seseorang dalam menjalankan sesuatu bidang pekerjaan. Kata kuncinya adalah keberhasilan, jadi tidak hanya semata-mata melihat kemampuan seseorang dalam mengerjakan suatu pekerjaan (ability); (c) daya adaptif, terhadap suatu perubahan-perubahan yang muncul di luar kendali diri seseorang; dan (d) kemampuan menjalankan fungsi, memecahkan masalah, dan merencanakan suatu hal yang ingin dikerjakan dan mengevaluasinya.
Keterkaitan antara berbagai konsep yang umum dipakai dalam pengembangan SDM, khususnya penyuluhan, antara lain adalah kemampuan (ability), kompetensi, kapasitas, dan kemandirian, seperti pada Gambar 12.
Gambar 12. Keterkaitan antara Ability, Kompetensi, Kapasitas, dan Kemandirian Kemampuan (ability) merupakan inti dari keseluruhan konsep tersebut. Kemampuan diartikan sebagai kekuatan untuk melakukan suatu pekerjaan, yang terkandung di dalamnya tiga ranah perilaku, yaitu pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Kemampuan menjalankan suatu pekerjaan dipengaruhi oleh karakteristik dasar seseorang (kompetensi), oleh karenanya perlu diukur dengan melihat kinerja orang tersebut sesuai dengan standar yang ditetapkan. Pada
KAPASITAS
Daya adaptif, kemampuan menjalankan fungsi, memecahkan masalah, dan merencanakan-mengevaluasi
KOMPETENSI : pengetahuan, keterampilan, sikap, nilai, traits. Standar kinerja ABILITY Pengetahuan, sikap keterampilan KEMANDIRIAN Mampu bekerjasama dengan pihak lain
cakupan yang lebih luas kapasitas sebagai agregat dari kemampuan dan kompetensi, yang di dalamnya tercakup daya adaptif, serta kemampuan menjalankan fungsi, memecahkan masalah, dan merencanakan dan mengevaluasi suatu usaha. Tingkatan kapasitas seseorang akan menentukan kemandiriannya, yaitu dengan semakin tinggi tingkat kapasitasnya, maka semakin tinggi pula tingkat kemandiriannya.
Kapasitas pembudidaya ikan yang tinggi diperlukan guna menjadikan usahanya menjadi berkelanjutan. Perbedaan karakteristik kapasitas pembudidaya ikan yang tinggi dengan yang rendah dapat dilihat pada Tabel 7.
Tabel 7. Kapasitas Pembudidaya Ikan dalam Mengelola Usaha Akuakultur
No Aspek Kapasitas Rendah Kapasitas Tinggi
1. Kemampuan menjalankan fungsi-fungsi usaha a. Pengelolaan
produksi
Menjalankan produksi berdasarkan kebiasaan yang diturunkan atau kebiasaan masyarakat setempat, dengan penggunaan input produksi terbatas, teknologi sederhana dan di bawah standar mutu kerja
Menjalankan produksi yang bersifat fleksibel dan adaptif terhadap perubahan pasar, penggunaan input produksi,
teknologi, dan proses kerja yang bermutu sesuai standar
b. Pengelolaan keuangan
Pengelolaan keuangan usaha dicampur dengan keuangan rumah tangga, tidak melakukan perhitungan finansial dalam perencanaan usaha, tidak mampu mengakses modal dari lembaga permodalan formal, ketersediaan modal sangat terbatas
Melakukan pemisahan keuangan usah dengan keuangan rumah tangga, melakukan perhitungan finansial, mampu mengakses modal, mampu mengembangkan modal
usaha. c. Pengelolaan
tenaga kerja
Penggunaan tenaga kerja dari anggota keluarga tidak diperhitungkan sebagai biaya.
Kurang aktif dalam meningkatkan wawasan dan keterampilan usahanya
Penggunaan tenaga kerja keluarga diperhitungkan sebagai biaya. Aktif mencari informasi yang bermanfaat untuk mengembangkan usahanya d. Pengelolaan
pemasaran
-Tidak menjadikan preferensi konsumen atau permintaan pasar sebagai dasar berproduksi. -Tidak merumuskan strategi pemasaran -Tidak menganggap penting informasi pasar dan informasi harga.
Preferensi konsumen atau permintaan pasar menjadi pijakan utama berproduksi.
Merumuskan strategi pemasaran secar efesien dan efektif.
Menganggap penting informasi pasar atau informasi harga.
2. Kemampuan memecahkan masalah
-Tidak memiliki kemampuan yang cukup untuk menghadapi segala masalah
-Menganggap masalah bukan sebagai peluang dan tantangan yang harus dihadapi
-Tidak memiliki cukup kemampuan untuk bekerjasama dengan pihak lain guna memecahkan masalah
-Memiliki kecakapan dan keterampila dalam memecahkan masalah. -Menjadikan masalah sebagai peluang dan tantangan yang harus dihadapi. -Memanfaatkan pihak lain untuk bekerjasama mengatasi masalah
3. Kemampuan perencanaan dan evaluasi usaha
Tidak melakukan kegiatan perencanaan dan evaluasi atas usaha yang telah dilakukan, sehingga sulit mengukur tingkat efesiensi dan efektivitas usahanya
Melakukan kegiatan perencanaan dan evaluasi atas usaha yang telah
dilakukan, sehingga bisa mengukur tingkat efesiensi
Paradigma Penyuluhan Akuakultur
Secara garis besar orientasi pembangunan perikanan mengarah pada dua hal, yaitu pembangunan untuk meningkatkan produksi ikan, dan pembangunan untuk meningkatkan kesejahteraan pembudidaya ikan melalui peningkatan kualitas sumberdaya manusia pembudidaya ikan.
Berkaca dari paradigma pembangunan pertanian dengan peningkatan poduksi pangan melalui revolusi hijau ternyata tidak otomatis meningkatkan kesejahteraan petani. Oleh karenanya, konsep pembangunan akuakultur layaknya mengacu pada paradigma yang kedua yaitu peningkatan kesejahteraan pembudidaya ikan.
Perbedaan paradigma pembangunan yang digunakan berpengaruh pada pendekatan penyuluhan yang diterapkan dalam pembangunan. Pembangunan yang berorientasi pada produksi cenderung menggunakan penyuluhan sebagai alat untuk meningkatkan produksi ikan sesuai target yang telah ditetapkan, sehingga pendekatannya cenderung direktif.
Beberapa pendekatan penyuluhan yang tergolong pada paradigma ini adalah pendekatan komoditas, proyek, LAKU, dan Farming System Development. Sebaliknya, paradigma pembangunan akuakultur yang mengacu pada peningkatan kualitas SDM, orientasi penyuluhan untuk meningkatkan kesejahteraan pembudidaya ikan. Sifat penyuluhan ini lebih partisipatif. Pendekatan penyuluhan cost sharing dan partisipasi dapat digolongkan pada paradigma pembangunan ini.
Perbandingan berbagai pendekatan penyuluhan pembangunan akuakultur tersebut berdasarkan dimensinya secara lebih terinci dapat dilihat Tabel 8.
Kinerja Penyuluh
Penyuluh sebagai ujung tombak penyuluhan pembangunan memiliki peran yang besar dalam keberhasilan pembangunan itu sendiri. Peran utamanya adalah menciptakan suasana yang kondusif, sehingga memungkinkan partisipan penyuluhan mengalami proses pembelajaran secara aktif dan mandiri. Implikasinya di lapang penyuluh harus berperan sebatas fasilitator, mediator, dan dinamisator bagi proses pembelajaran tersebut, bukan sebagai konseptor maupun eksekutor yang merencanakan dan memutuskan sesuatu yang dianggap tepat bagi
Tabel 8. Perbandingan Pendekatan Penyuluhan Berdasarkan Dimensinya
Dimensi Pendekatan Penyuluhan
Komoditas Proyek Latihan Kunjungan
(LAKU)
Farming System Development
Cost Sharing Partisipasi
Tujuan Meningkatkan produksi komoditas tertentu Meningkatk an produksi komoditas tertentu Meningkatkan produksi komoditas tertentu Meningkatkan produksi komoditas tertentu Meningkatkan kesejahteraan melalui pembiayaan bersama Meningkatkan kesejahteraan melalui peningkatan kapasitas Perenca-naan Dibuat pemerintah pusat Dibuat pemerintah pusat Dibuat pemerintah pusat Dibuat pemerintah sesuai dengan agroklimat setempat Dibuat bersama antara penyuluh dengan pembudidaya ikan Dibuat bersama antara penyuluh dengan pembudidaya ikan Pelaksa-naan Teknik produksi diperkenenal-kan pada pembudidaya ikan melalui demonstrasi Seringkali biaya dan teknik bersumber dari donor internasional Secara terjadwal pelatihan penyuluh dan kunjungan ke lapang Kerjasama peneliti dg penyuluh, analisis dan percobaan lapang milik pembudidaya ikan Pembudidaya ikan ambil bagian dalam pembiayaan program Partsipasi aktif pembudidaya ikan untuk penguatan kelompok, dan sharing dalam penggunaan teknologi lokal Pengawa-san (kontrol) Dilakukan pemerintah melalui penyuluh Dilakukan pemerintah bersama donor Dilakukan pemerintah melalui penyuluh Bersama antara peneliti, penyuluh, pemb.ikan Bersama antara penyuluh dengan pembudidaya ikan Bersama antara penyuluh dengan pembudidaya ikan Indikator kesuksesan Peningkatan produksi komoditas Perubahan jangka pendek (short term) Peningkatan produksi komoditas yang diprogram-kan Tingkat adopsi dan keberlanjutan adopsi Kemauan dan kemampuan pembudidaya ikan dalam membiayai program Peningkatan kapasitas pembudidaya ikan, jumlah yang berpartisipasi, tingkat sumbangan dari pembudidaya ikan, tingkat manfaat yang diterima pembudidaya ikan, dan keberlanjutan program Sifat komunikasi
Top down Top down Top down Top down Bottom up Konvergen
Kelemahan Perhatian pada komoditas bukan ke orangnya Ide-ide berasal dari pihak luar Biaya besar untuk supervisi teknik dan fasilitas Biaya besar dan membutuhkan waktu yang lama untuk melihat hasilnya Ada unsur paksaan pada yang tidak mampu Membutuhkan usaha yang lebih keras dari penyuluh untuk menumbuhkan motivasi pemb. ikan Kelebihan Integrasi berbagai fungsi: penyuluhan, teknologi, input, pasar dll Pembiayaan dan bantuan teknis tercukupi Pelayanan terpadu dan penyuluh langsung terjun ke lapang Hubungan erat penyuluh dan peneliti, komitmen pemb. ikan mengembang-kan teknologi Menimbulkan rasa tanggung jawab keberlangsung-an program Program sesuai dengan kebutuhan, biaya lebih murah, efesien
Kinerja penyuluh diartikan sebagai pencapaian hasil yang diukur dari pencapaian tujuan yang ditetapkan. Mengacu dari kedua jenis kinerja, maka kinerja yang digunakan dalam penelitian ini adalah: (1) identifikasi masalah dan penyusunan rencana kerja penyuluhan, (2) pelaksanaan proses pembelajaran, (3) pengembangan kelompok, dan (4) pengembangan jejaring. Secara lebih jelas komponen kinerja ini dapat dilihat pada Tabel 9.
Tabel 9. Indikator Kinerja Penyuluh Kinerja Penyuluh menurut Nuryanto (2008)
Kinerja Penyuluh menurut Suhanda (2008)
Kinerja Penyuluh dalam Penelitian 1. Pada aspek persiapan penyuluhan:
tersusunnya rumusan hasil
pengumpulan data dan potensi wilayah dan agrosistem, kebutuhan teknologi, programa penyuluhan, dan rencana kerja penyuluhan
2.Pada aspek pelaksanaan penyuluhan: penyusunan materi, penerapan metode, perkembangan kelompok
3.Pada aspek evaluasi dan pelaporan penyuluhan: pembuatan pelaporan dan evaluasi hasil kegiatan, dan evaluasi dampak
4. Pada aspek pengembangan penyuluhan: penyususnan pedoman teknis dan pelaksanaan penyuluhan, rumusan hasil kajian dan kebijakan penyuluhan, rumusan hasil konsep baru metode penyuluhan
5.Pada aspek pengembangan profesi penyuluhan: adanya hasil karya tulis ilmiah, publikasi karya tulis, karya saduran dan terjemahan
6.Pada aspek penunjang penyuluhan: kesempatan mengikuti kegiatan seminar, pelatihan, mengajar, penghargaan prestasi kerja
1. Pelibatan tokoh masyarakat 2. Penumbuh-kembangan
kelompok tani
3. Penyusunan rencana kerja penyuluhan 4. Penerapan metode penyuluhan 5. Penyusunan programa 6. Penyusunan materi 7. Penumbuhan keswadayaan dan keswakarsaan 8. Tata laksana kantor 9. Penumbuhan kelembagaan
ekonomi
10.Analisis potensi dan kebutuhan
11. Evaluasi dan pelaporan 12. Pengembangan jejaring 13.Pengembangan profesionalisme 1. Identifikasi masalah dan penyusunan rencana kerja penyuluhan 2. Pelaksanaan proses pembelajaran 3. Pengembangan kelompok 4. Pengembangan jejaring
Paradigma penyuluhan yang baru menuntut adanya partisipasi dalam setiap kegiatan penyuluhan. Oleh karenanya, kinerja penyuluh yang baik antara lain diukur dari tingkatan kegiatan penyuluhan yang didasari dan dilaksanakan dengan pendekatan partisipatif.
Pendekatan partisipatif didasari pada filosofi bahwa menolong partisipan penyuluhan agar mereka dapat menolong dirinya sendiri, dan partisipan bukan sebagai objek penyuluhan tetapi sebagai subjek program penyuluhan dengan bekerjasama dengan penyuluh, dengan demikian komunikasi yang dilakukan
bersifat konvergen antara kedua belah pihak. Kriteria kinerja penyuluh yang dilakukan secara dogmatis dan partisipatif dapat dilihat dari Tabel 10.
Tabel 10. Paradigma Kinerja Penyuluhan yang Bersifat Dogmatis dan Partisipatif
No Aspek Dogmatis Partisipatif
1. Identifikasi masalah dan penyusunan rencana kerja penyuluhan
Lebih banyak dilakukan oleh penyuluh
Dilakukan bersama-sama antara penyuluh dan masyarakat pembudidaya ikan
2. Pelaksanaan proses pembelajaran
Materi belajar ditetapkan oleh penyuluh, dan lebih didasarkan pada program dari atas
Metode penyuluhan kurang variatif, tidak bersifat praktek langsung, cenderung metode satu arah (ceramah, kuliah), dan kurang menggunakan media atau alat bantu
Suasana belajar kurang dinamis, peserta penyuluhan cenderung sebagai objek dan pasif, bersifat pengarahan dari penyuluh
Ditetapkan bersama antara penyuluh dan masyarakat pembudidaya ikan, dan lebih
didasarkan pada potensi, masalah, dan kebutuhan pembudidaya ikan
Metode penyuluhan variatif, bersifat praktek langsung, cenderung metode dua atau banyak arah (diksusi,
bainstorming), dan menggunakan media atau alat bantu yang cukup
Suasana belajar dinamis, semua peserta
penyuluhan terlibat aktif dalam pembelajaran atau sebagai subjek
pembelajaran, dan bersuasana demokratis 3. Penumbuhkembangan
kelompok
Kelompok dibentuk dan dikembangkan dengan tujuan lebih kepada kepentingan pihak lain, memperoleh bantuan program atau untuk tujuan lomba
Kelompok dibentuk dengan tujuan untuk kepentingan pembudidaya ikan itu sendiri, seperti
meningkatkan posisi tawar, sarana belajar dan
komunikasi antar anggota 4. Pengembangan jejaring Kurang aktif melakukan
kerjasama dengan pihak lain atau lembaga pendukung agribisnis guna
meningkatkan kapasitas pembudidaya ikan
Aktif melakukan kerjasama dengan pihak lain atau lembaga pendukung agribisnis guna meningkatkan kapasitas pembudidaya ikan
Dukungan Kelembagaan Agribisnis Akuakultur
Pengembangan agribisnis akuakultur dicirikan dari upaya memperoleh keuntungan usaha melalui pemeliharaan ikan yang berorientasi pada pasar, bukan
berproduksi untuk menghasilkan ikan sebanyak mungkin tanpa pertimbangan nilai keuntungan yang akan diperoleh. Pengabaian pasar seringkali menjadikan ikan yang dihasilkan tidak terserap pasar, yang akhirnya pembudidaya ikan merugi. Selain faktor pasar sebagai aspek hilir agribisnis, faktor penting lainnya dalam rantai agribisnis akuakultur yang harus diperhatikan adalah pada aspek hulu. Pada sisi hulu, diperlukan kelembagaan pendukung usaha produksi pembudidaya ikan yang terkait dengan penyediaan input produksi, informasi dan teknologi, serta penyediaan modal.
Kelembagaan input produksi berperan dalam menyediakan berbagai jenis input yang dibutuhkan dalam berproduksi. Beberapa jenis input produksi akuakultur adalah: (a) Pakan ikan baik yang berupa pakan alami maupun pakan buatan (pelet); (b) Pupuk dan kapur. Pupuk berguna untuk menyuburkan lahan sawah atau kolam tanah yang bermanfaat bagi tumbuhnya jasad renik sebagai pakan ikan, sedangkan kapur untuk meningkatkan pH tanah sehingga sesuai bagi pertumbuhan ikan; (c) Obat-obatan, berupa obat-obatan yang diperlukan untuk mencegah maupun mengobati ikan yang sakit karena serangan virus, jamur atau bakteri, dan ovaprin sejenis hormon yang diperlukan untuk pemijahan; (d) Peralatan usaha, dengan berbagai jenis bergantung pada jenis usaha yang dijalankan; dan (e) Benih ikan, yang berkualitas dan tersedia cukup, khususnya pada usaha pendederan dan pembesaran. Sumber benih bisa diperoleh dari pembenih rakyat maupun dari BBI (Balai Benih Ikan) milik pemerintah.
Keberadaan kelembagaan informasi penting untuk menyediakan informasi teknologi maupun pasar. Kelembagaan ini dapat berasal dari pemerintah daerah dan pusat maupun swasta. Lembaga-lembaga pemerintah yang berada di bawah kewenangan Kementerian Kelautan dan Perikanan diantaranya Badan Penelitian Ikan Air Tawar (Balitanwar), BBAT, dan BBI berperan menyediakan informasi teknologi akuakultur. Penyuluh perikanan juga berperan sebagai sumber informasi bagi pembudidaya ikan. Sumber informasi yang lain adalah ketua kelompok, tengkulak, dan sesama pembudidaya ikan
Modal juga menjadi masalah yang umumnya dihadapi oleh pembudidaya ikan. Oleh karenanya, kelembagaan yang menyediakan modal yang dapat diakses oleh pembudidaya ikan sangat diperlukan. Umumnya modal milik sendiri atau
pinjaman dari sesama teman terbatas, sehingga sulit digunakan untuk mengembangkan usaha yang lebih besar. Oleh karenanya, diperlukan sumber modal yang lebih kuat dengan tingkat bunga yang rendah. Beberapa skim kredit telah dikucurkan oleh pemerintah untuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang juga dapat diakses oleh pembudidaya ikan yang umumnya berskala usaha kecil. Namun, pada kenyataannya tidak semua pembudidaya ikan mampu mengaksesnya, dengan berbagai alasan seperti minimnya informasi, terbatasnya jumlah kredit yang tidak sebanding dengan jumlah calon nasabah yang membutuhkan, tidak mau ”repot” mengurusnya dan sebagainya.
Peran kelembagaan agribisnis dalam pengembangan usaha akuakultur harus dilandasi oleh paradigma bahwa peran kelembagaan tersebut hanya sebagai