• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kerangka Berpikir

Mengoptimalkan peran penyuluh pertanian dalam pembangunan merupakan tanggung jawab bersama, baik pemerintah, penyuluh maupun petani-peternak itu sendiri. Pemerintah harus dapat mendorong perkembangan pertanian melalui pembuatan kebijaksanaan-kebijaksanaan juga bantuan sarana dan prasarana yang mendukung program penyuluhan. Partisipasi petani merupakan suatu proses keterlibatan petani untuk aktif dan terlibat dalam setiap pengambilan keputusan mulai dari perencanaan, pelaksanaan sampai dengan evaluasi program-program penyuluhan pertanian. Keterlibatan petani dalam setiap pengambilan keputusan dirasakan sangat penting karena petani memiliki informasi yang dapat menunjang program penyuluhan pertanian. Partisipasi petani tersebut bertujuan untuk menumbuhkan rasa memiliki dan tanggung jawab dari petani terhadap program penyuluhan, untuk itu kerjasama antara penyuluh dengan petani sangat membantu kesuksesan proses kegiatan penyuluhan pertanian. Penyuluh sebagai "motor penggerak" petanian dalam menjalankan tugasnya harus berpegang teguh pada etika, falsafah, dan prinsip penyuluhan pertanian sebagai landasan pedoman kerja penyuluh pertanian.

Produktivitas merupakan konsep yang menggambarkan hubungan antara input (jumlah tenaga kerja dan modal) dengan output (jumlah barang dan jasa yang dihasilkan). Pengertian produktivitas kerja penyuluh dalam konteks penyuluhan pertanian adalah suatu konsep yang menggambarkan hubungan antar input (jumlah penyuluh dan modal) yang digunakan dengan output (keberhasilan program penyuluhan). Keberhasilan penyuluhan dapat diukur dari usaha pencapaian tujuan proses kegiatan penyuluhan pertanian yaitu mengubah perilaku khalayak sasaran dalam hal ini adalah peningkatan pengetahuan, perubahan sikap dan peningkatan keterampilan petani dan keluarganya ke arah peningkatan kesejahteraan.

Produktivitas kerja dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain, latar belakang pendidikan dan latihan, keterampilan, teknologi, lingkungan kerja, balas jasa dan disiplin kerja. Di luar faktor-faktor tersebut, motivasi dan kepuasan kerja turut berpengaruh terhadap produktivitas kerja penyuluh.

Motivasi merupakan pengaruh, keinginan dan dorongan dari dalam diri individu untuk melakukan suatu tindakan. Motivasi dipengaruhi oleh faktor-faktor intrinsik dan ekstrinsik. Faktor intrinsik meliputi prestasi, pengakuan, pekerjaan yang dilakukan dan tanggung jawab. Sedangkan faktor ekstrinsik meliputi administrasi terhadap kebijakan, supervisi, gaji/imbalan, hubungan antar pegawai, kondisi kerja dan status. Manusia sebagai unsur yang paling menentukan tingkat produktivitas akan melakukan kegiatan jika ia termotivasi untuk bekerja dan melakukan kegiatan.

Kepuasan kerja merupakan suatu cara pandang seseorang terhadap pekerjaannya baik yang bersifat positif maupun yang bersifat negatif. Ukuran kepuasan meliputi faktor psikologi (minat, ketentraman, sikap dan bakat PPL), faktor sosial (interaksi dengan sesama PPL, atasan maupun masyarakat), faktor fisik (waktu kerja dan istirahat, fasilitas, kesehatan dan lingkungan fisik kerja) serta faktor finansial (gaji, jaminan sosial, tunjangan dan promosi).

Penyuluh yang puas dengan pekerjaan (karir) dan hasil yang dicapai (prestasi) akan mendorong penyuluh untuk bekerja lebih baik sehingga pada akhirnya akan meningkatkan produktivitas kerja penyuluh. Keterkaitan peubah tersebut dapat dilihat pada Gambar 2.

Hipotesis

Motivasi dan kepuasan kerja berpengaruh terhadap produktivitas kerja penyuluh, artinya motivasi yang tinggi akan membantu meningkatkan produktivitas kerja penyuluh. Begitu pula dengan penyuluh yang merasa puas dengan kerjanya akan mendorong penyuluh untuk meningkatkan produktivitas kerjanya.

Berdasarkan tujuan dan kerangka berpikir penelitian tersebut, maka sebagai landasan dalam penelitian ini digunakan hipotesis sebagai berikut:

H1 = Terdapat hubungan nyata antara motivasi kerja dengan produktivitas kerja Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL).

H2 = Terdapat hubungan nyata antara kepuasan kerja dengan produktivitas kerja Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL).

\ - Lingkungan kerja - Balas jasa - Disiplin kerja Motivasi kerja

• Faktor Intrinsik - Prestasi - Pengakuan - Pekerjaan - Tanggung Jawab

• Faktor Ekstrinsik - Administrasi dan

kebijakan pemerintah - Supervisi

- Gaji /Imbalan

- Hubungan antar pegawai - Kondisi kerja

Peubah Bebas Peubah Terikat

Gambar 2. Bagan Kerangka Pemikiran dalam Penelitian Motivasi, Kepuasan Kerja dan Produktivitas PPL di Kabupaten Sukabumi Keterangan :

= Tidak diuji

= Diuji

22

di mana :

n = jumlah sampel yang akan dicari N = jumlah populasi

e = derajat kesalahan METODA PENELITIAN

Populasi dan Sampel

Populasi penelitian meliputi Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) di Kabupaten Sukabumi yang berjumlah 160 PPL yang tersebar di 45 kecamatan.

Sampel penelitian di pilih sebanyak 36 orang responden PPL dari populasi yang ada pada frame populasi. Jumlah sampel tersebut di ambil sebanyak 22,5% dari jumlah yang ada. Jumlah sampel tersebut di tentukan berdasarkan rumus Slovin (Sevilla et al., 1993) yaitu sbb:

Kecamatan yang dipilih berjumlah 15 kecamatan dimana lokasi penelitian yanag dipilih merupakan daerah produksi komoditi peternakan di Kabupaten Sukabumi. Pengambilan responden PPL dilaksanakan dengan menggunakan teknik cluster random sampling, yaitu pengambilan sampel dengan kelompok dan diseleksi secara acak, dimana dalam pelaksanaannya seringkali didasarkan atas wilayah atau letak geografis. Deskripsi jumlah populasi dan sampel PPL di Kabupaten Sukabumi dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Deskripsi Populasi dan Sampel PPL di Kabupaten Sukabumi Strata Kecamatan Jumlah populasi (orang) Jumlah sampel (orang)

Sukaraja 2 2

Desain Penelitian

Desain penelitian dilakukan dengan mengunakan survei untuk melihat motivasi, kepuasan kerja dan produktivitas Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) di Kabupaten Sukabumi, dimana diharapkan dapat menghasilkan penelitian yang bersifat deskriptif korelasional. Peubah bebas adalah motivasi dan kepuasan kerja PPL, sedangkan peubah terikat adalah produktivitas kerja PPL.

Data dan Instrumentasi Data

Sumber data di dalam penelitian ini dibedakan menjadi dua yaitu data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari hasil penyebaran kuesioner sebagai data pokok dan hasil wawancara dengan PPL sebagai data pelengkap.

Data sekunder diperoleh dari studi literatur, baik dari tulisan, referensi yang relevan, data dari Kantor Penyuluhan Pertanian (KPP) Kabupaten Sukabumi maupun sumber-sumber lain yang menunjang penelitian. Pengumpulan data sekunder ini meliputi keadaan umum wilayah penelitian, laporan evaluasi penyuluhan, dan data yang relevan dengan penelitian ini yang diperoleh baik dari responden maupun KPP.

Peubah-peubah yang dimaksud tersebut didefinisioperasionalkan seperti berikut ini:

1. Karakteristik PPL yaitu ciri dan sifat yang melekat pada diri PPL, yang meliputi:

1. Umur, yaitu usia PPL saat penelitian dilakukan dinyatakan dalam satuan tahun dengan pembulatan ke arah bulan lahir yang diukur dengan skala rasio dan di bagi dalam dua kategori yaitu; 1) muda (31-40 tahun) dan 2) tua (41-54 tahun).

2. Jenis kelamin yang diukur dengan skala nominal dan terbagi atas dua kategori yaitu; 1) pria dan 2) wanita.

3. Status perkawinan, yaitu meliputi: (1) menikah dan (2) belum menikah, yang diukur dengan skala nominal yang dibagi menjadi dua kategori.

4. Latar belakang pendidikan dan pelatihan yang terbagi menjadi dua bagian yaitu:

a. lama pendidikan formal yang dihitung dari jumlah tahun pendidikan formal yang diikuti responden dan diukur dengan skala rasio.

b. jumlah serta jenis kursus atau pelatihan yang diikuti PPL dan diukur

dengan skala nominal.

5. Pangkat dan golongan, yaitu pangkat PPL saat penelitian dilakukan yang di bagi sesuai dengan kapasitas PPL di lingkungan KPP Sukabumi serta sesuai dengan masa kerja serta latar belakang pendidikan PPL tersebut. Peubah ini diukur dengan skala ordinal.

6. Masa kerja yaitu jumlah tahun lamanya melaksanakan tugas sebagai PPL di organisasi penyuluhan pertanian. Peubah ini diukur berdasarkan skala rasio yang dinyatakan dalam satuan tahun. Kemudian peubah ini di bedakan menjadi dua kategori, yakni: (1) rendah: 8-19 tahun, (2) tinggi: 20-30 tahun.

7. Jumlah anggota keluarga, yaitu banyaknya jumlah anggota keluarga yang terdapat dalam lingkungan rumah tangga yang menjadi responden yang diukur dengan skala rasio dalam jumlah orang. Peubah ini di bagi menjadi dua kategori, yaitu: 1) keluarga kecil: 1-4 orang, 2) keluarga besar: 5-8 orang.

2) Motivasi kerja PPL dalam menjalankan tugasnya yaitu suatu keadaan yang mendorong, mengaktifkan, atau menggerakkan dan yang menyalurkan perilaku PPL untuk melakukan penyuluhan sebaik mungkin. Motivasi terdiri atas dua faktor yaitu faktor intrinsik dan faktor ekstrinsik yang diukur dengan skala ordinal dengan penilaian menggunakan skala likert, yakni : 1= Tidak setuju ; 2 = Ragu-ragu ; 3 = Setuju. Faktor intrinsik antara lain:

a. Prestasi ditunjukkan dari sikap penyuluh terhadap keinginan untuk mencapai keberhasilan untuk menyelesaikan pekerjaan, memecahkan masalah, mempertahankan pendapat dan merasakan/melihat hasil pekerjaan.

b. Pengakuan ditunjukkan dari sikap penyuluh dalam merespon perhatian dari pihak lain (atasan/dinas) atas keberadaannya sebagai penyuluh baik terhadap prestasi maupun keluhan kerja.

c. Pekerjaan yang dilakukan ditunjukkan dari sikap penyuluh terhadap cara-cara melaksanakan pekerjaan atau tugas.

d. Tanggung jawab ditunjukkan dari rasa tanggung jawab terhadap tugas dan wewenang pekerjaan.

Faktor ekstrinsik meliputi:

a. Administrasi dan kebijakan pemerintah yang dilihat dari sikap penyuluh

terhadap pelayanan administrasi penyuluhan terhadap peningkatan motivasi penyuluh.

b. Supervisi ditunjukkan dari sikap penyuluh terhadap pengawasan yang diterima dalam menjalankan tugasnya.

c. Gaji/imbalan ditunjukkan dari sikap penyuluh terhadap semua imbalan material yang diterima dalam menjalankan pekerjaannya.

d. Hubungan antar pegawai ditunjukkan dari sikap penyuluh terhadap hubungan dengan atasannya dan teman sejawat.

e. Kondisi kerja ditunjukkan dari sikap penyuluh terhadap kondisi fisik tempat kerja dan jumlah perlengkapan/fasilitas yang tersedia untuk melaksanakan pekerjaan.

f. Status berhubungan dengan sikap terhadap posisi jabatan sebagai penyuluh baik dalam pembangunan peternakan maupun pandangan masyarakat.

3) Kepuasan kerja merupakan sikap, perasaan dan persepsi individu terhadap pekerjaannya. Faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja PPL antara lain faktor psikologi, sosial, fisik dan finansial diukur dengan skala ordinal dengan penilaian menggunakan skala likert, yakni: 1= Tidak setuju ; 2 = Ragu-ragu ; 3 = Setuju. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhinya antara lain:

1. Faktor psikologi merupakan faktor yang berhubungan dengan kejiwaan PPL yang meliputi minat, ketentraman dalam kerja, sikap terhadap kerja dan bakat.

2. Faktor sosial merupakan faktor yang berhubungan dengan interaksi sosial baik antara sesama PPL, dengan atasannya maupun masyarakat yang berada di lingkungan kerjanya.

3. Faktor fisik merupakan faktor yang berhubungan dengan kondisi fisik lingkungan kerja dan kondisi fisik PPL, meliputi pengaturan waktu kerja dan waktu istirahat, perlengkapan kerja, keadaan ruangan, suhu, penerangan, pertukaran udara, kondisi kesehatan PPL dan sebagainya.

4. Faktor finansial merupakan faktor yang berhubungan dengan jaminan serta kesejahteraan PPL yang meliputi sistem dan besarnya gaji, jaminan sosial,

macam-macam tunjangan, fasilitas yang diberikan, kenaikan pangkat dan sebagainya.

4) Produktivitas kerja penyuluh dapat diartikan sebagai perbandingan antara hasil yang dicapai oleh penyuluh dengan keseluruhan sumberdaya yang digunakan untuk pencapaian hasil tersebut. Adapun faktor-faktor produktivitas kerja penyuluh antara lain:

1. Pendidikan dan pelatihan yang diukur dengan skala nominal dan terbagi menjadi dua bagian yaitu:

a. lama pendidikan formal yang dihitung dari jumlah tahun pendidikan formal yang diikuti responden. Peubah ini dibagi ke dalam tiga kategori:

1) Rendah : ≤ 12 tahun 2) Sedang : 13-14 tahun 3) Tinggi :≥ 15 tahun

b. jumlah serta jenis kursus/pelatihan yang diikuti PPL. Peubah ini di bagi ke dalam tiga kategori:

1) Rendah : 2-5 pelatihan 2) Sedang : 6-10 pelatihan 3) Tinggi :11-18 pelatihan

2. Keterampilan atau kemampuan adalah kecakapan PPL dalam melaksanakan tugas-tugasnya. Tingkat kemampuan PPL diukur melalui sejauh mana penguasaan PPL terhadap materi, metode penyuluhan serta aspek kemasyarakatan dan sasaran.

a. Materi yang dikuasai

1) Rendah : ≤ 2 materi penyuluhan 2) Sedang : 2-4 materi penyuluhan 3) Tinggi : ≥ 5 materi penyuluhan b. Penguasaan terhadap materi

1) Rendah : tidak mempelajari dahulu materi

2) Sedang : kadang-kadang mempelajari dahulu materi 3) Tinggi : selalu mempelajari dahulu materi c. Materi yang belum dikuasai

1) Rendah : ≥ 5 materi penyuluhan

2) Sedang : 2-4 materi penyuluhan 3) Tinggi : < 2 materi penyuluhan d. Metode penyuluhan yang digunakan

1) Rendah :< 2 metode penyuluhan 2) Sedang : 2-4 metode penyuluhan 3) Tinggi : ≥ 5 metode penyuluhan

e. Penguasaan aspek kemasyarakatan (adat dan bahasa) serta sasaran 1) Rendah : tidak menguasai

2) Sedang : kurang menguasai 3) Tinggi : menguasai

3. Teknologi, yaitu tingkat kemampuan dan penggunaan media komunikasi dalam kegiatan penyuluhan. Teknologi diukur dari tingkat penguasaan PPL terhadap media komunikasi penyuluhan serta media yang belum dan ingin dikuasai oleh PPL.

a. Penguasaan media komunikasi penyuluhan 1) Rendah : 1 media yang dikuasai 2) Sedang : 2 media yang dikuasai 3) Tinggi : ≥3 media yang dikuasai

b. Media komunikasi penyuluhan yang belum dikuasai 1) Rendah : ≥3 media yang belum dikuasai 2) Sedang : 2 media yang belum dikuasai

3) Tinggi : 1 media yang belum dikuasai

4. Lingkungan kerja baik lingkungan fisik wilayah kerja (jumlah desa yang ditangani responden) yang dibagi ke dalam tiga kategori yaitu:

1) Rendah : ≤2 desa yang dibina 2) Sedang : 3 - 4 desa yang dibina 3) Tinggi : ≥5 desa yang dibina

Maupun lingkungan sosial wilayah kerja (jumlah petani-peternak yang seharusnya ditangani responden) yang dibagi menjadi tiga kategori yaitu:

1) Rendah : ≤5 kelompok yang dibina 2) Sedang : 6 -10 kelompok yang dibina 3) Tinggi : ≥11 kelompok yang dibina

5. Balas jasa, yaitu meliputi penghargaan yang pernah diraih oleh PPL selama bertugas, yang terbagi menjadi tiga kategori yaitu:

1) Rendah : ≤1 penghargaan yang diraih 2) Sedang : 2 -4 penghargaan yang diraih 3) Tinggi : ≥4 penghargaan yang diraih

6. Disiplin kerja, yaitu pengukuran frekuensi pertemuan dengan jumlah jam kerja pada setiap hari kerja PPL yang terbagi menjadi 3 kategori yaitu:

a. Frekuensi kunjungan setiap minggu

1) Rendah : ≤4 jumlah kunjungan perminggu 2) Sedang : 5-8 jumlah kunjungan perminggu

3) Tinggi : ≥ 9 jumlah kunjungan perminggu b. Jumlah jam kerja per hari

1) Rendah : ≤4 jam 2) Sedang : 5-7 jam 3) Tinggi : ≥ 8 jam Instrumentasi

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa kuesioner yang berisi pertanyaan dan pernyataan bagi responden serta di desain menjadi tiga bagian, yaitu:

1. Bagian pertama, yang berisi pertanyaan untuk mengukur karakteristik sosial ekonomi responden.

2. Bagian kedua untuk mengukur tingkat motivasi kerja responden.

3. Bagian ketiga untuk mengukur tingkat kepuasan kerja responden.

4. Bagian keempat untuk mengukur tingkat produktivitas kerja responden.

Validitas dan Reliabilitas Instrumentasi Validitas Instrumentasi

Validitas instrumen merupakan tingkat keabsahan kuesioner sebagai alat ukur untuk menunjukkan sampai sejauh mana instrumen tersebut dapat mengukur apa yang ingin diukur. Pengukuran validitas instrumen diarahkan ke validitas isi (content validity) yakni sejauh mana isi alat pengukur tersebut mewakili semua aspek yang dianggap sebagai aspek kerangka konsep. Untuk menguatkan validitas instrumen dilakukanlah hal-hal berikut ini (Singarimbun dan Effendi, 2006):

1. Melakukan studi literatur untuk mencari definisi dan rumusan-rumusan yang berkaitan dengan topik penelitian dan merumuskan konsep itu sendiri apabila tidak ada dalam literatur.

2. Menyesuaikan isi kuesioner dengan teori-teori yang menyangkut semua jenis peubah penelitian.

3. Melakukan diskusi dengan dosen pembimbing sesuai dengan topik penelitian.

4. Menghitung korelasi antara masing-masing pernyataan dengan skor total dengan menggunakan rumus teknik korelasi Product Moment Pearson.

di mana:

r = koefisien korelasi product- moment

X = skor pernyataan ke-1 Y = skor total

N = jumlah responden

Berdasarkan uji coba kuesioner terhadap 10 orang PPL di KPP Kabupaten Sukabumi diperoleh nilai P-value sebesar 0,000 < level of significant (α) 10%. Hal ini berarti kuesioner ini dinyatakan valid.

Reliabilitas Instrumentasi

Reliabilitas adalah derajat ketepatan, ketelitian, atau keakuratan yang ditunjukkan oleh instrumen pengukuran. Pengukuran ini dilakukan kepada 10 orang PPL di KPP Kabupaten Sukabumi. Uji reliabilitas kuesioner dilakukan dengan menggunakan split-half reliability test (uji reliabilitas teknik belah dua). Skor-skor dikorelasikan dengan korelasi Product Moment Pearson, hasilnya adalah koefisien reliabilitas tes setengah, untuk memperoleh reliabilitas seluruh tes, digunakan rumus korelasi Rumus Ramalan Spearman-Brown (Spearman-Brown Prophecy Formula).

di mana:

r11 =reliabilitas seluruh tes r1/2 1/2 = reliabilitas tes setengah

Nilai split-half reliability test untuk instrumen motivasi sebesar 0,93 atau sangat reliabel, sedangkan untuk instrumen kepuasan kerja nilai reliabilitas yang diperoleh sebesar 0,89 atau reliabel.

[ ∑ ∑ ][ ∑ ∑ ∑ ∑ ]

Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan selama dua bulan, yaitu sejak 5 Desember 2004 sampai dengan 31 Januari 2005 di kabupaten Sukabumi dengan cara sebagai berikut:

1. Pengumpulan data diawali dengan Pra survei untuk menguji validitas dan reliabilitas instrumentasi yang dilakukan di KPP Kabupaten Sukabumi.

2. Penelitian dilanjutkan dengan pengumpulan data faktor-faktor motivasi dan kepuasan kerja yang dikumpulkan dari PPL dengan menggunakan kuesioner.

3. Data produktivitas kerja dikumpulkan dari PPL dengan menggunakan kuesioner PPL serta dari data sekunder berupa Laporan Hasil Kegiatan Penyuluhan.

4. Untuk mendapatkan informasi dan data yang belum terdeteksi melalui dua cara di atas, maka dilakukan wawancara dan pengamatan di lokasi penelitian, baik yang berkaitan dengan penyuluh maupun sumber informasi lainnya. Data tersebut di antaranya adalah keberhasilan kegiatan penyuluhan, program penyuluhan yang sedang berjalan, materi penyuluhan yang diperlukan, sarana dan prasarana yang diperlukan dan permasalahan-permasalahan yang dihadapi.

Analisis Data

Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan analisis statistik deskriptif berupa tabel frekuensi, rataan, persentase, rataan skor, total rataan skor dan uji korelasi rank Spearman. Data-data dianalisis melalui program SPSS (Statistical Program for Social Science). Rumus rank Spearman:

Dimana:

rs = koefisien korelasi rank spearman

N = jumlah pasangan pengamatan antara satu peubah terhadap peubah lainnya

1&6 = bilangan konstan

N

Digunakan rentang skala penilaian untuk menentukan posisi tanggapan responden dengan menggunakan nilai skor setiap variabel, bobot alternatif jawaban yang terbentuk dari teknik skala peringkat terdiri dari kisaran antara 1 hingga 3 yang digambarkan posisi yang negatif ke posisi yang positif, selanjutnya dihitung rentang skala dengan rumus (Riduwan, 2004) sebagai berikut:

Rs = R (bobot) M

Dimana:

Rs = rentang skala

R (bobot) = bobot terbesar dikurangi bobot terkecil M = banyaknya kategori bobot

Rentang skala likert yang digunakan dalam penelitian ini adalah 1 hingga 3 sehingga rentang skala penilaian yang didapat adalah:

Rs = 0,66 3

1

3− = sehingga posisi keputusannya menjadi :

1 2 3

1,00 1,66 2,32 3,00

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN Keadaan Umum Kabupaten Sukabumi

Kabupaten Sukabumi terletak sekitar 160 km dari ibukota negara/DKI Jakarta. Kabupaten Sukabumi memiliki 45 kecamatan yang terdiri dari 338 desa dan tiga kelurahan.

Secara geografis Kabupaten Sukabumi terletak di antara 6°57'-7°25' Lintang Selatan dan 106°49'-107°00' Bujur Timur. Luas wilayah daratan 416.404,25 Ha dengan komposisi penggunaan lahan :

a. Hutan Negara : 133.210,41 Ha

b. Hutan Rakyat : 108.979,08 Ha

c. Perkebunan : 75.377,20 Ha

d. Sawah : 62.951,93 Ha

d. Bangunan dan Halaman : 18.906,22 Ha e. Tambak dan Kolam : 1.940,16 Ha

f. Lain-lain : 11.434,55 Ha

Kondisi topografi Kabupatan Sukabumi bervariasi dengan ketinggian antara 0-2.969 m di atas permukaan laut, terdiri dari daerah pegunungan dan perbukitan di bagian utara, bagian tengah dan selatan bergelombang sampai di daerah pantai. Kabupaten Sukabumi memiliki jenis tanah bervariasi yang terdiri atas latosol dan andosol di bagian utara, sedangkan grumosol dan podzolik di bagian tengah dan selatan. Gunung Salak dan Gunung Gede menjadi batas alam dengan Kabupaten Bogor dan Cianjur. Secara klimatologi Kabupaten Sukabumi beriklim tropis, temperatur suhu harian berkisar antara 18-30° C dengan kelembaban 85%. Curah Hujan (CH) antara 2000 - 4800 mm per tahun, dengan rata-rata bulan basah 6 bulan dan rata-rata bulan kering 2 bulan.

Jumlah penduduk di Kabupaten Sukabumi pada tahun 2004 sebanyak 2.075.141 jiwa dengan jumlah rumah Rumah Tangga sebanyak 563.773 KK yang terdiri dari 1.050.096 (50,60%) orang laki-laki dan 1.025.045 (49,40%) orang perempuan.

Tingkat perkembangan kelompok tani di wilayah Kabupaten Sukabumi pada tahun 2004 yang tercatat berjumlah 1.686 kelompok yang terbagi:

a. Pemula : 648 kelompok

b. Lanjut : 721 kelompok c. Madya : 283 kelompok d. Utama : 28 kelompok e. P4S : 6 kelompok

Kantor Penyuluhan Pertanian Kabupaten Sukabumi

Kantor Penyuluhan Pertanian Kabupaten (KPP) Sukabumi berdiri sesuai dengan Perda No. 16, Surat Keputusan Bupati Nomor: 602 Tahun 2002. KPP mempunyai visi "terdepan dalam pemberdayaan petani-nelayan yang tangguh, mandiri dan berwawasan lingkungan" berupaya meningkatkan peran serta petani-nelayan dalam pembangunan dan menciptakan lingkungan yang kondusif untuk berkembangnya kelembagaan tani-nelayan. KPP merupakan penunjang pemerintah daerah yang dipimpin oleh Kepala yang berada di bawah dan bertanggungjawab kepada Bupati, Dalam pelaksanaan tugasnya, Kepala KPP Kabupaten Sukabumi dibantu oleh seorang Kepala Sub Bagian Tata Usaha yang membawahi kelompok Jabatan Fungsional, seksi Pengkajian dan seksi Kelembagaan. Bagan struktur organisasi KPP Kabupaten Sukabumi dapat dilihat pada Lampiran 1. KPP Kabupaten Sukabumi berada di Sukaraja yang termasuk ke dalam wilayah Kecamatan Sukaraja. Adapun peta wilayah Kabupaten Sukabumi dapat dilihat pada Lampiran 2.

Jumlah personil KPP Kabupaten Sukabumi terdiri dari 160 orang PNS (10 orang tenaga supervisor dan 150 orang tenaga terampil), 13 orang pegawai Tenaga Kontrak Kerja (TKK) atau honorer daerah dan 13 orang pegawai non-fungsional (administrasi). Beradasarkan potensi dan KK yang dilayani terdiri dan 94 orang tenaga penyuluh tanaman pangan dan hortikultura, 26 orang tenaga penyuluh peternakan, 21 orang tenaga penyuluh perkebunan dan 19 orang tenaga penyuluh perikanan. Penyuluh pertanian yang terdapat di Kabupaten Sukabumi tersebar di 14 UPP.

Profil Responden

Responden dalam penelitian ini adalah Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) yang bertugas di Kabupaten Sukabumi. Jumlah responden yang diteliti sebanyak 36 PPL dengan wilayah tugas masing-masing berada di kecamatan

Jampang Tengah, Nyalindung, Gegerbitung, Lengkong, Tegalbuleud, Surade dan Ciemas. Adapun karakteristik personal responden di Kabupaten Sukabumi disajikan pada Tabel 2.

Tabel 2. Karakteristik Personal Responden PPL di Kabupaten Sukabumi, Tahun 2004

Kecamatan (tahun)Umur Kelamin Jenis Pangkat

Pendidikan

Dokumen terkait