TINJAUAN PUSTAKA
KERANGKA BERPIKIR DAN HIPOTESIS
Kerangka Berpikir
Kemiskinan merupakan masalah sosial yang mempunyai dampak sosial yang sangat luas bukan hanya dalam jangka pendek, namun juga dalam jangka panjang. Berbagai dampak negatif kemiskinan tersebut antara lain adalah: (1) rendahnya kualitas dan produktivitas sumberdaya manusia, (2) merosotnya
kualitas generasi yang akan datang (lost of generations) , (3) gizi buruk, (4) ren-
dahnya partisipasi aktif masyarakat dalam pembangunan, dan (5) menurunnya ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat.
Agenda penanggulangan kemiskinan sudah merupakan agenda global, tidak hanya terbatas tanggung jawab negara yang bersangkutan. Deklarasi melenium
(Millenium Development Goals) pada bulan September 2000 yang ditandatangani
oleh 191 kepala negara anggota PBB termasuk Indonesia, menempatkan pemberantasan kemiskinan dan kelaparan sebagai agenda utama. Namun berba- gai upaya penanggulangan kemiskinan terutama di tanah air, baik yang bersumber dari dana APBN maupun bantuan asing belum mampu mengurangi dan memberdayakan keluarga miskin secara nyata, bahkan dalam banyak hal justru semakin menciptakan ketergantungan. Hal itu mengindikasikan bahwa konsep kemiskinan yang memandang orang miskin sebagai sosok tanpa daya dari sudut pandang ekonomi saja dan dengan pola penanggulangan yang bersifat kederma- wanan sudah tidak lagi memadai untuk mengangkat keluarga miskin bangkit dari kemiskinannya. Untuk itu perlu dicari alternatif dan pendekatan lain yang lebih tepat, mendasar dan komprehensif.
Dari perspektif ilmu penyuluhan pembangunan, upaya meningkatkan kesejahteraan seseorang termasuk petani miskin diletakkan pada spektrum peru- bahan perilaku. Peningkatan kesejahteraan seseorang, keluarga atau rumahtangga ke arah yang lebih baik akan dapat dicapai jika terjadi perubahan perilaku pada diri yang bersangkutan. Dalam perspektif ini, maka keberhasilan seseorang petani mencapai suatu tingkat kehidupan ke arah yang lebih baik tergantung dari perilakunya. Satuan perilaku yang utama adalah aktivitas. Semua perilaku individu pada dasarnya merupakan rangkaian aktivitas.
Dalam realitasnya, orang tidak saja berbeda dalam kemampuan melakukan sesuatu, tetapi juga berbeda dalam kemauan, atau motivasi dalam melakukan hal itu. Motivasi orang bergantung pada kuat lemahnya motif. Motif bisa berupa kebutuhan, keinginan, atau gerak hati dalam diri seseorang. Motif diarahkan pada tujuan yang ingin dicapai. Tujuan tersebut mungkin berada dalam kendalinya secara sadar dan jelas, namun mungkin juga kurang disadari secara jelas atau berada pada alam bawah sadarnya.
Motif merupakan hal ihwal “mengapanya” perilaku itu dilakukan. Motif timbul dan mendorong aktivitas serta menentukan arah umum perilaku seseorang. Pada dasarnya motif atau kebutuhan merupakan dorongan utama aktivitas. Kebutuhan secara sederhana dapat diartikan sebagai sesuatu di dalam diri seseorang yang mendorong orang tersebut untuk melakukan aktivitas. Semua orang memiliki kebutuhan yang beraneka ragam. Semua kebutuhan itu mempunyai daya dorong untuk menimbulkan perilaku. Kebutuhan yang paling kuat pada saat tertentu menggerakkan aktivitas, dan bila kebutuhan itu sudah terpenuhi akan menurun daya dorongnya. Namun daya dorong tersebut juga cenderung menurun apabila kebutuhan tersebut terhambat pemenuhannya.
Terhambatnya pemenuhan kebutuhan tertentu dalam waktu yang relatif lama dapat menyebabkan seseorang menjadi frustrasi. Bentuk-bentuk perilaku frustrasi dapat berupa: (1) mencari alasan pembenaran terhadap perilakunya dengan menyalahkan pihak lain, (2) menunjukkan pola perilaku yang sama meskipun pengalaman telah memperlihatkan bahwa hal itu tidak mencapai hasil yang memadai, (3) sikap apatis dan merasa putus harapan untuk mencapai tujuan yang diinginkan (Hersey dan Blanchard, 2002: 20). Frustrasi dapat mencegah untuk berperilaku baru yang efektif.
Perilaku pada dasarnya selalu berorientasi pada tujuan. Artinya bahwa perilaku seseorang pada umumnya dimotivasi atau didorong oleh keinginan untuk memperoleh tujuan tertentu. Aktivitas-aktivitas (perilaku) yang timbul dari kebutuhan yang paling kuat pada umumnya dapat diklasifikasikan ke dalam dua kategori, yaitu aktivitas yang diarahkan pada tujuan dan aktivitas tujuan. Aktivitas yang diarahkan pada tujuan adalah perilaku termotivasi yang diarahkan untuk mencapai suatu tujuan. Misalnya, bila kebutuhan yang paling kuat pada seseorang
adalah rasa lapar, maka aktivitas-aktivitas seperti mencari tempat untuk makan, membeli makanan, atau menyiapkan makanan dapat dipandang sebagai aktivitas yang diarahkan pada tujuan. Sebaliknya, aktivitas tujuan adalah aktivitas dalam pelaksanaan tujuan itu sendiri. Dalam hal lapar, makanan adalah tujuan dan makan adalah aktivitas tujuan. Dalam aktivitas yang diarahkan pada tujuan, kekuatan kebutuhan cenderung meningkat pada saat seseorang terlibat dalam aktivitas tersebut sampai perilaku tujuan tercapai atau timbul frustrasi.
Bagi rumahtangga petani miskin, pemenuhan kebutuhan dasar, seperti pangan, air bersih, perumahan yang layak, memperoleh layanan pendidikan dan kesehatan yang memadai merupakan tujuan yang ingin dicapai. Aktivitas-aktivitas untuk berproduksi, seperti bekerja sebagai buruh tani, bersawah, berladang atau huma, berkebun, beternak merupakan aktivitas untuk memperoleh pendapatan agar dapat memenuhi kebutuhan dasar sebagai tujuan yang ingin dicapainya.
Kuat atau lemahnya dorongan seseorang untuk berusaha melakukan berbagai aktivitas dalam rangka memenuhi berbagai kebutuhan dasarnya untuk hidup layak dan bermartabat sangat dipengaruhi oleh kuat atau lemahnya kebutuhan-kebutuhan itu dirasakannya sebagai suatu keharusan untuk dipenuhi dan tingkat pemenuhan yang diinginkannya. Dengan lain perkataan bahwa kuat atau lemahnya dorongan pada individu atau rumahtangga petani miskin untuk berusaha memperbaiki kondisi kehidupannya sangat dipengaruhi oleh tingkat kepuasannya terhadap kondisi kehidupan yang telah dicapainya. Jika seseorang telah merasa puas dengan apa yang telah dicapainya maka dorongan untuk berusaha mencapai yang lebih baik akan melemah, walaupun yang berhasil dicapai tersebut masih pada tataran minimal. Contohnya, banyak diantara individu atau rumahtangga miskin merasa tidak miskin dan merasa puas dengan kondisi kehidupannya.
Perilaku individu dalam berbagai aspek kehidupannya tidak bisa lepas dari keterkaitannya dengan lingkungan. Dalam persamaan dasar perilaku manusia yang dikemukakan Lewin, dikonsepsikan bahwa perilaku merupakan fungsi dari interaksi antara sifat atau faktor individual dengan lingkungannya. Lingkungan tersebut, baik lingkungan fisik atau geografis, maupun ekonomi, sosial, budaya dan demografis.
Berdasarkan teori Lewin tersebut, maka berbagai faktor yang membentuk perilaku individu dalam berbagai aspek kehidupannya dapat diidentifikasi dari faktor atau karakteristik-karakteristik yang bersifat internal dan eksternal. Karakteristik yang bersifat internal, seperti: umur, pendidikan formal, pendidikan non formal, motivasi berprestasi, orientasi nilai budaya, harapan atau aspirasi, luas pemilikan dan penguasaan lahan, pendapatan rumahtangga, dan jumlah dan komposisi anggota keluarga. Karakteristik yang bersifat eksternal, seperti potensi dan peluang bekerja dan berusaha, kepedulian pemimpin formal dan informal, akses sumber informasi, sarana layanan publik lokal, akses terhadap kelompok/organisasi sosial lokal, akses pasar dan sumber modal serta akses terhadap kebijakan penanggulangan kemiskinan.
Kondisi karakteristik sosial, budaya dan ekonomi yang beragam serta belum kondusif dalam membentuk dan memberi ruang gerak kepada setiap individu dalam sistem sosial untuk memperoleh dan mengembangkan perilaku yang kreatif, inovatif dan produktif merupakan faktor penyebab munculnya berbagai perilaku yang me-nyimpang dan kontra produktif, sehingga menyebabkan rendahnya produktivitas dan pendapatan, yang selanjutnya mempengaruhi tingkat kemampuannya dalam memenuhi dan mengakses berbagai hal yang diperlukan bagi kelangsungan hidupnya secara baik atau memadai, seperti kemampuan dalam memenuhi dan memperoleh hak-hak dasarnya, yang meliputi pemenuhan kebutuhan pangan, pakaian, perumahan, air bersih, layanan pendidikan dan kesehatan.
Rendahnya kemampuan rumahtangga miskin dalam memenuhi kebutuhan pangan minimal bagi setiap anggota keluarga dapat menyebabkan berbagai dampak negatif, seperti kekurangan gizi, gizi buruk dan penyakit busung lapar. Hal itu ditambah lagi dengan rendahnya kemampuan keluarga miskin dalam memperoleh layanan kesehatan. Walaupun pemerintah telah menyediakan layanan kesehatan gratis bagi keluarga miskin, namun kenyataannya belum dimanfaatkan secara optimal oleh setiap keluarga miskin, terutama di pedesaan.
Kondisi lingkungan perumahan yang tidak sehat, ditambah lagi dengan ketiadaan air bersih, kebutuhan air minum seringkali masih memanfaatkan air
sungai, padahal mereka buang air besar juga di sungai, menyebabkan mereka rentan terserang penyakit, sehingga tingkat kesehatan mereka rendah.
Rendahnya kemampuan dalam memenuhi kebutuhan dasar bagi petani miskin di perdesaan memperlihatkan kondisi kehidupan mereka yang mempri- hatinkan. Jika tidak dilakukan upaya penaggulangannya, maka kondisi tersebut cenderung akan berlangsung secara turun-temurun. Oleh karena itu perlu dilakukan upaya penanggulangannya secara cermat agar mereka mampu bangkit secara mandiri mengatasi masalah kemiskinan yang dideritanya.
Berdasarkan paparan di atas, maka secara teoritis dapat dikonsepsikan bahwa perilaku rumahtangga petani miskin dalam melangsungkan kehidupannya sangat terkait dengan faktor-faktor sosial budaya dan lingkungan di mana rumahtangga itu berada atau bertempat tinggal. Jika faktor-faktor sosial budaya dan lingkungan sebagai faktor pembentuk atau yang mempengaruhi terbentuknya perilaku individu tersebut kita kelompokkan ke dalam dua kategori, yaitu
karakteristik internal kita beri simbul X1 dan karakteristik eksternal kita beri
simbul X2 dan tindakan-tindakan (perilaku) yang dilakukan oleh individu dalam
rumahtangga sebagai faktor yang dibentuk dari hasil fungsi X1 dan X2 kita beri
simbul Y1 dan pemenuhan kebutuhan rumahtangga kita beri simbul Y2, maka
secara sederhana dapat dirumuskan kerangka berpikir seperti pada Gambar 1.
Berdasarkan kerangka berpikir pada Gambar 1, perilaku (Y1) merupakan
hasil yang terbentuk dari fungsi X1 dan X2, dengan demikian secara matematis
dapat dirumuskan bahwa:
Y1 =
f
(
X1.1 X1.2 …X1.n, X2.1, X2.2, …X2.n)
.(Persamaan 1). Faktor-faktorpembentuk (X) tersebut meliputi:
X1.1 = Umur
X1.2 = Pendidikan formal
X 1.3 = Pendidikan non formal
X 1.4 = Motivasi berprestasi
X 1.5 = Orientasi nilai budaya
X 1.6 = Harapan atau aspirasi
X 1.7 = Pemilikan dan Penguasaan Lahan
X 1.9 = Jumlah dan komposisi anggota rumahtangga
X 2.1 = Akses informasi
X 2.2 = Akses kelompok atau organisasi
X 2.3 = Akses pasar
X 2.4 = Akses sumber modal
Gambar 1. Kerangka berpikir penelitian
Artinya bahwa perilaku individu secara normatif akan lebih baik jika semua faktor pembentuk tersebut dalam kondisi baik dan berfungsi dengan baik. Jika faktor-faktor tersebut tidak berfungsi dengan baik, maka perilaku individu dalam melangsungkan kehidupan rumahtangganya menuju kehidupan yang lebih baik akan semakin kurang efektif. Kemampuan untuk memanfaatkan setiap peluang
Karakteristik Eksternal (X2):
X 2.1 = Akses informasi
X 2.2 = Akses kelompok /organisasi
X 2.3 = Akses pasar
X 2.4 = Akses sumber modal
X 2.5 = Kepedulian p.formal
X 2.6 = Kepedulian p. informal
X 2.7 = Sarana layanan pendidikan
X 2.8 = Sarana layanan kesehatan
X 2.9 = Sarana layanan listrik
X 2.10 = Akses kebijakan kemiskinan Karakteristik Internal (X1):
X1.1 = Umur
X1.2 = Pendidikan formal
X 1.3 = Pendidikan non formal
X 1.4 = Motivasi berprestasi
X 1.5 = Orientasi nilai budaya
X 1.6 = Harapan atau aspirasi
X1.7 = Pemilikan & P.Lahan
X 1.8 = Pendapatan rumahtangga
X1.9= Jumlah & kom.anggota Rmt
PerilakuRmt Petani Miskin( Y1 ) :
Y1.1. Perilaku bekerja
dan berusaha (berproduksi) Y1.2 Perilaku dalam
mengelola hasil usaha untuk memenuhi kebutuhan Rmt (Konsumsi) Y1.3 Perilaku interaksi
sosial. Pemenuhan Kebutuhan Rmt( Y2 ) : • Pangan • Air bersih • Perumahan • Layanan pendidikan • Layanan kes. • Pekerjaan & kesempatan berusaha • Rasa aman
dan potensi yang ada rendah, sehingga kemampuan untuk memperbaiki kondisi kesejahteraan keluarganya juga rendah.
Jika dihubungkan dengan pemenuhan kebutuhan rumahtangga dilihat dari konsep pemenuhan hak-hak dasar suatu rumahtangga, maka di samping faktor- faktor tersebut juga akan dipengaruhi oleh ketersediaan layanan yang dibutuhkan oleh setiap individu atau rumahtangga. Ketersediaan layanan publik yang me- nyangkut pemenuhan hak-hak dasar setiap individu atau rumahtangga, antara lain adalah sarana layanan pendidikan, sarana layanan kesehatan, sarana layanan air bersih dan sarana layanan listrik (penerangan). Selain itu, kepedulian pemimpin formal maupun informal juga dapat memainkan peranan yang cukup penting un- tuk memberi peluang kepada kelompok miskin untuk dapat mengakses sumber- daya yang diperlukan bagi kelangsungan hidupnya, termasuk untuk mengakses atau mendapat perlindungan melalui program penanggulangan kemiskinan.
Dengan demikian, dapat dikonsepsikan bahwa pemenuhan kebutuhan rumahtangga petani miskin merupakan fungsi yang terbentuk dari fungsi-fungsi pembentuk perilaku (persamaan 1) ditambah dengan fungsi kepemimpinan formal maupun informal dan sarana layanan publik dasar yang terkait dengan hak-hak dasar setiap individu atau rumahtangga.
Berdasarkan konsepsi tersebut, jika fungsi pemenuhan kebutuhan rumah-
tangga petani miskin disimbulkan dengan Y2 dan perilaku disimbulkan dengan
Y1 , maka dapat dirumuskan bahwa:
Y2 =
f(
X1.1 X1.2 …X1.n, X2.1, X2.2, …X2.n)(
Y1).
(Persamaan 2).X1 meliputi delapan unsur atau faktor pembentuk perilaku, seperti pada
persamaan 1 dan X 2 adalah meliputi:
X 2.1 = Akses informasi
X 2.2 = Akses kelompok atau organisasi
X 2.3 = Akses pasar
X 2.4 = Akses sumber modal
X 2.5 = Kepedulian pemimpin formal
X 2.6 = Kepedulian pemimpin informal
X 2.7 = Ketersediaan sarana layanan pendidikan
X 2.9 = Ketersediaan sarana layanan listrik
X 2.10 = Akses terhadap kebijakan penanggulangan kemiskinan
Dengan ketentuan bahwa fungsi tersebut berlaku apabila sumberdaya lahan sebagai sumberdaya dasar bagi petani tersedia dan dapat diakses.
Berdasarkan kosepsi-konsepsi secara matematis di atas, maka dapat digam- barkan model matematis hubungan karakteristik sosiodemografi dengan perilaku dan pemenuhan kebutuhan rumahtangga petani miskin seperti pada Gambar 2.
Hipotesis
Berdasarkan kajian teoritis dan model matematis yang dikemukakan di atas maka dirumuskan beberapa hipotesis penelitian sebagai berikut:
(1) Karakteristik ( umur, pendidikan formal, pendidikan non formal, motivasi berprestasi, orientasi nilai budaya, harapan atau aspirasi, jumlah dan komposisi anggota keluarga, luas pemilikan dan penguasaan lahan, pendapatan keluarga, akses sumber informasi, akses terhadap kelompok/ organisasi sosial lokal, akses pasar dan akses sumber modal) berhubungan dan berpengaruh secara nyata terhadap perilaku petani miskin dalam bekerja dan berusaha, mengelola hasil usaha untuk memenuhi kebutuhan rumahtangga dan perilaku interaksi sosial.
(2) Perilaku petani miskin (Perilaku berproduksi, konsumsi, dan perilaku interaksi
sosial) berhubungan secara nyata dengan tingkat pemenuhan kebutuhan rumahtangganya.
(3) Karakteristik (umur, pendidikan formal, pendidikan non formal, motivasi
berprestasi, orientasi nilai budaya, harapan atau aspirasi, jumlah dan komposisi anggota keluarga, luas pemilikan dan penguasaan lahan, pendapatan keluarga, akses sumber informasi, akses terhadap kelompok/ organisasi, akses pasar, akses sumber modal, ketersediaan sarana layanan pendidikan, ketersediaan sarana layanan kesehatan, ketersediaan sarana layanan listrik, kepedulian pemimpin formal, kepedulian pemimpin informal dan akses terhadap kebijakan penanggulangan kemiskinan) berhubungan secara nyata dengan tingkat pemenuhan kebutuhan rumahtangga petani miskin.