BAB I PENDAHULUAN
B. Kerangka Hukum mengenai Tenaga Kerja Migran dan Jaminan Sosial yang
1. Kerangka Hukum Indonesia Mengenai Perlindungan dan Jaminan Sosial
Dikutip dari Kementerian Ketenagakerjaan Indonesia, Indonesia sudah memiliki beberapa peraturan hukum mengenai perlindungan tenaga kerja dan akses terhadap jaminan sosial. Peraturan-peraturan ini diantaranya adalah Undang-Undang No. 39 tahun 2004 tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri, Undang-Undang No. 18 tahun 2017 tentang Perlindungan Pekerja Indonesia serta peraturan turunan yaitu Peraturan Kemenaker (Menteri Tenaga Kerja) No. 7 tahun 2010, No. 1 tahun 2012, dan No. 7 tahun 2017 tentang Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja Indonesia.62
a. Undang- Undang (UU) No. 39 tahun 2004
UU ini mengatur tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri. Dalam UU ini termuat bentuk perlindungan untuk tenaga kerja migran Indonesia berupa terjaminnya pemenuhan hak-hak sesuai dengan peraturan perundang-undangan, baik sebelum, selama dan sesudah bekerja.63 Untuk menjamin perlindungan terhadap tenaga kerja Indonesia pemerintah mempunyai beberapa tanggung jawab. Dalam pasal 5 ayat 1 UU ini menyatakan bahwa pemerintah bertugas untuk mengatur, membina, melaksanakan, dan mengawasi penyelenggaraan penempatan dan perlindungan pekerja migran Indonesia di luar
62 Direktorat Jendral PHI & Jamsos Kemnaker Republik Indonesia [database on-line]; tersedia di
http://phijsk.kemnaker.go.id/page/peraturan_perundangan.
63 Undang- Undang No. 39 tahun 2004 tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja
Indonesia di Luar Negeri, Pasal 1 [database on-line]; tersedia di
https://pih.kemlu.go.id/files/uu%20No%2039%20Tahun%202004%20Tentang%20Penempatan%2 0dan%20Perlindungan%20TKI.pdf.
32
negeri.64 Selanjutnya di pasal 6 pemerintah bertanggung jawab untuk meningkatkan upaya perlindungan pekerja migran Indonesia di luar negeri.65
Dalam peraturan perundang-undangan ini menjelaskan pula bahwa penempatan pekerja migran Indonesia di luar negeri hanya dapat dilakukan ke negara yang sudah membuat perjanjian tertulis dengan Indonesia. Dengan kata lain, pengiriman pekerja migran Indonesia harus dengan negara yang sudah mempunyai perjanjian bilateral mengenai tenaga kerja asing.66 Selain itu, dijelaskan pula mengenai pembentukan Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) yang mempunyai tugas antara lain untuk memberikan pelayanan, mengkoordinasikan, dan melakukan pengawasan mengenai peningkatan kesejahteraan pekerja migran Indonesia.67 Selain itu pada pasal 68 UU ini juga mengatur mengenai asuransi yang didapatkan oleh pekerja migran Indonesia Indonesia, namun asuransi ini diatur lebih rinci dalam Peraturan Menteri No. 7 tahun 2010.68
Aspek perlindungan selama bekerja di negara tujuan masih terbatas dalam UU ini. Misalnya, Pasal 1 UU ini menyatakan bahwa peraturan ini hanya mencakup warga negara Indonesia yang memenuhi persyaratan untuk bekerja ke luar negeri dengan periode tertentu. Pekerja migran Indonesia ilegal tidak tercakup dalam UU
64 Undang- Undang No. 39 tahun 2004, Pasal 5.
65 Undang- Undang No. 39 tahun 2004, Pasal 6.
66 Undang- Undang No. 39 tahun 2004, Pasal 27.
67 Undang- Undang No. 39 tahun 2004, Pasal 94- 95.
68 Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. 7 tahun 2010 tentang Asuransi Tenaga Kerja Indonesia [database on-line]; tersedia di http://www.mitraPekerja migran
indonesia.com/MitraPEKERJA MIGRAN
INDONESIA/attachment/PERATURAN%20MENTERI%20TENAGA%20KERJA%20DAN%20 TRANSMIGRASI%0REPUBLIK%20INDONESIA%20NOMOR%20PER.07_MEN_V_2010.pdf
33
ini dan tidak memperoleh perlindungan.69 Dalam UU ini belum terdapat juga instrumen khusus terkait jaminan sosial sebagai bentuk perlindungan terhadap pekerja migran Indonesia di luar negeri. Perlindungan pekerja migran Indonesia di luar negeri baru sebatas menetapkan jabatan Atase Ketenagakerjaan pada perwakilan Indonesia di luar negeri dan melakukan pembinaan serta pengawasan terhadap Pelaksana Penempatan Tenaga Kerja Indonesia Swasta (PPTKIS) dan pekerja migran Indonesia yang ditempatkan di luar negeri.70
b. Undang- Undang (UU) No. 18 tahun 2017
UU ini mengatur tentang perlindungan pekerja migran indonesia yang diselenggarakan dari Aparatur Desa sampai Pemerintah Pusat. Dalam UU ini termuat definisi dari perlindungan pekerja migran indonesia sebagai upaya untuk melindungi kepentingan calon pekerja migran Indonesia pekerja migran Indonesia dan keluarganya dalam mewujudkan terjaminnya pemenuhan hak dalam keseluruhan kegiatan sebelum bekerja, selama bekerja, dan setelah bekerja dalam aspek hukum, ekonomi, dan sosial.71
Pekerja migran Indonesia yang akan ikut dan mempunyai nomor kepesertaan jaminan sosial harus terdaftar. Dengan kata lain, pekerja migran Indonesia yang mempunyai jaminan sosial hanyalah pekerja migran yang legal.72 Dalam UU ini pekerja migran Indonesia berhak untuk memperoleh pelayanan yang profesional
69 International Organization for Migration (IOM), Labour Migration from Indonesia, 13.
70 Undang- Undang No. 39 tahun 2004, Pasal 81.
71 Undang- Undang No. 18 tahun 2017 tentang Perlindungan Pekerja Migran Indonesia, Pasal 1,
ayat 5 [database on-line]; tersedia di
https://sipuu.setkab.go.id/PUUdoc/175351/UU%20Nomor%2018%20Tahun%202017.pdf
34
dan manusiawi tanpa perlakuan diskriminastif saat sebelum, selama dan sesudah bekerja. Beberapa bentuk perlindungan untuk pekerja migran Indonesia antara lain adalah informasi mengenai upah kerja, perlindungan dan bantuan hukum, ketetapan untuk memegang dokumen pribadi, dan kebebasan berserikat.73
Selain perlindungan teknis berupa jaminan sosial, di dalam UU ini juga tercangkup kondisi dan syarat kerja yang meliputi jam kerja, upah dan tata cara pembayaran, hak cuti dan waktu istirahat, serta fasilitas jaminan sosial atau asuransi.74 Pengintegrasian dan pengkoordinasian peran pemerintah juga tercangkup dalam UU ini dimulai dari pemerintah desa yang bertugas salah satunya untuk menerima dan memberikan informasi dan permintaan pekerjaan dari instansi ketenagakerjaan lalu dilanjutkan oleh pemerintah kabupaten atau kota lalu ke pemerintah daerah provinsi sampai ke pemerintah pusat yang melakukan upaya secara optimal untuk melindungi PMI.75
c. Peraturan Menteri Tenaga Kerja
Peraturan turunan UU mengenai jaminan sosial tertuang dalam beberapa Peraturan Menteri Tenaga Kerja. Peraturan ini diantaranya adalah Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Permeketrans) nomor PER.07/MEN/V/2010 yang kemudian diamandemen menjadi Permeketrans No. 1 tahun 2012 tentang Asuransi Tenaga Kerja Indonesia. Dalam Peraturan ini program asuransi pekerja migran Indonesia diselenggarakan oleh Konsorisum Asuransi Tenaga Kerja Indonesia yang mendapat persetujuan Menteri Tenaga Kerja.
73 Undang- Undang No. 18 tahun 2017, Pasal 6.
74 Undang- Undang No. 18 tahun 2017, Pasal 15.
35
Konsorsium ini terdiri dari minimal 10 perusahaan asuransi kerugian dan asuransi jiwa.76
Dalam peraturan ini asuransi untuk calon pekerja migran Indonesia dibagi kedalam 3 tahapan yaitu asuransi pra penempatan, selama penempatan, dan purna penempatan. Berkaitan dengan Asuransi PPMI di Malaysia, pemerintah Indonesia melalui peraturan ini mengeluarkan jenis program asuransi pekerja migran Indonesia selama penempatan yaitu auransi kematian, sakit dan cacat, kecelakaan kerja, pemutusan hubungan kerja (PHK), upah tidak dibayar, pemulangan pekerja migran Indonesia bermasalah, risiko menghadapi masalah hukum, risiko kekerasan fisik dan seksual, risiko kejiwaan, dan risiko yang terjadi dalam hal pekerja migran Indonesia dipindahkan ke tempat kerja atau tempat lain yang tidak sesuai dengan perjanjian penempatan.77
Lalu pada tahun 2017 dikeluarkan kembali pembaharuan peraturan mengenai program jaminan sosial tenaga kerja Indonesia No. 7 tahun 2017 yang merupakan peraturan turunan dari UU No. 18 tahun 2017 yang memuat tentang jaminan sosial untuk PMI dari sebelum mereka bekerja, selama mereka bekerja di negara tujuan dan sampai pulang ke tanah air. Melalui peraturan ini asuransi pekerja migran Indonesia diintegrasikan ke Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan. Pada Pasal 2 ayat 2 Peraturan disebutkan bahwa jenis jaminan sosial yang diterima oleh para PMI berupa Jaminan Kesehatan Nasional (JKN);
76 Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. 7 tahun 2010, ketentuan umum, pasal 3, pasal 7.
36
Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK); Jaminan Kematian (JKM); dan Jaminan Hari Tua (JHT).78