• Tidak ada hasil yang ditemukan

PRODUKSI LESTARI (PHPL)

Kerangka Kerja Pengelolaan Hutan Produksi Lestari (PHPL)

Agar pengelola hutan pemegang IUPHHK-HA tidak kehilangan orientasi dan lebih fokus pada proses pengelolaan hutan yang sasaran akhirnya adalah memenuhi standar penilaian PHPL dan verifikasi legalitas kayu telah disusun Kerangka Kerja Pengelolaan Hutan Produksi Lestari. Kerangka kerja PHPL sebagaimana dimaksud di atas dapat dijelaskan melalui bagan alir sebagai berikut :

KONSEP DAN KEBIJAKAN PHPL DAN IMPLEMENTASINYA

KERANGKA KERJA PENGELOLAAN HUTAN PRODUKSI LESTARI (PHPL)

24

Gambar 4. Bagan Alir Kerangka Kerja PHPL (Sumber: TFT)

Tahapan dan Kegiatan Utama Pengelolaan Hutan Produksi Lestari

Tahapan dan kegiatan utama pengelolaan hutan produksi lestari sebagaimana dimaksud pada bagan alir tersebut di atas dapat dijelaskan berikut ini :

A. Tahap Prakondisi

Tahap ini merupakan tahap yang paling penting dan menentukan pelaksanaan PHPL. Inti dari tahap ini adalah komitmen pengelola hutan untuk melaksanakan PHPL. Komitmen harus bisa dibuktikan secara nyata paling tidak dengan melakukan beberapa hal berikut yang sebagian besar merupakan tugas dari manajemen puncak dari UNIT PENGELOLA HUTAN :

A1. Meningkatkan kesadaran untuk melaksanakan PHPL

Kesadaran untuk melakukan Pengelolaan Hutan Produksi Lestari perlu dimiliki oleh seluruh jajaran internal yang terlibat dalam pengelolaan hutan, mulai dari pemilik perusahaan, manajemen puncak, dan seluruh staf lapangan termasuk kontraktor.

KONSEP DAN KEBIJAKAN PHPL DAN IMPLEMENTASINYA

KERANGKA KERJA PENGELOLAAN HUTAN PRODUKSI LESTARI (PHPL)

25

Kesadaran tersebut harus didasari oleh pemahaman yang cukup tentang Pengelolaan

Hutan Produksi Lestari dari berbagai aspek, baik dari aspek kepatuhan terhadap peraturan perundangan, aspek produksi, aspek lingkungan, aspek sosial, dan juga dari aspek strategi bisnis.

Pengelolaan hutan merupakan usaha jangka panjang. Untuk menjamin kelestarian hasil sekaligus kelestarian usaha mutlak diperlukan Pengelolaan Hutan Produksi Lestari. A2. Membangun komitmen untuk melaksanakan PHPL

Komitmen untuk PHPL harus bisa ditunjukan oleh unit pengelola hutan, diantaranya : • Visi dan misi perusahaan sebagai bentuk komitmen tertulis harus mencerminkan

kesadaran untuk melakukan Pengelolaan Hutan Produksi Lestari. Visi, misi dan komitmen untuk PHPL perlu diketahui oleh seluruh jajaran internal yang terlibat dalam pengelolaan hutan termasuk kontraktor serta masyarakat secara luas. Penyusunan visi, misi, penetapan target, dan sebagainya merupakan bagian dari perencanaan bisnis dan stra tegi.

• Pemenuhan aspek legalitas

• Pemenuhan tenaga teknis yang memadai, dana untuk pelaksanaan kegiatan dan sarana dan prasarana untuk mendukung pelaksanaan kegiatan. Rencana aksi menuju PHPL tidak akan berjalan dengan baik jika ketiga faktor tersebut tidak terpenuhi. A3. Penilaian kesenjangan antara Praktik Pengelolaan yang Sedang Berjalan dengan standar

Penilaian PHPL (Gap Assessment)

Penilaian/verifikasi bisa dilakukan oleh internal unit pengelola hutan atau oleh pihak lain yang berkompeten. Penilaian ini merupakan langkah awal dalam rangka memperbaiki kinerja menuju Pengelolaan Hutan Produksi Lestari. Hasil penilaian/verifikasi harus disosialisasikan kepada seluruh jajaran unit pengelola hutan termasuk kontraktor.

Penentuan atau pemilihan standar penilaian/verifikasi dalam melakukan gap assessment tergantung kepada tujuannya, apakah untuk tujuan pemenuhan standar mandatory (LK dan PHPL) atau untuk tujuan pemenuhan standar FSC.

Penilaian PHPL dengan standar PHPL atau FSC dilakukan pada level kriteria, sedangkan untuk verifikasi legalitas kayu (LK) penilaian dilakukan pada level indikator. Berikut adalah uraiannya:

_ LK : 3 prinsip, 6 kriteria, 11 indikator _ PHPL : 4 prinsip, 24 kriteria

KONSEP DAN KEBIJAKAN PHPL DAN IMPLEMENTASINYA

KERANGKA KERJA PENGELOLAAN HUTAN PRODUKSI LESTARI (PHPL)

26

_ FSC (hutan alam) : 9 prinsip, 47 kriteria

Hasil gap assessment disajikan untuk setiap kriteria/indikator tersebut di atas. A4. Membuat Rencana Aksi menuju PHPL

Tindak lanjut dari hasil gap assessment adalah membuat rencana aksi berdasarkan hasil penilaian pada setiap kriteria/indikator. Komponen utama dari rencana aksi terdiri dari kegiatan, target, penanggung jawab dan tata waktu pelaksanaan.

Dalam penyusunan rencana aksi, untuk pemenuhan setiap kriteria dan indikator seringkali dibutuhkan beberapa kegiatan lintas departemen atau lintas tahapan (perencanaan, implementasi, monitoring atau evaluasi). Atau sebaliknya, satu kegiatan bisa berhubungan dengan beberapa kriteria/indikator.

B. Pengumpulan Data Dasar

Pengumpulan data dasar dimaksudkan untuk memperoleh informasi menyeluruh mengenai sumber daya hutan (batas areal kerja, potensi, riap tegakan, keanekaragaman hayati, dan kawasan yang perlu dilindungi); dampak potensial dari pengelolaan hutan terhadap lingkungan; dan kondisi sosial, ekonomi dan budaya masyarakat di sekitar hutan.

Seluruh informasi tersebut harus diintegrasikan dan dipertimbangkan dalam proses penataan areal kerja (forest zoning) dan dalam proses penyusunan rencana pengelolaan jangka panjang yang meliputi rencana kelola produksi, lingkungan dan sosial. Berikut adalah penjelasan mengenai kegiatan utama yang terkait dengan pengumpulan data dasar:

B1. Penataan batas areal kerja dan pengukuhan kawasan hutan

Salah satu kewajiban dari Unit Pengelola Hutan pada tahap awal pengelolaan hutan adalah pelaksanaan tata batas areal kerja (TBT). Penataan batas areal kerja merupakan upaya untuk mendapatkan kepastian kawasan hutan yang dikelola untuk jangka panjang. B2 Analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL)

AMDAL dilakukan sebelum kegiatan operasional dimulai dan merupakan salah satu persyaratan memperoleh ijin usaha pemanfaatan hasil hutan kayu pada hutan alam (IUPHHKHA).

Dokumen AMDAL terdiri dari dokumen utama, yaitu dokumen analisis dampak lingkungan (AMDAL), dokumen rencana kelola lingkungan (RKL) dan dokumen rencana pemantauan lingkungan (RPL).

KONSEP DAN KEBIJAKAN PHPL DAN IMPLEMENTASINYA

KERANGKA KERJA PENGELOLAAN HUTAN PRODUKSI LESTARI (PHPL)

27

Informasi penting yang diperoleh dari dokumen AMDAL adalah dampak potensial

pengelolaan hutan terhadap lingkungan (fisik-kimia, biologi, dan sosial) dan besarannya yang selanjutnya menjadi dasar untuk penyusunan rencana kelola lingkungan dan rencana pemantauan lingkungan.

B3 Survei sosial

Survei sosial dilakukan untuk mengetahui informasi mengenai kondisi sosial ekonomi dan budaya masyarakat di dalam dan di sekitar hutan yang dikelola. Informasi meliputi kelembagaan desa, sarana dan prasarana desa, jumlah penduduk, mata pencaharian, pendidikan, kesehatan, aturan adat, kearifan tradisional, penggunaan lahan, pemanfaatan sumber daya hutan, dan sebagainya.

Pelaksanaan survei disarankan untuk dilakukan secara partispatif dengan melibatkan masyarakat sekitar hutan agar diperoleh gambaran yang utuh mengenai kondisi sosial, ekonomi dan budaya masyarakat serta untuk menghindari konflik penggunaan lahan dan konflik pengelolaan sumber daya hutan di kemudian hari.

Selain untuk bahan penyusunan rencana pengelolaan, informasi yang diperoleh dari survei sosial bisa dimanfaatkan sebagai bahan untuk kegiatan identifikasi HCVF dan lebih lanjut dapat digunakan sebagai data pembanding dengan hasil pemantauan dampak sosial.

B4. Identifikasi hutan bernilai konservasi tinggi (HCVF)

Pedoman untuk melakukan identifikasi HCVF adalah Panduan Identifikasi Kawasan NKT di Indonesia (Konsorsium Revisi HCV Toolkit Indonesia, Tropenbos Indonesia, 2008). Kegiatan ini termasuk dalam Prinsip 9 dari standar FSC. Walaupun demikian, informasi yang diperoleh dari kegiatan ini relevan dengan kriteria PHPL terutama kriteria 3.1 dan Informasi yang diperoleh dari kegiatan ini secara umum adalah mengenai nilai konservasi tinggi dari hutan, yang diantaranya meliputi : keanekaragaman hayati (species, ecosistem); jenis-jenis yang dilindungi menurut IUCN, peraturan perundangan Indonesia, maupun yang termasuk dalam appendix CITES; habitat hewan yang perlu dilindungi; keterwakilan ekosistem yang perlu dilindungi; kawasan perlindungan air (daerah aliran sungai); sumber daya hutan yang penting bagi masyarakat sekitar hutan; dan situs agama, budaya dan ekonomi masyarakat sekitar hutan yang perlu dilindungi.

Hasil identifikasi HCVF dilengkapi dengan rekomendasi pengelolaan yang harus dilakukan agar nilai konservasi tinggi dari hutan yang dikelola dapat dipertahankan.

Salah satu bentuk penilaian keanekaragaman hayati yang wajib dilakukan adalah kegiatan penentuan lokasi kawasan pelestarian plasma nutfah (KPPN) dan inventarisasi kea nekaragaman jenis flora dan fauna di KPPN.

KONSEP DAN KEBIJAKAN PHPL DAN IMPLEMENTASINYA

KERANGKA KERJA PENGELOLAAN HUTAN PRODUKSI LESTARI (PHPL)

28

B5. Inventarisasi hutan menyeluruh berkala (IHMB)

IHMB dilakukan untuk mengetahui potensi tegakan hutan yang mencakup seluruh areal kerja dengan cara sampling. Metode pelaksanaan secara lengkap dijelaskan dalam pedoman IHMB sesuai Permenhut Nomor P.33/Menhut-II/2009. IHMB dilakukan secara berkala setiap sepuluh tahun sebagai dasar untuk penataan areal kerja (forest zoning) dan penyusunan rencana kerja usaha pemanfaatan hasil hutan kayu (RKUPHHK) untuk jangka sepuluh tahun.

B6. Perhitungan riap tegakan hutan

Riap tegakan hutan atau laju pertumbuhan tegakan hutan (m3/ha/tahun) bisa dikatakan sebagai bunga atau ‘interest’ dari potensi tegakan hutan (m3/ha). Potensi tegakan hutan diketahui dari hasil IHMB, sedangkan riap tegakan hutan dihitung dari hasil pengukuran periodik petak ukur permanen (PUP) yang dibuat pada lokasi bekas tebangan. Referensi untuk pembuatan dan pengukuran PUP adalah Paket Inventarisasi Permanen (BFMP, 2002).

Untuk menjamin kelestarian hasil hutan, maka volume kayu yang dipanen setiap tahunnya (annual allowable cut atau AAC) tidak boleh melebihi riap rata-rata tegakan hutan. Jika laju pemanenan kayu melebihi laju pertumbuhan tegakan, atau dengan kata lain volume kayu yang dipanen melebihi riap rata-rata tegakan hutan, maka bisa dipastikan dalam jangka panjang akan terjadi penurunan “modal” potensi tegakan hutan, hutan terdegradasi dan kelestarian hasil hutan tidak pernah terjadi.

C. Penyusunan Rencana Pengelolaan

C1 Penataan Areal Kerja Jangka Panjang (Zonasi Hutan)

Penataan areal kerja jangka panjang merupakan kegiatan awal yang sangat menentukan Pengelolaan Hutan Produksi Lestari. Input untuk kegiatan ini adalah seluruh informasi yang telah diperoleh dari tahap pengumpulan data dasar, seperti laporan tata batas, Dokumen AMDAL, laporan survei sosial, laporan identifikasi HCVF dan rekomendasinya, laporan penilaian keanekaragaman hayati, dan laporan IHMB. Kegiatan ini terdiri dari dua tahapan yaitu tahap penyusunan zonasi hutan dan tahapan penataan blok rencana kerja tahunan (Blok RKT).

KONSEP DAN KEBIJAKAN PHPL DAN IMPLEMENTASINYA

KERANGKA KERJA PENGELOLAAN HUTAN PRODUKSI LESTARI (PHPL)

29

Gambar 5. Tahapan penyusunan zonasi hutan dan penataan blok RKT

Pada tahap zonasi hutan, areal kerja didelineasi sesuai dengan peruntukannya, yaitu kawasan lindung, areal tidak efektif untuk produksi dan areal efektif untuk produksi.

Yang termasuk dalam kawasan lindung :

• Kawasan dengan kemiringan lebih dari 40%; bufferzone hutan lindung dan kawasan suaka alam/pelestarian alam; sempadan sungai, pantai, danau dan mata air; dan kawasan pelestarian plasma nutfah (KPPN); dan lahan gambut lebih dari 3 meter. • Kawasan yang mempunyai nilai konservasi tinggi dan perlu dilindungi sesuai hasil

rekomendasi dari kegiatan identifikasi HCVF, diantaranya sempadan sungai, situs budaya termasuk hutan adat, situs agama, lintasan satwa, habitat satwa migrant,

span, dan sebagainya.

• Kawasan lainnya yang perlu dilindungi berdasarkan kesepakatan dengan masyarakat atau berdasarkan hasil survei sosial atau hasil studi lainnya jika identifikasi HCVF belum dilakukan.

Yang termasuk dalam areal tidak efektif untuk produksi adalah petak ukur permanen (PUP), kebun bibit, sarana dan prasarana seperti perumahan, kantor, log yard, persemaian, dan sebagainya.

Tahap selanjutnya adalah delineasi areal efektif untuk produksi ke dalam 30 blok rencana kerja tahunan (blok RKT) sesuai dengan rotasi tebangan yaitu 30 tahun (Permenhut Nomor P.11/Menhut-II/2009 tentang sistem silvikultur). Luas masing-masing blok RKT bervariasi disesuaikan dengan potensi tegakan hutannya (standing stock) hasil IHMB agar volume kayu yang dipanen rata-rata sama untuk setiap tahunnya.

KONSEP DAN KEBIJAKAN PHPL DAN IMPLEMENTASINYA

KERANGKA KERJA PENGELOLAAN HUTAN PRODUKSI LESTARI (PHPL)

30

C2. Penyusunan Rencana Pengelolaan Jangka Panjang (RKUPHHK)

Rencana Kerja Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu (RKUPHHK) disusun setiap sepuluh tahun yang meliputi seluruh aspek pengelolaan hutan, yaitu aspek produksi, aspek lingkungan dan aspek sosial serta aspek manajemen umum.

Input untuk kegiatan ini adalah :

o Seluruh informasi yang telah diperoleh dari tahap pengumpulan data dasar, seperti laporan tata batas, dokumen AMDAL, laporan survei sosial, laporan identifikasi HCVF dan rekomendasinya, laporan penilaian keanekaragaman hayati, dan laporan IHMB. o Hasil penataan areal kerja jangka panjang (zonasi hutan dan penataan blok RKT). o Hasil pengukuran riap tegakan hutan.

o Hasil monitoring dan evaluasi periode pengelolaan sebelumnya.

o Konsep perencanaan yang ideal adalah adanya kesesuaian antara yang direncanakan dan yang akan dilaksanakan. Atau seluruh kegiatan yang akan dilakukan pada tahap implementasi seharusnya sudah direncanakan pada tahap ini, yaitu meliputi :

- Rencana produksi

- Rencana penerapan sistem pemanenan ramah lingkungan (RIL) - Rencana penerapan sistem lacak balak

- Rencana penggunaan alat berat - Rencana pengelolaan limbah - Rencana konservasi tanah dan air - Rencana pembinaan hutan - Rencana kelola sosial

- Rencana penataan batas kawasan lindung - Rencana pemetaan partisipatif

- Rencana perlindungan dan pengamanan kawasan hutan - Rencana konservasi jenis flora dan fauna

KONSEP DAN KEBIJAKAN PHPL DAN IMPLEMENTASINYA

KERANGKA KERJA PENGELOLAAN HUTAN PRODUKSI LESTARI (PHPL)

31

- Rencana pengelolaan keuangan

- Rencana pengelolaan sumber daya manusia

- Rencana penerapan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja - Rencana sistem dokumentasi

C3. Penyusunan Rencana Pemanenan Kayu

Rencana pemanenan kayu disusun berdasarkan 4 kegiatan yang dilakukan secara berurutan, yaitu penataan areal kerja tahunan (PAK), kegiatan inventarisasi tegakan sebelum penebangan dan pemetaan topografi (ITSP dan topomapping), kegiatan survei rencana jalan, dan survei pola sarad. Keakuratan hasil dari 4 kegiatan tersebut sangat penting karena akan menjadi pedoman untuk pelaksanaan implementasi Reduced

Impact Logging (RIL).

Khusus untuk kegiatan ITSP dan topomapping, selain untuk kebutuhan RIL, juga sangat menentukan dalam pengajuan jatah produksi tahunan (target RKT) dan implementasi penatausahaan hasil hutan serta monitoring implementasi lacak balak.

C4. Penyusunan Rencana Kerja Tahunan (RKT)

Idealnya Rencana Kerja Tahunan disusun beradasarkan : RKUPHHK, hasil realisasi RKT tahun sebelumnya dan rencana pemanenan kayu. Rencana kerja tahunan meliputi seluruh aspek pengelolaan, yaitu aspek produksi, lingkungan dan sosial.

C5. Penyusunan Rencana Kegiatan dan Anggaran Perusahaan (RKAP)

RKAP berisi seluruh rencana yang akan dilakukan oleh unit pengelola hutan baik yang sudah tercantum dalam buku RKT maupun rencana kegiatan yang tidak tercantum dalam buku RKT disertai dengan perkiraan biaya yang akan timbul (cost) dari seluruh rencana tersebut dan perhitungan pemasukan (benefit) untuk unit pengelola hutan. RKAP dibuat untuk memastikan bahwa seluruh kegiatan yang direncanakan sudah dianggarkan oleh perusahaan dan untuk menghitung untung rugi kegiatan pengelolaan hutan.

D. Implementasi

Implementasi/pelaksanaan kegiatan meliputi : 1. Pemanenan Kayu

KONSEP DAN KEBIJAKAN PHPL DAN IMPLEMENTASINYA

KERANGKA KERJA PENGELOLAAN HUTAN PRODUKSI LESTARI (PHPL)

32

3. Pembayaran Pajak, Kompensasi dan Iuran Resmi Lainnya 4. Pengelolaan Alat-alat Berat

5. Pengelolaan Limbah 6. Konservasi Tanah dan Air 7. Pembinaan Hutan

8. Program Kelola Sosial

9. Penataan Batas Kawasan Lindung 10. Pemetaan Partisipatif

11. Perlindungan dan Pengamanan Hutan

12. Konservasi Jenis Hewan dan Tumbuhan Dilindungi 13. Resolusi Konflik

Dua hal yang penting dalam tahap implementasi adalah, pertama pelaksanaan kegiatan dilakukan berdasarkan rencana yang telah disusun dan yang kedua pelaksanaan kegiatan harus sesuai dengan standar prosedur yang telah ditetapkan. Pada tahap ini penyusunan standar prosedur menjadi sangat penting. Untuk mendukung penyusunan standar prosedur yang sesuai diperlukan peningkatan kompetensi karyawan melalui training dan implementasi

secara terus menerus.

E. Manajemen Umum

Manajemen yang dilakukan perusahaan secara umum yang menjadi pondasi dan pendukung pelaksanaan PHPL adalah :

1. Pengelolaan Keuangan

2. Pengelolaan Sumber daya Manusia

3. Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) 4. Sistem Pengelolaan Dokumen

KONSEP DAN KEBIJAKAN PHPL DAN IMPLEMENTASINYA

KERANGKA KERJA PENGELOLAAN HUTAN PRODUKSI LESTARI (PHPL)

33

F. Monitoring dan evaluasi

Kegiatan monitoring dan evaluasi meliputi : 1. Monev Implementasi RIL

2. Monitoring Hasil Produksi dan Monev Lacak Balak

3. Monev Dampak Pemanenan Kayu terhadap Aspek Fisik-Kimia 4. Monev Dampak Pemanenan Kayu terhadap Aspek Biologi 5. Monev Dampak Pemanenan kayu terhadap Aspek Sosial 6. Review

7. Audit Internal Pelaksanaan PHPL

Monitoring diperlukan untuk memastikan bahwa pelaksanaan suatu kegiatan dilakukan

sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan sehingga mencapai sasaran yang diharapkan.

Monitoring dilakukan pada saat proses pelaksanaan kegiatan. Monitoring bukan merupakan

kegiatan pasif, dengan pengertian adanya tindakan antisipasi terhadap kendala yang akan timbul dan segera mencari solusi jika ada kendala dalam proses pelaksanaan kegiatan. Evaluasi dilakukan berdasarkan hasil monitoring ditambah dengan informasi lainnya yang berhubungan dengan kegiatan tersebut, sehingga diperoleh suatu kesimpulan dan rekomendasi tindakan perbaikan. Adanya rekomendasi untuk perbaikan lebih lanjut.

PERAN PHPL DALAM

Dokumen terkait