BAB III KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS
3.1 Kerangka Konsep
Berdasarkan landasan teori dan rumusan masalah penelitian, peneliti mengindentifikasi 6 (enam) variabel independen yaitu pajak daerah (X1), retribusi daerah (X2), lain-lain pendapatan asli daerah sah (X3), DAU (X4), DAK (X5) dan DBH (X6) yang diperkirakan mempengaruhi belanja modal (Y) dengan produk domestik regional bruto (Z) sebagai variabel moderating.
Kerangka konsep yang digunakan dalam penelitian ini, dapat digambarkan sebagai berikut :
Gambar 3.1 Kerangka Konsep
Retribusi Daerah (X2) Pajak Daerah (X1)
Lain-Lain PAD Sah (X3)
PDRB (Z)
Belanja Modal (Y) DAU (X4)
DAK (X5) DBH (X6)
Dari Gambar 3.1 Kerangka Konsep diatas dapat dilihat bahwa ada pengaruh pajak daerah, retribusi daerah, lain-lain pendapatan asli daerah sah, DAU, DAK dan juga DBH terhadap belanja modal dan juga dapat dilihat ada hubungan antara produk domestik regional bruto terhadap pengaruh yang diberikan oleh pajak daerah, retribusi daerah, lain-lain pendapatan asli daerah yang sah, DAU, DAK dan DBH dengan belanja modal.
Belanja modal merupakan komponen belanja langsung dalam anggaran pemerintah yang menghasilkan output berupa aset tetap (Abdullah; 2013). Menurut Erlina dan Rasdianto (2013) belanja modal adalah pengeluaran anggaran untuk aset tetap berwujud yang memberi manfaat lebih dari satu periode akuntansi. Darwanto dan Yustikasari (2007) mengungkapkan bahwa salah satu upaya untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat kepada pemerintah daerah adalah melalui belanja modal. Solikin (2007) mengatakan bahwa pengelolaan belanja modal yang tidak berorientasi pada pelayanan publik akan menyebabkan belanja modal tidak terlaksana sepenuhnya untuk kesejahteraan publik.
Pada prinsipnya belanja modal bertujuan untuk menghasilkan aset tetap milik pemerintah daerah yang sesuai dengan kebutuhan pemerintah daerah dan atau masyarakat di daerah bersangkutan. Alokasi belanja modal ini didasarkan pada kebutuhan daerah akan sarana dan prasarana, baik untuk kelancaran pelaksanaan tugas pemerintahan maupun untuk fasilitas publik.
3.1.1 Hubungan Pajak Daerah terhadap Belanja Modal
Pendapatan pemerintah dalam hal ini pendapatan yang bersumber dari penerimaan perpajakan akan digunakan untuk mendanai belanja pemerintah termasuk didalamnya belanja modal. Sesuai dengan karakternya, belanja modal dalam keuangan
pemerintah diterjemahkan sebagai belanja yang dilakukan dalam rangka pemupukan modal dalam aset fisik, seperti tanah, peralatan dan mesin, gedung dan bangunan, jaringan, serta dalam bentuk fisik lainnya (Direktorat Jenderal Anggaran, Kementerian Keuangan RI, 2015).
Pajak daerah merupakan iuran wajib yang dilakukan oleh orang pribadi atau badan tanpa imbalan langsung yang dipaksakan berdasarkan peraturan perudangan yang berlaku dan digunakan untuk membiayai pembangunan dan penyelenggaraan pemerintahan daerah. Semakin besar pajak yang diterima makan akan semakin besar pula PAD. Hal ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Ramlan, dkk (2016) yang menyatakan bahwa pajak daerah berpengaruh terhadap belanja modal. Namun Handayani, dkk (2015) dalam penelitiannya mengungkapkan bahwa pajak daerah tidak berpengaruh terhadap belanja modal.
3.1.2 Hubungan Retribusi Daerah terhadap Belanja Modal
Selain pajak daerah, retribusi daerah juga merupakan salah satu pendapatan asli daerah yang diharapkan mampu meningkatan PAD. Hal tersebut berdampak pada peningkatan alokasi belanja modal oleh pemerintah daerah.
Disamping pajak daerah, kemandirian daerah dapat diwujudkan dengan salah satu cara yaitu dengan meningkatkan PAD dari sektor retribusi daerah. Jika retribusi daerah meningkat, maka PAD juga akan meningkat sehingga berdampak pada peningkatan belanja modal demi meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.
Semakin besar penerimaan retribusi dalam PAD maka semakin besar pula dana yang dialokasikan untuk membiayai kegiatan yang berkaitan dengan penyediaan sarana dan prasarana publik. Hal ini berdampak terhadap kesejahteraan masyarakat dan seterusnya hingga dapat meningkatan PAD kembali. Hal ini sesuai dengan
penelitian yang dilakukan oleh Ramlan, dkk (2016) yang mengatakan bahwa retribusi daerah berpengaruh signifikan terhadap belanja modal. Bertentangan dengan hal tersebut Handayani, dkk (2015) mengatakan bahwa retribusi daerah tidak berpengaruh terhadap belanja modal.
3.1.3 Hubungan Lain-Lain PAD Sah terhadap Belanja Modal
Sesuai pasal 26 ayat (4) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 tahun 2006 Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah disediakan untuk menganggarkan penerimaan daerah yang tidak termasuk dalam jenis pajak daerah, retribusi daerah, dan hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan. Pendapatan ini merupakan penerimaan daerah yang berasal dari lain-lain milik Pemda. Sejalan dengan hal tersebut Ramlan, dkk (2016) menyatakan bahwa lain-lain PAD sah berpengaruh terhadap belanja modal.
Sumber penerimaan daerah sangat tergantung pada potensi daerah itu sendiri.
Artinya semakin besar potensi sumber lain- lain PAD yang sah, maka semakin besar pula penerimaan daerah. Peningkatan PAD yang berasal dari lain-lain PAD yang sah diharapkan dapat meningkatkan investasi belanja modal pemerintah daerah sehingga kualitas pelayanan publik semakin baik.
3.1.4 Hubungan DAU terhadap Belanja Modal
Selain pajak daerah, retribusi daerah ataupun lain-lain pendapatan asli derah yang sah, Dana Alokasi Umum (DAU) juga merupakan salah satu sumber pendanaan untuk belanja modal pemerintah daerah. DAU merupakan jenis transfer ke daerah yang lebih bersifat block grant, yaitu penggunaannya sepenuhnya menjadi kewenangan daerah. Daerah mempunyai diskresi untuk menggunakan DAU sesuai dengan kebutuhan dan prioritas daerah, guna
mempercepat pembangunan, meningkatkan sarana/prasarana dan kualitas layanan publik, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
DAU mempunyai peranan penting dalam meningkatkan pemerataan kemampuan keuangan antar daerah untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi. Peranan DAU dalam meningkatkan pemerataan kemampuan keuangan antar daerah tersebut menjadi sangat penting bagi daerah-daerah yang bukan merupakan penghasil pajak maupun sumber daya alam. Hal ini juga diungkapkan oleh Sugiyanta (2016) yang menyatakan bahwa DAU berpengaruh terhadap belanja modal. Sugiarthi dan Supadmi (2014) juga mengungkapkan hal yang sama bahwa DAU berpengaruh positif dan signifikan terhadap belanja modal.
3.1.5 Hubungan DAK terhadap Belanja Modal
Sama seperti DAU, Dana Alokasi Khusus (DAK) juga berperan dalam proses pemerataan pembangunan antar daerah. Peraturan Pemerintah No. 55 Tahun 2005 Tentang Dana Perimbangan menyebutkan bahwa DAK adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah tertentu dengan tujuan untuk membantu mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan daerah dan sesuai dengan prioritas nasional. DAK dialokasikan kepada daerah untuk mendanai kegiatan tertentu yang menjadi urusan daerah dan sesuai dengan prioritas nasional.
DAK merupakan perwujudan tugas kepemerintahan dibidang tertentu, khusunya dalam upaya pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana pelayanan dasar masyarakat. Kegiatan khusus tersebut sesuai dengan fungsi yang telah ditetapkan dalam APBN. Kegiatan khusus yang ditetapkan oleh pemerintah
mengutamakan kegiatan pembangunan, pengadaan, peningkatan dan/atau perbaikan sarana dan prasarana fisik pelayanan dasar masyarakat dengan umur ekonomis yang panjang, termasuk pengadaan sarana fisik penunjang. Hal ini juga diungkapkan oleh Martini, dkk (2014) yang mengungkapkan bahwa DAK berpengaruh positif dan signifikan terhadap belanja modal. Situngkir (2009) juga mengungkapkan hal yang sama bahwa DAK berpengaruh positif dan signifikan terhadap belanja modal.
Daerah tertentu yang dapat memperoleh alokasi DAK ditentukan berdasarkan kriteria umum, kriteria khusus dan kriteria teknis. Kriteria umum berarti mempertimbangkan kemampuan keuangan daerah dalam APBD. Kriteria khusus berarti memperhatikan peraturan perundang-undangan dan karakteristik daerah. Kriteria teknis merupakan kriteria yang ditetapkan oleh kementrian negara atau departemen teknis.
3.1.6 Hubungan DBH terhadap Belanja Modal
Seperti DAU dan DAK, DBH juga merupakan dana transfer dari pemerintah pusat yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah untuk memenuhi kebutuhannya dalam rangka pelaksanaan desentralisasi. Sifat dari DBH ini hampir sama dengan DAU yang bersifat block grant yaitu pemerintah daerah memiliki keleluasaan dalam mengelola dana DBH.
Sugiyanta (2016) dalam penelitiannya juga mengungkapkan bahwa DBH berpengaruh positif dan signifikan terhadap belanja modal.
Ada 3 (tiga) sumber dana bagi hasil yaitu dana bagi hasil pajak, dana bagi hasil sumber daya alam dan dana bagi hasil cukai tembakau. Dana bagi hasil pajak terdiri atas pajak penghasilan (PPh) pasal 25 dan pasal 29 wajib pajak orang
pribadi dalam negeri serta PPh pasal 21 (WPOPDN) dan juga PBB Migas dan Panas Bumi. Dana bagi hasil sumber daya alam terdiri berasal dari kehutanan, pertambangan umum, perikanan, pertambangan minyak bumi, pertambangan gas bumi dan pertambangan panas bumi. Dana bagi hasil cukai tembakau berasal dari cukai tembakau.
3.1.7 PDRB sebagai pemoderasi antara pajak daerah, retribusi daerah, lain-lain pad sah, DAU, DAK dan DBH terhadap Belanja Modal Selain uraian diatas mengenai pajak daerah, retribusi daerah, lain-lain pendapatan asli daerah yang sah, DAU, DAK dan juga DBH, PDRB juga merupakan salah indikator penting untuk mengetahui kondisi ekonomi suatu daerah dalam satu periode tertentu. Dalam hal ini menggunakan PDRB berdasarkan atas harga berlaku pada tahun berjalan sehingga menggambarkan kemampuan sumber daya ekonomi suatu daerah pada tahun berjalan.
Melalui metode pendekatan pendapatan, PDRB merupakan jumlah balas jasa yang diterima oleh faktor-faktor produksi yang ikut serta dalam proses produksi di suatu daerah dalam jangka waktu tertentu (biasanya satu tahun). Balas jasa yang dimaksud adalah upah dan gaji, sewa tanah, bunga modal dan keuntungan, semuanya sebelum dipotong pajak penghasilan dan pajak langsung lainnya. (Bank Indonesia, Departemen Statistik Ekonomi dan Moneter)
Sejalan dengan hal tersebut meningkatnya produk domestik regional bruto (PDRB) suatu daerah akan semakin memberikan dampak positif terhadap pembangunan daerah tersebut. Secara teori, semakin besar Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), maka akan semakin besar pula pendapatan yang diterima oleh kabupaten / kota. Dengan semakin besar pendapatan yang diperoleh daerah,
maka pengalokasian belanja oleh pemerintah pusat akan lebih besar untuk meningkatkan berbagai potensi lokal di daerah tersebut untuk kepentingan pelayanan publik (Mardiasmo; 2002). Namun penelitian yang dilakukan oleh Jaya dan Dwirandra (2014) mengungkapkan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak berpengaruh terhadap belanja modal.
3.2. Hipotesis Penelitian
Hipotesis dalam penelitian ini dikembangkan dari telaah teoritis dan penelitian terdahulu sebagai jawaban sementara dari masalah atau pertanyaan yang memerlukan pengujian secara empiris. Dengan demikian dikemukakan hipotesis yang berkaitan dengan penelitian ini yaitu:
H1 : Pajak daerah, retribusi daerah, lain-lain PAD yang sah, DAU, DAK dan juga DBH berpengaruh terhadap belanja modal baik secara simultan maupun parsial.
H2 : PDRB mampu memoderasi hubungan pajak daerah, retribusi daerah, lain-lain PAD yang sah, DAU, DAK dan DBH dengan belanja modal.
BAB IV
METODE PENELITIAN