• Tidak ada hasil yang ditemukan

KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS

3.1 Kerangka Konsep

Kerangka konseptual penelitian menurut (Iskandar, 2008) menjelaskan secara teoritis model koseptual variabel-variabel penelitian, tentang bagaimana teori-teori yang berhubungan dengan variabel-variabel penelitian yang diteliti, yaitu variabel bebas dan variabel terikat.

Kerangka konseptual dalam suatu penelitian perlu dikemukakan apabila penelitian berkenaan dengan dua variabel atau lebih. Apabila penelitian hanya membahas sebuah variabel atau lebih secara mandiri, maka perlu dilakukan deskripsi teoritis masing-masing variabel dengan argumentasi terhadap variasi besarnya variabel yang diteliti.

Iskandar (2008) mengemukakan bahwa dalam penelitian kuantitatif, kerangka konseptual merupakan suatu kesatuan kerangka pemikiran yang utuh dalam rangka mencari jawaban ilmiah terhadap masalah-masalah penelitian yang menjelaskan tentang variabel-variabel, hubungan antara variabel-variabel secara teoritis yang berhubungan dengan hasil penelitian terdahulu yang kebenarannya dapat diuji secara empiris.

Berdasarkan informasi yang telah dipaparkan sebelumnya, maka kerangka konseptual yang dibuat adalah sebagai berikut :

Gambar 3.1 Kerangka Konseptual

Gambar 3.1 mengindikasikan bahwa Kepemilikan Institusional (X1), Kepemilikan Manajerial (X2), Dewan Komisaris (X3), Komite Audit (X4), Leverage (X5), Profitabilitas (X6) serta ukuran perusahaan (Z) sebagai variabel moderating berpengaruh terhadap manajemen laba (Y), baik secara parsial maupun simultan. Penjelasan mengenai pengaruh tersebut adalah sebagai berikut :

3.1.1 Hubungan Antara Kepemilikan Institusional terhadap Manajemen Laba

Kehadiran Investor institusional memiliki peran yang sangat besar untuk melakukan monitoring terhadap manajemen dan kebijakan perusahaan. Tindakan pengawasan tersebut dapat mendorong manajer untuk lebih memfokuskan

Leverage (X5) Profitabilitas (X6)

Ukuran Perusahaan (Z)

Manajemen Laba (Y) Kepemilikan Institusional (X1)

Kepemilikan Manajerial (X2) Dewan Komisaris (X3)

Komite Audit (X4)

perhatiannya terhadap kinerja perusahaan, sehingga dapat mengurangi perilaku oportunistik dari manajer. Kepemilikan institusional yang besar juga digambarkan sebagai alat pengendalian internal yang baik dalam perusahaan. Beberapa penelitian menguji mengenai pengaruh struktur kepemilikan institusional terhadap manajemen laba.

Hasil pengujian Alves (2012) menunjukkan bahwa kepemilikan institusional berpengaruh positif terhadap manajemen laba. Namun hasil penelitian Mahariana dan Ramantha (2014), Suriana (2012) menemukan bukti bahwa kepemilikan institusional berpengaruh negatif terhadap manajemen laba.

Menurut mereka adanya peningkatan kepemilikan saham oleh manajer dalam perusahaan akan mampu untuk menciptakan kinerja perusahaan secara optimal dan memotivasi manajer dalam bertindak agar lebih berhati-hati, karena mereka ikut menanggung konsekuensi dari setiap tindakan yang dilakukannya.

3.1.2 Hubungan Antara Kepemilikan Manajerial terhadap Manajemen Laba Jensen dan Meckling (1976) menyatakan bahwa konflik keagenan dapat dikurangi dengan meningkatkan kepemilikan manajerial dalam perusahaan.

Peningkatan kepemilikan manajerial dalam perusahaan mendorong manajer untuk bekerja secara optimal dan hati-hati, karena mereka juga ikut menanggung konsekuensi atas tindakannya. Dengan demikian, adanya kepemilikan saham oleh manajerial di perusahaan akan menyelaraskan kepentingan antara manajemen dengan pemegang saham. Namun, kepentingan manajer dan pemegang saham tidak sepenuhnya selaras. Adanya kepemilikan manajerial dalam perusahaan memberikan insentif bagi manajemen untuk melakukan pengelolaan laba.

Penelitian Al- Fayoumi et al. (2010), Wedari (2004) dan Suriana (2012) menemukan bahwa kepemilikan manajerial berpengaruh positif terhadap manajemen laba. Semakin tinggi kepemilikan manajerial dalam perusahaan maka manajemen laba yang dilakukan juga akan semakin meningkat.

3.1.3 Hubungan Antara Dewan Komisaris terhadap Manajemen Laba

Berdasarkan teori keagenan, semakin besar jumlah komisaris independen, maka semakin baik mereka bisa memenuhi peran mereka dalam mengawasi dan mengontrol tindakan-tindakan para direktur eksekutif. Dewan komisaris yang independen secara umum mempunyai pengawasan yang lebih baik terhadap manajemen. Hal ini akan mengurangi kemungkinan kecurangan dalam menyajikan laporan keuangan yang mungkin dilakukan manajemen, karena pengawasan yang dilakukan oleh anggota komisaris lebih baik dan bebas dari berbagai kepentingan intern dalam perusahaan (Chtourou et al., 2001). Proporsi dewan komisaris independen yang lebih tinggi diharapkan untuk mendorong fungsi pengawasan yang lebih efektif yang kemudian menyebabkan laporan keuangan menjadi lebih dapat diandalkan.

Menurut Prastiti dan Meiranto (2013) menyatakan bahwa dewan komisaris independen berpengaruh negatif terhadap manajemen laba. Hasil penelitian ini didukung oleh penelitan Nabila dan Daljono (2013) yang menyatakan bahwa dewan komisaris independen berpengaruh negatif terhadap manajemen laba.

3.1.4 Hubungan Antara Komite Audit terhadap Manajemen Laba

Komite audit adalah komite yang dibentuk oleh dewan komisaris untuk melakukan tugas pengawasan pengelolaan perusahaan. Keberadaan komite audit sangat penting bagi pengelolaan perusahaan. Weston dan Brigham (1994:17-23) menyatakan bahwa potensi munculnya konflik dalam hubungan agensi sangat besar, yaitu ketika manajemen perusahaan memiliki kurang dari 100% saham biasa milik perusahaan maka potensi konflik itupun muncul. Konflik terjadi karena adanya keinginan agen untuk mendapatkan gaji yang tinggi atau men-dapatkan fasilitas tertentu yang sama dengan milik principal demi kenyamanan pribadinya. Jensen dan Meckling (1976) menemukan bahwa kepemilikan manajerial berhasil menjadi salah satu faktor penentu untuk mengurangi masalah keagenan dari manajer dengan menyelaraskan kepentingan-kepentingan manajer dengan peme-gang saham.

Wedari (2004) dan Klein (2000). Penelitian Wedari (2004) memberikan bukti empiris bahwa komite audit berpengaruh secara negatif signifikan terhadap manajemen laba. Hasil penelitian ini berarti perusahaan yang mempunyai komite audit akan lebih rendah intensitasnya Inelakukan aktivitas manajemen laba dibandingkan perusahaan yang tidak mempunyai komite audit. Klein tnemberikan bukti empiris juga bahwa perusahaan yang membentuk komite audit independen melaporkan laba dengan kandungan akrual diskresioner yang lebih kecil dibandingkan dengan perusahaan yang tidak mempunya konmite audit independen.

3.1.5 Hubungan Antara Leverage terhadap Manajemen Laba

Leverage adalah penggunaan asset dan sumber dana oleh perusahaan yang memiliki biaya dengan maksud agar meningkatkan keuntungan potensial pemegang saham Sartono (2008). Leverage digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menjamin seluruh hutangnya dengan seluruh modal yang dimiliki. Dalam teori keagenan, semakin dekat perusahaan dengan pelanggaran perjanjian utang yang ber-basis akuntansi, lebih memungkinkan manajer perusahaan untuk memilih prosedur akuntansi yang memindahkan laba yang dilaporkan dari periode masa datang ke periode saat ini (Watts and Zimmerman, 1986).

Menurut Yamaditya (2014) Leverage mempunyai hubungan positip terhadap manajemen laba, ketika perusahaan mempunyai rasio leverage ang tinggi maka perusahaan cenderung akan melakukan praktik manajemen laba karena perusahaan terancam tidak memenuhi kewajibannya dengan membayar hutangnya tepat waktu. Semakin besar hutang suatu perusahaan dibandingkan dengan aktivanya, maka semakin besar resiko yang dihadapi oleh perusahaan untuk membayar kewajibannya. Semakin besar rasio leverage menunjukkan semakin besar tingkat ketergantungan perusahaan terhadap pihak eksternal (kreditur) dan semakin besar pula beban biaya hutang (biaya bunga) yang harus dibayar oleh perusahaan. Dengan semakin meningkatnya rasio leverage (dimana beban hutang juga semakin besar) maka hal tersebut berdampak terhadap profitablitas yang diperoleh perusahaan, karena sebagian digunakan untuk membayar bunga pinjaman.

Widyaningdyah (2001), Naftalia dan Marsono (2013) menyatakan bahwa leverage berpengaruh positif terhadap manajemen laba. Begitu juga menurut Halim dkk (2005) yang menyatakan bahwa terdapat hubungan positif yang sangat signifikan antara leverage dengan manajemen laba. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat hutang perusahaan maka manajer akan semakin banyak melakukan manajemen laba untuk menghindari pelanggaran kontrak hutang.

3.1.6 Hubungan Antara Profitabilitas terhadap Manajemen Laba

Menurut Kartika (2012) profitabilitas merupakan suatu indikator kinerja manajemen dalam mengelola kekayaan perusahaan yang ditunjukkan oleh laba yang dihasilkan perusahaan. Laba yang dihasilkan perusahaan selama tahun berjalan data menjadi indikator terjadinya manajemen laba dalam suatu perusahaan. Berdasarkan teori prospek jika profitabilitas yang didapat perusahaan rendah, umumnya manajer akan melakukan tindakan manajemen laba untuk menyelamatkan kinerjanya di mata pemilik. Hal ini berkaitan erat dengan usaha manajer untuk menampilkan performa terbaik dari perusahaan yang dipimpinnya.

Menurut Gunawan dan Darmawan (2015), Wildarman dan Herawati (2014) menyatakan bahwa profitabilitas tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap manajemen laba.

3.1.7 Hubungan Antara Ukuran Perusahaan dalam Memoderasi Variabel Independen terhadap Manajemen Laba

Ukuran perusahaan merupakan nilai yang menunjukkan besar kecilnya suatu perusahaan. Berdasarkan teori keagenan yang menjelaskan bahwa dalam

suatu organisasi dapat muncul konflik keagenan antara principle dan agen akibat adanya asimetri informasi yang terjadi. Asimetri informasi inilah yang mendorong terjadi praktik manajemen laba. Menurut Yamaditya (2014) ukuran perusahaan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi manajemen laba. Perusahaan besar cenderung akan memerlukan dana yang lebih besar dibandingkan dengan perusahaan kecil. Tambahan dana tersebut dapat diperoleh melalui penerbitan saham baru atau penambahan hutang. Motivasi untuk mendapatkan dana tersebut akan mendorong pihak manajemen untuk melakukan manajemen laba, sehingga dengan pelaporan laba yang tinggi maka calon investor maupun kreditur akan tertarik untuk menanamkan modalnya.

Menurut Halim dkk (2005), Handayani dan Rachadi (2009) menemukan bahwa terdapat hubungan positif yang cukup signifikan antara ukuran perusahaan dengan manajemen laba. Hal ini menunjukkan bahwa semakin besar ukuran perusahaan maka semakin besar pula kesempatan manajemer untuk melakukan manajemen laba, dimana perusahaan besar memiliki aktivitas operasional yang lebih kompleks. Selain itu perusahaan besar juga lebih dituntut untuk memenuhi ekspektasi investor yang lebih tinggi.

Berbeda hal nya dengan Prasetya dan Gayatri (2016) dan Suriana (2012) yang menemukan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh negatif dengan manajemen laba. Menurut peneliti perusahaan-perusahaan yang lebih besar kurang memiliki dorongan untuk melakukan manajemen laba dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan yang lebih kecil. Hal ini karena perusahaan besar dipandang lebih kritis oleh pemegang saham dan pihak luar.

Dokumen terkait