KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS
3.1. Kerangka Konsep
Penelitian ini menguji faktor-faktor yang mempengaruhi ketepatan waktu pelaporan keuangan. Berdasarkan telaah pustaka dari penelitian terdahulu, variabel independen (X) yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu profitabilitas, leverage, ukuran perusahaan, reputasi kantor akuntan publik, komite audit dan kepemilikan manajerial. Sedangkan variabel dependen (Y) dalam penelitian ini adalah ketepatan waktu pelaporan keuangan. Kerangka hubungan di antara berbagai variabel dalam penelitian ini dapat digambarkan dalam bagan sebagai berikut :
Gambar 3.1 Kerangka Konsep Profitabilitas (X1)
Leverage (X2) Ukuran Perusahaan
(X3)
Reputasi KAP (X4) Komite Audit (X5)
Kepemilikan Manajerial (X6)
Ketepatan waktu Pelaporan
Keuangan (Y)
Adapun hubungan di antara variabel-variabel sebagaimana digambarkan dalam bagan diatas dapat dijelaskan sebagai berikut :
Profitabilitas merupakan salah satu indikator keberhasilan perusahaan untuk dapat menghasilkan laba sehingga semakin tinggi profitabilitas maka semakin tinggi kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba. Beberapa peneliti telah menemukan pengaruh dari profitabilitas terhadap ketepatan waktu pelaporan keuangan (Dyer dan Mc Hugh, 1975) dan (Carslaw dan Kaplan, 1991).
Perusahaan yang memiliki profitabilitas tinggi dapat dikatakan bahwa laporan keuangan perusahaan tersebut mengandung berita baik dan perusahaan yang mengalami berita baik akan cenderung menyerahkan laporan keuangannya tepat waktu. Hal ini juga berlaku jika profitabilitas perusahaan rendah dimana hal ini mengandung berita buruk, sehingga perusahaan cenderung tidak tepat waktu menyerahkan laporan keuangannya.
Leverage (yang diproksi dengan debt to equity ratio) menggambarkan struktur modal yang dimiliki oleh perusahaan, dengan demikian dapat dilihat struktur resiko tidak tertagihnya hutang. Rasio leverage bertujuan mengukur sejauh mana kebutuhan keuangan perusahaan dibelanjai dengan dana pinjaman.
Rasio leverage yang dikenal dengan debt to equity ratio adalah perbandingan antara total hutang dengan total modal sendiri, Weston & Brigham (1981: 138).
Rasio leverage ini dapat melihat seberapa jauh perusahaan dibiayai oleh hutang atau pihak luar dengan kemampuan perusahaan yang digambarkan oleh modal (Harahap, 1997: 306).
Suatu perusahaan yang memiliki leverage keuangan yang tinggi berarti memiliki banyak hutang pada pihak luar. Ini berarti perusahaan tersebut memiliki risiko keuangan yang tinggi karena mengalami kesulitan keuangan (financial distress) akibat hutang yang tinggi. Penelitian Schwartz dan Soo (1996) menunjukkan bahwa perusahaan yang mengalami kesulitan keuangan cenderung tidak tepat waktu dalam menyampaikan laporan keuangannya dibanding perusahaan yang tidak mengalami kesulitan keuangan. Kesulitan keuangan juga merupakan berita buruk (bad news) sehingga perusahaan dengan kondisi seperti ini cenderung tidak tepat waktu dalam pelaporan keuangannya
Ukuran perusahaan dapat dinilai dari beberapa segi. Besar kecilnya ukuran perusahaan dapat didasarkan pada total nilai aktiva, total penjualan, kapitalisasi pasar, jumlah tenaga kerja dan sebagainya. Semakin besar nilai item-item tersebut maka semakin besar pula ukuran perusahaan itu. Semakin besar aktiva maka semakin banyak modal yang ditanam, semakin banyak penjualan maka semakin banyak perputaran uang dan semakin besar kapitalisasi pasar maka semakin besar pula ia dikenal dalam masyarakat.
Dyer dan Mc Hugh (1975), Carslaw dan Kaplan (1991) dan Owusu-Ansah (2000) dalam penelitian mereka menemukan bahwa ukuran perusahaan secara signifikan mempunyai hubungan dengan ketepatan waktu penyampaian laporan keuangan. Ukuran (proksi) yang mereka gunakan untuk variabel ukuran perusahaan ini adalah dengan total aset. Bukti empiris yang ada menunjukkan bahwa perusahaan yang memiliki aset yang lebih besar melaporkan lebih cepat dibandingkan dengan perusahaan yang memiliki aset yang lebih kecil. Mereka
berargumen bahwa perusahaan yang memiliki sumber daya (aset) yang besar memiliki lebih banyak sumber informasi, lebih banyak staf akuntansi dan sistem informasi yang lebih canggih, memiliki sistem pengendalian intern yang kuat, adanya pengawasan dari investor, regulator dan sorotan masyarakat, maka hal ini memungkinkan perusahaan untuk melaporkan laporan keuangan auditannya lebih cepat ke publik.
Perusahaan dalam menyampaikan suatu laporan atau informasi akan kinerja perusahaan kepada publik agar akurat dan terpercaya diminta untuk menggunakan jasa KAP. Dan untuk meningkatkan kredibilitas dari laporan itu, perusahaan menggunakan jasa KAP yang mempunyai reputasi atau nama baik.
Hal ini biasanya ditunjukkan dengan KAP yang berafiliasi dengan KAP besar yang berlaku universal yang dikenal dengan Big Four Worldwide Accounting Firm (Big 4).
Kantor akuntan besar disebutkan memiliki akuntan yang berprilaku lebih etikal daripada akuntan di kantor akuntan kecil (Loeb, 1971). Dengan demikian, kantor akuntan besar lebih memiliki reputasi baik dalam opini publik. Sedangkan DeAngelo (1981) menyimpulkan bahwa KAP yang lebih besar dapat diartikan kualitas audit yang dihasilkan pun lebih baik dibandingkan kantor akuntan kecil.
Maka dapat disimpulkan bahwa perusahaan yang memakai jasa KAP besar cenderung tepat waktu dalam menyampaikan laporan keuangannya.
Komite audit merupakan komite yang dibentuk oleh dewan direksi yang bertugas melaksanakan pengawasan independen atas proses laporan keuangan dan audit ekstern. Dalam hal pelaporan keuangan, peran dan tanggung jawab komite
audit adalah memonitor dan mengawasi audit laporan keuangan dan memastikan agar standar dan kebijaksanaan keuangan yang berlaku terpenuhi, memeriksa ulang laporan keuangan apakah sudah sesuai dengan standar dan kebijksanaan tersebut dan apakah sudah konsisten dengan informasi lain yang diketahui oleh anggota komite audit, serta menilai mutu pelayanan dan kewajaran biaya yang diajukan auditor eksternal (KNKCG, 2002).
Beberapa penelitian telah melaporkan hasil penelitian tentang hubungan komite audit dan kualitas pelaporan keuangan. Beberapa penelitian cenderung untuk mendukung keberadaan komite audit karena meningkatkan kualitas pelaporan keuangan (Klien, 2001; DeFond dan Jiambalvo, 1991; McMulen, 1996;
Beasly dan Salterio, 2001; McMullen dan Raghunandan, 1996. Di sisi lain hasil penelitian tidak menemukan perbedaan antara perusahaan yang membentuk dan tidak membentuk komite audit (Beasley, 1996; Kalbers, 1992; Crowford, 1987).
Jensen dan Meckling (1976) menemukan bahwa kepemilikan manajerial berhasil menjadi mekanisme untuk mengurangi masalah keagenan dari manajer dengan menyelaraskan kepentingan manajer dengan pemegang saham.
Ross, et al. (1999) menyatakan semakin besar proporsi kepemilikan manajerial pada perusahaan, maka manajemen cenderung giat untuk kepentingan pemegang saham yang tidak lain dirinya sendiri. Struktur kepemilikan lebih banyak berada di tangan manajer, maka manajer akan lebih leluasa dalam mengatur melakukan pilihan-pilihan metode akuntansi, serta kebijakan-kebijakan akuntansi perusahaan. Kepemilikan perusahaan sangat penting karena terkait dengan pengendalian operasional perusahaan. Hal ini dapat dicontohkan dengan
kepemilikan oleh manajer yang akan ikut menentukan kebijakan dan pengambil keputusan terhadap metode akuntansi yang diterapkan pada perusahaan yang mereka kelola. Oleh sebab itu dengan adanya kepemilikan manajerial sehingga pelaporan keuangan menjadi tepat waktu.
3.2. Hipotesis
Dari uraian mengenai hubungan di antara berbagai variabel di atas dapatlah dibuat hipotesis sebagai berikut :
1. Profitabilitas, leverage, ukuran perusahaan, reputasi kantor akuntan publik, komite audit, dan kepemilikan manajerial berpengaruh terhadap ketepatan waktu penyampaian laporan keuangan secara simultan pada perusahaan industri barang konsumsi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2012 - 2016
2. Profitabilitas berpengaruh positif terhadap ketepatan waktu penyampaian laporan keuangan pada perusahaan industri barang konsumsi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2012 – 2016.
3. Leverage berpengaruh negatif terhadap ketepatan waktu penyampaian laporan keuangan pada perusahaan industri barang konsumsi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2012 – 2016.
4. Ukuran Perusahaan berpengaruh positif terhadap ketepatan waktu penyampaian laporan keuangan pada perusahaan industri barang konsumsi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2012 – 2016.
5. Reputasi KAP berpengaruh positif terhadap ketepatan waktu penyampaian laporan keuangan pada perusahaan industri barang konsumsi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2012 – 2016.
6. Komite Audit berpengaruh positif terhadap ketepatan waktu penyampaian laporan keuangan pada perusahaan industri barang konsumsi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2012 – 2016.
7. Kepemilikan Manajerial berpengaruh positif terhadap ketepatan waktu penyampaian laporan keuangan pada perusahaan industri barang konsumsi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2012 – 2016
BAB IV