• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.9 Kerangka Konsep Penelitian

Mengacu kepada landasan teori yang telah diuraikan di atas, maka dapat disusun kerangka konsep sebagai berikut :

Variabel independen Variabel dependen

Gambar 2.1 Kerangka Konsep Penelitian

Sumber: Herzberg dalam Hasibuan (2005); Kolb dan Rubin (1984) dan Gibson et al. (1996)

Kinerja Dokter dalam Pengisian Rekam

Medis Iklim Organisasi (X1)

a. Suasana kerja b. Kepemimpinan

c. Insentif Non Finansial

Motivasi (X2) Intrinsik a. Tanggung jawab b. Pengakuan orang lain

c. Kemungkinan pengembangan

Ekstrinsik a. Hubungan kerja b. Prosedur kerja

BAB 3

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah survei explanatory, yang bertujuan menganalisis pengaruh iklim organisasi dan motivasi terhadap kinerja dokter dalam pengisian rekam medis di Rumah Sakit Bhayangkara Tingkat II Medan. Survei explanatory adalah penelitian yang dirancang untuk menjelaskan kedudukan variabel-variabel yang diteliti dan pengaruh antara satu variabel dengan variabel yang lain melalui pengujian hipotesis (Sugiyono, 2006).

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian 3.2.1 Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Bhayangkara Tingkat II Medan dengan pertimbangan bahwa kinerja dokter dalam pengisian rekam medis belum optimal dan belum pernah dilaksanakan penelitian yang serupa.

3.2.2 Waktu Penelitian

Penelitian ini dimulai dengan melakukan survei awal sampai selesai, yaitu bulan Agustus sampai dengan Desember Tahun 2011.

3.3 Populasi dan Sampel 3.3.1 Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh tenaga dokter (dokter spesialis, dokter umum dan dokter gigi) yang bertugas di Rumah Sakit Bhayangkara Tingkat II Medan sebanyak 35 orang.

3.3.2 Sampel

Sesuai dengan kepentingan penelitian maka sampel dalam penelitian ini adalah tenaga dokter (dokter spesialis, dokter umum dan dokter gigi) yang terkait dengan pengisian rekam medis. Berdasarkan data dari Urusan Kepegawaian Rumah Sakit Bhayangkara Tingkat II Medan Tahun 2011, jumlah tenaga dokter adalah sebanyak 35 orang. Mengingat jumlah populasi relatif kecil maka seluruh populasi dijadikan sebagai sampel.

3.4 Metode Pengumpulan Data 3.4.1 Data Primer

Data primer, yaitu data yang diperoleh langsung dari hasil wawancara pada responden dengan berpedoman pada kuesioner yang telah dipersiapkan terlebih dahulu. Adapun sumber data primer diperoleh dari hasil jawaban responden yang diteliti.adalah identitas responden dan motivasi responden mengenai variabel-variabel penelitian (iklim kerja, motivasi baik ektrinsik dan intrinsik serta kinerja dokter yang dilihat berdasarkan hasil observasi terhadap rekam medis).

3.4.2 Data Sekunder

Data sekunder merupakan data yang diperoleh dari catatan atau dokumen dari Rumah Sakit Bhayangkara Tingkat II Medan serta data lainnya yang mendukung pembahasan hasil penelitian terkait dengan data motivasi dan kinerja dokter yang diperoleh dari bagian personalia meliputi data (1) jumlah dokter, (2) laporan tahunan dan dari jurnal/hasil penelitian.

3.4.3 Validitas dan Reliabilitas a. Uji Validitas

Kelayakan menggunakan instrumen yang akan dipakai untuk penelitian diperlukan uji validitas dan reliabilitas. Uji validitas dan reliabilitas dilakukan kepada 30 orang responden di RS. Putri Hijau Kodam I Bukit Barisan Medan dengan alasan memiliki karakteristik yang sama dan relatif dekat. Uji validitas dan reliabilitas dengan mengukur korelasi antar butir variabel menggunakan rumus teknik korelasi Pearson Product Moment Correlation Coeficient (r), dengan ketentuan nilai koefisien korelasi >0,3 (valid) (Gozhali, 2001).

Adapun hasil uji validitas variabel bebas dan terikat sebagai berikut : (1) Variabel Iklim Organisasi

Berdasarkan hasil uji validitas menggunakan korelasi Pearson Product Moment Correlation diketahui bahwa seluruh variabel bebas iklim organisasi (suasana kerja, kepemimpinan sebanyak 4 soal, insentif non finansial sebanyak 3 soal) mempunyai nilai koefisien korelasi (r) >0,3, maka dapat disimpulkan bahwa seluruh pertanyaan variabel iklim organisasi valid (Lampiran-2).

(2) Variabel Motivasi

Berdasarkan hasil uji validitas menggunakan korelasi Pearson Product Moment Correlation diketahui bahwa seluruh variabel motivasi (intrinsik tanggung jawab, pengakuan orang lain, kemungkinan pengembangan) masing-masing seabanyak 4 soal dan motivasi ekstrinsik (hubungan kerja, prosedur kerja) masing-masing indikator sebanyak 4 soal mempunyai nilai koefisien korelasi (r) >0,3, maka dapat disimpulkan bahwa seluruh pertanyaan variabel motivasi intrinsik dan ekstrinsik valid (Lampiran-2).

(3) Variabel Kinerja Perawat Pelaksana

Berdasarkan hasil uji validitas menggunakan korelasi Pearson Product Moment Correlation diketahui bahwa seluruh variabel kinerja (pengkajian, diagnosis, rencana tindakan, pelaksanaan tindakan keperawatan dan evaluasi tindakan keperawatan) masing-masing indikator sebanyak 4 soal mempunyai nilai koefisien korelasi (r) >0,3, maka dapat disimpulkan bahwa seluruh pertanyaan variabel kinerja valid (Lampiran-2).

b. Uji Reliabilitas

Reliabilitas adalah suatu indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat ukur dapat di percaya dan dapat diandalkan. Uji reliabilitas ini menggunakan koefisien Alpha Cronbach, apabila nilai Alpha Cronbach > 0,6 dikatakan reliabel (Gozhali, 2001).

Adapun hasil uji reliabilitas untuk variabel bebas iklim orgnasisasi dan motivasi. Berdasarkan hasil uji menggunakan korelasi Pearson Product Moment Correlation diketahui bahwa seluruh variabel bebas dan terikat mempunyai nilai

r-alpha cronbach >0,6, maka dapat disimpulkan bahwa seluruh pertanyaan pada variabel bebas dan terikat reliabel (Lampiran-2).

3.5 Variabel dan Definisi Operasional 3.5.1 Variabel Bebas

Variabel bebas (Independent Variable) dalam penelitian ini adalah variabel iklim organsiasi dan motivasi. Adapun variabel dan definisi operasional adalah sebagai berikut:

1. Iklim organsiasi (X1

2. Motivasi (X

) adalah kualitas lingkungan internal yang secara relatif terus berlangsung dirasakan dan memengaruhi perilaku dokter umum, dokter spesialis dan dokter gigi yang berstatus polisi dan non polisi meliputi indikator ; suasana kerja, kepemimpinan dan insentif non finansial di Rumah Sakit Bhayangkara Tingkat II Medan.

2

(a) Motivasi intrinsik adalah merupakan daya dorong yang timbul dari dalam diri dokter yang berstatus polisi dan non polisi dalam rangka melaksanakan pengisian rekam medis di Rumah Sakit Bhayangkara Tingkat II Medan meliputi indikator : (a) tanggung jawab, (b) pengakuan orang lain, dan (c) kemungkinan pengembangan.

) adalah suatu kondisi yang mendorong atau menjadikan dokter yang berstatus polisi dan non polisi melakukan suatu perbuatan/kegiatan, yang berlangsung secara sadar karena hal-hal yang ingin diperoleh dari tindakan tersebut meliputi:

(b) Motivasi ekstrinsik adalah merupakan daya dorong yang timbul dari luar diri dokter yang berstatus polisi dan non polisi dalam rangka melaksanakan pengisian rekam medis di Rumah Sakit Bhayangkara Tingkat II Medan, meliputi indikator; (a) hubungan kerja, dan (b) prosedur kerja.

3.5.2 Variabel Terikat

Variabel terikat (Dependent Variable) dalam penelitian ini adalah kinerja dokter. Kinerja dokter (Y) dalam pengisian rekam medis merupakan hasil kerja sesuai dengan potensi yang dimiliki dokter yang berstatus polisi dan non polisi dalam melaksanakan pengisian rekam medis di Rumah Sakit Bhayangkara Tingkat II Medan.

3.6 Metode Pengukuran

3.6.1 Metode Pengukuran Variabel Bebas

Pengukuran variabel bebas, yaitu iklim organisasi dan motivasi (intrinsik dan ekstrinsik) seperti pada Tabel 3.1.

Tabel 3.1 Pengukuran Variabel Bebas Variabel Jumlah

Indikator Indikator Skor Kategori Skala Ukur Iklim organisasi(X1

12

) a. Suasana kerja b. Kepemimpinan c. Insentif non finansial

30-36 b. Pengakuan orang lain c. Kemungkinan

3.6.2 Metode Pengukuran Variabel Terikat

Pengukuran variabel terikat (kinerja dokter dalam pengisian rekam medis) dilakukan dengan cara mengambil berkas rekam medis pasien sesuai dengan dokter yang mengisi rekam medis tersebut. Masing-masing rekam medis ditelaah setiap item yang di isi dan yang tidak di isi, kemudian persentase kelengkapan rekam medis yang diisi oleh masing-masing dokter berdasarkan rata-rata jumlah item yang di isi pada setiap rekam medis.

Selanjutnya dilakukan pengkategorian menggunakan skala pengukuran ordinal, di mana pengukurannya dilakukan dengan membagi masing-masing skor ke dalam 3 kategori, yaitu lengkap, kurang lengkap dan tidak lengkap. Penilaian kategori tersebut dilakukan berdasarkan hasil check list terhadap berkas rekam medis pasien di Rumah Sakit Bhayangkara Tingkat II Medan.

Tabel 3.2 Pengukuran Variabel Terikat

Kinerja (Y) Indikator Skor Kategori Skala ukur Rekam Medis Pasien

Rawat Jalan 13 14-26 Lengkap

Interval 1-13 Tidak lengkap

Rekam Medis Pasien

Rawat Inap 17 18-34 Lengkap

Interval 1-17 Tidak lengkap

3.7 Metode Analisis Data

Setelah diperoleh data primer dan data sekunder, maka data diolah melalui bantuan program komputer. Analisis data yang dilakukan adalah analisis univariat, bivariat dan multivariat dengan teknik analisa sebagai berikut:

1. Analisis univariat merupakan analisis yang menitikberatkan pada deskripsi data yang disajikan dalam distribusi frekuensi dari masing-masing variabel bebas dan variabel terikat. Sehingga diperoleh distribusi frekuensi tentang variabel iklim organisasi dan motivasi dokter umum, dokter spesialis dan dokter gigi di Rumah Sakit Bhayangkara Tingkat II Medan

2. Analisis bivariat dilakukan untuk mengetahui hubungan masing-masing variabel bebas, yaitu variabel iklim organisasi dan variabel motivasi dengan variabel terikat, yaitu kinerja dokter dalam pengisian Rekam Medis di Rumah Sakit Bhayangkara Tingkat II Medan. Untuk membuktikan adanya hubungan yang signifikan antara variabel bebas dengan variabel terikat di gunakan analisis korelasi Product Moment pada batas kemaknaan α (0,05).

3. Analisis multivariat bertujuan untuk menguji pengaruh variabel bebas, yaitu iklim organisasi dan motivasi terhadap variabel terikat, yaitu kinerja dokter dalam pengisian rekam medis secara simultan sekaligus menentukan variabel yang lebih berpengaruh di Rumah Sakit Bhayangkara Tingkat II Medan. Uji statistik yang digunakan adalah regresi linear berganda pada α (0,05). Persamaan regresi yang digunakan adalah:

Y = b0 + b1X1 + b2X2 = Koefisien regresi

3.8 Pengujian Asumsi Klasik

Sebelum melakukan pengujian hipotesis penelitian ini, terlebih dahulu dilakukan pengujian asumsi klasik untuk memastikan bahwa alat uji regressi berganda telah dapat digunakan atau tidak. Apabila uji asumsi klasik ini telah terpenuhi, maka alat uji statistik regressi linear berganda sudah dapat digunakan. Uji asumsi kalsik yang digunakan sebagai berikut :

a. Uji Normalitas

Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal. Untuk mengetahui apakah residual berdistribusi normal atau tidak yaitu dengan analisis grafik dan uji statistik.

Menurut Santoso (2002), jika data menyebar disekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal, maka model regresi memenuhi asumsi normalitas, dan sebaliknya jika data menyebar menjauhi garis diagonal dan/atau tidak mengikuti arah garis diagonal, maka model regresi tidak memenuhi asumsi normalitas. Secara statistik, uji normalitas pada penelitian ini juga dilakukan dengan uji Kolmogorov-Smirnov.

Menurut Ghozali (2005), jika angka signifikansi yang ditunjukkan dalam tabel lebih kecil dari alpha 5%, maka dikatakan data tidak memenuhi asumsi normalitas, sedangkan sebaliknya, jika angka signifikansi dalam tabel lebih besar dari alpha 5%, maka data sudah memenuhi asumsi normalitas.

b. Uji Heteroskedastisitas

Uji ini dilakukan untuk melihat apakah dalam suatu model regressi itu terjadi perbedaan varians dari residual satu pengamatan dengan pengamatan lain. Sebuah model analisis regresi yang baik adalah yang homokedastisitas atau tidak terjadi heteroskedastisitas, yang artinya varians dari residual satu pengamatan ke pengamatan lainnya tidak tetap atau berbeda. Menurut Santoso (2002), untuk mendeteksi ada atau tidaknya heteroskedastisitas adalah dengan melihat gejala yang dapat dilihat pada Scatterplot yang dihasilkan oleh program komputer dengan ciri-ciri:

1. Titik-titik data menyebar di atas dan dibawah atau di sekitar angka 0 2. Titik-titik data tidak mengumpul hanya diatas atau dibawah saja

3. Penyebaran titik-titik tidak boleh membentuk pola bergelombang melebar kemudian menyempit dan melebar kembali

4. Penyebaran titik-titik data sebaiknya tidak berpola.

c. Uji Multikolinearitas

Uji multikolinieritas ini digunakan untuk mengetahui apakah dalam model regressi ditemukan adanya korelasi yang kuat antar variabel bebas (independen). Jika terjadi korelasi, maka terdapat masalah multikolinearitas. Dalam model regressi yang

baik, seharusnya tidak terjadi multikolinearitas. Ada tidaknya masalah multikolinearitas di dalam model regressi, dapat dilihat dari nilai VIF (Variance Inflation Factor) dan nilai Tolerance. Pedoman suatu model regresi yang bebas multikolinearitas adalah mempunyai nilai VIF di sekitar angka 10, angka tolerance mendekati 10 (Santoso, 2002).

BAB 4

HASIL PENELITIAN

4.1 Deskripsi Lokasi Penelitian

4.1.1 Sejarah Rumah Sakit Bhayangkara Tingkat II Medan

Rumah Sakit Bhayangkara Tingkat II Medan didirikan pada tahun 1966 oleh Brimob Resimen V yang berlokasi di Jl, Putri Hijau Medan dan pada tahun dan pada tahun 1972 dipindahkan ke Jl. KH. Wahid Hasyim No. 1 Medan. Berdasarkan Keputusan Kapolri No.Pol:Skep/1549/X/2010 tentang Pengesahan Peningkatan/

Penetapan dan Pembentukan Rumah Sakit Bhayangkara Tingkat II, III dan IV, maka rumah sakit ini juga melayani masyarakat umum di luar anggota Polri/PNS dan keluarganya.

4.1.2 Visi dan Misi Rumah Sakit Bhayangkara Tingkat II Medan

Rumah Sakit Bhayangkara Tingkat II Medan mempunyai visi: ” memberikan pelayanan kesehatan yang profesional, proporsional, bermoral dan modern melalui peran yang dibangun secara kemitraan”. Berdasarkan visi tersebut maka ditetapkan misi sebagai berikut:

a. Menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang optimal dan berkualitas b. Menyelenggarakan dan meningkatkan fungsi kedokteran Kepolisian dalam

rangka mendukung tugas-tugas Kepolisian.

c. Meningkatkan kualitas dan kesejahteraan sumber daya manusia Rumah Sakit Bhayangkara Tingkat II Medan sesuai dengan standar yang berlaku di Indonesia

d. Mempersiapkan fasilitas pelayanan medis secara optimal dan tepat guna serta merawat sarana yang telah ada guna memperpanjang usia pakai.

Tugas pokok Rumah Sakit Bhayangkara Tingkat II Medan adalah:

a. Memberikan pelayanan kesehatan yang paripurna b. Merebut kepercayaan masyarakat

c. Meningkatkan kualitas pelayanan dan perlindungan terhadap masyarakat d. Memberikan dukungan pada tugas operasional kepolisian

e. Mewujudkan rasa aman dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.

Fasilitas pelayanan kesehatan yang tersedia di Rumah Sakit Bhayangkara Tingkat II Medan:

a. Pelayanan rawat jalan meliputi: Poliklinik Umum, Gigi, Penyakit Dalam, Anak, Kebidanan dan penyakit kandungan, Mata, Paru, THT, Jiwa/Psikiatri, Kulit Kelamin, Orthopedi, Bedah Umum, Bedah Syaraf, Bedah Thoraks/Kardiovaskuler, Bedah Urologi dan Phisioterapi.

b. Pelayanan rawat inap dengan kapasitas 120 tempat tidur terdisi dari: Kelas Utama, Kelas I, Kelas III, Kelas, VIP, Isolasi, Tahanan dan Anak

c. Pelayanan Penunjang : Laboratorium, Apotik, Radiologi, USG, Kamar Operasi, ICU, Kamar Mayat/Forensik, PPT, Klinik VCT dan CST serta Ambulance.

d. Instalasi Gawat Darurat (IGD) 24 jam

Rumah Sakit Bhayangkara Tingkat II Medan mempunyai pelayanan unggulan:

a. Pusat Pelayanan Terpadu, merupakan tempat pengaduan dan perlindungan terhadap korban tindak kekerasan terhadap anak-anak dan perempuan.

b. Klinik VCT/CST, merupakan pusat informasi pelayanan konseling, testing dan perawatan infeksi virus HIV.

c. Laboratorium, melayani pasien dalam 24 jam, melayani general chek-up:

hepatitis, diabetes ginjal, screening narkoba dan HIV

d. Kamar mayat/forensik, melaksanakan dukungan tugas terhadap operasional kepolisian

Jumlah tenaga medis dokter spesialis full timer sebanyak 7 orang dan part timer sebanyak 21 orang, dokter umum full timer sebanyak 6 orang dan dokter gigi full timer sebanyak 1 orang. Ketenagaan yang melaksanakan pelayanan kesehatan di Rumah Sakit Bhayangkara Tingkat II Medan, seperti pada Tabel 4.1:

Tabel 4.1 Distribusi Jenis Tenaga di Rumah Sakit Bhayangkara Tingkat II Medan

No Jenis Tenaga Jumlah (orang)

A Tenaga Medis

1 Dokter Spesialis 21

2 Dokter Umum 12

3 Dokter Gigi 2

B Tenaga Paramedis

1 Perawat 67

2 Bidan 9

3 Paramedis non perawatan 25

C Tenaga Non Medis

1 Apoteker 1

2 Tenaga administrasi dan lain-lain 72

Jumlah 209

Sumber : Profil Rumah Sakit Bhayangkara Tingkat II Medan, 2011

4.1.3 Struktur Organisasi Rumah Sakit Bhayangkara Tingkat II Medan

Gambar 4.1. Struktur Organisasi Rumah Sakit Bhayangkara Tingkat II Medan

Sumber : Urmin Rumah Sakit Bhayangkara Tingkat II Medan, 2011

Pelayanan manajemen di Rumah Sakit Bhayangkara Tingkat II Medan dijalankan berdasarkan tatanan struktur organisasi “hybrid” yaitu gabungan antara sistem manajemen hirarki garis dan fungsional. Model ini tetap mengadopsi model struktur organisasi rumah sakit yang berlaku umum di Indonesia. Bila di beberapa bagian ada dicantumkan beberapa pelayanan yang tidak umum bagi rumah sakit Non-Polri, hal tersebut dibuat karena terkait dengan fungsi Rumah Sakit Bhayangkara Tingkat II Medan menjalankan misi dukungan terhadap tugas-tugas Polri.

Dilihat dari Struktur Organisasi Rumah Sakit Bhayangkara Tingkat II Medan dapat dikatakan bahwa pada dasarnya struktur organisasi tersebut pada dasarnya tidak

jauh berbeda dengan struktur organisasi Rumah Sakit umumnya yang berbeda biasanya adalah pemakaian istilah yang khas di lingkungan Polri. Struktur organisasi pada Rumah Sakit Bhayangkara Tingkat II Medan fungsi Komite Medis dan SPI (Staf Pengawasan Internal) termasuk dalam hirarki struktural.

Komite Medis dan SPI adalah bagian fungsional yang bekerja membantu Direktur dalam pengendalian manajemen Rumah Sakit Bhayangkara Tingkat II Medan namun mereka tidak langsung memiliki kewenangan struktural memutuskan suatu kebijakan melainkan hanya memberi masukan pada Direktur. Di dalam Komite Medis semua dokter, baik yang umum, residen ataupun non-residen bernaung dan berkoordinasi secara profesional. Tidak ada dokter spesialis non-residen yang bekerja di Rumah Sakit Bhayangkara Tingkat II Medan memiliki jabatan struktural melainkan hanya memiliki tugas profesi yang fungsional saja yaitu pelayanan spesialisasi di bidang masing-masing. Dengan sendirinya bila dilihat dari tugas dan kewenangan, bahwa tidak semua para dokter ahli diberi kewenangan manajemen tertentu, namun ada juga yang dituntut memberikan bantuan tanpa pamrih yaitu menjalankan tugas-tugas manajemen pengembangan manajemen rumah sakit.

4.2 Karakteristik Responden

Responden yang menjadi subjek pada penelitian ini adalah dokter yang bekerja di Rumah Sakit Bhayangkara Tingkat II Medan. Karakteristik responden terdiri dari usia, jenis kelamin, pendidikan, lama kerja dan tempat tinggal. Hasil penelitian diketahui bahwa responden yang berusia 43-60 tahun (dewasa tua) lebih banyak daripada yang berumur 27-43 tahun (dewasa tengah), yaitu 51,4%.

Responden berjenis kelamin perempuan lebih banyak dari pada laki-laki, yaitu 65,7%. Responden dengan tingkat pendidikan Dokter spesialis lebih banyak daripada pendidikan Dokter Umum dan Dokter Gigi, yaitu 60,0%. Dokter yang berstatus non Polisi lebih banyak dari dokter yang berstatus Polisi, yaitu sebanyak 71,4%. Lama kerja responden > 5 tahun sebanyak 77,1% dan sebanyak 91,4% bertempat tinggal di Kota Medan, secara rinci pada Tabel 4.2:

Tabel 4.2 Distribusi Karakteristik Responden di Rumah Sakit Bhayangkara Tingkat II Medan

No Karakteristik Jumlah Persentase

1. Usia

4.3 Iklim Organisasi

Iklim organisasi dalam penelitian diukur melalui indikator meliputi;

a) suasana kerja, b) kepemimpinan, dan c) insentif non finansial, dengan rincian hasil sebagai berikut :

a. Suasana Kerja

Hasil penelitian tentang indikator suasana kerja diketahui bahwa sebanyak 20 orang (57,1%) responden menyatakan setuju bahwa lingkungan rumah sakit mendukung dalam melaksanakan pengisian rekam medis, sebanyak 21 orang (60,0%) responden menyatakan kurang setuju bahwa pengaturan kenyamanan ruang kerja mendukung pelaksanaan pengisian rekam medis, sebanyak 15 orang (42,9%) responden menyatakan kurang setuju bahwa alur kerja dalam rumah sakit mendukung pelaksanaan pengisian rekam medis dan sebanyak 15 orang (42,9%) responden menyatakan tidak setuju bahwa manajemen rumah sakit memonitor pelaksanaan pengisian rekam medis. Secara rinci pada Tabel 4.3:

Tabel 4.3 Distribusi Responden Berdasarkan Suasana Kerja di Rumah Sakit Bhayangkara Tingkat II Medan

No Pernyataan Setuju Kurang

Setuju

Tidak

Setuju Total n % n % n % n % 1 Lingkungan rumah sakit mendukung

pelaksanaan pengisian rekam medis 20 57.1 13 37.2 2 5.7 35 100.0 2 Pengaturan kenyamanan ruang kerja

mendukung pelaksanaan pengisian rekam medis.

8 22.9 21 60.0 6 17.1 35 100.0 3 Alur kerja dalam rumah sakit

mendukung pelaksanaan pengisian rekam medis

8 22.8 15 42.9 12 34.3 35 100.0 4 Manajemen rumah sakit memonitor

pelaksanaan pengisian rekam medis 6 17.1 14 40.0 15 42.9 35 100.0

b. Kepemimpinan

Hasil penelitian tentang indikator kepemimpinan diketahui bahwa sebanyak 21 orang (60,0%) responden menyatakan kurang setuju bahwa pimpinan memberikan kesempatan mengajukan usulan, mendiskusikan serta memperoleh saran yang membangun dalam pelaksanaan pengisian rekam medis, sebanyak 15 orang (42,9%) responden menyatakan kurang setuju bahwa pimpinan menyampaikan pengarahan atau perintah dengan ramah, sebanyak 15 orang (42,9%) responden menyatakan tidak setuju bahwa pimpinan memperhatikan saran dan usulan dalam pelaksanaan pengisian rekam medis, sebanyak 21 orang (60,0%) responden menyatakan kurang setuju bahwa pimpinan memperhatikan saran dan usulan dalam pelaksanaan pengisian rekam medis, dan sebanyak 22 orang (62,9%) responden menyatakan kurang setuju bahwa memberikan kesempatan kepada setiap orang untuk ikut serta secara aktif dalam pelaksanaan pengisian rekam medis. Secara rinci pada Tabel 4.4:

Tabel 4.4 Distribusi Responden Berdasarkan Kepemimpinan di Rumah Sakit Bhayangkara Tingkat II Medan

No Pernyataan Setuju Kurang

setuju

Tidak

Setuju Total n % n % n % n % 1 Pimpinan memberikan kesempatan

mengajukan usulan, mendiskusikan serta memperoleh saran yang membangun dalam pelaksanaan pengisian rekam medis

9 25.7 21 60.0 5 14.3 35 100.0

2 Pimpinan menyampaikan pengarahan atau perintah dengan ramah dalam pelaksanaan pengisian rekam medis

8 22.8 15 42.9 12 34.3 35 100.0 3 Pimpinan memperhatikan saran dan

usulan dalam pelaksanaan pengisian rekam medis

6 17.1 14 40.0 15 42.9 35 100.0

Tabel 4.4 (Lanjutan) 4 Pimpinan memberikan pujian atas

penyelesaian pengisian rekam medis dengan baik.

6 17.1 21 60.0 8 22.9 35 100.0 5 Pimpinan memberikan kesempatan

kepada setiap orang untuk ikut serta secara aktif dalam pelaksanaan pengisian rekam medis.

4 11.4 22 62.9 9 25.7 35 100.0

c. Insentif Non Finansial

Hasil penelitian tentang indikator insentif non finansial diketahui bahwa sebanyak 17 orang (48,6%) responden menyatakan kurang setuju bahwa melakukan pengisian rekam medis mendapat insentif non finansial berupa pelatihan dari rumah sakit, sebanyak 15 orang (42,9%) responden menyatakan kurang setuju bahwa rumah sakit memberikan insentif non finansial dalam bentuk penghargaan dalam melengkapi pengisian rekam medis, dan sebanyak 19 orang (54,3%) responden menyatakan kurang setuju bahwa pemberian insentif non finansial disesuaikan dengan kelengkapan pengisian rekam medis rumah sakit. Secara rinci pada Tabel 4.5:

Tabel 4.5 Distribusi Responden Berdasarkan Insentif Non Finansial di Rumah Sakit Bhayangkara Tingkat II Medan

No Pernyataan Setuju Kurang

Setuju

Tidak

Setuju Total n % n % n % n % 1 Melakukan pengisian rekam medis

mendapat insentif non finansial berupa pelatihan dari Rumah Sakit

6 17.1 17 48.6 12 34.3 35 100.0 2 Rumah sakit memberikan insentif non

finansial dalam bentuk penghargaan dalam melengkapi pengisian rekam medis

8 22.8 15 42.9 12 34.3 35 100.0 3 Pemberian insentif non finansial

disesuaikan dengan kelengkapan pengisian rekam medis Rumah Sakit

3 8.6 19 54.3 13 37.1 35 100.0

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden menyatakan iklim organisasi kategori kurang baik, yaitu sebanyak 16 orang (45,7%), selebihnya iklim organisasi kategori baik dan tidak baik, secara rinci pada Tabel 4.6:

Tabel 4.6 Distribusi Responden Berdasarkan Kategori Iklim Organisasi di Rumah Sakit Bhayangkara Tingkat II Medan

No Kategori Jumlah Persen

No Kategori Jumlah Persen