• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.7. Kerangka Konsep Penelitian

Berdasarkan tujuan penelitian dan landasan teori, maka dapat dirumuskan kerangka konsep penelitian seperti pada gambar 2.3.

Gambar 2.3. Kerangka Konsep Penelitian Manajemen Obat

1. Perencanaan Obat 2. Penganggaran Obat

3. Pengadaan dan Penerimaan Obat 4. Penyimpanan dan Penyaluran Obat 5. Pemeliharaan Obat

6. Penghapusan Obat 7. Pengendalian Obat

Ketersediaan Obat

BAB 3

METODE PENELITIAN

3.1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian survai dengan pendekatan kualitatif yang dimaksudkan untuk menjelaskan analisis manajemen obat dan kaitannya dengan ketersediaan obat di RSUD. Dr. Hadrianus Sinaga Kabupaten Samosir Tahun 2013.

3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di RSUD Dr. Hadrianus Sinaga Kabupaten Samosir dengan pertimbangan merupakan salah satu RSUD kelas C yang masih memiliki permasalahan ketersediaan obat-obatan pasien yang diindikasikan dari seringnya kekurangan obat yang dibutuhkan pasien, kemudian masih lemahnya perencanaan obat yang diindikasikan dari ketidaksesuaian kebutuhan obat dengan rencana anggaran obat serta minimnya proporsi anggaran untuk pengadaan obat rumah sakit.

Waktu penelitian sejak pengesahan judul penelitian, konsultasi, kolokium, penelitian lapangan, seminar hasil penelitian dan komprehensif adalah selama 7 (tujuh) bulan terhitung Januari sampai dengan Juli 2013.

3.3. Informan

Informan dalam penelitian ini adalah seluruh komponen atau orang-orang yang terlibat pengelolaan obat-obatan di RSUD Dr Hadrianus Sinaga Kabupaten Samosir yang terdiri dari Direktur RSUD Dr. Hadrianus Sinaga, Kepala Sub Bagian

Perencanaan rumah sakit, Kepala Bidang Pelayanan Medik, Kepala Instalasi Farmasi dan 3 orang staf bagian Farmasi dan 1 orang kepala sub bagian keuangan dengan jumlah sebanyak 8 (delapan) orang.

3.4. Variabel dan Definisi Operasional 3.4.1. Variabel Penelitian

Variabel dalam penelitian ini terdiri dari variabel independen yaitu manajemen pengelolaan obat sedangkan variabel dependen dalam penelitian ini adalah ketersediaan obat di RSUD Dr. Hadrianus Sinaga.

3.4.2. Definisi Operasional

1. Manajemen pengelolaan obat adalah proses pengaturan dan penataan obat-obatan di rumah sakit yang meliputi

a. perencanaan obat adalah proses penentuan kebutuhan obat yang didasarkan pada peramalan dan situasi penggunaan obat sebelumnya dengan menggunakan metode-metode perencanaan obat

b. penganggaran obat adalah besaran anggaran yang dibutuhkan untuk pemenuhan obat sesuai dengan perencanaan obat

c. Pengadaan dan penerimaan obat adalah kegiatan untuk merealisasikan kebutuhan obat yang telah direncanakan dan disetujui dan menerima obat dari pemasok.

d. Penyimpanan dan distribusi obat adalah upaya yang dilakukan rumah sakit dalam menyimpan obat yang telah disediakan dan menyalurkan obat sesuai dengan permintaan pasien melalui peresepan oleh dokter di rumah sakit

e. pemeliharaan obat adalah upaya yang dilakukan oleh rumah sakit dalam merawat dan memeliharan kondisi fisik maupun sediaan dari obat yang telah disediakan di instalasi farmasi rumah sakit

f. penghapusan obat adalah upaya yang dilakukan rumah sakit dalam menghapus jenis dan jumlah obat yang sudah ada kadarluarsa di rumah sakit.

g. pengendalian obat adalah upaya yang dilakukan untuk mengawasi jumlah dan jenis penggunaan obat secara efektif dan efesien.

2. Ketersediaan Obat adalah tersedianya obat secara kuantitas yang dibutuhkan untuk pelayanan pasien di rumah sakit yang dilihat dari persediaan obat dalam memenuhi kebutuhan pasien rumah sakit dengan menggunakan metode konsumsi.

3.5. Metode Pengumpulan Data

Pengumpulan data dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan data sekunder.

1. Data primer adalah keseluruhan data yang diperoleh langsung melalui wawancara dengan sampel penelitian berupa data kualitatif berpedoman wawancara mendalam.

2. Data sekunder adalah data yang diperoleh dari catatan, laporan Instalasi Farmasi, Laporan Akuntabilitas Kinerja Rumah Sakit, Dokumen Anggaran Rumah Sakit, dan Profil Rumah Sakit.

3.6. Metode Pengukuran

Adapun metode pengukuran variabel independen dalam penelitian ini adalah pengukuran variabel manajemen pengelolaan obat didasarkan pada analisa kualitatif berdasarkan jawaban dan informasi yang diperoleh dari wawancara mendalam terhadap informan yang berkaitan dengan manajemen pengelolaan obat di RSUD Dr.

Hadrianus Sinaga. Adapun variabel dari manajemen pengelolaan obat seperti pada Tabel 3.1.

Tabel 3.1. Variabel Manajemen Pengelolaan Obat

No Variabel Informan Point Pertanyaan

1 Perencanaan Obat Direktur

Kepala SubBagian Perencanaan

Kepala Bidang Pelayanan Medis

Kepala Instalasi Farmasi Staf Instalasi Farmasi

Proses Perencanaan Pemenuhan Kebutuhan Obat

Tenaga perencanaan

2 Penganggaran Obat

Direktur

Kepala SubBagian Perencanaan

Kepala SubBagian Keuangan

Alokasi Anggaran Komitmen Pemda Proses Pemenuhan Anggaran

3 Pengadaan dan Penerimaan Obat

Kepala SubBagian perencanaan

Kepala Bidang Pelayanan Medis

Kepala Instalasi Farmasi

Proses Pengadaan Alokasi Obat dari Pusat dan Dinkes Provinsi

Tabel 3.1 (Lanjutan)

No Variabel Informan Point Pertanyaan

4 Penyimpanan dan Distribusi Obat

Kepala Instalasi Farmasi Staf Instalasi Farmasi

Penggunaan Obat Sarana Penyimpanan Obat

Kendala Distribusi Obat Pemeriksaan Stok Obat Penataan Stok

Mekanisme pengelolaan 5 Pemeliharaan Kepala Instalasi Farmasi

Staf Instalasi Farmasi

Mekanisme pemeliharaan

Pengawasan stok obat 6 Penghapusan

Obat

Direktur

Kepala Instalasi Farmasi

Mekanisme penghapusan Obat

Jenis dan jumlah obat yang sudah pernah dihapus

7 Pengendalian Obat

Kepala Bidang Pelayanan Medis

Kepala Instalasi Farmasi Staf Instalasi Farmasi

Pengawasan

Evaluasi Penggunaan

Pengukuran variabel ketersediaan obat didasarkan pada perhitungan ketersediaan obat melalui metode konsumsi, dan dihitung stok obat.

3.7. Metode Analisis Data

Analisis data dalam penelitian ini dilakukan secara kualitatif dengan metode analisis isi (content analysis) terhadap seluruh variabel yang diukur dengan menggunakan pedoman interview mendalam.

BAB 4

HASIL PENELITIAN

4.1 Deskripsi Lokasi Penelitian

Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Hadrianus Sinaga terletak di Jl.Dr. Hadrianus Sinaga No.86 Kelurahan Pintusona Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir.

Memiliki luas 37.500 m2

Utara : Berbatasan dengan Jl. Dr. Hadrianus Sinaga

. wilayah rumah sakit berbatasan sebagai berikut :

Timur : Berbatasan dengan Rumah Penduduk Selatan : Berbatasan dengan Danau Toba

Barat : Berbatasan dengan SMUN 1 Pangururan

Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Hadrianus Sinaga Pangururan memiliki status rumah sakit kelas C sesuai dengan SK Menkes No 495/Menkes/SK/V/2008 tanggal 28 Mei 2008.

Memiliki 210 orang pegawai yang terbagi atas tenaga fungsional sebanyak 165 orang dan tenaga non fungsional/penunjang sebanyak 45 orang. Jumlah Tempat Tidur Pasien sebanyak 103 tempat tidur. RSUD Dr memiliki visi menjadi rumah sakit rujukan yang terakreditasi dengan misi (1) Meningkatkan manajemen pelayanan kesehatan, (2) Meningkatkan kualitas sumberdaya manusia kesehatan, dan (3) Meningkatkan sarana dan prasarana rumah sakit sesuai standar.

Kondisi kepegawaian RSUD Dr.Hadrianus Sinaga Pangururan Kabupaten Samosir dapat dilihat pada tabel 4.1 dibawah ini.

Tabel 4.1 Kondisi Kepegawaian RSUD Dr. Hadrianus Sinaga Pangururan Kabupaten Samosir

No Jenis Tenaga PNS PTT/THL Jumlah

I Tenaga Medis

1 Dokter Spesialis 1 2 3

2 Dokter Residen Spesialis 0 5 5

3 Dokter Umum 13 1 14

4 Dokter Gigi 1 0 1

Jumlah 15 8 23

II Tenaga Paramedis

1 S-1 Keperawatan 3 0 3

2 D-III Keperawatan 33 32 65

3 SPK 10 0 10

4 D-III Kebidanan 16 7 23

5 D-I Kebidanan 2 0 2

6 Perawat Bidan 0 0 0

7 Perawat Gigi 4 0 4

Jumlah 68 39 107

III Tenaga Kefarmasian

1 Apoteker 2 0 2

2 D-III Farmasi 6 3 9

Jumlah 8 3 11

IV Tenaga Kesehatan Masyarakat

1 SI-Kesehatan Masyarakat 5 0 5

2 D-III Kesehatan Lingkungan 1 1 2

Jumlah 6 1 7

V Tenaga Kesehatan Jiwa

1 Psikolog 1 0 1

Jumlah 1 0 1

VI Tenaga Gizi & Laundry

D-III Gizi 4 0 4

Jumlah 4 0 4

VI Tenaga Ketekhnisan Medis

1 ATEM 3 0 3

2 ATRO 6 0 6

3 Analisis Kesehatan 6 2 8

4 Fisioterapi 2 0 2

Jumlah 17 2 19

VII Tenaga Non Kesehatan

Jumlah 16 22 38

Data jumlah pasien yang melakukan pengobatan rawat jalan di RSUD Dr Hadrianus Sinaga Pangururan pada tahun 2011 paling banyak adalah pada bulan November yaitu sebanyak 1362 orang dan pada tahun 2012 paling banyak dibulan November juga yaitu sebanyak 1604 orang, dapat dilihat pada tabel 4.2 dibawah ini:

Tabel 4.2 Data Pasien Rawat Jalan Tahun 2011-2012

No Bulan

Jumlah Pasien

Jenis Pasien

ASKES Umum Jamkesmas

2011 2012 2011 2012 2011 2012 2011 2012 1 Januari 1289 1469 555 460 461 660 273 349 2 Februari 1237 1353 521 502 379 490 337 361 3 Maret 1280 1401 559 489 437 536 284 376 4 April 976 1221 402 423 339 491 235 307 5 Mei 1423 1418 387 489 804 574 232 355 6 Juni 1040 1199 400 410 390 471 250 318 7 Juli 1171 1301 437 475 496 505 238 321 8 Agustus 1064 1287 406 484 444 486 214 317 9 September 1282 1453 482 506 531 609 269 338 10 Oktober 1302 1547 461 586 497 466 344 495 11 Nopember 1362 1604 499 564 523 597 340 443 12 Desember 1073 902 422 308 383 334 268 260 Total 14499 16155 5531 5692 5684 6219 3284 4240

Data jumlah pasien yang melakukan pengobatan rawat inap di RSUD Dr Hadrianus Sinaga Pangururan pada tahun 2011 paling banyak adalah pada bulan Januari yaitu sebanyak 261 orang dan pada tahun 2012 paling banyak dibulan Januari juga yaitu sebanyak 330 orang. Jumlah hari rawatan terbanyak adalah pada bulan Februari dengan 1201 hari, dapat dilihat pada tabel 4.3 dibawah ini:

Tabel 4.3 Data Pasien Rawat Inap Tahun 2011-2012

No Bulan

Jumlah Pasien

Jenis Pasien Jumlah Hari Rawatan

ASKES Umum Jamkesmas

2011 2012 2011 2012 2011 2012 2011 2012 2011 2012 1 Januari 261 330 41 57 124 134 96 139 1104 1160 2 Februari 211 307 32 54 102 151 77 102 896 1201 3 Maret 251 281 41 69 125 110 85 102 1032 1097

4 April 154 272 46 46 56 136 52 90 658 1063

5 Mei 163 323 34 67 66 162 63 94 703 1235

6 Juni 220 217 45 50 67 90 108 77 901 1129

7 Juli 212 247 39 44 103 97 70 106 861 883

8 Agustus 240 287 50 67 108 113 82 107 939 1167 9 September 206 226 39 53 92 78 75 95 831 1074

10 Oktober 253 222 58 55 124 99 71 68 940 935

11 Nopember 247 262 48 56 91 71 108 135 1052 1046 12 Desember 183 288 45 55 92 90 46 143 1087 1157 Total 2601 3262 518 673 1150 1331 933 1258 11004 13147

Data pemakaian obat RSUD Dr Hadrianus Sinaga Pangururan pada tahun 2013 paling banyak adalah Ranitidin tablet yaitu sebanyak 6445 tablet, obat yang kurang paling banyak adalah Salbutamol 2mg tab yaitu sebanyak 119 tablet, kekurangan ini di tutupi dengan cara meminjam obat dari JPS dapat dilihat pada tabel 4.4 dibawah ini:

Tabel 4.4 Data Sepuluh Penggunaan Obat Terbanyak di RSUD Dr Hadrianus Sinaga Tahun 2013

No Nama obat Stock Awal

Peneri maan

Pemak aian

Stock Ahir

Kadalu

arsa Keterangan 1 Ranitidin tablet 600 6000 6445 155 0

2 as. mefenamat 500mg tablet

378 5000 5421 -43 0 obat kurang pinjam dari JPS

3 R. Lactat 441 10000 5139 5302 0

4 Dexametasone tab

1139 4000 3564 1575 0

Tabel 4.4 (Lanjutan) No Nama obat Stock

Awal

Peneri maan

Pemak aian

Stock Ahir

Kadalu

arsa Keterangan

5 Paracetamol tab 406 3000 3046 0 0

6 Cefadroxil 500mg capsul

0 3000 3000 0 0

7 CTM 5347 2851 2523 0

8 Salbutamol 2mg tab

0 2500 2619 -119 0 obat kurang pinjam dari JPS

9 Ranitidin inject 88 2500 2464 155 0 10 Amoxicilin

500mg tab

2661 0 2424 237 0

Untuk data jumlah penggunaan obat secara lebih lengkap dilampirkan pada lampiran 3.

4.2 Hasil Wawancara Informan Berdasarkan Variabel Penelitian a. Perencanan obat

Variabel perencanaan obat informan yang diwawancarai adalah Direktur, Kepala SubBagian Perencanaan, Kepala Bidang Pelayanan Medis, Kasubbag keuangan, Kepala instalasi farmasi dan staff bidang farmasi. Hasil penelitian dapat dijabarkan berdasarkan komposisi pertanyaan sebagai berikut:

1. Proses Perencanaan

Hasil wawancara tentang proses perencanaan dapat dijabarkan sebagai berikut:

“Perencaannya sudah cukup baik. Kita mengadakan untuk menghitung kebutuhan obat, untuk tahunan anggaran yang kita anggarkan contoh misalnya untuk tahun anggaran 2014 ke depan ini kan udah mau berakhir kek gitu dan terhitung dari 2013 akhir kita mengadakan rapat dengan bidang yang membidangi masalah

obat, mengenai gambaran kebutuhan atau prediksi kita estimasikan lah kebutuhan obat di tahun anggaran 2014, yang menangani itu stakeholder kita bilang yang menangani obat itu langsung kita libatkan pada perencanaannya, baru kedua memang dari segi perencanaan juga kan itu ada alur-alur perencanaanya contoh seperti ini sebelum kita memang membuat suatu RKA, rencana kerja menurut peraturan pengelolaan peraturan daerah tentu saja begitu kan perencanaan itu harus, ini kita bicara secara umum ya” (informan 1. Direktur)

“Sudah cukup baik, pertama-tama kalau kita memang membicarakan mengenai anggaran, setelah itu bidang perencanaan membuat survei kebutuhan kita dari jumlah kunjungan dan penyakit terbesar di rumah sakit baik itu rawat jalan atau rawat, baru nanti kita akan menyerahkan ke BAPEDA di kabupaten untuk dianalisis kembali oleh BAPEDA baru muncullah KUA(Kebijakan Umum Anggaran) dan PTS (Prioritas Plafon Anggaran Sementara). Di BAPEDA dianalisa mungkin nanti dia dikurangi atau ditambahkan anggarannya, abis tu setelah dianalisis, kita tahu berapa dana yang kita dapat jadi kalau soal bapak tadi masalah cukup tidaknya, dari segi anggaran bisa saja kita satu tahun kedepan itu mungkin tidak cukup tapi dengan alasan. Keuangan daerah juga tidak mencukupi, nanti mungkin kita dikasih suatu peluang atau estimasi juga dan nanti nya ada perubahan BAPEDA nanti untuk menambah kembali pos-pos anggaran yang kita tidak cukupi itu contoh obatlah, kita katakan di awal tahun mungkin prediksi kita kedepan di tahun anggaran yang akan berjalan tahun depan mungkin tidak cukup misalnya, tapi kan di perubahan APBD nanti kan bisa saja berubah artinya bisa kita switch lagi atau kita ambil dari kegiatan lain yang kita prediksi nanti di akhir tahun anggaran akan tidak habis kita masukkan lah ke obat karena obat kami tidak cukup, inilah masalah ketidak cukupan anggaran.”

(informan 2. Perencanaan)

“..ya dilibatkan, tapi kontiniuitas untuk apanya itu kan perencanaannya itu gak selalu, jadi kadang kita diikutkan kadang nggak” (informan 3. YanMed).

“Saya sejauh ini banyak tidak diikutkan. Cuma itu ditangani kepala seksi bagian perencanaan, Seksi Perencanaan, sistemnya yang kita tau bahwa kepala-kepala instalasi atau ruangan yang di rumah sakit diundang gitu untuk memberikan apa yang mereka butuhkan, biar dikasih ke perencanaan, biar dirapatkan gitu..”

(informan 4. keuangan)

“Perencanaan RKO (rencana kebutuhan obat) sebenarnya dibutuhkan karena dari kita sebenarnya jumlah yang kita rencanakan RKO itu yang buat, yang dibutuhkan kan data pemakaian tiap bulan berapa nanti kita kalkulasikan rata-rata perbulan itu berarti nanti kita kalkulasikan x 12 + 10%, selain itu kita harus liat juga jenis penyakitnya yang mana yang paling banyak jenis-jenis penyakit yang disini, itu juga yang otomatis kita lebihkan perencanaan kebutuhannya” (Informan 5.

KaFarmasi)

“Tidak pernah ikut dalam perencanaan” (Informan 6. staff farmasi)

Dari hasil wawancara mendalam tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa proses perencanaan di RSUD Dr Hadrianus Sinaga diawali dari survei kebutuhan kita dari jumlah kunjungan dan penyakit terbesar pada tahun anggaran sebelumnya, kemudian dilakukan analisa terhadap kebutuhan obat pada tahun berikutnya oleh bidang farmasi dan disesuaikan dengan anggaran yang tersedia dari BAPEDA oleh bidang perencanaan. Bidang Perencanaan mengajukan kebutuhan instalasi farmasi ke BAPPEDA sesuai degan plafon anggaran yang ditetapkan ke rumah sakit. Bidang perencanaan masih lebih mengutamakan kebutuhan bidang lain dibandingkan kebutuhan instalasi farmasi. Maka dapat disimpulkan proses perencanaan di RSUD Dr Hadrianus Sinaga berdasarkan metode konsumsi.

2. Pemenuhan Kebutuhan Obat

Hasil wawancara tentang pemenuhan kebutuhan obat dapat dijabarkan sebagai berikut:

“Sudah cukup baik lah” (Informan 1)

“Kita harus melihat kembali mengenai kasus penyakit rawat jalan dan rawat inap yang terjadi di rumah sakit bisa saja terjadi suatu masalah atau KLB lah kita katakan pada suatu penyakit

yang membutuhkan obat yang cukup besar, ataupun mungkin terjadi bencana alam sehingga kita bisa dropping obat itu apa membutuhkan banyak obat gitu, memang setelah itu antar BAPEDA eksekutif kita lah sebagai aparat pemerintah melalui BAPEDA nanti akan mengadakan pembahasan dengan legislatif mengenai anggaran setelah itu, istilahnya kalau kita bilang disini ketuk palu mengenai anggaran sudah fix dia menjadi anggaran kita naikkan dia ke provinsi” (informan 2)

“Sebenarnya kita kan kalo untuk RS pemerintahkan selalu kita ditekankan untuk generik.(probing :Obat jamkesmas?) menurut saya sudah bagus, karena memang selama ini kan obat kita kebutuhan rutin”. (informan 3)

“Dari kita pasti iya tidak ada kendala, cuma ada kendala juga di pemesanan barang sama,barang sampe kemari itu, jadi itu aja kendala bukan di kita tapi di distribusi obat kita sampe ke rumah sakit... nanti jadi terkendala di bagian keuangan masalah pembayaran,... tapi jadi saling terikutlah.” (Informan 5)

Berdasarkan hasil wawancara mendalam tersebut di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pemenuhan kebutuhan obat di setiap RSUD Dr Hadrianus Sinaga sudah berjalan cukup baik dan lebih banyak kebutuhan akan obat generik untuk pasien jamkesmas dan pemenuhannya sudah cukup baik. namun terdapat kendala dari distributor obat tentang lama sampainya ke gudang rumah sakit karena masalah pembayaran

2. Tenaga Perencanaan

Hasil wawancara tentang tenaga perencanaan obat dapat dijabarkan sebagai berikut:

“Saya merasa masih kurang baik lah bisa dikatakan, mungkin pendidikannya juga berpengaruh pada kemampuan, mungkin dasarnya seperti itu, mungkin dari pendidikannya yang mempengaruhi kemampuannya “ (informan 1)

“Tenaga kita ada tiga orang dibidang perencanaan, bekerjanya ya begitulah, kita kan menunggu data dari bidang lain dulu baru kerja

lain. Secara jumlah kita ini bisa dikatakan cukup lah walau kadang repot juga di awal tahun.”(informan 2)

“Setahu saya mereka menerima data dari bidang farmasi yang sudah tersusun, baru dirapatkan setelah itu disepakati begitu.

lancar lancar saja selama ini, baik lah kira kira begitu” (informan 3)

Petugas instalasi yang terlibat dalam perencanaan obat-obatan belum pernah mengikuti pelatihan tentang sistem perencanaan obat di rumah sakit. Hal ini sangat berpengaruh terhadap proses perencanaan obat-obatan agar berjalan dengan baik.

Manajemen rumah sakit belum memandang pentingnya peningkatan kemampuan tenaga perencanaan.

Dari hasil wawancara mendalam tersebut diatas maka dapat disimpulkan bahwa dari segi tenaga perencanaan obat di RSUD Dr Hadrianus Sinaga masih kurang baik dalam melakukan tugasnya karena faktor pendidikan yang masih kurang dan secara kuantitas juga masih kurang.

b. Penganggaran Obat

Variabel penganggaran obat informan yang diwawancarai adalah Kepala SubBagian Perencanaan, dan Kepala subag Keuangan. Hasil penelitian dapat dijabarkan berdasarkan komposisi pertanyaan sebagai berikut:

1. Alokasi Anggaran

Hasil wawancara tentang alokasi anggaran dapat dijabarkan sebagai berikut:

“Anggaran dapat sebesar 350 juta setahun, namun jika kurang bisa kita tambah lagi dari bidang lain, mungkin prediksi kita kedepan di tahun anggaran yang akan berjalan tahun depan mungkin tidak cukup misalnya, tapi kan di perubahan APBD nanti kan bisa saja berubah artinya bisa kita switch lagi atau kita ambil

dari kegiatan lain yang kita prediksi nanti di akhir tahun anggaran akan tidak habis kita masukkan lah ke obat” (informan 2.

perencanaan)

“Besarnya dana kita tau setelah diterbitkan ke pihak kita, anggaran kita diberikan pemda sebesar 350 juta untuk tahun ini, nanti tiap bulan obat dipesan dan kita bayarkan” (informan 4.

keuangan)

Dari hasil wawancara mendalam tersebut diatas maka dapat disimpulkan bahwa alokasi anggaran untuk obat di RSUD Dr Hadrianus Sinaga sebesar350 Juta Rupiah dan masih bisa bertambah sesuai kebutuhan dengan jalan mengganti dari kegiatan lainnya

2. Proses Pemenuhan Anggaran

Hasil wawancara tentang proses pemenuhan anggaran dapat dijabarkan sebagai berikut:

“Setelah itu antar BAPEDA eksekutif kita lah sebagai aparat pemerintah melalui BAPEDA nanti akan mengadakan pembahasan dengan legislatif mengenai anggaran setelah itu, istilahnya kalau kita bilang disini ketuk palu mengenai anggaran sudah fix dia menjadi anggaran kita naikkan dia ke provinsi, pihak legislatif sangat mendukung kegiatan rumah sakit kenapa, karena rumah sakit adalah merupakan pelayanan publik sehingga semua, artinya begini khusus obat, obatkan langsung dia memang dipakai untuk melayani publik, orang sakit harus dapat obat, kan gitu dia logikanya jadi pihak legislatif sangat mendukung itu jangan samapai ke masyarakat yang sakit tidak dapat obat” (informan 2.

perencanaan),

“Begini dia sistemnya yang kita tau bahwa kepala-kepala instalasi atau ruangan yang di rumah sakit diundang gitu untuk memberikan apa yang mereka butuhkan, biar dikasih ke perencanaan, biar dirapatkan gitu, kalau mekanisme pembayarannya begini, dari pihak rekanan misalnya mereka ngasih tagihan bon nanti ditindaklanjuti namanya PPTK (pejabat pelaksan kegiatan) nah mereka akan lengkapi administrasinya dari pihak PPTK mereka akan kasih ke bagian verifikasi rumah sakit, ada bagian kepala

berkasnya gitu dan keabsahannya, nah dan darisana diverifikasi nanti akan ada lembaga verifikasi, nanti akan diajukan pembayarannya, nanti akan disetujui direktur rumah sakit sebagai KPA, kita mengeluarkan dari bendahara pengeluaran, kita keluarkan yang namanya SPTJM (Surat Prtanggungjawaban Mutlak), kita terbitkan SPTJM dan muncul lagi SPM (Surat Perintah Membayar) nya dari situ kita lampirkan ke berkas yang tadi, nah baru kita antar ke DISPENDA. Keluhan yang kita ini ya sering kita jumpai itu dari pihak rekanan biasa diawal tahun itu, sebelum pengesahan anggaran itu, udah disahkan nanti diperbaiki DPA dan dari DPA itulah dapat kita lakukan pembayaran kegiatan apapun yang di rumah sakit” (informan 4)

Dari hasil wawancara mendalam tersebut dapat disimpulkan bahwa proses pemenuhan anggaran dilalui dari pengajuan ke legislatif setelah disetujui maka akan dibentuk kepanitiaan pengadaan obat setelah itu dilakukan lelang kepada distributor, obat dihantar ke rumah sakit oleh distributor pemenang lelang dan dilakukan pembayaran.

c. Pengadaan dan Penerimaan Obat

Variabel pengadaan obat informan yang diwawancarai adalah Direktur, Kepala SubBagian Perencanaan, Kepala Bidang Pelayanan Medis dan Kepala Instalasi farmasi. Hasil penelitian dapat dijabarkan sebagai berikut:

“Pengadaan itu dimulai dari pembentukan panitia pengadaaan, saya SK kan, merekalah yang bertanggung jawab nantinya dari mulai lelang, penentuan pemenang lelang, sampai urusan serah terima dan pembayaran. Terpenuhi tetap terpenuhi namum terkadang tidak juga, ya kerena kita cuma punya satu distributor obat yang mau kerjasama itupun jenis obat tertentu dia tidak ada. ” (informan1. direktur)

“Selama ini kita laksanakan disini kita kan mengadakan suatu perjanjian kerja sama atau MOU lah dengan pihak ke-3 untuk pengadaan obat itu yang membuat nanti direktur kita dengan pihak perusahaan penyedia obat, kalau keterlambatan kan di awal tahun

sesudah MOU bahwa memang di kabupaten itu rata-rata memang bahwasannya ketok palu di bulan 4 itu, (informan 2. perencanaan)

“\Saya tidak ikut ya dalam proses pengadaan, atau masuk panitia karena banyak tugas saya yang lain, mereka sajalah itu. Secara proses agak mandek ya diawal tahun, dan ada kadang obat yang perlu itu tidak ada, jadi masih perlu perencaaan lanjutan lah untuk mengakali itu” (informan 3.Yanmed)

“Selama ini kita langsung aja menunjukan dan langsung aja kita laksanakan karena rutin jadi ok lah gitu, kalau menurut saya selama ini agak sulit juga ya kendala menurut saya apanya itu, karena saat kita butuhkan mereka tidak segera mengirim apa yang kita yang kita butuhkan itu. Menurut analisa saya selama ini yang saya tahu nanya itu tadi masalahnya di pembayaran. Pembayarannya jadi terlambat

“Selama ini kita langsung aja menunjukan dan langsung aja kita laksanakan karena rutin jadi ok lah gitu, kalau menurut saya selama ini agak sulit juga ya kendala menurut saya apanya itu, karena saat kita butuhkan mereka tidak segera mengirim apa yang kita yang kita butuhkan itu. Menurut analisa saya selama ini yang saya tahu nanya itu tadi masalahnya di pembayaran. Pembayarannya jadi terlambat

Dokumen terkait