• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I. Pendahuluan

F. Kerangka teori dan Konsepsi

Teori adalah untuk menerangkan dan menjelaskan mengapa gejala spesifik terjadi atau proses tertentu terjadi, dan satu teori harus diuji dengan menghadapkannya pada fakta – fakta yang dapat menunjuk kan ketidak benarannya. Kerangka teori adalah kerangka pemikiran atau butir – butir pendapat, teori, thesis mengenai suatu kasus atau permasalahan ( problem ) yang menajadi bahan perbandingan, pegangan teoritis,11

Kerangka teori adalah kerangka pemikiran atau butir – butir pendapat, teori,tesis mengenai suatu kasus atau permasalahan yang menjadi bahan perbandingan,

11

pegangan teoritis12

Kerangka teori yang akan dibahas dalam penelitian ini dengan aliran teori hukum dari kubu neo posivisme yang menyatakan Hukum itu cermin Rasionalitas dan Otoritas. Salah satu penganut teori ini adalah Max Weber, dimana ia menggunakan ukuran tingkat rasionalitas dan model kekuasaan untuk mengkonstruksi teorinya tentang hukum. Dalam ranah rasionalitas teori Weber berbunyi : “ Tingkat rasionalitas sebuah masyarakat akan menentukan warna hukum dalam masyarakat itu”. Disini Weber membagi tiga tingkat rasionalitas yakni : (i) substansif rasionalitas, (ii) substansif dengan sedikit kandungan rasional, (iii) rasional penuh.yang digunakan dalam pennelitian ini adalah tingkat rasionalitas yang kedua yaitu substansif dengan sedikit kandungan rasional, dimana pada tipe kedua ini dimiliki oleh masyarakat tradisi yang bertopang pada adat dan kebiasaan tradisonal, dimana hukum mewajah dalam bentuk informal rasional ( berupa aturan hukum yang serba informan).

. Teori diperlukan untuk menerangkan atau menjelaskan gejala spesifik atau prose tertentu terjadi, kerenanya suatu teori haruslah diujui dengan mengahadapkan pada fakta – fakta untuk menunjukkan kebenarannya.

13

Selain adanya teori aliran hukum neo positivism juga menuju adanya kepastian hukum yang oleh Roscue Pound dikatakan bahwa adanya kepastian hukum memungkinkan adanya “Predictability”.14

12

Ibid.,halaman 27

Dengan demikian kepastian hukum

13

Bernad L Tanya, dkk, Teori Hukum Strategi Tertib Manusia Lintas Ruang dan Generasi, Penerbit Genta Publishing, Yogyakarta 2010,hal

14

Pieter Mahmud Marzuki, Pengantar Ilmu Hukum, Penerbit Kencana Prenada Media group,Jakarta 2009,halaman 158

mengandung dua pengertian , yang pertama adanya aturan yang bersifat umum membuat individu mengetahui apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan dan kedua berupa pengamanan bagi individu dari kesewenangan pemerintah karena dengan adanya aturan yang bersifat umum individu dapat mengetahui apa saja yang boleh dibebankan atau dilakukan oleh Negara terhadap individu. Sedangkan menurut ajaran dogmatis tujuan hukum tidak lain dari sekedar menjamin kepastian hukum, yang diwujudkan oleh hukum dengan sifatnya yang membuktikan suatu aturan hukum semata – mata untuk kepastian hukum.

Fungsi teori dalam penelitian tesis ini adalah untuk memberikan arah serta menjelaskan gejala yang diamati, karenanya penelitian ini diarahkan pada ilmu hukum neo positif yang berlaku yaitu tentang adanya hukum tanah adat dan transaksi tanah yang berlaku dalam masyarakat adat.

Tanah mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam hukum adat, karena merupakan satu-satunya benda kekayaan yang meskipun mengalami keadaan bagaimanapun akan tetap dalam keadaan semula, malah terkadang tidak menguntungkan dari segi ekonomis. Kecuali itu, adalah suatu kenyataan bahwa tanah merupakan tempat tinggal keluarga dan masyarakat, memberikan penghidupan, merupakan tempat di mana para warga yang meninggal dunia dikuburkan; dan sesuai dengan kepercayaan merupakan pula tempat tinggal para dewa-dewa pelindung dan tempat roh para leluhur bersemayam. Di dalam hukum adat, antara masyarakat hukum merupakan kesatuan

dengan tanah yang didudukinya, terdapat hubungan yang sangat erat sekali; hubungan yang bersumber pada pandangan yang bersifat religio-magis.

Pasal 5 UUPA yang menyatakan sebagai berikut :

“Hukum agraria yang berlaku atas bumi, air dan ruang angkasa ialah hukum adat, sepanjang tidak bertentangan dengan kepentingan nasional dan Negara, yang berdasarkan atas persatuan bangsa, dengan sosialisme Indonesia serta dengan peraturan-peraturan yang tercantum dalam Undang-Undang ini dan dengan peraturan perundangan lainnya, segala sesuatunya dengan mengindahkan unsur-unsur yang bersandar kepada hukum agama”. 15

Dari ketentuan Pasal 5 dapat dikatakan bahwa hukum adat yang merupakan dasar hukum agraria itu haruslah hukum adat yang :

a. Tidak bertentangan dengan kepentingan nasional dan Negara yang berdasarkan atas persatuan bangsa.

b. Tidak bertentangan dengan sosialisme Indonesia

c. Tidak bertentangan dengan UUPA dan peraturan perundang-undangan lainnya

d. Mengindahkan unsur-unsur yang bersandar pada hukum agama

Hak ulayat disebut juga sebagai hak purba (Djojodigeon), hak pertuanan (Soepomo) yaitu hak yang dimiliki oleh suatu persekutuan hukum adat (sehingga sifatnya merupakan hak bersama) untuk menguasai seluruh tanah beserta segala isinya dalam

15

lingkungan wilayah persekutuan tersebut yang merupakan hak atas tanah yang tertinggi dalam hukum adat.16

Hukum tanah di Indonesia didasarkan pada Hukum Adat. Hal ini terdapat dalam Pasal 5 Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA), yang berbunyi :

Hukum Agraria yang berlaku atas bumi, air dan ruang angkasa ialah Hukum Adat, sepanjang tidak bertentangan dengan kepentingan nasional dan negara, yang berdasarkan atas persatuan bangsa, dengan sosialisme Indonesia serta dengan peraturan-peraturan yang tercantum dalam Undang-Undang ini dan dengan peraturan-peraturan lainnya, segala sesuatu dengan mengindahkan unsur-unsur yang berdasarkan pada Hukum Agama.17

Hak perseorangan atas tanah dibatasai oleh hak ulayat, sebagai seorang warga persekutuan, maka tiap individu mempunyai hak untuk :18

1. Mengumpulkan hasil – hasil hutan 2. Memburu binatang liar

3. Mengambil hasil dari pohon – pohon yang tumbuh liar 4. Membuka tanah dan kemudian mengrjakan tanah itu 5. Mengusahakan tanah untuk diurus

16

Bushar Muhammad, Asas-Asas Hukum Adat suatu Pengantar, penerbit Bina Cipta Bandung . 1988, halaman.35

17

Boedi Harsono, Hukum Agraria Indonesia Himpunan Peraturan-Peraturan Hukum Tanah, Penerbit Djambatan, Jakarta, Edisi Revisi 2004, Halaman 7

18

Bushar Muhammad,Pokok – Pokok Hukum Adat, PT Pradnyna Paramita Jakarta,2006,hal 107

Jadi seorang warga persekutuan berhak untuk membuka tanah untuk mengerjakan tanah itu terus menerus dan menanam pohon itu di atas tanah itu, sehingga ia mempunyai hak milik atas tanah itu.

Dalam kehidupan sehari – hari sering dijumpai transaksi atas tanah seperti adanya seseorang yang menjual tanahnya, menyewa tanahnya, mengadaikan tanahnya ataupun perbuatan – perbuatan hukum lainnya yang berkaitan dengan tanah guna mendapatkan kontraprestasi yang berupa uang. Di dalam hukuma adat transaksi tanah itu juga sering dilakukan.

Untuk mengungkap problematika pada permasalahan, diajukan beberapa teori dan konsep untuk menjelaskan suatu persoalan yang kita hadapi dalam masyarakat

Hukum Adat. Konsep dan teori yang berhubungan dengan pemindahan hak atas tanah adat (ulayat) melalui jual lepas yang sering dilakukan masyarakat adat, pemindahan hak tanah hak ulayat merupakan suatu perbuatan hukum yang dilakukan oleh pemilik tanah dengan pelepasan adat kepada orang lain.

Menjual tanah adat berarti menyerahkan hak atas tanah adat dengan menerima ganti rugi ( pago – pago ) tertentu berbentuk uang tunai, dalam istilah hukum adat, jual beli dimaksudkan adalah jual lepas mutlak, jual lepas mutlakyaitu dengan

dijualnya/diserahkannya atas suatu bidang tanah, maka melepaskan pula segala hak atas bidang tanah tersebut, sehingga perpindahan dari tangan penjual kepada pembeli untuk selama-lamanya.

Dalam penyerahan bidang tanah tersebut, pada saat itu diterima secara langsung pembayaran uangnya secara sekaligus tanpa dicicil.

Soepomo menyatakan bahwa: kata "jual" sebagai istilah hukum adat tidak sama artinya dengan kata "Verkopen" sebagai istilah hukum barat. Verkopen adalah suatu perbuatan hukum yang besifat obligatoir artinya verkoper berjanji dan wajib

mengoperkan barang yang diverkoop kepada pembeli dengan tidak dipersoalkan apakah harga itu dibayar kontan atau tidak.19

Sehubungan perbuatan hukum jual beli tanah dengan pelepasan adat dikuatkan oleh para saksi dapat dinyatakan sah menurut adat yang utama tidak menyimpang dari ketentuan sebagaimana diatur dalam ketentuan hukum lainnya, namun apabila dikaitkan dengan Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) Pasal 26, perbuatan hukum tersebut harus ditindaklanjuti dengan akta yang dibuat oleh dan dihadapan PPAT, dengan demikian jual beli tersebut sah adanya.

Namun belum resmi sebagaimana diamanatkan UUPA. Berkaitan dengan hal tersebut Boedi Harsono memberikan Pernyataan bahwa:

"Dalam hukum adat, "Jual beli tanah" bukan perbuatan hukum yang merupakan apa yang disebut "perjanjian obligatoir". Jual beli tanah dalam Hukum Adat merupakan perbuatan hukum pemindahan hak dengan pembayaran tunai. Artinya, harga yang disetujui bersama dibayar penuh pada saat dilakukan jual beli yang bersangkutan. Dalam hukum adat tidak ada pengertian penyerahan yuridis sebagai pemenuhan kewajiban hukum penjual, karena apa yang disebut "jual beli tanah " itu

19

adalah penyerahan hak atas tanah yang dijual kepada pembeli yang pada saat yang sama membayar penuh kepada penjual harga yang telah disetujui bersama.20

Dalam suatu perbuatan hukum pemindahan hak terhadap tanah ulayat seyogyanya harus mendasarkan diri pada peraturan yang lebih tinggi, agar adanya harmonisasi pelaksanaan hukum di dalam masyarakat adat maupun masyarakat umum sehingga tidak saling bertentangan.

Vant Kant mengatakan bahwa hukum bertujuan untuk menjaga kepentingan tiap – tiap manusia supaya kepentingan – kepentingan itu tidak diganggu. Bahwa hukum mempunyai tugas untuk menjamin adanya kepastian hukum dalam masyarakat.21 Untuk menjamin bahwa suatu jual beli itu sah, maka harus dilakukan secara terang, suatu perbuatan hukum jual beli dilakukan secara terang, jika dilaksanakan dengan sepengetahuan pimpinan persekutuan atau kepala desa yang sekaligus bertindak sebagai saksi dan menjamin sahnya perbuatan hukum jual beli tersebut.

Menurut Hilman Hadikusuma

”Bagi masyarakat adat dalam tata cara jual beli tanah, bukan unsur subjektif atau objektif tetapi terlaksana dan terjadinya perjanjian itu didasarkan pada kesepakatan (bulat mufakat) tunai dan tidak tercela, yang dimaksud tidak tercela yaitu masyarakat lingkungannnya tidak ada yang mempersoalkan, tidak ada yang merasakan terjadinya perjanjian itu tidak baik. Sebaliknya walaupun perjanjian itu dibuat dihadapan Kepala Kampung jika masyarakat mempersoalkan, menganggap hal itu tidak baik, maka perjanjian itu sebenarnya tidak sah.22

Berdasarkan sistem dan tata cara jual beli menurut hukum adat dapat disimpulkan bahwa syarta-syarat sahnya suatu perbuatan hukum jual beli tanah menurut hukum adat yaitu adanya objek daripada jual beli berupa tanah dan uang/harga, adanya kata

20

Boedi Harsono, Op. Cit. halaman. 29

21

CST Kansil, Pengantar Ilmu hukum dan Tata Hukum Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta,2002, halaman 44 – 45.

22

sepakat para pihak (penjual dan pembeli) dan adanya saksi-saksi yang menyaksikan perbuatan hukum jual beli itu

Mengenai pendaftaran terhadap tanah yang berasal dari tanah milik adat, Muhammad Yamin menyebutkan

”Khusus pendaftaran tanah yang berasal dari tanah hak milik adat maka pemohon mengajukan permohonan pengakuan hak/konversi dengan melampirkan tanda bukti haknya seperti yang dimaksud dalam UUPA, Peraturan Menteri Pertanian dan Agraria Nomor 2 tahun 1970 dan Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor

26/DDA/1996 kemudian oleh Kepala Pertanahan Kabupaten/Kotamdaya permohonan tersebut diumumkan selama 2 (dua) bulan berturut-turut di Kantor Kepala Desa dan Kantor Camat untuk memberikan kemungkinan pihak lain mengajukan keberatan-keberatan atas permohonan pendaftaran tersebut. Bila dalam jangka waktu yang telah ditentukan telah lewat, maka permohonan pengukuran hak tersebut diteruskan Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Propinsi untuk diterbitkan Surat

Keputusan pengakuan haknya”.23

Berdasarkan peraturan perundang – undangan yang berlaku, maka semua tanah yang berada dalam Wilayah Rrpublik Indonesia harus terdaftar, dengan tujuan pokok sebagaimana dinyatakan dalam Penjelasan Umum Undang – Undang Nomor 5 tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok – Pokok Agraria yaitu :

1. Meletakkan dasar – dasar bagi penyusunan hukum agrarian nasioanl yang akan merupakan alat untuk membawakan kemakmuran, kebahagiaan dan keadilan bagi Negara dan rakyat tani dalam rangka masyarakat adil dan makmur.

2. Meletakkan dasar – dasar untuk mengadakan kesatuan dan kesederhanaan hukum pertanahan.

23

Muhammad Yamin, Beberapa Dimensi Filosofi Hukum Agraria, (Medan: Pustaka Bangsa Press, 2003), halaman 39

3. Meletakkan dasar – dasar untuk memberikan kepastian hukum mengenai hak – hak atas tanah bagi rakyat seluruhnya.

Masyarakat yang akan melakukan peralihan hak atas tanah karena jual lepas sangat berpengaruh dalam proses pendaftaran Akta PPAT dan meminimalisir penyimpangan Jual Lepas tanah Hak Ulayat dengan cara pendaftaran tanah di Kota Salak.

2. Konsepsi

Konsep adalah salah satu bagian terpenting dari teori. Konsepsi diterjemahkan sebagai usaha membawa sesuatu dari abstrak menjadi suatu yang konkrit, yang disebut dengan operational definition.24 Pentingnya definisi operasional adalah untuk menghindarkan perbedaan pengertian atau penafsiran mendua (dubius) dari suatu istilah yang dipakai. 25

Oleh karena itu untuk menjawab permasalahan dalam penelitian ini harus didefinisikan beberapa konsep dasar, agar secara operasional diperoleh hasil penelitian yang sesuai dengan tujuan yang telah ditentukan, yaitu:

1. Tanah adalah Bagian permukaan bumi yangmerupakan suatu bidang yang terbatas.26

24

Sutan Remy Sjahdeini, Kebebasan Berkontrak Dan Perlindungan Yang Seimbang Bagi Para Pihak Dalam Perjanjian Kredit Bank di Indonesia, (Jakarta: Institut Bankir Indonesia, 1997), halaman 10

25

Tan Kamelo, Perkembangan Lembaga Jaminan Fiducia : Suatu Tinjauan Putusan Pengadilan dan Perjanjian di Sumetera Utara, Disertasi, PPs-USU, Medan, 2002, halaman 35

26

2. Hak atas tanah adalah hak yang memberi wewenang kepada seseorang yang mempunyai hak untuk mempergunakan atau mengambil manfaat atas tanah tersebut.

3. Tanah Ulayat merupakan tanah wilayah masyarakat hukum adat tertentu

4. Hak Ulayat merupakan serangkaian wewenang dan kewajiban suatu masyarakat hukum adat, yang berhubungan dengan tanah yang terletak dalam wilayahnya yang merupakan pendukung utama penghidupan dan kehidupan masyarakat yang bersangkutan sepanjang masa (Lebensraum).27

5. Pendaftaran Tanah adalah rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah secara terus – menerus, berkesinambungan dan teratur meliputi: pengumpulan, pengelolaan, pembukuan dan penyajian serta pemeliharaan data fisik dan data yuridis, dalam bentuk peta dan daftar mengenai bidang – bidang dan satuan – satuan rumah susun, termasuk pemberian surat tanda bukti haknya bagi bidang – bidang tanah yang sudah ada haknya dan hak milik atas satuan rumah susun serta hak – hak tertentu yang membebaninya.28

6. Kepala Adat menurut Soepomo adalah bapak masyarakat, dia mengetuai

persekutuan sebagai ketua sebagai keluarga besar, dia adalah pemimpin dalam pergaulan persekutuan.29

27

Boedi Harsono,Hukum Agraria Indonesia, Sejarah Pembentukan Undang – Undang Pokok Agraria Isi dan Pelaksanaannya Jakarta : Djambatan, 2003 halaman. 185 - 186

28

Pasal 1 angka 1 PP No.24 tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah 29

7. Jual Lepas merupakan suatu perbuatan pemindahan dan penyerahan suatu bidang tanah beserta hak – haknya untuk selama – lamanya kepada pembeli dengan cara yang konkrit.

Dokumen terkait