• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III KERANGKA KONSEPTUAL DAN HIPOTESIS

3.1. Kerangka Konseptual

Sugiyono (2008) menyatakan bahwa kerangka konsep akan

menghubungkan secara teoritis antara variabel-variabel penelitian yaitu antara variabel independen dengan variabel dependen.

Untuk menghasilkan kinerja pegawai yang baik banyak faktor-faktor yang dapat mempengaruhinya, diantaranya adalah persepsi kemanfaatan, persepsi kemudahan penggunaan, keahlian, kecemasan komputer, kesenangan yang dipersepsikan, keamanan dan kerahasiaan, koneksi internet, jumlah informasi, kondisi yang memfasilitasi, pelatihan, motivasi, kompetensi, komitmen organisasi , sumber daya manusia dan sistem informasi akuntasi, sehingga dilakukan analisis faktor untuk mereduksi faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja pegawai tersebut.

Kegunaan analisis faktor adalah melakukan pengurangan data atau dengan kata lain melakukan peringkasan sejumlah variabel menjadi lebih kecil jumlahnya dan mengambil variabel yang cukup kuat untuk difaktorkan. Pengurangan dilakukan dengan melihat interpendensi beberapa variabel yang dapat dijadikan satu yang disebut faktor sehingga ditemukan variabel-variabel atau faktor-faktor yang dominan atau penting untuk dianalisis lebih lanjut. (Sarwono, 2006).

Hal ini dilakukan dengan cara menentukan struktur lewat data

summarization atau lewat data reduction (pengurangan data). Jika hasil uji

variabel-variabel yang diteliti dapat dianalisis lebih lanjut. Tahapan selanjutnya adalah dengan menganalisis variabel-variabel yang diteliti dengan melihat Anti

Image Correlation Matrix. Jika nilai variabel > 0,5 artinya variabel tersebut

adalah variabel dominan (Sarwono, 2006).

Hasil analisis faktor inilah yang kemudian menjadi kerangka konsep dalam penelitian ini seperti yang ada pada gambar 3.1.

Gambar 3.1. Kerangka Konsep

Persepsi Kemanfaatan (X1) Persepsi Kemudahan Penggunaan (X2) Keahlian (X3) Kesenangan Yang Dipersepsikan (X4) Keamanan dan kerahasiaan (X5) Jumlah Informasi (X6) Kinerja Pengguna SIMDA (Y) Motivasi (X7) Komitmen organisasi (X8)

Berdasarkan gambar kerangka konsep pemikiran teoritis, maka dapat dijelaskan hubungan antara variabel sebagai berikut :

3.1.1.PengaruhPersepsi Kemanfaatan terhadap Kinerja pengguna SIMDA

Davis (1989) mendefinisikan persepsi kemanfaatan sebagai sejauh mana seseorang percaya bahwa menggunakan suatu teknologi akan meningkatkan kinerja pekerjaannya. Dari definisinya, diketahui persepsi kemanfaatan merupakan suatu kepercayaan tentang proses pengambilan keputusan.

Dengan demikian jika seseorang merasa percaya bahwa sistem informasi berguna maka dia akan menggunakannya. Sebaliknya jika seseorang merasa percaya bahwa sistem informasi kurang berguna maka dia tidak akan menggunakannya (Jogiyanto, 2007).

Menurut Davis (1989), keyakinan pengguna terhadap persepsi kemanfaatan teknologi informasi dapat diukur dari beberapa faktor sebagai berikut:

a. Penggunaan teknologi dapat membantu menyelesaikan tugas lebih cepat b. Penggunaan teknologi dapat meningkatkan kinerja pengguna.

c. Penggunaan teknologi dapat meningkatkan efisiensi proses yang dilakukan pengguna.

3.1.2. Pengaruh Persepsi Kemudahan Penggunaan tehadap Kinerja pengguna SIMDA

Menurut Jogiyanto (2007), jika seseorang merasa percaya bahwa sistem informasi mudah digunakan maka pengguna akan memanfaatkan sistem informasi tersebut yang akan meningkatkan kinerjanya. Sebaliknya, jika pengguna merasa percaya bahwa sistem informasi tidak mudah digunakan maka pengguna

cenderung tidak menggunakannya.

Penelitian yang dilakukan Davis (1989) menunjukkan bawah sistem informasi yang mudah dipelajari dan mudah diaplikasikan dapat meningkatkan kinerja orang yang menggunakan sistem informasi tersebut. Berdasarkan literatur tersebut, diketahui bahwa semakin tinggi persepsi kemudahan penggunaan sistem informasi, maka akan semakin tinggi kinerja yang dimiliki oleh orang tersebut. Menurut Jogiyanto (2007), jika seseorang merasa percaya bahwa sistem informasi mudah digunakan maka pengguna akan memanfaatkan sistem informasi tersebut yang akan meningkatkan kinerjanya. Sebaliknya jika pengguna merasa percaya bahwa sistem informasi tidak mudah digunakan maka pengguna cenderung tidak menggunakannya.

Penelitian yang dilakukan Davis (1989) menunjukkan bawah sistem informasi yang mudah dipelajari dan mudah diaplikasikan dapat meningkatkan kinerja orang yang menggunakan sistem informasi tersebut. Berdasarkan literatur tersebut, diketahui bahwa semakin tinggi persepsi kemudahan penggunaan sistem informasi, maka akan semakin tinggi kinerja yang dimiliki oleh orang tersebut.

3.1.3. Pengaruh Keahlian tehadap Kinerja pengguna SIMDA

Keahlian (Computer Self-Efficacy) dihubungkan dengan suatu

pertimbangan keahlian (kemampuan) seseorang untuk menggunakan suatu komputer. Hal ini berhubungan pertimbangan-pertimbangan dari kemampuan individual untuk menerapkan keahlian-keahlian ini kedalam tugas-tugas yang lebih luas (misalnya menganalisis data keuangan) (Compeau dan Higgins, 1995).

Computer Self-Efficacy mewakili persepsi individual tentang kemampuannya untuk menggunakan computer dalam menyelesaikan suatu tugas.

Dimensi-dimensi dari computer self-efficacy adalah besaran (magnitude), kekuatan (strength), dan generalisabilitas (generalizability).

a. Besaran (Magnitude)

Besaran (magnitude) computer self-efficacy dapat diinterpretasikan untuk merefleksikan tingkat dari kemampuan yang diharapkan dalam melakukan tugas-tugas komputer. Individual-individual yang dengan suatu magnitude

computer self-efficacy yang tinggi diharapkan akan mempersepsikan

dirinya sendiri mampu menyelesaikan tugas-tugas komputasi yang lebih sulit dibanding mereka yang memiliki pertimbangan-pertimbangan yang rendah dari computer self-efficacy. Alternatif lainnya magnitude computer

self-efficacy dapat diukur dalam bentuk tingkat-dukungan yang dibutuhkan

untuk melakukan suatu tugas.

Individual-individual dengan magnitude computer self-efficacyyang tinggi akan menilai dirinya sendiri mampu mengoperasikan suatu tugas dengan dukungan dari antuan yang lebih sedikit dibandingkan dengan mereka

yang mempunyai pertimbangan-pertimbangan rendah dari

magnitudecomputer self-efficacy yang membutuhkan lebih banyak

dukungan dan bantuan dalam melakukan suatu tugas komputasi.

b. Kekuatan Keahlian Komputer (Strength of Computer Self-Efficacy) Kekuatan pertimbangan keahlian komputer (strength of computer

self-efficacy judgement) berhubungan dengan tingkat keyakinan suatu

pertimbangan atau kepercayaan (confidence) yang dimiliki oleh individual-individual mengenai kemampuan untuk melakukan bermacam-macam tugas komputasi. Dengan demikian jika dibandingkan dengan

besara (magnitude) dari keahlian komputer, tidak hanya individual-individual dengan keyakinan sendiri dengan besaran yang tinggi akan mempersepsikan dirinya mampu memecahkan tugas-tugas sulit, tetapi mereka juga harus menunjukkan keyakinan dengan kekuatan yang tinggi tentang kempuan mereka untuk dapat melakukan masing-masing perilaku dengan berhasil.

c. Generalisabilitas Computer Self-Efficacy (Generalizability)

Generalisabi-litas (generalizability) dari computer self-efficacy merefleksikan tingkat seberapa jauh pertimbangan terbatas pada suatu domain komputasi yang tertentu.. Dalam kontek komputasi, domain ini dapat dipandang sebagai kofigurasi-konfigurasi perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak

(software) yang berbeda. Dengan demikian individual dengan

generalisabilitas computer self-efficacy yang tinggi, diharapkan akan mampu dengan baik menggunakan paket-paket perangkat lunak yang berbeda di sistem-sistem komputer yang berbeda pula. Sedangkan mereka yang mempunyai computer self-efficacy rendah, akan mempersepsikan dirinya sendiri hanya terbatas mampu menggunakan paket-paket perangkat lunak atau sistem-sistem komputer tertentu saja. Keahlian komputer (computer self-efficacy) diukur dengan CSE (computer self-efficacy scale) yang dikembangkan oleh Compeau dan Higgins (1995).

3.1.4. Pengaruh Kesenangan yang Dipersepsikan terhadap Kinerja pengguna SIMDA

Kesenangan yang dipersepsikan berarti bahwa segala aktivitas penggunaan sistem informasi dipersepsikan sangatlah menyenangkan (Davis, et al. 1992).

Berbeda dengan manfaat yang dipersepsikan yang dilihat sebagai motivasi yang ekstrinsik, kesenangan yang dipersepsikan dilihat sebagai motivasi yang intrinsik untuk menggunakan sistem informasi akuntansi.

Hasil penelitian tentang kesenangan yang dipersepsikan, yaitu Davis, et al. (1992), Pikkarainen, et al. (2004), menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan terhadap penggunaan sistem informasi. Semakin baik persepsi user terhadap penggunaan sistem informasi diduga akan memberikan pengaruh terhadap penyelesaian serangkaian tugas pegawai, karena dengan persepsi tersebut pegawai akan merasa menggunakan sistem informasi akuntansi merupakan hal yang positif dan bijaksana.

3.1.5. Pengaruh Keamanan dan kerahasiaan terhadap Kinerja pengguna SIMDA

Isu keamanan dan kerahasiaan menjadi isu yang paling diperhatikan oleh pengguna dalam penggunaan Sistem Informasi. Umumnya, pengguna tidak ingin memberikan informasi pribadi, seperti misalnya user name atau password.

Hasil penelitian Firmawan dan Marsono (2009 ) menunjukkan bahwa

security dan privacy berpengaruh terhadap penggunaan Sistem Informasi. Serupa

dengan hasil penelitian Pikkarainen, et al. (2004) menunjukkan bahwa security dan privacy berpengaruh positif terhadap penggunaan Sistem Informasi.

3.1.6. Pengaruh Jumlah Informasi terhadap Kinerja pengguna SIMDA

Jumlah informasi (the amount of information) adalah jumlah informasi yang dapat diperoleh pengguna ketika mengakses sistem informasi. Jika informasi yang diperoleh pengguna ketika mengakses Sistem Informasi hanya sedikit, maka pengguna merasa bahwa Sistem Informasi tidaklah memberikan

kemanfaatan. Jika pengguna merasa Sistem Informasi tidak memberikan kemanfaatan, maka tingkat penggunaan Sistem Informasi akan rendah. Begitu juga sebaliknya, jika jumlah informasi yang dapat diperoleh pengguna ketika mengakses Sistem Informasi itu banyak, maka pengguna merasa bahwa Sistem Informasi telah memberikan kemanfaatan, yang pada akhirnya tingkat penggunaan sistem informasi oleh pengguna akan tinggi. Jika pegawai merasa penggunaan sistem informasi akuntansi tidak memberi manfaat dalam penyelesaian tugasnya, maka akan berdampak keengganan penggunaan sistem informasi akuntansi itu sendiri, dan diduga akan mempengaruhi kinerja pegawai sehingga menjadi tidak maksimal. Penelitian Sathye (1999) dalam Junawamn (2015), menunjukkan bahwa jumlah informasi yang diperoleh pengguna berpengaruh terhadap penggunaan sistem online banking. Hasil ini sejalan dengan penelitian Pikkarainen, et al. (2004) dan Firmawan dan Marsono (2009), menunjukkan bahwa jumlah informasi berpengaruh positif signifikan terhadap penggunaan sistem online banking.

3.1.7. Pengaruh Motivasi terhadap Kinerja pengguna SIMDA

Motivasi kerja adalah dorongan-dorongan yang timbul dari luar dan/atau dalam diri seseorang individu yang menggerakkan dan mengarahkan perilaku pegawai untuk melaksanakan tugas sesuai dengan tugas pokok dan fungsi (Uno, 2007). Motivasi mempunyai hubungan dengan prestasi kerja, dan prestasi kerja tidak mungkin akan menciptakan pekerja yang lebih baik apabila tidak disertai dengan perubahan pengetahuan dan perilaku karena kedua unsur tersebut merupakan suatu hal yang sangat penting dalam meningkatkan kinerja yang lebih

baik. Oleh karena itu, motivasi berpengaruh besar terhadap peningkatan kinerja pengelolaan keuangan SKPD.

Pegawai dengan motivasi kerja yang tinggi dapat diharapkan menghasilkan kinerja yang maksimal. Untuk menjaga kelangsungan operasional SKPD, seorang pemimpin harus memperhatikan serta berusaha memengaruhi dan mendorong pegawainya. Safwan (2014) menyimpulkan motivasi berpengaruh positif signifikan terhadap kinerja pengelolaan keuangan daerah. Berdasarkan penjelasan tersebut, motivasi diprediksi berpengaruh postitif terhadap kinerja pengelolaan keuangan SKPD.

3.1.8. Pengaruh Komitmen organisasi terhadap Kinerja pengguna SIMDA

Komitmen organisasi adalah kesanggupan pegawai dalam melakukan tugas melebihi harapan normal, loyalitas dan tanggung jawab pejabat SKPD sebagai pengelola keuangan SKPD semakin tinggi serta bangga sebagai pegawai yang mengilhami tercapainya tujuan yang telah ditetapkan. Pemahaman yang jelas atas visi dan misi organisasi akan memberikan dampak yang positif terhadap segala perencanaan yang direncanakan didalam organisasi. Setiap anggota organisasi diharapkan mampu membuat perencanaan masing-masing program kerja masing-masing sesuai dengan visi dan misi organisasi. Pemahaman yang baik akan visi dan misi organisasi mendorong setiap anggota organisasi untuk memberikan komitmen dalam rangka peningkatan kinerja pengelolaan keuangan SKPD. Pada penelitian terdahulu, Mahennoko. dan Adiwibowo (2011) menyimpulkan bahwa komitmen organisasi berpengaruh positif signifikan terhadap kinerja pegawai bidang keuangan. Berdasarkan penjelasan tersebut,

komitmen organisasi diprediksi berpengaruh postitif terhadap kinerja pengelolaan keuangan SKPD.

Dokumen terkait