Dari issue dan masalah-masalah dari penelitian ini maka pemikiran sebagai penuntut peneliti dalam penelitian disertasi ini diawali dengan pemahaman bahwa Konstitusi adalah hukum tertinggi, “constitutie is de hoogste wet!32. Setiap Negara memiliki seperangkat hukum dasar (a set of fundamental laws - rules) tentang pembuatan aturan, tentang distribusi kekuasaan, termasuk secara tidak langsung kepada seluruh kekuasaan, termasuk batasan kekuasaan hal inilah disebut konstitusi. Konstitusi dapat tertulis maupun tidak tertulis, rinci atau umum, transisional atau tidak. Aturan
32 Sidin, Irmanputra. A. 17 November 2004. Sengketa DP D, Dari Zaman Plato Hingga Jimly (constitutie is de Hoogste Wet). KOMPAS.
dasar dari sebuah masyarakat tidak dinyatakan hanya dalam bentuk tertulis.
Lebih dari itu, kepercayaan fundamental dan nilai di sebuah masyarakat adalah aturan dasar setidak-tidaknya merupakan bagian tak tertulis, yang terkadang lebih penting kepada warganegara daripada aturan formal dari suatu konstitusi. Oleh karenanya bagian tak tertulis dari konstitusi sama pentingnya dengan bagian formal atau tertulis itu sendiri.33
Sifat tertinggi konstitusi tidak harus menjadikan konstitusi tersebut menjadi “angkuh”, berkepribadian introvert hanya memikirkan dirinya sendiri alias konstitusi itu sendiri dengan segala domestifikasi hukum di bawahnya.
Hal ini bisa membuat konstitusi terjebak dengan eksklusifitas tidak mau
“bergaul” dengan sekelilingnya kemudian menutup diri padahal konstitusi harus bergaul dengan segala perilaku, kebiasaan dan hukum yang hidup disekelilingnya dalam hal ini termasuk dunia internasional.34
Sifat ketertinggian konstitusi justru berada pada ranah batin dan jiwa konstitusi bahwa Konstitusi harus bijaksana, melihat kenyataan dan bergaul
33 Adrian, Charles R., & Pers, Charles, 1965. The American Political Process. Hal.105. Mc Grow Hill Book Company. New York, St Louis, San Fransisico, Toronto, Sidney, London.
34 Sidin, Irmanputra. A dalam Widjajanto (Ed). 2005. Dibalik Palu Mahkamah Konstitusi (Telaaah Judicial Review Terhadap Komisi Pemberantasan Korupsi). Masyarakat Transparansi Indonesia. 79-80; Sidin, Irmanputra. A. 16 Februari 2005. Kewenangan KPK Retroaktif?. Koran Tempo.
di sekelilingnya. Dalam ungkapan Plato dalam bukunya “the laws (nomoi), Konstitusi adalah ”Our whole state in imitation of the best and noblest life”.35
Konstitusi menjadi inklusif terhadap perilaku, kebiasaan, doktrin dan hukum di dunia internasional yang eksis. Konstitusi harus “bergaul” dan sesuatu yang baik kehidupan konstitusionalisme maka konstitusi akan menyerapnya, menerima dan mengadopsinya. Inilah makna ketertinggian konstitusi yang mendapatkan puncak kematangan jiwa inklusif konstitusi yang tidak berkepribadian “angkuh” dan merasa eksklusif sendiri.36 Friedman menyatakan bahwa konstitusi hanyalah sehelai kertas, tidak ada kekuatan gaib pada kata dan frasenya, tetapi kekuatan itu berada pada sistemnya yaitu sikap masyarakat terhadap konstitusi dan pola perilaku dan lembaga disekitar konstitusi. Konstitusi ditafsirkan oleh hakim.37
Oleh karenanya penafsiran konstitusional hak untuk tidak dituntut atas hukum yang berlaku surut dalam keadaan apapun tidak ditafsirkan dengan melakukan domestifikasi normatif konstitusi dengan menutup diri terhadap dunia luar. Apabila konstitusi terjebak dengan domestifikasi konstitusi maka
35 McIlwain, C Howard. 1947. Constitutionalisme: Ancient and Modern. University Press:
Ithaca, New York.
36 Sidin, Irmanputra. A. op.cit; lihat juga Widjajanto (Ed). 2005. Dibalik…op.cit Hal. 79-80.
37 Friedman, Lawrence M, 2001. Hukum Amerika Sebuah Pengantar (American Law An Introduction). Hal. 248-251. Terjemahan Wishnu Basuki. TataNusa: Jakarta.
konstitusi akan berbicara tanpa tutur batin dan jiwa konstitusi yang sesungguhnya inklusif.38
Secara teoritik, setidaknya ada 6 metode utama yang kemudian bercabang menjadi banyak metode constitutional modalities, yakni pola pandang yang dipakai untuk melakukan penafsiran, yakni the historical yang dituliskannya sebagai relying of the intentions of the framers and ratifiers of the Constitution; textual yakni looking to the meaning of the words of the Constitution alone, as they would be interpreted by the average contemporary “man on the street”; structural yakni inferring rules from the relationships that the Constitution mandates among the stuctures it sets up;
doctrinal yakni applying rules generated by precedent; ethical yang
merupakan deriving rules from those moral commitments of the people ethos that are reflected in the Constitution; dan prudential yang merupakan seeking to balance the costs and benefits of a particular rule.39
Jimly Asshiddiqie (2006) mengutip Arief Sidharta yang menuliskan bahwa setidaknya terdapat 9 (sembilan) jenis metode penafsiran yakni; 1.
penafsiran letterlijk (what does the word mean); 2. teori penafsiran gramatikal (what does it linguistically mean); 3. penafsiran historis (what is historical background of the formulation of a text); 4. penafsiran sosiologis (what does
38 Sidin, Irmanputra. A. op.cit; lihat juga Widjajanto (Ed). 2005, Dibalik…op.cit Hal. 79-80.
39 Lihat: Philip Bobbit, 1991. The Modalities of Constitutional Arguments, dalam buku Constitutional Interpretation, hlm. 12-22.
social context of the event to be legally judged); 5. Penafsiran sosio-historis (what does the social context behind the formulation of the text); 6. penafsiran filosofis (what is philosopical thought behind the ideas formulated in the text);
7. penafsiran teleologis ( what does the articles would like to achieve by the formulated text); 8. penafsiran holistic; dan penafsiran holistik tematis-sistematis (what is the theme of articles formulated, or how to understand the articles systematically according to the grouping of the formulation).40
Teori-teori inilah yang dapat dipakai oleh seorang hakim dalam mengkonstruksikan konstitusi menjadi ‘hidup’. Pilihan terhadap teori-teori inilah yang membuka ruang untuk melakukan penafsiran yang dapat menerima norma internasional ke dalam sistem hukum konstitusi atau mungkin bisa jadi menjadi buah hermeunetika konstitusi.
Pada posisi ini, maka mengadopsi nilai-nilai internasional dan nilai kemanusiaan universal ke dalam konstitusi adalah menjadi bagian menjadi tugas hakim dalam setiap penafsirannya. Sesungguhnya, secara historis ide mengadopsi Costumary Internasional Law ke dalam konstitusi seringkali kandas karena pilihannya sering tertolak dengan perihal sovereignity (kedaulatan).41 Pilihan yang dijatuhkan oleh Afrika Selatan yang dengan jelas
40 Lihat: Asshiddiqie, Jimly. 2006. Pengantar Ilmu Hukum Tata Negara. halaman 274-279.
Konstitusi Press: Jakarta.
41 Lihat : Aleinikov, Alexander. T. January 2004. The United States Constitution and Internasional Law Internasional Law: Sovereignty, and American Constitutionalism:
Reflections on the Customary Internasional Law Debate. The American Journal of Internasional Law, American Society of Internasional Law. 6.
mencantumkan pengadopsian nilai-nilai hukum internasional akan cukup membuka perdebatan di tingkat kedaulatan hukum yang dimiliki suatu negara. Karenanya, hal yang paling mungkin dilakukan adalah dengan meminjam penafsiran hakim terhadap konstitusi dengan memasukkan unsur -unsur dan nilai-nilai norma internasional ke dalam konstitusi.
Pada konteks inilah maka penemuan makna hakiki hak untuk tidak dituntut atas hukum berlaku surut dalam Pasal 28I ayat (1) UUD 1945 yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun mengandung beberapa elemen diantaranya bahwa pertama, hak tersebut telah menjadi norma dan hak konstitusional yang tidak lagi sebatas prinsip (beginsel) yaitu prinsip non retroaktif atau HAM (human rights) belaka; kedua, hak ini tidak dapat dilepaskan dengan sejarah kelahiran prinsip legalitas bahwa tiada kejahatan tanpa hukum, tiada hukuman tanpa serta larangan pemberatan hukum yaitu menjatuhkan hukuman lebih berat daripada hukuman yang seharusnya dikenakan ketika pelanggaran hukum itu dilakukan; ketiga, oleh karenanya hak untuk tidak dituntut atas hukum berlaku surut hanyalah sebatas bergerak pada hukum materil saja yaitu kejahatan, delictum, crime, crimen, atau mala.
tidak termasuk pada hukum formil seperti tata cara atau forum, atau mekanisme due process. keempat, bahwa kata “hukum” yang dimaksud yang mengikuti frasa “berlaku surut” dalam Pasal 28I ayat (1) Perubahan Kedua
UUD 1945, sesungguhnya bukan sebatas hukum domestik suatu negara tetapi juga pada kondisi tertentu yaitu kejahatan memiliki karakter bersifat universal yang menjadi perhatian bangsa-bangsa beradab maka “hukum”
yang mengikuti frasa “berlaku surut” juga termasuk hukum yang lintas kedaulatan diantaranya adalah hukum dan kebiasaan internasional. Dalam konsep universal disebutkan bahwa tidak seorang pun boleh dipersalahkan melakukan pelanggaran hukum karena perbuatan atau kelalaian yang tidak merupakan suatu pelanggaran hukum menurut hukum nasional atau internasional, ketika perbuatan tersebut dilakukan. (vide Article 11 UDHR 1948 dan Article 13 ICCPR). Pada konstruksi inilah maka menemukan hakikat prinsip non retroaktif dalam Pasal 28I (1) Perubahan kedua, peneliti tidak terjebak dengan limitasi kelahiran suatu “undang-undang” yang merupakan produk hukum domestik, sebab bisa jadi suatu “undang-undang”
mengatur suatu kejahatan tertentu yang menjadi perhatian masyarakat bangsa-bangsa, maka perenungannya akan dikembalikan apakah benar hal tersebut merupakan kejaha tan baru? Bisa jadi benar dalam bingkai hukum nasional? Namun bisa jadi hal tersebut adalah sudah merupakan kejahatan dalam paham universal yang ditemukana dalam hukum, praktek dan kebiasaan internasional sebelumnya. Pada konteks seperti itu maka makna
“hukum” sebelum frasa “berlaku surut” tidak sebatas hukum nasional tetapi juga hukum internasional, sehingga bisa saja sebuah undang-undang penerapannya diberlakukan ke belakang, dalam penegakan hukum nasional
namun sesungguhnya hal tersebut bukanlah melanggar hak untuk tidak dituntut atas hukum berlaku surut, karena kejahatan atau kelalaian orang tersebut sesungguhnya sudah merupakan kejahatan meski kejahatan tersebut belum “dikemas” kembali sesuai paham hukum internasional dalam bingkai hukum nasional ketika kejahatan tersebut dilakukan.
Kelima, oleh karenanya maka prinsip non retroaktif yang dijabarkan dalam Pasal 28I ayat (1) Perubahan Kedua UUD 1945, tidak menggunakan frasa “undang-undang” dengan berbunyi “hak untuk tidak dituntut atas undang-undang berlaku surut”, namun menggunakan frasa “hak untuk tidak dituntut atas hukum berlaku surut”. Sehingga justifikasi konseptual di atas bahwa hukum yang dimaksud tidak hanya hukum nasional dalam bentuk undang-undang namun juga bisa merupakan hukum dalam kehidupan internasional.
Terakhir, bahwa prinsip ini berada dalam rezim hukum pidana dalam konteks negara hukum indonesia, dan bersifat mutlak yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun meski sangkakala di langit sedang mengaum.
Pada akhirnya dari uraian ini, maka tidak ada ketentuan norma konstitusi yang dapat dikesampingkan atau dikecualikan karena hal ini, dapat ternilai telah mendelegitimasi ketertinggian suatu konstitusi, tinggal sesungguhnya bagaimana menemukan makna terdalam sebuah materi, muatan, ayat, pasal atau bab dari suatu konstitusi. Dengan begitu maka
konsepsi konstitusi sesungguhnya adalah benar-benar adalah hukum tertinggi akan ditemukan.