BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.5 Kerangka Konseptual
Kabupaten Dairi merupakan salah satu kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Utara. Analisis tentang faktor penentu pertumbuhan ekonomi Kabupaten Dairi dibutuhkan sebagai dasar utama untuk perumusan kebijakan pembangunan ekonomi daerah di masa mendatang. Dengan diketahuinya faktor-faktor tersebut, maka pembangunan daerah dapat diarahkan ke komoditi-komoditi unggulan yang dapat mendorong percepatan pembangunan daerah. Keunggulan suatu daerah yang difokuskan pada komoditi unggulan suatu daerah dapat diketahui membandingkan suatu daerah dengan daerah yang lebih tinggi kedudukannya, misalnya provinsi.
Penentuan komoditi unggulan yang dilakukan oleh pemerintah daerah biasanya berdasarkan potensi daerah. Potensi suatu daerah dapat berupa sumber daya alam, sumber daya manusia yang diberdayakan dalam upaya proses pembangunan ekonomi daerah. Dapat juga diketahui bahwa dinamika perekonomian makro Kabupaten Dairi yang terjadi setiap tahun selama tahun 2013-2015 telah mengakibatkan adanya peranan antar sektor, hal ini dapat dilihat dari perbandingan distribusi persentase pendapatan regional atas dasar harga berlaku menurut lapangan usaha setiap tahun sejak tahun 2013-2015. Sehingga dapat mempermudah pemerintah daerah untuk merumuskan strategi kebijakan agar mampu melaksanakan pembangunan guna mewujudkan tujuan pembangunan ekonomi daerah. Perencanaan pembangunan ekonomi bertujuan untuk
meningkatkan kesejahteraan masyarakat, salah satunya dapat dicapai dengan pertumbuhan ekonomi. Dengan demikian, komoditi yang mempunyai perkembangan lebih cepat akan menjadi komoditi unggulan. Konsep pemikiran yang dijadikan dasar dalam penelitian ini dijelaskan dalam gambar 2.1
Gambar 2.1
Kerangka Konseptual Penelitian KOMODITI UNGGULAN
KABUPATEN DAIRI PEMBANGUNAN DAERAH PENENTUAN SEKTOR UNGGULAN PENENTUAN SUB SEKTOR UNGGULAN
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Dairi. Dimana penelitian ini berfungsi sebagai sumber informasi dalam penentuan komoditi unggulan yang dimiliki suatu daerah. Dan juga diharapkan sebagai sebagai salah satu prioritas dalam turut serta membangun perekonomian Kabupaten Dairi.
3.2 Jenis dan Sumber Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data sekunder, antara lain :
1. Pendapatan regional menurut lapangan usaha Kabupaten Dairi dan Provinsi Sumatera Utaraperiode 2013-2015, data ini digunakan untuk analisis sektor unggulan. Data ini diperoleh dari Badan Pusat Statistik Kabupaten Dairi dan Provinsi Sumatera Utara.
2. Produksi sub sektor dan komoditi Kabupaten Dairi dan Provinsi Sumatera Utara periode 2013-2015, data ini digunakan untuk analisis sub sektor dan komoditi unggulan. Data ini diperoleh dari Badan Pusat Statistik Kabupaten Dairi dan Provinsi Sumatera Utara.
3.3 Metode Analisis Data
Untuk menjawab permasalahan yang telah ada maka digunakan sebagai berikut :
Metode Analisis Location Quotient (LQ) digunakan untuk menentukan sektor, sub sektor, komoditi basis dan non basis wilayah perekonomian Kabupaten Dairi.
3.3.1 Analisis Location Quotient (LQ)
Untuk melihat sektor, sub sektor, dan komoditas unggulan di Kabupaten Dairi menggunakan metode Analisis Location Quotient (LQ). Metode LQ merupakan salah satu pendekatan yang umum yang digunakan dalam model ekonomi basis sebagai langkah awal untuk memahami sektor kegiatan dari pendapatan regional Kabupaten Dairi yang menjadi pemacu pertumbuhan.
Metode LQ digunakan untuk mengkaji kondisi perekonomian, mengarah pada identifikasi spesialisasi kegiatan perekonomian. Sehingga nilai LQ yang sering digunakan untuk penentuan sektor, sub sektor, dan komoditi basis dapat dikatakan sebagai sektor, sub sektor, dan komoditi yang akan mendorong tumbuhnya atau berkembangnya sektor, sub sektor, dan komoditi lain serta berdampak pada penciptaan lapangan kerja. Metode ini digunakan untuk dapat mengetahui mampu tidaknya suatu komoditas untuk dapat memenuhi kebutuhan daerah sendiri atau bahkan dapat berkontribusi untuk memenuhi kebutuhan daerah lainnya.
A. Untuk menghitung nilai LQ dalam menentukan sektor unggulan adalah sebagai berikut :
LQ = Si/S Ni/N
Dimana :
LQ = Nilai Location Quotient
Si = PDRB sektor i di Kabupaten Dairi S = PDRB total sektor di Kabupaten Dairi Ni = PDRB sektor i di Provinsi Sumatera Utara N = PDRB total sektor di Provinsi Sumatera Utara
Berdasarkan formulasi yang ditunjukkan dalam persamaan diatas, maka ada tiga kemungkinan nilai LQ yang dapat diperoleh yaitu :
1. Nilai LQ = 1. Ini berarti bahwa tingkat spesialisasi sektor i di daera Kabupaten Dairi adalah sama dengan sektor yang sama dalam perekonomian Provinsi Sumatera Utara.
2. Nilai LQ > 1. Ini berarti bahwa tingkat spesialisasi sektor i di daerah Kabupaten Dairi lebih besar dibandingkan dengan sektor yang sama dalam perekonomian Provinsi Sumatera Utara.
3. Nilai LQ < 1. Ini berarti bahwa tingkat spesialisasi sektor i di daerah Kabupaten Dairi lebih kecil dibandingkan dengan sektor yang sama dalam perekonomian Provinsi Sumatera Utara.
Apabila nilai LQ > 1, maka dapat disimpulkan bahwa sektor tersebut merupakan sektor basis dan potensial untuk dikembangkan sebagai penggerak perekonomian Kabupaten Dairi. Sebaliknya apabila nilai LQ < 1, maka sektor tersebut bukan merupakan sektor basis dan kurang potensial untuk dikembangkan sebagai penggerak perekonomian Kabupaten Dairi.
B. Untuk menghitung nilai LQ dalam menentukan sub sektor unggulan adalah sebagai berikut :
LQ= Nip /NtpRik /Rtk
Dimana:
LQ = Location Quotient
Rik = Produksi sub sektor i pada tingkat Kabupaten Dairi Rtk = Total Produksi sub sektor di tingkat Kabupaten Dairi Nip = Produksi sub sektor i di Provinsi Sumatera Utara Ntp = Total Produksi sub sektor di Provinsi Sumatera Utara
Dengan kriteria :
1. LQ>1 : Maka sub sektor tersebut menjadi sub sektor unggulan di Kabupaten Dairi karena mampu berproduksi lebih banyak daripada jumlah kebutuhan terhadap sub sektor tersebut di Kabupaten Dairi.
Berarti sub sektor tersebut merupakan Basis.
2. LQ=1 : Maka sub sektor tersebut berproduksi hanya mampu memenuhi kebutuhan yang ada di Kabupaten Dairi.
3. LQ<1 : Maka sub sektor tersebut jumlah produksinya tidak dapat memenuhi kebutuhan yang ada di Kabupaten Dairi sehingga diperlukan pasokan dari luar sehinggasub sektor tersebut merupakan non-basis.
C. Untuk menghitung nilai LQ dalam menentukan apa yang menjadi komoditi unggulan di Kabupaten Dairi adalah sebagai berikut :
LQ=Xn /RVnXr/RVr
Dimana:
LQ = Location Quotient
Xr = Produksi Komoditi i pada tingkat Kabupaten Dairi RVr = Total Produksi komoditi di tingkat Kabupaten Dairi Xn = Produksi Komoditi i di Provinsi Sumatera Utara RVn = Total Produksi komoditi di Provinsi Sumatera Utara
Dengan kriteria :
1. LQ>1 : Maka komoditas tersebut menjadi komoditas unggulan di Kabupaten Dairi karena mampu berproduksi lebih banyak daripada jumlah kebutuhan terhadap komoditi tersebut di Kabupaten Dairi.
Berarti komoditi tersebut merupakan Basis.
2. LQ=1 : Maka komoditi tersebut berproduksi hanya mampu memenuhi kebutuhan yang ada di Kabupaten Dairi.
3. LQ<1 : Maka komoditi tersebut jumlah produksinya tidak dapat memenuhi kebutuhan yang ada di Kabupaten Dairi sehingga diperlukan pasokan dari luar sehingga komoditi tersebut merupakan non-basis.
Dalam penelitian ini analisis data dilakukan pada data time series atau data yang dihitung berdasarkan selama periode tertentu. Periode untuk penelitian ini adalah dimulai tahun 2013 sampai dengan 2015. Pengertian komoditi unggulan melalui nilai LQ pada data seperti ini adalah dengan melihat komoditi yang konsisten memberikan nilai LQ > 1 untuk setiap tahunnya selama periode tersebut.
3.4 Defenisi Operasional
Untuk tidak terjadinya saling salah memahami dalam penelitian ini maka penulis memberikan beberapa defenisi-defenisi dari istilah-istilah berikut ini :
1. Laju Pertumbuhan ekonomi, yaitu dengan melalui pendekatan lapangan usaha yang terdiri dari 17 lapangan usaha meliputi lapangan usaha pertanian, kehutanan, dan perikanan; pertambangan dan penggalian; industri pengolahan; pengadaan listrik dan gas; pengadaan air, pengelolaan sampah, limbah, dan daur ulang; konstruksi; perdagangan besar dan eceran; reparasi mobil dan sepeda motor; transportasi dan pergudangan; penyediaan akomodasi dan makan minum; informasi dan komunikasi; jasa keuangan dan asuransi; real estat; jasa perusahaan; administrasi pemerintahan, pertahanan, dan jaminan sosial wajib; jasa pendidikan; jasa kesehatan dan kegiatan sosial; dan jasa lainnya.
2. Sektor-sektor ekonomi, yaitu sektor yang berbagai atas aktivitas produksinya berperan dalam menentukan laju pertumbuhan ekonomi, yang mencakup 17 sektor.
3. Sub sektor ekonomi adalah subsektor yang menjadi subsektor unggulan dalam sektor tersebut.
4. Komoditi Unggulan adalah komoditi yang mampu berproduksi melebihi jumlah produksi lainnya dalam komoditi tersebut.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 GambaranUmum Kabupaten Dairi
Secara geografis Kabupaten Dairi terletak diantara 2°15’00”-3°00’00”
Lintang Utara dan 98°00’-98°30’ Bujur Timur dengan ketinggian wilayah antara 400-1700 meter diatas permukaan laut. Kabupaten Dairi berada di sebelah Barat Daya Provinsi Sumatera Utara dengan luas wilayah adalah lebih kurang 1.927,80 km² atau sekitar 2,69% dari luasProvinsi Sumatera Utara (71.680,68 km²).
Adapun ibu kota Kabupaten Dairi adalah Sidikalang, yang juga sebagai pusat pemerintahan Kabupaten.
Batas-batas wilayah Kabupaten Dairi ialah :
a. Sebelah Utara : Kabupaten Aceh Tenggara (Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam) dan Kabupaten Tanah Karo
b. Sebelah Selatan : Kabupaten Pakpak Bharat
c. Sebelah Barat : Kabupaten Aceh Selatan (Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam)
d. Sebelah Timur : Kabupaten Samosir
Gambar 4.1. Peta Batas Administrasi Kabupaten Dairi
Kabupaten Dairi berada di dataran tinggi Bukit Barisan dengan ketinggian sekitar 400 - 1.700 meter di atas permukaan laut (dpl) atau sekitar 200 meter di atas permukaan Danau Toba dengan karakter topografi yang spesifik dan bervariasi, memiliki curah (ceruk) yang cukup dalam dimana pada musim hujan berfungsi sebagai saluran drainase alami.
Letak Kabupaten Dairi yang strategis dengan jarak sekitar 153 km dari Kota Medan dengan waktu tempuh sekitar 3 jam yang membuat aksessibilitas keluar/masuk Kabupaten Dairi relatif tinggi, baik dari/ke Kota Medan sebagai Primary City Provinsi Sumatera Utara, dan merupakan salah satu jalur menuju Provinsi Aceh. Sedangkan luas wilayah Kabupaten Dairi kurang lebih 192.780 Ha atau sekitar 2,69% dari luas Provinsi Sumatera Utara dengan Ibukota Kabupaten adalah Sidikalang, terdiri dari 15 (lima belas) kecamatan, 169 desa/kelurahan.
Tabel 4.1
Luas wilayah Kabupaten Dairi tahun 2015
No. Kecamatan Luas Wilayah Area(km²) Persentase terhadap Luas Kabupaten Dairi
Sumber: Kabupaten Dairi dalam Angka 2016
Selama tahun 2015 jumlah hari hujan di Kabupaten Dairi adalah 205,80 hari hujan atau rata-rata 17,15 hari hujan per bulan dengan jumlah curah hujan sebanyak 2.977,50 mm atau rata-rata 248,13 mm per bulan. Rata-rata hari hujan yang tertinggi terjadi pada bulan April dan November, yaitu 22,20 hari hujan dan yang terendah terjadi pada bulan Februari yaitu 9,40 hari hujan. Sementara itu, rata-rata curah hujan tertinggi adalah pada bulan Oktober, yaitu sebanyak 346,80 mm dan terendah adalah pada bulan Februari, yaitu 129 mm.
Tabel 4.2
Jumlah hari hujan, curah hujan dan curah hujan maksimum menurut bulan di Kabupaten Dairi tahun 2015
No. Bulan Hari Hujan Curah Hujan Curah Hujan Maksimum
1. Januari 17.4 288.6 95
Sumber:Kabupaten Dairi Dalam angka 2016
Berdasarkan data dari Badan Pertanahan Nasional Kabupaten Dairi, jumlah sertifikat hak atas tanah yang diterbitkan oleh Badan Pertanahan Nasional Kabupaten Dairi selama tahun 2015 adalah sebanyak 1.613 sertifikat, yaitu terdiri dari 1.594 sertifikat hak milik, 1 sertifikat Hak Guna Bangunan, dan 18 sertifikat Hak Guna Bangunan, dan 18 sertifikat Hak Pakai. Jumlah sertifikat hak atas tanah yang diterbitkan tahun 2015 lebih sedikit bila dibandingkan dengan tahun 2014, yaitu mencapai 2.970 sertifikat. Dapat dilihat dalam tabel berikut:
Tabel 4.3
Status Kepemilikan Tanah Menurut Kecamatan dan Jenis Hak Atas Tanah yang Diterbitkan di Kabupaten Dairi tahun 2015
No. Kecamatan Hak Milik Hak Guna Hak Pakai Jumlah
1. Sidikalang 253 0 1 254
2. Berampu 1 0 0 1
Sumber: Kabupaten Dairi dalam Angka 2016
Berdasarkan proyeksi penduduk pertengahan tahun 2015, jumlah penduduk Kabupaten Dairi adalah 279.090 jiwa, terdiri dari 139.401 penduduk laki-laki (49,95 persen) dan 139.689 penduduk perempuan (50,05 persen), dengan rasio jenis kelamin 99,79 persen dan rata-rata kepadatan penduduk mencapai 144,77 jiwa/km².Dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 4.4
Penduduk Kabupaten Dairi Menurut Kecamatan, Jenis Kelamin, dan Rasio Jenis Kelamin tahun 2015
No. Kecamatan Laki-laki Perempuan Jumlah Rasio Jenis Kelamin
1. Sidikalang 25142 24908 50050 100.94
2. Berampu 4202 4115 8317 102.11
3. Sitinjo 6310 6080 12390 103.78
4. Parbuluan 10901 10732 21633 101.57
5. Sumbul 20263 20343 40606 99.61
6. Silahisabungan 2299 2306 4605 99.70
Sumber: Kabupaten Dairi dalam Angka 2016
Sementara itu jumlah rumah tangga adalah 66.825 dengan rata-rata penduduk tiap rumah tangga sebesar 4,18 jiwa/rumah tangga. Dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 4.5
Penduduk, Rumah Tangga, dan Rata-rata Anggota Rumah Tangga Menurut Kecamatan di Kabupaten Dairi tahun 2015
No. Kecamatan Penduduk Rumah Tangga Rata-rata Anggota Rumah Tangga
12. Tigalingga 21912 5624 3.90
13. Gunung Sitember 9354 2399 3.90
14. Pegagan Hilir 15115 3750 4.03
15. Tanah Pinem 20993 5753 3.65
Total 279090 66825 4.18
Sumber: Kabupaten Dairi dalam Angka 2016
Menurut persebaran penduduk tiap kecamatan, penduduk yang lebih banyak adalah di Kecamatan Sidikalang, yaitu 50.050 jiwa (17,93 persen), dengan rata-rata kepadatan penduduk mencapai 708,22 jiwa/km², sedangkan penduduk yang paling sedikit adalah di Kecamatan Silahisabungan, yaitu 4.605 jiwa (1,65 persen) dengan rata-rata kepadatan penduduk hanya 60,90 jiwa/km². Dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.6
Luas Wilayah, Penduduk, dan Kepadatan Penduduk Kabupaten Dairi Menurut Kecamatan tahun 2015
No. Kecamatan Luas Wilayah
Area(km²)
Penduduk Kepadatan Penduduk
1. Sidikalang 70.67 50050 708.22
7. Silima Pungga-pungga 88.35 13006 147.21
8. Lae Parira 42.75 13912 325.43
14. Pegagan Hilir 155.33 15115 97.31
15. Tanah Pinem 439.40 20993 47.78
Total 1927.80 279090 144.77
Sumber: Kabupaten Dairi dalam Angka 2016
4.2 Perkembangan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)
Indikator PDRB ini selain untuk menilai kinerja perekonomian suatu daerah, juga menggambarkan kemampuan suatu daerah dalam mengelola sumber daya yang dimilikinya. Untuk mengetahui perkembangan kinerja perekonomian Sumatera Utara dan Kabupaten Dairi maka dapat dideskripsikan melalui Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sumatera Utara dan Kabupaten Dairi Atas Dasar Harga Berlaku. Berikut ini perkembangan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sumatera Utara dan Kabupaten Dairi Atas Dasar Harga Berlaku selama kurun waktu tahun 2013 – 2015.
Tabel 4.7
Produk Domestik Regional Bruto Provinsi Sumatera Utara Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha (milyar rupiah)
No. Lapangan Usaha 2013 2014 2015 Rata-rata
1. Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan
115190.25 121443.44 125808.05 120813.91
2. Pertambangan dan penggalian
6581.44 6899.06 7732.92 7067.80
3. Industri Pengolahan 93241.47 104224.00 115560.02 104341.83 4. Pengadaan Listrik dan
Gas
6. Konstruksi 60232.62 69460.77 77801.96 69165.11
7. Perdagangan besar dan Eceran, Reparasi Mobil
78324.82 89597.00 99646.14 89189.32
dan sepeda Motor 8. Transportasi dan
Pergudangan
22990.25 25923.44 28501.21 25804.96
9. Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum
10598.78 12283.32 13761.21 12214.43
10. Informasi dan Komunikasi
9594.39 10287.35 11124.25 10335.33
11. Jasa Keuangan dan Asuransi
15738.02 17057.99 19144.95 17313.65
12. Real Estat 20078.79 22786.42 25712.58 22859.26
13. Jasa Perusahaan 4224.04 4836.42 5472.33 4844.26
14. Administrasi Pemerintahan,
Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib
16427.96 18832.08 21234.54 18831.52
15. Jasa Pendidikan 8848.51 9930.06 10713.83 9830.8
16. Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial
4020.16 4604.43 5328.76 4651.11
17. Jasa Lainnya 2332.95 2690.05 3031.75 2684.91
Total 469464.02 521954.95 571722.01 521046.99
Sumber: Data diolah
Berdasarkan tabel di atas, secara umum PDRB Sumatera Utara atas dasar harga berlaku selama periode 2013–2015 menunjukkan tren yang meningkat.
Pada tahun 2013, PDRB atas dasar harga berlaku mencapai Rp. 469464.02 triliun dan nilai ini terus meningkat hingga mencapai Rp. 571722.01 triliun pada tahun 2015. Secara umum nilai PDRB Sumatera Utara atas dasar harga berlaku selama periode tahun 2013–2015 mengalami peningkatan. Kondisi ini didorong oleh peningkatan oleh beberapa sektor ekonomi atau lapangan usaha yang menjadi penyumbang terbesar terhadap nilai PDRB tersebut.
Tabel 4.8
Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Dairi Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha (milyar rupiah)
No. Lapangan Usaha 2013 2014 2015 Rata-rata 1. Pertanian, Kehutanan, dan
Perikanan
2688.65 2865.24 3079.58 1026.83
2. Pertambangan dan penggalian 4.20 4.45 4.77 4.47
3. Industri Pengolahan 18.39 20.42 22.13 20.31
4. Pengadaan Listrik dan Gas 4.20 4.32 4.37 4.29
5. Pengadaan air, Pengelolaan Sampah Limbah, dan Daur Ulang
4.85 5.15 5.65 5.21
6. Konstruksi 710.27 784.04 853.16 782.49
7. Perdagangan besar dan Eceran, Reparasi Mobil dan sepeda Motor
861.20 977.70 1075.20 971.36
8. Transportasi dan Pergudangan 207.18 242.30 263.11 237.53 9. Penyediaan Akomodasi dan
Makan Minum
14. Administrasi Pemerintahan, Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib
576.10 653.20 738.22 655.84
15. Jasa Pendidikan 104.06 119.24 128.78 117.36
16. Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial
35.40 42.82 47.77 41.99
17. Jasa Lainnya 1.15 1.23 1.31 1.23
Total 5711.56 6268.08 6823.16 6267,6
Sumber: Data diolah
Berdasarkan tabel di atas, secara umum PDRB Kabupaten Dairi atas dasar harga berlaku (ADHB) selama periode 2013–2015 menunjukkan tren yang meningkat. Pada tahun 2013, PDRB atas dasar harga berlaku mencapai Rp.
5711.56triliun dan nilai ini terus meningkat hingga mencapai Rp. 6823.16 triliun
pada tahun 2015. Secara umum nilai PDRB Kabupaten Dairi atas dasar harga berlaku selama periode tahun 2013–2015 mengalami peningkatan. Kondisi ini didorong oleh peningkatan oleh beberapa sektor ekonomi atau lapangan usaha yang menjadi penyumbang terbesar terhadap nilai PDRB tersebut.
4.3 Analisis Location Quotient
Analisis Location Quotient (LQ) digunakan untuk mengetahui sektor-sektor ekonomi dalam Produk Dimestik Regional Bruto (PDRB) yang dapat digolongkan ke dalam sektor basis dan non basis. Metode LQ merupakan suatu perbandingan tentang besarnya peranan suatu sektor di Kabupaten Dairi terhadap besarnya peranan sektor tersebut di tingkat Provinsi Sumatera Utara.
Nilai LQ > 1 berarti bahwa peranan suatu sektor di Kabupaten lebih dominan dibandingkan sektor di tingkat provinsi dan sebagai petunjuk bahwa kabupaten surplus akan produk sektor tersebut. Sebaliknya bila nilai LQ < 1 berarti peranan sektor tersebut lebih kecil di kabupaten dibandingkan peranannya di tingkat provinsi.
Nilai LQ dapat dikatakan sebagai petunjuk untuk dijadikan dasar untuk menentukan sektor yang potensial untuk dikembangkan. Karena sektor tersebut tidak saja dapat memenuhi kebutuhan di daerah tersebut, tetapi juga memenuhi kebutuhan dii daerah lain atau dapat dikatakan sebagai surplus.
Tabel 4.9
Menghitung Sektor Unggulan Menggunakan Metode Location Quotient (LQ)
No. Lapangan Usaha PDRB
1. Pertanian, Kehutanan,
dan Perikanan 2877,82 120813,91 1,98 Unggulan
2. Pertambangan dan
penggalian 4,47 7071,14 0,05 Kurang Unggul
3. Industri Pengolahan 20,31 104341,883 0,01 Kurang Unggul 4. Pengadaan Listrik dan
Gas 4,30 590,35 0,60 Kurang Unggul
5. Pengadaan air, Pengelolaan Sampah Limbah, dan Daur Ulang
5,22 505,05 0,85
Kurang Unggul
6. Konstruksi 782,49 69165,12 0,94 Kurang Unggul
7. Perdagangan besar dan Eceran, Reparasi Mobil dan sepeda Motor
971,37 89189,32 0,90
Kurang Unggul
8. Transportasi dan
Pergudangan 237,53 25804,97 0,76 Kurang Unggul
9. Penyediaan Akomodasi
dan Makan Minum 175,52 12214,44 1,19 Unggulan
10. Informasi dan
Komunikasi 61,52 10335,33 0,49 Kurang Unggul
11. Jasa Keuangan dan
Asuransi 136,20 17313,65 0,65 Kurang Unggul
12. Real Estat 170,48 22859,26 0,61 Kurang Unggul
15. Jasa Pendidikan 117,36 9830,80 0,99 Kurang Unggul 16. Jasa Kesehatan dan
Kegiatan Sosial 42,00 4651,12 0,75 Kurang Unggul
17. Jasa Lainnya 1,23 2684,92 0,03 Kurang Unggul
Total 6267,60 521046,99
Sumber: Data diolah
Berdasarkan tabel 4.9 dari hasil perhitungan indeks Location QuotientPDRB Kabupaten Dairi selama tahun 2013-2015, maka dapat
diidentifikasi sektor-sektor basis dan non basis, dimana terdapat tiga sektor unggulan di Kabupaten Dairi, yaitu sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan dengan LQ sebesar 1,98; sektor penyediaan akomodasi dan makan minum dengan LQ sebesar 1,19; dan sektor Administrasi Pemerintahan, Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib dengan LQ sebesar 2,89. Hal ini menunjukkan sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan, sektor penyediaan akomodasi dan makan minum, dan sektor Administrasi Pemerintahan, Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib merupakan sektor basis yang memiliki potensi yang cukup mendukung dan berpengaruh terhadap laju peningkatan pertumbuhan ekonomi Kabupaten Dairi.
Walaupun sektor unggulan merupakan sektor yang potensial untuk dikembangkan dan menjadi prioritas untuk memacu pertumbuhan ekonomi Kabupaten Dairi, akan tetapi peran sektor lainnya atau yang belum dapat dikatakan sebagai unggulan tidak perlu diabaikan begitu saja. Karena dengan adanya sektor unggulan akan dapat membantu pengembangan sektor non unggulan menjadi sektor unggulan yang baru.
4.4 Pembahasan Sektor
Indonesia khususnya Kabupaten Dairi dipengaruhi oleh berbagai sektor perekonomian. Ada 17 sektor-sektor perekonomian yang akan dibahas oleh penulis yakni :
4.3.1 Sektor Pertanian, Kehutanan, Perikanan
Sektor ini mempunyai peranan yang sangat besar terhadap laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Dairi, hal ini ditunjukkan oleh kontribusi rata-rata sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan yang mencapai 2877,82 persen dan menempati urutan pertama dalam kontribusinya terhadap PDRB Kabupaten Dairi.
Berdasarkan analisis LQ, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menunjukkan nilai LQ rata-rata sebesar 1,980263 (>1), hal ini berarti sektor ini merupakan sektor basis. Artinya sektor ini tidak hanya dapat memenuhi kebutuhan Kabupaten Dairi saja, tetapi mampu memenuhi kebutuhan daerah lainnya sehingga sektor ini merupakan sektor yang berpotensi ekspor.
4.3.2 Sektor Pertambangan dan Penggalian
Kontribusi sektor pertambangan dan penggalian terhadap laju pertumbuhan Kabupaten Dairi rata-rata sebesar 4,47 persen dan berada pada urutan keempat terakhir dibandingkan sektor-sektor lain. Berdasarkan analisis LQ, sektor pertambangan dan penggalian menunjukkan nilai LQ rata-rata sebesar 0,052592 (<1), hal ini berarti sektor ini merupakan non basis. Artinya sektor ini kurang mampu memenuhi kebutuhan Kabupaten Dairi sehingga diperlukan pasokan dari luar dan sektor ini merupakan sektor non basis.
4.3.3 Sektor Industri Pengolahan
Kontribusi sektor industri pengolahan terhadap laju pertumbuhan Kabupaten Dairi rata-rata sebesar 20,31 persen dan berada pada urutan ketiga terakhir dibandingkan sektor-sektor lain. Berdasarkan analisis LQ, sektor industri pengolahan rata-rata sebesar 0,016184 (<1), hal ini berarti sektor ini merupakan non basis. Artinya sektor ini kurang mampu memenuhi kebutuhan Kabupaten
Dairi sehingga diperlukan pasokan dari luar dan sektor ini merupakan sektor non basis.
4.3.4 Sektor Pengadaan Lisrik dan Gas
Kontribusi sektor pengadaan listrik dan gas terhadap laju pertumbuhan Kabupaten Dairi rata-rata sebesar 4,30 persen dan berada pada urutan kedua terakhir dibandingkan sektor-sektor lain. Berdasarkan analisis LQ, sektor pengadaan listrik dan gas rata-rata sebesar 0,605059 (<1), hal ini berarti sektor ini merupakan non basis. Artinya sektor ini kurang mampu memenuhi kebutuhan Kabupaten Dairi sehingga diperlukan pasokan dari luar dan sektor ini merupakan sektor non basis.
4.3.5 Sektor Pengadaan air, Pengelolaan Sampah Limbah, dan Daur Ulang Kontribusi sektor pengadaan air, pengelolaan sampah limbah, dan daur ulang terhadap laju pertumbuhan Kabupaten Dairi rata-rata sebesar 5,22 persen dan berada pada urutan kelima terakhir dibandingkan sektor-sektor lain. Berdasarkan analisis LQ, sektor pengadaan air, pengelolaan sampah limbah, dan daur ulang rata-rata sebesar 0,858692 (<1), hal ini berarti sektor ini merupakan non basis.
Artinya sektor ini kurang mampu memenuhi kebutuhan Kabupaten Dairi sehingga diperlukan pasokan dari luar dan sektor ini merupakan sektor non basis.
4.3.6 Sektor Konstruksi
Kontribusi sektor konstruksi terhadap laju pertumbuhan Kabupaten Dairi rata-rata sebesar 782,49 persen dan berada pada urutan ketiga dibandingkan
Kontribusi sektor konstruksi terhadap laju pertumbuhan Kabupaten Dairi rata-rata sebesar 782,49 persen dan berada pada urutan ketiga dibandingkan