• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.6. Kerangka Konseptual

Keputusan struktur modal di dalam perusahaan dapat menggunakan modal sendiri atau pinjaman. Perusahaan dalam mengambil keputusan struktur modal ini tidak hanya berpengaruh terhadap profitabilitas perusahaan, tetapi juga berpengaruh terhadap resiko yang dihadapi oleh perusahaan. Perusahaan membuat keputusan sturktur modal ini dengan memperhatikan beberapa alasan, yaitu: memperluas operasi, mengganti atau memperbarui aktiva tetap, atau untuk mendapatkan beberapa manfaat lainnya dalam jangka panjang (Gitman, 2009).

Salah satu keputusan struktur modal yang digunakan perusahaan adalah dengan menawarkan right issue. Right issue dapat menjadi solusi potensial untuk penyeleksian buruk yang terkait dengan masalah modal dan memiliki biaya langsung yang relatif rendah (Lukose dan Rao, 2003). Namun biaya tidak langsung juga mempengaruhi masalah right issue, seperti: pajak dari penolakan right issue, biaya transaksi dari penjualan kembali right issue, dilusi kepemilikan saham, dan masalah keagenan (Hansen, 1988 dan Eckbo dan Masulis, 1995).

Right issue adalah keputusan struktur modal yang merupakan pembiayaan atau sumber dana jangka panjang yang digunakan untuk investasi agar mendapatkan keuntungan. Bila manajemen gagal dalam mencocokan dana tersebut atau dana jangka panjang digunakan untuk jangka pendek dan sebaliknya maka akan membawa akibat fatal bagi perusahaan. Dengan kata lain akan mempengaruhi keteraturan tentang kinerja security price dan pendapatan dalam seasoned equity offerings (SEO) (Eckbo dan Masulis, 1995 dan Ritter, 2003). Pembiayaan yang dipilih adalah sumber dana dengan biaya paling murah sesuai

dengan kemampuan usaha dalam menghasilkan keuntungan untuk menjaga kinerja keuangan perusahaan (Noer, 2009). Masalah kinerja keuangan perusahaan diklasifikasikan menjadi 3 (tiga), yaitu: efek pengumuman, jangka panjang kinerja operasi, dan jangka panjang kinerja security price (Lukose dan Rao, 2003).

Penilaian kinerja keuangan perusahaan salah satunya dengan analisis rasio. Hal itu dapat dilakukan dengan cross sectional approach untuk mengetahui baik/buruk operasi yang dilakukan perusahaan dibandingkan perusahaan lain, selain itu dengan time series approach untuk membandingkan rasio perusahaan saat ini dengan sebelumnya sehingga dapat diketahui perusahaan maju atau mundur (Brigham dan Houston, 2006).

Analisis rasio keuangan sering digunakan karena memberikan interpretasi yang sesuai dengan kondisi perusahaan yang menjelaskan hubungan yang saling terkait antara variabel. Rasio keuangan dapat terbagi empat, yaitu: rasio leverage (leverage ratio), rasio likuiditas (liquidity ratio), rasio tingkat perputaran (turnover ratio), dan Rasio profitabilitas (profitability ratio) (Brealey, Myers, dan Marcus, 2008). Penelitian ini menggunakan rasio keuangan, yaitu: current ratio, debt ratio, totalassets turnover, return on asset, dan net profit margin.

Current ratio merupakan kemampuan aktiva lancar perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendek dengan aktiva lancar yang dimiliki (Darsono dan Ashari, 2005). Apabila current liabilities meningkat lebih cepat dari current asset maka menyebabkan penurunan yang cepat pada current ratio. Sebaliknya jika current asset meningkat lebih cepat dari current liabilities itu juga tidak baik.

Hal itu menunjukkan perusahaan tidak menguntungkan karena current asset tidak dimanfaatkan dengan baik (Brigham dan Houston, 2006).

Debt ratio adalah rasio yang mengukur berapa besar aktiva perusahaan yang dibiayai oleh kreditur. Apabila semakin tinggi debt ratio semakin besar jumlah modal pinjaman yang digunakan di dalam menghasilkan keuntungan bagi perusahaan yang sangat diinginkan pemegang saham. Namun, para kreditur lebih menyukai debt ratio yang lebih rendah karena semakin rendah membuat kreditur tidak mengalami dampak yang cukup besar ketika terjadi likuidasi (Syamsuddin, 2007).

Total asset turnover digunakan untuk melihat kemampuan perusahaan dalam menggunakan aktiva yang dimiliki untuk menghasilkan penjualan (Darsono dan Ashari, 2005). Apabila semakin tinggi rasio maka semakin baik maka seandainya rasio ini rendah maka dapat melakukan langkah – langkah seperti meningkatkan penjualan, menjual beberapa asset, atau dikombinasikan keduanya (Harahap, 2008).

Return on Asset adalah rasio antara laba bersih terhadap total aktiva mengukur tingkat pengembalian total aktiva setelah beban bunga dan pajak (Brigham dan Houston, 2006). Apabila semakin tinggi ROA menunjukkan perusahaan dapat membeli asset yang sama saat ini dan tingkat pengembalian yang tinggi dan sebaliknya. Net profit margin merupakan gambaran persentase keuntungan bersih yang diperoleh perushaaan untuk setiap penjualan karena adanya unsur pendapatan dan biaya operasional (Darsono dan Ashari, 2005). Apabila semakin besar NPM semakin baik karena terlihat perusahaan baik dalam

mendapatkan laba yang cukup tinggi. Namun, hal itu belum tentu karena margin yang tinggi berarti volume penjualan rendah. Sebaliknya margin yang rendah dan volume penjualan tinggi juga dapat menunjukkan kemampuan perusahaan yang baik (Brigham dan Houston, 2006).

Berdasarkan penjelasan tersebut, maka kerangka konseptual pada penelitian adalah:

1. Perbedaan right issue terhadap kinerja perusahaan sebelum dan sesudah pengumuman dan pengaruh right issue.

Dibandingkan

Gambar 2.1

Kerangka Konseptual Hipotesis Pertama Kinerja perusahaan sebelum pengumuman (Y1) Kinerja perusahaan setelah pengumuman (Y2) Right Issue (X) Rasio Keuangan : 1. Current ratio 2. Debt ratio 3. Total Asset Turnover 4. Return on Asset 5. Net Profit Margin Rasio Keuangan : 1. Current ratio 2. Debt ratio 3. Total Asset Turnover 4. Return on Asset 5. Net Profit Margin

Berdasarkan kerangka konseptual hipotesis pertama diketahui bahwa kinerja perusahaan sebelum right issue akan berpengaruh terhadap kinerja perusahaan setelah right issue. Kinerja perusahaan diproksikan dengan rasio, yaitu: current ratio, debt ratio, total asset turnover, return on asset, dan net profit margin.

2. Perbedaan right issue terhadap kinerja perusahaan yang issuer dan nonissuer.

Dibandingkan

Gambar 2.2

Kerangka Konseptual Hipotesis Kedua Right Issue (X) Perusahaan Issuer (Y1) Rasio Keuangan : 1. Current ratio 2. Debt ratio 3. Total Asset TurnOver 4. Return On Asset 5. Net Profit Margin

Rasio Keuangan : 1. Current ratio 2. Debt ratio 3. Total Asset TurnOver 4. Return On Asset 5. Net Profit Margin Perusahaan Nonissuer

(Y2) P

Berdasarkan kerangka konseptual hipotesis kedua diketahui bahwa akan ada perbedaan kinerja perusahaan issuer dan nonissuer. Kerangka konseptual diatas dibuat dengan penyesuain dari hasil penelitian, dengan kinerja perusahaan diproksikan dengan rasio, yaitu : current ratio, debt ratio, total asset turnover, return on asset, dan net profit margin.

3. Pengaruh right issue terhadap kinerja perusahaan yang dilihat pada current ratio, debt ratio, total asset turnover, return on asset, dan net profit margin.

Gambar 2.3

Kerangka Konseptual Hipotesis Ketiga

Kerangka konseptual pada hipotesis ketiga menunujukkan adanya pengaruh right issue terhadap kinerja perusahaan. Right issue akan mempengaruhi kinerja perusahaan secara parsial. Kinerja perusahaan dianalisa berdasarkan rasio,

Right Issue (X) Current ratio (Y1) Debt ratio (Y2)

Total Asset Turnover (Y3)

Return on Asset (Y4)

Net Profit Margin (Y5)

yaitu: current ratio, debt ratio, total asset turnover, return on asset, dan net profit margin. Untuk itu right issue harus berpengaruh signifikan pada current ratio, total asset turnover, return on asset, dan net profit margin, dan berpengaruh negatif pada debt ratio.

Dokumen terkait