Kerangka Pemikiran
Kegiatan penyuluhan pertanian adalah kegiatan terencana dan berkelanjutan yang harus diorganisasikan dengan baik. Pengorganisasian penyuluhan pertanian dilakukan dengan tujuan mengefisienkan pelaksanaan kewenangan, tugas dan fungsi, manajemen dan pengelolaan sumberdaya. Organisasi atau kelembagaan penyuluhan pertanian sangat mempengaruhi kompetensi dan tingkat kinerja penyuluh pertanian.
Secara konseptual Samson (Rahmat, 2001) mengemukakan bahwa karakteristik individu merupakan sifat yang dimiliki seseorang yang berhubungan dengan aspek kehidupan dan lingkungannya. Kaitan dengan kinerja penyuluh (Padmowihardjo, 2000) bahwa karakteristik individu mempengaruhi proses belajar seseorang sehingga (Spencer dan Spencer, 1993) dapat membentuk kompetensi dan menciptakan kinerja yang baik.
Proses penyelenggaraan penyuluhan pertanian dapat berjalan dengan baik dan benar apabila didukung dengan tenaga penyuluh yang profesional, kelembagaan penyuluh yang handal, materi penyuluhan yang terus-menerus mengalir, sistem penyelenggaraan penyuluhan yang benar serta metode penyuluhan yang tepat dan manajemen penyuluhan yang polivalen (Warya, 2008).
Rusmono (2011), bahwa permasalahan yang dihadapi dalam penyediaan dan pemanfaatan sumberdaya penyuluhan pertanian sebagai berikut; (1) Sulitnya mendapatkan informasi dan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan spesifik lokalita karena terbatasnya kemampuan penyuluh pertanian untuk mengakses sumber-sumber informasi dan teknologi. Kondisi ini menyebabkan kurang berkembangnya pengetahuan, kemampuan dan wawasan penyuluh pertanian untuk menyediakan materi penyuluhan yang dibutuhkan petani; (2) Terbatasnya sarana dan prasarana yang dimiliki penyuluh pertanian dalam melaksanakan tugas dan fungsinya. Hal ini menyebabkan rendahnya mobilitas penyuluh pertanian dan kurang optimalnya pelayanan terhadap petani; (3) Pembiayaan penyuluhan pertanian yang bersumber dari Pemerintah, Provinsi dan Kabupaten/Kota baik melalui dana dekonsentrasi, dana alokasi umum (DAU), dan APBN maupun kontribusi dari petani dan swasta masih sangat terbatas.
Pasca diberlakukannya otonomi daerah telah terjadi perubahan yang mendasar terhadap pembinaan penyuluh pertanian, sebagaimana dikemukakan oleh Menteri
Pertanian Republik Indonesia (Sinar Harapan, 2008) dikutip dari http://blog- husni.blogspot.com, yang semula dilaksanakan oleh pusat bergeser ke daerah. Salah satu dampak negatif dari kebijakan ini adalah cenderung semakin terbatasnya sarana dan dana yang dapat dialokasikan untuk menunjang kegiatan penyuluh pertanian di lapangan sehingga menurunkan kinerja para penyuluh.
Dengan terbentuknya kelembagaan penyuluhan sesuai dengan amanat Undang- Undang Nomor 16 Tahun 2006, maka peranan penyuluh pertanian dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya menjadi bertambah. Hal ini tentu membutuhkan tenaga-tenaga penyuluh yang memiliki kompetensi dan kinerja baik, sementara disisi lain kualitas sumberdaya yang dimiliki penyuluh pertanian khususnya di Kota Tidore Kepulauan Provinsi Maluku Utara saat ini masih tergolong rendah. Rendahnya kompetensi tersebut menyebabkan kinerja penyelenggaraan penyuluhan pertanian menjadi tidak optimal.
Sumardjo (2010) berpendapat bahwa dalam konteks penyuluhan yang perlu dikembangkan dari penyuluh sebagai kapital manusia (human capital) meliputi kompetensi-kompetensi personal, sosial, andragogik, dan komunikasi inovatif. Penyuluh yang memiliki kompetensi-kompetensi tersebut diharapkan dapat meningkatkan kinerjanya sesuai dengan tuntutan tugasnya sebagai penyuluh. Beberapa hasil penelitian disertasi (Sumardjo, 2010) telah menunjukkan bahwa tingkat kinerja penyuluh pertanian sangat dipengaruhi oleh karakteristik internal dan eksternal penyuluh serta rendahnya kompetensi penyuluh.
Kinerja penyuluh di Kota Tidore Kepulauan pun menunjukkan fakta yang sama, sehingga berdampak negatif terhadap pembangunan pertanian dan perekonomian daerah. Oleh karena itu bertolak dari pemikiran yang ada, maka diperlukan suatu penelitian terhadap kinerja penyuluh pertanian yang ada di Kota Tidore Kepulauan untuk mengetahui faktor karakteristik internal, eksternal dan kompetensi manakah sebagai faktor penentu kinerja penyuluh pertanian, untuk selanjutnya digunakan sebagai dasar dalam perumusan strategi penyelenggaraan penyuluhan pertanian yang tepat di Kota Tidore Kepulauan Provinsi Maluku Utara.
Hipotesis Penelitian
Berdasarkan kerangka berpikir yang telah dijelaskan, dapat dirumuskan hipotesis kerja penelitian sebagai berikut :
(1) Terdapat hubungan nyata antara faktor karakteristik internal, eksternal dan kompetensi penyuluh dengan kinerja penyuluh pertanian.
(2) Karakteristik internal, eksternal dan kompetensi penyuluh berpengaruh nyata terhadap kinerja penyuluh pertanian.
Gambar 1 Alur Kerangka Berpikir Penelitian
Kompetensi Tugas Penyuluh Pertanian (X3)
1. Pengelolaan program penyuluhan
2. Pengelolaan kegiatan penyuluhan
3. Pengelolaan evaluasi penyuluhan 4. Penguasaan dan penerapan
prinsip belajar orang dewasa 5. Berkomunikasi
6. Bekerjasama
Karakteristik Internal Penyuluh (X1) 1. Umur 2. Masa Kerja 3. Pendidikan 4. Pelatihan 5. Motivasi
6. Persepsi terhadap Tugas 7. Pemanfaatan Media 8. Hubungan Interpersonal 9. Jumlah Kelompok Binaan
Tingkat Kinerja Penyuluh Pertanian (Y)
1. Kemampuan dalam merencanakan 2. Kemampuan dalam melaksanakan 3. Kemampuan dalam mengevaluasi
4.Inisiatif
5.Kreativitas
6.Kerjasama
7.Komunikasi
Karakteristik Eksternal Penyuluh (X2)
1. Dukungan Administrasi 2. Ketepatan Kebijakan Organisasi 3. Ketersediaan Sarana dan Prasarana 4. Dukungan Sistem Penghargaan 5. Kondisi Lingkungan Kerja 6. Keterjangkauan Daerah Tempat
Bekerja
7. Tingkat Partisipasi Aktif Masyarakat
Rancangan dan Lokasi Penelitian
Penelitian ini dirancang berbentuk survei yang dengan penjelasan
(eksplanatory research), yaitu menjelaskan pengaruh dan hubungan antara peubah- peubah penelitian melalui pengujian hipotesis yang dirumuskan (Singarimbun dan Effendi, 1989) yang dilakukan terhadap populasi penyuluh dengan menggunakan instrumen angket dalam bentuk pertanyaan tertutup dan teknik wawancara dengan pengolahan kuantitatif yang dijelaskan secara kualitatif.
Menurut Singarimbun dan Effendi (1989), kombinasi pendekatan kuantitatif dalam penelitian survey dilakukan sebagai upaya untuk memperkaya data dan lebih memahami fenomena sosial yang diteliti. Data diambil dari sampel dengan tujuan untuk mendapatkan generalisasi dari observasi yang dilakukan, sehingga perlu dipertimbangkan teknik pengambilan sampel dan pengumpulan data secara benar.
Penelitian ini dilaksanakan di Kota Tidore Kepulauan Provinsi Maluku Utara. Penentuan lokasi penelitian dipilih secara sengaja “purpose sampling” berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tertentu (Singarimbun dan Effendi, 1989). penelitian dilaksanakan pada bulan pertengahan bulan Mei samapai bulan Juni 2011.
Alasan memilih Kota Tidore Kepulauan sebagai lokasi penelitian yakni; (1) Kota Tidore adalah salah satu dari 9 Kabupaten/Kota di Provinsi Maluku Utara yang telah membentuk kelembagaan penyuluhan sesuai Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2006, (2) Jumlah dan distribusi penyuluh di Kota Tidore Kepulauan tersebar merata, dan (3) dibandingkan dengan Kabupaten/Kota lain di Provinsi Maluku Utara, lokasi penelitian ini memiliki kualifikasi penyuluh yang lengkap sesuai komoditas/subsektor (penyuluh tanaman pangan/hortikultura, penyuluh peternakan, penyuluh perkebunan, penyuluh perikanan dan penyuluh kehutanan).
Populasi Penelitian
Populasi merupakan objek atau subjek yang berada pada suatu wilayah dan memenuhi syarat-syarat tertentu berkaitan dengan masalah penelitian yang menurut sifatnya terbagi menjadi populasi homogen dan populasi heterogen, sedangkan sampel
adalah bagian dari populasi yang mempunyai ciri-ciri atau keadaan tertentu yang akan diteliti (Riduwan, 2009).
Untuk mengumpulkan data faktor-faktor yang berpengaruh terhadap tingkat kinerja penyuluh pertanian digunakan instrumen angket/kuesioner dengan pertanyaan tertutup dan wawancara mendalam. Unit analisis dari penelitian ini adalah penyuluh pertanian PNS di Kota Tidore sebagai populasi terjangkau dari populasi target yang ada di provinsi Maluku Utara
Jumlah populasi yang menjadi dasar dalam penentuan responden adalah 67 orang yang berstatus sebagai penyuluh PNS. Terkait dengan penggunaan metode sensus, maka populasi yang ditetapkan sebagai responden dalam penelitian ini meliputi penyuluh PNS yang memiliki wilayah kerja sebanyak 56 orang.
Untuk mengukur kompetensi penyuluh pertanian selain responden dari penyuluh juga diambil 30 orang petani sebagai respoden yang meliputi 10 orang dari petani binaan penyuluh yang tinggi kinerjanya, 10 orang dari petani binaan penyuluh yang kinerjanya sedang dan 10 orang dari petani binaan penyuluh yang kinerjanya rendah menurut pengamatan peneliti.
Jenis dan Teknik Pengumpulan Data
Jenis data yang dikumpulkan terdiri atas data primer dan data sekunder. Data primer dikumpulkan melalui wawancara langsung dengan menggunakan kuisioner terhadap responden terpilih dan menggali berbagai informasi yang dikumpulkan dari berbagai sumber (informan) di dalam pelaksanaan penelitian sebagai data kualitatifnya. Informasi yang dipilih terdiri dari; para pemegang jabatan eselon II dan III lingkup pertanian, perikanan, dan kehutanan.
Data sekunder diperoleh dari berbagai sumber data yang relevan dengan penelitian melalui penelusuran berbagai kepustakaan dan dokumen, antara lain: (1) laporan tahunan instansi lintas sektor, (2) Kota Tidore Kepulauan dalam Angka), dan (3) hasil-hasil penelitian yang pernah dilakukan serta informasi lainnya yang relevan dengan tujuan penelitian ini.
Validitas dan Reliabilitas
Instrumen atau alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner yang berisi daftar pertanyaan yang berhubungan dengan peubah yang dikaji. Validitas instrument adalah tingkat kesesuaian antara konsep dengan hasil pengukuran dari konsep yang bersangkutan. Kesesuaian ditentukan dengan mengadakan perbandingan antara konsep nominal dengan defenisi operasional. Validitas daftar pertanyaan diperlukan untuk mendapatkan data yang sesuai dengan tujuan penelitian.
Menurut Ancok (Singarimbun dan Effendi, 1989) bahwa alat ukur dikatakan sahih (valid) bila alat ukur tersebut dapat menukur obyek yang sebenarnya ingin diukur. Terdapat beberapa cara untuk mengukur kesahihan atau keabsahan suatu alat ukur yang dipakai, yaitu (1) validitas konstruk : artinya peneliti menyusun tolak ukur operasional dari kerangka suatu konsep yang akan diukur, (2) Validitas isi : yakni alat ukur tersebut mewakili aspek kerangka konsep, dan (3) validitas eksternal : yaitu alat ukur baru yang akan digunakan tidak berbeda hasilnya jika dibandingkan dengan alat ukur yang sudah valid.
Pengujian validitas instrumen dalam penelitian ini digunakan cara validitas konstruk, yakni menyusun tolok ukur operasional dari kerangka suatu konsep dengan cara pemahaman atau logika atas dasar pengetahuan ilmiah yang isi kuesionernya disesuaikan dengan konsep dan teori yang telah dikemukakan oleh para ahli. Disamping itu, melakukan konsultasi dengan pihak yang dianggap menguasai materi daftar kuesioner yang digunakan.
Pengujian alat ukur dilaksanakan terhadap 30 orang responden penyuluh pertanian diluar populasi penelitian yang mempunyai karakteristik dan kondisi yang hampir sama dengan penyuluh responden pada penelitian ini. Hasil uji instrumen pada sub-sub peubah karakteristik internal (X1), karakteristik eksternal (X2), kompetensi penyuluh ( X3), dan tingkat kinerja penyuluh pertanian (Y), menunjukkan nilai koefisien sangat signifikan. Artinya, istrumen dapat digunakan untuk melaksanakan penelitian. Besarnya nilai rata-rata koefisien per sub peubah bebas (X) dan sub peubah terikat (Y) disajikan pada Tabel 1.
Reliabilitas adalah indeks yang menunjukan tingkat konsistensi suatu alat ukur, sehingga dapat dipercaya atau diandalkan. Suatu alat ukur dikatakan mempunyai tingkat keterandalan tinggi (reliable)apabila alat ukur tersebut digunakan dua kali atau
lebih untuk mengukur gejala yang sama mempunyai hasil pengukuran relatif konsisten (Singarimbun dan Effendi, 1989).
Tabel 1 Hasil uji validitas instrumen karakteristik internal, eksternal, kompetensi penyuluh, dan tingkat kinerja penyuluh pertanian.
Peubah/Sub-sub Peubah Jumlah
Instrumen Koefisien Rata-rata Keterangan Karakteristik Internal (X1) Pelatihan (X1.4) Motivasi (X1.5)
Persepsi penyuluh terhdp tugas (X1.6) Pemanfaatan media (X1.7) Hubungan interpersonal (X1.8) 3 4 6 2 4 0.877** 0.515** 0.471** 0.870** 0.537** Valid Valid Valid Valid Valid Karakteristik Eksternal (X2) Dukungan administrasi (X2.1) Ketepatan kebijakan (X2.2) Ketersediaan sarana/prasarana (X2.3) Sistem Penghargaan (X2.4) Lingkungan kerja (X2.5) Jangkauan lokasi tugas (X2.6) Partisipasi aktif masyarakat (X2.7) Supervisi dan Monitoring (X2.8)
2 2 4 4 3 2 2 3 0.918** 0.467** 0.514** 0.555** 0.636** 0.765** 0.885** 0.749** Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Kompetensi Penyuluh (X3)
Perencanaan program peny (X3.1) Pelaksanaan program peny (X3.2) Pengevaluasian program peny (X3.3) Penerapan prinsip BOD (X3.4) Komunikasi (X3.5) Kerjasama (X3.6) 10 6 7 5 4 3 0.485** 0.546** 0.419** 0.437** 0.567** 0.529** Valid Valid Valid Valid Valid Valid
Tingkat Kinerja Penyuluh (Y)
Perencanaan program peny (Y1) Pelaksanaan program peny (Y2) Pengevaluasian program peny (Y3) Inisiatif (Y4) Kreativitas (Y5) Kerjasama (Y6) Komunikasi (Y7) 6 7 4 3 4 3 4 0.561** 0.424** 0.610** 0.686** 0.583** 0.674** 0.557** Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid
Pengujian reliabilitas alat ukur dalam penelitian ini menggunakan rumus koefisien alpha, yaitu :
k Vi α = 1 - k – 1 Vt
Dimana :
α : Reliabilitas alat ukur k : Banyaknya butir pertanyaan Vi : Jumlah varians butir pertanyaan Vt : Varians total
Tabel 2. Hasil uji reliabilitas instrument karakteristik internal, eksternal, kompetensi penyuluh, dan tingkat kinerja penyuluh pertanian
No Peubah penelitian Koefisien Cronbach (α)
1 2 3 4
Karakteristik Internal Penyuluh (X1) Karakteristik Eksternal Penyuluh (X2) Kompetensi Penyuluh (X3)
Tingkat Kinerja Penyuluh (Y)
0.638 0.831 0.701 0.770
Nilai cronbach alpha pada Tabel 2, menunjukkan karakteristik internal (X1) sebesar 0.290, karakteristik eksternal (X2) sebesar 0.831, kompetensi penyuluh (X3) sebesar 0.701 dan tingkat kinerja penyuluh pertanian (Y) sebesar 0.770 . Besarnya nilai cronbach alpha tersebut berarti instrumen yang digunakan sebagai alat ukur sudah reliabel, sehingga dapat digunakan untuk melaksanakan penelitian.
Definisi Istilah
1. Penyuluhan adalah proses pembelajaran bagi pelaku utama serta pelaku usaha agar mereka mau dan mampu menolong dan mengorganisasikan dirinya dalam mengakses informasi pasar, teknologi, permodalan, dan sumberdaya lainnya, sebagai upaya untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi usaha, pendapatan dan kesejahteraannya, serta meningkatkan kesadaran dalam pelestarian fungsi lingkungan hidup (Undang-undang Nomor 16 Tahun 2006).
2. Penyuluh adalah perorangan warga negara Indonesia yang tugasnya melakukan kegiatan penyuluhan (Undang-undang Nomor 16 Tahun 2006).
3. Penyuluh pegawai negeri sipil adalah pegawai negeri sipil yang diberi tugas, tanggung jawab, wewenang dan hak secara penuh oleh pejabat berwenang pada
satuan organisasi lingkup pertanian, perikanan dan kehutanan untuk melakukan kegiatan penyuluhan (Undang-undang Nomor 16 Tahun 2006).
4. Karakteristik individu adalah ciri-ciri yang dimiliki seseorang yang berhubungan dengan aspek kehidupan dan lingkungannya (Rahmat, 2001)
5. Kompetensi adalah kemampuan-kemampuan fungsional yang dimiliki seorang penyuluh sehingga yang bersangkutan mampu menyelesaikan perannya (Gilley dan Eggland, 1989).
6. Kinerja adalah hasil dari suatu pekerjaan yang dapat dilihat atau yang dapat dirasakan secara kognitif, afektif maupun psikomotorik (Padmowihardjo, 2010). 7. Strategi adalah sesuatu tindakan yang di pikirkan, diprogramkan, direncanakan,
dirancang secara sistematis, dan diarahkan pada suatu tujuan dan aktivitas yang disengaja (Sumardjo, 1999)
Definisi Operasional dan Pengukuran Peubah
Menurut Singarimbun dan Effendi (1989) bahwa pengukuran merupakan penunjukan angka pada peubah menurut aturan yang telah ditentukan. Berdasarkan pengertian tersebut maka definisi operasional, indikator, dan pengukuran terhadap peubah yang telah ditetapkan dalam penelitian ini meliputi karakteristik internal (X1), karakteristik eksternal (X2), kompetensi penyuluh pertanian (X3) dan tingkat kinerja penyuluh pertanian (Y), dengan masing-masing sub peubah sebagai berikut :
Karakteristik internal (X1)
1. Umur (X1.1), adalah usia responden pada saat penelitian dilakukan. Pengukuran dalam jumlah tahun usia responden sejak ia dilahirkan sampai tahun penelitian dilakukan. Data hasil penelitian yang diperoleh bahwa umur penyuluh responden berkisar antara 25 hingga 51 tahun. Dalam penelitian umur responden ini diklasifikasikan dalam 3 kategori, yaitu : (1) muda (25 – 34), (2) sedang (35 – 44), dan (3) tua (45 – 54).
2. Masa Kerja (X1.2). adalah lamanya penyuluh bekerja, pengukuran dalam tahun sejak penyuluh yang bersangkutan mulai bekerja sampai saat wawancara di lakukan dalam satuan tahun. Data hasil pengukuran diklasifikasikan dalam 3 kategori, yaitu : (1) baru (3 - 12), (2) sedang (13 - 22), dan (3) lama (23 - 32).
3. Pendidikan Formal (X1.3). adalah pendidikan formal tertinggi diikuti penyuluh. Pengukuran dengan menghitung lamanya tahun responden mengikuti pendidikan formal (yang sederajat). Data hasil pengukuran diklasifikasikan dalam 3 kategori, yaitu : (1) rendah (12 - 13), (2) sedang (14 - 15), dan (3) tinggi (16 - 17).
4. Pelatihan (X1.4). adalah pendidikan nonformal yang diikuti penyuluh. Pengukuran dilakukan dengan melihat frekuensi penyuluh yang bersangkutan dalam mengikuti pelatihan dan tingkat kesesuaian materi pelatihan. Data hasil pengukuran diklasifikasikan dalam 3 kategori, yaitu : (1) rendah (3 - 5), (2) sedang (6 - 8), dan (3) tinggi (9 - 11).
5. Motivasi (X1.5). adalah besarnya dorongan responden, baik secara intrinsik
maupun ekstrinsik untuk bekerja sebagai penyuluh. Pengukuran dilakukan terhadap tingkat motivasi responden dalam bekerja. Data hasil pengukuran diklasifikasikan dalam 3 kategori, yaitu : (1) rendah (4 – 7), (2) sedang (8 - 11), dan (3) tinggi (12 - 15).
6. Persepsi terhadap pekerjaan/tugas (X1.6). adalah kesan, tanggapan atau pandangan penyuluh terhadap pepekerjaan/tugas yang diembannya. Di ukur dari tingkat persepsi responden terhadap pekerjaan/tugas. Data hasil pengukuran diklasifikasikan dalam 3 kategori, yaitu : (1) rendah (6 - 10), (2) sedang (11 - 15), dan (3), tinggi (16 - 20).
7. Pemanfaatan media (X1.7). adalah jumlah dan tingkat kemanfaatan media yang dimanfaatkan penyuluh berkaitan dengan bidang tugas. Pengukuran dilakukan terhadap tingkat pemanfaatan media oleh penyuluh. Data hasil pengukuran diklasifikasikan dalam 3 kategori, yaitu : (1) rendah (2 - 3), (2) sedang (4 - 5), dan (3) tinggi (6 - 7).
8. Hubungan Interpersonal (X1.8). adalah hubungan keakraban yang terjalin dalam organisasi. Pengukuran dilakukan terhadap hubungan penyuluh dengan pimpinan dan stakeholder. Data hasil pengukuran diklasifikasikan dalam 3 kategori, yaitu : (1) jauh (4 - 7), (2) kurang dekat (8 - 11), dan (3) dekat (12 - 15).
9. Jumlah kelompok binaan (X1.9). adalah banyak kelompok tani yang dibina penyuluh. Pengukuran dilakukan terhadap jumlah kelompok tani yang dibina penyuluh. Data hasil pengukuran diklasifikasikan dalam 3 kategori, yaitu : (1) sedikit (1 - 2), (2) sedang (3 - 4), dan (3) banyak (5 - 6).
Karakteristik Eksternal (X2)
1. Dukungan administrasi (X2.1). adalah pengelolaan administrasi dalam organisasi (kelembagaan penyuluhan) yang dirasakan penyuluh. Pengukuran dilakukan terhadap administrasi yang mendukung tugas-tugas penyuluh. Data hasil pengukuran diklasifikasikan dalam 3 kategori, yaitu : (1) tidak mendukung (2 - 3), (2) mendukung (4 - 5), dan (3) sangat mendukung (6 - 7).
2. Ketepatan kebijakan organisasi (X2.2). adalah adanya kebijakan-kebijakan dalam organisasi (kelembagaan penyuluhan) yang dirasakan penyuluh. Pengukuran dilakukan terhadap ketepatan kebijakan yang dikeluarkan oleh kelembagaan penyuluhan dalam mendukung tugas-tugas penyuluh. Data hasil pengukuran diklasifikasikan dalam 3 kategori, yaitu : (1) tidak tepat (2 - 3), (2) tepat (4 - 5), dan (3) sangat tepat (6 - 7).
3. Ketersediaan sarana dan prasarana (X2.3). adalah dukungan sarana dan prasarana terhadap tugas penyuluh. Pengukuran dilakukan terhadap ketersediaan sarana dan prasarana oleh kelembagaan penyuluhan dalam mendukung tugas-tugas penyuluh. Data hasil pengukuran diklasifikasikan dalam 3 kategori, yaitu : (1) tidak tersedia (3 - 5), (2) tersedia (6 - 8), dan (3) sangat tersedia (9 - 11).
4. Dukungan sistem penghargaan (X2.4). adalah pengakuan atau penghargaan yang diterima penyuluh. Pengukuran dilakukan terhadap penghargaan yang di berikan oleh pemerintah daerah. Data hasil pengukuran diklasifikasikan dalam 3 kategori, yaitu : (1) tidak pernah (3 - 5), (2) jarang (6 - 8), dan (3) sering (9 - 11).
5. Kondisi lingkungan kerja (X2.5). adalah lingkungan kerja organisasi yang mendukung tugas penyuluh. Pengukuran dilakukan terhadap tingkat kenyamanan yang dirasakan oleh penyuluh. Data hasil pengukuran diklasifikasikan dalam 3 kategori, yaitu : (1) tidak nyaman (3 - 5), (2) nyaman (6 - 8), dan (3) sangat nyaman (9 - 11).
6. Keterjangkauan daerah tempat bekerja (X2.6). adalah keterjangkauan penyuluh terhadap lokasi tempat bekerja. Pengukuran dilakukan terhadap jarak yang harus ditempuh oleh penyuluh. Data hasil pengukuran diklasifikasikan dalam 3 kategori, yaitu : (1) jauh (2 - 3), (2) sedang (4 - 5), dan (3) dekat (6 - 7).
7. Tingkat partisipasi aktif masyarakat (X2.7). adalah tingkat partisipasi masyarakat terhadap kegiatan penyuluhan. Pengukuran dilakukan terhadap tingkat keterlibatan
masyarakat dalam kegiatan yang dilaksanakan oleh penyuluh. Data hasil pengukuran diklasifikasikan dalam 3 kategori, yaitu : (1) rendah (2 - 3), (2) sedang (4 - 5), dan (3) tinggi (6 - 7).
8. Dukungan supervisi dan monitoring (X2.8). adalah bentuk pembinaan dan pengawasan kelembagaan penyuluhan terhadap kegiatan penyuluh. Pengukuran dilakukan terhadap frekuensi supervisi dan monitoring oleh instansi pembina. Data hasil pengukuran diklasifikasikan dalam 3 kategori, yaitu : (1) tidak pernah (3 - 5), (2) jarang (6 - 8), dan (3) sering (9 - 11).
Kompetensi Penyuluh Pertanian (X3)
1. Perencanaan program penyuluhan (X3.1), adalah. kemampuan penyuluh dalam merencanakan kegiatan penyuluhan. Pengukuran dilakukan terhadap tingkat kemampuan penyuluh dalam membuat programa, rencana kerja identifikasi potensi wilayah. Data hasil pengukuran diklasifikasikan dalam 3 kategori, yaitu : (1) Tidak kompeten (≤ 7), (2) Kurang kompeten (7 - 12), dan (3) Sangat kompeten (≥ 12).
2. Pelaksanaan program penyuluhan (X3.2). adalah kemampuan penyuluh dalam melaksanakan kegiatan penyuluhan. Pengukuran dilakukan terhadap tingkat kemampuan penyuluh melaksanakan kegiatan penyuluhan. Data hasil pengukuran diklasifikasikan dalam 3 kategori, yaitu : (1) Tidak kompeten (5 - 8), (2) Kurang kompeten (9 - 12), dan (3) Sangat Kompeten (13 - 16).
3. Pengevaluasian program penyuluhan (X3.3) adalah kemampuan penyuluh dalam mengevaluasi kegiatan penyuluhan. Pengukuran dilakukan terhadap tingkat kemampuan penyuluh dalam mengevaluasi kegiatan penyuluhan. Data hasil pengukuran diklasifikasikan dalam 3 kategori, yaitu : (1) Tidak kompeten (6 - 11), (2) Kurang kompeten (12 - 16), dan (3) Sangat kompeten (17 - 22).
4. Kemampuan menerapkan prinsip belajar orang dewasa (X3.4). adalah kemampuan penyuluh menerapkan metode belajar orang dewasa ke dalam kegiatan penyuluhan. Pengukuran dilakukan terhadap tingkat kemampuan penyuluh dalam menerapkan prinsip belajar orang dewasa. Data hasil pengukuran selanjutnya diklasifikasikan dalam 3 kategori, yaitu : (1) Tidak kompeten (4 - 7), (2) Kurang kompeten (8 - 11), dan (3) Sangat kompeten (12 - 15).
5. Kemampuan berkomunikasi (X3.6) adalah kemampuan yang dimiliki penyuluh dalam berkomunikasi dengan masyarakat. Pengukuran dilakukan terhadap tingkat komunikasi penyuluh secara konvergen. Data hasil pengukuran selanjutnya diklasifikasikan dalam 3 kategori, yaitu : (1) Tidak kompeten (4 - 7), (2) Kurang kompeten (8 - 11), dan (3) Sangat kompeten (12 - 15).
6. Kemampuan berkerjasama (X3.5). adalah kemampuan yang dimiliki penyuluh untuk membangun kerjasama dengan pihak lain. Pengukuran dilakukan terhadap tingkat kerjasama penyuluh selama bertugas. Data hasil pengukuran selanjutnya diklasifikasikan dalam 3 kategori, yaitu : (1) Tidak kompeten (2 - 3), (2) Kurang kompeten (4 - 5), dan (3) Sangat kompeten (6 - 7).
Tingkat Kinerja Penyuluh Pertanian (Y)
1. Perencanaan program (Y1). adalah hasil pekerjaan penyuluh dalam merencanakan kegiatan penyuluhan. Pengukuran dilakukan terhadap tingkat kinerja yang dicapai penyuluh. Data hasil pengukuran tingkat kinerja diklasifikasikan dalam 3 kategori, yaitu : (1) rendah (6 - 10), (2) sedang (11 - 15), dan (3) tinggi (16 – 20). 2. Pelaksanaan program (Y2). adalah hasil pekerjaan penyuluh dalam pelaksanaan
kegiatan penyuluhan. Pengukuran dilakukan terhadap tingkat kinerja yang dicapai penyuluh. Data hasil pengukuran tingkat kinerja diklasifikasikan dalam 3 kategori, yaitu : (1) rendah (6 - 10), (2) sedang (11 - 15), dan (3) tinggi (16 – 20). 3. Pengevaluasian program (Y3). adalah hasil pekerjaan penyuluh dalam
mengevaluasi kegiatan penyuluhan. Pengukuran dilakukan terhadap tingkat kinerja yang dicapai penyuluh. Data hasil pengukuran tingkat kinerja diklasifikasikan dalam 3 kategori, yaitu : (1) rendah (4 - 7), (2) sedang (8 - 11), dan (3) tinggi (12 – 15).
4. Inisiatif (Y4). adalah kemampuan berinisiatif penyuluh dalam melaksanakan tugas. Pengukuran dilakukan terhadap tingkat kinerja yang dicapai penyuluh dalam merespon masalah atau tugas-tugas baru dan tanggung jawab. Data hasil pengukuran tingkat kinerja diklasifikasikan dalam 3 kategori, yaitu : (1) rendah (3 - 5), (2) sedang (6 - 8), dan (3) tinggi (9 - 11)
5. Kreativitas (Y5). adalah kemampuan kreativitas yang ditunjukan penyuluh dalam kegiatan penyuluhan. Pengukuran dilakukan terhadap tingkat kinerja yang dicapai
penyuluh dalam menggunakan gagasan-gagasan baru. Data hasil pengukuran tingkat kinerja diklasifikasikan dalam 3 kategori, yaitu : (1) rendah (4 - 7), (2) sedang (8 - 11), dan (3) tinggi (12 - 15).
6. Kerjasama (Y6). adalah kemampuan penyuluh membangun kerjasama dengan pihak lain. Pengukuran dilakukan terhadap tingkat kinerja yang dicapai penyuluh membangun kemitraan usaha untuk kelompok binaan. Data hasil pengukuran tingkat kinerja diklasifikasikan dalam 3 kategori, yaitu : (1) rendah (3 - 5), (2) sedang (6 - 8), dan (3) tinggi (9 - 11).
7. Komunikasi (Y7). adalah kemampuan penyuluh membangun komunikasi dengan masyarakat. Pengukuran dilakukan terhadap tingkat kinerja yang dicapai penyuluh membangun komunikasi secara konvergen. Data hasil pengukuran tingkat kinerja diklasifikasikan dalam 3 kategori, yaitu : rendah (4 - 7), (2) sedang (8 - 11), dan (3) tinggi (12 - 15).
Penentuan selang interval untuk mengukur hasil penelitian diperoleh melalui persamaan secara matematis menurut Nazir (2005; hal. 380) sebagai berikut :
R Di mana :
I = k = jumlah kelas interval
k I = besar interval kelas
R= range
Analisis Data
Data hasil survei di lapangan diberikan skor sesuai dengan metode skoring yang ditetapkan serta dikategorikan berdasarkan skala interval. Data kemudian dianalisis sesuai dengan kebutuhan penelitian untuk mengetahui pengaruh peubah- peubah independen terhadap peubah dependen serta menjelaskan tingkat hubungan yang mungkin terjadi antar variabel yang diamati (Singarimbun dan Effendi, 1989).
Untuk mendiskripsikan peubah karakteristik internal penyuluh, karakterisktik eksternal penyuluh, kompetensi tugas penyuluh dan tingkat kinerja penyuluh maka masing-masing peubah diklasifikasikan ke dalam tiga kategori berdasarkan skala interval. Hasil skoring data penelitian yang telah ditabulasi selanjutnya dianalisis menggunakan uji statistik model Pearson, selain itu juga dilakukan analisis kualitatif
deskriptif terhadap beberapa pengamatan dan catatan selama proses pengumpulan data serta laporan-laporan di daerah penelitian.
Untuk mengetahui pengaruh sub-sub karakteristik internal, eksternal, dan kompetensi penyuluh terhadap tingkat kinerja penyuluh, maka dilakukan analisis regresi. Sedangkan untuk mengetahui hubungan antara aspek-aspek karakteristik internal, eksternal dan kompetensi penyuluh dengan aspek-aspek tingkat kinerja penyuluh, maka data dianalisis menggunakan uji korelasi. Seluruh data dianalisis dengan menggunakan program SPSS versi 15.
Wilayah Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Kota Tidore Kepulauan Provinsi Maluku Utara pada pertengahan bulan Mei s/d Juni 2011, dengan tujuan untuk; (1) menganalisis faktor-faktor karakteristik internal dan eksternal serta kompetensi yang menentukan