Kerangka Pemikiran
Potensi hutan alam sebagai penghasil kayu dan devisa negara semakin hari semakin menurun, sedangkan permintaan kebutuhan kayu terutama sebagai bahan baku industri pengolahan kayu semakin meningkat. Kondisi ini merupakan peluang bagi berkembangnya sektor usahatani hutan rakyat. Hutan rakyat memiliki fungsi pendukung lingkungan, konservasi tanah dan perlindungan tata air, dan memberikan kontribusi yang cukup besar dalam upaya memenuhi kebutuhan bahan baku industri pengolahan kayu dan rumah tangga. Partisipasi petani dalam pengelolaan hutan rakyat menjadi hal yang sangat penting untuk menjamin kelestarian dan keberlangsungan hutan rakyat. Kartasubrata (2003) menjelaskan bahwa untuk melaksanakan pengelolaan hutan secara baik diperlukan dukungan dan partisipasi masyarakat, terutama penduduk di sekitar kawasan hutan. Partisipasi akan timbul apabila terdapat kesempatan, kemampuan, dan kemauan pada diri anggota-anggota masyarakat (Slamet, 2003).
Partisipasi petani dalam pengelolaan hutan rakyat sangat diperlukan agar terjaga kelestarian fungsi dan kemampuan sumberdaya hutan dan ekosistemnya sekaligus meningkatkan kesejehteraan petani. Hardjosudiro (1975) menjelaskan faktor sosial ekonomi yang berperan sebagai pendorong tumbuhnya partisipasi petani dalam usaha menanam tanaman keras adalah luas kepemilikan lahan, pola penggunaan tanah, jumlah anggota keluarga, keadaan wilayah dan adanya harapan akan manfaat dari usaha yang akan dijalankan. Partisipasi petani dipengaruhi oleh faktor internal petani yang meliputi umur, pendidikan forrmal/nonformal, jumlah tanggungan keluarga, luas lahan usahatani, pengalaman berusahatani, dan motivasi berusaha, serta dipengaruhi oleh faktor eksternal yaitu penyuluhan kehutanan, kelompok tani hutan, dan sumber informasi.
Orientasi penyuluhan kehutanan diarahkan pada peningkatan pengetahuan, sikap, dan keterampilan masyarakat dalam kerangka pembangunan masyarakat pedesaan. Penyuluhan kehutanan harus memberikan dampak yang mendukung peningkatan aktivitas berusahatani yang lebih baik dan kehidupan yang lebih baik bagi petani. Salah satu aspek penting yang perlu mendapat perhatian dalam
pemberdayaan masyarakat petani adalah pengembangan organisasi/kelompok masyarakat agar dapat berfungsi dalam mendinamisasikan kegiatan produktif masyarakat. Kelompok tani hutan merupakan salah satu elemen yang mendukung keberhasilan pengelolaan hutan rakyat. Terbukanya peluang bagi pengembangan hutan rakyat merupakan pendorong keberhasilan pengelolaan hutan rakyat oleh para petani. Kemampuan petani dalam mengakses informasi baik menyangkut tata niaga komoditi hutan rakyat maupun permintaan pasar akan jenis-jenis komoditi hutan rakyat yang benilai ekonomi tinggi berpeluang dalam meningkatkan posisi tawar petani dalam mata rantai tata niaga produk hutan rakyat.
Pengelolaan hutan rakyat khususnya di Pulau Jawa dengan tingkat pemilikan lahan yang rata-rata sempit, mendorong petani untuk memanfaatkan lahan seoptimal mungkin dengan berbagai jenis tanaman yang produktif, bernilai tinggi, cepat menghasilkan, dan tanaman konsumsi sehari-hari. Kondisi ini mendorong petani untuk mengelola hutan rakyat lebih intensif dengan menerapkan teknik silvikultur, mulai pengadaan benih, penanaman, pemeliharaan dan pemanenan.
Penerapan teknik silvikultur dalam pengelolaan hutan rakyat menuntut adanya kemampuan petani dalam mengusahakan usahatani hutan rakyat. Kemampuan atau kompetensi petani dalam mengelola hutan rakyat merupakan faktor yang mendukung keberhasilan pengelolaan hutan rakyat. Waskito (2000) mengemukakan bahwa dalam pembangunan hutan rakyat, kemampuan masyarakat dalam budidaya tanaman (sistem silvikultur) merupakan satu hal yang menentukan berhasil tidaknya pengelolaan hutan rakyat. Teknik budidaya hutan rakyat pada dasarnya sudah dikuasai oleh para petani pengelola hutan rakyat secara turun-temurun. Hardjanto (2000) mengatakan teknik budidaya hutan rakyat yang dikuasai para petani masih sebatas dalam pengertian apa adanya. Artinya mulai dari penyediaan biji, bibit, penanaman, pemeliharaan sampai siap jual, semuanya dilakukan secara sederhana.
Kompetensi petani diduga berhubungan dengan partisipasi mereka dalam pengelolaan hutan rakyat. Kompetensi merupakan kemampuan anggota-anggota masyarakat untuk berkembang secara mandiri. Kesediaan masyarakat untuk berpartisipasi merupakan tanda adanya kompetensi atau kemampuan awal untuk berkembang secara mandiri (Ndraha, 1990). Mubyarto (1984) menyatakan
kompetensi anggota masyarakat berkorelasi positif dengan kemampuannya untuk berpartisipasi. Kompetensi merupakan kemampuan yang dapat ditingkatkan dan dikembangkan melalui proses belajar.
Kompetensi yang dikaji dalam penelitian ini meliputi kompetensi teknis, kompetensi konseptual, dan kompetensi relasional. Kompetensi teknis adalah kemampuan yang dimiliki oleh petani berupa pengetahuan dan keterampilan dalam pengelolaan usahatani hutan rakyat. Penguasaan kompetensi ini akan berdampak pada meningkatnya kemampuan petani dalam melakukan kegiatan pengelolaan hutan rakyat secara berkelanjutan.
Kompetensi konseptual merupakan seperangkat kemampuan yang dimiliki oleh petani berkaitan dengan pemahaman dan pengetahuan dalam memprediksi peluang-peluang usaha yang dapat dikembangkan. Kompetensi konseptual petani diduga mampu berkontribusi dalam mengembangkan ide-ide/pemikiran terkait dengan pengelolaan hutan rakyat. Kompetensi relasional merupakan kemampuan untuk membangun hubungan kemitraan dalam rangka pengelolaan hutan rakyat.
Faktor internal petani (umur, pendidikan formal/nonformal, jumlah tanggungan keluarga, luas lahan usahatani, pengalaman berusahatani, motivasi berusaha), faktor eksternal ( penyuluhan kehutanan, kelompok tani hutan, sumber informasi), dan kompetensi petani (kompetensi teknis, kompetensi konseptual, dan kompetensi relasional) diduga berkorelasi dengan partisipasi petani dalam pengelolaan hutan rakyat. Partisipasi petani dalam pengelolaan hutan rakyat dicirikan oleh indikator partisipasi berupa: 1) partisipasi dalam perencanaan hutan rakyat, 2) partisipasi dalam pelaksanaan hutan rakyat, dan 3) partisipasi dalam pemanfaatan hasil hutan rakyat.
Meningkatnya partisipasi petani dalam pengelolaan hutan rakyat diharapkan berdampak pada tingkat kesejahteraan sosial dan kesejahteraan ekonomi petani.
Pendapatan petani diperoleh dari berbagai jenis tanaman yang diusahakan dalam areal hutan rakyat berdasarkan model-model hutan rakyat yang dikembangkan.
Hasil dari hutan rakyat berkontribusi bagi pendapatan petani dan diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan mereka. Pengelolaan hutan rakyat harus tetap memperhatikan aspek kelestarian produksi dan kelestarian usaha. Hutan rakyat
diharapkan menjadi salah satu asset produksi bagi petani dan sebagai salah satu alternatif sumber pendapatan keluarga.
Hubungan antar peubah sebagai kerangka operasional penelitian disusun sebagai berikut:
Gambar 1. Kerangka Pemikiran Penelitian
Hipotesis Penelitian
1. Terdapat hubungan nyata antara faktor internal petani dengan partisipasi petani dalam pengelolaan hutan rakyat.
2. Terdapat hubungan nyata antara faktor eksternal petani dengan partisipasi petani dalam pengelolaan hutan rakyat.
3. Terdapat hubungan nyata antara kompetensi petani dengan partisipasi petani dalam pengelolaan hutan rakyat.
4. Terdapat hubungan nyata antara partisipasi petani dengan kesejahteraan petani pengelola hutan rakyat. x Kompetensi teknis x Kompetensi konseptual x Kompetensi relasional Faktor Internal (X1) x Umur
x Pendidikan formal/
nonformal
x Jumlah tanggungan keluarga
x Luas lahan usahatani x Pengalaman berusahatani x Motivasi berusaha
Faktor Eksternal (X2) x Penyuluhan kehutanan x Kelompok tani hutan x Sumber informasi
Kesejahteraan