2. Modal Sendir
2.2. Kerangka Pemikiran
Kegiatan suatu perusahaan diantaranya adalah untuk mencari modal dan melakukan pembelanjaan yang digunakan untuk kegiatan operasional perusahaan dengan tujuan agar memperoleh keuntungan. Modal perusahaan berasal dari modal asing dan modal sendiri. Apabila perusahaan ingin dapat meningkatkan nilai perusahaannya maka perusahaan harus meningkatkan laba (keuntungan) yang akan menarik minat para investor.
Pemilihan dana yang digunakan oleh perusahaan. Terlebih dahulu perusahaan harus mempertimbangkan tujuan dari penarikan dana tersebut dan untuk apa dana tersebut digunakan. Hal ini penting untuk memperkirakan tingkat hasil yang diperoleh perusahaan akibat dari penarikan dan penggunaan modal tersebut. Jika perusahaan tersebut tidak mampu menggunakan modalnya secara efektif dan efisien, ada akhirnya perusahaan akan mengalami kesulitan keuangan terutama dalam mengembalikan hutang-hutangnya.
Menurut Bambang Riyanto (2008:375) Leverage dapat didefinisikan sebagai penggunaan aktiva atau dana dimana untuk penggunaan tersebut perusahaan harus menutup biaya tetap atau membayar beban tetap.
Masalah finanisial leverage baru timbul setelah perusahaan menggunakan dana dengan beban tetap, seperti halnya masalahnya operating leverage baru timbul setelah perusahaan dalam operasinya mempunyai biaya tetap. Perusahaan yang menggunakan dana dengan beban tetap dikatakan menghasilkan leverage
yang menguntungakan atau efek yang positif kalau pendapatan yang diterima dari penggunaan dana tersebut lebih besar dari beban tetap dari penggunaan dana itu.
Menurut Brigham dan Houston (2006:12) “Tingkat leverage operasi yang tinggi, jika hal-hal lain di anggap konstan, berarti perubahan penjualan dalam jumlah yang relative kecil akan dapat mengakibatkan terjadinya
perubahan besar alam ROE”.
Salah satu pendekatan rasio yang digunakan dalam rasio leverage adalah debt to equity ratio(DER). Berikut pengertian debt to equity ratio menurut beberapa ahli:
Menurut Sutrisno (2009:218) “Rasio hutang dengan modal sendiri merupakan imbangan antara hutang yang dimiliki perusahaan dengan modal sendiri. Semakin tinggi rasio ini berarti modal seniri semakin sedikit dibanding dengan hutangnya”.
Menurut Sumadji, Yuha Pratama, dan Rosita (2006:238) “Debt to Equity
Ratio(DER) menunjukan perbandingan antara hutang dan modal sendiri untuk menilai batas kemampuan modal sendiri dalam menanggung resiko
atau batas perluasan usaha dengan menggunakan moal pinjaman”.
Menurut Sua Husnan dan Enny Pudjiastuti (2006:70) “Debt to Equity Ratio
(DER) merupakan rasio yang menunjukan perbandingan antara hutang
dengan modal sendiri”.
Berdasarkan uraian diatas bisa di simpulkan bahwa Debt to Equity Ratio (DER) digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menutup sebagian atau seuruh hutang-hutangnya baik jangka panjang maupun jangka pendek dengan dana yang berasal dari total modal dibandingkan besarnya hutang. Oleh karena itu, semakin rendah DER akan semakin tinggi kemampuan perusahaan untuk membayar seluruh kewajibannya (Prihantoro, 2003).
Untuk menghitung debt to equity ratio bisa menggunakan rumus sebagai berikut:
Total aset turn over menunjukan tingkat efisiensi penggunaan keseluruhan aktiva perusahaan di dalam menghasilkan volume penjualan tertentu. Semakin tinggi rasio total aset turn over berarti semakin efisien penggunaan keseluruhan aktiva didalam menghasilkan penjualan (Yuanita Caroline, 2006).
Berdasarkan uraian diatas bisa di simpulkan bahwa jumlah asset yang sama dapat memperbesar volume penjualan apabila total asse turn overnya ditingkatkan atau diperbesar.
Menurut Commannor dan Wilson 1967, serta Porter 1979 mengemukakan bahwa pengukuran rasio perputaran total aktiva bila dibalik (reciplocal) akan mencerminkan rasio intensitas modal atau capital intensiveness. Perusahaan yang memiliki intensitas modal tinggi cenderung tidak efisien karena membutuhkan aktiva lebih besar untuk menghasilkan setiap unit penjualan.
Semakin tinggi rasio intensitas modal menjadi semakin tidak menarik bagi pendatang baru untuk masuk industri. Hal tersebut karena dibutuhkan lebih banyak asset untuk menghasilkan setiap unit penjualan (Martono, 2001)
Perhitungan total asset turn over dilakukan sebagai berikut: Total hutang
Debt to Equity Ratio = x 100% Modal
Penjualan Perusahaan Total asset turn over =
Rumus untuk menghitung Intensitas Modal
Ada beberapa pengukuran terhadap profitabilitas perusahaan di mana masing-masing pengukuran dihubungkan dengan volume penjualan, total aktiva dan modal sendiri.Profitabilitas selain merupakan cerminan efektivitas dan efisiensi pelaksanaan operasional bank, profitabiitas juga dapat mencerminkan efektivitas dan efisiensi pelaksanaan operasional perusahaan.
Menurut Munawir (200:65) “Profitabilitas ialah keefektifan operasi serta
derajat keuangan suatu perusahaan”.
Tujuan analisis profitabilitas atau rentabilitas adalah untuk mengukur tingkat efisiensi usaha an profitabilitas yang dicapai oleh perusahan yang bersangkutan (Kuncoro, 2002:548).Tingkat profitabilitas yang tinggi akan dapat menarik para investor untuk menanamkan modalnya, sedangkan tingkat profitabilitas rendah dapat menyebabkan para investor menarik dana mereka.
Rasio pengukuran yang digunakan dalam hubungan dengan modal sendiri adalah Return on Equity (ROE) yang digunakan untuk mengukur kinerja manajemen perusahaan dalam mengelola modal yang tersedia untuk menghasikan laba setelah pajak. Semakin besar ROE, semakin besar pula tingkat keuntungan yang dicapai perusahaan sehingga kemungkinan suatu perusahaan dalam kondisi bermasalah semakin kecil.
Total Aktiva Intensitas Modal =
Return on Equity (ROE) merupakan salah satu alasan utama perusahaan beroperasi adalah menghasilkan laba yang bermanfaat bagi para pemegng saham, ukuran dari keberhasilan ini adalah angka ROE berhasil di capai. Menurut Bambang Riyanto (2008:44) untuk menghitung ROE digunakan rumus sebagai beikut:
Berdasarkan uraian diatas dapat dibuat skema kerangka pemikiran sebagai berikut :
Gambar 2.1
Skema Kerangka Pemikiran Laba bersih ROE = Modal sendiri Kegiatan Perusahaan Pembelian (Allocation) - Asset Pendanaan (Financing) - Modal asing - Modal sendiri Penjualan Laba Keuntungan (Profitabilitas) Laba bersih ROE = Modal sendiri Leverage perusahaan Total hutang DER = Modal sendiri Intensitas modal Total asset penjualan
Menurut Bambang Riyanto (2008:51) Besarnya rentabilitas modal sendiri selain dipengaruhi oleh rentabilitas ekonomi juga dipengaruhi oleh rasio utang. Pengaruh rasio utang terhadap rentabilitas sendiri dapat positif, dapat negatif ataupun dapat tidak mempunyai pengaruh sama sekali. Perusahaan yang mempunyai rasio utang yang lebih besar akan mempunyai rentabilitas modal sendiri yang lebih tinggi.
Menurut Martono (2001) Rasio intensitas modal berpengaruh negatif tetapi tidak signifikan terhadap ROE. Intensitas modal yang tinggi berarti semakin tinggi aktiva yang dibutuhkan oleh perusahaan untuk menghasilkan setiap unit penjualan sehingga tidak efisien. Apabila semakin kecil aktiva yang dibutuhkan untuk menghasilkan penjualan berarti semakin efisien operasi perusahaan.
Berasarkan uraian tersebut dapat digambarkan paradigma penelitian sebagai berikut :
Brigham & Houston (2006:12)
Martono (2001) 3 4 5 Martono (2001) Gambar 2.2 Paradigma Penelitian Rasio Leverage
- Hutang jangka panjang - Moal sendiri Total hutang DER = x 100% Modal sendiri (Sutrisno, 2009:218) Intensitas Modal - Total aktiva - Penjualan Total aktiva Intensitas modal = Penjualan (Martono, 2001) Profitabilitas - Laba bersih - Modal sendiri Laba bersih ROE = x 100% Modal sendiri (Bambang Riyanto, 2008:44)
2.3. Hipotesis
Menurut sugiono (2010:84) Hipotesis penelitian merupakan dugaan sementara yang digunakan sebelum dilakukannya penelitian.
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis membuat sebuah hipotesis awal yaitu bahwa terdapat pengaruh antara rasio leverage dan rasio intensitas modal terhadap profitabilitas secara parsial dan simultan pada perusahaan automotif yang go public di Bursa Efek Indonesia.
43
BAB III