BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.6 Kerangka Pemikiran Operasional
Penelitian ini mengambil objek penelitian pada sentra produksi usahatani anggrek Vanda Douglas di Kota Tangerang Selatan, yakni di Kecamatan Pamulang.
Usahatani anggrek Vanda Douglas pun menjadi usahatani andalan di Kota Tangerang Selatan, sehingga kota tersebut menjadikan tanaman anggrek Vanda Douglas menjadi ikon kota. Namun seiring terjadinya pertumbuhan pembangunan
31 daerah perkotaan yang pesat, usahatani anggrek kian lama mulai tergantikan dengan usaha properti seperti pembangunan kontrakan/kosβkosan, clusterβcluster perumahan, ataupun apartemen. Hal tersebut terjadi karena usahatani anggrek dinilai tidak memberikan keuntungan yang lebih oleh masyarakat setempat, khususnya pemilik lahan anggrek sebelumnya. Dibandingkan dengan hanya tinggal menjual lahan miliknya kepada para kontraktor atau pengembang dengan nilai jual tanah yang cukup tinggi sesuai dengan nilai jual tanah di daerah perkotaan.
Tidak hanya lahan saja yang tergantikan, namun juga banyak petani yang berubah alih profesi menjadi buruh pabrik ataupun karyawan lainnya, sehingga membuat tenaga kerja untuk usahatani anggrek berkurang yang turut berpengaruh pula pada eksistensi anggrek Vanda Douglas sebagai ikon kota. Mereka menganggap bahwa menjadi petani tidak memberikan keuntungan yang lebih, baik dari segi biaya, waktu, dan tenaga yang harus dikeluarkan, dan juga pada bekerja pada sektor pertanian memiliki ancaman risiko yang besar. Anggapan tersebut yang menjadi alasan terjadinya alih profesi tenaga kerja dari pertanian ke non pertanian.
Diperlukannya analisis mengenai analisis pendapatan usahatani untuk mengetahui keadaan usahatani Anngrek Vanda Douglas di Kecamatan Pamulang, apakah masih layak untuk dijalankan ataukah tidak. Agar eksistensi anggrek Vanda Douglas sebagai ikon Kota Tangerang Selatan dapat tetap terjaga. Analisis pendapatan ini terbagi dalam dua aspek, yakni analisis usahatani (analisis biaya, penerimaan, dan pendapatan), dan menggunakan analisis sensitivitas (analisis rasio R/C, rasio B/C, BEP, dan nilai pengganti). Kedua aspek analisis tersebut membutuhkan data total biaya, produksi, dan harga jual anggrek Vanda Douglas
32 yang secara langsung didapatkan dari para pelaku usahatani Anggrek Vanda Douglas yang masuk dalam bagian anggota kelompok-kelompok tani. Kemudian, hasil dari perhitungan analisis tersebut nantinya dapat menjadi bahan evaluasi usahatani anggrek di Kecamatan Pamulang, Kota Tangerang Selatan, Banten.
Berikut merupakan kerangka pemikiran mengenai analisis pendapatan usahatani anggrek di Kota Tangerang Selatan yang disajikan pada Gambar 1.
Gambar 2. Kerangka pemikiran Vanda Douglas di Kecamatan Pamulang
Usahatani Anggrek Vanda Douglas di Kecamatan Pamulang
Permasalahan:
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Waktu dan Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di daerah Kecamatan Pamulang, yang tepatnya berlokasi pada kelompok-kelompok usahatani yang melakukan budidaya tanaman anggrek Vanda Douglas yang berada di Kecamatan Pamulang, Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten. Penelitian ini dilaksanakan dalam tenggat waktu bulan Oktober hingga Maret 2019.
3.2 Jenis dan Sumber Data
Jenis data yang digunakan ialah data kuantitatif dan kualitatif. Sumber data dibutuhkan berasal dari sumber data primer dan data sekunder. Sumber data primer merupakan data yang diperoleh secara langsung oleh peneliti dari lokasi tempat penelitian yang dapat berupa data kuantitatif maupun data kualitatif. Sumber data sekunder ialah data yang yang diperoleh tidak secara langsung memberikan data ke pengumpul data, biasanya melalui dokumen-dokumen (Sugiyono, 2016:137).
Data Primer didapat secara langsung melalui hasil wawancara dan kuesioner dari responden pelaku usahatani anggrek yang berada di Kota Tangerang Selatan, serta melakukan wawancara dengan petugas penyuluh lapangan sebagai informasi pendukung dalam penelitian. Data sekunder digunakan sebagai bahan pendukung dalam penelitian ini, data sekunder diperoleh dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Tangerang Selatan, Badan Pusat Statistik Kota Tangerang Selatan, Badan Pusat Statistik, dan Kementerian Petanian.
34 3.3 Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini ialah seluruh petani yang melakukan kegiatan usahatani anggrek dengan jenis Vanda Douglas di Kecamatan Pamulang.
Namun, untuk jumlah populasi tidak diketahui secara pasti. Sehingga dalam menetukan jumlah ukuran sampel pada penelitian ini menggunakan metode snawball sampling. Menurut Sugiyono (2016:85) bahwa snawball sampling merupakan teknik penentuan sampel yang awalnya berjumlah kecil, kemudian membesar. Seperti bola salju yang menggelinding yang semula kecil menjadi besar.
Namun dalam menentukan ukuran sampel responden tersebut perlu didukung dengan persyaratan atau peneyeleksian sampel responden yang layak menjadi sampel responden penelitian agar tetap sesuai dengan tujuan penelitian
Penyeleksian sampel responden dalam penelitian ini ditentukan dengan menggunakan teknik purpossive sampling. Menurut Sugiyono (2016:85) bahwa yang dimaksud dengan teknik purpossive sampling ialah teknik pengambilan sampel responden dengan pertimbangan atau persyaratan tertentu. Adapun persyaratan sampel yang dapat menjadi responden dalam penelitian ini sebagai berikut:
1. Responden merupakan pelaku kegiatan usahatani Anggrek Vanda Douglas yang berada di daerah Kecamatan Pamulang, dan
2. Responden telah melakukan kegiatan usahatani anggrek Vanda Douglas satu tahun terakhir yakni Juli 2017 β Juni 2018.
Penelitian ini bermula dengan menemui ketua kelompok tani yang masih aktif melakukan kegiatan usahatani, kemudian peneliti meminta informasi lebih
35 lanjut dari ketua kelompok tentang jumlah anggota yang aktif. Adapun jumlah sampel responden yang memenuhi persyaratan diketahui sebanyak 20 orang petani.
Selain itu, peneliti membutuhkan informan untuk menunjang kebutuhan dalam penelitian ini ialah responden yang memiliki pengetahuan mengenai seluk beluk usahatani anggrek Vanda Douglas di Kecamatan Pamulang, yakni penyuluh petani lapang (PPL) dan Dinas Pertanian di Kota Tangerang Selatan dengan menggunakan instrumen wawancara.
3.4 Metode Pengumpulan Data
Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data-data penelitian ialah dengan menggunakan wawancara dan kuesioner yang akan dijelaskan sebagai berikut :
1. Wawancara (interview)
Menurut Sugiyono (2016:137) bahwa wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data apabila peneliti ingin mengetahui hal-hal dari responden yang lebih mendalam tentang permasalahan tersebut. Sugiyono (2016:138) bahwa dalam menentukan responden untuk wawancara haruslah memenuhi tiga syarat:
yakni responden mengenal dirinya sendiri; responden dinyatakan oleh peneliti benar dan dapat dipercaya; dan interpretasi yang dimaksudkan peneliti terhadap responden adalah sama. Wawancara dilaksanakan pada petani yang melakukan usahatani anggrek Vanda Douglas, serta membutuhkan informan sebagai informasi pendukung dari Petugas Penyuluh Lapangan dan Dinas Pertanian Kota Tangerang Selatan.
36 2. Kuesioner
Sugiyono (2016:142) berpendapat bahwa kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi perangkat seperangkat pertanyaan atau pertanyaan tertulis kepada responden untuk dijawab. Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang efisien bila peneliti mengetahui dengan pasti bahwa variabel yang digunakan adalah variabel yang dapat terukur. Pada penelitian ini, kuesioner diberikan kepada pelaku usahatani anggrek Vanda Douglas di Kecamatan Pamulang.
3.5 Metode Pengolahan dan Analisis Data
Data yang digunakan pada penelitian ini ialah data kuantitatif, atau dapat dihitung secara langsung. Oleh karena itu, penelitian ini menggunakan analisis data kuantitatif. Data yang dikumpulkan adalah data mengenai identitas petani yang melakukan usahatani, struktur biaya usahatani, produksi, harga jual, dan juga penerimaan usahatani anggrek Vanda Douglas. Data kuantitatif tersebut dikumpulkan kemudian ditabulasi untuk dapat dianalisis dan menjadi hasil penelitian.
3.5.1 Analisis Biaya Usahatani Anggrek Vanda Douglas
Biaya pada usahatani anggrek Vanda Douglas diklasifikasikan menjadi dua, yakni biaya investasi dan biaya operasional. Biaya investasi ialah biaya yang dikeluarkan sebelum memulai kegiatan usaha (Kasmir dan Jakfar, 2016:88). Rumus untuk menghitung biaya investasi sebagai berikut:
37
Biaya operasional itu sendiri didalamnya terdapat dua bagian, yakni biaya tetap (fixed cost) dan biaya variabel (variable cost). Menurut Soekartawi (2016:56) bahwa biaya tetap umumnya didefinisikan sebagai biaya yang relatif tetap jumlahnya, dan terus dikeluarkan walaupun produksi yang diperoleh lebih banyak atau sedikit. Perhitungan tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut:
πΉπΆ = βπ·π΄πΌ+ βπβπ + βπβπ+ ππ₯ ... (2) Dengan ketentuan:
FC = Biaya tetap (fixed cost) (Rp) DAi = Depreciation dari aset ke-i (Rp) Ohc = Biaya listrik (Rp)
Thc = Biaya transportasi (Rp) Tx = Pajak usaha (Rp)
Menurut Padangaran (2013:39) biaya variabel ialah biaya yang jumlahnya berubah-ubah sesuai dengan jumlah hasil produksi yang diinginkan. Contoh biaya variabel dalam usahatani ialah harga bibit, harga pupuk, harga bahan bakar, dan tenaga kerja. Untuk menghitung biaya variabel Padangaran (2013:39) merumuskannya sebagai berikut:
ππΆ = βππ=0(ππππ₯π) ... (3) Dengan ketentuan:
VC = Jumlah biaya tidak tetap atau biaya variabel (variable cost) (Rp) Xi = Input yang ke-i (unit)
Pxi = Harga yang ke-i (Rp/unit) n = Macam banyaknya input
38 Total biaya operasional merupakan jumlah dari total biaya variabel dengan total biaya tetap (Padangaran. 2013:53). Suratiyah (2016:114) meneruskan bahwasanya biaya total (total cost) yaitu jumlah total biaya variabel (total variable cost) dan total biaya tetap (total fixed cost) per usahatani dengan satuan rupiah (Rp).
Sehingga Soekartawi (2016:57) merumuskan total biaya operasional dalam usahatani sebagai berikut:
ππΆ ππππππ πππππ = πΉπΆ + ππΆ ... (4) Dengan ketentuan:
TC = Total biaya operasional (total cost) (Rp)
FC = Biaya tetap (fixed cost) yang dikeluarkan dalam satu periode (Rp) VC = Biaya tidak tetap/variabel (variable cost) yang dikeluarkan dalam
satu periode (Rp)
3.5.2 Analisis Penerimaan dan Pendapatan Usahatani Anggrek Vanda Douglas
Menurut Suratiyah (2016:83) yang dimaksud dengan penerimaan ialah pendapatan yang diperoleh dari usahatani selama satu periode yang diperhitungkan dari hasil penjualan, yakni perkalian antara nilai jual dari produk tersebut dengan jumlah output produk pertanian yang dijual. Sehingga Soekartawi (2016:54) merumuskan perhitungan penerimaan sebagai berikut:
ππ π = ππ. ππ¦π ... (5) Dengan ketentuan:
TR = Total penerimaan (total revenue) (Rp)
Y = Jumlah output yang diperoleh dalam usahatani (ikat)
Py = Harga per satuan output yang diperoleh dalam usahatani (Rp/ikat) Padangaran (2013:97) berpendapat bahwa analisis pendapatan dapat dijadikan indikator mengenai sejauh mana perusahaan yang sedang dijalankan telah
39 berjalan dengan efisien. Berikut merupakan rumus perhitungan pendapatan usahatani menurut Soekartawi (2016:58):
ππ = ππ β ππΆ ... (6) Dengan ketentuan:
Pd = Pendapatan usahatani (Rp) TR = Total penerimaan (Rp) TC = Total biaya operasional (Rp)
3.5.3 Analisis Rasio Penerimaan Terhadap Biaya (R/C Ratio)
Menurut Padangaran (2013:88) analisis R/C digunakan untuk menghitung berapa besarnya penerimaan yang diperoleh dari setiap rupiah yang di investasikan dalam perusahaan pada periode yang lalu. Jika R/C mendekati 1 berarti efisiensi penggunaan modal rendah karena jika R/C = 1 berarti perusahaan hanya mencapai kondisi pulang pokok. Artinya jumlah penerimaan yang diperoleh hanya sebesar modal yang digunakan untuk memperoleh penerimaan tersebut. Jika R/C < 1 berarti penggunaan modal rugi karena jumlah penerimaannya lebih kecil dari jumlah modal yang digunakan. Dapat disimpulkan bahwa R/C yang lebih besar dari 1 berarti penggunaan modal semakin efisien. Secara matematis Padangaran (2013:88) merumuskan R/C ratio sebagai berikut:
π /πΆ πππ‘ππ =π
Pyi = Harga/unit produk i (Rp/unit) Xi = Input produksi i (Rp)
Pxi = harga per unit input ke i (Rp/unit)
40 3.5.4 Analisis Rasio Pendapatan Terhadap Biaya (B/C Rasio)
Shinta (2011:108) berpendapat bahwa Net Benefit Cost Ratio adalah penilaian yang dilakukan untuk melihat tingkat efisiensi penggunaan biaya berupa perbandingan jumlah nilai benefit dengan jumlah nilai biaya yang dikeluarkan. Net B/C ini menunjukkan gambaran berapa kali lipat benefit akan diperoleh dari cost yang dikeluarkan. Suatu proyek layak dan efisien untuk dilaksanakan jika nilai Net B/C > 1, yang berarti manfaat yang diperoleh lebih besar dari biaya yang dikeluarkan. Sebaliknya jika Net B/C < 1, berarti manfaat yang diperoleh tidak cukup untuk menutupi biaya yang dikeluarkan sehingga proyek tidak layak dan efisien untuk dilaksanakan. Secara matematis rumus rasio B/C yang dirumuskan oleh Shinta (2011:108) sebagai berikut:
π΅/πΆ πππ‘ππ =πππ‘ππ ππππππππ‘ππ
πππ‘ππ π΅πππ¦π ... (8)
3.5.5 Analisis Titik Balik Impas (Break Even Point)
Menurut Padangaran (2013:93) bahwa analisis Break Even Point (BEP) atau analisis titik pulang pokok adalah teknik analisis yang digunakan untuk menghitung berapa volume produksi dan volume penjualan agar perusahaan mencapai titik penerimaan persis sama dengan total modal yang digunakan (R = C).
Rumus yang digunakan dalam BEP terbagi menjadi dua (Padangaran, 2013:94), yakni:
1. BEP volume produksi (satuan unit)
π΅πΈπ π’πππ‘ = π΅πππ¦π πππ‘ππ
βππππ ππ’ππ πππ π’πππ‘β ππππ¦π π£πππππππ πππ π’πππ‘ ... (9)
41 2. BEP Harga Per Unit
π΅πΈπ βππππ =π΅πππ¦π πππ‘ππ+(πππππ’ππ π π₯ π΅πππ¦π ππππππππ πππ ππππ‘)
πππππ’ππ π ... (10)
3.5.6 Analisis Periode Pengembalian (Payback Period)
Payback period adalah lamanya waktu yang diperlukan oleh suatu proyek investasi atau studi kelayakan untuk mendapatkan kembali biaya investasi awalnya dengan penerimaan kas yang dihasilkan sendiri oleh proyek tersebut. Premis dasar Payback Periode adalah nilai investasi yang lebih cepat diperoleh kembali, merupakan investasi yang lebih diinginkan (Samryn. 2012:384). Penelitian ini menggunakan pola aliran kas yang sama dari tahun ke tahun, oleh karena itu perhitungan payback period dapat di rumuskan sebagai berikut:
πππ¦ππππ ππππππ = πππππ πΌππ£ππ π‘ππ π ππ πβππ‘πππ
πππ‘ππ πΎππ’ππ‘π’ππππ ππ πβππ‘ππππ₯ 1 π‘πβπ’π ... (11)
3.5.7 Analisis Nilai Pengganti (Switching Value)
Analisis sensitivitas dalam penelitian ini, menggunakan metode nilai pengganti (swtching value) dengan mengganti nilai pada komponen yang bersifat sensitif atau mudah berubah-ubah dan komponen tersebut sangat mempengaruhi keadaan finansial pada usahatani. Tujuan adanya analisis sensitivitas adalah untuk melihat sejauh mana usahatani anggrek di Kota Tangerang Selatan dapat bertahan dengan adanya perubahan-perubahan yang dapat diperkirakan, sehingga hal tersebut dapat ditanggulangi dan diantisipasi oleh pelaku usahatani. Dalam penelitian ini, komponen-komponen yang sensitif ialah biaya produksi dan harga
42 jual produk. Berikut merupakan skema simulasi dalam perhitungan analisis nilai pengganti:
a. Kenaikan harga pupuk sebesar 6% (disesuaikan dengan laju inflasi nasional dalam kurun waktu 10 tahun terakhir dengan rata-rata laju inflasi 5,56%, yang dibulatkan menjadi 6% (Bank Indonesia. 2018));
b. Kenaikan harga nutrisi dan pestisida 6%;
c. Penurunan harga jual anggrek sebesar 6%;
d. Kejadian poin a, b, dan c terjadi secara simultan. serta
e. Batas maksimal perubahan harga input dan harga jual agar usahatani tetap layak dijalankan.
3.6 Definisi Operasional
Definisi operasional dimaksudkan untuk menghindari kesalahan pemahaman dan perbedaan penafsiran yang berkaitan dengan istilah-istilah dalam penelitian. Berikut merupakan definisi operasional pada penelitian ini :
a. Usahatani anggrek Vanda Douglas adalah usahatani yang melakukan penanaman hingga pemanenan serta menjadikan pendapatan utama usahatani dari budidaya anggrek berjenis Vanda Douglas;
b. Biaya investasi adalah biaya yang dikeluarkan di awal oleh petani sebelum petani melakukan kegitaan usahataninya. Seperti pembelian mesin dan peralatan pertanian yang dinyatakan dalam bentuk Rupiah (Rp);
c. Biaya operasional usahatani adalah semua biaya tetap dan biaya tidak tetap (variabel) yang digunakan dalam melaksanakan suatu kegiatan usahatani,
43 baik usahatani anggrek Vanda Douglas yang dinyatakan dalam bentuk Rupiah (Rp);
d. Biaya tetap adalah biaya yang dikeluarkan selama proses produksi yang relatif tetap jumlahnya, besarnya biaya tetap tidak tergantung pada besar kecilnya produksi yang diperoleh yang dinyatakan dalam bentuk Rupiah (Rp);
e. Biaya tidak tetap atau biaya variabel adalah biaya yang dikeluarkan selama proses produksi, besar kecilnya dipengaruhi oleh produksi yang diperoleh yang dinyatakan dalam satuan Rupiah (Rp);
f. Produksi usahatani merupakan jumlah total produksi anggrek Vanda Douglas dalam kurun waktu satu tahun pada periode Juli 2017 β Juni 2018 yang dinyatakn dalam satuan ikat;
g. Harga jual usahatani merupakan harga yang ditawarkan petani kepada pedagang untuk menjual hasil produksi yang dinyataka dalam satuan Rupiah per ikat (Rp/ikat);
h. Penerimaan usahatani adalah nilai dari hasil produksi dikalikan dengan harga persatuan hasil produksi tersebut yang dinyatakan dalam satuan Rupiah (Rp);
i. Pendapatan usahatani adalah selisih antara total penerimaan dikurangi total biaya operasional pada suatu usahatani yang dinyatakan dalam satuan Rupiah (Rp);
44 j. Rasio R/C (R/C ratio) adalah perbandingan nilai antara total penerimaan
yang diterima dengan total biaya operasional yang dikeluarkan oleh suatu usahatani;
k. Rasio B/C (B/C ratio) adalah perbandingan nilai antara total pendapatan bersih usahatani yang diterima dengan total biaya operasional yang dikeluarkan oleh usahatani;
l. BEP (Break Even Point) adalah titik pertemuan antara jumlah penerimaan sama dengan jumlah biaya yang dikeluarkan (R = C); dan
m. PP (Payback Periode) adalah lamanya pengembalian dari biaya yang dikeluarkan pada awal memulai kegiatan usahatani (biaya investasi).
BAB IV
GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
4.1 Kecamatan Pamulang
Pamulang adalah sebuah kecamatan di Kota Tangerang Selatan. Sebelum Kota Tangerang Selatan menjadi kota otonom sejak tahun 2008, Pamulang merupakan salah satu kecamatan dari Kabupaten Tangerang. Dulunya, Pamulang merupakan bagian dari Kecamatan Ciputat, namun sejak tahun 1993 berdasarkan keputusan PP No. 3 Tahun 1992 Kecamatan Ciputat melakukan pemekaran yang salah satunya ialah Kecamatan Pamulang.
4.1.1 Kondisi Geografis Kecamatan Pamulang
Gambar 3. Peta Kecamatan Pamulang
Sumber: kecpamulang.tangselkota.go.id
46 Kecamatan Pamulang memiliki luas area sebesar 26,82 Km2 atau sekitar 18 persen dari total luas area Kota Tangerang Selatan. Pada Gambar 2. dapat dilihat bahwa di Kecamatan Pamulang terdapat 8 kelurahan di dalamnya, yakni: Kelurahan Benda Baru, Kelurahan Bambu Apus, Kelurahan Pondok Benda, Kelurahan Pamulang Barat, Kelurahan Pamulang Timur, Kelurahan Kedaung, Kelurahan Pondok Cabe Ilir, dan Kelurahan Pondok Cabe Udik.
Kecamatan Pamulang memiliki batas wilayah ialah sebagai berikut:
1. Batas wilayah bagian utara, berbatasan dengan Kecamatan Ciputat dan Ciputat Timur;
2. Batas wilayah bagian timur, berbatasan dengan wilayah Kota Jakarta Selatan, Provinsi DKI Jakarta;
3. Batas wilayah bagian selatan, berbatasan dengan wilayah Kota Depok; dan 4. Batas wilayah bagian Barat, Berbatasan dengan wilayah Kecamatan
Serpong dan Kecamatan Setu.
4.1.2 Kependudukan Kecamatan Pamulang
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Kota Tangerang Selatan (2017), jumlah penduduk Kecamatan Pamulang pada Tahun 2016 sebesar 341.968 jiwa, atau sebesar 20 persen dari seluruh penduduk Kota Tangerang Selatan. Jumlah tersebut terdiri dari penduduk laki-laki sebesar 172.525 jiwa dan penduduk perempuan sebesar 169.443 jiwa. Sehingga jumlah penduduk laki-laki lebih banyak 50,45% ketimbang penduduk perempuan sebesar 49,55% dari jumlah total penduduk di Kecamatan Pamulang. Kecamatan yang memiliki jumlah rumah
47 tangga sebesar 87.688 rumah tangga ini memiliki tingkat kepadatan Kecamatan Pamulang sebesar 12.750 jiwa/Km2, dan angka tersebut menjadikan Kecamatan Pamulang masuk dalam kategori daerah dengan tingkat kepadatan penduduk yang cukup tinggi.
4.1.3 Mata Pencaharian Penduduk Kecamatan Pamulang
Keadaan Penduduk di Kecamatan Pamulang berdasarkan jenis pekerjaan pada tahun 2016 yang masuk dalam usia kerja yang bekerja berdasarkan data BPS Kota Tangerang Selatan ialah sejumlah 138.656 orang, dengan jumlah pekerja laki-laki sebesar 90.666 orang dam pekerja perempuan sebesar 47.989 orang. Usia pekerja adalah rentang usia muali dari 17 hingga 60 tahun.
Tabel 3. Data Penduduk Usia Kerja yang Bekerja di Kecamatan Pamulang Berdasarkan Jenis Pekerjaan Tahun 2016
Jenis Pekerjaan Laki β Laki Perempuan Jumlah Persentase (%)
Pertanian 607 - 607 0,44
Industri 15.355 4.456 19.811 14,29
Jasa-Jasa 74.705 43.534 118.238 85,27
Jumlah 90.666 47.989 138.656 100,00
Persentase (%) 65,39 34,61 100,00
Sumber: BPS Kota Tangerang Selatan (2017), diolah
Berdasarkan pada Tabel 4 jenis pekerjaan di Kecamatan Pamulang dibagi menjadi tiga jenis, yakni pertanian, industri, dan jasa. Jenis perkerjaan yang paling diminati ialah pekerjaan pada sektor jasa dan mayoritas penduduk Kecamatan Pamulang bekerja pada sektor tersebut dengan jumlah pekerja sebesar 118.238 orang atau dengan persentase 85,27 persen dari jumlah angkatan kerja yang bekerja di Kecamatan Pamulang. Kemudian diikuti dengan pekerja yang bekerja pada sektor industri dengan jumlah pekerja sebesar 19.811 pekerja atau dengan
48 persentase 14,29 persen. Sektor pertanian di Kecamatan Pamulang menjadi sektor yang paling kurang diminati, karena hanya 607 pekerja atau hanya 0,44 persen dari jumlah angkatan kerja yang bekerja di Kecamatan Pamulang yang bekerja pada sektor pertanian.Jumlah tenaga kerja pada sektor pertanian kurang diminati karena banyak anggapan dari masyarakat bahwa bekerja pada sektor pertanian tidak sesuai antara waktu dan tenaga yang dicurahkan dengan hasil yang akan didapat. Selain itu, pada sektor pertanian mempunyai risiko kegagalan yang lebih tinggi, sehingga dapat terancam bahwa meraka tidak dibayar jerih upayanya. Dibandingkan dengan bekerja di sektor pertanian, banyak masyarakat beranggapan bahwa pada sektor jasa-jasa dan industri lebih memberikan kepastian hasil dari waktu dan tenaga yang telah mereka curahkan.
4.2 Gambaran Umum Usahatani Anggrek Vanda Douglas di Kecamatan Pamulang
Sekitar tahun 1979, merupakan tahun dimulainya usahatani di Kecamatan Pamulang, Kota Tangerang Selatan. Berawal dari para petani yang berasal dari Kampung Rawa Belong, Kecamatan Kebon Jeruk. Jakarta, yang pindah karena adanya penggusuran daerah perkotaan yang mengutamakan pemukiman warga dan perkantoran. Para petani tersebut memindahkan kegiatan usahatani anggreknya di suatu kampung yang sekarang dikenal dengan Kampung Anggrek, yang berada di Kelurahan Benda Baru, Kecamatan Pamulang.
Datangnya Anggrek Vanda Douglas di Kecamatan Pamulang disambut baik oleh warga setempat, banyak warga yang memiliki lahan kosong dijadikan kebun anggrek. Hal tersebut didorong dengan banyaknya pemahaman masyarakat
49 bahwa anggrek Vanda Douglas dirasa mudah cara penanamannya dan perawatannya, serta memiliki segmentasi pasar tersendiri, sehingga petani tidak perlu khawatir produksi bunga potongnya tidak terjual di pasaran. Seiring berjalannya waktu perkembangan usahatani anggrek Vanda Douglas terus bertambah dan mendapat dukungan dari masyarakat sekitar. Walaupun pada sekitar tahun 1980-an sempat ada penurunan produksi, namun kembali membaik sekitar tahun 1990-an.
Sejak disahkannya UU No. 51 Tahun 2008 tentang pemekaran administratif wilayah Kabupaten Tangerang menjadi dua bagian, yakni Kabupaten Tangerang dan Kota Tangerang Selatan. Kecamatan Pamulang masuk dalam wilayah Kota Tangerang Selatan. Berdirinya Kota Tangerang Selatan membuat pemerintah kota mencari dan menggali informasi mengenai keunggulan-keunggulan yang berada di wilayahnya, seperti makanan khas, kerajinan tangan khas, hingga pada tanaman yang khas tumbuh di Kota Tangerang Selatan.
Pemerintah Kota Tangerang Selatan akhirnya menjadikan tanaman anggrek Vanda Douglas menjadi tanaman khas daerahnya. Tidak hanya itu, bahkan anggrek Vanda Douglas menjadi ikon untuk Kota Tangerang Selatan.
Terpilihnya anggrek Vanda Douglas menjadi ikon Kota Tangerang Selatan, membuat pemerintah kota menyiapkan kebijakan-kebijakan yang salah satunya fokus pada usahatani Anggrek yang berada di Kota Tangerang Selatan.
Beberapa kebijakan yang berfokus pada usahatani Anggrek ialah mendata dan merapikan keanggotaan kelompok-kelompok tani yang pendapatan utamanya berasal dari tanaman anggrek, tujuannya ialah agar antara sesama petani dan
50 kelompok petani dapat saling bertukar informasi baik dalam sarana input usahatani hingga pada harga jual kembang anggrek potong.
Kebijakan tersebut ditindak lanjuti dengan pemberian bantuan baik berupa dana ataupun kebutuhan-kebutuhan dasar dan penunjang untuk para anggota dari kelompok-kelompok Tani di Kota Tangerang Selatan. Adanya kebijakan dan
Kebijakan tersebut ditindak lanjuti dengan pemberian bantuan baik berupa dana ataupun kebutuhan-kebutuhan dasar dan penunjang untuk para anggota dari kelompok-kelompok Tani di Kota Tangerang Selatan. Adanya kebijakan dan