4. Prosedur Penghapusan Piutang. Prosedur ini dicatat dalam jurnal umum
2.6 Kerangka Pemikiran
2.6.1 Pengaruh Pengendalian Intern terhadap Efektivitas Penagihan Piutang
Bagi setiap perusahaan, baik itu perusahaan jasa, dagang maupun
perusahaan manufaktur, penjualan merupakan suatu aktivitas yang utama. Hal ini
dikarenakan dari penjualan, perusahaan memperoleh uang masuk (cash inflow)
yang akan digunakan untuk menunjang kegiatan operasi perusahaan dan
kelangsungan hidup perusahaan. Dari penjualan pula sebagian besar pendapatan
perusahaan diperoleh.
Secara garis besar, penjualan dapat dibagi dua yaitu penjualan tunai dan
penjualan kredit. Untuk penjualan tunai perusahaan tidak menghadapi suatu
masalah yang cukup berarti karena begitu barang jasa dijual maka kas akan
langsung diperoleh. Namun untuk penjualan kredit, perusahaan akan menghadapi
suatu masalah yang cukup berarti. Karena kas tidak langsung dapat diperoleh
begitu barang dijual. Namun perlu menunggu beberapa waktu untuk memperoleh
kas tersebut. Bahkan perusahaan dapat mengalami kehilangan uang kas tersebut
Penjualan kredit tersebut akan menimbulkan perkiraan piutang bagi
perusahaan, menurut Soemarso (2004:338)
“Piutang merupakan kebiasaan bagi perusahaan untuk memberikan kelonggran-kelonggaran kepada para pelanggan pada waktu melakukan penjualan. Kelonggaran-kelonggaran yang diberikan biasanya dalam bentuk memperbolehkan para pelanggan tersebut membayar kemudian atas penjualan barang atau jasa yang dilakukan.
oleh karena itu perusahaan mengadakan penagihan piutang sehingga
piutang dapat cair sesuai tanggal jatuh temponya. Hal ini dilakukan untuk
mengetahui pengendalian intern perusahaan tersebut terhadap pengelolaan
piutangnya. Sehingga dapat mengurangi jumlah piutang tak tertagih dan dapat
menghindari kesalahan dan kecurangan yang mungkin terjadi. Oleh karena
pentingnya penjualan bagi perusahaan dan adanya penjualan kredit dalam
penjualan, maka perlu adanya suatu kontrol dari pihak manajemen perusahaan
terhadap penjualan kredit tersebut. Kontrol dimaksud adalah Pengendalian Intern.
Mulyadi (2008:163) “sistem pengendalian intern meliputi struktur organisasi, metode, dan ukuran-ukuran yang dikoordinasikan untuk menjaga
kekayaan organisasi, mengecek ketelitian dan keandalan data akuntansi, mendorong efisiensi dan mendorong dipatuhinya kebijakan manajemen”
Pengendalian yang baik yang dilaksanakan oleh manajemen, akan
meminimalisir kerugian yang timbul akibat adanya kerigian piutang tak tertagih
ataupun kecurangan yang dilaksanakan oleh karyawannya sendiri. Semakin baik
pengendalian tersebut, maka akan semakin besar perusahaan dapat menagih
Berdasarkan dari uraian tersebut sangat erat kaitannya pengendalian piutang yang baik yang dilaksanakan oleh manajemen dengan efektivitas penagihan
piutang dalam suatu perusahaan.
Penelitian terdahulu yang mendukung terhadap penelitian yang akan
dilakukan penulis adalah sebagai berikut:
Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu No . Nama Peneliti/Tahun
Judul Penelitian Hasil Penelitian
1 Miftahuljannah Afnas/2015 Peranan Sistem Pengendalian Intern Pemberian Kredit dalam Menunjang Efektivitas Proses Pemberian Kredit (Studi Kasus Pada PT Bank BRI (Persero) Tbk. KC Makassar Somba Opu)
Temuan penelitian menunjukkan bahwa variabel sistem pengendalian intern pemberian kredit berpengaruh terhadap variabel efektivitas proses pemberian kredit. Peranan sistem pengendalian intern
pemberian kredit dalam menunjang
efektivitas proses pemberian kredit sebesar 58%, yang menerangkan bahwa selain sistem pengendalian intern pemberian kredit masih ada faktor lain yang juga memberikan peranan dalam menunjang efektivitas proses pemberian kredit (sekitar 42%).
2 Andi Nugraha /2006 Penerapan Sistem Pengendalian Intern dalam Meminimalkan Kredit Macet : Studi Kasus pada PT Sinar Sosro Kp Sawangan
Pengaruh dari pengendalian intern penjualan kredit yang telah dilakukan oleh PT. Sinar Sosro KP Sawangan sangat berperan besar dalam peningkatan kualitas piutang, yang mencakup : Porsentase penjualan
kredit,Analisa Umur Piutang, Perbandingan Bad debt, dan Peningkatan rasio
pengumpulan piutang, sehingga tidak terjadi piutang macet 3 Beni Makaria /2015 Evaluasi Atas Sistem Akuntansi Penjualan Kredit Dan Penerimaan Kas Sebagai Upaya Meningkatkan Pengendalian Intern (Studi Pada Pt. Kasin Malang)
sistem penjualan kredit dan penerimaan kas di PT. Kasin masih mempunyai beberapa
kelemahan karena terdapat beberapa dokumen yang dalam penggunannnya kurang efektif dan kesulitan dalam melakukan pemeriksaan dan penelusuran ke dokumendokumen. Pada bagian penjualan yang melakukan pemberian kredit. Sehingga, sangat memungkinkan terjadinya manipulasi pencatatan transaksi
yang dapat merugikan perusahaan. Tidak adanya pemeriksa intern (pengecekan saldo) secara mendadak yang dilakukan oleh direktur utama 4 Dewi Paramita Sari/2015 Analisis Sistem Akuntansi Penjualan Kredit Dan Sistem Akuntansi Penerimaan Kas Dari Piutang Dalam Upaya Meningkatkan Efektifitas Pengendalian Intern (Studi Kasus Pada Pt. Semen Indonesia (Persero), Tbk)
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem akuntansi penjualan kredit dan sistem
akuntansi penerimaan kas (dari piutang) yang telah diterapkan pada PT. Semen Indonesia sudah baik, tingkat penerapan
pengendalian intern pada perusahaan tersebut juga sudah baik, hanya terdapat sedikit kelemahan pada praktik yang sehat yaitu belum terdapat surprised audit dan kurangnya kecakapan pegawai. Oleh karena itu, PT. Semen Indonesia perlu memperbaiki dan meningkatkan tingkat penerapan
pengendalian intern yang ada, agar tercapai efektifitas pengendalian intern.
5 Gilang Septa Putra/2010 Peranan Pengendalian Intern dalam Efektivitas Penagihan Piutang pada PT Putra Tama Wisata Bandung
Pengendalian intern yang dilaksanakan oleh manajemen perusahaan di PT . Putra Tama Wisata sudah berjalan sangat efektif (rata-rata = 4.31) dengan mengukur tiap komponen dari pengendalian internal diantaranya lingkungan pengendalian, penilaian resiko, aktivitas pengendalian, informasi dan komunikasi, dan pemantauan. 6 Hery Sofyan/ 2008 Manfaat Sistem Pengendalian Piutang Dalam Meminimalisasi Piutang tak Tertagih (Bad Debt) Pada Perusahaan Leasing (studi kasus pada perusahaan leasing)
Berdasarkan hasil analisa penelitian dan perhitungan statistik didapat hasil kuesioner butir pertanyaan valid dan reliabel dengan menggunakan rumus product moment diperoleh ï ½ 11 r 0,678, karena nilai
reliabilitasnya lebih besar daripada 0,632 5% ï ½ t r. Dari keseluruhan jawaban kuesioner diperoleh total 172 jawaban â Yaâ dari total 240 pertanyaan. Sehingga diperoleh
persentase 61,43% yang menunjukkan bahwa Sistem pengendalian yang diterapkan cukup dilaksanakan dengan efektif dalam
Berdasarkan landasan teori pada tinjauan pustaka diatas, maka secara
skema kerangka pemikiran dapat digambarkan sebagai berikut:
Gambar 2.1
Bagan Kerangka Pemikiran
2.8 Hipotesis Penelitian