• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Theory of Planned Behavior

2.6. Kerangka Pemikiran Teoritis dan Pengembangan Hipotesis

2.6.1.Pengaruh Kualitas Informasi Akuntansi terhadap Intensi Investor dalam Pemilihan Saham

Akuntansi lahir dengan maksud tertentu, yaitu untuk memberikan jasa kepada penggunanya berupa informasi keuangan yang dibutuhkan untuk proses pengambilan keputusan (Harahap, 2013:123). Menurut SAK no. 1, tujuan laporan keuangan / informasi akuntansi adalah menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja, serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi.

Oleh karena itu, informasi akuntansi harus berkualitas agar dapat merepresentasikan kondisi sesungguhnya tentang keuangan perusahaan. Semakin berkualitas informasi akuntansi, maka akan menunjukkan bahwa perusahaan memiliki keuangan yang sehat. Implikasinya, hal ini akan menjadi keyakinan bagi pengguna untuk memilih saham yang menyediakan informasi akuntansi yang berkualitas. Berdasarkan uraian tersebut dapat ditarik hipotesis sebagai berikut.

Hipotesis 1 : Kualitas informasi akuntansi berpengaruh terhadap intensi investor dalam pemilihan saham.

2.6.2.Pengaruh Norma Subjektif terhadap Intensi Investor dalam Pemilihan Saham

Norma subjektif merupakan persepsi seseorang tentang pemikiran orang lain yang akan mendukung atau tidak mendukungnya dalam melakukan sesuatu. Tung (2011:79) mengatakan bahwa norma subjektif mengacu pada tekanan sosial yang dirasakan oleh individu untuk melakukan atau tidak melakukan perilaku. Hal ini terkait dengan keyakinan bahwa orang lain mendorong atau menghambat untuk melaksanakan perilaku. Seorang individu akan cenderung melakukan perilaku jika termotivasi oleh orang lain yang menyetujuinya untuk melakukan perilaku tersebut.

Secara umum, semakin individu mempersepsikan bahwa rujukan sosialnya merekomendasikan untuk melakukan suatu perilaku maka individu akan cenderung merasakan tekanan sosial untuk melakukan perilaku tersebut, sebaliknya semakin individu mempersepsikan bahwa rujukan sosialnya merekomendasikan untuk tidak melakukan suatu perilaku maka individu akan cenderung merasakan takanan sosial untuk tidak melakukan perilaku tersebut (Ajzen, 2005 dikutip dalam Wong 2012).

Rujukan sosial yang dimaksud oleh investor antara lain adalah pendapat teman, pendapat analis, maupun rumor atau isu yang beredar di media. Berdasarkan uraian tersebut, maka dapat ditarik hipotesis sebagai berikut.

Hipotesis 2 : Norma subjektif berpengaruh terhadap intensi investor dalam pemilihan saham.

2.6.3.Pengaruh Persepsi Kontrol Perilaku terhadap Intensi Investor dalam Pemilihan Saham

Menurut Wijaya (dikutip dalam Wahyono, 2014) persepsi kontrol perilaku merupakan persepi terhadap kekuatan faktor-faktor yang mempermudah atau mempersulit. Perceived behavioral control ditentukan oleh kombinasi antara belief individu mengenai faktor pendukung dan atau penghambat untuk melakukan suatu perilaku (control beliefs), dengan kekuatan perasaan individu akan setiap faktor pendukung ataupun penghambat tersebut (perceived power control).

Secara umum, semakin individu merasakan banyak faktor pendukung dan sedikit faktor penghambat untuk dapat melakukan suatu perilaku, maka individu akan cenderung mempersepsikan diri mudah untuk melakukan perilaku tersebut; sebaliknya, semakin sedikit individu merasakan sedikit faktor pendukung dan banyak faktor penghambat untuk dapat melakukan suatu perilaku, maka individu akan cenderung mempersepsikan diri sulit untuk melakukan perilaku tersebut (Ajzen, 2006). Dari uraian tersebut, maka dapat ditarik hipotesis sebagai berikut.

Hipotesis 3 : Persepsi kontrol perilaku berpengaruh terhadap intensi investor dalam pemilihan saham

2.6.4.Pengaruh Norma Subjektif terhadap Persepsi Kontrol Perilaku

Dalam planned behavior theory dijelaskan bahwa norma subjektif dan persepsi kontrol perilaku merupakan prediktor yang mempengaruhi intensi untuk

melakukan suatu perilaku. Keduanya mempunyai kedudukan yang sejajar sebagai prediktor penentu intensi tersebut, namun bagaimana jika norma subjektif dihubungkan dengan persepsi kontrol perilaku untuk mengetahui bagaimana hubungannya terhadap intensi. Pada penelitian terdahulu, peneliti tidak pernah menemukan peneliti lain yang menggunakan persepsi kontrol perilaku sebagai mediator antara norma subjektif dengan intensi. Oleh karena itu, pada penelitian ini peneliti menggunakannya untuk membedakannya dari penelitian-penelitian terdahulu.

Norma subjektif merupakan pandangan individu tentang tekanan sosial (pendapat orang lain) untuk melakukan atau tidak melakukan suatu tindakan atau perilaku. Seseorang akan cenderung melakukan suatu perilaku apabila pendapat sosial atau rujukan sosialnya mengarahkannya untuk melakukan perilaku tersebut, bagi investor rujukan yang dimaksud adalah rujukan teman, pendapat analis maupun pendapat media dan sebagainya.

Seorang investor yang naif (unsophisticated) cenderung akan langsung mematuhi rujukan sosialnya daripada pendapatnya sendiri, mereka tidak suka bersusah payah melakukan riset untuk menghasilkan analisis sendiri dalam proses pemilihan saham. Sedangkan investor yang canggih (sophisticated) akan mengutamakan pendapat atau analisis sendiri dan memposisikan rujukan sosialnya sebagai kontrol untuk memperkuat keputusannya dalam pemilihan saham.

Disinilah hubungannya antara norma subjektif dengan persepsi kontrol perilaku. Persepsi kontrol perilaku merupakan kepercayaan individu tentang hal

yang mendukung atau menghambat untuk melakukan suatu perilaku. Semakin individu percaya pada hal pendukung, maka individu akan cenderung melakukan perilaku. Sebaliknya, apabila individu semakin percaya pada hal penghambat, maka individu akan cenderung tidak melakukan perilaku.

Azwar (dalam Christanti, 2008) mengungkapkan bahwa persepsi kontrol perilaku sangat penting artinya ketika rasa percaya diri individu sedang dalam kondisi rendah. Investor canggih akan menggunakan rujukan sosialnya sebagai kontrol untuk memperkuat keyakinannya terhadap faktor-faktor yang dapat mendukung analisis yang telah dilakukannya ketika mereka membutuhkan tambahan kepercayaan diri dalam memilih suatu saham. Berdasarkan uraian tersebut, maka dapat ditarik hipotesis sebagai berikut.

Hipotesis 4: Norma subjektif berpengaruh terhadap persepsi kontrol perilaku.

2.6.5.Pengaruh Kualitas Informasi Akuntansi terhadap Persepsi Kontrol Perilaku

Peneliti juga menghubungkan kualitas informasi akuntansi dengan persepsi kontrol perilaku untuk membedakan penelitian ini dengan peneltian-penelitian terdahulu. Informasi akuntansi yang berkualitas adalah informasi yang dapat dengan mudah dimengerti penggunanya sebagai alat untuk menentukan keputusan. Informasi akuntansi yang bermanfaat harus mempunyai nilai dalam menambah pengetahuan, menambah keyakinan mengenai profitabilitas terealisasinya harapan dalam kondisi ketidakpastian, serta mengubah keputusan atau perilaku pemakai (Suwarjono, 2008), dalam hal ini investor.

Seorang investor yang canggih akan mempertimbangkan semua keputusan untuk mengambil sebuah saham dari berbagai informasi. Informasi akuntansi yang berkualitas akan menambah keyakinan investor pada suatu saham yang akan dipilihnya, sehingga akan menambah kepercayaan serta rasa percaya diri mereka apakah harus memilih suatu saham atau tidak.

Semakin investor percaya informasi akuntasi akan mendukung keputusan mereka, maka mereka cenderung akan mengambil tindakan yaitu memilih saham. Semakin investor percaya informasi akuntansi akan menghambat keputusan, maka mereka cenderung untuk mengurungkan niat mereka dalam mengambil keputusan. Dari uraian tersebut, maka dapat ditarik hipotesis sebagai berikut.

Hipotesis 5: Kualitas informasi akuntansi berpengaruh terhadap persepsi kontrol perilaku.

2.6.6.Pengaruh Kualitas Informasi Akuntansi terhadap Persepsi Risiko Tidak Sistematis

Informasi akuntansi yang berkualitas akan menunjukkan kinerja, prospek, dan nilai perusahaan yang sesungguhnya. Investor yang canggih akan menggunakan informasi akuntansi untuk mengetahui berbagai risiko yang akan dihadapinya ketika akan memilih suatu saham perusahaan. Kondisi keuangan perusahaan yang mengkhawatirkan, keuangan perusahaan yang tidak dapat dikendalikan, maupun prediksi kerugian yang akan dihadapi perusahaan dapat dilihat dari informasi akuntasi, dan ini akan menjadi risiko bagi kelangsungan hidup perusahaan. Hal inilah yang akan pula menjadi risiko tersendiri bagi investor apabila akan memilih suatu saham.

Di sinilah letak hubungan antara kualitas informasi akuntansi dengan persepsi risiko tidak sistematis. Investor akan mempersepsikan suatu saham akan berisiko tinggi ketika informasi keuanganya menunjukkan kondisi yang kurang baik, sebaliknya ketika informasi keuangan menunjukkan kondisi yang baik, maka investor akan mempersepsikan bahwa suatu saham berisiko rendah.

Penelitian yang menunjukkan hubungan antara kualitas informasi akuntansi dengan persepsi risiko tidak sistematis dilakukan oleh Adhikara dan Maslichah (2014). Adhikara dan Maslichah (2014) mengungkapkan informasi akuntansi mampu memberikan prediksi dan realisasi harapan pengguna, serta menunjukkan kinerja dan prospek perusahaan yang memberikan interpreatsi dan keyakinan saham perusahaan adalah berisiko karena kondisi keuangan perusahaan mengkhawatirkan, berakibat negatif, tidak dapat dikendalikan, serta potensi terjadi bahaya, sehingga pengguna mengambil sikapterhadap resiko berdasarkan preferensi risikonya, yaitu: risk averter, risk seeker, atau risk neutral. Dari uaraian tersebut, maka dapat ditarik hipotesis sebagai berikut.

Hipotesis 6: Kualitas informasi akuntansi berpengaruh terhadap persepsi risiko tidak sistematis.

2.6.7.Pengaruh Persepsi Risiko Tidak Sistematis terhadap Intensi Investor dalam Pemilihan Saham

Persepsi risiko tidak sistematis adalah pandangan individu terhadap risiko yang tidak terkait dengan perubahan pasar secara keseluruhan. Persepsi risiko tidak sistematis mencerminkan pandangan pengguna tentang potensi loss pada

item-item laporan keuangan sehingga saham perusahaan bersifat berisiko (Koonce

et al., 2004).

Persepsi risiko saham menunjukkan kondisi mengkhawatirkan dari kinerja dan prospek perusahaan yang buruk. Karena saham tidak berprospek, maka pengguna akan melakukan evaluasi kinerja saham individu dalam portfolio. Kinerja saham individu yang buruk akan dilepas dan dirubah dengan saham yang mempunyai kinerja dan prospek bagus. Sehingga, niat untuk pengambilan keputusan dalam pemilihan saham menjadi tinggi (Adhikara dan Maslichah, 2014). Berdasarkan uraian tersebut, maka dapat ditarik hipotesis sebagai berikut.

Hipotesis 7 : Persepsi risiko tidak sistematis berpengaruh terhadap intensi investor dalam pemilihan saham.

Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran Teoritis (H1) (H4) (H6) (H2) (H7) (H3) (H5) NORMA SUBJEKTIF PERSEPSI KONTROL PERILAKU INTENSI DALAM PEMILIHAN SAHAM PERSEPSI RISIKO TIDAK SISTEMATIS KUALITAS INFORMASI AKUNTANSI

Dokumen terkait