3. METODOLOGI PENELITIAN
3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis
Dalam konsep pertumbuhan ekonomi, konvergensi pertumbuhan adalah kecenderungan perekonomian-perekonomian miskin tumbuh lebih cepat dibandingkan perekonomian-perekonomian kaya dengan demikian diharapkan perekonomian daerah miskin dapat mengejar ketertinggalannya dan ketimpangan perekonomian antar daerah dapat menurun (Sukirno, 1985).
Terdapat dua pendekatan utama dalam konvergensi regional yaitu analisa konvergensi yang diturunkan dari pokok penelitian utama di tingkat internasional. Analisa jenis ini umumnya menggunakan regresi cross section antara tingkat pertumbuhan dengan tingkat awal pendapatan perkapita (Barro and Sala-i-Martin,1995). Pendekatan yang kedua berakar pada tradisi panjang dalam penelitian regional dimana perhatian utama diberikan pada analisa disparitas pendapatan yang membedakan dengan pendekatan satu dalam analisa pendekatan dua kesenjangan regional di pelajari secara independen dari teori pertumbuhan. Referensi klasik dari pendekatan penelitian yang kedua berdasarkan artikel (Williamson, 1965) dimana ia menjelaskan bahwa proses konvergensi regional terkait dengan proses pembangunan nasional, Williamson memprediksi bahwa disparitas pendapatan regional akan memudar (konvergen) setelah melalui tiga fase yaitu dari tahap awal pembangunan hingga tahap kematangan (maturity) dalam proses pembangunan Dalam literatur teori pertumbuhan ekonomi terdapat
dua pandangan tentang konsep konvergensi. Konvergensi terjadi ketika perekonomian miskin cenderung tumbuh lebih cepat dibandingkan perekonomian kaya. Property ini dihubungkan dengan konsep β-convergence yang diperoleh dari
analisa regresi antar perekonomian. Konsep konvergensi adalah β-konvergence
yang terdiri dari konvergensi absolut dan bersyarat serta α-convergence.
Terjadinya proses konvergensi dimana daerah miskin cenderung tumbuh lebih cepat tidak serta merta menyebabkan menurunnya disparitas pendapatan regional perkapita. Artinya β-convergence tidak selalu identik dengan α-convergence. Meskipun tidak identik tetapi secara empiris β-convergence akan terverifikasi ketika α konvergen juga terverifikasi sehingga dalam prakteknya kedua konsep di atas dapat dilaksanakan bergantian. α-convergence akan terjadi antar beberapa negara ketika negara-negara tersebut mempunyai dispersi pendapatan perkapita yang cenderung menurun lebih cepat.
Studi empiris tentang konvergensi antar daerah dan antar Negara umumnya terfokus pada ukuran utama konvergensi yaitu konvergensi beta (β-convergence) dan (α-(β-convergence). Satu kelebihan utama dari β-convergence adalah analisa bersifat dinamis. Bila pengamatan jangka pendek tidak mampu memberi jawaban tentang dampak dari kebijakan publik, maka kita tidak dapat melihat bahwa dampak tersebut dalam kecenderungan jangka panjang. Dari sudut pandang teoritis, analisa β-convergence hanyalah analisa deskriptif dan sama sekali tidak berbicara tentang mekanisme di balik bekerjanya konvergensi tersebut walaupun demikian analisanya berupa tes langsung terhadap hipotesis teori pertumbuhan neoklasik dengan asumsi diminishing return of capital. Studi
empiris menunjukkan bahwa meskipun perekonomian miskin tumbuh lebih cepat dibanding perekonomian kaya, ketimpangan pada tahap awal pembangunan persaingan perekonomian justru meningkat hal ini disebabkan ketimpangan perekonomian daerah yang kaya lebih rendah namun secara relatif nilai perubahan itu masih terlalu besar dibandingkan perubahan perekonomian di daerah miskin. Dengan analisa β-convergence kecepatan konvergensi dapat diketahui secara pasti. Jika konvergensi adalah cepat maka fokus kita adalah prilaku steady state sebagaimana telah di ketahui bahwa mayoritas perekonomian berada dekat pada posisi steady state, namun jika tidak yang berarti bahwa posisi perekonomian berada jauh dari posisi steady state maka sebaiknya difokuskan pada pengalaman pertumbuhan yang dialami perekonomian dalam dinamika transional.
Terdapat berbagai studi yang mencoba mengukur kecepatan β-convergence ini. Studi ini menghasilkan dua aliran utama dari regresi, pertama adalah ide tentang club convergence regresi jenis ini bersandar pada hipotesis bahwa hanya Negara-negara yang memiliki karakteristik struktural dan kondisi awal yang mirip saja yang akan konvergen satu sama lain, maka Negara-negara kaya OECD membentuk convergence club juga Negara-negara berkembang lainnya membentuk club konvergensi lain dan Negara-negara miskin membentuk klub lainya. Tidak terdapat kecenderungan untuk konvergen bagi club-club ini dan karena adanya disparitas antar club yang berbeda ini dapat terus berlangsung dalam jangka panjang, bahkan meningkatkan ide club, konvergensi ini sering pula disebut sebagai hipotesis konvergensi absolut.
Formulasi kedua dalam model konvergensi adalah apa yang disebut konvergensi bersyarat dimana perekonomian akan konvergen bukan ke steady state yang sama melainkan ke steady state masing-masing, struktural yang berbeda berimplikasi bahwa Negara-negara akan akan memilki tingkat steady state pendapatan yang berbeda-beda pula. Metode terpopuler disini adalah dengan menambahkan berbagai variabel bertipe struktural ke dalam regresi pertumbuhan dasar, sekali koefisien beta menunjukkan tanda negatif ketika variabel-variabel ini masuk regresor maka kita dapat menyebut bahwa perekonomian yang di teliti mempergunakan konvegensi beta kondisional. Dari sinilah kemudian timbul perhatian untuk menganalisa konvergensi antar daerah di suatu Negara walaupun perbedaan teknologi, prefernsi, dan institusi antar daerah adalah eksis, namun perbedaan ini relatif lebih kecil bila di bandingkan dengan perbedaan antar Model standar pertumbuhan ekonomi menyatakan bahwa tingkat pertumbuhan tergantung dari perekonomian awal. Hubungan yang negatif antara pendapatan dengan tingkat pertumbuhan berarti daerah kaya mengalami pertumbuhan ekonomi rendah yang menunjukkan pendapatan cenderung konvergen secara absolut. Proses konvergen seperti ini disebut dengan konvergensi absolut karena kenyataanya bahwa antar daerah mempunyai karakteristik perekonomian yang beragam mengakibatkan dugaan proses konvergensi absolut dinilai menjadi lemah sehingga konvergensi absolut pada umumnya diikuti oleh konvergensi bersyarat.
Hipotesis konvergensi absolut tidak selalu ada dengan keluarnya hubungan negatif antar pendapatan dengan tingkat pertumbuhan. Adakalanya hubungan tersebut tidak muncul namun ada ketika variabel-variabel lain yang dianggap
berpengaruh seperti pendidikan, kesuburan dan kesehatan yang diikutsertakan dalam proses regresi. Kecenderungan konvergensi yang timbul dengan syarat keadaan variabel-variabel tersebut disebut konvergensi bersyarat. Konvergensi bersyarat merupakan alternatif uji konvergensi apabila daerah-daerah yang diteliti tidak memiliki heterogenitas parameter-parameter yang memungkinkan setiap daerah memiliki posisi steady-state.
Menurut Solow-Swan model menyatakan bahwa Negara-Negara yang mempunyai perbedaan dalam proses produksi, tabungan, dan pertumbuhan penduduk akan tetapi mempunyai kesamaan dalam kemajuan teknologi akan menyebabkan rata-rata pendapatan perkapita mencapai konvergen menuju titik keseimbangan pertumbuhan akan tetapi jika teknologi, tabungan dan pertumbuhan penduduk sama antar Negara maka Negara-negara tersebut akan mencapai konvergen dengan tingkat pendapatan perkapita yang tinggi.
Barro dan Martin dalam Garcia dan Soelistianingsih (1998) menemukan evolusi serupa dari pendapatan regional di AS, Jepang, dan Negara-negara Eropa. Untuk kasus AS mereka menemukan tingkat pertumbuhan berhubungan negatif dengan pendapatan per kapita dimana perbedaan pendapatan antar 47 negara bagian menurun. Sekitar 1,7% per tahun untuk periode 110 tahun sejak tahun 1880. Untuk kasus Jepang, mereka menemukan bahwa pendaptan per kapita dari 47 perfecture untuk periode 1930-1990 cenderung konvergen pada 2,79% per tahun dari R2 adalah 0,92. Untuk daerah eropa (11 di Jerman, 11 di Inggris, 20 di Itali, 21 di prancis, 4 di belanda, 3 di Belgia, 3 di Denmark, dan 17 di Spanyol )
mereka menemukan GDP per kapita konvergen pada 1,9% per tahun untuk periode 1950-1990.
3.1.2. Teori Pertumbuhan Model Solow
Mankiw (2001) Dalam model Solow teori pertumbuhan menggabungkan unsur kemajuan teknologi sebagai sumber pertumbuhan ekonomi ketiga. Model ini telah mengasumsikan hubungan yang tidak berubah antara input modal dan tenaga kerja dan output barang dan jasa.Tetapi model ini dapat dimodifikasi yang memungkinkan peningkatan dalam kemampuan masyarakat untuk berproduksi. Untuk memasukkan kemajuan teknologi haruslah kembali ke fungsi produksi yang mengaitkan modal total (K) dan tenaga kerja total (L) dengan Fungsi: Y= F(K, L) menjadi Y= F(K, L x E) dimana E adalah variabel baru yang dusebut efisiensi tenaga kerja. Efisiensi tenaga kerja mencerminkan pengetahuan masyarakat tentang metode-metode produksi ketika teknologi mengalami kemajuan, efisiensi tenaga kerja akan meningkat. Asumsi yang paling sederhana tentang kemajuan teknologi adalah kemajuan teknologi menyebabkan efisiensi tenaga kerja tumbuh pada tingkat konstan (g).
Analisis perekonomian akan membuahkan hasil ketika mengkaji pertumbuhan populasi persamaannya adalah: ∆k = sf (k)- (δ + n + g) k dimana ∆k sama dengan investasi sf (k) dikurangi investasi pulang pokok (δ + n + g) k. Investasi pulang pokok meliputi 3 kaidah yaitu: menjaga k tetap konstan, δk dibutuhkan untuk mengganti modal yang disusutkan, nk dibutuhkan untuk memberi modal bagi pekerja baru dan gk dibutuhkan untuk pekerja efektif yang diciptakan oleh teknologi.
Investasi Investasi pulang pokok
Pulang pokok (δ + n + g) k
Investasi sf (k)
k* Modal per pekerja, k
Kondisi Mapan Sumber : Mankiw, 2001
Gambar 1. Dampak Kemajuan Teknologi Model Solow
Dampak kemajuan teknologi menunjukkan empat variabel kunci dalam kondisi mapan dengan kemajuan teknologi. Dimana k adalah konstan dalam kondisi mapan, y = f(k), output per pekerja efektif juga konstan. Tingkat efisiensi setiap pekerja aktual tumbuh pada tingkat g, output per pekerja juga tumbuh pada tingkat g, sehingga output total tumbuh pada tingkat n + g.
Kemajuan teknologi dan model pertumbuhan Solow melihat kemajuan teknologi yang mengoptimalkan tenaga kerja pada tingkat g mempengaruhi model pertumbuhan Solow dalam jumlah yang sama dengan pertumbuhan populasi pada tingkat n. Sekarang k didefinisikan sebagai jumlah modal per pekerja efektif. Kenaikan dalam jumlah pekerja efektif karena kemajuan teknologi cenderung mengurangi k. Dalam kondisi mapan investasi sf (k) benar-benar menghilangkan penurunan dalam k yang terkait dengan penyusutan, pertumbuhan populasi, dan kemajuan teknologi.
Dengan adanya kemajuan teknologi model ini dapat menjelaskan kenaikan yang berkelanjutan dalam standar kehidupan yang kita amati. Yaitu kemajuan teknologi dapat mengarah ke pertumbuhan berkelanjutan dalam output per pekerja. Kemajuan teknologi juga memodifikasi criteria untuk kaidah emas, tingkat modal kaidah emas adalah kondisi mapan yang memaksimalkan konsumsi per pekerja efektif. Dimana MPK = δ + n + g atau MPK – δ = n + g.
3.1.3. Teori Pertumbuhan Endogen.
Untuk memahami sepenuhnya proses pertumbuhan ekonomi kita perlu keluar dari model Solow dan mengembangkan model-model yang menjelaskan kemajuan teknologi, model ini disebut teori pertumbuhan endogen (endogenous growth theory) karena menolak asumsi model Solow tentang perubahan teknologi eksogen. Untuk menggambarkan gagasan dibelakang teori pertumbuhan endogen dengan melihat fungsi produksi sederhana Y = A K Dimana Y adalah output, K adalah persediaan modal dan A adalah konstanta yang mengukur jumlah output yang diproduksi untuk setiap unit modal. Fungsi produksi ini tidak menunjukkan muatan dari pengembalian modal yang kian menurun. Satu unit modal tambahan memproduksi unti output tambahan A tanpa memperhitungkan berapa banyak modal di sini, keberadaan pengembalian modal yang kian menurun ini merupakan perbedaan penting antara model pertumbuhan endogen dengan model Solow. Dalam teori pertumbuhan endogen fungsi produksi tentang pertumbuhan ekonomi diasumsikan bagian pendapatan ditabung dan diinvestasikan sehingga akumulasi modal persamaannya adalah ∆ K = s Y – δK. Persamaan ini menyatakan bahwa perubahan dalam persediaan modal (∆K) sama dengan investasi (sY) dikurangi
penyusutan (δK), lalu digabungkan dengan persamaan fungsi produksi Y = AK, maka didapatkan ∆Y/Y = ∆K/K = sA – δ. Yang menunjukkan tingkat perumbuhan output selama sA > δ pendapatan perekonomian tumbuh selamanya bahkan tanpa asumsi kemajuan teknologi eksogen.
Jadi perubahan sederhana dalam fungsi produksi bisa membedakan secara dramatis prediksi tentang pertumbuhan ekonomi. Dalam model Solow tabungan akan mendorong pertumbuhan untuk sementara, tetapi pengembalian modal yang kian menurun secara berangsur-angsur mendorong perekonomian mencapai kondisi mapan dimana pertumbuhan hanya tergantung pada kemajuan teknologi eksogen, sebaliknya dalam model pertumbuhan endogen tabungan dan investasi dapat mendorong pertumbuhan yang berkesinambungan. Penganjur teori pertumbuhan endogen berpendapat bahwa asumsi pengembalian modal konstan (bukan yang kian menurun) lebih bermanfaat jika K diasumsikan secara lebih luas.
3.1.4. Pengukuran Ketimpangan
Ketimpangan pendapatan antar daerah atau wilayah dapat dipandang sebagai salah satu ukuran dalam melihat perbedaan tingkat kemakmuran antar daerah, walaupun kemakmuran itu sendiri tidak hanya diukur dengan indikator pendapatan per kapita, sebagaimana indikator yang digunakan dalam ketimpangan pendapatan daerah. Penyajian ketimpangan pendapatan antar daerah pada dasarnya hanyalah memberikan gambaran secara makro mengenai ketimpangan pendapatan rata-rata antara berbagai daerah atau wilayah tertentu dan tidak
memperlihatkan pola pembagian pendapatan antar golongan penerima pendapatan.
Todaro (1981) menggambarkan ketimpangan dengan mempertimbangkan hubungan antara tingkat pendapatan per kapita dan tingkat ketimpangan pendapatan untuk negara maju dan negara sedang berkembang dan menggambarkan ketimpangan pendapatan dari negara-negara tersebut dalam tiga kelompok, dimana pengelompokan tersebut disesuaikan dengan tinggi, sedang dan rendahnya tingkat pendapatan di masing-masing wilayah.