• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.2. Kerangka Pemikiran Teoritis

Menurut Lindert dan Kindleberger (1995) perdagangan internasional dianggap sebagai suatu akibat dari adanya interaksi antara permintaan dan penawaran yang tanpak dalam bentuknya yang sudah dikenal serta merupakan suatu interaksi dari kemungkinan produksi dan preferensi konsumen. Terdapat dua hal penting untuk terjadinya perdagangan internasional yaitu spesialisasi produksi dan informasi akan kebutuhan barang yang diperdagangkan. Hal pertama adalah spesialisasi terjadi karena keadaan yang alamiah yakni tumbuhnya atau tersedianya bahan alamiah yang ketersediannya berbeda-beda di berbagai negara. Hal kedua adalah ketersedian informasi yang berkaitan erat dengan tingkat

kemajuan daya pikir manusia. Informasi diperlukan untuk mengetahui apa yang diperlukan orang lain.

Terdapat dua teori perdagangan yang dikemukakan oleh dua tokoh ekonomi, yakni keunggulan absolut dan dari Adam Smith dan perdagangan bedasarkan keunggulan komparatif David Ricardo. Menurut Adam Smith perdagangan antara dua negara didasarkan pada keunggulan absolut. Jika sebuah negara lebih efisien (memiliki keunggulan absolut) terhadap negara lain dalam memproduksi sebuah komoditi namun kurang efisien dibandingkan (memiliki kerugian absolut) terhadap negara lain dalam memproduksi komoditi lainnya, maka kedua negara tersebut dapat memperoleh keuntungan dengan cara masing- masing melakukan spesialisasi dalam memproduksi komoditi yang memiliki keunggulan absolut dan menukarkannya dengan komoditi lain yang memiliki kerugian absolut.

Dalam kegiatan ekspor suatu komoditi, Salvatore (1997) menyatakan bahwa secara teoritis volume ekspor suatu komoditi tertentu dari suatu komoditi tertentu dari suatu negara ke negara lain merupakan selisih antara penawarn domestik dan permintaan domestik yang disebut sebagai kelebihan penawaran (excess supply). Kelebihan penawaran dari negara tersebut di lain pihak merupakan kelebihan permintaan (excess demand). Selain dipengaruhi oleh permintaan dan penawaran domestik, ekspor juga dipengaruhi oleh faktor-faktor pasar dunia seperti harga komoditas itu sendiri dan komoditas subtitusinya di pasar internasional serta hal-hal yang dapat mempengaruhi harga baik langsung maupun tidak langsung.

Secara teoritis dampak-dampak yang ditimbulkan dengan adanya pemberlakuan kebijakan perdagangan dapat dilihat pada Gambar 2.1. Pada gambar tersebut misal negara 1 akan mengekspor suatu komoditi ke negara lain yaitu negara 2, apabila harga domestik di negara 1 sebelum terjadinya perdagangan lebih rendah bila dibandingkan dengan harga domestik di negara 2 struktur harga relatif lebih rendah di negara 1 tersebut disebabkan oleh kelebihan penawaran (excess supply) yaitu produksi domestik melebihi konsumsi domestik sebesar segitiga ABE dan dalam hal ini faktor produksi di negara 1 relatif berlimpah. Dengan demikian negara 1 mempunyai kesempatan menjual kelebihan produksinya ke negara lain. Di lain pihak, negara 2 mengalami kekurangan penawaran suatu komoditi karena konsumsi domestiknya melebihi produksi domestik (excess demand), sebesar segitiga A’B’E’ sehingga harga menjadi lebih tinggi. Dalam kesempatan ini negara 2 berkeinginan untuk membeli komoditi negara lain yang harganya relatif lebih murah. Apabila kemudian terjadi komunikasi antara negara 1 dan 2 maka akan terjadi perdagangan antara kedua negara tersebut.

Dalam hal ini negara 1 akan mengekspor komoditi X ke negara 2 dan penawaran di pasar internasional akan terjadi jika harga internasional lebih besar dari P1, sedangkan permintaan di pasar internasional sama dengan P2 maka di negara 2 terjadi kelebihan permintaan sebesar A’B’E’, sedangkan jika harga internasional sebesar P2 maka di negara 1 akan terjadi kelebihan suplai sebesar ABE.

Perpaduan antara kelebihan penawaran di negara 1 dan kelebihan permintaan di negara 2 akan menentukan harga yang terjadi di pasar internasional, yaitu sebesar P2 atau dengan kata lain, P2 merupakan harga relatif ekuilibrium setelah berlangsungnya kebijakan perdagangan di kedua negara dan merupakan harga yang berlaku di kedua negara (Salvatore, 1997).

Sumber : Salvatore, 1997

Gambar 2.1. Kurva Terjadinya Perdagangan Internasional 2.2.2. Teori Penawaran Ekspor

Ekspor adalah berbagai barang dan jasa yang diproduksi di dalam negeri dan dijual ke luar negeri. Menurut Salvatore (1997), menyatakan bahwa volume ekspor suatu negara ditentukan oleh harga komoditi tersebut di pasar domestik, harga internasional dan secara tidak langsung juga dipengaruhi oleh perubahan nilai tukar (exchange rate), mata uang suatu negara terhadap mata uang negara lain. Lebih lanjut dikatakan bahwa antara harga dan jumlah komoditi yang ditawarkan memiliki hubungan yang positif, yaitu jika harga naik maka jumlah yang akan ditawarkan meningkat pula, begitupun sebaliknya. Lebih jelasnya

Sx Px P2 Ekspor Px Px Sx P1 A A A P1 Impor Negara I Perdagangan Internasional Negara II P3 B‖ X21 Xint X12 B E Dx Sx A E’ Dx A’ Dx A‖ O O O Sx E‖ B’

hubungan antara harga dengan jumlah yang ditawarkan dapat dilihat pada gambar 2.2.

Sumber : Lipsey, 1995

Gambar 2.2. Hubungan Antara Harga dengan jumlah Penawaran Ekspor Penawaran suatu komoditas baik berupa barang maupun jasa adalah jumlah yang ditawarkan oleh produsen pada konsumen dalam suatu pasar dalam tingkat harga dan waktu tertentu. Penawaran mempengaruhi harga secara negatif jika penawaran meningkat maka harga akan cenderung turun karena jumlah komoditis yang ada lebih besar dari yang diinginkan oleh konsumen (Nicholson, 1999).

Penawaran ekspor merupakan selisih antara produksi domestik dikurangi dengan konsumsi atau permintaan domestik negara yang bersangkutan ditambah dengan persedian atau stok tahun sebelumnya. Secara matematis sederhana dapat dituliskan sebagai berikut :

Xt = Qt – Ct + St-1

dimana :

P

Q/t S

Xt = Jumlah ekspor komoditi pada tahun t Qt = Jumlah produksi domestik pada tahun t Ct = Jumlah konsumsi domestik pada tahun t St-1 = Stok tahun sebelumnya

Jika jumlah persediaan tahun sebelumnya diasumsikan nol (0), karena produksi pada tiap tahun semuanya diekspor, dan mengingat permintaan ekspor yang tinggi maka dengan demikian fungsi ekspor dapat dituliskan sebagai berikut:

Xt = Qt – Ct

Faktor- faktor yang memepengaruhi penawaran komoditas adalah harga komoditas tersebut, harga komoditas substitusi, harga faktor produksi, tingkat teknologi, pajak, subsidi, dan nilai tukar (Lipsey, 1995).

1. Harga Komoditas yang Bersangkutan

Suatu teori dasar ekonomi menyatakan bahwa harga sejumlah komoditas mempunyai hubungan yang positif dengan jumlah yang ditawarkan yaitu semakin tinggi harganya semakin besar jumlah yang ditawarkan, cateris paribus. Hal ini karena peningkatan harga komoditas menyebabkan peningkatan keuntungan yang akan memacu peningkatan produksi maupun penjualan hasil produksinya. Dengan demikian perubahan harga suatu komoditas akan menyebabkan pergerakan sepanjang kurva penawaran.

2. Harga Komoditas Substitusi

Perubahan harga komoditas substitusi akan mempengaruhi jumlah penawaran pada komoditas yang bersangkutan. Peningkatan harga komoditas substitusi

akan menyebabkan berkurangnya jumlah penawaran komoditas yang bersangkutan.

3. Harga Faktor Produksi

Harga suatu faktor produksi merupakan harga yang harus dikeluarka perusahaan. Dengan meningkatnya harga faktor produksi maka keuntungan yang diterima perusahaan akan berkurang. Hal ini akan berakibat perusahaan produksinya.

4. Tingkat Teknologi

Teknologi berkorelasi positif dengan jumlah yang ditawarkan. Jika perusahaan menggunakan teknologi baru, fungsi produksi akan bergeser ke bawah yang berarti biaya produksi berkurang. Keuntungan yang akan diperoleh menjadi lebih besar.

5. Pajak dan Subsidi

Pajak mempengaruhi penawaran secara negatif, jika pajak meningkat maka akan diikuti oleh penawaran pajak. Pajak biasanya dikeluarkan dari kebijakan ekonomi pemerintah dalam suatu negara. Subsidi berupa insentif dan bantuan pemerintah yang dikeluarkan untuk melindungi produsen atau konsumen. Kebijakan subsidi dapat mempengaruhi penawaran suatu komoditas.

6. Nilai Tukar

Nilai tukar berkorelasi positif terhadap penawaran ekspor suatu komoditi. Hal ini terjadi karena pada saat nilai tukar mengalami depresiasi, secara teori harga produk dalam negeri relatif lebih murah dibandingkan dengan produk negara lain. Interpretasi lainnya adalah harga jual (ekspor) dari komoditi tersebut

akan jauh lebih mahal apabila dibandingkan dengan negara eksportir lainnya, sehingga negara-negara importir mau meningkatkan permintaanya. Semakin tinggi nilai tukar akan menyebabkan harga ekspor meningkat, karena ada dorongan dari rupiah tadi, sehingga mendorong peningkatan volume dari ekspor komoditi itu sendiri.

2.2.3 Konsep Daya Saing

a. Konsep Keunggulan Komparatif

Konsep keunggulan komparatif (The Law of Comparative Advantage) pertama kali dikemukan oleh David Ricardo pada awal abad ke 19. Konsep keunggulan komparatif Ricardo menyatakan bahwa suatu negara akan cenderung memproduksi dan mengekspor komoditi dengan biaya produksinya secara relatif lebih murah dibandingkan dengan biaya produksi negara lain dan didasarkan kepada satu produksi saja, yaitu tenaga kerja (Salvatore, 1997). Hukum keunggulan komparatif Ricardo mendasar pada sejumlah asumsi yang disederhanakan, yaitu (1) hanya terdapat dua negara dan dua komoditi (2) perdagangan bersifat bebas, (3) terdapat mobilitas tenaga kerja yang sempurna di dalam negara namun tidak ada mobilitas antara dua negara, (4) biaya produksi konstan, (5) tidak terdapat biaya transportasi, (6) tidak ada perubahan teknologi, (7) menggunakan teori nilai tenaga kerja. Asumsi satu sampai enam dapat diterima namun asumsi ke tujuh tidak berlaku dan seharusnya tidaj digunakan untuk menjelaskan keunggulan komparatif.

Pada tahun 1933 Hecksler dan Olin melakukan pengembangan terhadap Hukum Keunggulan Komparatif Ricardo. Hecksler dan Olin (H-O) menekankan perbedaan tarif faktor pemberian alam (endowment) dan harga faktor-faktor

produksi antar negara sebagai determinan perdagangan yang paling penting. Teori H-O beranggapan bahwa tiap negara akan mengekspor komoditi yang secara relatif mempunyai faktor produksi yang berlimpah dan murah, serta mengimpor komoditi yang faktor produksinya relatif langka dan mahal (Salvatore,1997). Menurut Tambunan (2001), keunggulan komparatif dapat diukur dengan menggunakan Revealed Comparative Advantage (RCA) dan dapat dihitung nilai dari RCA tersebut.

Indonesia dan negara sedang berkembang lainnya memiliki keunggulan komparatif dalam produksi barang-barang yang faktor-faktor produksi utamanya berlimpah di dalam negeri, seperti tenaga kerja (berpendidikan rendah), tanah dan berbagai macam bahan baku. Namun, pesatnya kemajuan teknologi dan ditambah lagi dengan usaha-usaha yang dilakukan perusahaan-perusahaan selama ini untuk menghemat pemakaian tenaga kerja dan bahan baku dapat mengancam atau bahkan menghilangkan keunggulan komparatif yang dimiliki negara tersebut. Usaha-usaha penghematan tersebut dilakukan dengan cara mengubah proses produksinya, misalnya dengan menerapkan otomatisasi dan menerapkan metode- metode bioteknologi dan pemakaian material-material baru yang menghemat atau tidak sama sekali memerlukan sumber daya alam.

Namun demikian, perlu diakui bahwa kemajuan teknologi tidak hanya perubahan negatif terhadap keunggulan komparatif negara berkembang. Proses teknologi juga dapat meningkatkan keunggulan komparatif dari negara berkembang yang berarti menciptakan kesempatan bagi negara-negara tersebut dengan meningkatkan ekspor mereka. Selain kemajuan teknologi dan usaha

penghematan tenaga kerja dan input alamiah lainnya, perubahan keunggulan komparatif juga bisa terjadi akibat peningkatan kualitas tenaga kerja. Peningkatan itu membuat tingkat produktivitas tenaga kerja dan efisiensi di dalam proses produksi meningkat serta kualitas produk bertambah baik.

Salah satu indikator yang dapat menunjukkan perubahan keunggulan komparatif yang dimaksud di atas disebut Revealed Comparative Advantage. Indeks ini menunjukkan perbandingan antara pangsa ekspor suatu komoditas negara terhadap pangsa ekspor komoditas tersebut dari seluruh dunia. Dengan kata lain, indeks RCA menunjukkan keunggulan komparatif atau daya saing ekspor dari suatu negara dalam suatu komoditas terhadap dunia.

Studi-studi empiris mengenai RCA Indonesia cukup banyak diantaranya dari Aswicahyono (1996), dimana dibandingkan dengan Malaysia, Thailand, Cina, Korea Selatan dan beberapa negara lainnya, indeks RCA Indonesia paling rendah. Nilai indeks RCA bervariasi antarproduk menurut intensitas faktor produksi yang digunakan. Misalnya, berdasarkan data dari UNIDO untuk periode 1965-1995 menunjukkan bahwa sejak tahun 1983 Indonesia telah memiliki keunggulan komparatif dalam ekspor produk-produk manufaktur padat sumber daya manusia. Hal itu menunjukkan bahwa daya saing produk-produk manufaktur padat tenaga kerja lebih tinggi dibanding daya saing barang-barang padat modal. Indeks RCA ekspor produk-produk tenaga kerja mencapai 1 sekitar tahun 1990, sedangkan indeks RCA barang-barang padat modal pada tahun yang sama jauh di bawah satu, demikian juga indeks RCA rata-rata untuk ekspor manufaktur.

b. Konsep Keunggulan Kompetitif

Keunggulan kompetitif suatu negara tergantung pada tingkat sumberdaya relatif yang dimilikinya. Apabila pesaing bertempat di negara-negara lain maka posisi sumber daya yang satu terhadap yang lain beragam sesuai dengan kondisi pasokan sumber daya maing-masing lokasi.

Sumber : Porter, 1990

Gambar 2.3. Sistem Teori Berlian Porter

Penelitian Porter (1990) tentang keunggulan bersaing negara-negara mencakup tersedianya peranan sumber daya dan melihat lebih jauh pada keadaan negara yang mempengaruhi daya saing perusahaan-perusahaan internasional pada industri yang berbeda. Sebagian besar sumber daya yang penting seperti keahlian tenaga kerja yang tinggi, teknologi dan sistem manajemen yang canggih melalui investasi oleh orang-orang dan perusahaan. Menurut Porter (1990) ada empat kategori yang merupakan faktor penentu keunggulan bersaing industri nasional

Peluang Strategi Perusahaan, Struktur, dan Persaingan Kondisi Faktor Sumber Daya : Alam, Manusia,Teknologi , Modal, Infrastruktur Kondisi Permintaan Industri Terkait

yaitu faktor-faktor produksi, keadaan permintaan dan tuntutan mutu, industri terkait dan pendukung, faktor struktur, strategi serta persaingan perusahaan. Selain itu faktor eksternal yaitu sistem pemerintahan dan kesempatan kerja. Secara bersama-sama faktor-faktor ini membentuk sistem dalam peningkatan keunggulan daya saing yang disebut model berlian daya saing internasional (Gambar 2.3).

2.2.4. Data Panel

Data panel atau panel data adalah gabungan dari data time series (antar waktu) dan data cross section (antar individu). Untuk menggambarkan panel data secara singkat, misalkan pada data cross section, nilai dari satu variabel atau lebih dikumpulkan untuk beberapa unit sampel pada suatu waktu waktu. Dalam data panel, unit cross section yang sama di-survey dalam beberapa waktu Regresi dengan menggunakan data panel, memberikan beberapa keunggulan dibandingkan dengan pendekatan standar cross section dan time series (Syahrial, 2004).

Hsiao dalam Syahrial (2004), mencatat bahwa penggunaan data panel dalam penelitian ekonomi memiliki beberapa keuntungan utama dibandingkan data jenis cross section maupun time series. Pertama, dapat memberikan peneliti jumlah pengamatan yang besar, meningkatkan degree of freedom (derajat kebebasan), data memiliki variabilitas yang besar dan mengurangi kolinieritas antara variabel penjelas, di mana dapat menghasilkan estimasi ekonometri yang efisien. Kedua, data panel dapat memberikan informasi lebih banyak yang tidak dapat diberikan hanya oleh data cross section atau time series saja. Ketiga, pdata panel dapat memberikan penyelesaian yang lebih baik dalam inferensi perubahan

dinamis dibandingkan data cross section. Di samping berbagai keunggulan dimiliki model panel data tersebut, ada beberapa permasalahan yang muncul dalam pemanfaatan data jenis panel, yaitu permasalahan autokorelasi dan heterokedastisitas. Sementara itu ada permasalahan baru yang muncul seperti korelasi silang (cross-correlation) antar unit individu pada periode yang sama.

Estimasi model data panel tergantung kepada asumsi yang dibuat peneliti terhadap konstanta (intercept), koefisien kemiringan (slope coefficients) dan variabel error (error term). Model-model estimasi ini akan ditinjau pada kesempatan lain. Regresi dengan data panel adalah berbeda karena memiliki dua dimensi, yaitu dimensi time series dan dimensi cross-section. Dengan kata lain, regresi data panel merupakan regresi gabungan jangka pendek dan jangka panjang. Ada dua autokorelasi di dalam regresi data panel: autokorelasi residual time series, dan korelasi antar residual. Begitu juga dengan heteroskedastisitas: heteroskedastisitas residual cross-section, heteroskedastisitas antar residual. Analisis data panel merupakan pengembangan dari analisis regresi. Terdapat tiga metode regresi dasar yang ada, yaitu Common Pooled Least Square, Fixed Effect Regression, dan Random Effect.

Dokumen terkait