Kerangka Pemikiran Teoritis
Partisipasi Anggota LKM-A
Partisipasi adalah peran serta atau ikut serta dalam suatu kegiatan. Menurut Mubyarto (1984) partisipasi didefinisikan sebagai kesediaan untuk membantu berhasilnya setiap program sesuai dengan kemampuan anggota tanpa berarti mengorbankan diri sendiri. Partisipasi anggota merupakan keterlibatan mental dan emosional terhadap suatu lembaga, memiliki motivasi berkontribusi kepada lembaga tersebut dan berbagai tanggung jawab atas pencapaian tujuan organisasi maupun usaha (Kementerian Koperasi dan UMKM 2010). Partisipasi anggota dalam LKM-A dapat dikatakan sebagai ikut serta anggota dalam aktivitas atau kegiatan LKM-A dalam pencapaian tujuan bersama yaitu menuju kesejahteraan dan kebersamaan anggota. Menurut Hendar dan Kusnadi (2005), partisipasi memiliki banyak definisi, tergantung dari sudut mana kita memandang dan menafsirkannya. Partisipasi dapat dipandang dari sifatnya, bentuknya, pelaksanaannya, dan peran serta perorangan atau sekelompok orang.
Dilihat dari sifatnya, partisipasi anggota terdiri dari partisipasi yang dipaksakan (forced) dan partisipasi sukarela (voluntary). Partisipasi yang dipaksakan terjadi apabila manajemen dalam pengambilan keputusan memaksa anggota untuk berpartisipasi dan mendukung keputusan tersebut. Partisipasi sukarela terjadi apabila manajemen memulai gagasan tertentu dan para bawahan menyetujui untuk berpartisipasi dan mendukung gagasan tersebut. Partisipasi berdasarkan sifatnya yang sesuai dengan LKM-A adalah partisipasi sukarela. Dimensi partisipasi berdasarkan bentuknya, partisipasi dapat bersifat formal dan dapat pula bersifat informal. Partisipasi yang bersifat formal biasanya dalam setiap kegiatannya dan pengambilan keputusan dilakukan secara formal yang diatur dalam manajemen LKM-A. Sedangkan partisipasi yang bersifat informal biasanya hanya terdapat pada persetujuan lisan antara atasan dan bawahan. Kedua bentuk tersebut dapat terjadi dalam manajemen LKM-A sesuai dengan kondisi dan situasi serta aturan yang berlaku di dalam LKM-A. Dari dimensi pelaksanakannya, partisipasi dapat dilakukan secara langsung maupun tidak langsung. Partisipasi secara langsung dapat terjadi ketika anggota mengungkapkan apa pendapatnya serta apa yang diinginkan oleh anggota dalam meningkatkan kinerja LKM-A. Sedangkan partisipasi secara tidak langsung terbentuk ketika ada salah satu orang yang mewakili aspirasi sekelompok anggota. Berdasarkan kepentingannya, partisipasi anggota dapat berupa partisipasi konstributif dan
21 partisipasi insentif. Partisipasi kontributif artinya dalam kedudukan sebagai pemiliki para anggota memberikan kontribusinya terhadap pembentukan dan peningkatan kontribusi dalam hal keuangan seperti penyerahan simpanan pokok, simpanan wajib, simpanan sukarela, atau dana-dana pribadi yang diinvestasikan pada LKM-A. Sedangkan partisipasi insentif dapat berupa pengawasan terhadap jalannya LKM-A, penetapan tujuan, serta pembuat keputusan.
Manajemen LKM-A tidak terlepas dari adanya tingkat partisipasi anggota dalam melakukan kinerjanya. Adanya tingkat partisipasi yang tinggi dari anggota LKM-A akan terbentuk suatu informasi mengenai kebutuhan dan kepentingan yang sesuai dengan anggota sehingga dapat menyediakan semua kebutuhan tersebut (high associations). Apabila tujuan LKM-A tercapai dengan hubungan yang tinggi namun pelayanan masih kurang dilakukan terhadap kebutuhan atau kepentingan anggota akan berdampak pada partisipasinya kurang (moderately high associations). Hubungan di dalam LKM-A tidak terjadi sehingga tidak ada anggotanya berkontribusi merupakan kondisi LKM-A yang tidak baik (low associations). Selain itu, dengan adanya partisipasi dalam hal penyediaan serta pembelian akan membuat LKM-A memperoleh keuntungan yang dapat dimanfaatkan oleh anggota. Manfaat sebagai anggota organisasi maupun sebagai nasabah yang dirasakan oleh anggota akan membuat anggota terus berkontribusi bahkan menarik orang lain untuk menjadi anggota LKM-A.
Partisipasi anggota LKM-A sangat dipengaruhi oleh kepentingannya atau tujuannya. Dimana partisipasi anggota LKM-A berdasarkan kepentingannya dilihat dari kewajiban dan hak anggota. Kewajiban anggota dalam melakukan pembayaran simpanan pokok, simpanan wajib, dan simpanan sukarela. Hak anggota dalam LKM-A adalah mendapat hak suara, bagi hasil SHU yang adil, dan memperoleh pelayanan di LKM-A. Sehingga analisis partisipasi dalam penelitian ini antara lain partisipasi dalam bidang organisasi dan permodalan LKM-A Lestari Mulya.
Manfaat sebagai Anggota LKM-A
Menurut Hendar dan Kusnadi (2005), manfaat diartikan sebagai nilai yang subyektif dari suatu alternatif yang terbuka bagi seseorang. Manfaat atau nilai merupakan suatu nilai yang menunjukan kapasitas potensial dari suatu objek atau aktivitas untuk memuaskan kebutuhan manusia yang dipandang dari sudut ekonomi dan nonekonomi. Kebutuhan anggota LKM-A Lestari Mulya tersebut dilihat dari kebutuhan sebagai anggota organisasi dan kebutuhan sebagai nasabah LKM-A. Kebutuhan sebagai anggota atau bagian dari organisasi yang diinginkan oleh anggota LKM-A dapat dilihat dari seluruh kegiatan yang dilakukan dengan adanya hubungan baik dengan berbagai pihak yang berada di LKM-A tersebut. Hubungan demikian terjadi antara anggota dengan pengurus, dan dengan sesama anggota LKM-A. Selain itu kebutuhan sebagai anggota organisasi dapat dilihat dengan pelayanan pegurus LKM-A dan pembinaan atau bimbingan yang dilakukan dari LKM-A. Adanya manfaat sebagai anggota atau bagian dari organisasi yang dirasakan tinggi oleh anggota LKM-A akan menunjukan terjalinnya hubungan kekeluargaan dan gotong-royong di dalam LKM-A. Hal ini sesuai dengan azas kelembagaan atau layaknya koperasi yang berada di Indonesia.
22
Manfaat sebagai nasabah LKM-A yang ingin dicapai oleh LKM-A Lestari Mulya terjadi disebabkan terpenuhinya kebutuhan modal petani untuk melakukan kegiatan usahataninya. Kebutuhan tersebut disesuaikan dengan aktivitas atau kegiatan yang bersifat usaha atau jasa dari LKM-A. Seseorang menjadi anggota di LKM-A pasti ingin mendapatkan suatu manfaat tertentu yang ingin dicapai apabila menjadi anggota LKM-A tersebut. LKM-A merupakan perusahaan yang memberikan jasa simpan pinjam kepada nasabahnya, untuk perusahaan jasa salah satu upaya yang dilakukan oleh LKM-A adalah memberikan pelayanan yang terbaik kepada nasabahnya. Jasa merupakan kegiatan ekonomi yang memberikan manfaat bagi pelanggan pada waktu serta tempat tertentu, dan merupakan hasil dari tindakan mewujudkan perubahan yang diinginkan dalam diri atau atas nama penerima jasa tersebut (Lovelock 2005). Sedangkan Rangkuti (2003) mengartikan jasa sebagai pemberian kinerja atau tindakan yang tak kasat mata dari satu pihak ke pihak lain. LKM-A dalam pergerakannya harus dapat memberikan pelayanan yang baik kepada anggotanya sebagai suatu organisasi milik anggota dan untuk anggota. Begitu pula pada LKM-A Lestari Mulya yang merupakan salah satu lembaga keuangan yang membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhan permodalan petani di Desa Blubuk.
Kinerja Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis (LKM-A)
Penilaian terhadap kinerja terhadap LKM-A sangat penting dilakukan. Hal ini dilihat dari manfaat yang diperoleh dengan adanya penilaian kinerja seperti dapat mengetahui sejauh mana LKM-A telah berjalan, mengetahui produktivitas LKM-A, memotivasi seluruh perangkat untuk mencapai tujuan atau sasaran organisasi, dan mematuhi standar perilaku yang telah ditentukan sebelumnya. Penilaian kinerja juga dapat menjadi ukuran dalam melakukan tindakan dan hasil yang diinginkan oleh LKM-A. Penilaian kinerja dimanfaatkan oleh manajemen untuk mengelola operasi organisasi secara efektif dan efisien melalui pemberian motivasi karyawan secara maksimum seperti promosi, transfer, pemberhentian, mengidentifikasi kebutuhan pelatihan, dan pengembangan karyawan serta menyediakan umpan balik bagi karyawan mengenai bagaimana atasan mereka menilai kinerjanya, dan menyediakan suatu dasar bagi distribusi penghargaan (Mulyadi 2001).
Hasil pengukuran kinerja digunakan sebagai umpan balik yang akan memberikan informasi tentang prestasi pelaksanaan suatu rencana dan titik dimana perusahaan memerlukan penyesuaian-penyesuaian atas aktivitas perencanaan dan pengendalian (Yuwono et al 2006). Menurut Yuwono et al (2006), ada dua pendekatan dalam mengukur kinerja perusahaan, yaitu:
a. Ukuran Keuangan, yaitu dengan ukuran kinerja yang berasal dari laporan keuangan yang diterbitkan oleh perusahaan.
b. Ukuran non keuangan, yaitu ukuran kinerja yang tidak terlihat langsung dari laporan keuangan, namun berhubungan dengan pencapaian ukuran keuangan dan bersifat kualitatif seperti market share, market growth, dan technological capability.
Kinerja keuangan didefinisikan sebagai ukuran-ukuran tertentu yang dapat mengukur keberhasilan suatu perusahaan dalam menghasilkan laba. Kondisi keuangan LKM-A Lestari Mulya akan dapat diketahui dengan laporan keuangan
23 perusahaan yang terdiri dari neraca, laporan laba rugi, dan laporan keuangan lainnya. Menurut Munawir (2002) analisis terhadap pos-pos neraca akan dapat diketahui atau akan diperoleh gambaran tentang posisi keuangannya, sedangkan analisis terhadap laba rugi akan memberikan gambaran tentang hasil atau perkembangan usaha.
Laporan keuangan juga sangat diperlukan oleh LKM dalam meningkatkan kesejahteraan anggotanya. Dapat dilihat dari laporan keuangan LKM-A Lestari Mulya untuk mengetahui perkembangan atau pemberdayaan terhadap kinerja LKM. Laporan keuangan juga berfungsi untuk mengurangi kesenjangan informasi antara pihak manajemen (pengurus LKM) dengan para anggota. Menurut Munawir (2002), laporan keuangan akan dapat digunakan oleh manajemen untuk: a. Mengukur tingkat biaya dari berbagai kegiatan perusahaan.
b. Menentukan atau mengukur efisiensi tiap-tiap bagian, proses atau produksi, dan untuk menentukan derajat keuntungan yang akan dicapai.
c. Menilai dan mengukur hasil kerja tiap-tiap individu yang telah diserahi wewenang dan tanggung jawab.
d. Menentukan perlu atau tidaknya digunakan kebijakan atau prosedur yang baru untuk mencapai hasil yang baik.
Kinerja dapat direncanakan dengan baik dan diukur dengan kepuasan anggota menggunakan parameter yang terukur seperti tingkat perolehan hasil usaha, pembagian sisa hasil usaha kepada anggota dan promosi anggota (Tanjung 2008). Indikator kinerja yang digunakan dalam pelaksanaan suatu pekerjaan di lingkungan sebuah organisasi mencakup lima unsur yaitu kuantitas hasil kerja yang dicapai, kualitas hasil kerja yang dicapai, jangka waktu mencapai hasil kerja tersebut, kehadiran, dan kegiatan selama hadir di tempat kerja serta kemampuan bekerjasama (Nawawi 2006).
Kerangka Pemikiran Operasional
LKM-A Lestari Mulya merupakan lembaga keuangan yang dibentuk oleh Gapoktan Lestari Mulya. LKM Lestari Mulya dibentuk atas dasar dana PUAP yang diterima oleh Gapoktan pada tahun 2008. LKM-A Lestari Mulya berada di Desa Blubuk, Kecamatan Dukuhwaru, Kabupaten Tegal. Perkembangan jumlah dana yang digulirkan LKM-A Lestari Mulya terus meningkat dari awal pencairan dana yaitu tahun 2009 hingga akhir tahun 2013. Selain itu, jumlah anggota yang melakukan peminjaman di LKM-A Lestari Mulya terus meningkat dari putaran I pada tahun 2008 hingga putaran XVI pada akhir tahun 2013. Hal ini menujukkan bahwa semakin banyak anggota yang membutuhkan dan melakukan peminjaman di LKM-A dan LKM-A dituntut agar dapat meningkatkan kinerjanya untuk memenuhi kebutuhan seluruh anggota. Meningkatnya total pembiyaan dan peningkatan jumlah anggota yang meminjam belum dapat menunjukan tingkat partisipasi tinggi dalam LKM-A. Partisipasi anggota dalam bidang permodalan tidak diiringi dengan partisipasi anggota di bidang organisasi. Partisipasi organisasi dibidang organisasi masih rendah, dapat dilihat pada kehadiran anggota di RAT hanya 11.8 persen dari total anggota. Partisipasi anggota LKM-A dibidang organisasi yang dilihat dari kegiatan RAT, kepuasan terhadap pelayanan
24
LKM-A, dan kegiatan pembinaan atau bimbingan. Sedangkan partisipasi anggota LKM-A dibidang permodalan dilihat berdasarkan kewajibannya membayar simpanan wajib, simpanan pokok, dan keaktifan melakukan peminjaman di LKM- A. Oleh karena itu, LKM-A Lestari Mulya melakukan berbagai kegiatan atau langkah. Semua kegiatan yang dilakukan oleh LKM-A dalam meningkatkan pelayanan kepada anggotanya masih terdapat berbagai kendala. Kendala-kendala yang dihadapi oleh LKM-A Lestari Mulya adalah mengkoordinasikan kepada seluruh anggota LKM-A dan belum semua anggota LKM-A merasakan fasilitas peminjaman. Anggota LKM-A yang telah menggunakan fasilitas pinjaman hanya 49 persen dari total anggota. Oleh karena itu, diperlukan berbagai analisis terhadap anggota LKM-A dan manajemen dari LKM-A sendiri. Analisis terhadap anggota adalah mengetahui respon anggota terhadap manfaat yang dirasakan sebagai anggota organisasi dan manfaat yang dirasakan sebagai nasabah. Sedangkan analisis manajemen LKM-A diperlukan analisis mengenai kapasitas kelembagaan LKM-A dalam kegiatan organisasi dan kegiatan usaha.
Menganalisis hubungan manfaat yang dirasakan oleh anggota dengan tingkat partisipasi anggota dilakukan melalui uji korelasi koefisien Rank Spearman. Dengan mengetahui hubungan dengan tingkat partisipasi, pengelola LKM-A dapat mengambil keputusan atau kebijakan dalam pengembangan LKM- A. Melalui kebijakan tersebut diharapkan LKM-A dapat menjadi organisasi yang tangguh dengan membangun perekonomian masyarakat serta mampu menghadapi tantangan persaingan yang semakin ketat.
Setelah itu, hasil dari manfaat yang dirasakan anggota dihubungkan dengan tingkat partisipasinya. Hal tersebut disebabkan partisipasi anggota merupakan faktor penentu utama dalam mendukung keberhasilan kinerja dan perkembangan LKM-A. Partisipasi anggota akan meningkat jika LKM-A dapat memberikan pelayanan yang baik dan motivasi kepada anggota untuk berperan aktif pada LKM-A. Peran aktif dari anggota akan muncul dengan sendirinya apabila LKM-A dapat memberikan manfaat dan keuntungan yang dirasakan anggota. Semakin besar manfaat yang diperoleh anggota maka akan semakin tinggi pula tingkat partisipasi anggota. Partisipasi anggota terhadap LKM-A dapat dilihat dari peran aktif anggota dibidang organisasi dan permodalan.
Langkah yang akan dilakukan oleh LKM-A Lestari Mulya harus dilihat bagaimana kinerja LKM-A dari berbagai sisi baik dari segi organisasi dan keuangan. Kinerja LKM-A Lestari Mulya merupakan suatu aspek penting dalam melihat gambaran kondisi dan perkembangan LKM-A Lestari Mulya guna mencapai pemenuhan kebutuhan kredit anggota. Penilaian kinerja LKM-A dilihat dari aspek organisasi dan keuangan yang akan mengukur seberapa efisien kinerja yang telah dilakukan oleh LKM-A. Pengukuran kinerja organisasi menggunakan analisis deskriptif atau kualitatif dengan melihat dari perkembangan terhadap variabel-variabel organisasi, seperti struktur organisasi, kredibilitas pengurus, pelaksanaan rapat anggota LKM-A, dan perkembangan LKM-A. Sedangkan kinerja keuangan sangat penting bagi kelancaran LKM-A. Kinerja keuangan LKM-A dapat dilihat dari laporan keuangan dengan analisis rasio keuangan. Hasil dari analisis atau pengamatan terhadap terhadap kinerja keuangan akan digunakan para pengambil keputusan untuk mengambil langkah, baik yang berhubungan dengan keuangan ataupun tidak langsung.
25 Kinerja LKM-A yang baik dilihat dari kesesuaian manajemen LKM-A dengan implementasinya. Kinerja yang baik menunjukan kinerja aspek-aspek organisasi yang efisien. Sedangkan pengukuran kinerja keuangan dilakukan dengan menganalisis rasio-rasio keuangan yang terdapat pada laporan keuangan LKM-A. hal ini dilakukan karena dengan analisis rasio memudahkan para pengambil keputusan dalam melihat badan usaha yang harus dilaksanakan sesuai dengan kondisi pasar seperti kekuatan dan kelemahan badan usaha yang dapat dilihat dari laporan keuangan. Selain itu, analisis rasio dapat mengetahui secara keseluruhan laporan keuangan dari waktu ke waktu. Berdasarkan hasil analisis laporan keuangan LKM-A dapat dilihat kinerja LKM-A Lestari Mulya. Kinerja LKM-A akan mempengaruhi partisipasi anggota. Berdasarkan hasil kinerja organisasi dan kinerja keuangan akan terlihat kemampuan LKM-A dalam mememenuhi kebutuhan anggota baik dalam pemenuhan terhadap modal dapat dijadikan rujukan untuk peningkatan kinerja LKM-A. Secara ringkas dan sistematis bagan alur pemikiran yang mendasari penelitian ini ditunjukkan pada Gambar 4 dibawah ini.
26
27