Kerangka pikir dalam penelitian ini membahas tentang “ Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Deposito Berjangka Pada Bank Umum Di Indonesia . Dalam pembahasan ini variabel yang mempengaruhi Simpanan Deposito pada Bank Umum Di Indonesia antara lain tingkat suku bunga, inflasi, jumlah penduduk, dan jumlah uang beredar.
Penelitian ini menjelaskan bahwa untuk meningkatkan presentase simpanan deposito pada bank umum di indonesia dipengaruhi beberapa sektor yaitu kenaikan suku bunga ,hal tersebut dikarenakan masyarakat akan lebih tertarik menabung jika nilai suku bunga bertambah karena keuntungan nasabah akan bertambah.
Dalam sektor perbankan kenaikan inflasi pada suatu negara berpengaruh dikarenakan kecenderungan masyarakat untuk berkonsumsi daripada harus menyimpan uangnya ke bank dalam bentuk simpanan deposito.
Bertambahnya jumlah penduduk di Indonesia tersebut memberikan dampak positif bagi pihak bank yaitu semakin besar kemungkinan bank dalam menghimpun dana deposito sehingga peluang untuk melaksanakan kegiatan operasionalnya bank akan berjalan sesuai dengan kesepakatan dan tujuan pada bank umum.
Permasalahan lainnya yang mempengaruhi simpanan deposito adalah jumlah uang yang beredar . Dalam jumlah yang beredar ada uang kartal yang di
pegang masyarakat dan uang giral yang diciptakan bank umum. Jadi karena fungsi uang yang berbeda ini akan juga mempengaruhi simpanan deposito.
2.4. HIPOTESIS
Berdasarkan Permasalahan dan landasan teori diatas, maka dapat dikemukakan hipotesa sebagai berikut :
1. Diduga bahwa tingkat suku bunga (X1), tingkat inflasi (X2), jumlah penduduk (X3), jumlah uang beredar (X4) mempunyai pengaruh secara parsial dan simultan terhadap penyerapan simpanan deposito berjangka (Y) pada bank umum di indonesia pada tahun 1993-2011.
2. Diduga bahwa diantara variabel tingkat inflasi (X1), tingkat suku bunga (X2), jumlah penduduk (X3), jumlah penduduk (X4) ada yang lebih dominan terhadap penyerapan simpanan deposito berjangka (Y) pada bank umum di indonesia pada tahun 1993-2011.
Suku bunga meningkat Tingkat inflasi menurun
Jumlah penduduk meningkat
Jumlah uang beredar meningkat
Kemampuan menabung meningkat
Simpanan deposito meningkat
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Definisi Operasional Variabel dan Pengukuran Variabel
Definisi operasional dalam hal ini dimaksudkan untuk menjelaskan dan menerangkan variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian dan pengukuran variable-variabel penelitian secara operasional berdasarkan teori yang ada maupun pengalaman-pengalaman empiris.
Definisi operasional dan pengukuran variable yang digunakan dalam penelitian ini dibagi meliputi :
3.1.1.Variabel Dependent (Y)
Variabel dependent merupakan variabel yang memberikan reaksi atau respon jika dihubungkan dengan variabel bebas (independent). Variabel
dependent adalah variabel yang keberadaannya diamati dan diukur untuk
menentukan pengaruh yang disebabkan oleh variabel bebas (Soegoto, 2008). Pada penelitian kali ini, yang menjadi variabel dependent adalah tabungan masyarakat dalam bentuk deposito
Deposito adalah simpanan pihak ketiga kepada bank yang penarikannya dilakukan dalam jangka waktu yang ditentukan menurut perjanjian antara deposan (nasabah) dengan bank yang bersangkutan. Simpanan deposito terdiri dari deposito 1 bulan, 3 bulan, 6 bulan dan 12 bulan maksimal 24 bulan baik deposito rupiah maupun deposito valuta asing ( dalam satuan milyar rupiah )
3.1.2.Variabel independent (X)
Variabel independent adalah variabel stimulus atau variabel yang mempengaruhi variabel lain. Variabel independent merupakan variabel yang pengaruhnya diukur, dimanipulasi, atau dipilih oleh peneliti untuk menentukan hubungan dengan suatu gejala yang diobservasi dalam kaitannya dengan variabel lain (Soegoto, 2008). Variabel independent dalam penelitian kali ini adalah tingkat bunga, tingkat inflasi, jumlah penduduk, dan jumlah uang yang beredar.
1. Tingkat suku bunga (X1) adalah harga yang harus dibayar untuk meminjam uang selama periode waktu tertentu dan dinyatakan prosentasenya uang yang dipinjam. Tingkat bunga di dapat dari rata-rata bunga nominal deposito berjangka 3 bulan pada bank-bank di indonesia tahun 1993 sampai dengan 2011 perhitungan dilakukan rata-rata suku bunga setiap 3, 6, 12, 24 bulan, per setiap tahun nya ( dalam % ).
2. Tingkat inflasi nasional (X2) adalah kecenderungan harga-harga umum untuk menungkat dibanding periode sebelumnya, dan peningkatan harga-harga tersebut berlangsung terus-menerus yang diperoleh dari jumlah laju inflasi 27 provinsi di indonesia dari tahun 1993 sampai dengan 2011, per setiap tahun nya ( dalam % )
3. Jumlah penduduk (X3) adalah banyaknya jiwa yang menempati suatu daerah tertentu ataupun menempati suatu wilayah. Jumlah penduduk ini diketahui diapari perolehan sensus penduduk di indonesia tahun 2001 sampai dengan 2011, per setiap t ahun nya ( dalam jiw a ).
4. Jumlah uang beredar ( X4) adalah banyaknya uang beredar ditangan masyarakat< yang terdiri dari uang giral dan kartal diukur dalam satuan milliar rupiah di indonesia tahun 1993 sampai dengan 2011, per setiap tahun nya ( dalam milyar rupiah )
3.2 Teknik Pengumpulan Data
Data yang digunakan adalah data sekunder yaitu data yang dikumpulkan oleh peneliti secara tidak langsung berupa laporan keuangan perusahaan yang diteliti pada seluruh bank. Data yang dipergunakan adalah laporan atau data yang diterbitkan dari instansi-instansi yang berhubungan dengan penelitian ini, diantaranya adalah bank indonesia dan biro pusat statistik.
3.3 Teknik Analisis
Data yang diperoleh dianalisis dengan metode kuantitatif perhitungan) berdasarkan teori - teori yang ada. Analisis regresi linier berganda merupakan suatu metode yang digunakan dalam menganalisis hubungan yang mempunyai pengaruh antara variabel bebas dengan variabel tidak bebas. Analisis regresi linier berganda ini menggunakan metode OLS (Ordinary Least Square ) dengan bantuan SPSS versi 13 yang dapat ditulis sebagai berikut : (Nachrowi,dkk,2005:315)
Y = b0 + b1 X1 + b2 X2 + b3 X3 + ei Dimana Y = Nilai simpanan deposito
X2 = Tingkat inflasi X3 = Jumlah penduduk X4 = Jumlah uang beredar b 0 = Konstanta
b 1 , b 2 , b 3 , b 4 = Koefisien Regresi e = Variabel Pengganggu 3.4. Uji Hipotesis
Uji hipotesis digunakan untuk menguji koefisien regresi yang mempunyai pengaruh pada variabel (X1, X2, X3,X4) terhadap variabel terikat (Y) maka sebelumnya perlu dilakukan uji R2 yaitu untuk mengetahui apakah model analisis tersebut layak digunakan dalam pembuktian selanjutnya.
Tujuan dari uji R2 yaitu menetahui model analisis tersebut cukup layak digunakan dalam penelitian sehingga perlu mengetahui nilai
adjusted R2 atau koefisien nilai determinasi menggunakan rumus : (Nachrowi dan Usman,2005:20)
R2=
Dimana :
JKregresi = Jumlah Kuadrat regresi ( b1 ∑ Y1 X1 + b2 ∑ Y2 X2 +....+bn ∑ YnXn)
JK total = Jumlah Kuadran Total ( ∑ Yi [ ∑ Y ]2 ]
n
Karateristik utama dari R2 adalah :
a. Tidak mempunyai nilai negatif, merupakan rasio dari jumlah kuadrat
b. Nilai berkisar anatara 0 (nol) dan 1( satu ) atau 0 ≤ R 2 ≤ 1, yang artinya:
Apabila R2 mendekati 0, maka tidak ada hubungan antara variabel X dengan Y. Sebaliknya, R2 mendekati 1 maka ada hubungan antara variabel X dengan Y.
Selanjutnya untuk menguji apakah variabel bebas berpengaruh terhadap variabel terikat, maka melakukan pengujian :
1. Uji F
Uji F digunakan untuk menentukan signifikan atau tidak signifikan suatu variabel bebas secara bersama-sama variabel tidak
bebas.(Nachrowi,dkk,2005:17) dengan ketentuan sebagi berikut : • Ho : β 1 = β 2 = β 3 = β 4 = 0, Artinya
Variabel bebas (X) tidak berpengaruh terhadap variabel terikat ( Y)
• H1 : β1 ≠ β2 ≠ β3 ≠ β4 ≠ 0,
Adanya pengaruh variabel bebas (X) terhadap variabel terikat (Y) • Menentukan level of signifikan sebesar 5%
• Menghitung nilai F untuk mengetahui hubungan secara simultan variabel dengan rumus sebagai berikut : (Soelistyo,2001:325)
Fhitung = Keterangan :
KT Regresi = Kuadrat Tegah Regresi (Means of Square = MS) KT Galat = Kuadrat tegah residual (Standart Eror)
Menggunakan derajat kebebasan = (k, n-k-l) dengan ketentuan : n = Jumlah Sampel / Pengamat
k = Jumlah variabel bebas / Parameter regresi Kaidah Pengujian :
a. Jika hasil perhitungan Fhitung ≥ F tabel , maka hipotesis nol (H0) dan Ha diterima artiny ada pengaruh variabel bebas terhadap variabel tidak bebas.
b. Jika hasil perhitungan Fhitung ≤ F tabel , maka hipotesis nol (H0) diterima dan Ha ditolak, artinya variabel bebas secara bersama- sama tidak berpengaruh terhadap variabel tidak bebas.
Dapat dijelaskan melalui gambar 2:
Gambar 2 : Kurva Distribusi F
Daerah penolakan Ho Daerah penerimaan Ho
F (α)
Sumber : Soelistyo, 2001, Dasar-Dasar Ekonometrika, BPFE UGM, Yogyakarta, Halaman 326.
2. Uji t
Uji t berfungsi untuk menentukan signifikan atau tidak signifikan suatu variabel bebas secara individual mempengaruhi variabel tidak bebas. Hal ini dapat dirumuskan sebagai berikut : (Nachrowi dan Usman,2005:19)
1. Hipotesis dapat dirumuskan :
• H0 : β i = 0 (variabel bebas tidak berpengaruh variabel berikut) • H1 : β i ≠ 0 (variabel bebas ada pengaruh pada variabel terikat)
Uji t dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut :
t hitung = β1
Se ( βi ) (Nahrowi dan Usman2005:19)
Dimana : β 1 = Koefisien Regresi Se = Standart Error n = Jumlah sampel k = Jumlah parameter
Gambar 3 : Kurva Distribusi t
Ho ditolak Daerah penerimaan Ho ditolak Ho
( -t α / 2 ; n-k-l ) ( t α / 2 ; n-k-l )
Sumber : Soelistyo,2001, Dasar – Dasar Ekonometrika, BPFE, Yogyakarta:326
Parameter yang digunakan adalah memperbandingkan t hitung dan t tabel yang diperoleh dari hasil perhitungan dengan program komputer. Apabila t hitung ≤ t tabel, maka H0 diterima dan hipotesis alternatif ditolak atau model yang digunakan kurang baik, artinya variabel bebas tidak signifikan dalam mempengaruhi variabel tidak bebas. Sebaliknya, jika t hitung ≥ t tabel maka hipotesis nol ( H0) ditolak dan hipotesis
alternatif diterima, artinya variabel bebas signifikan dalam mempengaruhi variabel tidak bebas.
3.5. Pendekatan Regresi Linier Berganda dengan Asumsi BLUE
Persamaan regresi harus bersifat BLUE, artinya pengambilan melalui uji F dan uji tidak boleh bias. Tetapi untuk melaksanakan operasional regresi linier tersebut dilakukan tiga asumsi dasar yang harus dipenuhi dan tidak boleh dilanggar, yaitu :
• . Tidak boleh aoutokorelasi • Tidak terjadi multikorelasi • Tidak terjadi heterokedastisitas
Apabila salah satu dari ketiga asumsi dasar tersebut dilanggar, maka persamaan yang diperoleh tidak lagi bersifat BLUE (best linier unbiaset estimator) sehingga pengambilan keputusan melalui uji F dan uji t menjadi bias.
1. Autokorelasi
Istilah autokorelasi didefiisikan sebagai"korelasi antara data observasi yang diurutkan berdasarkan urut waktu (data time series) atau data yang diambil pada waktu tertentu (data cross sectional). Jadi, dalam model regresi linier diasumsikan tidak terdapat gejala aotukorelasi. Artinya, nilai residual (Y observasi - Y prediksi) pada waktu tertentu ke-t
2 4 M enolak Ho Bukti Aut okorelasi M enolak H* o Bukti M enerima Ho at au H* o
(e1) tidak boleh ada hubungan dengan nilai residual periode sebelumnya (et-1). (Soelistyo, 2001:332)
Identifikasi gejala autokorelasi dapat dilakukan dengan kurva dibawah ini :
Gambar 4: Kur va Durbin-Watson
Sumber : Gujarati, Damodar, 2010, Ekonometr ika Dasar, Erlangga, Jakarta, Halaman 216.
Adanya autokorelasi didasarkan atas :
1. Daerah A: Durbin Waston < Du, tolak Ho autokorelasi positif. 2. Daerah B : dL < Durbing Waston < dU, ragu-ragu.
3. Daerah C : dL < Durbing Waston < dU, terima Ho, non autokorelasi. 4. Daerah D : 4- Du < Durbin Waston< 4 -dU ,ragu-ragu.
5. Daerah E : Durbing Waston< 4-dL, tolak Ho autokorelasi negatif.
Daerah keragua- Daerah keragua- dL dU 4 – dU 4 – dL d
Pendekatan adanya autokorelasi dapat dilakukan dengan menggunakan perhitungan besaran Durbing Watson. Panduan mengenai angka D-W (Durbin Waston) untuk mendeteksi aotokorelasi adalah : 1. Angka D-W dibawah -2, berarti ada autokorelasi positif
2. Angka D-W dibawah -2 sampai +2, berarti tidak ada autokorelasi 3. Angka D-W diatas +2, berarti ada korelasi negatif.
Tabel 1 : Autokorelasi Durbin Watson
Durbin Watson Kesimpulan
Kurang dari 1,08 Ada autokorelasi
1,08 – 1,66 Tanpa kesimpulan
1,66 – 2,34 Tidak ada autokorelasi
2,34 – 2,92 Tanpa kesimpulan
Lebih dari 2,92 Ada autokorelasi
2. Multikorelasi
Multikorelasi adalah adanya hubungan yang sempurna antara semua atau beberapa variabel eksplanatori dalam model regresi yang dikemukakan. (Sudrajat, 1988:167)
Untuk mendeteksi adanya multikorelasi dapat dilihat dengan ciri-ciri sebagi berikut :
b. Koefisien korelasinya sederhananya tinggi. c. Nilai F hitung tinggi (signifikan)
Sebagai besar atau bahkan seluruh koefisien regresi tidak signifikan. 3. Heteroskedastisitas
Heteroskedastisitas artinya variabel independent, adalah tidak konstan (berbeda) untuk setiap nilai tertentu variabel independent.
Uji heteroskedastisitas dengan menggunakan uji Ran Spearman, yaitu dengan cara mengambil nilai mutlak dengan mengansumsikan bahwa koefisien rank korelasi adalah nol . Jika hasil regresi menunjukan nilai signifikan ≥ nilai α ,maka regresi linier tidak terdapat heteroskedastisitas. Dan nilai residual kuadrat adalah (Y observasi - Y prediksi). Selain itu pada seatterplot akan menghasilkan gambar yang memancarkan atau menyebar dan tidak mengumpulkan pada satu titik atau membentuk suatu pola tertentu apabila persamaan regresi tidak terjadi heteroskedastisitas.
4.1. Deskr ipsi Obyek Penelitian
4.1.1. Kondisi Per bankan Di Indonesia
Kondisi dunia perbankan di indonesia telah mengalami banyak perubahan. Perubahan ini selain disebabkan oleh perkembangan internal dunia perbankan, juga tidak terlepas dari pengaruh perkembangan diluar perbankan seperti sektor riil dalam perekonomian, politik, hukum, dan sosial.
Lembaga perbankan sebagai lembaga perbankan berfungsi sebagai penghimpun dan dan menyalurkan dana dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Tujuan tersebut dapat berhasil dengan baik apabila ada lembaga mediator antara pemilik dengan pengguna dana melalui lembaga keuangan bank. Salah satu cara memperkecil jarak tersebut adalah dengan memperluas dan menyebarkan lembaga keuangan tersebuty kesegala lapisan masyarakat.
Untuk mempercepat pencapaian sasaran dan harapan terhadap perbankan dapat tercapai, maka perlu diciptakan suatu kondisi yang memungkinkan perbankan dapat melakukan upaya yang maksimal agar misi yang dibebankan tersebut dapat dipenuhi. Oleh karena itu diperlukan suatu kebijaksanaan yang mendorong perbankan untuk dengan mudah dapat melakukan perluasan usaha. Kebijakan moneter yang mendukung tersebut salah satunya adalah kebijaksanaan 27 oktober 1988 ( anonim, 1966 : 10-14 )
a) Kondisi perbankan di indonesia sebelum deregulasi ( sebelum serangkaian, paket-paket deregulasi disektor riil dan moneter yang dimulai sejak tahun 1980-an ). Perbankan pada masa ini sangat kuat dipengaruhi oleh berbagai kepentingan ekonomi dan politik dari penguasa yang dalam hal ini adalah pemerintah. Pada masa kolonial kegiatan perbankan wilayah india – belanda ini terutama diarahkan untuk melayani kegiatan usaha dari perusahaan-perusahaan besar milik kolonial di wilayah jajahannya serta membantu administrasi anggaran milik pemerintah.
b) Kondisi perbankan di indonesia sesudah deregulasi ( setelah munculnya deregulasi sampai dengan masa sebelum terjadinya krisis ekonomi pada akhir tahun 1990-an ). Inflasi yang tinggi serta kondisi ekonomi makro secara umum yang tidak bagus terjadi secara bersamaan dengan kondisi perbankan yang tidak dapat memobilisasikan dana yang baik. Fenomena yang terjadi pada masa sebelum deregulasi tersebut seolah-olah menjadi lingkaran yang tidak ada ujung pangkalnya serta saling mempengaruhi. Untuk mengatasinya cara yang ditempuh pemerintah melakukan serangkaisn kebijakan berupa deregulasi di sektor riil dan moneter. Pada tahap awal, deregulasi lebih cepat dampaknya pada sektor moneter melalui serangkaian perubahan didunia perbankan. Meskipun istilah yang digunakan adalah “deregulasi”. Namun tidak berarti abhwa perbuahan yang dilakukian sepenuhnya berupa
dimotori oleh otoritas moneter untuk meningkatkan kinerja unia perbankan dan pada akhirnya juga diharapkan alan meningkatkan kinerja sektor riil. c) Kondisi perbankan di Indonesia saat krisis ekonomi mulai akhir tahun
1997-an. Deregulasi dan penerapan kebijakan-kebijakan lain yang terkait dengan sektor moneter dan riil telah menyebabkan sektor perbankan lebih mempunyai kemampuan untuk meningkatkan kemmapuan kinerja ekonomi makro di indonesia. Mobilisasi dana melalui perbankan menjadi lebih besar dan perbankan menjadi lebih besar peran sertanya dalam menunjang kegiatan disektor riil melalui peningkatan produksi barang dan jasa. Perkembangan perbankan yang cukup pesat pada masa setelah deregulasi ternyata tidak berlangsung cukup lama untuk dapat mengankat indonesia menjadi negara tingkat kesejahteraan yang sama dengan negara-negara lain di Asia Tenggara.
4.1.2. Deskr ipsi Hasil Penelitia n
Deskripsi hasil penelitian ini memberikan gambaran tentang data- data serta perkembangan tingkat suku bunga, Tingkat Inflasi, Jumlah Penduduk dan Jumlah Uang Yang beredar sehingga dapat mengetahui perubahan-perubahan yang terjadi terhadap perkembangan Simpanan Deposito .
dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Semakin meluas jaringan perbankan yang dengan berbagai produk yang diberikan oleh masyarakat, akan membuat masyarakat lebih tertarik menyimpan uangnya dalam produk jasa perbankan. Hal ini akan mempengaruhi tingkat suku bunga , tingkat inflasi , jumlah penduduk dan jumlah uang yang beredar. Yang akan mempengaruhi masyarakat dalam menanamkan uangnya kedalam dunia perbankan.
Dalam penghimpunan dana deposito,para pihak lembaga keuangan harus bisa memberikan sesuatu yang berbeda sehingga masyarakat dapat tertarik untuk menyimpan uangnya yang bersifat menarik. Hal tersebut bisa dilihat dari prosedur atau pelayanan deposito yang ada lembaga keuangan tersebut. Deposito sangat berguna untuk operasional bank karena deposito merupakan sumber dana bank yang cukup besar dan pengendapan dananya sangat lama dibandingkan dengan simpana dalam bentuk tabungan dan giro.
Di indonesia dunia perbankan dalam penghimpunan dana selalu mengalami peningkatan dari tahun ke tahun dengan pendapatan perkapita di indonesia yang meningkat. Hal ini dapat terlihat dari data Statistik Perbankan Indonesia, perkembangan deposito dari tahun 2001 sampai dengan 2011 menunjukkan peningkatan seiring adanya dengan adanya managemen modern yang di lakukan lembaga keuangan yang ada di di indonesia. Perkembangan Simpanan Deposito dapat disajikan dalam t abel di baw ah ini :
Tahun Deposito Rupiah ( milliar rupiah ) Perkembangan ( % ) 1993 126920 - 1994 155955 22,9 1995 222235 42,5 1996 275692 24,1 1997 276654 0,3 1998 284477 1,2 1999 289765 1,6 2000 289765 1,9 2001 296885 2,5 2002 348257 17,3 % 2003 365771 5,0 % 2004 356287 -2,6 % 2005 456740 28,2 % 2006 511356 12,0 % 2007 543284 6,2 % 2008 674579 24,2 % 2009 757193 12,2 % 2010 925927 22,3 % 2011 1072665 15,8 %
Sumber : Badan Pusat Statistik Jawa Timur ( diolah )
Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa perkembangan Simpanan Deposito selama 19 tahun (1993-2011) cenderung mengalami peningkatan. Perkembangan tertinggi Simpanan Deposito adalah pada tahun 1995 sebesar 42,5 % dan perkembangan terendah adalah pada tahun 1997 sebesar 0,3 % disebabkan adanya deregulasi dalam perbankan. Simpanan Deposito tertinggi terjadi pada tahun 2011 sebesar Rp. 1072665 milliar dan Simpanan Deposito terendah pada tahun 1993 sebesar Rp. 276654 milliar
dapat dilihat pada tabel 2 yang menjelaskan bahwa pada tahun 1993 sampai 2011, Perkembangan terbesar Tingkat Suku Bunga pada tahun 2006 sebesar 0,415 % dan terendah sebesar -0,350 % terjadi pada tahun 2004,Hal ini disebabkan karena terjadi pada system bunga sehingga berpengaruh terhadap system bunga pada bank Umum untuk meningkatkan kebijakan moneter yang ada. Tingkat Suku Bunga tertinggi pada tahun 2002 sebesar 15,95 % dan Tingkat Suku Bunga yang terendah yaitu pada tahun 2011 sebanyak 7,19 %.
Tabel.2. Per kembangan Tingkat Suku Bunga Ba nk Umum di Indonesia (X1 )
pada Tahun 1993-2011 (Dala m % Per sen)
Tahun Suku Bunga Perkembangan
( % ) 1993 16,25 - 1994 12,99 -3,26 1995 15,14 2,15 1996 16,69 1,55 1997 21,84 5,15 1998 27,6 5,76 1999 16,25 -11,35 2000 15,48 -0,77 2001 14,23 -1,25 2002 15,95 1,72 2003 12,64 -3,31 2004 8,21 -4,43 2005 8,22 0,11 2006 11.63 3,21 2007 8,24 -3,29 2008 10,43 2,39 2009 9,55 -0,98 2010 7,88 -1,77 2011 7,19 -0,59
tentu besarnya. Hal ini dapat dilihat pada tabel 3 yang menjelaskan bahwa pada tahun 2001 sampai 2011, krisis yang melanda bangsa Indonesia dan pada umumnya kenaikan Inflasi terjadi dari kenaikan harga barang – barang yang tidak dikendalikan Pemerintah sehingga minat masyarakat minat menabung menjadi berkurang dan adanya kenaikan harga BBM. bahwa pada tahun 2001 sampai 2011, Perkembangan terbesar Tingkat Inflasi pada tahun 2005 sebesar 1,673 % dan terendah sebesar -0,749 % terjadi pada tahun 2009, Tingkat Inflasi tertinggi pada tahun 2005 sebesar 17,11 % dan Tingkat Inflasi yang terendah yaitu pada tahun 2011 sebanyak 3,79 %.
Tahun Inflasi ( Dalam %) Perkembangan ( % ) 1993 8,75 - 1994 7,31 -1,44 1995 9,44 2,13 1996 6,47 -2,97 1997 8,64 2,17 1998 95,21 86,57 1999 1,39 -93,82 2000 10,46 9,07 2001 12,55 2,09 2002 10,03 -2,52 2003 5,06 -4,97 2004 6,40 1,34 2005 17,1 10,61 2006 6,60 -10,51 2007 7,36 0,86 2008 11,06 3,7 2009 2,78 -8,28 2010 6,96 4,18 2011 3,79 -3,17
Sumber : Badan Pusat Statistik Jawa Timur ( diolah ) 4.2.4. Per kembangan J umlah Pendud uk
Berdasarkan tabel 4 dapat dijelaskan bahwa Perkembangan Penduduk setiap tahunnya mengalami peningkatan . Dapat dijelaskan bahwa pada tahun 1993 sampai 2011, Perkembangan terbesar Jumlah Penduduk pada tahun 2011 sebesar 2,71 % dan terendah sebesar 1,25 % terjadi pada tahun 2010, Penyebab naiknya Jumlah Penduduk ini adalah adanya kenaikan jumlah bayi yang lahir di Indonesia karena kurang berjalannya dengan baik program KB Jumlah Penduduk tertinggi pada tahun 2011 sebesar 337641 Jiwa dan Jumlah Penduduk yang terendah yaitu pada tahun 2001 sebanyak 205132 Jiwa.
Tahun Jumlah Penduduk (Jiwa ) Perkembangan ( % ) 1993 181936 - 1994 192217 1,63 1995 195283 1,60 1996 198320 1,56 1997 201153 1,53 1998 204393 1,51 1999 207437 1,49 2000 205133 -1,11 2001 205132 1,40 2002 207995 1,40 2003 210898 1,40 2004 213841 1,40 2005 216826 1,40 2006 219852 1,32 2007 222747 1,30 2008 225642 1,28 2009 228523 1,25 2010 231370 2,71 2011 337641 0,44
Sumber : Badan Pusat Statistik Jawa Timur( diolah ) 4.2.5. Per kembangan J umlah Uang Yang Ber edar
Berdasarkan tabel 5 dapat dijelaskan bahwa perkembangan Jumlah Uang Yang Beredar setiap tahunnya mengalami Peningkatan. Perkembangan Jumlah Uang Yang Beredar, yang tertinggi terjadi pada tahun 2007 sebesar 27,6 % dan terendah sebesar 1,2 % terjadi pada tahun 2008, Hal ini terjadi karena permintaan uang untuk melakukan kegiatan ekonomi semakin meningkat. Jumlah Uang Yang Beredar tertinggi pada tahun 2011 sebesar 722991 milliar dan Jumlah Uang Yang Beredar yang terendah yaitu pada tahun 2001 sebanyak 177731 milliar.
(Dalam Millia r )
Tahun Jumlah Uang Beredar
(Milliar) Perkembangan ( % ) 1993 36805 - 1994 45374 23,28 1995 52677 16,10 1996 64089 21,66 1997 78343 22,24 1998 101197 29,17 1999 124633 23,16 2000 177731 30,13 2001 177731 9,58 2002 191939 8,0 2003 223799 16,6 2004 253818 13,4 2005 281903 11,1 2006 361703 28,1 2007 460842 27,63 2008 466379 1,2 2009 515624 10,6 2010 605411 17,4 2011 722991 19,42
Sumber : Badan Pusat Statistik Jawa Timur ( diolah )
4.3 Hasil Ana lisis Asumsi Regr esi Klasik (BLUE / Best Linier Unbiased
Estimator).
Agar dapat diperoleh hasil estimasi yang BLUE (Best Linier Unbiased
Estimator) atau perkiraan linier tidak bias yang terbaik maka estimasi tersebut
harus memenuhi beberapa asumsi yang berkaitan. Apabila salah satu asumsi tersebut dilanggar, maka persamaan regresi yang diperoleh tidak lagi bersifat BLUE, sehingga pengambilan keputusan melalui uji F dan uji t menjadi bias. Dalam hal ini harus dihindarkan terjadinya kasus-kasus sebagai berikut :
yang diambil pada waktu tertentu (data cross-sectional)” (Gujarati, 1995:201). Untuk mengujji variabel-variabel yang diteliti apakah terjadi autokorelasi atau tidak dapat digunakan uji Durbin Watson, yaitu dengan cara membandingkan nilai Durbin Watson yang dihitung dengan nilai Durbin Watson (dL dan du) dalam tabel. Distribusi penetuan keputusan dimulai dari 0 (nol) sampai 4 (empat).
Kaidah keputusan dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Jika d lebih kecil daripada dL atau lebih besar daripada (4-dL), maka hipotesis nol ditolak yang berarti terdapat autokorelasi.
2. Jika d teletak antara dU dan (4-dU), maka hipotesis nol diterima yang berarti tidak ada autokorelasi.
3. Jika nilai d terletak antara dL dan dU atau antara (4-dL) dan (4-dU) maka uji Durbin-Watson tidak menghasilkan kesimpulan yang pasti, untuk nilai-nilai ini tidak dapat disimpulkan ada tidaknya autokorelasi di antara faktor-faktor penganggu.
Untuk mengetahui ada tidaknya gejala autokorelasi dalam model penelitian maka perlu dilihat nilai DW tabel. Diketahui jumlah variabel bebas adalah 4 (k=4) dan banyaknya data adalah (n=10) sehingga diperoleh nilai DW tabel adalah sebesar dL = 0,376 dan dU = 2,414.
Gambar 1. Kurva Statistik Durbin Watson
Daerah Daerah Daerah Daerah
Kritis Ketidak- Terima Ho Ketidak- Kritis pastian pastian
Tolak Tidak ada Tolak Ho autokorelasi Ho
0 dL= 0,376 dU = 2,414 (4-dU) = 1,586 (4-dL) = 3,624 d 0,877
Sumber : Lampiran 2 dan 7
Berdasarkan hasil analisis, maka dalam model regresi ini tidak terjadi gejala autokorelasi karena nilai DW tes yang diperoleh adalah sebesar 0,877 berada pada daerah antara dL dan dU yang berarti berada dalam daerah Ketidakpastian.
2. Multikolinier
Multikolinieritas berarti ada hubungan linier yang “sempurna” atau pasti di antara beberapa atau semua variabel independen dari model regresi.
Dari dugaan adanya multikolinieritas tersebut maka perlu adanya pembuktian secara statistik ada atau tidaknya gejala multikolinier dengan cara menghitung Variance Inflation Factor (VIF). VIF menyatakan tingkat
regresi linier berganda diketahui bahwa dari keempat variabel yang dianalisis dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 6 : Tes Multikolinier
TOLERANCE VIF Ketentuan KETERANGAN
0,370 2,703 ≤ 10 Tidak terjadi Multikolinier
0,733 1,364 ≤10 Tidak terjadi Multikolinier
0,021 48,475 ≤10 Tidak terjadi Multikolinier
0,024 42,281 ≤10 Tidak terjadi Multikolinier
Sumber : Lampiran 3
3. Heter okedastisitas
Pada regresi linier nilai residual tidak boleh ada hubungan dengan variabel bebas (X). Hal ini bisa diidentifikasikan dengan menghitung korelasi rank spearman antara residual dengan seluruh variabel bebas. Pembuktian adanya heterokedastisitas dilihat pada tabel dibawah ini.