• Tidak ada hasil yang ditemukan

F. Kerangka Teori dan Konsepsi

1. Kerangka Teori

Teori merupakan keseluruhan pernyataan yang saling berhubungan yang dikemukakan untuk menjelaskan tentang adanya sesuatu.33 Fungsi teori adalah untuk menerangkan atau menjelaskan mengapa gejala spesifik atau proses tertentu terjadi. 34

33

J. J. H. Bruggink, Refleksi Tentang Hukum, dialihbahasakan oleh Arief Sidharta,

(Bandung: Citra Aditya Bakti, 1999), hal. 2

34

J.J.M. Wuisman, Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial, Azas-Azas, editor M.Hisyam, (Jakarta: FE

Suatu teori harus diuji dengan menghadapkannya pada fakta-fakta yang dapat menunjukkan ketidak-benaran.

Menurut Bintaro Tjokromidjojo dan Mustafa Adidjoyo “teori diartikan sebagai ungkapan mengenai hubungan kausal yang logis diantara perubahan (variable) dalam bidang tertentu, sehingga dapat digunakan sebagai kerangka pikir (frame of thinking) dalam memahami serta menangani permasalahan yang timbul di dalam bidang tersebut.35 Sehingga kerangka teori merupakan kerangka pemikiran atau butir-butir pendapat, teori atau tesis mengenai suatu kasus atau permasalahan yang menjadi bahan perbandingan pegangan teoritis.36

Dalam kepailitan seluruh harta benda debitor diperuntukkan melunasi utangnya kepada kreditor, maka harta kekayaan debitor, baik yang bergerak maupun tidak bergerak, baik yang telah ada maupun yang akan ada dikemudian hari, menjadi agunan utangnya yang dapat dijual untuk sumber pelunasan utang itu.37 Dalam hal debitur wanprestasi atau gagal memenuhi kewajibannya, maka akan diadakan eksekusi terhadap asset-asset debitur yang dijadikan sebagai jaminan atau agunan.38 Dan harta benda itu harus dibagi diantara para kreditor menurut perbandingan tagihan mereka masing-masing.39 Pembagian harta kekayaan pailit itu dimaksudkan untuk

35

Bintaro Tjokromidjojo dan Mustafa Adidjoyo, Teori Dan Strategi Pembangunan Nasional,

(Jakarta: CV.Haji Masagung, 1998), hal. 13

36

M. Solly Lubis, Filsafat Ilmu dan Penelitian, (Bandung: Mandar Maju, 1994), hal. 80

37

Sutan Remy Sjahdeini, Hukum Kepailitan Memahami Faillissements Verordening juncto

Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1998, (Jakarta: Grafiti, 2002), hal. 59 (selanjutnya disebut Sutan Remy Sjahdeini 2)

38

Zainal Asikin, Hukum Kepailitan Dan Penundaan Pembayaran Di Indonesia, (Jakarta:

RajaGrafindo Persada, 2002), hal. 26

39

menjamin kepentingan para kreditor juga mengatur mengenai cara menentukan eksistensi suatu utang debitor kepada kreditor, berapa jumlahnya yang pasti termasuk mengupayakan perdamaian yang dapat ditempuh oleh debitor kepada para kreditornya.40

Selain itu Undang-Undang Kepailitan lahir : 41

1. Untuk menghindari perebutan harta debitor apabila dalam waktu yang sama ada beberapa kreditor yang menagih piutangnya dari debitor;

2. Untuk menghindari adanya kreditor pemegang hak jaminan kebendaan yang menuntut haknya dengan cara menjual barang milik debitor tanpa memperhatikan kepentingan debitor atau para kreditor lainnya;

3. Untuk menghindari adanya kecurangan-kecurangan yang dilakukan oleh salah seorang kreditor dan debitor sendiri.

Dalam penelitian ini teori yang digunakan adalah a creditor’s bargain yang dikemukakan oleh Thomas H. Jakson. Tehnik dasar Thomas H. Jakson adalah menyaring hukum kepailitan melalui model a creditor’s bargain. Dalam model ini seseorang yang kehilangan kepemilikannya dalam kepailitan ditunjukkan untuk menyetujui lebih dulu adanya kerugian.42 Penangguhan eksekusi tidak merupakan pelanggaran terhadap Teori a creditor’s bargain tetapi penangguhan eksekusi merupakan tindak lanjut atas teori acreditor’s bargain yaitu antara kreditor separatis dan debitor sama-sama saling diuntungkan atas tindakan penangguhan eksekusi tersebut.43

40 Ibid

41

Penjelasan Undang Undang tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang. UU Nomor 37 Tahun 2004, LN Tahun 2004 Nomor 131 TLN Republik Indonesia Nomor 4443

42

Sunarmi, Tinjauan Kritis Terhadap Undang-Undang Kepailitan: Menuju Hukum

Kepailitan Yang Melindungi Kepentingan Kreditor dan Debitor, Disertasi, (Medan: SPS USU, 2005), hal. 340

43

Walaupun pembebasan debitur dapat menjadi penyebab motivasi dari sebagian besar kasus-kasus kepailitan, kebanyakan dari proses kepailitan faktanya terkait pada berapa besar pembagian piutang kepada kreditur yaitu antara lain: 44 1. Asset disusun sedemikian rupa sehingga mereka dapat dialokasikan diantara

pemegang klaim melawan debitur atau kekayaan debitor.

2. Tagihan ditentukan sedemikian sehingga peserta-peserta di dalam proses pembagian mungkin dipertemukan.

3. Peraturan menentukan siapa yang diprioritaskan, diantara penagih-penagih akan mendapatkan apa dan dalam kedudukan sebagai apa.

Ketiga pertimbangan yang telah diuraikan diatas memungkinkan bahwa kreditur tak terjamin pada umumnya akan setuju kepada sistem kolektif sebagai pengganti rencana pemulihan utang individu karena tidak ada kreditur tunggal.45 Teori a creditor’s bargain kemudian dikembangkan kembali oleh Thomas H. Jakson dan Robert E. Scott menjadi Teori Creditors Wealth Maximization yang menyatakan bahwa tujuan utama dari kepailitan adalah untuk memaksimalkan kesejahteraan kelompok secara bersama-sama. Keadaan Pailit adalah suatu cara melaksanakan suatu putusan tentang apa yang akan dilakukan terhadap harta debitor.

Menurut Thomas H. Jakson semua kreditor akan setuju untuk mendapatkan prioritas yang setara dalam kepailitan. Inilah yang disebut dengan tawar menawar kreditor. Masalah kepailitan selalu dihubungkan dengan kepentingan para kreditor, khususnya tentang tata cara dan hak kreditor untuk memperoleh kembali pembayaran piutangnya dari seorang debitor yang dinyatakan pailit. Hukum Kepailitan

44Ibid

, hal. 36

45

mengandung 2 (dua) unsur yaitu keadilan dan perlindungan yang seimbang antara debitor dan kreditor.

Dalam Hukum Kepailitan baik yang terdapat dalam peraturan perundang- undangan maupun dalam literatur-literatur yang ada diperlukan pendekatan sistem, suatu sistem adalah kumpulan azas-azas yang terpadu yang merupakan landasan tertib hukum.46 Beberapa azas dalam hukum kepailitan yang penting dalam penulisan tesis ini antara lain:47

a. Azas Keseimbangan

Undang-Undang Kepailitan memberikan perlindungan yang seimbang bagi kreditor dan debitor. Di satu pihak terdapat ketentuan yang dapat mencegah terjadinya penyalahgunaan pranata dan dapat mencegah terjadinya penyalahgunaan tersebut oleh kreditor yang beritikad tidak baik.

b. Azas Kelangsungan Usaha

Dalam Undang-Undang Kepailitan terdapat ketentuan yang memungkinkan perusahaan debitur yang prospektif tetap dilangsungkan. Undang-Undang Kepailitan tidak semata-mata bermuara pada kepailitan dan tindakan eksekusi atas harta kekayaan debitur, terdapat alternatif lain yaitu berupa pemberian kesempatan kepada perusahaan-perusahaan yang tidak membayar utangnya namun masih memiliki prospek usaha yang baik dan pengurusnya beritikad baik serta kooperatif untuk melunasi hutang-hutangnya, maka dapat diupayakan restrukturisasi atas utang-utangnya dan penyehatan kembali perusahaannya, sehingga kepailitan merupakan ultimum remidium.48

c. Azas Keadilan

Azas ini mencegah terjadinya kesewenang-wenangan pihak kreditor yang mengusahakan pembayaran atas tagihannya tanpa memperhatikan kepentingan kreditor lainnya dan kepentingan debitor, misalnya dengan penagihan yang sewenang-wenang, bagaimana kelangsungan usaha debitor dan bagaimana pelunasan terhadap kreditor lain.

d. Azas putusan yang didasarkan pada persetujuan kreditor mayoritas.49

46

Mariam Darus Badrulzaman, Mencari Sistem Hukum Benda Nasional, (Bandung:, Alumni,

1983), hal. 150 (selanjutnya disebut Mariam Darus Badrulzaman 2)

47

Sentosa Sembiring, Hukum Kepailitan dan Peraturan Perundang-Undangan Yang Terkait

Dengan Kepailitan, (Bandung: Nuansa Aulia, 2006), hal 22-23

48

Sutan Remy Sjahdeini 2, Op.cit., hal 58-59

49

Permohonan pernyataan pailit yang hanya diajukan oleh kreditor minoritas dan tidak disetujui oleh kreditor mayoritas, tidak akan dikabulkan oleh majelis hakim sebab pangabulannya akan membawa kerugian-kerugian bagi kreditor mayoritas. Demikian pula rencana perdamaian dalam penundaan kewajiban pembayaran utang hanya akan dikabulkan apabila disetujui oleh lebih dari ½ jumlah kreditor konkuren yang haknya diakui yang hadir pada rapat kreditur yang jumlah tagihannya mewakili paling sedikit 2/3 dari seluruh jumlah tagihan dari kreditur yang hadir pada rapat.

Prinsip-prinsip dalam Hukum Kepailitan yaitu: 1. Prinsip Paritas creditorium

Prinsip paritas creditorium menentukan bahwa para kreditor mempunyai hak yang sama terhadap semua harta benda debitor. Apabila debitor tidak dapat membayar utangnya maka harta kekayaan debitor menjadi sasaran kreditur.50 2. Prinsip pari passu prorate parte

Harta kekayaan tersebut merupakan jaminan bersama untuk para kreditor dan hasilnya harus dibagi secara proporsional diantara para kreditor.51

Dokumen terkait