• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I. PENDAHULUAN

F. Kerangka Teori dan Konsepsi

F.1. Kerangka Teori

Untuk memecahkan persoalan yang telah dirumuskan, secara garis besar ada dua cara yang dilakukan yaitu cara ilmiah dan cara non-ilmiah. Dalam kegiatan ilmiah semacam ini, mau tidak mau, cara yang harus dilakukan memecahkan masalah adalah cara ilmiah. Pada hakikatnya, cara ilmiah menggunakan pengetahuan ilmiah sebagai dasar argumentasi mengkaji persoalan agar kita mendapatkan jawaban yang diandalkan. Dalam konteks inilah peneliti perlu mempergunakan teori-teori ilmiah sebagai alat pembantu menemukan solusi atau pemecahan masalah.19

Teori yang digunakan dalam tesis ini adalah teori pertanggungjawaban pidana, dimana pertanggungjawaban pidana sudah muncul sejak zaman revolusi, pada masa itu tidak saja manusia yang dapat pertanggungjawaban tindak pidana bahkan hewan atau benda mati lainya pun dapat di pertanggungjwabkan tindak pidana. Seseorang tidak saja mempertanggungjawabkan tindak pidana yang di lakukannya, akan tetapi

18 Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji. Penelitian Hukum Normatif, Suatu Tinjauan Singkat, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004), hal. 7

19 Jujun S Suriasumantri. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, (Jakarta: Sinar Harapan, 2009), hal. 316

18

perbuatan orang lain juga dapat di pertanggungjawabkan karena pada masa itu hukuman tidak hanya terbatas pada pelaku sendiri tetapi juga di jatuhkan pula pada keluarga atau teman-teman pelaku meskipun mereka tidak melakukan tindak pidana.

Hukuman yang di jatuhkanya atas atau jenis perbuatan sangat berbeda-beda yang di sebabkan oleh wewenang yang mutlak dari seorang hakim untuk menentukan bentuk dan jumlah hukuman. Teori pertanggungjawaban pidana adalah teori yang memuat ketentuan agar seseorang bisa mempertanggungjawabkan tindak pidana yang dilakukannya, dimana teori pertanggungjawaban pidana tersebut adalah :

1. Kemampuan untuk bertanggungjawab

Mengenai kemampuan bertanggungjawab sebenarnya tidak secara terperinci ditegaskan, hanya di temukan beberapa pandangan para sarjana, misalnya yang mengatakan, orang yang mampu bertanggungjawab harus memenuhi setidaknya (tiga) syarat, yaitu :

1. Dapat menginsafi (mengerti) makna perbuatannya dalam alam kejahatan.

2. Dapat menginsafi bahwa perbuatanya di pandang tidak patut dalam pergaulan masyarakat.

3. Mampu untuk menentukan niat atau kehendaknya terhadap perbuatan tadi.20

Simons mengatakan bahwa mampu bertanggungjawab adalah mampu menginsafi sifat melawan hukumnya perbuatan dan sesuai dengan ke insyafan itu menentukan

20 Sutrisna, I Gusti Bagus, “Peranan Keterangan Ahli dalam Perkara Pidana ( Tinjauan terhadap pasal 44 KUHP),” dalam Andi Hamzah, Bunga Rampai Hukum Pidana dan Acara Pidana, (Jakarta:Ghalia Indonesia, 1986), hal. 78

kehendaknya.21 Sutrisna menyatakan untuk adanya kemampuan bertanggungjawab maka harus ada dua unsur yaitu kemampuan untuk membeda-bedakan antara perbuatan yang baik dan buruk, yang sesuai dengan hukum dan yang melawan hukum, dan kemampuan untuk menentukan kehendaknya menurut keinsafan tentang baik dan buruknya perbuatan tadi, dengan kata lain bahwa kemampuan bertanggungjawab berkaitan dengan dua faktor terpenting, yakni pertama faktor akal untuk membedakan antara perbuatan yang di perbolehkan dan yang di larang atau melanggar hukum, dan kedua faktor perasaan atau kehendak yang menentukan kehendaknya dengan menyesuaikan tingkah lakunya dengan penuh kesadaran.22 2. Adanya kesalahan

Seseorang yang akan pidana tidaklah cukup orang itu telah melakukan perbuatan yang bertentangan dengan hukum atau bersifat melawan hukum, jadi meskipun perbuatannya memenuhi rumusan delik dalam undang-undang dan tidak di benarkan, hal tersebut belum memenuhi syarat untuk penjatuhan pidana. Untuk itu pemidanaan masih perlu adanya syarat, yaitu bahwa orang yang melakukan perbuatan itu mempunyai kesalahan atau bersalah (subjective guilt). Dalam hal ini berlaku apa yang di sebut atas “tiada pidana tanpa kesalahan (keine strafe ohne schhuld atau geen straf zonder schuld) atau nulla poena sine culpa dimana culpa di sini dalam arti luas meliputi kesengajaan. Dari apa yang telah di sebutkan di atas, maka dapat di katakan bahwa kesalahan terdiri atas beberapa unsur ialah :

21 Ibid.,

22 Ibid., hal.73

20

1. Adanya “kemampuan bertanggungjawab” pada si pembuat (schuldfahigkeit atau zurechnungsfahigkeit) artinya keadaan jiwa si pembuat harus normal.

2. Hubungan batin antara si pembuat dengan perbuatanya berupa “kesengajaan (dolus) atau keapaan (culpa)” yang mana ini di sebut bentuk-bentuk kesalahan.

3. Tidak adanya alasan yang menghapus suatu kesalahan atau “tidak ada alasan pemaaf.”

Kalau ketiga unsur ada maka orang yang bersangkutan bisa di nyatakan bersalah atau mempunyai pertanggungjawaban pidana, sehingga bisa di pidana.23 Sekalipun kesalahan telah di terima sebagai unsur yang menentukan pertanggungjawaban pembuat tindak pidana, tetapi mengenai bagaimana memaknai kesalahan masih terjadi saling perdebatan di kalangan para ahli. Pemahaman yang berbeda mengenai makna kesalahan, dapat menyebakan perbedaan dalam penerapanya, dengan kata lain pengertian tentang kesalahan dengan sendirnya menentukan ruang lingkup pertanggungjawaban pembuat tindak pidana.

3. Alasan penghapusan pidana

Pembahasan selanjutnya yaitu mengenai alasan penghapus pidana, yaitu alasan-alasan yang memungkinkan orang yang melakukan perbuatan yang memenuhi rumusan delik tindak pidana. Adapun yang menjadi alasan penghapus pidana yaitu sebagai berikut :

23 Sudarto, Op. Cit., hal. 91

1. Adanya alasan pemaaf yang terdiri dari Pasal 44, Pasal 48, sampai dengan Pasal 51 KUHP, Sedangkan Pasal 45 sampai dengan Pasal 47 KUHP telah di cabut berdasarkan Pasal 67 Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997 Tentang Peradilan Pidana Anak.24

2. Adanya alasan pembenar yang diatur dalam ketentuan Pasal 166, Pasal 186 Ayat (1), Pasal 314 Ayat (1), Pasal 352 Ayat (2) KUHP.

Berdasarkan hal tersebut diatas, maka dapat disimpulkan bahwa sebelum seseorang mempertanggungjawaban tindak pidana yang dilakukannya, maka harus dilihat dulu dasar adanya kemampuan bertanggungjawab, adanya kesalahan, dan adanya alasan penghapusan pidananya.

Untuk melihat teori yang lebih tepat dipergunakan dalam penelitian ini penting untuk menelusuri kembali latar belakang lahirnya Pasal 263 ayat (1) KUHAP.

Hukum Acara di zaman Hindia Belanda mengenal dua jenis lembaga peninjauan kembali, yaitu (i) herziening, yang dikenal dalam perkara pidana dan diatur dalam Reglement op de Strafvordering; dan (ii) request civil dalam perkara perdata yang diatur dalam Reglement op de rechtsvordering. Namun kedua lembaga ini hanya berlaku untuk golongan Eropa. Dalam HIR dan RBG yang berlaku untuk pribumi, kedua lembaga itu tidak dikenal. Sejak Undang-Undang Nomor 19 Tahun 1964 tentang Pokok-Pokok Kekuasaan Kehakiman, dan penggantinya Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1970, Peninjauan Kembali sudah menjadi hukum positif tetapi

24 M. Hamdan, Pembaharuan Hukum Tentang Alasan Penghapusan Pidana, (Medan: Pustaka Bangsa Press, 2008), hal. 43

22

hingga terjadinya kasus Sengkon Kerta tak ada ketentuan pelaksana yang rinci. Untuk mengisi kekosongan hukum itu Mahkamah Agung menerbitkan Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 1969 tentang Hukum Acara Mahkamah Agung tentang Peninjauan Kembali.25

Tujuan utama upaya hukum Peninjauan Kembali adalah perlindungan terhadap kepentingan hukum terpidana yang telah dipidana berdasarkan putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap. Tanpa upaya luar biasa ini bisa jadi seseorang yang tidak bersalah menjadi terzalimi akibat putusan terdahulu yang menghukumnya. Oleh karena itu, logikanya, Peninjauan Kembali hanya dapat diajukan atas putusan pemidanaan.26 Putusan berkekuatan hukum tetap sebenarnya sudah memberikan kepastian hukum kepada para pihak, tetapi kepastian hukum itu pada kasus tertentu justru mengurangi nilai-nilai keadilan. Peninjauan Kembali perkara pidana justru merupakan upaya pengembalian keadilan dan hak-hak terpidana yang telah dirampas negara secara tidak sah.27

Penelitian ini menggunakan teori tentang keadilan karena permohonan Peninjauan Kembali seringkali dikaitkan dengan keadilan bagi terpidana atau ahli warisnya.

Dalam perkara pidana dimana negara (Penuntut Umum) menuntut rakyatnya atas suatu tindak pidana. Jika tak setuju terhadap putusan hakim, misalnya, karena terdakwa bebas maka penuntut umum memiliki hak mengajukan kasasi demi

25Henry P Panggabean. Op. Cit., hal. 110-111

26Topo Santoso, “Implikasi Putusan MK No. 33 Tahun 2016”, makalah disampaikan dalam diskusi ilmiah di Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 10 Agustus 2016

27Adami Chazawi. Lembaga Peninjauan Kembali (PK) Perkara Pidana: Penegakan Hukum dalam Penyimpangan dan Peradilan Sesat, (Jakarta: Sinar Grafika, 2011), hal. 7

kepentingan hukum. Sebaliknya, terpidana atau ahli warisnya diberikan hak mengajukan Peninjauan Kembali. Hak istri mengajukan Peninjauan Kembali demi memperjuangkan keadilan bagi suaminya adalah sesuatu yang lumrah. Persoalannya adalah apakah otomatis isteri bisa mengajukan upaya hukum itu dalam segala kondisi. Persoalan ini berkaitan dengan pemberian kuasa substitusi. Pasal 1792 BW menyebutkan pemberian kuasa adalah suatu perjanjian dengan mana seseorang memberikan kekuasaan kepada seorang lain, yang menerima, untuk atas namanya, menyelenggarakan suatu urusan.

Gustav Radbruch, Filsuf Jerman, membagi tiga ide unsur dasar hukum yang akhirnya dianggap sebagai tujuan hukum. Achmad Ali menyebut ketiga tujuan hukum ala Gustav Radbruch sebagai ajaran prioritas baku.28 Tiga tujuan hukum itu adalah:

a. Keadilan (gerechtigkeit);

b. Kemanfaatan (zwekmabigkeit); dan c. Kepastian (rechtssixherkeit).

Radbruch berpandangan bahwa recht ist wille zur gerechtigkeit, hukum adalah kehendak demi untuk keadilan. Apakah keadilan itu? Menurut Prof. Sudikno Mertokusumo, pertanyaan mengenai apa keadilan itu meliputi dua hal yaitu yang menyangkut hakekat keadilan dan yang menyangkut isi atau norma untuk berbuat secara konkrit dalam keadaan tertentu. Hakekat keadilan adalah penilaian terhadap

28 Achmad Ali. Menguak Tabir Hukum. Edisi Kedua, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 2008), hal.

67

24

suatu perlakuan atau tindakan dengan mengkajinya dengan suatu norma yang menurut pandangan subjektif melebihi norma-norma lain. Dalam hal ini ada dua pihak yang terlibat yakni pihak yang memperlakukan dan pihak yang menerima perlakuan. Misalnya orang tua dan anak, majikan dan buruh, atau hakim dan pencari keadilan.29

Dari sisi isi atau norma, sukar untuk memberikan batasan. Aristoteles membedakan adanya dua jenis keadilan yaitu justitia distributiva (begevende gerechtigheid) dan justitia commutative (vergeldende gerechtigheid). Yang pertama menuntut bahwa setiap orang mendapat apa yang menjadi hak atau jatahnya. Jatah ini tidak sama setiap oang, tergantung pada kekayaan, kelahiran, pendidikan, kemampuan dan sebagainya. Jadi, sifat keadilan ini adalah proporsional. Yang kedua memberi kepada setiap orang sama banyaknya. Di sini, yang dituntut adalah kesamaan. Adil adalah jika setiap orang diperlakukan sama tanpa memandang kedudukan, pendidikan, dan sebagainya. Justitia Distributiva umumnya adalah urusan pembentuk undang-undang, sebaliknya Justitia Commutativa adalah urusan hakim.30

John Rawl menyebutkan keadilan adalah kebijakan utama dalam institusi sosial, sebagaimana kebenaran dalam sistem pemikiran. Hukum dan institusi, betapapun efisian dan rapinya, harus direformasi atau dihapuskan jika tidak adil.31 Menurut Rawls, prinsip keadilan itu terdiri dari dua aspek, yakni:

29Sudikno Mertokusumo. Op. Cit., hal. 71-72

30Ibid., hal. 72-73

31John Rawls. A Theory of Justice (Teori Keadilan). Diterjemahkan oleh Uzair Fauzan dan Heru Prasetyo, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2011), hal. 3-4

a. Each person is to have an equal right to the most extensive total system of equal basic liberties compatible with a similar system of liberty for all. Artinya, setiap orang harus mendapatkan hak yang sama dari keseluruhan sistem sosial pada saat mendapatkan kebebasan hakikinya. Jadi, saat berusaha mendapatkan kebebasan dan hak dasar manusia, semua orang mendapatkan hak yang sama karena kedudukan setiap manusia setara.

b. Social and economic inequalities are to be arranged so that they are to the greatest benefit of the least advantaged and are attached to offices and positions open to all under conditions of fair equality of opportunity.

Prinsip keadilan kedua ini bermakna ketimpangan sosial dan ekonomi perlu diatur agar memberikan keuntungan terbesar bagi kelompok yang paling tidak beruntung dalam masyarakat, dan memberikan kesempatan yang adil bagi setiap orang untuk mendapat kesempatan yang sama dalam sistem sosial, politik, dan ekonomi. Pihak yang bertugas memastikan proses itu fair adalah pemerintah.

Para ilmuan hukum telah lama memperdebatkan dan mempertentangkan masing-masing tujuan hukum. Perdebatan itu sebenarnya tidak perlu karena kepastian dan keadilan bisa jalan beriringan, pada keadilan itu ada kemanfaatan dan kepastian sekaligus, dan seterusnya. Pada istilah keadilan prosedural, misalnya kalau dicermati terkandung pula bermuara pada kepastian hukum demi tegaknya rule of law. Dalam konteks ini, keadilan dan kepastian hukum tidak berseberengan, melainkan justru

26

bersandingan.32 Kuncinya ada di tangan hakim yang menangani dan memutus perkara.

Sebagian Hakim Indonesia juga melihat keadilan sebagai esensi hukum yang harus dicapai dalam penanganan suatu perkara. Hakim Agung Artidjo Alkostar mengatakan “Keadilan adalah sesuatu yang wajib ditegakkan kendatipun tidak ada ketentuan normatifnya”. Sebab, keadilan merupakan kebutuhan pokok rohaniah dalam tata hubungan masyarakat, keadilan merupakan bagian dari struktur rohaniah suatu masyarakat. Pentingnya keadilan dipedomani hakim juga tercermin dari rumusan Pasal 16 ayat (1) Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman. Dalam memeriksa dan mengadili suatu perkara, pengadilan tidak boleh menolak untuk memeriksa, mengadili, dan memutus suatu perkara yang diajukan dengan dalih bahwa hukum tidak ada atau kurang jelas, melainkan wajib untuk memeriksa dan mengadilinya.33 Artidjo secara khusus menggaris bawahi kata-kata adil dan mengadili dalam norma Undang-undang Kekuasaan Kehakiman tersebut.

Dokumen terkait