• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kerangka Teori dan Konsepsi

Dalam dokumen TESIS. Oleh. P A U L U S /M.Kn (Halaman 31-40)

BAB I PENDAHULUAN

F. Kerangka Teori dan Konsepsi

Dalam suatu penelitian diperlukan suatu dasar kerangka teori guna dimaksudkan untuk mengemukakan beberapa teori berdasarkan pemaparan yang ada kaitannya dengan permasalahan dalam penulisan penelitian sehingga diharapkan dapat melahirkan suatu pemikiran yang dapat diterima sebagai suatu landasan berfikir.

Kerangka teori dapat diartikan sebagai kerangka pemikiran atau butir-butir pendapat, tesis sipenulis mengenai sesuatu kasus ataupun permasalahan (problem, yang menjadi bahan perbandingan, pegangan yang mungkin disetujui, yang merupakan masukan eksternal dalam penelitian ini.19

Kerangka teori adalah kerangka pemikiran atau butir-butir pendapat, teori, tesis mengenai sesuatu kasus atau permasalahan yang menjadi bahan perbandingan, pegangan teoritis.20

Teori adalah untuk menerangkan atau menjelaskan mengapa gejala spesifik atau proses tertentu terjadi, teori tersebut harus diuji dengan menghadapkan pada fakta yang ada yang dapat menunjukkan kebenarannya.21

19M. Solly Lubis, Filsafat Ilmu dan Penelitian, (Bandung: CV. Mandar Maju, 1994), hal 90

20 Ibid. hal.80

21 J.J.J.M. Wuisman, dengan penyunting M. Hisyam, Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial, Jilid 1,(Jakart : FE UI, 1996), hal.16.

Teori Hukum adalah sebagai penunjang bagi hukum positif dalam memberikan penjelasan, perumusan-perumusan tentang pengertian-pengertian pokok dan sistem hukum positif.22

Menurut W. L. Neuman, yang pendapatnya dikutip dari Otje Salman dan Anton F. Susanto, yang menyebutkan bahwa: “teori adalah suatu sistem yang tersusun oleh berbagai abstraksi yang berinterkoneksi satu sama lainnya atau berbagai ide yang memadatkan dan mengorganisasi pengetahuan tentang dunia. Ia adalah cara yang ringkas untuk berfikir tentang dunia dan bagaimana dunia itu bekerja”.23

Teori kepastian hukum merupakan salah satu penganut aliran positivisme yang lebih melihat hukum sebagai sesuatu yang otonom dalam bentuk peraturan tertulis, sehingga kepastian hukum dalam melegalkan kepastian hak dan kepastian seseorang.

Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori kepastian hukum, dimana teori ini menjelaskan suatu pendaftaran tanah harus mempunyai kekuatan hukum yang pasti dengan segala akibatnya dapat dipertanggung jawabkan menurut hukum.

Van Kan berpendapat bahwa tujuan hukum adalah menjaga setiap kepentingan manusia agar tidak diganggu dan terjamin kepastiannya.24.

Tugas untuk melakukan pendaftaran tanah diseluruh wilayah Indonesia dibebankan kepada pemerintah yang oleh Pasal 19 ayat (1) UUPA ditentukan bertujuan tunggal, yaitu untuk menjamin kepastian hukum.25

22M.L Tobing, Sekitar Pengantar Ilmu Hukum, (Jakarta: Penerbit Erlangga,1983), hal 62.

23HR. Otje dan Anton F. Susanto,Teori Hukum, (Bandung: Refika Aditama, 2005), hal.22

24Jonathan Sarwono, Metode Penelitian Kuantitatif & Kualitatif, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2006), hal. 74.

Bachtiar Effendie menyatakan bahwa kepastian hukum yang dimaksud adalah meliputi:26

1. Kepastian mengenai orang/badan hukum yang menjadi pemegang hak atas tanah tersebut. Kepastian berkenaan dengan siapakah pemegang hak atas tanah itu disebut dengan kepastian mengenai subjek hak atas tanah.

2. Kepastian mengenai letak tanah, batas-batas tanah, panjang dan lebar tanah.

Kepastian berkenaan dengan letak, batas-batas dan panjang serta lebar tanah itu disebut dengan kepastian mengenai objek hak atas tanah.

Penempatan tanah sebagai sumber kesejahteraan dan kemakmuran seluruh Rakyat Indonesia memerlukan jaminan kepastian dan perlindungan hukum dari negara. Dalam rangka memberikan kepastian hukum dan perlindungan hukum hak milik atas tanah, sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 1997 tentang pendaftaran tanah, pemerintah wajib mendaftar seluruh bidang tanah diwilayah Indonesia baik dengan pendekatan sistematis maupun sporadis.27

Di dalam butir kelima Pancasila berbunyi: “keadilan sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia”, merupakan filosofi atau nilai dasar Bangsa Indonesia dan telah menjadi sumber berbagai regulasi pengaturan perlindungan hukum hak atas tanah di Indonesia. Filosofi keadilan sosial tersebut secara operasional juga telah dirumuskan dalam Pasal 33 Ayat (3) UUD 1945, “bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat”. Sehingga juga telah menjadi sumber rujukan pengaturan

25Muhammad Yamin Lubis dan Abdul Rahim Lubis, Hukum Pendaftaran Tanah, (Bandung:

CV. Mandar Maju, 2008), hal. 167.

26 Bachtiar Effendie, Pendaftaran Tanah Di Indonesia Dan peraturan Pelaksanaannya, (Bandung : Alumni, 1993), hal 20-21.

27 S. Chandra, Sertipikat Kepemilikan Hak Atas Tanah, (Jakarta : Gramedia Widiasarana Indonesia, 2005), hal. X.

perlindungan hukum kepemilikan hak atas tanah untuk tujuan kesejahteraan dan kemakmuran seluruh rakyat dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dalam upaya untuk memberi perlindungan hukum terhadap pemegang sertipikat hak atas tanah itu maka Undang-Undang Pokok Agraria telah mewajibkan kepada pemerintah supaya melaksanakan kegiatan pendaftaran tanah diseluruh Wilayah Republik Indonesia, yang dalam kegiatannya baik dilaksanakan secara sistematik maupun sporadik dengan menyerahkan sertipikat hak atas tanah sebagai alat bukti yang kuat bagi pemegangnya.

Menurut A.P. Parlindungan, pendaftaran sebagaimana disebutkan dalam Pasal 1 butir 1 peraturan pemerintah Nomor 24 tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah dipertegas sebagai berikut:28

a. Pendaftaran awal yang mendaftarkan hak-hak atas tanah untuk pertama kali dan harus dipelihara atau ajudikasi;

b. Pendaftaran hak-hak karena adanya mutasi hak, ataupun adanya pengikatan jaminan hutang dengan tanah sebagai agunan dan pendirian hak baru atau Hak Guna Bangunan dan Hak Pakai atas Hak Milik;

c. Hak-hak yang timbul dari rumah susun dan bagian-bagian dari rumah susun;

d. Pendaftaran tersebut meliputi pengumpulan, pengolahan, pembukuan, dan penyajian serta memelihara data fisik dan yuridis.

Dengan melakukan pendaftaran tanah maka masyarakat perorangan maupun badan hukum akan mendapatkan sertipikat tanah, sesuai ketentuan Pasal 32 ayat (1) UUPA, sertipikat merupakan tanda bukti hak yang kuat dalam arti selama tidak dapat dibuktikan baik data fisik dan data yuridis yang tercantum didalamnya harus diterima sebagai data yang benar.

28A.P Parlindungan, Op. Cit, hal. 73.

Dalam kepemilikan sesuatu benda terlebih dahulu orang tersebut harus membuktikan kepemilikan benda tersebut hal ini terdapat didalam Pasal 1865 KUHPerdata yang menegaskan bahwa: “Setiap orang yang mendalilkan bahwa ia mempunyai suatu hak, atau guna meneguhkan haknya sendiri maupun membantah suatu hak orang lain, menunjuk pada suatu peristiwa, diwajibkan membuktikan adanya hak atau peristiwa tersebut.

Berdasarkan isi pasal tersebut maka jelaslah bahwa dalam suatu peristiwa yang menimbulkan hak harus dibuktikan terlebih dahulu sehingga terdapat alas hak kepemilikan hak atas benda tersebut. Seseorang yang tidak dapat membuktikan kepemilikan tersebut maka hak atas kebendaan tersebut tidak dapat memiliki benda tersebut dan pada prinsipnya, yang harus dibuktikan adalah semua peristiwa serta hak yang dikemukakan oleh salah satu pihak yang kebenarannya dibantah oleh pihak lain hal ini sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 1997 tentang stelsel negatif yang bertendensi positif.

Dengan sistem publikasi atau sistem pendaftaran tanah dalam Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 1997 yang bertujuan memberikan jaminan kepastian hukum dibidang pertanahan dan sistem publikasinya adalah sistem negatif yang mengandung unsur-unsur positif, yang menghasilkan surat-surat tanda bukti hak yang berlaku sebagai alat bukti yang kuat seperti yang dinyatakan dalam Pasal 19 ayat (2) huruf c, dan Pasal 23 ayat (2) UUPA, serta Pasal 32 ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997.

Sertipikat tanah berlaku sebagai alat pembuktian yang kuat atas pemegang sebidang tanah, yang dimaksud kuat mengandung arti bahwa sertipikat tanah tidaklah merupakan alat bukti yang mutlak satu-satunya, jadi sertipikat tanah menurut sistem pendaftaran tanah yang dianut UUPA masih dibuktikan di Pengadilan Negeri bahwa sertipikat tanah tersebut yang dipersengketakan adalah tidak benar.29

Dilihat dari pemberian jaminan dengan surat-surat tanda bukti hak atas tanah, sebagai alat pembuktian maka dikenal 2 (dua) macam sistem, yaitu sistem negatif dan sistem positif. Pada sistem negatif bahwa sertipikat tersebut hanya dipandang sebagai bukti permulaan hak atas tanahnya, atau sertipikat sebagai salah satu alat pembuktian yang kuat, sehingga setiap orang dapat mempersoalkannya kembali, apabila dibandingkan perlindungan yang diberikan kepada pihak ketiga. Sipemilik tanah dapat menggugat haknya atas sebidang tanah dari mereka yang terdaftar pada kadaster. Dengan mengandung unsur positif, untuk memberikan jaminan kepastian hukum kepada pihak yang dengan itikad baik menguasai sebidang tanah yang didaftar sebagai pemegang hak dalam buku tanah dan dengan terbitnya sertipikat sebagai alat bukti yang kuat.kepada yang memperoleh hak atas Tanah akan diberikan jaminan lebih kuat, pihak ketiga harus percaya dan tidak perlu khawatir bila suatu saat ketika mereka yang tercatat dalam daftar umum akan kehilangan haknya atau dirugikan.

Indonesia menganut sistem pendaftaran tanah sistem negatif bertendensi positif.

Dalam sitem ini apabila tidak benar maka dapat diubah dan dibatalkan.

29Ali Achmad Chomzah, Hukum Agraria (Pertanahan) Indonesia, (Jakarta: Prestasi Pustaka ,2003) hal. 58.

Di dalam alas hak atas tanah yang dijadikan dasar penerbitan sertipikat kepemilikan hak atas tanah di Kantor Pertanahan merupakan alat bukti yang dapat digunakan sebagai alat pembuktian yuridis atas kepemilikan atau penguasaan suatu bidang tanah, baik secara tertulis ataupun berdasarkan keterangan saksi.

M. Yahya Harahapmenyatakan bahwa :30

Pada proses pembuktian mengisyaratkan adanya alat bukti hak secara tertulis atau pernyataan tertulis dengan sesuatu title melalui penguasaan tanah secara nyata dan itikad baik yang tidak dipermasalahkan oleh masyarakat hukum adat setempat, kemudian dikuatkan dengan keterangan saksi-saksi sesuai ketentuan Pasal 1866 Kitab Undang-Undang Hukum perdata, yang menyatakan bahwa hak dapat dibuktikan melalui:

a. Alat bukti tertulis, b. Alat bukti saksi-saksi, c. Alat bukti pengakuan, dan d. Alat bukti sumpah.

Selain itu alat bukti yang lainnya adalah alat bukti persangkaan, dalam suatu perkara masing-masing pihak dapat meminta kepada hakim, supaya pihak lawannya diperintahkan menyerahkan surat-surat yang menjadi kepunyaan bersama antara pihak lawan, mengenai hal yang sedang dalam persengketaan dan berada dipihak lawannya itu. Hal ini sesuai dengan Pasal 1915 KUHPerdata yang isinya:

“Persangkaan-persangkaan ialah kesimpulan-kesimpulan yang oleh Undang-Undang atau oleh Hakim ditariknya dari suatu peristiwa yang terkenal kearah suatu peristiwa yang tidak terkenal”.

Di dalam hukum juga telah diatur bahwa dalam persoalan perdata, surat/bukti tulisan merupakan bukti yang pertama dan utama. Hal ini sesuai dengan pendapat R.

30S.Chandra, Op.cit., Hal. 11

Subekti menyebutkan bahwa pada asasnya didalam persoalan perdata alat bukti yang berbentuk tulisan itu merupakan alat bukti yang diutamakan atau alat bukti yang Nomor satu jika dibandingkan dengan alat-alat bukti lainnya.31

Pada Pasal 1867 KUHPerdata menyebutkan bahwa: “Pembuktian dengan tulisan dilakukan dengan tulisan autentik atau dengan tulisan dibawah tangan”.

Dari ketentuan pasal diatas diketahui bahwa baik tulisan autentik atau tulisan dibawah tangan oleh hukum keduanya diakui sebagai alat bukti tertulis bagi pemegang surat tersebut. Surat sebagai alat bukti tertulis dapat dibedakan dalam akta dan surat bukan akta.32

2. Konsepsi

Konsepsi berasal dari bahasa latin Conceptus yang memiliki arti sebagai kegiatan atau proses berpikir, daya berpikir khususnya penalaran dan pertimbangan.

Konsep adalah salah satu bagian terpenting dari teori. Konsepsi diartikan sebagai kata yang menyatukan abstraksi yang digeneralisasikan dari hal-hal yang khusus yang disebut defenisi operasional.33 Menurut Burhan Ashshofa, suatu konsep merupakan abstraksi mengenai suatu fenomena yang dirumuskan atas dasar generalisasi dan jumlah karakteristik kejadian. keadsan, kelompok atau individu tertentu.34

Oleh karena itu, dalam penelitian ini didefenisikan beberapa konsep dasar agar secara operasional diperoleh hasil penelitian yang sesuai dengan tujuan yang telah ditentukan, yaitu:

31 R. Subekti, Hukum Pembuktian, (Jakarta: Pradnya Paramitha, 1987), hal. 7.

32Sudikno Mertukusumo, Hukum Acara Perdata Indonesia, (Yogyakarta: Liberty, 2002), hal. 149.

33Samadi Surbayabrata, Metodolagi Penelitian, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1998), hal.3.

34Burhan Ashshofa, Metodologi Penelitian Hukum,( Rineka Cipta, Jakarta, 1996), hal.19

a. Sertipikat adalah surat keterangan dari orang yang berwenang dan dapat digunakan untuk keperluan teretntu, atau merupakan tanda bukti yang kuat selama tidak dapat dibuktikan sebaliknya dari data fisik dan data yuridis yang tercantum didalamnya yang harus diterima sebagai data yang benar.

b. Hak milik ialah hak yang dimiliki seseorang untuk mempergunakan benda (tanah) atas kuasa dirinya sendiri yang diakui atau atas seizin negara melalui pihak yang berwenang, atau hak turun temurun, terkuat dan terpenuh yang dapat dipunyai orang atas tanah, dan dapat beralih atau dialihkan kepada pihak lain.

c. Sertipikat hak milik atas tanah dan/atau bangunan (selanjutnya disebut SHM), adalah tanda bukti hak atas tanah, yang dikeluarkan oleh Pemerintah dalam rangka penyelenggaraan pendaftaran tanah menurut ketentuan Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1961 tentang Pendaftaran Tanah.

d. Perkebunan adalah segala kegiatan yang mengusahakan tanaman tertentu pada tanah dan/atau media tumbuh lainnya dalam ekosistem yang sesuai, mengolah dan memasarkan barang dan hasil tanaman tersebut, dengan bantuan ilmu pengetahuan dan teknologi, permodalan serta manajemen untuk mewujudkan kesejahteraan bagi pelaku usaha perkebunan dan masyarakat.35

e. Milik perorangan yaitu alas hak atas tanah perkebunan kelapa sawit atas nama perorangan bukan badan hukum atau kelompok.

35Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2004 tentang Perkebunan, Pasal 1 angka 1

f. Surat kepala Desa yaitu surat yang dibuat oleh kepala desa sebagai alas hak kepemilikan tanah perkebunan dengan maksud untuk dapat dijadikan sebagai alat bukti tentang peristiwa atau peristiwa hukum yang tercantum didalamnya.

Dalam dokumen TESIS. Oleh. P A U L U S /M.Kn (Halaman 31-40)

Dokumen terkait