• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEPASTIAN HUKUM PENGATURAN DAN PERIZINAN TENAGA KERJA ASING DI INDONESIA

C. Kerangka Teori dan Konseptual 1. Kerangka Teoritis

a. Teori Kepastian Hukum

Kepastian adalah perihal (keadaan) yang pasti, ketentuan atau ketetapan. Hukum secara hakiki harus pasti dan adil. Pasti sebagai pedoman kelakukan

8

Hesty Hastuti, laporan akhir tim penelitian tentang permasalahan hukum Tenaga Kerja

dan adil karena pedoman kelakuan itu harus menunjang suatu tatanan yang dinilai wajar. Hanya karena bersifat adil dan dilaksanakan dengan pasti hukum dapat menjalankan fungsinya. Kepastian hukum merupakan pertanyaan yang hanya bisa dijawab secara normatif, bukan sosiologi.9

Menurut Kelsen, hukum adalah sebuah sistem norma. Norma adalah pernyataan yang menekankan aspek “seharusnya” atau das sollen, dengan menyertakan beberapa peraturan tentang apa yang harus dilakukan. Norma-norma adalah produk dan aksi manusia yang deliberatif. Undang-Undang yang berisi aturan-aturan yang bersifat umum menjadi pedoman bagi individu bertingkah laku dalam bermasyarakat, baik dalam hubungan dengan sesama individu maupun dalam hubungannya dengan masyarakat.

Aturan-aturan itu menjadi batasan bagi masyarakat dalam membebani atau melakukan tindakan terhadap individu. Adanya aturan itu dan pelaksanaan aturan tersebut menimbulkan kepastian hukum.10 Kepastian hukum secara normatif adalah ketika suatu peraturan dibuat dan diundangkan secara pasti karena mengatur secara jelas dan logis. Jelas dalam artian tidak menimbulkan keragu-raguan (multi tafsir) dan logis.

Jelas dalam artian ia menjadi suatu sistem norma dengan norma lain sehingga tidak berbenturan atau menimbulkan konflik norma. Kepastian hukum menunjuk kepada pemberlakuan hukum yang jelas, tetap, konsisten dan konsekuen yang pelaksanaannya tidak dapat dipengaruhi oleh keadaan-keadaan yang sifatnya subjektif. Kepastian dan keadilan bukanlah sekedar tuntutan moral, melainkan secara factual mencirikanhukum. Suatu hukum yang tidak pasti dan tidak mau adil bukan sekedar hukum yang buruk.11 Kepastian hukum merupakan jaminan mengenai hukum yang berisi keadilan.

9 Dominikus Rato, Filsafat Hukum Mencari: Memahami dan Memahami Hukum, (Yogyakarta : Laksbang Pressindo, 2010), h. 59.

10

Peter Mahmud Marzuki, Pengantar Ilmu Hukum, (Jakarta: Kencana 2008) h. 158.

11Cst Kansil, Christine, S.T Kansil, Engelien R, Palandeng dan Godlieb N Mamahit, Kamus

Norma-norma yang memajukan keadilan harus sungguh-sungguh berfungsi sebagi peraturan yang ditaati. Menurut Gustav Radbruch keadilan dan kepastian hukum merupakan bagian-bagian yang tetap dari hukum. Beliau berpendapat bahwa keadilan dan kepastian hukum harus diperhatikan, kepastian hukum harus dijaga demi keamanan dan ketertiban suatu negara. Akhirnya hukum positif harus selalu ditaati. Berdasarkan teori kepastian hukum dan nilai yang ingin dicapai yaitu nilai keadilan dan kebahagiaan.

Lon Fuller dalam bukunya The Morality of Law mengajukan 8 (delapan) asas yang harus dipenuhi oleh hukum, yang apabila tidak terpenuhi, maka hukum akan gagal untuk disebut sebagai hukum, atau dengan kata lain harus terdapat kepastian hukum. Kedelapan asas tersebut adalah sebagai berikut :

1) Suatu sistem hukum yang terdiri dari peraturan-peraturan, tidak berdasarkan putusan-putusan sesat untuk hal-hal tertentu

2) Peraturan tersebut diumumkan kepada publik

3) Tidak berlaku surut, karena akan merusak integritas sistem 4) Dibuat dalam rumusan yang dimengerti oleh umum

5) Tidak boleh ada peraturan yang saling bertentangan

6) Tidak boleh menuntut suatu tindakan yang melebihi apa yang bisa dilakukan

7) Tidak boleh sering diubah-ubah

8) Harus ada kesesuaian antara peraturan dan pelaksanaan sehari-hari.

Pendapat Lon Fuller di atas dapat dikatakan bahwa harus ada kepastian antara peraturan dan pelaksanaannya, dengan demikian sudah memasuki ranah aksi, perilaku, dan faktor-faktor yang mempengaruhi bagaimana hukum positif dijalankan. 12

Jika dikaitkan Tenaga Kerja Asing antara teori kepastian hukum dengan suatu ketentuan atau Undang-undang tentang ketenagakerjaan maka masih ada ketentuan yang belum pasti karena saling bertentangan yaitu Undang-undang

12Pengertian Asas Kepastian Hukum Menurut Para Ahli (http://tesishukum. com/pengertian-asas-kepastian-hukum-menurut-para-ahli. diakses pada 2 januari 2018)

Nomor 13 Tahun 2003 dengan Peraturan Presiden Nomor 20 Tahun 2018 terkait dengan masuknya Tenaga Kerja Asing ke Indonesia dimana beberapa pasal didalam perpres nomor20 Tahun 2018 ini bertentangan oleh isi dari Undang-undang Ketenagakerjan.

Terdapat pada pasal 42 Undang-undang Ketenagakerjaan isi pasal ini bertentangan dengan pasal 9 Peraturan Presiden nomor 20 Ttahun 2018 tentang Izin Menggunakan Tenaga Kerja Asing dan Rencana Penggunaan Tenaga Kerja Asing. IMTA sendiri merupakan singkatan dari izin mempekerjakan tenaga asing.

Tenaga warga negara asing pendatang, yaitu tenaga kerja warga negara asing yang memiliki visa tingal terbatas atau izin tinggal terbatas atau izin tetap. Dengan maksud bekerja (melakukan pekerjaan) dari dalam wilayah Republik Indonesia baik dalam jangka waktu yang pendek maupun jangka waktu yang panjang. Mempekerjakan Tenaga Kerja Asing harus mendapatkan izin dari Direktorat Jendral Imigrasi Republik Indonesia.

b. Asas lex superiori derogat legi inferiori

Yaitu ketentuan peraturan (Undang-undang) yang mempunyai derajat lebih tinggi di dahulukan pemanfaatannya/penyebutannya daripada ketentuan yang mempunyai derajat lebih rendah.

c. Teori Perlindungan Hukum

Kata perlindungan merupakan kata benda abstrak berarti suatu upaya menempatkan seseorang diberikan kedudukan istimewa dikarenakan oleh keadaan khususnya, misalnya karena lemahnya atau langkahnya. Dalam Bahasa Belanda disebut “bescherming” dan dalam Bahasa inggrisnya disebut “protection”. Menurut CST Kansil, perlindungan hukum adalah segala upaya hukum harus diberikan oleh aparat penegak hukum demi memberikan rasa

aman, baik secara pikiran maupun fisik dari gangguan dan berbagai ancaman dari pihak manapun13.

Prinsip perlindungan hukum terhadap tindakan pemerintah bertumpu dan bersumber dari konsep tentang pengakuan dan perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia karena menurut sejarah dari barat, lahirnya konsep-konsep tentang pengakuan dan perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia diarahkan kepada pembatasan-pembatasan dan peletakan kewajiban masyarakat dan pemerintah. Terhadap macam-macam perlindungan Tenaga Kerja secara umum, dalam kaitannya dengan menurut Prof. Imam Soepomo, bersama Prof. Abdullah Sulaiman, menguraikan ada tiga macam, yang pertama, perlindungan ekonomis yaitu perlindungan yang berkaitan dengan usaha-usaha untuk memberikan penghasilan sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan keluarganya dan dirinya sendiri, yang kedua, perlindungan sosial yaitu, perlindungan agar tenaga kerja dapat melakukan kegiatan kemasyarakatan tujuannya untuk memungkinkan dirinya dapat mengembangkan kehidupan sebagai manusia pada umumnya. Yang terakhir yaitu perlindungan teknis adalah perlindungan untuk menjaga kaum buruh dari bahaya kecelakaan. Selanjutnya menurut Abdullah Sulaiman untuk dapat menciptakan jaminan perlindungan buruh harus mengutamakan rasa keadilan mengenai pendapatan buruh, maka yang dibutuhkan satu-satunya adalah kesepakatan anatara buruh dengan pengusaha yang melahirkan perjanjian pengupahan.14

1. Kerangka Konseptual

Dalam pembahasan ini akan di uraikan beberapa konsep-konsep terkait terhadap beberapa istilah yang akan sering digunakan dalam studi ini diantaranya:

a. Kepastian Hukum

Kepastian hukum dapat dimaknakan bahwa seseorang akan memperoleh sesuatu yang diharapkan dalam keadaan tertentu. Kepastian

13

C.S.T Kansil, pengantar ilmu hukum dan tata hukum Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka,1989), h. 40.

14 Abdullah Sulaiman dan Andi Walli, Hukum Ketenagakerjan/perburuhan, (Jakarta: YPPSDM, 2019), h. 309.

diartikan sebagai kejelasan norma sehingga dapat dijadikan pedoman bagi masyarakat yang dikenakan peraturan ini. Pengertian kepastian tersebut dapat dijelaskan bahwa kejelasan dan ketegasan terhadap berlakunya hukum di dalam masyarakat, Hal ini untuk tidak menimbulkan adanya salah tafsir dan kemudian memunculkan salah paham.

Kepastian hukum yaitu adanya kejelasan perilaku yang bersifat umum dan mengikat semua warga masyarakat termasuk konsekuensi-konsekuensi hukumnya. Kepastian hukum dapat juga berarti hal yang dapat ditentukan oleh hukum dalam hal-hal yang konkret.15 Kepastian hukum adalah jaminan bahwa hukum bisa dijalankan, bahwa yang berhak menurut hukum dapat memperoleh haknya dan bahwa putusan dapat dilaksanakan. Tanpa adanya kepastian hukum maka suatu aturan dapat dikatakan belum memenuhi syarat untuk diberlakukan karena masih belum memberikan kepastian bagi masyarakat. Hukum bertugas menciptakan kepastian hukum karena bertujuan untuk melindungi dan mentertibkan masyarakat, hukum tanpa nilai kepastian hukum akan kehilangan arti dan maknanya karena tidak lagi dapat dijadikan pedoman dan acuan dalam melaksanakan kegiatan bagi seluruh masyarakat.16 b. Tenaga Kerja Asing

Tenaga kerja asing sebenarnya dapat ditinjau dari segala segi, dimana salah satunya yang menentukan kontribusi terhadap daerah dalam bentuk retribusi dan juga menentukan status hukum serta bentuk-bentuk persetujuan dari pengenaan retribusi. Pengertian Tenaga Kerja Asing adalah tiap orang bukan warga negara Indonesia yang mampu melakukan

15Van Apeldoorn, pengantar ilmu hukum, cetakan kedua puluh empat, (Jakarta: Pradnya

Paramitha), h. 24-25.

16Fence M. Wantu, Antinomi dalam penegakan hukum oleh hakim, Jurnal Berkala Mimbar Hukum,( Yogyakarta: Vol. 19 No. 3 Oktober 2007), h. 193.

pekerjaan, baik di dalam maupun di luar hubungan kerja, guna menghasilkan jasa atau barang untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.17 c. Pengaturan Tenaga Kerja

Di Indonesia pengaturan menganai Tenaga Kerja Asing diatur dalam Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 pada Bab VIII tentang penggunaan Tenaga Kerja Asing, sedangkan pengertian Tenaga Kerja Asing adalah warga negara asing pemegang visa dengan maksud bekerja di Indonesia. Tenaga Kerja Asing wajib mematuhi peraturan yang terdapat dalam Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 yang mengatur

ketentuan-ketentuan mengenai Tenaga Kerja Asing yang bekerja di wilayah

Indonesia, ketentuan-ketentuan tersebut adalah: Pemberi kerja yang mempekerjakan Tenaga Kerja Asing wajib memiliki izin tertulis dari menteri atau pejabat yang ditunju, Tenaga Kerja Asing dengan jabatan tertentu, Adanya jangka waktu tertentu, Rencana Pengguna Tenaga Kerja Asing, Standar Kompetensi, Larangan menduduki jabatan tertentu, Kewajiban dana kompensasi dan Kewajiban memulangkan Tenaga Kerja Asing yang bekerja di wilayah Indonesia.

d. Pelaksanaan Hukum

Pelaksanaan hukum merupakan penyediaan sarana untuk melaksanakan sesuatu yang menimbulkan dampak atau akibat terhadap sesuatu. Sesuatu tersebut dilakukan untuk menimbulkan dampak atau akibat itu dapat berupa Undang-Undang, peraturan pemerintah, keputusan peradilan dan kebijakan yang dibuat oleh lembaga-lembaga pemerintah dalam kehidupan kenegaraan.