• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V: Penutup, Kesimpulan dan Saran

KERANGKA TEORI

A. Pesan Dakwah Mengenai Busana

Fenomena distro clothing company yang semakin marak di berbagai kota di Indonesia hampir nyaris semuanya muncul dari semangat gaya hidup barat. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya clothing yang hanya menawarkan trend, variasi dan ungkapan gaya hidup barat. padahal pakaian dapat digunakan pula sebagai penyampai pesan-pesan dakwah.1

Abbas Schulz, seorang imam muda di Berlin mengatakan tidak ada masalah dengan style Islam yang menyebarkan pesan Islami (dakwah) melalui fesyen selama busana tersebut menutup aurat.2

Menutup aurat yang diwajibkan atas wanita adalah persoalan agama yang ditetapkan dalam al-Qur‟an dan hadits. Seperti dalam al-Qur‟an surat al -Ahzab [33] : ayat 59:

“Hai nabi! Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin, supaya mereka menutup tubuhnya dengan kain selubungnya ketika mereka keluar rumah. Dengan demikian mereka lebih mudah dikenal kesusilaannya, supaya tidak diganggu orang dijalanan, dan Allah Maha Pengampun dan Penyayang. Tiga golongan penjahat yang harus disingkirkan dari Madinah, hidup atau mati.”

Ayat diatas adalah perintah Allah tentang pemakaian busana muslimah bagi wanita, terlebih lagi bagi mereka adalah pahala yang tiada putus-putusnya.

1 www.facebook.com/group.php. Diakses pada hari Ahad, 8 Mei 2011, jam 14.50.

2

Semua madzhab sepakat atas dasar pemakaian busana muslimah tersebut, tetapi ada perselisihan dalam penetapan bentuk dan batasan busana muslimah sesuai dengan syariat Islam. Oleh karena itu, beberapa kriteria yang dapat dijadikan standar mode atau batasan-batasan untuk busana muslimah berikut ini tampaknya perlu diperhatikan:

a. Bagian tubuh yang boleh kelihatan hanya wajah dan telapak tangan.

b. Tekstil yang dijadikan bahan busana tidak tipis atau tembus pandang, karena kain yang demikian memperlihatkan bayangan kulit secara remang-remang. Hadits Nabi SAW:

“Dari Usman bin Zaid ia berkata : “ Aku pernah diberi oleh Rasulullah

SAW sehelai qibti yang tebal yang dihadiahkan oleh Dihgah Al-Kalbi.

Padanya, lalu kuberikan kepada istriku”. Kemudian Nabi SAW bertanya,

“mengapa qibti itu tidak kau pakai?” Aku menjawab “Wahai Rasulullah, kain qibti itu kuberikan kepada istriku.” Lalu Nabi bersabda: “suruhlah istrimu agar memberi lapisan dibawahnya, sebab

aku khawatir kalau-kalau pakaiannya memperlihatkan bentuk tubuh.” (HR. Ahmad)

c. Modelnya tidak ketat, karena model yang ketat akan menampakkan bentuk tubuh terutama payudara, pinggang dan panggul. Pergunakanlah potongan yang longgar agar lebih sehat, dan memberi keluasan bagi otot untuk bergerak. Salah satu hadits Nabi ada yang menjelaskan tentang hal ini. Yaitu berkata Hafsoh binti Sirin:

“saya pernah bertanya kepada Nabi: “ Ya Rasulullah, apakah kita

berdosa apabila salah satu diantara kita (para perempuan) tidak ikut pergi ketanah lapang dihari raya lantaran tidak mempunyai baju

panjang dan longgar?” Rasulullah menjawab: “Hendaklah temannya meminjamkan kepadanya bajunya yang longgar itu.” (HR. Bukhari)

d. Tidak menyerupai pakaian laki-laki maupun dalam bertingkah laku. Hadits Nabi SAW besabda:

“Dikutuk laki-laki yang memakai pakaian perempuan, dan perempuan yang memakai pakaian laki-laki.” (HR. An-Nasai)

e. Bahannya juga sebaiknya tidak terlalu mewah dan berlebihan atau menyolok mata dengan warna yang aneh-aneh hingga menarik perhatian orang. Apalagi jika sampai menimbulkan rasa angkuh dan sombong.3

Hadits Nabi SAW bersabda:

“dari Ibnu Umar ra, ia berkata: “telah bersabda Rasulullah SAW: “

Barang siapa yang berjalan menyeret kainnya sebagai tanda kebanggaan (kesombongan) niscaya Allah tidak akan menengoknya

kelak dihari kiamat.” (HR. Muslim)

f. Tidak boleh menyerupai busana wanita-wanita kafir, berdasarkan pada haramnya kaum muslimin termasuk wanita menyerupai (tasyabuh) orang-orang wanita kafir baik dalam berpakaian yang khas pakaian mereka, ibadah, makanan, perhiasan, adat istiadat, maupun dalam berkata atau memuji sesorang yang berlebihan.4

g. Tidak diberi wewangian atau parfum, syarat ini berdasarkan larangan terhadap kaum wanita untuk tidak memakai wewangian apabila mereka keluar rumah. h. Bukanlah pakaian untuk mencari popularitas, libas syuhrah (pakaian

popularitas) adalah pakaian yang dipakai dengan tujuan meraih kepopuleran ditengah-tengah orang banyak, baik pakaian itu harganya mahal dan pemakainya berbangga hati dengan pakaian tersebut, atau pakaian bernilai rendah yang

3 Nina Surtiretna, Anggun Berjilbab, (Bandung: PT. Al Bayans, 1997), h.68-69.

4

dipakai agar dianggap sebagai orang yang zuhud. Kedua contoh tersebut motivasinya adalah ingin dilihat orang lain (riya).5

Dalam al-Qur‟an Q.S. al-A‟raf [7] : 26 membahas tentang pakaian, “ Hai anak cucu Adam! Kami telah memperlengkapimu dengan pakaian untuk

menutup aurat, dan pakaian yang bagus untuk perhiasanmu. Namun pakaian rohaniah yang bernama takwa lebih indah lagi. Semuanya itu adalah sebagian tanda-tanda kekuasaan Allah. Semoga kalian selalu ingat.”

Dan selanjutnya ide dasar pakaian didasarkan pada Q.S. al-A‟raf [7] : 20 -22 yang berbunyi :

“Lalu setan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya, supaya keduanya membukakan kemaluannya yang tertutup. Lalu Syaitan membisikkan: “Tuhan

kalian melarang kalian dari mendekati pohon ini, tidak lain supaya kalian tidak jadi malaikat, atau menjadi orang-orang yang kekal di syurga ini.”

Dan dia bersumpah kepada keduanya: “Sungguh, saya ini hanya menasehati kalian”.

Lalu setan membujuk rayu keduanya dengan tipu muslihat untuk memakan buah kayu itu. Tatkala keduanya telah merasai buah kayu itu, nampaklah olehnya kemaluan masing-masing dan mulailah keduanya menutupinya dengan

daun-daun syurga. Lalu Tuhan menghardik keduanya: “Bukankah Aku telah

melarang kalian mendekati kayu itu dan Aku katakan kepada kalian bahwa

setan itu adalah musuh bebuyutan kalian?”.

Ayat diatas mengisyaratkan bahwa Adam AS dan pasangannya tidak sekedar menutupi aurat mereka dengan selembar daun, tetapi daun diatas daun sebagaimana dipahami dari kata (yakhshifani). Mereka lakukan agar aurat mereka benar-benar tertutup dan pakaian yang mereka kenakan tidak menjadi pakaian mini atau tembus pandang. Ini juga menunjukkan bahwa menutup aurat merupakan fitrah manusia yang diaktualkan oleh Adam AS dan istrinya pada saat kesadaran mereka muncul.6

5 H. Salim Bahreisyi, Terjemahan Riyad Ash Shalihin, (Bandung: Al- Ma’arif, 1 ), h.1.

6 M. Quraish Shihab, Jilbab Pakaian Wanita Muslimah, Pandangan Ulama Masa Lalu dan Cendekiawan Kontemporer, (Jakarta: Lentera Hati, 2004), Cet. Ke-11, h.38.

Dari kisah Adam dan Hawa tersebut peneliti merumuskan bahwa ide dasar pakaian adalah menutup aurat. Namun karena godaan setan, aurat manusia menjadi terbuka. Dengan demikian, aurat yang ditutup dengan pakaian, akan dikembalikan pada ide dasarnya, yaitu untuk ditutup. Ayat itu juga menegaskan bahwa pada hakikatnya menutup yang tidak pantas diperlihatkan adalah fitrah manusia yang diaktualkan pada saat ia memiliki kesadaran. Dengan demikian ide membuka aurat adalah ide setan, dan salah satu kehadiran setan adalah keterbukaan aurat. Menutup aurat termasuk salah satu pesan dakwah yang terdapat dalam busana.

Dalam al-Qur‟an pakaian disebut dengan sarabil. Kata ini berarti pakaian, apa pun jenis bahannya. Dalam al-Qur‟an kata ini hanya disebut tiga

kali. Dalam Q.S. al-Nahl [16] : 81, dijelaskan sarabil adalah pakaian yang berfungsi untuk menangkal sengatan panas, dingin dan bahaya dalam peperangan. Dalam Q.S. Ibrahim [14] : 50 dijelaskan tentang siksa yang akan dialami oleh orang-orang berdosa kelak (Pakaian mereka dari pelangkin). Dapat dipahami, bahwa pakaian ada yang menjadi alat penyiksa. Siksa tersebut karena yang bersangkutan tidak menyesuaikan diri dengan nilai-nilai yang diamanatkan oleh Allah SWT.7

Dari sekian banyak ayat al-Qur‟an yang berbicara tentang pakaian, dapat

ditemukan beberapa fungsi pakaian atau pesan dakwah yang terdapat dalam busana diantaranya sebagai perhiasan, memelihara pemakaiannya dari sengatan panas matahari dan dinginnya udara dan dari segala sesuatu yang mengganggu jasmani, dan petunjuk identitas pembeda seseorang dengan yang lain.

7 Waryono Abdul Ghafur, Tafsir Sosial, Mendialogkan Teks dengan Konsep (Yogyakarta: el Saq Press, 2005), h. 166.

Busana atau pakaian tidak hanya berkaitan dengan masalah etika dan estetika saja, melainkan juga dengan kondisi sosial, ekonomi, budaya, iklim dan agama. Oleh karenanya sangat wajar apabila al-Qur‟an banyak membicarakan

masalah pakaian. Bahkan Allah menyuruh memakai pakaian terbaik jika beribadah.

Pesan yang terkandung dalam busana muslimah yaitu wajib hukumnya menutup aurat. Para desainer boleh saja berkreasi sesuai dengan tuntutan zaman tetapi gaya modis yang diciptakan harus tetap menutup aurat.

Dalam al-Qur‟an menandaskan bahwa Allah SWT memberi manusia

pakaian yang berfungsi menutup aurat dan pakaian yang indah sebagai perhiasan. Rasulullah SAW pun tidak melarang orang yang suka mengikuti perkembangan mode, asal saja memenuhi kriteria busana muslimah.

Busana yang ditampilkan dalam rubrik mode majalah Ummi selalu menampilkan busana dengan tema dan design penuh inspirasi dan ajakan untuk senantiasa bergerak mengaplikasikan nilai-nilai Islam dalam kesehariannya.

B. Semiotika

Semiotika berasal dari kata yunani semion, yang berarti tanda.8 Semiotika berakar dari studi klasik dan skolastik atas seni logika, retorika dan

poetika.

Semiotika menurut Charles S. Pierce adalah tidak lain daripada sebuah nama lain bagi logika, yakni doktrin formal tentang tanda-tanda.9 Yang menjadi dasar dari semiotika adalah konsep tentang tanda: tak hanya bahasa dan sistem

8 Sumbo Tinarbuko, Semiotika Komunikasi Visual, (Yogyakarta : Jalasutra, 2008), h. 11.

9

komunikasi yang tersusun oleh tanda-tanda, melainkan dunia itu sendiripun sejauh terkait dengan pikiran manusia.10 Penalaran manusia senantiasa dilakukan lewat tanda. Artinya manusia hanya dapat bernalar lewat tanda.

Sementara bagi Ferdinad de Saussure, semiologi adalah sebuah ilmu umum tentang tanda, “suatu ilmu yang mengkaji kehidupan tanda-tanda di

dalam masyarakat”. Tujuannya adalah untuk menunjukkan bagaimana

terbentuknya tanda-tanda beserta kaidah-kaidah yang mengaturnya.

Semiologi menurut Saussure, didasarkan pada anggapan bahwa selama perbuatan dan tingkah laku manusia membawa makna atau selama berfungsi sebagai tanda, harus ada dibelakang sistem tanda pembedaan dan kovensi yang memungkinkan makna itu.

Dengan demikian, bagi Peirce semiotika adalah suatu cabang dari filsafat, sedangkan bagi saussure semiologi adalah bagian dari disiplin psikologi sosial.11

1. Konseptualisasi Semiotika

Tanda adalah basis dari seluruh komunikasi. Manusia dengan perantaraan tanda-tanda dapat melakukan komunikasi dengan sesamanya. Kajian semiotika dibedakan atas dua jenis, yaitu semiotika komunikasi dan semiotika signifikasi.12

Semiotika komunikasi menekankan pada teori tentang produksi tanda yang salah satu diantaranya mengasumsikan adanya enam faktor dalam komunikasi, yaitu pengirim, penerima kode, pesan, saluran komunikasi, dan

10

Alex Sobur, Semiotika Komunikasi, (Bandung : Remaja Rosdakarya, 2004), h.12.

11 Kris Budiman, Semiotika Visual, h.3.

12

acuan (hal yang dibicarakan). Sedangkan semiotika signifikasi memberikan tekanan pada teori tanda dan pemahamannya dalam suatu konteks tertentu.13 Dalam hal ini yang diutamakan adalah segi pemahaman suatu tanda sehingga proses kognisinya pada penerimaan tanda lebih diperhatikan daripada proses komunikasinya, karena tujuan berkomunikasi pada hal ini tidak dipersoalkan.

Menurut Rahayu Surtiati Hidayat dalam Christomy dan Untung Yuwono bahwa semiotika tidak dapat disebut dalam bidang ilmu karena fungsinya adalah sebagai alat analisis, cara mengurai suatu gejala. Maka dari itu sebagian orang menganggap semiotika sebagai ancangan sementara yang lain menggunakannya sebagai metode, meskipun demikian, Art Van Zoest menganggapnya sebagai cabang ilmu. Namun, terlepas dari perdebatan itu, jelas semiotika bersifat lintas disiplin, mirip filsafat dan logika. Semiotika dapat dimanfaatkan oleh berbagai bidang ilmu : arsitektur, kedokteran, sinematografi, linguistik, kesusastraan, bahkan hukum dan antropologi untuk memahami tanda. Semiotika adalah teori dan analisis berbagai tanda dan pemaknaan. Pada dasarnya para semiotikus melihat kehidupan sosial dan budaya sebagai pemaknaan, bukan hakikat esensial objek.14 Contohnya adalah, janur kuning yang melengkung di depan gang atau di depan gedung-gedung pertemuan, bagi seseorang yang hendak menghadiri pesta pernikahan, maka janur kuning tersebut dijadikan suatu tanda adanya pesta pernikahan. Akan tetapi, bagi seseorang yang sedang tidak ingin menghadiri pesta pernikahan, maka janur kuning tersebut tidak menjadi tanda apapun. Janur

13

Alex Sobur, Semiotika Komunikasi, h. 15.

14

Christomy. T dan Untung Yuwono (ed), Semiotika Budaya, (Depok, Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat Universitas Indonesia, 2004), h. 77-78.

kuning tersebut menjadi tanda bagi seseorang karena ia sudah terbiasa atau sudah menjadi tradisi bagi masyarakat sekitarnya.

Semiotika mengkaji tanda, penggunaan tanda, dan segala sesuatu yang bertalian dengan tanda. Kemudian semua jelas dapat menjadi tanda sehingga tidak ada yang tidak dapat dijadikan topik penelitian semiotika. Dengan kata lain, perangkat pengertian semiotika dapat diterapkan pada semua bidang kehidupan asalkan persyaratannya terpenuhi, yaitu ada arti yang diberikan, ada pemaknaan, ada interpretasi. Lebih baik lagi, seorang semiotikus dapat bekerja dimanapun dan kapan pun semiosis berlangsung, baik di dalam maupun di luar komunikasi.15

Ada dua tokoh semiotika yang perlu kita ketahui. Penulis akan menggambarkan secara singkat kaitan diantara para semiotikus tersebut. Yakni sejak Ferdinand de Saussure (1857-1913) di Swis dan Charles Sanders Peirce (1834-1914) di Amerika Serikat. Sebenarnya, Saussure tidak pernah berpretensi menjadi semiotikus karena pusat minatnya adalah bahasa. Namun dialah yang pertama kali mencetuskan gagasan untuk melihat bahasa sebagai sistem tanda. Dikotomi Saussure yang diterapkan pada tanda: penanda dan petanda akhirnya mempengaruhi banyak semiotikus Eropa. Sedikitnya ada tiga aliran yang diturunkan dari tanda Saussure. Pertama, semiotik komunikasi yang menekuni tanda sebagai bagian dari proses komunikasi. Kedua, semiotik konotasi, yaitu yang mempelajari makna konotatif dari tanda. Ketiga, yang sebenarnya merupakan aliran di dalam semiotik komunikasi adalah semiotik ekspansif dengan tokohnya yang paling terkenal Julia Kristeva. Dalam semiotik jenis ini,

15

pengertian tanda kehilangan tempat sentralnya karena digantikan oleh pengertian produksi arti. Tujuan semiotik ekspansif adalah mengejar ilmu total dan bermimpi menggantikan filsafat.16

2. Semiotika Charles Sanders Peirce

Charles Sanders Peirce, menandaskan bahwa kita hanya dapat berfikir dengan medium tanda. Manusia hanya dapat berkomunikasi lewat sarana tanda.17Peirce dikenal dengan teori segitiga makna-nya (triangle meaning). Berdasarkan teori tersebut, semiotika berangkat dari tiga elemen utama yang terdiri dari: Tanda (sign), Acuan Tanda (Object), Pengguna Tanda (Interpretant).

Bagi Peirce tanda “is something which stands to somebody for something in some respect or capacity”. Sesuatu yang digunakan agar tanda bisa berfungsi, oleh Peirce disebut ground.

Konsekuensinya, tanda (sign atau representamen) selalu terdapat dalam hubungan triadic, yakni ground, object, dan interpretan. Atas dasar hubungan ini Peirce mengadakan klasifikasi tanda.

Ground Object Interpretant

1. Qualisign

(suatu kualitas yang

merupakan

1. Ikon yaitu tanda yang memiliki kualitas objek yang di 1. Rheme yaitu tanda suatu kemungkinan kualitatif,

16 Christomy. T dan Untung Yuwono (ed), Semiotika Budaya, 82-83.

17

suatu tanda). 2. Sinsign (“sin”= “hanya sekali” : peristiwa yang merupakan sebuah tanda). 3. Legisign (= hukum yang berupa tanda. Setiap tanda konvensional adalah legisign). denotasikan. 2. Indeks (petunjuk) yaitu tanda yang mendenotasikan suatu objek melalui keterpengaruha nnya kepada objek itu. 3. Symbol yaitu sebuah tanda yang konvensional. yaitu bahwa ia mewakili suatu objek yang mungkin ada. 2. Dicisign yaitu tanda eksistensial suatu objek. 3. Argument yaitu tanda suatu hukum.

Tanda yang dikaitkan dengan ground dibaginya menjadi qualisign, sinsign, dan legisign. Qualisign adalah kualitas yang ada pada tanda, misalnya kata-kata kasar, keras, lembut, lemah dan merdu. Sinsign adalah eksistensi aktual benda atau peristiwa yang ada pada tanda, misalnya kata kabur atau keruh

yang ada pada urutan kata “air sungai keruh” yang menandakan bahwa ada

misalnya rambu-rambu lalu lintas yang menandakan hal-hal yang boleh atau tidak boleh dilakukan manusia.18

Tanda berdasarkan objeknya, Peirce membagi menjadi tiga bagian yaitu : pertama, Ikon adalah tanda yang mengandung kemiripan “rupa” (resemblance) sebagaimana dikenali oleh para pemakainya. Akan tetapi, sesungguhnya ikon tidak semata-mata mencakup citra realitas seperti pada lukisan atau foto saja, melainkan juga ekspresi-ekspresi semacam grafik-grafik, skema-skema, peta geografis, persamaan-persamaan matematis, bahkan metafora.19

Kedua, indeks adalah tanda yang memiliki kaitan fisik, eksistensial atau kausal diantara representamen dan objeknya sehingga seolah-olah akan kehilangan karakter yang menjadikannya tanda jika objeknya dipindahkan atau dihilangkan. Indeks bisa berupa hal-hal semacam zat atau benda material (asap adalah indeks dari adanya api), gejala alam (jalan becek adalah indeks dari hujan yang turun beberapa saat yang lalu), gejala fisik (kehamilan adalah indeks dari sudah terjadinya pembuahan).20

Ketiga, symbol adalah tanda yang representamennya merujuk kepada objek tertentu tanpa motivasi (unmotivated), symbol terbentuk melalui konvensi-konvensi atau kaidah-kaidah, tanpa adanya kaitan langsung diantara representamen dan objeknya.21

18

Alex Sobur, Semiotika Komunikasi, h.41.

19

Kris Budiman, Ikonisitas: Semiotika Sastra dan Seni Visual, (Yogyakarta: Buku Baik, 2005), h.56.

20 Kris Budiman, Ikonisitas: Semiotika Sastra dan Seni Visual, h. 56.

21

Menurut hakikat interpretannya, tanda-tanda dibedakan oleh Peirce menjadi rema (rheme), tanda disen (dicent sign / dicisign), dan argumen (argument).

Pertama, rema adalah suatu tanda kemungkinan kualitatif, yakni tanda apapun yang tidak betul dan tidak pula salah.22 Reme merupakan tanda yang memungkinkan orang menafsirkan berdasarkan pilihan.23 Misalnya orang yang merah matanya dapat saja menandakan bahwa orang itu baru menangis, atau menderita penyakit mata dimasuki insekta, atau baru bangun atau ingin tidur. Kedua, dicisign adalah tanda sesuai kenyataan. Misalnya jika pada suatu jalan sering terjadi kecelakaan, maka ditepi jalan dipasang rambu lalu lintas yang menyatakan bahwa disitu sering terjadi kecelakaan. Ketiga, argument adalah tanda yang langsung memberikan alasan tentang sesuatu. Lalu lintas yang menyatakan bahwa disitu sering terjadi kecelakaan.

C. Kelebihan Majalah Sebagai Media Cetak

Majalah adalah terbitan yang berisi artikel, cerita fiktif, yang beredar berkala dan bergambar, diberi sampul dan dijahit seperti buku.

Sementara menurut Hasan Sadhily, majalah adalah :

Terbitan berkala, semula hanya khusus menyajikan tulisan-tulisan dibidang kebudayaan dan ilmu pengetahuan, istilah ini digunakan untuk menyebutkan segala jenis penerbitan berkala yang lebih luas. Isinya meliputi, segala bentuk karya sastra, liputan jurnalistik, pandangan tentang berbagai topik aktual yang patut diketahui konsumen pembaca. Menurut kala terbitnya dapat dibedakan atas majalah mingguan, bulanan, tengah bulanan dan lain-lain.

22 Kris Budiman, Ikonisitas: Semiotika Sastra dan Seni Visual, h. 60.

23

Menurut pengkhususan isinya dapat dibedakan atas berita, wanita, remaja, olahraga, sastra, cabang ilmu pengetahuan tertentu dan sebagainya.24

Awalnya majalah adalah terbitan berkala yang menyajikan tulisan budaya dan ilmu pengetahuan, namun dengan berkembangnya zaman, majalah pun semakin berkembang. Majalah memiliki arti yang lebih luas dari sebelumnya, isinya mencakup berbagaii bentuk sastra, liputan jurnalistik dan berbagai topik aktual yang patut diketahui pembaca.

Menurut Ensiklopedia pers Indonesia majalah adalah :

Penerbitan berkala yang menggunakan kertas bersampul, memuat bermacam-macam tulisan yang dihiasi ilustrasi maupun foto-foto. Dari segi isi dibagi dalam dua jenis yakni Majalah umum, yaitu majalah yang memuat karangan-karangan pengetahuan umum, karangan-karangan yang menghibur, gambar-gambar, olahraga, film, seni, dll. Majalah khusus yakni, majalah yang hanya memuat karangan-karangan mengenai bidang-bidang khusus, seperti majalah wanita, majalah keluarga, majalah humor, majalah kecantikan, politik, kebudayaan, cerpen, dll.25

Majalah merupakan penerbitan berkala yaitu penerbitan yang dilakukan terus menerus yang menggunakan kertas sampul dan memuat bermacam-macam tulisan mengenai politik, ekonomi, sosial, agama, keluarga, remaja, dan sebagainya.

Dari segi isi majalah terbagi menjadi dua yakni : majalah umum dan majalah khusus. Majalah umum berisi tentang masalah-masalah yang bersifat umum, berisi artikel politik, agama, seni, budaya, ekonomi dan lain-lain. Majalah umum tidak hanya berisikan satu jenis permasalahan tetapi berisikan

24

Hasan Sadhily, Ensiklopedia Indonesia Jilid IV, (Jakarta : Ichtiar Baru dan Hove, 1983), h. 2094

25 Kurniawan Effendi, Ensiklopedia Pers Indonesia, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama), h. 154-155

permasalahan dari berbagai bidang. Sedangkan majalah khusus adalah majalah yang berisikan tentang permasalahan khusus menyangkut kepentingan yang terfokus seperti majalah : khusus wanita, majalah ekonomi, majalah politik, majalah seni dan budaya, majalah komputer dan majalah musik.

Dari definisi-definisi diatas penulis menyimpulkan bahwa majalah memiliki terbitan berkala yakni, setiap minggu, bulan atau tengah bulan. Sedangkan menurut isinya, terbagi menjadi dua yakni majalah khusus dan majalah umum.

Jika dilihat dari segi isi yang dituju majalah Ummi merupakan majalah yang wanita dengan penerbitan berkala untuk edisi reguler sebulan sekali, dan edisi spesial terbit tiga bulan sekali, dikhususkan untuk wanita yang berasal dari kalangan menengah ke atas yaitu, para ibu rumah tangga dan profesional muda yang berpendidikan tinggi.

Bila digolongkan menurut isinya majalah Ummi merupakan majalah wanita yang berisikan karangan-karangan mengenai dunia wanita, dari masalah-masalah mode, resep makanan, hingga permasalah-masalahan keluarga.

Mengenai majalah wanita, dalam jurnalistik masa kini dijelaskan bahwa, majalah wanita adalah bentuk majalah yang berisikan rubrik-rubrik khusus

Dokumen terkait