BAB II TINJAUAN PUSTAKA
B. Kerangka Teori (Tinjauan Pustaka)
1. Implemtasi
Implementasi merupakan kata serapan yang berasal dari Bahasa nggris yaitu implementation yang artinya : pelaksanaan atau penerapan.20 Secara umum, implementasi adalah tindakan dengan matang, cermat dan terperinci. Implementasi dilakukan jika sudah ada perencanaan yang baik dan matang, atau adanya sebuah rencana yang telah disusun jauh-jauh hari sebelumnya, sehingga sudah ada kejelasan dan kepastian akan rencana tersebut.
Implementasi adalah penyediaan sarana dalam melakukan sesuatu yang menimbulkan dampak akibat tersebut seperti sesuatu kegiatan yang direncanakan serta dilaksanakan dan mencapai tujuan kegiatan.21
Implementasi yang penulis maksud dalam penelitian ini adalah terkait dengan pelaksanaan atau penerapan hak khiyar antara penjual dan pembeli dalam jual beli online live streaming Instagram dengan tujuan untuk terjadinya kemaslahatan antara kedua belah pihak antara penjual dan pembeli.
20 John M. Echols dan Hassan Shadily Kamus Inggris – Indonesia (Jakarta : PT Gramedia Pusaka Utama, 2003), 313.
21 Zakky, “Pengertian Implementasi menurut Para Ahli, KBBI dan Secara Umum,” Zonarefrensi, 27 Agustus 2018, diakses 16 Januari 2023, https://www.zonareferensi.com/pengertian-implementasi/
15 2. Khiyar
Khiyar dalam arti Bahasa berasal dari akar kata: khara-yakhiru-khairan-wa khiyaratan (
ةرايخ و – ايرخ – يريخ – راخ
) sinonimnya:هل يرخ وهام هاطعأ
, yang artinya“memberinya sesuatu yang lebih baik baginya”.22
Pembahasan khiyar dikemukanan oleh para ulama fiqh dalam permasalahan yang menyangkut transaksi dalam bidang perdata khususnya transaksi ekonomi, yang menjadi salah satu hak bagi kedua belah pihak yang melakukan transaksi (akad) ketika terjadi beberapa persoalan dalam transaksi yang dimaksud.23
Dalam prespektif Islam kejujuran berdagang harus diletakkan dalam kerangka ukuran-ukuran yang bersumber dari ajaran Islam, yakni Al-Qur’an dan Hadis.
Dasar hukum khiyar pada Al-Qur’an terdapat pada Q.S An-Nisa’ ayat 29 yang berbunyi :
ُكَنْ يَ ب ْمُكَلاَوْمَا ااْوُلُكَْتَ َلا اْوُ نَمٓا َنْيِذَّلا اَهُّ يَآيا َرَ ت ْنَع ةَراَِتج َنْوُكَت ْنَا اَّلاِا ِلِطاَبْلِبا ْم
ْْۗمُكَسُفْ نَا ااْوُلُ تْقَ ت َلاَو ْۗ
ْمُكْنِ م ٍضا
ا مْيِحَر ْمُكِب َناَك َٓ للّا َّنِا
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil (tidak benar), kecuali dalam perdagangan yang
22 Nanang Taufiq Masruri, “Pandangan Hukum Islam Terhadap Pelaksanaan Khiyar dan Garansi Pada Produk Elektronik Studi Kasus di Service Center Lenovo Semarang”, (Ungraduate Skripsi, Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, 2014), http://eprints.walisongo.ac.id/3785/3/10231152_Bab2.pdf
23 Nasrun Haroen, Fiqh Muamalah (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2007), 129.
16
berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sungguh, Allah Maha Penyayang kepadamu”. (QS. An-Nisa:29)24
Berdasarkan Sunnah Rasulullah saw khiyar merupakan boleh hukumnya.
Diantara sunnah tersebut adalah hadis yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Abdullah bin Al-Harits:
ملس و هيلع الله ىلص الله لوسر َّنأ مازح نب ميكح نع ثرالحا نب اللهدبع نع َْلم ام ِرايِلخبا ِناعِ يَ بْلا لاق
َذَك ْنإو ،امِهِعْيَ ب في امله َكِروُب انَّيَ بو اقَدَص ْنإف ،اقَّرَفَ تَ ي َقُِمح امَتَكو با
ْلا ِت ُةَكََبر – ر دواد وبأ هاو –
لاق أ وب
دواد َقَّرَفَ تَ ي تى ح اَمِهِعْيَ ب ْنِم َراَتَْيخ ْوَأ ا
Artinya: “Dari Abdillah bin Al-Harits, dari Hakim bin Hizam bahwasannya Rasulullah saw bersabda: Dua orang yang melakukan jual beli mempunyai hak khiyar dalam jual belinya selama mereka belum berpisah, jika keduanya jujur dan keduanya menjelaskannya (transparan), niscaya diberkahi dalam jual beli mereka berdua, dan jika mereka berdua menyembunyikan atau berdusta, niscaya akan dicabut keberkahan dari jual beli mereka berdua. Abu Dawud berkata “sehingga mereka berdua berpisah atau melakukan jual beli dengan akad khiyar. (HR. Al-Bukhari-Muslim).25
Nabi Muhammad saw diutus, sedang waktu itu bangsa Arab memiliki aneka macam perdagangan dan pertukaran. Oleh karena itu, sebagian yang mereka lakukan dibenarkan oleh Nabi sepanjang yang lain dilarang yang kiranya tidak sesuai dengan tujuan dan jiwa syari’at. Larangan ini berkisar dalam beberapa sebab, diantaranya:
a. Adanya unsur usaha untuk membantu pembuatan maksiat.
b. Adanya unsur penipuan
24 Departemen Agama RI, Al-Hikmah Al-Quran Dan Terjemahannya, (Jawa Barat: CV Penerbit Diponegoro, 2010), 83.
25 Ibnu Hajar Al-Asqalani, Fathul Bari Penjelasan Kitab Shahih Al-Bukhari (Jakarta: Pustaka Iman, 2014), 144.
17 c. Adanya unsur pemaksaan.26
Untuk mengaplikasikan nilai positif dan menghindarkan dari perbuatan-perbuatan yang negatif dalam perdagangan perlunya untuk menerapkan prinsip-prinsip yang berlandaskan pada nilai-nilai Islam. Melihat perdagangan di zaman modern ini yang sangat rentan dengan aksi penipuan dan perlu adanya hak khiyar antara penjual dan pembeli.27
Menurut H. Moh. Anwar, khiyar ialah suatu perjanjian (akad) antara penjual dan pembeli untuk memilih kemungkinan jadi atau tidak jadinya jual beli dalam tempo tertentu (yang ditentukan oleh kedua pihak).28 Khiyar sangat menegagkan kejujuran dan kebenaran dalam perdagangan, maka haram bagi penjual menyembunyikan cacat barang. Jika barang yang akan dijual dalam keadaan cacat dan diketahui oleh penjual, maka wajiblah untuk menerangkan hal itu dan tidak boleh menyembunyikannya.
Menyembunyikan barang cacat termasuk kecurangan dan penipuan.29
Khiyar menurut mazhab Syafi’i ialah dibagi dua macam, yaitu khiyar tasyahhi dan khiyar naqishah. Khiyar tasyahhi adalah apa yang diberikan oleh pelaku akad dengan pilihan dan keinginan mereka tanpa bergantung pada kehilangan suatu hal dalam barang dagangan. Sebabnya adalah tempat dan syarat. Adapun khiyar naqishah,
26 Syekh Muhammad Yusuf Qardhawi, Al-Halal Wa Haram fil Islam dan Terjemahan Mu‟ammal Hamidy Halal dan Haram Dalam Islam (Jakarta: Bina Ilmu, 1993), 348.
27 Nanang Taufiq Masruri, “Pandangan Hukum Islam Terhadap Pelaksanaan Khiyar dan Garansi Pada Produk Elektronik Studi Kasus di Service Center Lenovo Semarang”, (Ungraduate Skripsi, Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, 2014), http://eprints.walisongo.ac.id/3785/3/10231152_Bab2.pdf
28 Sudarsano, Pokok-Pokok Hukum Islam, (Jakarta : Pt. Asdi Mahastya, 2001), 407.
29 Hamzah Ya’qub, Kode Etik Dagang Menurut Islam (Pola Pembinaan Hidup dalam Berekonomi), (Bandung: Pustaka Setia, 2001), 153.
18
sebabnya adalah perbedaan lafal dan taghrir dalam bentuk perbuatan atau kebiasaan.
Yang termasuk dalam bagian ini adalah khiyar aib, tashriyah, khulf (perselisihan), talaqqi ar-rukban (menemui orang-orang yang berkendaraan).30
Adapun khiyar syarak menurut ulama Syafi’i ada enam belas yaitu khiyar majlis, khiyar syarat, khiyar aib, khiyar talaqqi ar-rukban, khiyar tafriiq ash-shafqah (memisahkan transaksi), khiyar hilangnya sifat yang disyaratkan dalam akad, khiyar ketidaktahuan dalam objek transaksi atau barang yang diperjual belikan, khiyar karena ketidaktahuan barang dagangan tersebut disewa, khiyar karena menolak memenuhi syarat yang sahih, khiyar karena saling bersumpah pada akad yang disepakati keabsahannya namun diperselisihkan caranya, khiyar bagi penjual karena adanya tambahan harga dalam murabbahah, khiyar bagi pembeli karena bercampurnya buah yang dijual dengan yang baru sebelum adanya penyerahan, khiyar karena ketidakmampuan membayar harga, khiyar karena adanya perubahan sifat barang yang dilihatnya sebelum akad sekalipun bukan cacat, dan khiyar karena buahnya menjadi jelek dikarenakan penjual tidak menyirami setelah penyerahan (takhliyah).31
Dalam jual beli masing-masing kedua belah pihak harus meneruskan jual beli sehingga keduanya tidak mempunyai hak untuk membatalkan atau menolak kecuali dengan adanya khiyar atau dengan adanya syarat khiyar. Ketika kedua belah pihak melaksanakan jual beli, saling rela dan kemudian keduanya terpisah dengan didasarkan
30 Wahbah Az-Zuhaili, Fiqih Islam Wa Adllatuhu Jilid 5, (Depok : Gema Isnani & Darul Fikir, 2007), 181.
31 Ibid, 182.
19
khiyar syarat. Apabila salah satu pihak memberikan pilihan atau khiyar syarat saat terjadi jual beli, maka pengembaliannya pilihan merupakan tindakan baru yang menetapkan jual beli.32
Menurut Mazhab Syafi’I yang perlu kita ketahui ada tiga macam khiyar dalam jual beli yaitu khiyar majlis, khiyar syarat dan khiyar aib.33
a. Khiyar Majelis
Majlis dalam Bahasa Arab artinya tempat duduk. Yang dimaksud oleh kalangan ahli fiqh adalah tempat kedua orang yang berakad berada dari sejak mulai berakad sampai sempurna, berlaku dan wajibnya akad. Khiyar majlis berlaku dalam berbagai macam jual beli, seperti jual beli makanan, akad pemesanan barang (salam), syirkah.34
Dasar hukum khiyar majlis adalah hadits Al-Bukhari dari Umar yaitu:
بلا : ملسو هيلع الله ىلص بينلا لاق : لاق امهنع الله يضر رمع نبا نع لم ام رايلخبا ناعي
اقرفتي
بحاصل اهمدحا لوقي وا , .رايخ عيب نوكيوا : لاق ابمرو . ترخا : ه
Artinya : Dari ibnu Umar r.a ia berkata: Telah bersabda Nabi SAW: Penjual dan pembeli boleh melakukan khiyar selama keduanya belum berpisah, atau salah
32 As-Syafi’I, Al-umm jilid 5 (Jakarta: Pustaka Azzam, 2014), 362.
33 Ahmad Wardi Muslich, Fiqh Muamalat (Jakarta: Amzah,2010), 221.
34 Wahbah Zuhaili, Al-Fiqhu As-Syafi‟i Al-Muyassar Terjemahan Muhammad Afifi, Abdul Hafiz, Fiqih Imam Syafi‟i (Jakarta: Almahira, 2010), 676.
20
seorang mengatakan kepada temannya: Pilihlah. Dan kadang-kadang beliau bersabda: atau terjadi jual beli khiyar. (HR. Al-Bukhari).35
Saat juat beli berlangsung maka masing-masing pihak boleh melakukan khiyar antara meneruskan atau membatalkan akad hingga mereka berpisah atau menentukan pilihan. Perpisahan bisa terjadi apabila kedua belah pihak telah memalingkan badan untuk meninggalkan tempat transaksi. Adapun dalam khiyar majlis berakhir dengan adanya dua hal yaitu:
1) Keduanya memilih akan terusnya akad
2) Di antara keduanya terpisah dari tempat jual beli.36 b. Khiyar Syarat
Khiyar syarat menurut Sayyid Sabiq adalah suatu khiyar yang apabila seseorang membeli sesuatu dari pihak lain dengan ketentuan dia boleh melakukan khiyar pada masa atau waktu tertentu, meskipun waktu tersebut lama, apabila ia menghendaki maka ia bisa melangsungkan jual beli namun apabila ia tidak menghendaki ia bisa membatalkannya.
Dasar hukum khiyar syarat diriwayatkan oleh Bukhari Muslim dari Ibnu Umar :
35 Imam Bukhori, Shohih Bukhori, Jus.3, Kitab Buyu’ (Beirut Libanon : Darul Kutub Al-Ilmiyah, 1992), 25.
36 Sudarsono, Pokok- pokok Hukum Islam (Jakarta: Rineka Cipta, 1992), 410.
21
يضر رمع نبا نع ذا : لاق ملسو هيلع الله ىلص الله لوسر نع امهنع الله
لكف نلاجرلا عيابت ا
اقرفتي لم ام رايلخبا امهنم دحاو , رخلاا اهمدحا يريخ وا اعيجم نااكو
دحا يرخ ناف ابتف رخلاا اهم
ف كلذ ىلع اعي عب اقرفت ناو , عيبلا بجو دق
دحا و كتري لمو اعيابت نا د عيبلابجو دقف عيبلا امهنم
Artinya : Dari Ibnu Umar r.a dari Rasulullah SAW beliau bersabda : “Apabila dua orang melakukan jual beli, maka masing-masing pihak berhak melakukan khiyar, baik kedua-duanya maupun salah satunya. Apabila salah satu dari keduanya melakukan khiyar terhadap yang lainnya , kemudian mereka berdua melakukan jual beli atas dasar kesepakatan mereka, maka jual belu telah wajib dilaksanakan. Apabila mereka berpisah setelah melakukan jual beli dan salah satu pihak tidak meninggalkan jual beli, maka jual beli wajib dilaksanakan”. (HR.
Muttafaq’alaih, dan redaksi dari Muslim)37
Kalangan ulama fiqih sepakat bahwa khiyar syarat sah jika waktunya diketahui dan tidak lebih dari tiga hari dan barang yang dijual tidak termasuk barang yang cepat rusak dalam tempo ini.38
c. Khiyar Aib
Khiyar aib termasuk dalam jenis khiyar naqishah (berkurangnya nilai penawaran barang). Yang mengakibatkan terjadinya khiyar disini adalah aib yang mengakibatkan nilai dan harga bagi para pedagang dan orang-orang yang ahli dibidangnya.39 Khiyar aib merupakan hak pembatalan jual beli dan pengembalian barang akibat adanya cacat dalam suatu barang yang belum
37 Imam Bukhori, Shohih Bukhori, Jus.3, Kitab Buyu’ (Beirut Libanon : Darul Kutub Al-Ilmiyah, 1992), 25.
38 Abdul Aziz Muhammad Azzam, Nadham Al-Mu’amalat Fil-Fiqh Al-Islam, Terj. Nadirsyah Hawari, Fiqh Muamalat Sistem Transaksi Dalam Fiqh Islam (Jakarta: Amzah, 2010), 111.
39 Dimyauddin Djuwaini, Pengantar Fiqh Muamalah (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008), 98.
22
diketahui, baik aib itu ada pada saat transaksi ataupun baru terlihat saat setelah selesai transaksi disepakati sebelum serah terima barang.
Menurut ijma’ para ulama, pengembalian barang yang cacat boleh dilakukan pada waktu akad berlangsung. Ini sudah diterangkan dalam suatu hadits, yaitu hadits ‘Uqbah bin Amir r.a, dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah bersabda:
بقع نع وقي ملسو هيلع الله ىلص الله لوسر تعسم : لاق نىهلجا رماع نب ة ملسلما وخا ملسلما :ل
هل هنيب لاا بيع هيف اعيب هيخا نم عبا ملسلم ليَ لاو
Artinya : “Dari Uqbah Ibnu Amir Al-Juhani ia berkata: saya mendengar Rasulullah SAW bersabda: Seseorang muslim adalah saudaranya muslim lainnya, tidak halal bagi seorang muslim apabila menjual barang jualannya kepada muslim lain yang didalamnya ada cacat, melainkan ia harus menjelaskan (aib atau cacatnya) itu kepadanya” (HR. Al-Hakim dari Uqbah Ibnu Amir).40 Jika akad telah dilakukan dan pembeli mengetahui adanya barang cacat, maka akad tersebut sah dilakukan tanpa adanya khiyar setelahnya.41 Dimana pembeli telah rela dengan barang tersebut dengan kondisinya, namun jika pembeli belum mengetahui kondisi barang tersebut dan mengetahui setelah akad, maka akad tetap dinyatakan sah dan pembeli berhak melakukan khiyar antara mengembalikan barang atau meminta dengan ganti rugi sesuai yang sesuai.
Menurut Dimyauddin Djuwaini, khiyar syarat bisa dilakukan dengan syarat sebagai berikut:
40 Ahmad Wardi Muslich, Fiqh Muamalat (Jakarta: Amzah,2010), 233.
41 Sayyid Sabiq, Fiqh Sunnah, Terj. Nur Hasanuddin, “Fiqh Sunnah”, Jilid 4 (Jakarta: Pena Pundi Aksara, 2006), 161.
23
1) Cacat pada barang sudah ada atau setelah akad dilakukan dan sebelum serah terima, jika aib muncul setelah serah terima maka tidak ada khiyar.
2) Adanya aib yang melekat pada obyek setelah diterima oleh pembeli.
3) Pembeli tidak mengetahui adanya aib pada barang, baik ketika melakukan akad atau setelah menerima barang. Namun jika pembeli sudah mengetahui sebelumnya, maka tidak ada khiyar karena sudah meridhoinya.
4) Tidak adanya persyaratan bara’ah (cuci tangan) dari ‘aib dalam kontrak jual beli, jika dipersyaratkan, maka hak khiyar akan gugur.
5) Aib masih tetap sebelum terjadi pembatalan akad.42
Mazhab Imam Syafi’i menentukan hukum terhadap kebolehan khiyar majlis, khiyar syarat, dan khiyar aib berlandaskan pada hadis Rasulullah saw. Apabila dalam transaksi jual beli barang yang diperjualkan mengalami kecacatan ketika masih ada di pihak penjual, disebabkan oleh alam semesta, atau oleh pihak ketiga, maka salah satu pihak memiliki hak khiyar aib. Adapun apabila terdapat ketidaksesuaian barang yang diinginkan oleh pihak pembeli maka hal tersebut dapat di khiyar majlis atau khiyar syarat. Adapun jika salah satu pihak meninggal dunia maka akhir menjadi tanggung jawab yang diwariskan kepada pihak hak waris.43
42 Dimyauddin Djuwaini, Pengantar Fiqh Muamalah (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008), 98.
43 Rosila, “Konsep khiyar menurut mazhab Abu Hanifah dan mazhab Imam Syafi’I serta relevansinya dengan jual beli masa kini” (Ungraduate thesis, Institut Agama Islam Negeri Parepare, 2022), http://repository.iainpare.ac.id/3434/1/17.2300.062.pdf
24
3. Jual Beli Online Dalam Hukum Positif dan Hukum Islam
Jual beli online atau juga bisa disebut dengan e-commerce. Menurut David Baum (diterjemahkan oleh Onno W. Purbo) E-commerce adalah satu set teknologi dinamis, aplikasi, dan proses bisnis yang menghubungkan perusahaan, konsumen serta komunitas tertentu melalui transaksi elektronik berupa perdagangan jasa maupun informasi yang dilakukan melalui media elektronik.
Jual beli online adalah bentuk jual beli yang modern karena mengimplikasikan inovasi teknologi. Jual beli pada umunya adalah dengan transaksi secara tatap muka, sedangkan e-commerce tidak seperti itu. E-commerce merupakan model perjanjian jual beli dengan karakteristik yang berbeda dengan model transaksi jual beli biasa, apalagi dengan jangkau yang tidak hanya lokal tapi bersifat global.44 Perkembangan ini yang yang membuat kita mengenal istilah online shop.
Proses jual beli online ini adalah pembeli melihat barang yang akan dibeli melalui website atau aplikasi, setelah merasa cocok pembeli akan menghubungi penjual untuk memastikan barang tersebut. Pada proses jual beli online pada setiap aplikasi itu tidak sama. Jual beli online ini akan terlaksana apabila pembeli sudah melakukan pembayaran melalui rekening atau kode pembayaran yang ditunjuk oleh penjual.
Adanya pembayaran, mengindikasikan bahwa pembeli sepakat terhadap bentuk, kualitas dan jenis barang yang akan dibeli.45
44 Azhar Muttaqin, “Transaksi E-Commerce Dalam Tinjauan Hukum Islam”, Ulumuddin,( 2009),3
45 Dede Abdurohman, Haris Maiza Putra, dan Iwan Nurdin, “Tinjauan Fiqih Muamalah Terhadap Jual Beli Online,” Jurnal Ecopreneur, no. 2(2020): 41
25
Dalam hukum positif perjanjian jual beli diatur dalam pasal 1457 sampai dengan pasal 1540 KUH Perdata. Yang dimaksud dengan jual beli adalah suatu perjanjian, dengan mana pihak satu mengikatkan dirinya untuk menyerahkan suatu kebendaan, dan pihak yang lain untuk membayar harga yang telah dijanjikan (Pasal 1457 KUH Perdata).46
Sehingga unsur-unsur yang tercantum dalam definisi tersebut adalah a) adanya subjek hukum, yaitu penjual dan pembeli; b) adanya kesepakatan antara penjual dan pembeli tentang barang dan harga; c) adanya hak dan kewajiban yang timbul antara pihak penjual dan pembeli.
Syarat-syarat sahnya perjanjian tercantum pada Kitab Undang-Undang Hukum Perdata dalam Pasal 1320, yaitu sebagai berikut;47
Jual beli dalam Islam terbagi menjadi 3 bagian yakni : a. Sepakat mereka mengikatkan dirinya;
b. Kecakapan untuk membuat suatu perikatan;
c. Suatu hal tertentu;
d. Suatu sebab yang halal.
Dua syarat pertama dinamakan syarat-syarat subyektif, karena mengenai orang-orangnya atau subyeknya yang mengadakan perjanjian, sedangkan dua syarat terakhir
http://download.garuda.kemdikbud.go.id/article.php?article=2336643&val=22485&title=TINJAUAN%
20FIQIH%20MUAMALAH%20TERHADAP%20JUAL%20BELI%20ONLINE
46 Salim, Hukum Kontrak Teori dan Teknik Penyusunan Kontrak (Jakarta, Sinar Grafika: 2008), 48.
47 Kartini Muljadi dan Gunawan Widjaja, Perikatan yang lahir dari Undang-Undang (Jakarta:
RajaGrafindo Perkasa, 2005), 53.
26
dinamakan syarat-syarat obyektif karena mengenai perjanjiannya sendiri atau obyek dari perbuatan hukum yang dilakukan. Apabila syarat subjektif tidak terpenuhi perjanjian jual beli dapat dibatalkan, sedangkan apabila syarat obyektif tidak terpenuhi maka perjanjian batal demi hukum.
Hak konsumen diatur pada Pasal 4 UU Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Peraturan tentang perlindungan konsumen ini bertujuan untuk menegakkan hak-hak konsumen dan meningkatkan kesadaran konsumen, serta mendorong pelaku usaha untuk menjalankan usahanya secara bertanggung jawab.
Tidak hanya konsumen hak pelaku usaha diatur didalam Undang-Undang Perlindungan Konsumen pada Pasal 6, sedangkan kewajiban konsumen diatur pada Pasal 7. Hal ini terkait dengan perlindungan pelaku usaha saat melakukan jual beli online live streaming ketika ada konsumen yang tidak beritikad baik dalam transaksi jual beli.
Dengan itu pelaku usaha wajib dilindungi agar terpenuhi hak-haknya.
Sedangkan dalam Islam jual beli terbagi menjadi 3 bagian yakni:
a. Jual beli sesuatu yang dapat dilihat barangnya
)اشم ينع عيب (
Jual beli ini barangnya dapat dilihat, maksudnya ialah pada saat akan terjadi transaksi jual beli, obyek dari jual beli ini nyata atau dapat dilihat oleh kedua belah pihak, sehingga pembeli bisa menilai langsung kelebihan dan kekurangan barang tersebut. Jenis jual beli ini hukumnya sah.
27
b. Jual beli sesuatu disertai sifat atau ciri-ciri tertentu (
ةمذلا فىوصوم ينع عيب
(Jual beli ini tidak terlihat sebelumnya, namun pembeli bisa menyebutkan ciri-ciri atau sifat dari barang yang akan dibeli, sehingga penjual menyiapkan barang yang sesuai dengan pesanan pembeli. Contoh jual beli ini seperti PO (pre-order). Jenis dalam jual beli ini bisa disebut dengan istilah salam dan jual beli salam diperbolehkan.
c. Jual beli sesuatu yang tidak ada dan tidak dapat dilihat oleh kedua belah pihak )
ده اشت لم ةب ئاغ ينع عيب
(Jual beli ini hukumnya tidak sah, karena penjual tidak mampu mengahdirkan obyek jual beli, sehingga kedua belah pihak tidak dapat melihatnya, bahkan penjual menjual barang yang tidak ia miliki.48 Jika melihat dari konsep jual beli online, maka jual beli online secara garis besar masuk dalam kategori jual beli yang ketiga, yaitu jual beli yang tidak dapat dilihat oleh kedua belah pihak. Karena dilihat dari segi barang memang dalam jual beli online tidak dapat memperlihatkan secara nyata kepada pembeli, hanya dapat dilihat melalui gambar dan video. Gambar bisa saja mengalami perubahan pada saat barang tersebut tiba setelah melakukan transaksi. Dengan begitu pihak penjual harus memberikan pilihan atau opsi untuk mengembalikan jika barang yang dipesan tidak sesuai dengan
48 Muhammad bin Qasim, (t.t). Terjemah Fathul Qarib (Kudus: Menara Kudus, 2002)
28
pesanan. Dengan adanya pengembalian maka akan terhindar dari unsur penipuan yang dalam fiqh dikenal dengan sebutan khiyar.49
4. Live streaming Instagram
Instagram merupakan salah satu bentuk dari hasil kemajuan teknologi dan tergolong salah satu media sosial yang banyak diminati oleh kalangan anak muda maupun orang dewasa. Instagram berasal dari kata “insta” yang artinya “instan” seperti kamera polaroid yang pada masanya menampilkan foto-foto secara instan. Sedangkan
“gram” berasal dari kata “telegram” yang cara kerjanya untuk mengirimkan informasi kepada orang lain dengan cepat. Sama halnya Instagram ini kinerjanya dapat mengunggah foto dengan menggunakan jaringan internet, sehingga informasi yang ingin disampaikan dapat diterima dengan cepat. Oleh karena itu Instagram merupakan gabungan kata dari insta dan telegram.50
Pada aplikasi Instagram pengguna bisa mengunggah foto dan video ke dalam feed akun pengguna, dapat diedit dengan berbagai filter dan dapat diatur dengan tag dan lokasi informasinya. Tidak hanya itu pengguna dapat menjelajahi konten pengguna lainnya berdasarkan konten yang sedang tren maupun konten yang ingin mereka cari berdasarkan tag dan lokasi. Pengguna juga dapat menyukai konten pengguna lain, mengomentari bahkan mengikuti pengguna lainnya.
49 Dede Abdurohman, Haris Maiza Putra, dan Iwan Nurdin, “Tinjauan Fiqih Muamalah Terhadap Jual Beli Online,” Jurnal Ecopreneur, no. 2(2020): 43
50 Ulfa Putri Andari, “Pemanfaatan Instagram Sebagai Aktualisasi Keberdayaan Diri Studi Pada Aktivis KOHATI Komisariat ISIP Universitas Muhammadiyah Malang” (Ungraduate Skripsi, Universitas Muhammadiyah Malang, 2019), http://eprints.umm.ac.id/43019/5/BAB%204.pdf
29
Instagram adalah layanan jejaring sosial yang dibuat oleh Kevin Systrom dan Mike yang diluncurkan resmi pada 6 Oktober tahun 2010, dan mengumpulkan 25.000 pengguna dalam satu hari.51 Perubahan besar dialami oleh Instagram setelah diakuasisi oleh perusahaan jejaring sosial Facebook. Berkembangnya fitur-fitur pada Instagram yaitu dengan adanya fitur live streaming atau siaran langsung.
Live streaming atau siaran langsung adalah salah satu fitur yang banyak digemari oleh pengguna Instagram. Dengan adanya fitur ini membuat siapapun yang melakukan aktivitas dan menginginkan orang lain untuk melihat aktivitasnya secara langsung bisa menggunakan aplikasi Instagram. Fitur ini kemudian dimanfaatkan oleh penjual untuk mempromosikan dan menjual produknya. Penjualan dengan menggunakan fitur live streaming sangat mudah dilakukan dan imapactnya juga besar, karena dalam sekali siaran langsung (live) bisa menjangkau orang lebih banyak yang relatif singkat.
Adapun kendala-kendala dalam berjualan online secara live streaming yaitu:
1. Begitu banyaknya permintaan dalam waktu bersamaan dan penawaran yang terbatas yang sering kali membuat para pembeli berlomba-lomba untuk mendapatkan barang yang penjual tawarkan. Sehingga penjual sering kewalahan dan kerap terjadi kekeliruan baik dari penjual maupun pembeli.
2. Yang sering terjadi adalah barang yang diterima oleh pembeli berbeda dengan barang yang dipesan. Bisa saja saat penjual menawarkan barangnya
51 Nur Fitriatus Shalihah, “Sejarah Instagram dan Cerita Awal Mula Peluncurannya,” Kompas, 6 Oktober 2021, diakses 18 Januari 2023,
https://www.kompas.com/tren/read/2021/10/06/100500365/sejarah-instagram-dan-cerita-awal-peluncurannya?page=all