• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bagan 2.1 : Tugas Guru

E. Kerangka Teoritik

Untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas, memiliki daya saing di pasar tenaga kerja, diterimanya para pengguna lulusan, lolos seleksi di perguruan tinggi, serta memiliki kapabilitas untuk melakukan bisnis atau kewirausahaan, seorang guru di tuntut berkualitas. Tuntunan bermutu pada guru tidak terbatas pada aspek-aspek penguasaan bahan ajaran saja dan bisa mengajar dengan baik, tapi juga memiliki kompetensi atau bahkan memiliki kompetensi di atas rata-rata standar kompetensi nasional. Untuk itu, para guru di tuntut terus meningkatkan profesionalisme mereka, salah satunya melalui pembinaan internal lewat peer

group dalam komunitas mereka.190

Penyelenggara pendidikan yang berkualitas atau bermutu dapat ditunjukkan oleh kemampuan dalam menciptakan proses pendidikan atau proses manajemen sekolah yang efektif dan efisien, oleh karena itu sumber daya yang

ada harus betul-betul profesional, sehingga sumber daya manusia pendidikan dapat diberdayakan secara optimal. Tujuan pendidikan nasional untuk mewujudkan masyarakat yang berkualitas, maju, mandiri dan modern.

Untuk mencapai pendidikan yang tinggi tujuan harus dirumuskan, kebijakan harus dibuat dan ditetapkan, fasilitas harus disediakan, keuntungan harus diperoleh dan setiap pelaksanaan tugas di manapun harus di koordinasikan. Semua kegiatan tersebut akhirnta akan berpeluang kepada sejumlah orang (tenaga kependidikan) yang terlibat. Oleh karena itu peran guru sangat mementukan gagal atau berhasilnya pelaksanaan tugas. Mereka itu haruslah dipersiapkan secara khusus, terpelajar dan terpilih.191

Mutu pendidikan atau mutu sekolah tertuju pada mutu lulusan. Merupakan suatu yang mustahil, pendidikan atau sekolah menghasilkan lulusan yang bermutu, jika tidak melalui proses pendidikan yang bermutu . Merupakan suatu yang mustahil pula, terjadi proses pendidikan yang bermutu jika tidak di dukung oleh faktor-faktor penunjang proses pendidikan yang bermutu. Proses pendidikan yang bermutu harus di dukung oleh personalia, seperti adminstrator, guru, konselor, tata usaha yang bermutu dan profesional. Hal tersebut didukung pula oleh sarana dan prasarana pendidikan, fasilitas, media, serta sumber belajar yang memadai, baik mutu maupun jumlahnya serta biaya yang mencukupi, manajemen yang tepat, dan lingkungan yang mendukung. Mutu pendidikan bersifat menyeluruh, menyangkut semua komponen, pelaksana dan kegiatan pendidikan yang biasa di sebut sebagai mutu total atau “Total Quality”. Hasil pendidikan

191 Komalia, Kualitas Lingkungan Sekolah Dan Motivasi Kerja Terhadap Produktifitas

yang bermutu dapat dicapai hanya dengan satu komponen atau kegiatan yang bermutu.192

Dalam lingkup sejarah, pendidikan telah dilakukan oleh manusia pertama dimuka bumi yaitu sejak nabi Adam. Bahkan dalam Al-Quran dinyatakan bahwa proses pendidikan terjadi pada saat nabi Adam berdialog dengan Allah. Pendidikan ini muncul karena adanya motivasi pada diri nabi Adam serta kehendak Allah sebagai pendidik langsung bagi nabi Adam untuk mengajarkan beberapa nama.193 Hal ini di jelaskan dalam firman Allah dalam Q.S. Al-Baqarah 31 :

ِءاَمْسَأِب يِنوُئِبْنَأ َلاَقَف ِةَكِئ َلََمْلا ىَلَع ْمُهَضَرَع َّمُث اَهَّلُك َءاَمْسَ ْلْا َمَدآ َمَّلَع َو

َه

َنيِقِداَص ْمُتْنُك ْنِإ ِء َلَُّؤ

Artinya: “Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda)

seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada Para Malaikat lalu

berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu

memang benar orang-orang yang benar!”.

Pendidikan merupakan bagian terpenting dalam kehidupan manusia karena dengan pendidikan manusia akan bisa berjaya di muka bumi ini. Pendidikan merupakan sebuah sistem yang mengandung aspek visi, misi, tujuan, kurikulum, bahan ajar, pendidik, peserta didik, sarana prasarana dan lingkungaan.194 Begitu besar peran pendidik dalam sebuah keberhasilan pendidikan, oleh karena itu seorang pendidik di tuntut harus mewujudkan pendidikan yang berkualitas.

192 Nana Syaodih Sukmadinata, Ayi Novi Jami’at dan Ahman, Pengendalian Mutu Pendidikan Sekolah Menengah: Konsep, Prinsip dan Instrumen, (Bandung: Refika Aditama, 2006), h. 6-7.

193 Moh. Roqib, Ilmu Pendidikan Islam Pengembangan Pendidikan Intregatif di Sekolah,

Keluarga dan Masyarakat, (Yogyakarta: LKIS, 2009), h. 16.

194 Abuddin Nata, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group,

Pendidikan sebagai tonggak utama penentu keberhasilan untuk mencapai tujuan pendidikan.

Tugas formal seorang guru tidak sebatas berdiri di hadapan peserta didik selama berjam-jam hanya untuk mentransfer pengetahuan pada peserta didik. Lebih dari itu, guru juga menyandang predikat sebagai sosok yang layak digugu dan ditiru oleh peserta didik dalam segala aspek kehidupan, hal inilah yang menuntut agar guru bersikap sabar, jujur dan penuh pengabdian. Sebab dalam konteks pendidikan, sosok pendidik mengandung makna model atau sentral indentifikasi diri, yakni pusat anutan dan teladan bahkan konsultan bagi peserta didiknya.

Semua orang yakin bahwa pendidik memiliki andil yang sangat besar terhadap keberhasilan peserta didik. Guru sangat berperan dan mempunyai peran yang cukup besar terhadap kematangan intelektual, spiritual dan emosional peserta didik.195 Dalam dunia pendidikan, kompnen guru sangatlah penting, yakni orang yang bertanggungjawab mencerdaskan kehidupan anak didik, bertanggungjawab atas segala sikap, tingkah laku dan perbuatan dalam rangka membina anak didik agar menjadi orang yang bersusila yang cakap, berguna bagi nusa dan bangsa.

Peran guru sebagai pelaksana dari sebuah kegiatan pendidikan tentu harus di dukung dengan beberapa seperangkat keahlian. Dalam istilah lainnya, guru juga mempunyai batasan-batasan tertentu sehingga ia dikatakan sebagai pendidik atau guru yang profesional. Hal ini perlu di tekankan, mengingat banyak orang yang

195 Rama Yulis dan Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam Telaah Sistem Pendidikan

berprofesi sebagai guru tapi tidak bertindak dan berakhlak layaknya seorang guru profesional.

Dari potret pendidikan yang terjadi di Indonesia tentu peran guru tidak bisa di lakukan oleh sembarangan orang. Dalam hal peningkatan profesionalisme seorang, pemerintah juga telah banyak melakukan terobosan seperti di syaratkannya ijazah Strata 1 untuk menjadi seorang guru di lembaga pendidikan formal dari jenjang SMA sederajat sampai dengan ke bawah. Strata 2 bagi dosen di perguruan tinggi negeri atau swasta. Meski pemerintah telah membuat batasan-batasan guru profesional yang tertuang dalam Undang-Undang Guru dan Dosen, tentu permasalahan pendidikan dalam ruang lingkup guru tidak bisa selesai begitu saja. Hal ini di karenakan sedikitnya rujukan profil guru yang profesional.196

Guru profesional senantiasa berusaha secara maksimal untuk menjalankan tugasnya dengan baik. Kata profesional menunjukkan bahwa guru adalah sebuah profesi, yang bagi guru, seharusnya menjalankan profesinya dengan baik. Dengan demikian, ia akan disebut sebagai guru yang profesional. Sebagaimana disebutkan dalam Pasal 7 Undang-Undang Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, profesi guru dan profesi dosen merupakan bidang pekerjaan khusus yang dilaksanakan berdasarkan prinsip sebagai berikut:

1. Memiliki bakat, minat, panggilan jiwa, dan idealism,

2. Memiliki komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan, keimanan, ketakwaan dan akhlak mulia,

196 Buhari Luneto, Op.cit., h. 39.

3. Memiliki kualifikasi akademik dan latar belakang pendidikan sesuai dengan bidang tugas,

4. Memiliki kompetensi yang perlukan sesuai dengan bidang tugas, 5. Memiliki tanggungjawab atas pelaksanaan tugas keprofesionalan, 6. Memperoleh penghasilan yang di tentukan sesuai dengan prestasi

kerja,

7. Memiliki kesempatan untuk mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan belajar sepanjang hayat.

8. Memiliki jaminan perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas keprofesionalan dan memiliki organisasi profesi yang mempunyai kewenangan mengatur hal-hal yang berkaitan dengan tugas keprofesionalan guru.

Prinsip-prinsip tersebut tidak boleh berhenti sebatas prinsip, tetapi juga harus di implementasikan dalam aktifitas sehari-hari. Wujudnya berupa rasa tanggung jawab sebagai pengelola belajar (manager of learning),pengarah belajar (director of learning)dan perencana masa depan masyarakat (planner of the future society). Dengan tanggungjawab ini, pendidik memiliki tiga fungsi, yaitu (1) fungsi instruksional yang bertugas melaksanakan pengajaran; (2) fungsi edukasional yang bertugas mendidik peserta didik agar mencapai tujuan pendidikan; dan (3) fungsi managerial yang bertugas memimpin dan mengelola proses pendidikan.197

Dari sini terlihat bahwa menjadi guru yang profesional ternyata bukan pekerjaan yang mudah. Sebab dengan tiga fungsi di atas, seorang pendidik terutama dalam konsepsi Islam, di tuntut untuk memiliki kompetensi yang dapat digunakan untuk melaksanakan tugasnya. Kompetensi merupakan kemampuan dan kewenangan guru dalam melaksanakan profesi keguruannya.

Tugas dan kewajiban guru merupakan amanat yang di terima oleh guru. Amanat tersebut wajib di laksanakan dengan penuh tanggungjawab. Allah SWT berfirman dalam Al-Quran surah An-Nisa’ Ayat 58 :

َّنِإ

ََّللَّا

َي

ْمُكُرُمْأ

ْنَأ

اوُّدَؤُت

ِتاَناَمَ ْلْا

ىَلِإ

اَهِلْهَأ

اَذِإ َو

ْمُتْمَكَح

َنْيَب

ِساَّنلا

ْنَأ

اوُمُكْحَت

ِلْدَعْلاِب

ۖ

َّنِإ

ََّللَّا

اَّمِعِن

ْمُكُظِعَي

ِهِب

ۖ

َّنِإ

ََّللَّا

َناَك

ااعيِمَس

ااري ِصَب

Artinya: Sesungguhnya Allah SWT menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah SWT memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah SWT adalah maha mendengar

lagi maha melihat.198

Tanggung jawab guru adalah meyakinkannya bahwa segala tindakannya dalam melaksanakan tugas dan kewajiban di dasarkan atas pertimbangan profesional secara tepat. Pekerjaan guru menuntut kesungguhan dalam berbagai hal. Karenanya, perginya posisi dan persyaratan para “pekerja pendidikan” atau

orang-orang yang disebut pendidik karena pekerjaannya ini patut mendapat pertimbangan dan perhatian yang sungguh-sungguh pula. Pertimbangan tersebut di maksudkan agar usaha pendidikan tidak jatuh ketangan orang-orang yang