• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teori keagenan

Hubungan agensi muncul ketika satu orang atau lebih (principal) mempekerjakan orang lain (agent) untuk memberikan suatu jasa dan kemudian mendelegasikan wewenang pengambilan keputusan kepada agent tersebut (Ujiyanto dan Pramuka, 2007). Menurut Amilin (2002) dalam Ahmad dan Septriani (2008), teori keagenan menjelaskan tentang pola hubungan antara principal (pemegang saham) dan agent (manajer), principal bertindak sebagai pihak yang memberikan mandat kepada agent, sedangkan agent bertindak sebagai pihak yang mengerjakan mandat dari principal. Darmawati et al (2005) dalam Rahayu (2010) menyatakan pemegang saham mempunyai harapan bahwa dengan mendelegasikan wewenang pengelolaan tersebut, mereka akan memperoleh keuntungan dengan bertambahnya kekayaan dan kemakmuran.

Menurut Setyapurnama dan Norpratiwi (2004) dalam Rahayu (2010) Menyatakan hubungan keagenan dapat menimbulkan masalah pada saat pihak-pihak yang bersangkutan mempunyai tujuan yang berbeda. Pemilik menghendaki bertambahnya kekayaan dan kemakmuran para pemilik, sedangkan manajer juga menginginkan bertambahnya kesejahteraan bagi para manajer. Dengan demikian muncullah konflik kepentingan antara pemilik dengan manajer. Dengan kata lain pemilik lebih tertarik untuk memaksimumkan return dan harga sekuritas dari investasinya, sedangkan manajer mempunyai kebutuhan psikologis dan ekonomi yang luas, termasuk memaksimumkan kompensasinya.

Kinerja manajemen

Menurut Mahoney et.al (2005) dalam Indarto dan Ayu (2011) kinerja manajemen didasarkan atas fungsi-fungsi manajemen klasik, yaitu seberapa jauh manajer mampu melaksanakan fungsi-fungsi manajemen yang meliputi perencanaan, investigasi, koordinasi, evaluasi, supervisi, pemilihan staf, negosiasi, dan perwakilan. Sedangkan menurut Supriyono dan Syakhroza (2003) dalam Poernomo (2006) kinerja manajer adalah kemampuan manajer dalam melaksanakan tanggung jawabnya terhadap kualitas produk, kuantitas produk, ketepatwaktuan produk, pencapaian anggaran, pengurangan biaya (peningkatan pendapatan), dan urusan publik. Maka dapat didefinisikan kinerja manajer adalah kemampuan manajer dalam mengunakan pengetahuan, perilaku dan bakat dalam melaksanakan tugasnya sehingga tercapai sasaran tugas manajer tersebut.

Kinerja manajemen tidak terlepas dari tujuan perusahaan. Pengukuran kinerja manajemen diperlukan guna mengevaluasi keberhasilan dalam mencapai tujuan. Pemilik akan terus menilai, mengukur dan mengawasi sampai sejauh mana agent tersebut bekerja untuk meningkatkan kesejahteraannya. Kinerja manajemen ini akan menjadi dasar pemberian kompensasi oleh pemilik kepada manajer.

Nilai perusahaan

Weston dan Copeland (1995) dalam Utami (2011) Tujuan utama perusahaan adalah memaksimumkan nilai perusahaan. Memaksimalkan nilai perusahaan mempunyai makna yang lebih luas, tidak hanya sekedar memaksimalkan laba perusahaan. Pernyataan ini dapat diterima kebenarannya atas dasar beberapa alasan yaitu:

a) Memaksimalkan nilai berarti mempertimbangkan pengaruh waktu terhadap nilai uang. Dana yang diterima pada tahun ini bernilai lebih tinggi dari pada dana yang diterima sepuluh tahun yang akan datang.

b) Memaksimumkan nilai berarti mempertimbangkan berbagai resiko terhadap arus pendapatan perusahaan.

c) Mutu dari arus kas dana diharapkan diterima di masa datang mungkin beragam.

Salah satu alternatif yang digunakan dalam menilai nilai perusahaan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan Tobin’s Q. Rasio ini dikembangkan oleh Profesor James Tobin (1967). Rasio ini merupakan konsep yang berharga karena menunjukkan estimasi pasar keuangan saat ini tentang nilai hasil pengembalian dari setiap dolar investasi inkremental. Tobin’s Q kurang dari 1 menggambarkan bahwa saham dalam kondisi undervalue, manajemen telah gagal dalam mengelola aktiva perusahaan. Potensi pertumbuhan investasi rendah.

Tobin’s Q sama dengan 1 menggambarkan bahwa saham dalam kondisi average, manajemen stagnan dalam mengelola aktiva. Potensi pertumbuhan investasi tidak berkembang. Tobin’s Q lebih dari 1 menggambarkan bahwa saham dalam kondisi overvalued, manajemen berhasil dalam mengelola aktiva perusahaan. Potensi pertumbuhan investasi tinggi. Jadi rasio-q merupakan ukuran yang lebih teliti tentang seberapa efektif manajemen memanfaatkan sumber-sumber daya ekonomis dalam kekuasaannya (Herawaty, 2008).

Economic Value Added (EVA)

EVA adalah ukuran nilai tambah ekonomis yang dihasilkan oleh perusahaan sebagai akibat dari aktivitas atau strategi manajemen. Dengan adanya EVA, maka pemilik perusahaan hanya akan memberi imbalan (reward) aktivitas yang menambah nilai dan membuang aktivitas yang merusak atau mengurangi nilai keseluruhan suatu perusahaan (Utomo, 1999)

EVA adalah nilai tambah ekonomis yang diciptakan perusahaan dari kegiatan atau strateginya selama periode tertentu. Prinsip EVA memberikan sistem pengukuran yang baik untuk menilai suatu kinerja dan prestasi manajemen perusahaan karena EVA berhubungan langsung dengan nilai pasar sebuah perusahaan (Utomo, 1999). Menurut Velez (2000) dalam Iramani dan Febrian (2005) jika EVA lebih dari 0 hal ini menunjukkan terjadi nilai tambah ekonomis bagi perusahaan, jika EVA kurang dari 0 hal ini menunjukkan tidak terjadi nilai tambah ekonomis bagi perusahaan, dan Jika EVA sama dengan 0 hal ini menunjukkan posisi impas karena laba telah digunakan untuk membayar kewajiban kepada penyandang dana baik kreditur maupun pemegang saham.

Leverage

Leverage menggambarkan adanya faktor penggunaan hutang didalam operasi perusahaan. leverage merupakan rasio yang menghitung seberapa jauh dana yang disediakan oleh kreditur, juga sebagai rasio yang membandingkan total hutang terhadap keseluruhan aktiva suatu perusahaan, maka apabila investor melihat sebuah perusahaan dengan asset yang tinggi namun resiko leverage nya juga tinggi, maka akan berpikir dua kali untuk berinvestasi pada perusahaan

tersebut. Karena dikhawatirkan asset tinggi tersebut di dapat dari hutang yang akan meningkatkan risiko investasi apabila perusahaan tidak dapat melunasi kewajibanya tepat waktu (Analisa, 2011).

Menurut Weston dan Copeland (1992) dalam Analisa (2011) keputusan manajemen untuk berusaha menjaga agar rasio leverage tidak bertambah tinggi mengacu pada teori pecking order teory menyatakan bahwa perusahaan menyukai internal financing dan apabila pendanaan dari luar (eksternal financing) diperlukan. Maka perusahaan akan menerbitkan sekuritas yang paling aman terlebih dahulu, yaitu obligasi kemudian diikuti sekuritas yang berkarakteristik opsi (seperti obligasi konversi), baru akhirnya apabila belum mencukupi, perusahaan akan menerbitkan saham. Pada intinya apabila perusahaan masih bisa mengusahakan sumber pendanaan internal maka sumber pendanaan eksternal tidak akan diusahakan. Namun dalam hal menciptakan nilai tambah ekonomis, leverage yang tinggi juga dapat dijadikan suatu strategi manajer apabila manajer dapat memanfatkan hutang dan aset dengan efektif dan efisien.

Ukuran perusahaan (Size)

Dalam hal ukuran perusahaan dilihat dari total assets yang dimiliki oleh perusahaan, yang dapat dipergunakan untuk kegiatan operasi perusahaan. Jika perusahaan memiliki total asset yang besar, pihak manajemen lebih leluasa dalam mempergunakan aset yang ada di perusahaan tersebut (Chasanah, 2008).

Kebebasan yang dimiliki manajemen ini sebanding dengan kekhawatiran yang dilakukan oleh pemilik atas asetnya. Jumlah asset yang besar akan meningkatkan risiko terhadap pemilik. Akan tetapi jika dilihat dari sisi

manajemen, kemudahan yang dimilikinya dalam mengendalikan perusahaan akan memudahkan manajemen dalam pengambilan keputusan. Dalam penelitian ini mengunakan proksi size dari natural log dari total aset. Menurut Harjono (2002) dalam Nadjibah (2008) ukuran untuk menentukan ukuran perusahaan adalah dengan natural log dari total aset.

Kebijakan hutang

Kebijakan hutang merupakan keputusan yang sangat penting dalam perusahaan. Kebijakan hutang merupakan kebijakan perusahaan tentang seberapa jauh sebuah perusahaan menggunakan pendanaan hutang (Merdiyati et al, 2012).

Sedangkan menurut Riyanto (2004) dalam Fenandar (2012), kebijakan hutang adalah kebijakan yang diambil oleh pihak manajemen dalam rangka memperoleh sumber pembiayaan bagi perusahaan sehingga dapat digunakan untuk membiayai aktivitas operasional perusahaan Selain itu kebijakan hutang perusahaan juga berfungsi sebagai mekanisme monitoring terhadap tindakan manajer yang dilakukan dalam pengelolaan perusahaan.

Dalam penelitian ini kebijakan hutang diproksikan oleh debt ratio atau total hutang jangka panjang dibagi dengan total hutang jangka panjang ditambah dengan ekuitas. Semakin besar jumlah rasio ini menunjukkan semakin besar sumber dana perusahaan berasal dari hutang jangka panjang. Bahkan menurut Christiawan dan Tarigan (2007), jika besarnya lebih dari 1 maka perusahaan ini pastilah perusahaan yang dalam kondisi defisit.

Kebijakan investasi

Menurut Sartono (2001) dalam Ningsih dan Indarti (2010), keputusan investasi menyangkut tentang keputusan alokasi dana baik dana yang berasal dari dalam perusahaan maupun dana yang berasal dari luar perusahaan pada berbagai bentuk investasi. Keputusan investasi dapat dikelompokkan kedalam investasi jangka pendek seperti investasi kedalam kas, surat-surat berharga jangka pendek, piutang, dan persediaan maupun investasi jangka panjang dalam bentuk tanah, gedung, kendaraan, mesin, peralatan produksi, dan aktiva tetap lainnya. Investasi merupakan komitmen atas sejumlah dana atau sumber daya lainnya yang dilakukan pada saat ini, dengan tujuan memperoleh sejumlah keuntungan dimasa yang akan datang. Kegiatan investasi yang dilakukan perusahaan akan menentukan keuntungan yang akan diperoleh perusahaan dimasa yang akan datang.

Dalam penelitian ini menggunakan proksi kebijakan investasi dari asset growth. Asset growth menunjukkan pertumbuhan asset dimana asset merupakan aktiva yang digunakan untuk aktiva operasional perusahaan.

Kebijakan dividen

Kebijakan deviden (dividend policy) merupakan keputusan apakah laba yang diperoleh perusahaan pada akhir tahun akan dibagi kepada pemegang saham dimasa yang akan datang. Menurut Brealeys et al (2007) dalam Herawati (2011), dividen adalah distribusi kas periodik dari perusahaan kepada pemegang sahamnya. Kebijakan dividen adalah keputusan tentang seberapa banyak laba saat ini yang akan dibayarkan sebagai dividen daripada ditahan untuk diinvestasikan

kembali dalam perusahaan. Dalam penelitian ini menggunakan proksi kebijakan dividen dari devidend payout ratio.

Rasio pembayaran deviden (devidend payout ratio) menentukan jumlah laba yang akan dibagi dalam bentuk deviden kas dan laba yang ditahan sebagai sumber pendanaan. Devidend payout ratio menunjukkkan presentase laba perusahaan yang dibayarkan kepada pemegang saham perusahaan berupa deviden kas, apabila laba perusahaan yang ditahan dalam jumlah besar, berarti laba yang akan dibayarkan sebagai deviden menjadi lebih kecil. (Mardiyati et al, 2012)

Menurut Sharpe et al (1997) dalam Nadjibah (2008), apabila rasio pembayaran deviden meningkat ini merupakan sinyal bagi investor bahwa manajemen telah menaikkan perkiraan pendapatan masa depan perusahaan.

Sebaliknya apabila rasio pembayaran mengalami penurunan maka ini merupakan pertanda bahwa manajemen telah menururkan perkiraan pendapatan masa depan perusahaan sehingga pada gilirannya akan menyebabkan investor menurunkan perkiraan pendapatan masa depan perusahaan.

Kebijakan pendanaan

Keputusan pendanaan dapat pula diartikan sebagai keputusan yang menyangkut struktur keuangan perusahaan (financial structure). Struktur keuangan perusahaan merupakan komposisi dari keputusan pendanaan yang meliputi hutang jangka pendek, hutang jangka panjang dan modal sendiri. Setiap perusahaan akan mengharapkan adanya struktur modal optimal.

Dalam penelitian ini menggunakan proksi kebijakan pendanaan dilihat dari rasio Debt to Equity Ratio (DER). Tingkat Debt to Equity Ratio (DER) yang

tinggi menunjukkan komposisi total hutang (hutang jangka pendek dan hutang jangka panjang) semakin besar apabila dibandingkan dengan total modal sendiri, sehingga hal ini akan berdampak pada semakin besar pula beban perusahaan terhadap pihak eksternal (para kreditur). Semakin besar nilai DER menandakan bahwa struktur permodalan usaha lebih banyak memanfaatkan hutang‐hutang relatif terhadap ekuitas. Semakin tinggi DER mencerminkan risiko perusahaan yang relatif tinggi, akibatnya para investor cenderung menghindari saham‐saham yang memiliki nilai DER yang tinggi (Nathaniel, 2008).

Pengembangan Hipotesis

Pengaruh Economic Value Added (EVA) terhadap Tobin’s Q

Adanya metode EVA maka manajer akan berupaya untuk mendorong proses-proses yang menambah nilai dan meminimalkan proses-proses yang tidak menambah nilai. Dengan menciptakan nilai tambah ekonomis dalam operasi perusahaan maka manajer telah memiliki tujuan untuk kemakmuran pemilik yang digambarkan oleh meningkatnya nilai perusahaan. Nilai perusahaan merupakan konsep penting bagi pemilik (principal), karena merupakan indikator bagi pasar menilai perusahaan yang dikelola manajer secara keseluruhan (Utami, 2011), selain itu dengan nilai perusahaan yang tinggi akan diikuti oleh tingginya kemakmuran pemilik (principal). Nilai perusahaan menggambarkan seberapa baik atau buruk manajemen dalam mengelola kekayaannya (Rahayu, 2010).

Berdasarkan uraian di atas, hipotesis pada model pertama yang diajukan adalah : H1: Economic Value Added (EVA) berpengaruh positif terhadap Nilai perusahaan

Pengaruh Leverage terhadap Economic Value Added (EVA)

Leverage menggambarkan adanya faktor penggunaan hutang didalam operasi perusahaan. leverage merupakan rasio yang menghitung seberapa jauh dana yang disediakan oleh kreditur, juga sebagai rasio yang membandingkan total hutang terhadap keseluruhan aktiva suatu perusahaan. Kemampuan perusahaan membayar hutang dengan asset atau rasio leverage, dapat saja mempengaruhi kemampuan menghasilkan nilai tambah karena apabila perusahaan tidak dapat menjamin membayar hutangnya dengan asset yang dimiliki bagaimana bisa perusahaan menciptakan nilai tambah ekonomis sedangkan asset yang dimiliki tidak dapat dimanfaatkan. Namun, apabila manajer dapat merubah tingkat risiko yang tinggi menjadi suatu strategi yang efektif maka akan dapat menambah nilai.

Dengan adanya hutang akan membuat manajer semakin leluasa dalam menciptakan nilai tambah. Berdasarkan uraian diatas, hipotesis pertama pada model kedua yang diajukan adalah :

H2: Leverage berpengaruh positif terhadap Economic Value Added (EVA)

Pengaruh natural log dari total aset terhadap Economic Value Added (EVA) Dalam hal ukuran perusahaan dilihat dari total asset yang dimiliki oleh perusahaan, yang dapat dipergunakan untuk kegiatan operasi perusahaan. Jika perusahaan memiliki total asset yang besar, pihak manajemen (agent) lebih leluasa dalam mempergunakan aset yang ada di perusahaan tersebut (Analisa, 2011). Kebebasan dan wewenang yang dimiliki manajemen mengelolah asset dalam kegiatan operasional perusahaan diharapkan dapat menciptakan nilai tambah.

Perusahaan yang memiliki total asset yang besar, manajemen lebih leluasa dalam mempergunakan aset yang ada di perusahaan tersebut (Chasanah, 2008).

Kebebasan yang dimiliki manajemen ini sebanding dengan kekhawatiran yang dilakukan oleh pemilik atas asetnya. Jumlah aset yang besar akan meningkatkan risiko terhadap pemilik. Akan tetapi jika dilihat dari sisi manajemen, kemudahan yang dimilikinya dalam mengendalikan perusahaan akan memudahkan manajemen dalam pengambilan keputusan, dalam hal ini dapat leluasa menciptakan nilai tambah ekonomis. Berdasarkan uraian diatas, hipotesis kedua pada model kedua yang diajukan adalah :

H3: natural log total aset berpengaruh positif terhadap Economic Value Added (EVA)

Pengaruh Asset growth terhadap Economic Value Added (EVA)

Investasi adalah pengelolaan sumber-sumber yang dimiliki dalam jangka panjang untuk menghasilkan laba dimasa yang akan datang (Prapaska, 2012).

Menurut Sartono (2001) dalam Ningsih dan Indarti (2010), keputusan investasi menyangkut tentang keputusan alokasi dana baik dana yang berasal dari dalam perusahaan maupun dana yang berasal dari luar perusahaan pada berbagai bentuk investasi.

Keputusan investasi menyangkut tentang keputusan alokasi dana baik dana yang berasal dari dalam perusahaan maupun dana yang berasal dari luar perusahaan dengan mengharapkan akan menciptakan nilai tambah ekonomis perusahaan. Berdasarkan uraian diatas, hipotesis ketiga pada model kedua yang diajukan adalah :

H4: Asset growth berpengaruh positif terhadap Economic Value Added (EVA)

Pengaruh debt ratio terhadap Economic Value Added (EVA)

Semakin besar sumber dana perusahaan berasal dari hutang jangka panjang maka akan menambah beban bunga yang jangka panjang pula. Dengan menambahnya beban jangka panjang ini maka akan mengurangi kemampuan perusahaan dalam menciptakan nilai tambah. Berdasarkan uraian diatas, hipotesis keempat pada model kedua yang diajukan adalah :

H5: debt ratio berpengaruh negatif terhadap Economic Value Added (EVA)

Pengaruh devidend payout ratio terhadap Economic Value Added (EVA) Menurut Herawati (2011), kebijakan dividen adalah keputusan tentang seberapa banyak laba saat ini yang akan dibayarkan sebagai dividen daripada ditahan untuk diinvestasikan kembali dalam perusahaan. Keputusan ini mempengaruhi jumlah laba yang akan di investasikan kembali dalam perusahaan guna menjalankan operasional perusahaan yang dapat menghasilkan nilai tambah ekonomis. Berdasarkan uraian diatas, hipotesis kelima pada model kedua yang diajukan adalah :

H6: Devidend payout ratio berpengaruh negatif terhadap Economic Value Added (EVA)

Pengaruh Debt to Equity Ratio terhadap Economic Value Added (EVA)

Semakin tingginya nilai debt to equity ratio maka menyatakan bahwa semakin besarnya sumber dana perusahaan berasal dari hutang dibandingkan

ekuitas perusahaan. Dengan bergantungnya operasi perusahaan beasal dari hutang dibandingkan ekuitas maka semakin tingginya tanggung jawab jangka pendek maupun jangka panjang perusahaan. Seperti yang telah dijelaskan bahwa tanggung jawab perusahaan pada pihak kreditur yang tinggi akan mempersulit perusahaan dalam menciptakan nilai tambah. Berdasarkan uraian diatas, hipotesis keenam pada model kedua yang diajukan adalah :

H7: Debt to Equity Ratio berpengaruh negatif terhadap Economic Value Added (EVA)

Kerangka pemikiran teoritis

Seiring dengan semakin pesatnya perdagangan saham dan tingginya tingkat risiko saham, maka kebutuhan akan informasi yang relevan dan memadai bagi pemilik dalam mengevaluasi manajemen dan pengambilan keputusan juga meningkat (Widoretno, 2013). Dengan penghitungan EVA diharapkan dapat memperoleh hasil perhitungan pada upaya penciptaan nilai perusahaan yang lebih realistis (Pinangkaan, 2012). EVA juga dapat digunakan sebagai pedoman dalam hal goal setting, capital budgetting, performance assesment dan incentive compensation suatu perusahaan (Utomo, 1999).

Dari penjelasan tersebut, dapat dibangun kerangka pemikiran teoritis pentingnya metode pengukuran EVA ini. Dalam penelitian ini mengunakan dua model peneltian, yang pertama pengaruh Economic Value Added (EVA) terhadap Nilai perusahan, dan yang kedua pengaruh Leverage, Ukuran perusahaan (Size), Kebijakan hutang, Kebijakan investasi, Kebijakan dividen, dan Kebijakan

pendanaan terhadap Economic Value Added (EVA). Kerangka pemikiran teoritis terhadap dua model tersebut sebagai berikut :

Gambar 2.1 Kerangka pemikiran teoritis

Dokumen terkait