PERKEMBANGAN METODOLOGI ILMU TAFSIR KONTEMPORER
C. Kerangka Teoritis Pengembangan Metode Tafsir
Dalam karyanya Strategi Kebudayaan (1976), Van Peursen menyatakan bahwa kebudayaan adalah endapan dari kegiatan dan karya manusia, yang meliputi segala manifestasi dari kehidupan manusia, seperti agama, kesenian, filsafat, ilmu pengetahuan, tata negara, dan lain sebagainya. Bahkan termasuk dalam pengertian kebudayaan adalah tradisi, dalam arti pewarisan atau penerusan norma-norma, adat istiadat, kaidah-kaidah, dan harta-harta. Tradisi ini bukanlah sesuatu yang tak dapat diubah, melainkan harus dipadukan dengan aneka ragam perbuatan manusia dan diangkat keseluruhannya. Manusialah yang membuat sesuatu dengan tradisi, baik untuk diterima atau ditolak atau diubahnya. Karena itu, kebudayaan merupakan cerita tentang perubahan-perubahan, dimana manusia selalu memberi wujud
baru kepada pola-pola kebudayaan yang sudah ada (C.A. van Peursen: 1976; 9-11).
Dalam konteks kajian Islam (Islamic Studies), semua pemikiran yang meliputi interpretasi terhadap teks al-Qur’an dan pemahaman konteks sosio-historis-antropologis hadis nabi merupakan endapan dari kegiatan dan karya manusia. Interpretasi teks al-Qur’an dan pemahaman hadis selalu berubah-ubah sesuai dengan konteks fokus dan tempusnya. Hasil interpretasi dan pemahaman tersebut dapat juga disebut sebagai kebudayaan, yakni kebudayaan Muslim. Bagi Van Peursen yang terpenting dari kebudayaan adalah “dengan kebudayaan kita berbuat sesuatu”. Dengan demikian, inti kajian kebudayaan adalah bagaimana masalah kebudayaan dapat ditangani, dikelola, atau diperalat, yang dalam istilah Van Peursen disebut strategi kebudayaan (pengelolaan konsep kebudayaan) (C.A. van Peursen: 1976; 12). Filsafat kebudayaan modern harus diarahkan untuk meninjau kebudayaan tertentu sebagai suatu strategi atau masterplan bagi hari depan. Bagi Van Peursen (1976 ; 166-177):
“Kebudayaan jangan dipandang sebagai sebuah titik tamat atau keadaan yang telah tercapai, melainkan terutama sebagai sebuah penunjuk jalan, sebuah tugas: Kebudayaan ibarat sebuah cerita yang belum tamat yang masih harus disambung. Maka kebudayaan dewasa ini harus dilukiskan sebagai suatu tahap, sebagai suatu bagian dalam cerita tentang sejarah perkembangan”.
Dengan kutipan diatas, Van Peursen ingin menyatakan bahwa tiga tahap perkembangan sejarah kebudayaan manusia (mitologis, ontologis, dan fungsionil), sebagaimana dilontarkan August Comte tidaklah dapat dikatakan sudah tamat. Akan tetapi dalam setiap tahap tersebut pasti terdapat sisi-sisi negatifnya, dan setiap tahap
perkembangan yang menyertainya merupakan hasil dari strategi kebudayaan dalam mengeliminir setiap sisi negatif perkembangan sebelumnya. Bahkan dampak negatif dari tahap fungsional (melalui proses belajar: berupa konsumsi) mempunyai jangkauan jauh yang belum dapat ditinjau keseluruhannya.
Meskipun demikian, dengan suatu rencana kebudayaan yang akan datang, Van Peursen memberikan salah satu alternatifnya yang disebut dengan istilah etika interaksi, yaitu etika yang mempunyai hubungan timbal balik antara kesadaran etis dan masalah-masalah konkrit, etika ini juga selalu mengangkat daya kekuatan alam dan masyarakat dengan bidang tanggung jawab manusiawi. Oleh karena itu, evaluasi kritis terhadap setiap perkembangan kebudayaan sangat diperlukan dalam rangka membuat sebuah rencana guna membebaskan manusia dari penjara-penjara (sisi-sisi negatif) yang telah dibuatnya sendiri (C.A. van Peursen: 1976; 193).
Dalam setiap kebudayaan selalu ada sebuah ketegangan antara yang imanensi (serba terkurung) dan transendensi (yang mengatasi sesuatu, berdiri diluar sesuatu). Dalam konteks pergaulan antara manusia dan kekuasaan-kekuasaan sekitarnya, imanensi berarti sikap tertutup dan transendensi berarti sikap terbuka. Kekuasaan yang dimaksudkan disini adalah segala sesuatu yang menyodorkan diri kepada kita dan mempengaruhi kita, baik yang terdapat di alam raya, pola-pola sosial, teknologi, seksualitas, kebahagiaan, lingkungan Ilahi dari segala sesuatu yang tidak termasuk dalam diri pribadi manusia dan justru mempengaruhi sikap manusia (C.A. van Peursen: 1976; 24). Imanensi dalam konteks seperti ini merupakan sebuah sikap tertutup manusia yang menyerah kepada keterkurungan norma-norma, kaedah-kaedah, pola-pola, dan tradisi-tradisi yang sudah mengikatnya,
sehingga tidak ada pilihan lain kecuali hanya mengikutinya. Transendensi adalah sikap terbuka yang berusaha melepaskan diri dari keterikatan norma-norma, kaedah-kaedah, pola-pola, dan tradisi-tradisi yang selama ini telah membelenggunya, sehingga dapat membuat rencana kebudayaan yang lebih tepat bagi manusia pada masanya.
Hal serupa (ketegangan antara sikap imanensi dan transendensi) di atas pun juga terjadi dalam wilayah sejarah perkembangan kajian Islam (Islamic Studies) kontemporer. Banyak hal yang selalu melibatkan ketegangan-ketegangan antara imanensi (sikap tertutup) dan transendensi (sikap terbuka): antara wacana Islam yang bersifat tertutup dan wacana Islam yang bersifat terbuka -meminjam istilah M. Amin Abdullah- antara normativitas versus historisitas (M. Amin Abdullah: 1996).
Hans Kung (2003; 158) berpendapat, ada tiga persoalan pokok yang segera mencuat ke permukaan pasca krisis modernitas, yaitu (a) munculnya ketegangan dan polarisasi baru yang berbahaya antara kaum beriman dan kaum tidak beriman, jem,aat gereja dan kaum sekuler baru, klerik dan anti klerik, (b) akan munculnya “benturan peradaban“, misalnya antara peradaban Islam atau Konfusian dengan peradaban Barat, dan (c) hubungan harmonis antar agama-agama akan terhalang oleh pemahaman dogmatisme yang ekslusif. Itu semua bakal terjadi disetiap belahan dunia, Amerika, Eropa, Asia, dan Afrika.
M. Amin Abdullah menduga tanpa dibarengi dengan latar belakang pendalaman dalam diskursus kefilsafatan, agak sulit mencermati alur dan memahami era posmodernisme baik untuk mengapresiasinya atau untuk mengkounter argumentasinya. Dalam pengertian ini, Ernes Gellner (1992; 24), seorang antropolog Inggris,
menganggap bahwa posmodernisme tidak lain dan tidak bukan adalah
relativisme dalam bentuk dan wajahnya yang baru. Sementara yang menjadi ciri atau struktur fundamental dari posmodernisme adalah dekonstruksionisme, relatiivisme, dan pluralisme (M. Amin Abdullah: 1993; 110-112).
Dekonstruksionisme adalah suatu pandangan atau aliran dalam filsafat yang memandang bahwa segala permasalahan untuk sampai pada perbaikan dapat melalui perubahan secara totalitas. Bagi aliran ini, pengembangan metodologi tafsir tidak dapat dilakukan kecuali melalui cara mendekonstruksi atau merubah secara totalitas struktur dari metodologi tafsir yang sudah ada dan diganti dengan baru sama sekali.
Adapun pola pikir relativisme adalah suatu cara pandang atau aliran dalam filsafat yang meyakini bahwa semua realitas yang ada bersifat relatif dan nisbi, oleh karena semua bersifat relatif maka tidak ada entitas yang absulote atau pasti. Demikian pula, metodologi tafsir bersifat relatif sehingga dapat berubah begitu saja bila dikehendaki. Sementara pluralis adalah suatu pandangan yang mengacu pada adanya keanekaragaman realitas, termasuk adanya realitas yang beragama dalam wacana suatu ilmu. Hal ini juga terjadi pada adanya pluralitas pemikiran dalam metodologi tafsir.