• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II PIJAKAN TEORI

A. Analisis Wacana

3. Kerangka Wacana Van Dijk

Wacana digambarkan mempunyai tiga dimensi, yaitu teks, kognisi sosial

dan konteks sosial. Inti analisis Van Dijk adalah menggbungkan ketiga dimensi

tersebut dalam kesatuan analisis.

23

Teun Van Dijk,Discourse and society: Vol 4(2). (London: Newbury Park and New Delhi: Sage, 1993), h. 249.

Konteks Sosial

Kognisi Sosial

Teks

Gambar 1.24

Diagram Model Analisis Van Dijk

Sedangkan skema penelitian dan metode yang biasa dilakukan dalam

kerangka Van Dijk adalah sebagai berikut:

Tabel 125

Skema Penelitian dan Metode Van Dijk

Struktur Metode

Teks

Menganalisis strategi wacana yang digunakan untuk menggambarkan

seseorang atau peristiwa tertentu. Bagaimana strategi tekstual yang dipakai untuk memarjinalkan suatu

kelompok, gagasan atau peristiwa tertentu.

Linguistik Kritis

Kognisi Soisial

Menganalisis bagaimana kognisi penulis dalam memahami seseorang

atau peristiwa tertentu yang akan ditulis.

Wawancara

Konteks Sosial

Menganaisis bagaimana wacana yang

Studi Pustaka, penelusuran sejarah, dan wawancara.

24

Eriyanto, Analisis Wacana:Pengantar Analisis Teks Media, h. 224 25

berkembang di masyarakat, proses produksi dan reproduksi seseorang

atau peristiwa digambarkan.

a. Dimensi Teks

Sebagai bagian dari model analisis wacana dalam pewacanaan yang lebih

kompleks, Teun Van Dijk membagi dimensi teks pada pendekatan pencermatan

atas tiga tingkatan struktur wacana, yaitu: Struktur makro, strukutur supra, dan

struktur mikro (macrostructure, superstructure, and microstructure). Van Dijk membuat kerangka analisis wacana yang dapat digunakan untuk melihat suatu

wacana yang terdiri dari berbagai tingkatan atau struktur dari teks yaitu

Tabel 2

Struktur Teks Van Dijk26

Struktur Makro

Makna global dari suatu teks yang dapat diamati dari topik atau tema yang diangkat suatu teks

Struktur Supra

Kerangka suatu teks: bagaimana struktur dan elemen wacana itu disusun dalam teks secara utuh, seperti bagian pendahuluan, isi, penutup, dan kesimpulan

Struktur Mikro

Makna lokal dari suatu teks yang dapat diamati dari pilihan kata, kalimat, dan gaya bahasa yang dipakai oleh suatu teks.

26

1) Struktur Makro

Struktur makro dalam teori wacana memiliki fungsi lebih terbatas. Hal ini

digunakan untuk menjelaskan berbagai pengertian tentang makna global, seperti

topik, tema, atau inti. Ini berarti bahwa struktur makro dalam wacana adalah objek

semantik. Menurut prinsip-prinsip semantik eksplisit, aturan yang harus

dirumuskan untuk menghubungkan makna kata dan kalimat (yaitu, struktur lokal)

dengan struktur makro semantik. Selanjutnya, struktur makro dalam teori wacana

diperlukan untuk menjelaskan gagasan intuitif koherensi: wacana A tidak hanya

koheren di tingkat lokal (misalnya, dengan koneksi berpasangan antara kalimat),

tetapi juga di tingkat global.27

Van Dijk menggambarkan gagasan struktur global adalah relatif jika hal itu

dapat didefinisikan hanya berkenaan dengan beberapa gagasan seperti struktur

lokal. Hal yang sama harus berlaku untuk gagasan struktur makro. Struktur makro

pada akhirnya dibutuhkan dalam menentukan makna global. Dalam prosesnya,

teori umum interaksi berbagai jenis struktur sosial, seperti konteks sosial dan

frame interaksi, aturan, konvensi, norma, dan berbagai kategori peserta seperti

fungsi atau peran, mungkin terkait dengan tindakan global dan tidak selalu

tindakan lokal masing-masing.28

Maka dalam artian ini pewacanaan yang disajikan dalam suatu teks

interaksi tidak hanya memungkinkan perencanaan dan pengendalian urutan

27

Teun A. van Dijk, Macrostructures An Interdisciplinary Study of Global Structures in Discourse, Interaction, and Cognition, (Hillsdale, New Jersey: Lawrence Erlbaum Associates, Publishers 1980), h. 10.

28

tindakan di masa depan dan global tetapi juga menjamin koherensi dan fungsi

yang tepat dalam konteks sosial. Van Dijk mengasumsikan bahwa struktur makro

adalah semantik, analisis ini dimaksudkan sebagai kontribusi terhadap struktur

semantik global dalam bahasa alami.

Struktur global pada makro struktur adalah bagian dari wacana. Hal yang

sama berlaku untuk hubungan antara macrostructures semantik dan pragmatis. Wacana dalam bahasa alami bukan hanya objek gramatikal tapi ucapan pada saat

yang sama yang dapat berfungsi sebagai aksi sosial (tindak tutur). Urutan tindak

tutur, diungkapkan oleh ucapan-ucapan berikutnya kalimat dari wacana, juga

dapat diselenggarakan di tingkat global, sebagai tindakan macrospeech. Dengan kata lain, wacana juga mungkin menunjukkan struktur global yang tidak boleh

diperhitungkan dalam semantik atau dalam istilah skema melainkan dalam hal

tindakan, interaksi, dan khususnya tindak tutur dan konteks pragmatis yang sesuai

atau tidak.

2) Struktur Supra

Struktur supra atau (suprastructure) menunjuk pada kerangka suatu wacana atau skematika, seperti kelaziman percakapan atau tulisan yang dimulai dari

pendahuluan, dilanjutkan dengan isi pokok, diikuti oleh kesimpulan, dan diakhiri

dengan penutup.29Jadi struktur supra adalah salah satu cara untuk lebih mengatur

29

Sakban Rosidi,Analisis Wacana Kritis Sebagai Ragam Paradigma Kajian Wacana. Makalah pernah disajikan di Sekolah Bahasa, atas prakarsa Himpunan Mahasiswa Islam Komisariat Bahasa, Universitas Islam Negeri (UIN) Malang, 15 Desember 2007.

urutan kalimat atau proposisi adalah untuk menetapkan berbagai fungsi untuk

kalimat-kalimat atau proposisi dalam urutan.

Dengan demikian, kita telah melihat bahwa kita dapat mengatakannya

'retoris', berfungsi sebagai 'penjelasan', 'spesifikasi,' 'perbandingan', atau

'kontradiksi. "Dalam hal ini Van Dijk memberikan kalimat atau proposisi untuk

kategori fungsional, yang menentukan jenis hubungan fungsional yang memiliki

hubungan dengan kalimat atau proposisi lainnya. Dengan demikian, B adalah

'spesifikasi' A, jika informasi dari B memerlukan informasi dari A, yang berarti

bahwa B harus memberikan keterangan lebih dari informasi umum bahwa A dan

B memiliki kesamaan.30Berikut ini adalah jenis-jenis struktur supra

1. Narasi:, seperti novel, drama, cerita pendek, cerita rakyat, dan mitos,

Dijk menceritakan kisah-kisah dalam percakapan sehari-hari untuk

mengungkapkan pengalaman pribadi atau untuk mengesankan

pendengar dengan apa yang terjadi pada diri kita.

2. Argumen: merupakan struktur penalaran dan argumentasi Skema untuk

penalaran diterima di dalam silogisme, dengan demikian, merupakan

karakteristik untuk apa yang kita pahami dengan gagasan yang lebih

umum dari suprastruktur.

3. Makalah Ilmiah atau Laporan Eksperimental: karya ilmiah yang

memiliki jenis skema konvensional atau bahkan kelembagaan yang

lebih dikenal pembaca buku juga menentukan skema dalam wacana.

30

Teun A. van Dijk, Macrostructures An Interdisciplinary Study of Global Structures in Discourse, Interaction, and Cognition, h. 108.

4. Artikel Surat Kabar: artikel dari surat kabar juga memiliki skema

tertentu dalam menentukan wacana yang tersusun dari pendahuluan,

ringkasan, maupun spesifikasi di dalamnya.

3) Struktur Mikro

Istilah macrostructures diperkenalkan oleh Van Dijk didasarkan atas kolektif praktis dan bukanlah sebagi istilah teoretis. Struktur mikro adalah nama

struktur yang terbangun dan berproses pada tingkat terpendek (Kata, frasa, klausa,

kalimat, dan hubungan antara kalimat), dengan kata lain mikro struktur

menjelaskan struktur wacana secara langsung.31

Istilah pertama terkenal dari tata bahasa klasik dan istilah kedua telah

diperkenalkan terutama yang disebut tata bahasa teks. Tata bahasa teks adalah tata

bahasa (apapun) yang tidak terbatas pada deskripsi kalimat yang terisolasi tetapi

juga memperhitungkan struktur di luar tingkat kalimat atau struktur karakteristik

wacana dan percakapan secara keseluruhan. Dengan teks kita memahami struktur

dasar abstrak wacana. Oleh karena itu, wacana merupakan gagasan observasional,

sedangkan teks adalah gagasan teoritis. Pada prinsipnya, wacana biasanya harus

menunjukkan struktur sentensial dan tekstual untuk dapat diterima dalam sebuah

komunitas bahasa, tapi ini tidak berarti bahwa teks dan wacana benar-benar selalu

memiliki struktur ini.

31

Ibid, h. 29. Diskursus kewacanaan yang dijelaskan oleh Van Dijk membuat suatu perbedaan signifikan antara penyebutan teks dan wacana 'wacana', bukan istilah 'teks', yang hanya digunakan dalam rekonstruksi tata bahasa abstrak bahasa alami. Perbedaan serupa sebenarnya akan berada di tempat untuk gagasan kalimat, yang juga digunakan ambigu baik sebagai istilah teoretis atau sebagai istilah observasional.

Jika dikaitkan dengan apa yang disebut dengan satuan mikro adalah wacana

struktur makro tidak akan terbentuk apabila tidak memiliki kelengkapan

komponen struktur mikro yang menyusunnya. Dengan kata lain microstructures

memegang peranan penting dalam pembentukan macrostructures yang saling berkaitan dengan konteks yang ada.

Ini berarti bahwa wacana global ditentukan oleh hubungan antara struktur

makro di satu sisi dan struktur semantik kalimat dan urutan (yaitu, mikro) di sisi

lain. Dalam bab ini, maka, penulis mulai merumuskan berbagai aturan yang

berkaitan dengan struktur makro-mikro. Meskipun memberikan ringkasan singkat

dari 'microlevel' analisis wacana (Fenomena seperti koneksi linear dan koherensi),

penulis juga membatasi diri pada semantik makro seperti tata bahasa dan hanya

menentukan bagaimana mikro menentukan, dan ditentukan oleh, struktur makro.

32

Hipotesa dari bab ini, kemudian, adalah bahwa wacana tidak dapat cukup

diperhitungkan di level mikro saja. Tanpa tingkat struktur makro, semantik tidak

dapat menjelaskan berbagai sifatnya.

Makna global dari wacana pada saat yang sama terlihat bahwa interpretasi

makro juga merupakan kondisi yang diperlukan untuk interpretasi kalimat dan

pembentukan koherensi lokal di level mikro tersebut. Akhirnya, hal ini diklaim

32

Van Dijk dalamMacrostructures an Interdisciplinary Study of Global Structures in Discourse, Interaction, and Cognition, menjelaskan bagaimana struktur makro dan mikro itu saling berkaitan. Pada ranah tertentu yang tingkatannya lebih tinggi untuk menunjukkan relevansi linguistik dan tata bahasa dari analisis macrostructures semantik, Van Dijk juga menganalisis berbagai cara di mana struktur makro mungkin lebih atau kurang langsung muncul dalam 'permukaan struktur' kalimat masing-masing wacana.

bahwa komponen makro adalah bagian sah dari semantik linguistik wacana dan

bukan hanya sebuah komponen dari model psikologis pengolahan wacana.33

b. Kognisi Sosial

Dalam kerangka analisis Van Dijk, pentingnya kognisi soial yaitu sebagai

model analisis pada kesadaran mental wartawan yang membentuk teks tersebut.

Karena, setiap teks pada dasarnya dihasilkan lewat kesadaran, pengetahuan,

prasangka, atau pengetahuan tertentu atas suatu peristiwa.. Dijk menggambarkan

bahwa setiap penulis memiliki beragam nilai, pengalaman, dan pengaruh ideologi

yang didapatkan dari kehidupannya,

Peristiwa dalam sebuah penulisan wacana dipahami berdasarkan skema atau

model. Skema dikonseptualisasikan sebagai struktur mental di mana tercakup cara

pandang manusia, peranan sosial dan peristiwa liannya pada tiap penulis. Terdapat

beberapa skema/model yang dapat digunakan dalam analisis kognisi sosial

penulis, digambarkan sebagai berikut:34

Tabel 3

Skema/Model Kognisi Sosial Van Dijk Skema Person (Person Schemas)

Skema ini menjelaskan bagaimana seseorang menggambarkan dan memandang orang lain.

Skema Diri (Self Schemas)

Skema yang berhubungan dengan bagaimana diri sendiri dipandang, dipahami, dan digambarkan oleh seseorang.

Skema Peran (Role Schemas)

Skema ini berhubungan dengan bagaimana seseorang memandang dan menggambarkan peranan dan posisi seseorang dalam

masyarakat.

33

Teun A. van Dijk, Macrostructures An Interdisciplinary Study of Global Structures in Discourse, Interaction, and Cognition, h. 26.

34

Skema Peristiwa (Event Schemas)

Skema yang paling sering dipakai, karena setiap peristiwa selalu ditasirkan dan dimaknai dengan skema tertentu

c. Konteks Sosial

Dimensi ketiga dari analisis Van Dijk ini adalah konteks sosial, yaitu

bagimana wacana komunikasi diproduksi dalam masyarakat. Titik tekannya

adalah untuk menunjukkan makna dihayati bersama, kekuasaan sosial diproduksi

lewat praktik diskursus dan legitimasi. Menurut Van Dijk, terdapat dua poin

penting, yakni praktik kekuasaan (power) dan akses (acces).

Praktik kekuasaan didefinisikan sebagai kepemilikan oleh suatu kelompok

atau anggota untuk mengontrol kelompok atau anggota lainnya. Hal ini disebut

dengan dominasi, karena praktik seperti ini dapat memengaruhi letak atau konteks

sosial pemberitaan tersebut.

Kedua, akses dalam memengaruhi wacana. Akses ini menjelaskan

bagaimana kaum mayoritas memiliki akses yang lebih besar dibandingkan kaum

minoritas. Oleh karenanya, kaum mayoritas lebih punya akses kepada media

dalam memengaruhi wacana.

Dokumen terkait