• Tidak ada hasil yang ditemukan

Di Cilacap, rehabilitasi mangrove pertama kali dilakukan pada tahun 1932 oleh Jong dengan menanam jenis Rhizophora spp. dan Bruguiera spp. Apabila di lapangan ditemukan jenis lain seperti Avicennia spp. maka jenis tersebut merupakan tanaman ikutan (Poedjirahajoe, 1995). Hutan mangrove di tepi Sungai Donan yang digunakan sebagai lokasi pengamatan merupakan kawasan mangrove yang ditanam pada tahun 1982 dan 1983. Dari hasil pengumpulan contoh dan identifikasi yang dilakukan, ditemukan lima jenis mangrove. Dari famili Avicenniaceace dijumpai adanya Avicennia marina, dari famili Rhizophoraceae ditemukan adanya Rhizophora mucronata, Rhizophora apiculata, dan Bruguiera gymnorrhiza sedangkan dari famili Sonneratiaceae terdapat Sonneratia alba.

Tabel 4. 7. Distribusi jenis mangrove pada tiap zona pengamatan

No Spesies Zona

Kontrol Dalam Tengah Luar

1 Rhizophora apiculata

2 Rhizophora mucronata

3 Sonneratia alba

4 Avicennia marina

5 Bruguiera gymnorrhiza

pada lokasi pengamatan berdasarkan hasil analisis statistik uji beda menggunakan analisis sidik ragam menunjukkan hasil sebagai berikut.

Tabel 4. 5. Analisis sidik ragam untuk variabel ketebalan lumpur tiap zona pengamatan

Variabel Derajat Bebas Selang

Kepercayaan F Hitung Signifikansi Ketebalan lumpur 11 96,08±57,90 12.263 .002*

*)

Berbeda signifikan pada taraf uji 0,05

Tabel Analisis sidik ragam di atas menunjukkan bahwa nilai signifikansi (Sig.) antar zona pengamatan sebesar 0,002, lebih kecil dari 0,05, H0 ditolak. Karena ada H0 yang ditolak, berarti terdapat perbedaan ketebalan lumpur yang signifikan dari keempat zona tersebut. Oleh karena itu, perlu dilakukan analisis pembandingan ganda untuk melihat zona mana saja yang berbeda dan zona mana saja yang dapat dikatakan relatif sama (Tabel 4. 6).

Tabel 4. 6. Hasil uji lanjut BNT untuk variabel ketebalan lumpur tiap zona pengamatan

(I) Zona (J) Zona Standar galat Signifikasi Kontrol Dalam 23,43074903 0,024* Tengah 23,43074903 0,013* Luar 23,43074903 0,071 Dalam Kontrol 23,43074903 0,024* Tengah 23,43074903 0,691 Luar 23,43074903 0,001* Tengah Kontrol 23,43074903 0,013* Dalam 23,43074903 0,691 Luar 23,43074903 0,001* Luar Kontrol 23,43074903 0,071 Dalam 23,43074903 0,001* Tengah 23,43074903 0,001* *)

Rata-rata ketebalan lumpur pada perbedaan zona menunjukkan hasil bahwa zona tengah memiliki kedalaman lumpur yang paling dalam, yaitu sebesar 148 cm sedangkan nilai kedalaman lumpur yang paling kecil ada pada zona luar. Dari model linearitas yang terdapat pada Gambar 4. 4 di atas juga dapat dijelaskan bahwa semakin ke muara ketebalan lumpur (sedimen) semakin berkurang. Hal ini didukung oleh akar-akar mangrove yang berfungsi sebagai penahan sedimen. Menurut Nontji (1987) dalam Marasabessy dkk (2010), akar-akar hutan mangrove yang kokoh dapat meredam pengaruh gelombang dan mengendapkan lumpur sehingga mempercepat timbulnya lahan baru. Peranan akar mangrove menjadi sangat penting berkaitan dengan fungsi mangrove sebagai pelindung ekosistem pantai. Adanya sistem perakaran yang padat akan mengurangi gerakan air sehingga partikel yang sangat halus dapat mengendap di sekeliling akar mangrove dan membentuk lapisan sedimen. Nybakken (1982) dalam Marasabessy dkk (2010) menjelaskan bahwa sekali mengendap sedimen tidak akan dialirkan lagi keluar. Hal ini menunjukkan bahwa sedimen yang terbawa aliran akan tertahan pada perakaran mangrove sehingga semakin lama sedimen yang terbawa aliran akan berkurang dari lokasi satu ke lokasi lain sepanjang aliran sungai. Proses sedimentasi dipengaruhi oleh aliran air dalam ekosistem mangrove, lapisan sedimen akan terbentuk di sekitar perakaran ketika gerakan aliran terhambat oleh akar vegetasi mangrove. Kecilnya gerakan air ini berpengaruh terhadap partikel sedimen halus yang terbawa aliran untuk mengendap dan mengumpul di dasar perairan (Nybakken, 1982 dalam Marasabessy dkk., 2010). Ketebalan lumpur

yang telah ditetapkan. Selain itu, menurut Arsornkoae (1993), pertumbuhan tanaman mangrove akan menurun pada salinitas kurang dari 28‰. Selang kepercayaan salinitas hutan mangrove di tepi Sungai Donan (22,64 ± 1,26‰) yang berada di bawah 28‰ menyebabkan pertumbuhan mangrove terhambat ditandai dengan tingkat pertumbuhannya yang masih pancang walaupun sudah ditanam sejak tahun 1980-an dengan diameter dan tinggi pohon yang cenderung kecil.

Menurut Well (1982) dalam Arsornkoae (1993), Avicennia officinalis dapat tumbuh pada salinitas maksimum 63‰, sedangkan salinitas maksimum untuk Ceriops tagal spp. adalah 72‰, Sonneratia spp. 44‰, Rhizophora mucronata 65‰, dan Rhizophora stylosa 74‰. Sementara itu, Xylocarpus granatum hanya dapat tumbuh pada kawasan yang salinitasnya tidak lebih dari 34‰, dan Bruguiera spp. tumbuh pada salinitas tidak lebih dari 37‰ (Arsornkoae, 1993).

Gambar 4. 3. Rata-rata salinitas pada tiap zona pengamatan

Berdasarkan hasil pengukuran rata-rata salinitas pada keempat zona, zona dalam memiliki rata-rata salinitas tertinggi (23,50‰), sedangkan salinitas terendah terdapat di zona kontrol (21,95‰). Zona dalam hingga zona luar memiliki nilai salinitas yang tidak berbeda signifikan dengan zona kontrol (21,95‰). Hal tersebut berdasarkan hasil analisis sidik ragam di bawah ini.

Tabel 4. 4. Analisis sidik ragam untuk variabel salinitas tiap zona pengamatan Variabel Derajat Bebas Selang

Kepercayaan F Hitung Signifikansi

Salinitas 15 22,64± 1,26 1,426 0,283

*)

Berbeda signifikan pada taraf uji 0,05

Kisaran salinitas pada hutan mangrove di tepi Sungai Donan, Cilacap adalah 21-24‰ dan kisaran yang diizinkan dalam perairan mangrove untuk biota laut adalah sampai dengan 34‰ sehingga walaupun tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara zona dalam hingga luar tidak berpengaruh terhadap biota dalam kawasan mangrove tersebut karena kisaran salinitas tidak melampaui baku mutu

air normal. Menurut Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 51 Tahun 2004 terkait baku mutu air laut untuk biota laut dalam kawasan mangrove, yaitu sebesar 7 – 8,5. Derajat keasaman (pH) merupakan salah satu parameter yang dapat menentukan produktivitas suatu perairan. Setiap organisme membutuhkan derajat keasaman (pH) yang optimum bagi kehidupannya. Pescod (1973) dalam Suriadarma (2011) mengatakan bahwa batas toleransi organisme terhadap pH air bervariasi bergantung pada faktor fisis, kimiawi, dan biologis. pH air yang ideal untuk kehidupan fitoplankton berkisar antara 6,5-8,0.

Mahida (1993) menyatakan bahwa limbah buangan industri dan rumah tangga dapat memengaruhi nilai pH perairan. Namun, limbah Kilang Minyak Cilacap baik logam berat Pb maupun Cu belum memberikan pengaruh yang signifikan terhadap nilai pH air kawasan mangrove Sungai Donan karena pada setiap plot pengamatan menunjukkan nilai pH air yang sama, yaitu pH air 7 dan masih dalam baku mutu pH air yang diperbolehkan.

Suhu air yang tinggi dapat meningkatkan kecepatan metabolisme hewan air, meningkatkan respirasi ikan, dan dapat menurunkan jumlah oksigen yang terlarut dalam air sehingga dapat mengakibatkan matinya hewan air akibat kekurangan oksigen (Cahyani, 2001). Hal tersebut sesuai dengan grafik kandungan oksigen terlarut dan suhu air pada Gambar 4. 1 yang menunjukkan bahwa zona pengamatan dengan suhu air terendah memiliki kandungan oksigen terlarut tertinggi sedangkan zona pengamatan dengan suhu air tertinggi memiliki kandungan oksigen terlarut yang terendah.

Gambar 4. 2. Rata-rata pH air pada tiap zona pengamatan

Berdasarkan hasil pengukuran, rata-rata pH air tiap zona pengamatan menunjukkan nilai pH air yang sama, yaitu pH air 7. Nilai pH air pada kawasan mangrove di tepi Sungai Donan masih mampu mendukung kehidupan biota air (baik hewan maupun tumbuhan) kawasan tersebut karena masih dalam kisaran pH

keseimbangan osmotik, dan aktivitas lainnya. Jika persediaan oksigen terlarut di perairan sangat sedikit (melebihi mutu yang ditetapkan), perairan tersebut tidak baik bagi ikan dan makhluk hidup lainnya yang hidup di perairan karena akan memengaruhi kecepatan pertumbuhan organisme air tersebut. Menurut Lee et al (1978) dalam Selanno (2009), kandungan oksigen terlarut pada suatu perairan dapat digunakan sebagai indikator kualitas perairan, seperti terlihat pada Tabel 4. 3 di bawah ini.

Tabel 4. 3. Status Kualitas Air Berdasarkan Kandungan Oksigen Terlarut No Kandungan Oksigen Terlarut (mg/l) Status Mutu Air

1 > 6.5 Tidak tercemar sampai tercemar ringan

2 4.5-6.4 Tercemar ringan

3 2.0-4.4 Tercemar sedang

4 <2.0 Tercemar berat

Sumber: Lee et al (1978) dalam Selanno (2009)

Berdasarkan status mutu air di atas, diketahui bahwa kawasan rehabilitasi mangrove di tepi Sungai Donan dengan selang kepercayaan kandungan oksigen 3,89+1,10 mg/l memiliki status mutu air yang tercemar sedang bila hanya dilihat dari parameter kandungan oksigen terlarutnya. Menurut Enviroment Canada (1992) dalam Desratriyanti (2009), kandungan oksigen terlarut yang terlampau tinggi merupakan tekanan bagi banyak organisme air. Selain itu, dinyatakan pula bahwa tekanan akibat oksigen rendah saling memengaruhi dengan beberapa tekanan yang berasal dari toksikan seperti toksisitas tembaga yang meningkat dengan menurunnya oksigen terlarut (Effendi, 2003).

Dari Gambar 4. 1 juga diketahui bahwa terjadi penurunan kandungan oksigen terlarut dari zona dalam hingga zona luar, sedangkan zona kontrol memiliki rata-rata kandungan oksigen terlarut hanya sebesar 3,50 mg/l. zona dalam mempunyai kandungan oksigen terlarut tertinggi karena pada saat pengambilan data kondisi zona dalam memiliki suhu air yang terendah dibanding zona lain. Suhu perairan mempunyai pengaruh yang besar terhadap kelarutan oksigen. Kenaikan suhu perairan akan menyebabkan laju metabolisme mahluk hidup meningkat dan selanjutnya menaikkan kebutuhan oksigen (Dahuri, 2001). zona kontrol memiliki rata-rata kandungan oksigen terlarut hanya sebesar 3,50 mg/l, di bawah baku mutu yang ditetapkan sebesar >5 mg/l, begitu juga dengan zona tengah dan luar. Untuk mengetahui ada atau tidaknya perbedaan kandungan oksigen terlarut yang signifikan antar tiap zona pengamatan, dilakukan analisis statistik sidik ragam (Tabel 4. 1) dengan nilai signifikansi (Sig.) pada pengamatan sebesar 0,072, lebih besar dari 0,05, dengan demikian hipotesis nol (H0) ditolak. Hal ini menunjukkan tidak terdapat perbedaan kandungan oksigen terlarut yang signifikan pada tiap bagian zona pengamatan.

Kandungan oksigen terlarut zona Kontrol yang jauh dari lokasi industri sudah tidak memenuhi baku mutu yang ditetapkan. Oleh karena itu, dibutuhkan perhatian yang lebih serius dari pihak yang terkait untuk mengetahui penyebab rendahnya kandungan oksigen terlarut pada kawasan tersebut, begitu pula dengan zona lainnya. Oksigen diperlukan oleh organisme air untuk menghasilkan energi yang sangat penting bagi pencernaan dan asimilasi makanan, pemeliharaan

dalam karena merupakan lokasi yang pertama kali diambil (Pukul 09.00 WIB) dengan kata lain zona ini diambil saat intensitas radiasi matahari paling rendah dibanding ketiga zona yang lain sehingga jumlah radiasi yang berhasil diserap oleh permukaan perairan pada zona dalam lebih sedikit maka suhu (jumlah panas) yang dimiliki oleh perairan tersebut juga lebih rendah sedangkan suhu perairan tertinggi terdapat pada zona luar diakibatkan pengambilan data suhu air pada zona luar dilakukan pada pukul 12.00 WIB saat intensitas radiasi matahari lebih tinggi dibanding ketiga zona lain.

Kisaran suhu air pada keempat zona pengamatan tergolong tinggi, ditandai dengan munculnya ikan ke permukaan air yang terlihat di Sungai Donan (Hadianto, 1995 dalam Cahyani, 2001). Berdasarkan penelitian dari Martodigdo et al (1986) dalam Perdana (2006), pada tahun 1986 suhu air hutan mangrove Cilacap berkisar antara 27-29ºC, sedangkan berdasarkan penelitian Wardhani (2010), suhu air di lokasi pengamatan rata-rata berkisar antara 29,50-33,30°C. Berdasarkan kedua hasil penelitian sebelumnya, dapat dikatakan bahwa rata-rata suhu air kawasan mengalami kenaikan. Suhu perairan dapat memengaruhi kegiatan hewan air seperti migrasi, pemangsaan, kecepatan berenang, perkembangan embrio, dan kecepatan proses metabolisme (Hadianto, 1995 dalam Cahyani, 2001). Suhu air dapat memengaruhi fotosintesis dan respirasi tanaman mangrove. Namun, tidak berpengaruh secara signifikan terhadap vegetasi mangrove karena vegetasi mangrove mampu menoleransi peningkatan temperatur air (Kusmana, 2003).

Tabel 4. 2. Hasil uji lanjut BNT untuk variabel suhu air tiap zona pengamatan (I) Zona (J) Zona Standar galat Signifikansi Kontrol Dalam 0,924 0,019* Tengah 0,924 0,791 Luar 0,924 0,083 Dalam Kontrol 0,924 0,019* Tengah 0,924 0,012* Luar 0,924 0,001* Tengah Kontrol 0,924 0,791 Dalam 0,924 0,012* Luar 0,924 0,131 Luar Kontrol 0,924 0,083 Dalam 0,924 0,001* Tengah 0,9242 0,131 *)

Berbeda signifikan pada taraf uji 0,05

Gambar 4. 1 diatas menunjukkan bahwa rata-rata suhu air habitat mangrove di tepi Sungai Donan tiap zona sekitar 29-33°C. Kementrian Lingkungan Hidup (2004) menetapkan suhu air yang baik untuk kawasan mangrove antara 28-32°C. Dengan demikian, suhu air pada zona kontrol, zona dalam, dan zona tengah masih baik untuk kehidupan dan perkembangbiakan biota pada mangrove, sedangkan zona luar memiliki rata-rata suhu air diatas baku mutu yang ditetapkan.

Berdasarkan hasil analisis sidik ragam (Tabel 4. 1) diketahui bahwa terdapat perbedaan yang signifikan pada tiap zona pengamatan, ditandai dengan nilai sig. < 0,05, yaitu sebesar 0,005. Untuk melihat zona mana yang berbeda dilakukan analisis pembandingan ganda dengan hasil seperti yang ditunjukkan oleh hasil uji lanjut BNT (Beda Nyata Terkecil) pada Tabel 4. 2. Perbedaan yang signifikan terdapat pada zona dalam dengan ketiga zona yang lain. Hal tersebut dikarenakan nilai selisih antara zona dalam dengan zona lainnya lebih kecil atau sama dengan nilai BNT. Rata-rata suhu perairan terendah sebesar 29°C terdapat pada zona

Gambar 4. 1. Rata-rata suhu air dan kandungan oksigen terlarut pada tiap zona pengamatan

Berdasarkan hasil analisis statistik uji beda menggunakan analisis sidik ragam, rata-rata suhu air dan kandungan oksigen terlarut antar zona pengamatan menunjukkan hasil sebagai berikut:

Tabel 4. 1. Analisis sidik ragam untuk variabel suhu air dan kandungan oksigen terlarut tiap zona pengamatan

Variabel Derajat Bebas Selang

Kepercayaan F Hitung Signifikansi

Suhu air 15 31,37±1,96 7,268 0, 005*

Oksigen terlarut 15 3,89±1,10 3,020 0,072

*)

Dokumen terkait