BAB II STUDI LITERATUR
II.2 Keraton Sumedang Larang
Gambar II.2 Ker aton Sumedan g Laran g
Sumber : in dovoices.com (diakses pada 14 jan uari 2022)
Keraton Sumedang Larang merupakan lembaga yang memiliki fungsi dalam pelestarian, perlindungan, dan pengembangan adat dan budaya yang berasal dari sejarah, geografis, dan adat istiadat baik berupa tata nilai maupun struktur, kedudukan, kekerabatan, dan kebendaan sebagai alat yang kokoh dalam pemajuan udaya bangsa ( Perda Kabupaten Sumedang No.1 tahun 2020). Selayaknya kerajaan yang memiliki raja keturunan dari raja-raja yang sebelumnya, keraton memiliki peran penting sebagai pusat pelestarian budaya para leluhur. Dalam Perda Kabupaten Sumedang nomor 1 tahun 2020 juga menjelaskan bahwa dalam menjalankan tugasnya Keraton Sumedang juga berfungsi sebagai pusat informasi, edukasi, kesejarahan, kebudayaan, karakter kesundaan dan kearifan lokal.
10 II.2.1 Museum Prabu Geusan Ulun
Museum Prabu Geusan Ulun sebelumnya memiliki nama Yayasan Pangeran Sumedang yang mana telah didirikan pada tanggal 13 maret tahun 1973. Museum Prabu Geusan Ulun memiliki peran untuk merawat dan menjaga benda-benda peninggalan para leluhur dengan rentan waktu dari tahun 1468-1919, yaitu sejak masa Kerajaan Tembong Agung hingga masa para Bupati Sumedang yang mana saat ini berjumlah 1977 koleksi (Radita, 2017). Peran dari Museum Prabu Geusan Ulun bukan hanya sekedar untuk menjaga nilai-nilai budaya, namun harus dapat melestarikan nilai-nilai budaya itu kepada generasi muda. Dalam rangka pelestarian adat, budaya, seni, dan pusaka para leluhur, Museum Prabu Geusan Ulun rutin mengadakan kegiatan adat berupa atraksi wisata pusaka yang bernama Ngubah Pusaka dan Kirab Pusaka yaitu pencucian dan perawatan pusaka pada awal bulan Rabiul Awal atau bulan mulud ( Radita,2017). Kegitan adat yang dilakukan oleh Museum Prabu Geusan Ulun ini diharapkan dapat menjadi daya tarik wisata sejarah di Sumedang serta memperkenalkan benda-benda bersejarah peninggalan para leluhur ke generasi penerus.
Gambar II.3 Koleksi Museum Prabu Geusan Ulun Kereta Naga Paksi sumber: jeryanuar.web.id (diakses pada 14 januari 2022)
Berikut ini merupakan beberapa koleksi benda pusaka berdasarkan data dari bidang sejarah dan silsilah Museum Prabu Geusan Ulun :
1. Pedang Ki Mastak (721 – 778) Masa Prabu Tajimalela Raja Sumedang Larang I
11 2. Keris Ki Dukun (893 – 998) Masa Prabu Gajah Agung Raja Sumedang
Larang III
3. Mahkota Binokasih dan Siger (1578 – 1601) Masa Prabu Geusan Ulun Raja Sumedang Larang
4. Kujang (1578 - 1601) Masa Prabu Geusan Ulun Raja Sumedang Larang 5. Keris Panunggul Naga (1578-1601) Masa Prabu Geusan Ulun Raja
Sumedanglarang IX
6. Badik Curul Aul (1578 – 1601) Peninggalan Sanghyang Hawu Djaya Perkosa yang merupakan Senapati Sumedang Larang
7. Gamelan Pusaka Sari Oneng Mataram (1656 – 1706) Peninggalan Pangeran Panembahan
8. Keris Nagasra Panembahan (1656 – 1708) Masa Pangeran Panembahan Bupati Sumedang
9. Keris Nagasra Kusumadinata IX (1791 - 1828) Masa Pangeran Kusumadinata IX / Kornel Bupati Sumedang
10. Gamelan Parakan Salak (1832) Peninggalan Tuan Andriaan Walraven Holle yang merupakan seorang kepala perkebunan The Parakan Salak Sukabumi 11. Tempat Sirih dan Bokor (1836 – 1882) Peninggalan Pangeran Soeria
Koesoemah Adinata Bupati Sumedang 12. Kereta Kencana Naga Paksi (1990)
II.3 Batik
Menurut Jusri dan Idris (dalam Komarudin, 2019) Batik merupakan istilah yang diambil dari bahasa Jawa, yaitu ‘mba’ dan ‘tik’ sehingga tersusun kata ‘mbatik’
berarti ‘ngembat titik’ atau melemparkan titik. Sehingga kata ‘batik’ adalah membuat ‘titik-titik’.
Susanto (dalam Komarudin, 2019) menjelaskan secara etimologi istilah ‘membatik’
berarti membuat banyak cecek atau titik yang mana jika ditinjau secara terperinci garis dapat terwujud dari banyak titik. Oleh karena itu membuat banyak titik nantinya akan berupa sebuah garis dan dalam bahasa Jawa dikenal dengan istilah
‘nyorek’ (dengan pensil dan sejenisnya), ‘me-ngelowong’ (menggaris dengan
12 cairan lilin/malam), ‘me-nembok’ (menutp isian dengan canting besar atau jegul/bleber maupun dengan kuas).
Pengertian batik terus berkembang, namun secara umum batik dapat diartikan sebagai sebuah karya seni yang membutuhkan keterampilan dalam menggunakan teknik rintang celup dengan lilin/ malam pada media kain.
II.3.1 Batik Kasumedangan
Batik Kasumedangan merupakan nama lain dari batik yang berasal dari Sumedang.
Dalam sejarahnya membatik bukan tradisi dari Sumedang, oleh karena itu kemunculannya terhitung fenomenal. Menurut Aini Loita (2014), sejak kemunculannya batik Kasumedangan mengalami pasang surut hingga pada akhirnya mengalami kemajuan dan berkembang cukup pesat hingga sekarang.
Nafisa (2019) juga mengatakan bahwa sejak tahun 1990-an batik Kasumedangan muncul sebagai usaha daerah Sumedang untuk menampakkan ke khasanah budaya sunda yang sempat hilang termakan zaman. Hingga akhirnya batik Kasumedangan mengalami masa kejayaan pada tahun 2000-an. Hal ini terlihat dari semakin banyaknya pengerajin batik yang muncul, kreasi motif yang dihasilkan semakin beragam, dan meningkatnya peminat dari batik Kasumedangan baik lokal maupun mancanegara. Telah diidentifikasi tidak kurang dari 29 motif utama batik Kasumedangan yang telah diciptakan dan pengembangan motif hasil dari padu padan motif utama telah menghasilkan ratusan bentuk motif.
Adapun karakteristik dari batik kasumedangan menurut Aini Loita (2014) yaitu : 1. Batik Kasumedangan memiliki motif-motif yang terinspirasi dari sejarah
masyarakat Sumedang, kekayaan alam dan geografis Sumedang, serta ornamen-ornamen yang dibanggakan masyarakat Sumedang.
2. Penggunaan warna pada batik Kasumedangan cenderung bebas karena tidak ada warna khusus yang memiliki arti yang sakral.
3. Tampilan dari motif batik Kasumedangan bersifat dekoratif yang mana berfungsi untuk menghias kain baik disusun secara geometris maupun non geometris
13 4. Visualisasi dari motif batik Kasumedangan cenderung natural dan stilasi
dari bentuk yang sebenarnya
5. Batik Kasumedangan memiliki pola berupa ceplokan, lereng, abstrak dinamis, dan nongeometris.
6. Batik Kasumedangan memiliki pola yang naratif (berkisah) dan nonnaratif (tidak berkisah)
7. Teknik pembatikan dilakukan dengan dua acara yaitu teknik tulis dan teknik cap
8. Seluruh motif dari batik Kasumedangan bisa digunakan oleh berbagai kalangan masyarakat karena tidak memiliki motif larangan yang bersifat sakral, magis, atau spiritual-religious.
Gambar II.4 Pen ger ajin Batik Kasumedan gan
Sumber : dokumen tasi pr ibadi (diambil pada 8 jan uar i 2022)
Perkembangan yang terjadi pada batik Kasumedangan salah satunya berkat dukungan dari pemerintah baik daerah maupun pusat, yang mana telah mengeluarkan peraturan mengenai semua aspek aktivitas pewarisan budaya termasuk budaya membatik di Sumedang.
II.3.2 Motif-motif Batik Kasumedangan
Motif dari batik Kasumedangan tergolong hasil kreasi ulang masa kini yang terinspirasi dari kejayaan Sumedang pada masa kerajaan, disamping itu terdapat juga motif yang dipengaruhi oleh Yogyakarta, Solo, Cirebon dan Pekalongan (Nafisa, 2019).
14 Berikut ini adalah beberapa motif khas dari batik Kasumedangan :
1. Motif Mahkota Binokasih
Motif ini terinspirasi dari Mahkota Binokasih yang merupakan salah satu benda bersejarah peninggalan para raja Sunda yang saat ini tersimpan di Museum Prabu Geusan Ulun.
Gambar II.5 Motif Batik Mah kota Bin okasih
Sumber : batiksaca.blogsp ot.com (diakses pada 14 jan uar i 2022)
2. Motif Kembang Cangkok Wijaya Kusumah
Bunga Wijaya Kusumah menjadi inspirasi dari motif ini. Jenis bunga ini banyak tumbuh di wilayah Sumedang dan memiliki keunikan dan keindahan yang mana hanya mekar pada malam hari. Konon jika ada seseorang yang melihat bunga ini sedang mekar, maka orang tersebut akan mendapatkan sebuah keberuntungan.
Gambar II.6 Motif Batik Wija yakusumah
Sumber : batiksaca.blogsp ot.com (diakses pada 14 jan uar i 2022)
15 3. Motif Kuda Renggong
Motif ini terinspirasi dari Kuda Eenggong yang merupakan salah satu kesenian tradisional asal Sumedang. Kuda Renggong berasal dari kata
‘kuda’ dan ‘ronggeng’ yang berarti kuda yang dapat menari. Motif Kuda Renggong termasuk motif yang paling diminati karena visualisasi dari bentuk kuda yang menari terlihat cantik.
Gambar II.7 Motif Batik Daun Boled
Sumber : batiksaca.blogsp ot.com (diakses pada 14 jan uar i 2022)
4. Motif Lingga
Lingga merupakan sebuah monumen yang dipersembahkan untuk mengenang jasa-jasa Pangeran Arya Suya Atmadja (Pangeran Mekah).
Monumen ini di resmikan pada hari selasa tanggal 25 april 1922 oleh Mr.
De Fock.
Gambar II.8 Motif Batik Daun Boled
Sumber : fitinlin e.com (diakses pada 14 jan uari 2022)
16 5. Motif Hanjuang
Motif ini terinspirasi dari pohon Hanjuang, yang mana merupakan tumbuhan bersejarah di kabupaten Sumedang. Pohon ini ditanam oleh Eyang Embah Jaya Perkosa pada tahun 1585, sebelum berangkat menghalau pasukan Caruban Kahuripan yang ingin menyerang Kutamaya. Hanjuang di tanam sebagai tanda jika pohon tersebut tumbuh subur berarti Eyang Embah Jaya Perkosa menang dalam perang, namun jika pohon tersebut telah mati berarti ia telah gugur.
Gambar II.9 Motif Batik Han juan g
Sumber : batiksaca.blog sp ot.com (diakses pada 14 jan uar i 2020)
6. Motif Cadas Pangeran
Motif ini terinspirasi dari peristiwa bersejarah di Sumedang pada masa penjajahan Belanda. Cadas Pangeran merupakan sebuah jalan yang menjadi saksi bisu dari kekejaman Gubernur Jendral HW Daendles saat menjajah Indonesia. Berdasarkan dari cerita leluhur Sumedang, Saat itu Daendles dengan kejamnya memaksa pribumi bekerja menghancurkan batu cadas untuk membuka jalan.
17 Gambar II.9 Motif Batik Cadas Pan ger an
Sumber : jualbatiksumedan g.blogsp ot.com (diakses pada 14 jan uari 2022)
II.3.3 Teknik Membatik
Hingga saat ini ada beberapa teknik dalam pembuatan sebuah batik diantaranya yaitu :
1. Batik Tulis
Sesuai dengan namanya proses pembuatan batik dengan teknik ini dilakukan dengan cara menuliskan malam/lilin pada kain menggunakan alat yang disebut canting. Ukuran canting yang digunakan biasanya dimulai dari yang paling kecil yaitu ukuran 0 hingga canting yang paling besar berukuran 5. Terdapat beberapa cara untuk mengenali batik yang menggunakan teknik tulis, diantaranya bentuk pengulangan pada motif yang digunakan satu dengan lainnya tidak akan sama. Inilah menjadikan batik tulis lebih unik dari pada teknik batik lainnya.
Gambar II.10 Teknik Batik Tulis
Sumber : dokumen tasi pr ibadi (diambil pada 8 jan uari 2022)
18 Banyak yang beranggapan bahwa batik tulis menghabiskan banyak waktu dalam proses pembuatannya, namun hal itu tidak sepenuhnya benar karena proses pembuatan batik tulis bisa lebih cepat dibandingkan dengan teknik cap apabila penggunaan motif dan warnanya lebih sederhana (komarudin, 2019). Tingkat kerumitan dan kesederhanaan dari motif batik yang dipakai merupakan faktor yang mengakibatkan cepat atau lambatnya pengerjaan batik.
2. Batik Cap
Batik Cap merupakan batik yang teknik pembuatannya menggunakan alat cap terbuat dari tembaga untuk menghasilkan motif pada kain (Komarudin, 2019). Motif biasanya sudah dirancang pada alat cap sehingga pengerjaan batik dengan teknik ini bisa lebih cepat. Teknik ini merupakan salah satu solusi ketika konsumen menginginkan jumlah kain yang cukup banyak, corak yang seragam, dan harga yang relatif lebih murah dibandingkan dengan batik teknik tulis.
Dalam proses memprodusi batik cap dibutuhkan investasi yang besar diawal dibandingkan batik tulis. Investasi itu berupa pembutan meja pengecapan, pembelian loyang pengecapan yang terbuat dari tembaga dan pembelian gagang cap dengan berbagai variasi motif.
Gambar II.11 Teknik Batik Cap
Sumber : jakmall.com (diakses pada tan ggal 14 ja n uari 2022)
19 II.3.4 Alat dan Bahan Pembuatan Batik
Di setiap daerah alat-alat untuk membatik memiliki penamaan yang berbeda-beda, namun umumnya memiliki fungsi yang sama (Komarudin, 2019). Dalam proses untuk menghasilkan batik yang berkualitas, dianjurkan untuk menggunakan alat yang sesuai dengan standar spesifikasi perusahaan batik untuk meminimalisir terjadinya kegagalan produksi.
Alat-alat membatik yang digunakan antara lain : 1. Bak Pewarna
Bak pewarna digunakan ketika proses pewarnaan batik. Bahan yang digunakan untuk bak ini yaitu stainless steel atau kayu yang dilapisi dengan lilin/malam supaya Ketika diberi air tidak adan bocor.
Gambar II.12 Bak Pewarn a Batik
Sumber : Komar udin .2019 (diambil pada 18 jan uar i 2022)
2. Canting
Canting merupakan alat utama dalam pembuatan batik tulis. Alat ini mempunyai bentuk yang berbeda di beberapa tempat, namun pada dasarnya memiliki fungsi sama dan bahan yang digunakan tetap sama yaitu tembaga.
Canting memiliki spesifikasi ukuran panjang 10-12 cm dari ujung batang hingga ujung canting.
20 Menurut BSN (dalam Komarudin, 2019) standar ukuran canting tulis telah diatur dalam SNI, yang mana dijelaskan bahwa canting tulis dibagi menjadi 3 yaitu canting tulis isen, canting tulis klowongan, dan canting tembokan.
Diluar dari standar ini , beberapa pengerajin menggunakan canting dengan ukuran dan bahan yang berbeda menyesuaikan dengan goresan yang ingin dihasilkan.
Gambar II.13 Can tin g
Sumber : Komar udin .2019 (diambil pada 18 jan uar i 2022)
3. Cap Batik
Cap batik merupakan alat yang digunakan dalam proses pembuatan batik cap. Alat ini biasanya dibuat dari tembaga yang sudah dibentuk sesuai dengan rancangan motif, sehingga dalam proses membatik hanya perlu menempelkan cap batik dengan malam ke atas permukaan kain.
Gambar II.14 Alat Cap Batik
Sumber : dokumen tasi pr ibadi (diambil 8 jan uar i 2022)
21 4. Malam Atau Lilin Batik
Dalam proses pembuatan batik dianjurkan untuk menggunakan malam dengan kualitas bagus, yang mana bagus pada tingkat kekuatan melekat di kain serta bagus kualitas kebersihan dari malam/ lilinnya. Formula pada malam/lilin biasanya berbeda-beda tiap daerah, hal ini dikarenakan kondisi cuaca setempat ikut berpengaruh pada kualitas malam/lilin.
Gambar II.15 Malam/Lilin
Sumber : failfair e.or g (diakses pada 14 jan uari 2022)
5. Kompor Batik
Kompor batik merupakan alat yang digunakan untuk memanaskan malam/lilin. Biasanya kompor batik menggunakan sumber gas LPG baik dengan ukuran 3kg maupun 5kg, namun saat ini sudah ada yang menggunakan kompor dengan sumber arus listrik (Komarudin, 2019). Suhu panas pada kompor harus disesuaikan karena jika lilin di panaskan terus menerus sehingga menjadi terlalu panas, tetesan lilin akan sulit untuk di kontrol dan goresannya akan melebar. malam/lilin yang terlalu panas juga dapat membahayakan pengerajin batik, oleh karena itu perlu untuk memilih jenis kompor yang mudah untuk diatur suhunya.
22
Gambar II.16 Kompor Batik Listr ik
Sumber : astoetik.co.id (diakses pada 14 jan uar i 2022)
6. Wajan Malam/Lilin
Alat ini digunakan sebagai tempat memanaskan malam/lilin pada saat proses membatik. Ukuran wajan yang digunakan saat proses ini sangat bervariatif, namun tidak perlu berukuran besar.
Gambar II.17 Wajan Malam/Lilin
Sumber : Komar udin .2019 (diambil pada 18 jan uar i 2022)
7. Pewarna Batik
Terdapat dua jenis pewarna batik yang digunakan di Indonesia, yaitu pewarna alam dan pewarna sintetis ( Komarudin,2019). Jenis pewarna sintetis yang umumnya dipakai pengerajin batik, yaitu naphtol, indigosol, dan remasol (procion).
23 Gambar II.18 Pewarn a Sin tetis Batik
Sumber : Komar udin .2019 (diambil pada 18 jan uar i 2022)
II.3.5 Teknik Pewarnaan Batik
Pewarnaan merupakan salah satu faktor terpenting dalam proses pembuatan batik karena sebagus apapun proses mencanting pada batik dibuat, jika menggunakan warna yang salah maka nilai estetika pada batik akan berkurang. Di Indonesia sendiri proses produksi batik dikenal menggunakan dua pewarna, yaitu pewarna alam dan pewarna sintetis diantaranya naphtol, indigosol, dan remasol. Beragam jenis pewarna ini memerlukan perlakuan yang berbeda dan kualitas dari warna yang dihasilkan juga akan berbeda. Menurut Komarudin (2019) ada kalanya pengerajin batik akan mengalami kesulitan dalam proses mencari warna-warna tertentu andaikan ada permintaan konsumen yang menginginkan warna tertentu.
Pemahaman akan peracikan warna baik pewarna alam maupun pewarna sintetis sangat diperlukan dalam proses pewarnaan batik agar warna yang dihasilkan sesuai dengan yang diinginkan.
1. Pewarna Alam
Pewarna alam merupakan jenis pewarna yang dihasilkan dari kekayaan alam seperti tanaman, hewan, mineral alam, batu, dan tanah yang menghasilkan zat pewarna (Komarudin, 2019). Pewarna alam yang berasal dari tumbuhan bisa didapatkan dari hasil ekstraksi pada bagian tanaman seperti bunga, biji, daun, batang dan akar. Warna alami yang dihasilkan dari tumbuhan sangat beragam, hal ini disebabkan oleh bebrapa faktor seperti umur tanaman, jenis tumbuhan, lokasi tumbuhan dan sebagainya.
24 2. Pewarna Sintetis
Secara umum pewarna sintetis memiliki kualitas daya pewarnaan yang lebih tinggi dibandingkan dengan pewarna alam sehingga untuk menghasilkan tingkat warna tertentu akan lebih cepat dan mudah (Komarudin, 2019).
Perlakuan dalam mengolah berbagai pewarna sintetis juga berbeda-beda terutama jika mengolahnya pada kain yang memiliki kandungan polyester.
Berikut ini adalah beberapa zat pewarna sintetis yang dikenal dalam dunia pembatikan :
a. Napthol
Zat pewarna ini memiliki ciri khas yang mana dapat menghasilkan warna-warna yang gelap dan kontras. Dalam memperoleh warna yang diinginkan menggunakan napthol diperlukan keahlian dalam meracik dan memadukan unsur-unsur napthol dengan garamnya, yang mana kode As pada napthol berfungsi untuk mengatur gelap terangnya warna sedangkan garam berfungsi untuk menentukan jenis warna yang diharapkan.
Cara pembuatan larutan pewarna napthol menurut (Komarudin, 2019) sebagai berikut :
1) Pewarna napthol ditimbang, kemudian dicampur soda kostik dengan perbandingan gramnase napthol + ½ gramnase soda krostik, dimasukkan ke dalam ember dengan ukuran 2-3 liter dan dilarutkan dengan air panas.
2) Napthol dan soda kostik yang sudah larut dengan baik ditandai dengan warna yang bening karena ini menunjukkan larutan sudah menyatu. Jika warna yang dihasilkan tidak bening, maka hal yang harus di perhatikan lagi yaitu komposisinya, suhu air yang digunakan, dan cara mengaduknya.
3) Selanjutnya, garam diazo (Lo0g 38° Be) dengan ukuran dua kali dari gramnase napthol dilarutkan dengan menggunakan air yang dingin, dimasukkan ke dalam ember berbeda dengan ember larutan napthol
25 b. Indigosol
Indigosol menghasilkan warna yang cenderung soft/pastel atau berwarna lembut. Pada prosesnya indigosol harus menggunakan ultraviolet dari sinar matahari untuk mengaktifasi foton yang ada pada larutan zat indigosol (Komarudin,2019). Penggunaan indigosol berpotensi gagal jika tidak mendapatkan sinar matahari, oleh karena itu jika cuaca tidak mendukung pengerajin batik akan lebih memilih tidak menggunakan pewarna jenis ini.
Cara menggunakan zat pewarna indigosol menurut (Komarudin, 2019) sebagai berikut :
1) Bubuk zat indigosol dibuat menjadi pasta dengan sedikit air, lalu dimasukan ke ember plastik dengan ukuran 2-3 liter.
2) Kemudian larutkan dengan air panas dengan suhu 50-60° C secukupnya, diaduk sampai larut dan jernih. Natrium nitrit dilarutkan lalu di campur dengan larutan zat warna.
3) Tambahkan dengan air dingin secukupnya.
4) Celupkan kain saat larutan sudah dingin.
5) Angkat kain dari larutan, diatuskan sebentar diatas bak.
6) Jemur pada sinar matahari terbuka agar membatu warna timbul.
7) Dibangkitkan (disareni) dengan larutan asam klorida atau asam sulfat dalam keadaan dingin.
8) Dicuci.
c. Zat Warna Reaktif (Procion)
Di Indonesia zat warna reaktif (procion) banyak dikenal dengan nama remasol. Zat pewarna ini tergolong paling mudah digunakan dan cocok untuk pemula. Hal ini karena warna dari bubuk procion sudah mewakili warna akhir yang akan dihasilkan. Menurut Komarudin (2019) zat warna procion sangat menarik, karena pewarnaan dapat digunakan dengan teknik gradasi. Disaat kondisi masih basah dua unsur warna procion dapat di padu padan sehingga menghasilkan warna yang baru.
26 Cara pembuatan larutan zar pewarna reaktif/ procion menurut (Komarudin, 2019) sebagai berikut :
1) Zat pewara dibuat mejadi pasta dengan menambahkan sedikit air ke dalam ember kecil. Setelah diaduk, beri air dingin secukupnya untuk melarutkan dan aduk kembali.
2) Sediakan air yang sudah dicampur dengan garam dapur dan soda ash ke dalam bak celup. Kemudian campurkan juga larutan zat pewarna, lalu aduk hingga rata.
3) Celup kain kedalam larutan.
4) Kain di balik (dilipat- dibalik) agar warna pada kain merata.
5) Atuskan kain dan diangin-anginkan hingga kering.
6) Ulangi pencelupan hingga 2-3 kali.
7) Cuci kain dan selanjutnya kain di lorod.
II.3.6 Komposisi Motif Batik
Pengkomposisian motif batik bertujuan untuk mengatur layout (tata letak) dan penempatan dari berbagai motif berdasarkan dari ukuran, bentuk, dan jenis motifnya. Komposisi pada perancangan motif batik di perlukan agar susunan dari motif batik terlihat serasi dan harmonis. Menurut A. A .M. Djelantik (dalam Komarudin, 2019) istilah lain dari komposisi adalah struktur. Suatu karya pastinya memiliki struktur sebagai unsur dari keseluruhan perancangan karya. Terdapat tiga unsur estetik dasar dalam perancangan suatu karya, yaitu:
1. Keutuhan atau Kebersatuan (Unity)
Suatu karya yang indah dapat menunjukkan sifat keutuhan dalam keseluruhannya, yang berarti tidak ada unsur yang kurang atau berlebihan (Komarudin, 2019). Keanekaragaman unsur biasanya akan membuat suatu karya menjadi sangat menarik. Namun hal sebaliknya terjadi jika suatu karya memilki keanekaragaman yang berlebihan, yang mana keindahan dari karya tersebut akan berkurang. Ada tiga macam kondisi yang dapat memperkuata keutuhan (unity) pada suatu karya, yaitu :
27 a. Simetri (Simetry)
Dalam motif batik simetri bisa didapat apabila suatu kesatuan dibagi-bagi dengan suatu garis tegak lurus (garis vertikal) menjadi dua bagian yang sama besar, bentuk, dan wujudnya. Belahan satu merupakan cerminan dari belahan yang satunya lagi (Komarudin, 2019). Simetri dianggap dapat memberikan memudahan bagi seniman dalam membuat motif karena waktu pengerjaan sketsanya bisa lebih cepat, namun terkadang bisa terasa membosankan. Hal ini menyebabkan beberapa seniman batik sengaja membuat komposisi yang asimetri ( tidak simetri) agar daya tarik seninya bertambah.
Gambar 2.19 Sketsa Motif Batik Pola Simetr i Sumber : Komar udin .2019 (diambil pada 18 jan uar i 2022)
Gambar 2.20 Sketsa Motif Batik Pola A -Simetr i Sumber : Komar udin .2019 (diambil pada 18 jan uar i 2022)
28 b. Ritme/irama ( rhytm)
Ritme atau irama merupakan keadaan yang menunjukkan suatu unsur yang diulang-ulang secara teratur (Komarudin, 2019). Ritme juga memiliki peran yang penting dalam pembuatan motif batik baik tulis maupun cap, namun jika ritme yang sama di ulang terus-menerus (konstan) tanpa adanya perubahan akan mengakibatkan motif terasa membosankan dan daya tarik serta nilai estetiknya pun dapat berkurang. Oleh karena itu di perlukan menambah variasi dan keunikan dalam ritme pada pembuatan batil.
Gambar II.21 Sketsa Motif Batik Pola Ritme Sumber : Komar udin .2019 (diambil pada 18 jan uar i 2022)
c. Harmoni/ keselarasan (harmony)
Harmoni merupakan keselarasan antara setiap bagian datu komponen yang disusun untuk menjadi sebuah kesatuan dan setiap
Harmoni merupakan keselarasan antara setiap bagian datu komponen yang disusun untuk menjadi sebuah kesatuan dan setiap