HASIL DAN PEMBAHASAN
3. Kerentanan Ekonomi (VE)
Parameter yang digunakan untuk menilai kerentanan ekonomi adalah luas lahan produktif dalam rupiah (sawah, perkebunan, lahan pertanian) dan PDRB. Luas lahan produktif dapat diperoleh dari data penggunaan lahan dan data pertanian dari Kabupaten atau Kecamatan Dalam Angka 2014 dan dikonversi kedalam rupiah, sedangkan data PDRB dapat diperoleh dari data Kabupaten Agam Dalam Angka 2014.
a. Lahan Produktif
Lahan produktif yang dimaksud adalah lahan‐lahan yang menghasilkan sesuatu bernilai ekonomi yaitu : kehutanan (hutan produksi), perikanan, tanaman bahan pangan, tanaman perkebunan, dan pertambangan. Dalam penelitian ini lahan produktif hanya diambil dari informasi bahan pangan dan perkebunan. Informasi nilai rupiah dari masing‐masing jenis komoditi (per Kabupaten) didapat dari data Kabupaten Dalam Angka 2104, atau data BPS pada bagian PDRB. Untuk mendapatkan masing‐masing nilai rupiah/ha dari tipe lahan produktif maka dilakukan dengan cara membagi nilai rupiah dari masing‐masing tipe lahan produktif (seluruh kabupaten) dengan luasan lahan produktif (seluruh kabupaten) tersebut. Setelah itu, untuk mendapatkan nilai rupiah per kecamatan dari masing-masing tipe lahan produktif maka dilakukan dengan mengalikan nilai rupiah dari masing-masing tipe per ha dengan luasan kecamatan.
Dengan ketersediaan data spasial penggunaan lahan tersebut, yang ditambahkan dan dikombinasikan dengan data luas panen, produksi, dan rata-rata produksi, maka dapat dilakukan analisis untuk melihat secara spasial distribusi estimasi produksi lahan produktif yang ada pada tiap-tiap kecamatan di daerah penelitian (Gambar 30). Perhitungan nilai lahan produktif pada masing-masing komoditas diperhitungkan berdasarkan data produksi (Ton) dan luas panen (Ha) untuk mendapatkan nilai estimasi rata-rata produksi di setiap hektar lahan produktif (Ton/Ha).
(a)
(b)
Gambar 30. Estimasi Luas Lahan Produktif (a) Tanaman Perkebunan (b) Tanaman Pangan Kabupaten Agam
b. PDRB
Pertumbuhan ekonomi setiap tahun merupakan agregat dari pertumbuhan sektor-sektor dan sub sektor ekonomi atau lapangan usaha. Untuk melihat kinerja masing-masing sektor atau sub sektor ekonomi dapat dilihat perkembangan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) sektoral. PDRB merupakan hasil penjumlahan dari seluruh nilai tambah (produk barang dan jasa yang diproduksi di suatu wilayah tertentu dalam waktu tertentu). Perkembangan yang terjadi di masing-masing sektor ekonomi dapat lebih pesat atau lebih lambat dibandingkan dengan perkembangan PDRB secara total. Artinya pertumbuhan nilai tambah masing-masing sektor atau sub sektor yang terjadi selama satu periode tertentu akan menunjang pertumbuhan ekonomi suatu wilayah secara keseluruhan pada periode tersebut.
Data PDRB yang digunakan dalam penelitian ini yaitu PDRB Kabupaten Agam Tahun 2010- 2013 atas dasar harga berlaku yang secara spasial disajikan pada Gambar 31. PDRB atas dasar harga berlaku adalah PDRB yang menggambarkan nilai tambah barang dan jasa yang dihitung dengan menggunakan harga pada tahun bersangkutan (harga yang terjadi setiap tahunnya).
Gambar 31.Indikator Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)
Untuk mendapatkan PDRB per kecamatan di Kabupaten Agam tersebut maka dilakukan dengan cara membagi nilai rupiah PDRB (seluruh kabupaten) dengan luasan kabupaten dikali dengan luas kecamatan. Selanjutnya secara umum hasil perhitungan terkait estimasi nilai luas lahan produktif dan PDRB di wilayah Kabupaten Agam disajikan dalam Tabel 15. Standarisasi nilai perhitungan konversi ke dalam nilai absolut, menunjukkan bahwa semakin besar nilai luas
lahan produktif dan semakin besar nilai PDRB, maka hal ini menunjukkan tingkat Kerentanan Ekonomi di daerah penelitian akan semakin tinggi dimana nilai absolut mendekati 1. Sebaliknya, semakin kecil nilai luas lahan produktif dan semakin kecil nilai PDRB, maka Kerentanan Ekonomi menjadi semakin rendah atau nilai absolut mendekati 0.
Tabel 15. Estimasi perhitungan nilai luas lahan produktif dan PDRB di Kabupaten Agam (Sumber: Kabupaten Dalam Angka, BPS 2014) Kecamatan
Luas Lahan Produktif (Juta RP/Ha) Total Luas Lahan Produktif (Juta
RP/Ha)
PDRB Perkebunan
Tanaman Bahan Pangan
Ampek Nagari 12.512 14.249 26.760 487.036 Banuhampu 7.214 134.882 147.393 122.781 Baso 34.454 256.144 268.655 181.221 Candung 10.754 124.708 137.219 94.362 IV Koto 18.723 84.196 96.707 144.194 Kamang Magek 17.019 108.835 121.347 156.905 Lubuk Basung 1.204 5.621 18.133 473.678 Malalak 8.793 25.216 37.728 195.933 Matur 18.731 96.222 108.734 167.103 Palembayan 36.290 93.867 106.379 603.931 Palupuh 36.568 88.334 100.846 436.246 Tanjung Raya 9.422 67.901 80.412 247.030 Tilatang Kamang 22.979 141.031 153.543 99.993 Total 234.663 1.241.206 1.403.857 3.410.413
Tabel 16. Matriks penilaian komposit pada bobot indikator Kerentanan Ekonomi di daerah penelitian
LP PDRB Bobot
LP 1 4.04 0.80
PDRB 0.25 1 0.20
Keterangan: LP: Luas Lahan Produktif, PDRB : Pendapatan Daerah Regional Bruto.
Untuk mendapatkan nilai kerentanan ekonomi secara total maka dilakukan pembobotan. Hasil pembobotan (Tabel 16) menunjukkan bahwa parameter lahan produktif (LP) mempunyai bobot lebih tinggi yakni mempunyai nilai 0.80 pada skala maksimal 1, sedangkan untuk PDRB mempunyai nilai bobot lebih rendah sebesar 0.20. Dengan demikian tingkat Kerentanan Ekonomi (VE) di daerah penelitian, dapat diperhitungkan dengan menggunakan formula VE = ((0.80 * LP) + (0.20 * PDRB)). Hasil perhitungan tersebut secara spasial dapat ditunjukkan pada Gambar 32. Beberapa lokasi yang memiliki tingkat KerentananEkonomi tinggi adalah Kecamatan-kecamatan Baso, Palupuh, Palembayan. Sebaliknya lokasi-lokasi yang memiliki tingkat Kerentanan Ekonomi rendah yaitu di Kecamatan-kecamatan Kamang Magek, Tilatang Kamang, Banuhampu, IV Koto, Malalak, Matur, Tanjung Raya, Ampek Nagari.
Dalam konteks bencana alam, kerentanan ekonomi menggambarkan peluang kehilangan sumber pendapatan dan aset akibat bencana alam, beban utang/kredit akibat bencana alam, ketidakmampuan mengakses sumber pendapatan, dan kebutuhan sandang papan yang taktercukupi. Tingkat kerentanan ekonomi sangat bergantung pada status ekonomi dari masyarakat dan komunitas. Dimana tingkat ekonomi masyarakat maupun pendapatan daerah khusus Kabupaten Agam yang lemah pada umumnya akan meningkatkan tingkat kerentanan ekonomi. Selain itu keterbatasan akses terhadap infrastruktur pendukung perekonomian seperti akses jalan, perbankan, pasar juga berpengaruh pada tingkat kerentanan ekonomi.
Gambar 32. Zonasi perhitungan total Kerentanan Ekonomi (VE) Kabupaten Agam dari Penggabungan Total Indikator Lahan Produktif (LP) dan PDRB di Daerah Penelitian.
4. Kerentanan Lingkungan
Parameter yang digunakan untuk kerentanan lingkungan adalah penutupan lahan, hutan lindung, dan hutan alam. Selanjutnya dilakukan estimasi perhitungan kelas luas hutan lindung dan estimasi kelas luas hutan alam. Hasil standarisasi nilai perhitungan yang dikonversi ke dalam nilai absolut menunjukkan bahwa semakin besar nilai luas hutan lindung dan hutan alam, maka akan menggambarkan kerentanan yang semakin tinggi atau nilai absolut tersebut mendekati 1, sedangkan semakin kecil nilai absolut atau mendekati 0, maka Kerentanan Lingkungan semakin rendah.
Hasil pembobotan pada Tabel 17 menunjukkan bahwa parameter luas lahan hutan lindung merupakan kriteria paling penting (bobot tertinggi) dengan nilai 0.61 pada skala maksimal 1, sedangkan pada parameter luas hutan alam mempunyai nilai bobot sebesar 0.39. Untuk menilai tingkat Kerentanan Lingkungan (VL) daerah penelitian digunakan formula VL = ((0.61 * HL) + (0.39* HA)). Hasil perhitungan tersebut secara spasial ditunjukkan pada Gambar 33 dan 34.
Gambar 33. Zonasi Indikator Estimasi Kelas Luas Hutan Alam Dalam Penentuan Kerentanan Lingkungan (VL) di Daerah Penelitian
Gambar 34. Zonasi Indikator Estimasi Kelas Luas Hutan Lindung Dalam Penentuan Kerentanan Lingkungan (VL) di Daerah Penelitian.
Tabel 17. Matriks penilaian komposit pada bobot indikator Kerentanan Lingkungan di daerah penelitian
HL HA Bobot
HL 1 1.59 0.61
HA 0.63 1 0.39
Keterangan: HL: hutan lindung,HA: Hutan Alam.
Secara keseluruhan hasil penilaian tingkat kerentanan Lingkungan Kabupaten Agam menunjukkan tingkat Kerentanan Lingkungan yang tinggi terutama di Kecamatan-kecamatan, seperti: Kamang Magek, Palupuh, Malalak, IV Koto, IV Nagari, Tanjung Raya. Adapun beberapa lokasi di daerah penelitian memiliki tingkat kerentanan lingkungan yang rendah terutama pada pusat-pusat Kota/Kecamatan, seperti: Kecamatan Baso, Canduang, Banuhampu, Palembayan Gambar 35.
Gambar 35. Zonasi Perhitungan Total Kerentanan Lingkungan (VL) dari Penggabungan Kelas Hutan Alam dan Kelas Hutan Lindung di Daerah Penelitian