• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kerentanan Kemiskinan 1. Elastisitas

Dalam dokumen V. TIPOLOGI KEMISKINAN DAN KERENTANAN (Halaman 65-71)

5.7. Pantai/Pesisir

5.7.2. Kerentanan Kemiskinan 1. Elastisitas

Dengan menggunakan garis kemiskinan BPS, ternyata 18.3 persen rumahtangga pada agroekosistem pantai/pesisir termasuk kedalam kelompok miskin. Selanjutnya, untuk mengetahui bagaimana insiden kemiskinan sekitar garis kemiskinan yang diasumsikan rentan terhadap garis kemiskinan maka disimulasikan garis kemiskinan naik 10 persen dan 20 persen. Dari simulasi tersebut diperoleh hasil perubahan indikator-indikator kemiskinan, persentase perubahan dan elastisitasnya disajikan pada tabel berikut ini.

Dengan skenario GK naik 10 persen (GK*110 persen), yang terjadi pada Headcount Index (P0) di ekosistem pantai/pesisir adalah peningkatan proporsi insiden kemiskinan dari 12.9 persen menjadi 18.3 persen. Dibanding dengan nasional, presentase perubahan P0 pantai/pesisir (41.8 persen) lebih kecil dari pada persentase P0 nasional (43.5 persen).

Tabel 29. Indikator dan Elastisitas Kemiskinan

Indikator GK GK*110% GK*120%

Nilai Nilai Elastisitas Nilai Elastisitas P/P Nas P/P Nas P/P Nas P/P Nas P/P Nas P0 12.9 13.1 18.3 18.8 4.19 4.35 24.6 25.0 4.53 4.54 P1 2.4 2.3 3.6 3.6 5.00 5.65 5.1 5.1 5.63 6.09 P2 0.7 0.7 1.1 1.1 5.71 5.71 1.6 1.6 6.43 6.43 Sumber: Hasil Perhitungan

Keterangan: GK = garis kemiskinan P/P= pantai/pesisir Nas = nasional

Lebih lanjut, dengan skenario GK*110 persen, yang terjadi pada Poverty

yang jatuh miskin, kondisi mereka pun makin jauh dari garis kemiskinan, sehingga makin banyak effort yang diperlukan untuk mengangkat mereka melampaui batas miskin. Namun, dibanding dengan nasional, presentase perubahan P1 pantai/ pesisir (50.0 persen) relatif lebih kecil daripada persentase P1 nasional (56.0 persen).

Secara grafik, distribusi frekuensi pengeluaran rumah tangga di Pantai/Pesisir dapat dilihat pada Gambar 11. Pola yang sama terjadi pada Poverty Severity Gap Index (P2) yang meningkat dari 0.7 menjadi sebesar 1.1 pada GK*110 persen. Presentase perubahan P2 pantai/pesisir (57.1 persen) sama dengan persentase P1 nasional (57.1 persen).

Gambar 11: Distribusi Frekuensi Pengeluaran Rumahtangga di Pantai/Pesisir

Dengan skenario GK naik 20 persen (GK*120 persen), yang terjadi pada Headcount Index (P0) pada pantai/pesisir adalah peningkatan proporsi insiden

Rumahtangga

GK = 89.100 GK 10 % = 98.800 GK 20 % = 122.800

Kurva Normal

Sumber : Susenas 2004, Podes 2003 dan Garis Kemiskinan 2004. Data Diolah

Distribusi Frekuensi

Pengeluaran (Rp)

dari dua kali persentase perubahan pada GK*110 persen. Dibanding dengan nasional, presentase perubahan P0 pantai/pesisir (90.6 persen) lebih kecil persentase perubahan P0 nasional (90.8 persen).

Kemudian, pada Poverty Gap Index (P1) yang meningkat dari 2.4 menjadi 5.1, jika GK naik 20 persen. Artinya, selain makin banyak yang jatuh miskin, kondisi mereka pun makin jauh dari garis kemiskinan, sehingga makin banyak upaya-upaya yang harus harus dilakukan untuk mengangkat mereka melampaui batas minimum kebutuhan hidup.

Laju perubahan peningkatan persentase P1 juga meningkat dua kali laju perubahan P1 pada GK*110 persen. Namun, Pola yang sama terjadi pada Poverty Severity Gap Index (P2) yang meningkat dari 0.7 menjadi sebesar 1.6 pada GK*120 persen. Laju perubahan peningkatan persentase P2 meningkat lebih dari dua kali laju perubahan P2 pada GK*110 persen. Persentase perubahan P2 pantai/pesisir (128.5 persen) sama dengan persentase P1 nasional (128.5 persen). Jika dicermati lebih jauh, dengan menggunakan dua skenario ini, dimana diasumsikan kenaikan bundel harga-harga barang dan jasa mendorong garis kemiskinan naik 10 persen dan 20 persen, maka pada GK*110 persen diperoleh elastisitas terhadap perubahan garis kemiskinan ini sebesar 4.19 untuk P0, 5.00 untuk P1, dan 5.71 untuk P2. Kemudian, pada GK*120 persen, diperoleh elastisitas terhadap perubahan garis kemiskinan ini sebesar 4.53 untuk P0, 5.63 untuk P1, dan 6.43 untuk P2.. Tabel 29 menunjukkan bahwa dengan elastisitas lebih besar dari satu, maka pada agroekosistem pantai/pesisir dapat dikatakan memiliki sensitivitas peningkatan proposi kemiskinan, kedalaman dan keparahan yang relatif tinggi. Dibanding dengan nasional, elastisitas untuk P0, P1, dan P2

menunjukkan sensitivitas yang lebih kecil, kecuali P2 pada GK*120 persen

elastisitas indikator kemiskinan pada pantai/ pesisir sama dengan elastisitas kemiskinan pada nasional.

5.7.2.2. Sifat Kemiskinan

Model regresi pengeluaran konsumsi rumah tangga miskin dirancang untuk mengetahui sifat kemiskinan. Hasil regresi untuk daerah kawasan pantai pesisir, menghasilkan model yang nyata secara statistik (Lampiran 7). Hasil analisis sifat kemiskinan dengan menggunakan model regresi ini memperoleh gambaran kemiskinan sebagai berikut: 2.77 persen miskin kronis dan 10.11 persen miskin tidak kronis. Maknanya, 10.11 persen rumahtangga ini dapat ditingkatkan pendapatannya atau dikurangi pengeluarannya dengan meningkatkan beberapa variabel yang berpengaruh. Selanjutnya, 2.77 persen rumahtangga yang miskin ini dikatagorikan kronis atau kemiskinan struktural yang untuk pengentasannya memerlukan upaya-upaya yang lebih besar.

Dibanding model nasional, persentase proporsi rumah tangga pada agroekosistem pantai/pesisir lebih kecil, dimana mempelihatkan sebanyak 13.1 persen miskin (2.2 persen miskin kronis, dan 10.9 persen tidak kronis).

Tabel 30. Sifat Kemiskinan Agroekosistem Pantai/Pesisir

GK GK*110% GK*120% Sumber : Hasil Perhitungan;

Keterangan : GK = Garis Kemiskinan Nas = Nasional

Untuk mengetahui sifat kemiskinan rumahtangga di sekitar garis kemiskinan, maka disimulasikan garis kemiskinan meningkat sebesar 10 persen.

Hasil regresi untuk agroekosistem pantai/pesisir dengan garis kemiskinan ditingkatkan 10 persen, menghasilkan model yang nyata secara statistik dengan model seperti pada Lampiran 15. Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa terdapat peningkatan persentase rumahtangga miskin menjadi sebesar 18.3 persen rumahtangga miskin (5.6 persen miskin kronis dan 12.8 persen miskin tidak kronis). Artinya, 12.8 persen rumahtangga ini berpotensi ditingkatkan pendapatannya dengan meningkatkan beberapa variabel yang berpengaruh sehingga tingkat konsumsi rumahtangga ini bisa meningkat. Sementara itu, 5.6 persen rumahtangga dikatagorikan kronis atau terjebak dalam kemiskinan.

Hasil regresi untuk agroekosistem pantai/pesisir dengan garis kemiskinan ditingkatkan 20 persen, menghasilkan model yang nyata secara statistik dengan model seperti pada Lampiran 22. Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa terdapat peningkatan persentase kemiskinan menjadi sebesar 24.6 persen rumahtangga miskin (15.1 persen miskin kronis dan 9.5 persen miskin tidak kronis). Namun, dibanding dengan model nasional, peningkatan proporsi persentase rumahtangga miskin ini masih lebih kecil, dimana model nasional menunjukkan peningkatan menjadi sebesar 25 persen rumahtangga miskin (8.7 persen miskin kronis dan 16.3 persen miskin tidak kronis). Jika dianalisis lebih jauh, ada pengaruh dari kenaikan garis kemiskinan sebesar 10 persen dan 20 persen terhadap sifat kemiskinan keluarga miskin, pada agroekosistem pantai/pesisir.

Tabel 31 menunjukkan, bahwa laju perubahan rumahtangga miskin kronis melebihi angka 100 persen pada agroekosistem ini. Artinya, dengan meningkatnya garis kemiskinan sebesar 10 persen maka jumlah keluarga miskin kronis bertambah lebih dari dua kali lipat (102.2 persen) dari angka sebelumnya.

Tabel 31. Perubahan Sifat Kemiskinan Pada Agroekosistem Pantai/Pesisir

Keterangan : GK = Garis Kemiskinan

Apabila garis kemiskinan ditingkatkan 20 persen, akan berakibat peningkatan keluarga miskin kronis mencapai 243 persen, namun lebih kecil daripada nasional (291.9 persen). Selanjutnya, dari hasil perhitungan perbedaan pengeluaran per kapita dengan kondisi garis kemiskinan biasa ternyata persentase perbedaan pengeluaran per kapita terhadap garis kemiskinan pada golongan miskin kronis (berdasarkan rataan), secara umum diperoleh diatas 40 persen (Tabel 32). Sedangkan untuk golongan tidak miskin (berdasarkan median), untuk seluruh Indonesia, perbedaan golongan tidak miskin terhadap garis kemiskinan sebesar 85.8 persen. Agroekosistem pantai/pesisir memiliki beda lebih kecil (dibawah 70 persen). dibanding nasional.

Untuk kondisi garis kemiskinan ditingkatkan 10 persen, persentase perbedaan pengeluaran per kapita terhadap garis kemiskinan pada golongan miskin kronis (berdasarkan rataan) di atas 40 persen untuk pantai/pesisir.

Sedangkan untuk golongan tidak miskin (berdasarkan median), pada tingkat nasional, perbedaan golongan tidak miskin terhadap garas kemiskinan sebesar 76.6 persen, sementara pada pantai/pesisir dibawah 40 persen. Sedangkan untuk kondisi garis kemiskinan ditingkatkan 20 persen, pada agroekosistem pantai/pesisir ternyata persentase perbedaan pengeluaran per kapita terhadap

garis kemiskinan pada golongan miskin kronis (berdasarkan rataan) di bawah 40 persen.

Tabel 32. Beda Relatif dan Ratio Rataan dan Median Pengeluaran Per Kapita Terhadap Garis Kemiskinan Pada Agroekosistem Pantai/Pesisir

GK GK*110% GK*120%

Keterangan : GK = Garis Kemiskinan

Selanjutnya, pada golongan tidak miskin (berdasarkan median), tingkat nasional, perbedaan golongan tidak miskin terhadap garis kemiskinan sebesar 70.4 persen. Sementara pada pantai/pesisir besarnya di bawah 60 persen; yang artinya tidak terdapat jarak pengeluaran per kapita yang lebih tinggi antara yang tidak miskin dengan miskin, bila dibandingkan dengan nasional.

Dalam dokumen V. TIPOLOGI KEMISKINAN DAN KERENTANAN (Halaman 65-71)

Dokumen terkait