Pasal 86
(1) Dalam melaksanakan tugasnya setiap pimpinan unit kerja di lingkungan Rumah Sakit wajib menerapkan prinsip koordinasi, integrasi dan sinkronisasi secara vertikal dan horisontal sesuai tugas masing-masing.
(2) Dalam hal koordinasi, integrasi dan sinkronisasi dilakukan dengan instansi diluar rumah sakit, wajib sepengetahuan dan/atau persetujuan pejabat pengelola Rumah Sakit.
Pasal 87
(1) Setiap pimpinan unit kerja wajib mengawasi bawahannya masing-masing dan apabila terjadi penyimpangan, wajib mengambil langkah-langkah yang diperlukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. (2) Setiap pimpinan unit kerja bertanggungjawab memimpin
dan mengkoordinasikan bawahan, memberikan bimbingan dan petunjuk bagi pelaksanaan tugas bawahannya serta wajib menyusun rencana kerja tahunan.
(3) Setiap pimpinan unit kerja wajib mengikuti dan mematuhi petunjuk dan bertanggungjawab kepada atasan serta menyampaikan laporan berkala pada waktunya.
(4) Setiap laporan yang diterima oleh setiap pimpinan unit kerja dari bawahan, wajib dianalisa untuk dipergunakan sebagai bahan untuk menyusun kebijakan lebih lanjut. (5) Dalam menyampaikan laporan kepada atasan, tembusan
laporan disampaikan kepada satuan unit kerja lain yang secara fungsional mempunyai hubungan kerja.
- 51-
BAB VI
PENGELOLAAN SUMBER DAYA MANUSIA Paragraf 1
Jenis Tenaga Pasal 88
(1) Penyelenggaraan pelayanan di Rumah Sakit dilaksanakan oleh tenaga rumah sakit yang meliputi tenaga medik,
tenaga keperawatan, tenaga kefarmasian, tenaga
kesehatan masyarakat, tenaga gizi, tenaga keterapian fisik, tenaga keteknisian medik dan tenaga non kesehatan. (2) Tenaga Rumah Sakit sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
terdiri atas pegawai berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan pegawai berstatus Non Pegawai Negeri Sipil (Non-PNS).
Paragraf 2
Pengangkatan Pegawai Pasal 89
(1) Pengangkatan pegawai berstatus PNS dilakukan menurut
ketentuan peraturan perundangan-undangan yang
berlaku.
(2) Pengangkatan pegawai berstatus Non PNS dilakukan
berdasarkan pada prinsip efisiensi, ekonomis dan
produktif dalam rangka peningkatan pelayanan.
(3) Mekanisme pengangkatan pegawai berstatus non PNS sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dalam Peraturan Gubernur tersendiri.
Paragraf 3
Penghargaan dan Sanksi Pasal 90
Untuk mendorong motivasi kerja dan produktivitas, Rumah
Sakit memberikan penghargaan bagi pegawai yang
mempunyai kinerja baik dan sanksi bagi pegawai yang tidak memenuhi atau melanggar peraturan perundang-undangan yang berlaku.
- 52 -
Pasal 91
(1) Penghargaan yang diberikan kepada pegawai berstatus
PNS dapat berupa:
a. kenaikan Pangkat dengan system regular atau kenaikan pangkat pilihan;
b. kenaikan gaji berkala;
c. mendapatkan kesempatan pendidikan yang lebih tinggi; dan/atau
d. remunerasi.
(2) Penghargaan yang diberikan kepada pegawai berstatus
Non PNS dapat berupa:
a.kenaikan upah secara berkala; dan/atau
b.remunerasi.
Pasal 92
Sanksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 90 diberikan sesuai ketentuan yang berlaku pada peraturan disiplin PNS.
Paragraf 4 Mutasi Pegawai
Pasal 93
(1) Mutasi pegawai dilaksanakan dengan tujuan untuk peningkatan kinerja dan pengembangan karir.
(2) Mutasi pegawai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan dengan mempertimbangkan:
a. penempatan seseorang pada pekerjaan yang sesuai dengan pendidikan dan ketrampilannya;
b. masa kerja di unit kerja tertentu;
c. pengalaman pada bidang tugas tertentu; d. manfaatnya dalam menunjang karir; dan/atau e. kondisi fisik dan psikis pegawai.
Paragraf 5 Disiplin Pegawai
Pasal 94
(1) Disiplin pegawai ditunjukkan melalui nilai-nilai ketaatan, kepatuhan, kesetiaan, keteraturan, dan ketertiban yang dituangkan dalam:
a. daftar hadir;
- 53 -
b. rekam jejak (track record); dan
c. Daftar Penilaian Pekerjaan Pegawai (DP3).
(2) Pelanggaran terhadap ketentuan disiplin pegawai
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan hukuman sesuai tingkat dan jenis pelanggarannya, sebagai berikut: a. untuk pegawai berstatus PNS:
1. hukuman disiplin ringan, yang terdiri dari: a) teguran lisan;
b) teguran tertulis; dan/atau
c) pernyataan tidak puas secara tertulis. 2. hukuman disiplin sedang, yang terdiri dari:
a) penundaan kenaikan gaji berkala untuk paling lama 1 (satu) tahun;
b) penurunan gaji sebesar satu kali kenaikan gaji berkala untuk paling lama 1 (satu) tahun; dan/atau c) penundaan kenaikan pangkat untuk paling lama 1
(satu) tahun.
3. hukuman disiplin berat yang terdiri dari:
a) penurunan pangkat setingkat lebih rendah untuk paling lama 1 (satu) tahun;
b) pembebasan dari jabatan;
c) pemberhentian dengan hormat tidak atas permintaan sendiri; dan/atau
d) pemberhentian tidak dengan hormat sebagai PNS. b. untuk pegawai berstatus Non PNS:
1. hukuman disiplin ringan terdiri dari: a) teguran lisan; dan/atau
b) teguran tertulis;
2. hukuman disiplin sedang terdiri dari:
a) penundaan kenaikan gaji berkala untuk paling lama 1 (satu) tahun; dan/atau
b) penurunan gaji sebesar satu kali kenaikan gaji berkala untuk paling lama 1 (satu) tahun.
3. hukuman disiplin berat pemutusan hubungan kerja. Paragraf 6
Pemberhentian Pegawai Pasal 95
(1) Pemberhentian pegawai berstatus PNS dilakukan sesuai dengan peraturan tentang pemberhentian PNS.
- 54 -
(2) Pemberhentian pegawai berstatus non PNS dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut :
a. mengundurkan diri;
b. mencapai usia 56 Tahun; c. meninggal dunia;
d. melanggar perjanjian kerja; e. masa perjanjian kerja habis;
f. melakukan tindak pidana dengan ancaman hukuman 4 tahun atau lebih;
g. tidak masuk kerja selama 45 hari kerja secara akumulatif selama 1 tahun tanpa keterangan;
h. berhalangan tetap karena sakitnya sehingga tidak dapat melaksanakan tugas; dan
i. penyederhanaan organisasi. BAB VII REMUNERASI
Pasal 96
(1) Remunerasi merupakan imbalan kerja yang dapat berupa
gaji, tunjangan tetap, honorarium, insentif, bonus atas prestasi, pesangon, dan/atau pensiun yang diberikan kepada Pejabat Pengelola, pegawai Rumah Sakit dan Dewan Pengawas yang ditetapkan oleh Gubernur.
(2) Pemberian remunerasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), berdasarkan prinsip:
a.Proposionalitas, yaitu pertimbangan atas kelas Rumah
Sakit dan tingkat pelayanan.
b.Kesetaraan, yaitu dengan mempertimbangkan industri
pelayanan sejenis, dan
c. Kepatutan, yaitu menyesuaikan kemampuan
pendapatan fungsional Rumah Sakit.
(3) Semua biaya yang dikeluarkan untuk pemberian remunerasi dianggarkan dalam DPA paling tinggi 44 % (empat puluh empat persen) dari realisasi pendapatan rumah sakit.
(4) Anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dialokasikan untuk pemberian remunerasi bagi:
a. Pejabat Pengelola; b. Dewan Pengawas; dan c. Pegawai Rumah Sakit.
- 55 -
Pasal 97
(1) Perbandingan rumusan remunerasi sebesar 25 % (dua
puluh lima persen) untuk Direktur dan sebesar 75 % (tujuh puluh lima persen) untuk Wakil Direktur yang dibagikan secara merata.
(2) Besaran remunerasi bagi pegawai didasarkan pada
indikator penilaian yang meliputi Indeks :
a.dasar;
b.tanggungjawab;
c. kinerja;
d.beban kerja rutin;
e. beban kerja tambahan;
f. resiko kerja;
g. kompensasi; dan
h.beban kerja yang segera (cito).
(3) Besaran remunerasi bagi pegawai sebagaimana dimaksud
dalam ayat (2) tidak termasuk pegawai di Rawat Inap Utama dan di Instalasi Farmasi.
(4) Besaran Remunerasi bagi pegawai dan Dewan Pengawas
ditetapkan dengan keputusan Direktur.
(5) Besaran Remunerasi untuk pegawai di Rawat Inap Utama
dan Instalasi Farmasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) ditetapkan tersendiri dalam Keputusan Direktur.
Pasal 98
(1) Pemberian gaji dan tunjangan bagi pegawai berstatus PNS
dialokasikan melalui Anggaran Belanja Tidak Langsung.
(2) Pemberian honorarium bagi pegawai berstatus Non PNS
dialokasikan melalui anggaran Belanja Langsung.
(3) Alokasi anggaran insentif, bonus dan honorarium bagi
Pejabat Pengelola, Pejabat Pelaksana Keuangan, Pejabat Pelaksana Teknis, Pegawai, Dewan Pengawas, Sekretaris Dewan Pengawas dan Tim Pembina Rumah Sakit dianggarkan melalui Anggaran Belanja Langsung.
(4) Alokasi anggaran insentif untuk Pejabat Pengelola
setinggi-tingginya 10 % (sepuluh persen) dari pendapatan kas jasa pelayanan.
- 56 -
(5) Alokasi anggaran insentif, bonus dan honorarium bagi
Pejabat Pelaksana Keuangan, Pejabat Pelaksana Teknis, Dewan Pengawas, Sekretaris Dewan Pengawas dan Tim Pembina Rumah Sakit setinggi-tingginya 5 % (lima persen) dari realisasi Pendapatan Kas.
BAB VIII
STANDAR PELAYANAN MINIMAL Pasal 99
(1) Untuk menjamin ketersediaan, keterjangkauan dan
kualitas pelayanan yang diberikan oleh Rumah Sakit Direktur menetapkan Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit.
(2) Standar Pelayanan Minimal sebagaimana dimaksud pada ayat (1), harus mempertimbangkan kualitas layanan, pemerataan, dan kesetaraan layanan serta kemudahan untuk mendapatkan layanan.
Pasal 100
Standar Pelayanan Minimal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 99 harus memenuhi persyaratan:
a. fokus pada jenis pelayanan; b. terukur;
c. dapat dicapai;
d. relevan dan dapat diandalkan; dan e. tepat waktu.
Pasal 101
(1) Fokus pada jenis pelayanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 100 huruf a, yaitu mengutamakan kegiatan pelayanan yang menunjang terwujudnya tugas dan fungsi Rumah Sakit.
(2) Terukur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 100 huruf b, merupakan kegiatan yang pencapaiannya dapat dinilai sesuai dengan standar yang telah ditetapkan.
(3) Dapat dicapai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 100 huruf c, merupakan kegiatan nyata, dapat dihitung tingkat pencapaiannya, rasional, sesuai kemampuan dan tingkat pemanfaatannya.
- 57 -
(4) Relevan dan dapat diandalkan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 100 huruf d, merupakan kegiatan yang
sejalan, berkaitan dan dapat dipercaya untuk menunjang tugas dan fungsi Rumah Sakit.
(5) Tepat waktu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 100 huruf e, merupakan kesesuaian jadwal dan kegiatan pelayanan yang telah ditetapkan.
BAB IX
PENGELOLAAN KEUANGAN Pasal 102
(1) Pengelolaan keuangan Rumah Sakit berdasarkan pada prinsip efektifitas, efisiensi dan produktivitas dengan berasaskan akuntabilitas dan transparansi.
(2) Dalam rangka penerapan prinsip sebagaimana dimaksud pada ayat (1), maka dalam penatausahaan keuangan diterapkan Sistem Akuntansi berbasis Standar Akuntansi Keuangan (SAK) dan Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP).
Bagian Kesatu Fleksibilitas
Pasal 103
(1) Dalam pengelolaan keuangan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 102 ayat (2) Rumah Sakit sebagai SKPD dengan status BLUD penuh memperoleh fleksibilitas berupa:
a.pengelolaan pendapatan dan biaya;
b.pengelolaan kas;
c. pengelolaan utang;
d.pengelolaan piutang;
e. pengelolaan investasi;
f. pengelolaan barang dan/atau jasa;
g. pengadaan barang;
h.penyusunan akuntansi, pelaporan dan
- 58 -
i. pengelolaan surplus dan defisit;
j. pengelolaan dana secara langsung; dan
k. perumusan standar, kebijakan, sistem, dan
prosedur pengelolaan keuangan.
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai fleksibilitas sebagaimana dimaksud pada ayat (1), diatur dalam Peraturan Gubernur tersendiri.
Bagian Kedua Tarif Pelayanan
Pasal 104
(1) Rumah Sakit dapat memungut biaya kepada masyarakat sebagai imbalan atas barang dan/atau jasa layanan yang diberikan.
(2) Imbalan atas barang dan/atau jasa layanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ditetapkan dalam bentuk tarif yang disusun atas dasar perhitungan biaya satuan per unit layanan atau hasil per investasi dana.
(3) Tarif sebagaimana dimaksud pada ayat (2), termasuk imbal hasil yang wajar dari investasi dana dan untuk menutup seluruh atau sebagian dari biaya per unit layanan.
(4) Tarif layanan sebagaimana dimaksud pada ayat (3), dapat berupa besaran tarif dan/atau tarif sesuai jenis layanan Rumah Sakit.
Pasal 105
(1) Tarif layanan rawat jalan, gawat darurat, rawat inap kelas III beserta pelayanan penunjangnya ditetapkan dengan Peraturan Gubernur atas usulan Direktur melalui Sekretaris Daerah.
(2) Tarif layanan khusus dan rawat inap kelas II, kelas I, kelas
utama beserta penunjangnya ditetapkan dengan
Keputusan Direktur.
- 59 -
(3) Penetapan tarif layanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), mempertimbangkan kontinuitas dan pengembangan layanan, daya beli masyarakat, serta kompetisi yang sehat.
(4) Gubernur dalam menetapkan besaran tarif sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dapat membentuk tim.
(5) Pembentukan tim sebagaimana dimaksud pada ayat (4), ditetapkan oleh Gubernur yang keanggotaannya dapat berasal dari:
a. Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur;
b. Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Provinsi Jawa Timur;
c. unsur perguruan tinggi; d. organisasi profesi; dan e. rumah sakit.
Pasal 106
(1) Peraturan Gubernur tentang tarif layanan Rumah Sakit dapat dilakukan perubahan sesuai kebutuhan dan perkembangan keadaan.
(2) Perubahan tarif sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dapat dilakukan secara keseluruhan maupun per unit layanan.
(3) Proses perubahan tarif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan (2), berpedoman pada ketentuan dalam Pasal 105.
Bagian Ketiga
Perencanaan dan Penganggaran Pasal 107
(1) Direktur wajib menetapkan Rencana Strategis Rumah Sakit setiap 5 (lima) tahun sekali.
(2) Rencana Strategis Rumah Sakit sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus seusai dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi.
(3) Sebelum ditetapkan, Rancangan Rencana Strategis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terlebih dahulu
dikoordinasikan dengan Badan Perencanaan
Pembangunan Daerah Provinsi untuk memastikan
- 60 -
Pasal 108
(1)Rencana Strategis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 107
dijabarkan dalam rencana kerja dan RBA Rumah Sakit.
(2)RBA sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disusun
berdasar prinsip anggaran berbasis kinerja, perhitungan akuntansi biaya menurut jenis layanan, kebutuhan
pendanaan dan kemampuan pendapatan yang
diperkirakan akan diterima dari masyarakat, badan lain, APBD, APBN dan sumber-sumber pendapatan BLUD lainnya,
(3)RBA sebagaimana dimaksud pada ayat (2) memuat:
a.kinerja tahun berjalan;
b.asumsi makro dan mikro;
c. target kinerja;
d.analisis dan perkiraan biaya satuan;
e. perkiraan harga;
f. anggaran pendapatan dan biaya;
g. besaran persentase ambang batas;
h.prognose laporan keuangan;
i. perkiraan maju (forward estimate);
j. rencana pengeluaran investasi/modal; dan
k.ringkasan pendapatan dan biaya untuk konsolidasi
dengan RKA-SKPD/APBD.
(4)RBA sebagaimana dimaksud pada ayat (3), disertai dengan
usulan program, kegiatan, standar pelayanan minimal dan biaya dari keluaran yang akan dihasilkan.
Bagian Keempat Pendapatan dan Biaya
Paragraf 1 Pendapatan
Pasal 109
Pendapatan Rumah Sakit dapat bersumber dari: a. jasa layanan;
b. hibah;
c. hasil kerjasama dengan pihak lain;
- 61 -
d. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD); e. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN); dan f. lain-lain pendapatan Rumah Sakit yang sah.
Pasal 110
(1) Pendapatan Rumah Sakit yang bersumber dari jasa layanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 109 huruf a berupa imbalan yang diperoleh dari jasa layanan yang diberikan kepada masyarakat.
(2) Pendapatan Rumah Sakit yang bersumber dari hibah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 109 huruf b berupa hibah terikat dan/atau hibah tidak terikat.
(3) Hasil kerjasama dengan pihak lain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 109 huruf c berupa perolehan dari kerjasama operasional, sewa menyewa dan usaha lainnya yang mendukung tugas dan fungsi Rumah Sakit.
(4) Pendapatan Rumah Sakit yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 109 huruf d merupakan
pendapatan yang berasal dari otorisasi kredit anggaran
Pemerintah Daerah dan bukan dari pendapatan
pembiayaan APBD
(5) Pendapatan Rumah Sakit yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 109 huruf e berupa pendapatan yang berasal dari pemerintah dalam rangka pelaksanaan dekonsentrasi dan/atau tugas pembantuan dan lain-lain. (6) Lain-lain pendapatan Rumah Sakit yang sah sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 109 huruf f, antara lain: a. hasil penjualan kekayaan yang tidak dipisahkan; b. hasil pemanfaatan kekayaan;
c. jasa giro;
d. pendapatan bunga;
- 62 -
e. keuntungan selisih nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing;
f. komisi, potongan ataupun bentuk lain sebagai akibat dari penjualan dan/atau pengadaan barang dan/atau jasa oleh Rumah Sakit; dan
g. hasil investasi.
Pasal 111
(1) Seluruh pendapatan rumah sakit sebagaimana dimaksud dalam Pasal 109, kecuali yang berasal dari hibah terikat, dapat dikelola langsung untuk membiayai pengeluaran Rumah Sakit berdasarkan RBA.
(2) Hibah terikat sebagaimana dimaksud pada ayat (1), diperlakukan sesuai peruntukannya.
(3) Seluruh pendapatan rumah sakit sebagaimana dimaksud dalam Pasal 109 huruf a, sampai dengan huruf f dilaksanakan melalui rekening kas Rumah Sakit dan dicatat dalam kode rekening kelompok pendapatan asli daerah pada jenis lain-lain pendapatan asli daerah yang sah dengan obyek pendapatan rumah sakit.
(4) Seluruh pendapatan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dilaporkan kepada Pejabat Pengelola Keuangan Daerah setiap triwulan.
(5) Format laporan pendapatan sebagaimana dimaksud pada ayat (4), sesuai dengan ketentuan perundang-undangan.
Paragraf 2 Biaya Pasal 112
(1) Biaya Rumah Sakit terdiri dari biaya operasional dan biaya non operasional.
(2) Biaya operasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1), mencakup seluruh biaya yang menjadi beban Rumah Sakit dalam rangka menjalankan tugas dan fungsinya.
- 63 -
(3) Biaya non operasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1), mencakup seluruh biaya yang menjadi beban Rumah Sakit dalam rangka menunjang pelaksanaan tugas dan fungsinya.
(4) Biaya Rumah Sakit sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dialokasikan untuk membiayai program peningkatan pelayanan, kegiatan pelayanan dan kegiatan pendukung pelayanan.
(5) Pembiayaan program dan kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (4), dialokasikan sesuai dengan kelompok, jenis, program dan kegiatan.
Pasal 113
(1) Biaya operasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 112 ayat (2), terdiri dari:
a. biaya pelayanan; dan
b. biaya umum dan administrasi.
(2) Biaya pelayanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, mencakup seluruh biaya operasional yang berhubungan langsung dengan kegiatan pelayanan.
(3) Biaya pelayanan sebagaimana dimaksud pada ayat (2), terdiri dari:
a. biaya pegawai; b. biaya bahan;
c. biaya jasa pelayanan; d. biaya pemeliharaan;
e. biaya barang dan jasa; dan f. biaya pelayanan lain-lain.
(4) Biaya umum dan administrasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, mencakup seluruh biaya operasional yang tidak berhubungan langsung dengan kegiatan pelayanan.
(5) Biaya umum dan administrasi sebagaimana dimaksud pada ayat (4), terdiri dari:
- 64-
b. biaya administrasi kantor; c. biaya pemeliharaan;
d. biaya barang dan jasa; e. biaya promosi; dan
f. biaya umum dan administrasi lain-lain.
Pasal 114
Biaya non operasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 112 ayat (3) terdiri dari :
a. biaya bunga;
b. biaya administrasi bank;
c. biaya kerugian penjualan aset tetap; d. biaya kerugian penurunan nilai; dan e. biaya non operasional lain-lain.
Pasal 115
(1) Seluruh pengeluaran biaya Rumah Sakit yang bersumber dari biaya operasional dan Non operasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 112 dilaporkan kepada Pejabat Pengelola Keuangan Daerah (PPKD) setiap triwulan.
(2) Seluruh pengeluaran biaya Rumah Sakit sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dilakukan dengan menerbitkan Surat Perintah Membayar (SPM) Pengesahan yang dilampiri dengan Surat Pernyataan Tanggungjawab (SPTJ). (3) Format laporan pengeluaran sebagaimana dimaksud pada
ayat (1), SPTJ sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sesuai peraturan perundangan yang berlaku.
Pasal 116
(1) Pengeluaran biaya Rumah Sakit diberikan fleksibilitas dengan mempertimbangkan volume kegiatan pelayanan.
- 65 -
(2) Fleksibilitas pengeluaran biaya Rumah Sakit sebagaimana dimaksud pada ayat (1), merupakan pengeluaran biaya yang disesuaikan dengan perubahan pendapatan dalam ambang batas RBA yang telah ditetapkan secara definitif. (3) Fleksibilitas pengeluaran biaya rumah sakit sebagaimana
dimaksud pada ayat (1), hanya berlaku untuk biaya Rumah Sakit yang berasal dari pendapatan selain dari APBN/APBD dan hibah terikat.
(4) Dalam hal terjadi kekurangan anggaran, Direktur
mengajukan usulan tambahan anggaran dari APBD kepada Gubernur melalui Sekretaris Daerah.
Pasal 117
(1) Ambang batas RBA sebagaimana dimaksud dalam Pasal 116 ayat (2), ditetapkan dengan besaran prosentase.
(2) Besaran prosentase sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ditentukan dengan mempertimbangkan fluktuasi kegiatan operasional Rumah Sakit.
(3) Besaran prosentase sebagaimana dimaksud pada ayat (2), ditetapkan dalam RBA dan DPA Rumah Sakit oleh Tim Anggaran Pendapatan Daerah (TAPD).
(4) Prosentase ambang batas tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (1), merupakan kebutuhan yang dapat diprediksi, dapat dicapai, terukur, rasional dan dapat dipertanggungjawabkan.
(5) Besaran prosentase ambang batas dalam RBA dan DPA Rumah Sakit sebagaimana dimaksud pada ayat (4) sesuai ketentuan yang berlaku.
BAB X
PENGELOLAAN LINGKUNGAN RUMAH SAKIT DAN SUMBER DAYA LAINNYA
Pasal 118
(1) Rumah Sakit wajib menjaga lingkungan, baik internal maupun eksternal.
- 66 –
(2) Pengelolaan lingkungan rumah sakit sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) untuk mendukung peningkatan mutu pelayanan rumah sakit yang berorientasi kepada keamanan, kenyamanan, kebersihan, kesehatan, kerapian, keindahan dan keselamatan.
Pasal 119
(1) Pengelolaan lingkungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 118 ayat (2) meliputi pengelolaan limbah, yang terdiri dari limbah medik dan limbah non medik.
(2) Tata laksana pengelolaan limbah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengacu pada ketentuan perundang-undangan.
Pasal 120
(1) Pengelolaan Sumber daya lain terdiri dari sarana, prasarana, gedung dan jalan dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
(2) Pengelolaan sumber daya sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dimanfaatkan seoptimal mungkin untuk
kepentingan mutu pelayanan dan kelancaran pelaksanaan tugas pokok dan fungsi Rumah Sakit.
BAB XI
HAK DAN KEWAJIBAN TENTANG INFORMASI MEDIS Paragraf 1
Hak dan Kewajiban Rumah Sakit Pasal 121
(1) Rumah Sakit berhak membuat peraturan tentang
kerahasiaan dan informasi medis yang berlaku.
(2) Rumah Sakit wajib menyimpan Rekam Medik sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
(3) Isi Rekam Medis dapat diberikan kepada:
a. pasien ataupun pihak lain atas izin pasien / keluarga secara tertulis sesuai dengan aturan perundang-undangan; dan
b. pengadilan untuk kepentingan peradilan sesuai dengan aturan perundang-undangan.
- 67-
Paragraf 2
Hak dan Kewajiban Dokter Pasal 122
(1) Dokter Rumah Sakit berhak mendapatkan informasi yang lengkap dan jujur dari pasien yang dirawat atau keluarganya.
(2) Dokter Rumah Sakit berkewajiban untuk:
a. merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang pasien kepada pihak lain, bahkan juga setelah pasien itu meninggal dunia; dan
b. menolak keinginan pasien yang bertentangan dengan aturan perundang-undangan, etika dan hukum profesi kedokteran.
Paragraf 3
Hak dan Kewajiban Pasien Pasal 123
(1) Pasien Rumah Sakit berhak untuk:
a. mengetahui semua peraturan dan ketentuan rumah sakit yang mengatur hak, kewajiban, tata-tertib dan lain-lain hal yang berkaitan dengan pasien;
b. memanfaatkan isi rekam medik untuk kepentingan peradilan.
c. mendapatkan penjelasan secara lengkap tentang
tindakan medik yang akan atau sudah dilakukan dokter, yaitu:
1. diagnosis atau alasan yang mendasari dilakukannya tindakan medik;
2. tujuan tindakan medik;
3. tata-laksana tindakan medik; 4. alternatif tindakan lain jika ada;
5. risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi;
6. akibat ikutan yang pasti terjadi jika tindakan medik dilakukan;
7. prognosis terhadap tindakan yang dilakukan; dan 8. risiko yang akan ditanggung jika pasien menolak
tindakan medik.
d. meminta konsultasi kepada dokter lain (second opinion)
terhadap penyakit yang dideritanya dengan
-68-
e. mengakses, mengkoreksi dan mendapatkan isi rekam medik.
(2) Pasien Rumah Sakit berkewajiban untuk:
a. memberikan informasi yang lengkap dan jujur tentang hal-hal yang berkaitan dengan masalah kesehatannya; dan
b. mentaati seluruh prosedur yang berlaku di Rumah Sakit.
BAB XII
KETENTUAN PENUTUP Pasal 124
Hal-hal yang belum diatur dalam Peraturan Guberur ini, sepanjang mengenai teknis pelaksanaannya diatur lebih lanjut dalam Keputusan Direktur.
Pasal 125
Peraturan Gubernur ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan
pengundangan Peraturan Gubernur ini dengan
penempatannya dalam Berita Daerah Provinsi Jawa Timur.
Ditetapkan di Surabaya pada tanggal 15 Maret 2013
GUBERNUR JAWA TIMUR
ttd.
Dr. H. SOEKARWO
LAMPIRAN
DIUNDANGKAN DALAM BERITA DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR
LAMPIRAN PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR : 19 TAHUN 2013
TANGGAL : 15 MARET 2013
TATA KELOLA
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH Dr. SAIFUL ANWAR PROVINSI JAWA TIMUR
LOGO RUMAH SAKIT
A. Arti logo:
1. Tanda cross merupakan simbol kesehatan universal, 12 garis yang membangun simbol cross merujuk angka 12 sebagai tanggal lahir Rumah Sakit.
2. Garis lengkung merupakan bentuk pencitraan cinta.
- 2 -
3. 5 kotak dalam simbol cross disusun seperti anak tangga membawa pesan suatu tekad mencapai tujuan dalam menjawab tantangan global.
B. Arti warna pada logo Rumah Sakit adalah:
1. Garis hijau pada simbol cross berlatar belakang transparan, merupakan upaya pelayanan kesehatan di Rumah Sakit merupakan kewajiban setiap karyawan yang dilandasi oleh kemurnian, ketulusan, dan keterbukaan dalam rangka meningkatkan derajad kesehatan demi kesejahteraan bangsa Indonesia;
2. Garis lengkung ungu muda, merupakan simbol cinta kasih serta harapan, sesuai dengan motto Rumah Sakit yaitu