BAB II MEKANISME KERJA SAMA INTERNASIONAL KPK
V. Kerja Sama Unit Intelijen Keuangan
Dalam melakukan kerja sama internasional melalui jalur intelijen keuangan, KPK bekerja sama dengan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (“PPATK”). PPATK, sebagai unit intelijen keuangan (Financial Intelligence Unit, “FIU”), adalah lembaga sentral yang melakukan
34 Ibid.
35 Ibid.
pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang di Indonesia. Sebagai lembaga sentral di Indonesia, maka PPATK juga berfungsi sebagai otoritas36 dalam melakukan kerja sama internasional terkait intelijen keuangan.
Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang (“UU TPPU”) menegaskan bahwa PPATK memiliki tugas dan kewenangan untuk menerima, menganalisis, dan mengkoordinasikan analisis transaksi keuangan kepada pihak terkait, khususnya lembaga penegak hukum. Selain berkoordinasi dengan lembaga di dalam negeri, PPATK juga berkoordinasi dengan lembaga terkait di luar negeri, baik secara langsung melalui antar lembaga, secara bilateral, atau multilateral melalui forum-forum internasional seperti The Egmont Group.37 The Egmont Group adalah organisasi internasional yang beranggotakan FIU dari seluruh dunia yang bertujuan membangun wadah kerja sama dalam pertukaran informasi terkait pencegahan dan pemberantasan pencucian uang dan pendanaan terorisme.38
Tindak pidana pencucian uang seringkali melibatkan struktur kompleks yang menggunakan sistem perbankan internasional, agar dapat menyamarkan uang hasil kejahatan dan memindahkan uang tersebut ke tempat lain dalam waktu singkat. Hal ini pada praktiknya sangat menghambat upaya penegakan hukum atas tindak pidana pencucian uang, atau upaya pelacakan aliran keuangan atas tindak pidana lain seperti korupsi.
Berdasarkan penjelasan di atas, dapat dipahami bahwa kerja sama internasional menjadi salah satu kunci penting keberhasilan penanganan
36 Hal ini ditegaskan dalam UU TPPU bagian Penjelasan (Umum) bahwa “Lembaga keuangan memiliki peranan penting khususnya dalam menerapkan prinsip mengenali Pengguna Jasa dan melaporkan Transaksi tertentu kepada otoritas (financial intelligence unit) sebagai bahan analisis dan untuk selanjutnya disampaikan kepada penyidik.” Otoritas yang dimaksud di sini adalah PPATK.
37 Indonesia, Undang-Undang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang, UU No. 8 Tahun 2010, LN No. 122 Tahun 2010, TLN No. 5164, Pasal 91. Pasal 91 ini menjelaskan bahwa PPATK dalam mencegah dan memberantas TPPU dapat melakukan kerja sama bantuan timbal balik dalam masalah pidana secara bilateral atau multilateral. Kerja sama tersebut dilakukan berdasarkan perjanjian kerja sama timbal balik, atau berdasarkan prinsp resiprositas.
38 PPATK, Egmont Group Meetings 2019 di Jakarta, https://www.ppatk.go.id/siaran_pers/read/921/siaran-pers-egmont-group-meetings-2019-di-jakarta.html, diakses pada 3 Desember 2020.
perkara tindak pidana pencucian uang, atau tindak pidana lain dalam menelusuri aliran uangnya. Hal ini pun ditegaskan dalam Pasal 89 Ayat (1) UU TPPU bahwa PPATK dalam melakukan fungsinya dapat melakukan kerja sama internasional dengan lembaga sejenis dari luar negeri. Kerja sama internasional tersebut dapat dilakukan dalam bentuk formal dan berdasarkan prinsip resiprositas.39 PPATK dalam rangka melaksanakan fungsi analisis atau pemeriksaan laporan dan informasi keuangan terkait suatu tindak pidana, berdasarkan Pasal 44 Ayat (1) UU TPPU, dapat meminta informasi dan data kepada pihak pelapor berdasarkan permintaan dari instansi penegak hukum atau mitra kerja di luar negeri, dan meneruskan informasi tersebut kepada instansi peminta baik di dalam atau luar negeri.
Terkait dengan permintaan dan pertukaran informasi dengan FIU dari negara lain, PPATK berkoordinasi dan bekerja sama dengan instansi penegak hukum asing, lembaga pengawas penyedia jasa keuangan asing, lembaga pengelola keuangan negara asing, dan FIU asing.40
Tata Cara
Dalam melakukan kerja sama internasional seperti pencarian data dan informasi melalui saluran intelijen keuangan, KPK dapat mengirimkan surat permohonan resmi kepada PPATK untuk selanjutnya PPATK berkoordinasi dengan FIU asing terkait pencarian tersebut.41 Hal tersebut dapat dilihat dari ilustrasi berikut ini:
KPK Sebagai Peminta
39 Indonesia, Undang-Undang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang, UU No. 8 Tahun 2010, LN No. 122 Tahun 2010, TLN No. 5164, Pasal 89 ayat (2).
40 Indonesia, Undang-Undang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang, UU No. 8 Tahun 2010, LN No. 122 Tahun 2010, TLN No. 5164, Pasal 90.
41 Indonesia, Undang-Undang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang, UU No. 8 Tahun 2010, LN No. 122 Tahun 2010, TLN No. 5164, Pasal 90 Ayat (3) Huruf (d) UU TPPU.
BAB III
STRATEGI KEBERHASILAN
KERJA SAMA INTERNASIONAL KPK
I. Belajar Dari Kegagalan KPK Di Awal
Setiap negara asing memiliki kompleksitas permasalahan yang berbeda-beda dalam membangun hubungan kerja sama dan berkoordinasi dengan KPK. Dalam melakukan kerja sama internasional, KPK tidak selalu berhasil, dan seringkali menghadapi kegagalan di awal. Kegagalan ini berasal dari tidak dapatnya KPK dalam memahami poin penting dan prosedur dalam penanganan suatu perkara korupsi, seperti permintaan data, informasi, upaya penyitaan, dan perampasan, sehingga menjadi hambatan dan permasalahan yang bervariasi dari setiap negara asing.
Dari kegagalan tersebut KPK memahami bahwa kegagalan di awal sangat erat kaitannya dengan proses komunikasi dan kepercayaan lembaga asing terhadap KPK. Oleh karena itu bab ini akan membahas dua hal penting, yaitu apa saja yang menjadi faktor kegagalan KPK di awal dan selanjutnya membahas strategi apa yang dibangun dan dilakukan KPK dalam mengatasi kegagalan tersebut, dan menjadi keberhasilan dalam upaya kerja sama internasional.
I.1. Permasalahan Komunikasi
Salah satu permasalahan utama dari kegagalan KPK di awal adalah komunikasi. Pada awalnya, komunikasi dan permintaan yang dikirimkan
KPK melalui email dan surat seringkali tidak mendapatkan respon yang positif. Contohnya pada tahun 2011, KPK melalui CA mengajukan permintaan MLA kepada Pemerintah Singapura. Pada tahun 2011 hingga 2014, permintaan MLA tersebut ditanggapi oleh CA Singapura dengan meminta tambahan informasi dan memberikan saran perbaikan mengenai kelengkapan persyaratan yang masih belum sesuai dengan peraturan yang berlaku di Singapura, misalnya bukti transaksi yang melibatkan rekening di Singapura. Setelah KPK, bersama dengan CA Indonesia, melengkapi persyaratan, menyesuaikan dengan saran perbaikan dan memberikan informasi tambahan kepada CA Singapura, maka pada awal tahun 2014, Singapura mulai mengirimkan hasil atas permintaan MLA berupa dokumen-dokumen yang dibutuhkan dalam penanganan perkara KPK.
Pelajaran penting yang dapat diambil dalam kegagalan ini adalah, pada saat itu KPK dan CA Indonesia menyusun permintaan MLA yang belum memenuhi persyaratan berdasarkan hukum nasional Singapura.
Contohnya penyidik belum dapat menjelaskan mengenai kebutuhan informasi secara detail di Singapura dan keterkaitannya dengan tindak pidananya, dan kurangnya koordinasi awal antara KPK, CA Indonesia, CA Singapura, dan otoritas terkait di Singapura sebelum mengirimkan MLA.
Dalam permintaan-permintaan MLA selanjutnya, pada saat meminta bantuan ke lembaga asing, penyidik harus dapat memberikan penjelasan terkait materi spesifik yang diminta dari lembaga asing tersebut. Materi tersebut tidak boleh bersifat umum untuk menghindari persepsi adanya fishing expedition42 yang dilakukan oleh aparat penegak hukum terkait. Selain itu, hal lainnya yang juga tidak kalah penting saat melakukan permintaan bantuan lintas negara,
42 Fishing expedition adalah suatu upaya memperoleh informasi melalui permintaan yang bersifat luas dengan pertanyaan yang tidak spesifik. Dalam praktiknya hal ini dapat dilakukan dengan memberikan pertanyaan umum dengan harapan terdapat informasi relevan yang ditemukan berdas arkan kata kunci umum yang diberikan. Lebih jauh lagi fishing expedition menurut Black’s Law Dictionary adalah “An attempt, through broad discovery requests or random questions, to elicit information. Also, from another party in the hope that something relevant might be found; esp., such an attempt that exceeds the scope of discovery allowed by procedural rules.” Lihat Bryan A. Garner, Black’s Law Dictionary, edisi ke 9, (St. Paul:
MN: Thomson/West, 2009), hlm. 740
penyidik tidak hanya harus memahami peraturan yang berlaku di Indonesia namun juga harus mempertimbangkan hukum yang berlaku di negara tujuan untuk mencari adanya dual criminality dan memahami kemampuan atau kewenangan lembaga asing tersebut dalam memenuhi permintaan penyidik.
Dalam permintaan bantuan untuk pemeriksaan saksi di negara lain misalnya, setiap negara memiliki aturan kerja sama dan format permintaan yang berbeda-beda. Di Singapura, KPK dapat membangun komunikasi informal terlebih dahulu dengan surat elektronik (“email”) dan baru mengirimkan permintaan MLA setelahnya. Akan tetapi di Jepang, KPK diharuskan menggunakan jalur diplomatik yang melibatkan Kementerian Luar Negeri dan CA dari kedua negara untuk setiap komunikasi dan koordinasi yang dilakukan. Perbedaan sistem seperti ini juga berlaku di negara asing lainnya seperti Inggris, Amerika, Swiss, dan British Virgin Island.
I.2. Permasalahan Kepercayaan
“Membangun trust adalah kunci”, begitu pernyataan yang dilontarkan oleh penyelidik, penyidik, jaksa, dan anggota satuan tugas kerja sama internasional KPK dalam setiap kesempatan dan wawancara yang berbeda. Strategi dan mitigasi risiko apapun yang dibuat dalam upaya kerja sama internasional, seperti permintaan data, tidak akan berhasil apabila tidak ada kepercayaan dari negara maupun lembaga asing. Kepercayaan adalah konsep yang abstrak dan tidak dapat timbul dengan sendirinya, sehingga konsep ini perlu diturunkan menjadi parameter berwujud untuk melihat bentuk dan capaian konkret suatu kepercayaan. Parameter tersebut perlu dibangun melalui upaya proaktif dan responsif yang harus dibina secara berkesinambungan dalam suatu hubungan. Aspek yang perlu diperhatikan dalam membina kepercayaan pun beragam, di antaranya integritas diri, komunikasi yang berkesinambungan, serta kemampuan untuk memberikan respon yang tepat baik dalam hal teknis maupun nonteknis.
Pada suatu kesempatan, KPK mengirimkan MLA kepada CPIB (Singapura), untuk mengajukan permintaan informasi terkait 4 rekening koran, dokumen pembukaan rekening, dan 10 slip transaksi perbankan atas suatu kasus. Akan tetapi CPIB tidak memberikan tanggapan hingga lebih dari 1 tahun. Penyidik KPK ingin menemui personel yang menangani MLA tersebut, dan mengetahui bahwa personel tersebut akan menghadiri suatu acara internasional di Bangkok. Setelah dilakukan pertemuan di Bangkok oleh penyidik KPK, diketahui bahwa terdapat kesalahan ketik dalam permintaan yang diajukan KPK atas rekening koran, terkait perkara yang seharusnya tahun 2016, namun tertulis sejak 2006. Singapura mempertanyakan keseriusan KPK dan mengapa permintaan dari KPK tidak sesuai dengan tempus yang diuraikan dalam uraian kasus.
Contoh di atas menggambarkan bahwa permasalahan kepercayaan ini muncul karena Singapura tidak yakin dengan keseriusan KPK dalam menangani kasus tersebut, terutama di dalam negeri. KPK menyadari permasalahan ini dan segera merespon Singapura dengan memperbaiki kesalahan tersebut dan memberikan beberapa bukti terhadap kemajuan penanganan perkara tersebut di Indonesia, hingga akhirnya kasus tersebut diputus.
Respon sigap KPK ini berimplikasi terhadap kelancaran upaya kerja sama selanjutnya dengan Singapura. Di tahun-tahun berikutnya, saat KPK menangani kasus Garuda, KPK meminta 27 rekening koran dan ratusan slip transaksi, dan permintaan tersebut dipenuhi oleh Singapura dalam waktu beberapa bulan saja.
II. Peran Direktorat PJKAKI
Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana membangun komunikasi dan kepercayaan tersebut di awal? Apakah upaya ini dilakukan oleh personel, satuan tugas, atau divisi tertentu? Dalam membangun dan membina jaringan internasional, terdapat peran suatu direktorat di KPK yang signifikan, yaitu Direktorat Pembinaan Jaringan Kerja antar Komisi dan Instansi (“PJKAKI”). Direktorat PJKAKI bertugas untuk mengoordinasikan
permintaan bantuan terkait penanganan perkara dengan Kedeputian Penindakan dan sebagai pejabat penghubung dengan mitra kerja sama luar negeri baik untuk permintaan secara formal maupun informal. Direktorat PJKAKI bersama dengan penyelidik, penyidik atau jaksa akan merancang permintaan bantuan dan memastikan kelengkapan persyaratan dan menentukan mekanisme terbaik dalam mendapatkan informasi dan data serta melakukan negosiasi dengan mitra kerja sama luar negeri. Selain itu, Direktorat PJKAKI juga bertanggung jawab untuk melakukan pengembangan jaringan kerja sama dengan negara lain sesuai dengan kebutuhan organisasi.
Dalam membina jaringan internasional, Direktorat PJKAKI berperan membuka jaringan baru dengan negara atau lembaga asing yang belum memiliki hubungan kerja sama dengan KPK, serta membina jaringan - jaringan yang sudah terbentuk sebelumnya. Guna membuka jaringan baru, Direktorat PJKAKI merancang strategi pendekatan proaktif terbaik yang disesuaikan dengan karakteristik masing - masing negara atau lembaga. Dan jika jaringan sudah terjalin, Direktorat PJKAKI membina komunikasi yang berkesinambungan dengan beragam pendekatan.
Mengingat pentingnya peran Direktorat PJKAKI dalam kerja sama internasional, maka pertanyaan selanjutnya adalah kompetensi teknis apa yang menjadi standar bagi para personel Direktorat PJKAKI dalam melaksanakan tugasnya? Adapun kompetensi teknis dasar yang harus dimiliki para spesialis kerja sama Direktorat PJKAKI dalam membangun jaringan dan upaya permintaan data internasional adalah:
•
Kemampuan berbahasa asing, terutama Bahasa Inggris;•
Kemampuan persuasi;•
Teknik negosiasi;•
Kemampuan mengelola proyek;•
Strategi komunikasi dengan mitra kerja sama;•
Implementasi komitmen global dan pemanfaatan jaringan kerja sama;•
Teknik diplomasi internasional;•
Teknik pencarian dan pengelolaan data dan informasi;•
Manajemen risiko;•
Complaint handling management;•
Dasar hukum pidana dan acara pidana; dan•
Komunikasi organisasi.Gambar vi. Direktur PJKAKI Memberikan Pelatihan Kerja Sama Internasional Kepada Perwakilan Lembaga Asing di Pusat Edukasi Anti Korupsi KPK
III. Strategi Keberhasilan KPK
Belajar dari kegagalan KPK membangun kerja sama internasional di awal, maka KPK selalu memperbaharui metode komunikasi dan sistem koordinasi untuk memitigasi permasalahan tersebut. Dari upaya-upaya perbaikan tersebut, KPK menyadari bahwa terdapat formula yang efektif dalam melakukan kerja sama dengan negara asing terkait penanganan suatu perkara tindak pidana korupsi. Poin-poin penting tersebut akan dirangkum menjadi strategi keberhasilan kerja sama internasional KPK, yang terbagi menjadi tiga bagian, yaitu strategi sebelum mengirimkan permintaan bantuan kerja sama, saat mengirimkan, dan setelah diberikan bantuan kerja sama internasional oleh negara asing. Secara keseluruhan, strategi
keberhasilan kerja sama internasional tersebut dapat dilihat dalam ilustrasi diagram di bawah ini:
III.1.
Strategi
Sebelum Permintaan Resmi Riset HukumSebelum membuka komunikasi, KPK melakukan riset mendalam mengenai hukum di negara asing tersebut. Dalam meminta bantuan ke negara lain, baik mencari data, informasi, orang, atau permintaan bantuan lain seperti penyitaan dan perampasan, KPK tidak bisa hanya menggunakan sudut pandang peraturan perundang-undangan Indonesia saja.
Sebagai contoh, untuk upaya permintaan bantuan hukum ke Singapura, KPK harus memahami konsep delik korupsi di setiap pasal yang terdapat dalam The Prevention of Corruption Act (“PCA”) untuk melihat perbedaan dan persamaan konsep tindak pidana korupsi di Indonesia dan Singapura. Misalnya apakah konsep kerugian negara dan peran pejabat publik dalam unsur tindak pidana korupsi di Indonesia sudah sejalan dengan konsep tindak pidana korupsi di Singapura.
Apabila terdapat perbedaan, maka KPK harus mencari dan menegaskan persamaan konsep tindak pidana korupsi yang masuk ke dalam regulasi ke dua negara, yang nantinya diimplementasikan ke dalam strategi komunikasi KPK.
Selain Singapura, KPK juga perlu melakukan hal serupa kepada peraturan perundang-undangan negara lain yang memiliki intensitas
tinggi dalam setiap kerja sama internasional KPK, seperti Amerika dengan Foreign Corrupt Practices Act (“FCPA”) dan Inggris dengan Bribery Act. Hal ini penting dilakukan untuk menghindari permintaan bantuan asing KPK ditolak atau tidak dapat dipenuhi oleh negara yang dituju.
Poin-poin penting yang harus didalami saat melakukan riset hukum adalah:
•
Apakah perkara yang ditangani KPK berimplikasi signifikan terhadap kepentingan atau ketertiban umum dalam negeri dari negara yang dimintakan bantuan? Contohnya, apakah penanganan kasus di Indonesia berpotensi menghambat stabilitas kegiatan ekonomi di suatu negara?•
Bagaimana format penerimaan bantuan menurut regulasi domestik suatu negara, apakah harus melalui MLA, surat resmi antar lembaga, jalur diplomatik, dan prasyarat apa saja yang harus dipenuhi dalam membangun substansi permintaan bantuan, antara lain seperti:o Dasar hukum internasional dan domestik negara terkait;
o Konsep kriminalitas ganda; dan
o Poin penolakan permintaan seperti hukuman mati, isu politik, SARA, dan lainnya.
Di akhir buku ini, akan terdapat lampiran yang membahas secara detail dan mendalam mengenai proses bisnis dan mekanisme penerimaan bantuan hukum berdasarkan peraturan perundangan yang berlaku di Singapura.
Strategi Komunikasi
Dalam praktiknya, KPK memiliki dua strategi komunikasi, yaitu komunikasi terhadap lembaga asing yang sudah terjalin hubungan sebelumnya, dan strategi komunikasi terhadap lembaga asing yang belum pernah menjalin hubungan dengan KPK.
• Strategi Komunikasi dengan Lembaga Asing yang Sudah Memiliki Hubungan dengan KPK
Setelah mendalami poin-poin penting terkait peraturan perundangan dan sistem hukum suatu negara yang akan dimintakan bantuan, selanjutnya KPK membuka jalur komunikasi awal melalui email, teleconference, atau pertemuan dengan lembaga asing terkait. Poin-poin penting yang disampaikan secara komprehensif dalam komunikasi awal ini adalah:
o Posisi penanganan perkara tersebut di dalam negeri, contohnya tahapan perkara yang dapat mencakup tahapan penyelidikan, penyidikan, penuntutan, atau putusan.43
o Setelah mendapatkan posisi kasus dari penyelidik, penyidik atau jaksa, spesialis kerja sama internasional di dalam Direktorat PJKAKI dapat memulai komunikasi dengan personel dari lembaga asing dan menyampaikan kebutuhan KPK. Hal ini dilakukan supaya penyelidik, penyidik atau jaksa dapat fokus pada penanganan perkara di domestik, di sisi lain proses permintaan bantuan ke lembaga asing dapat terus berlangsung secara paralel. Tidak jarang pertukaran informasi dan data dapat langsung dilakukan tanpa memerlukan casework atau pertemuan dengan penyelidik, penyidik atau jaksa. Namun jika dibutuhkan, spesialis kerja sama bersama dengan personel dari lembaga asing akan menyepakati dan merancang pertemuan.
o Merujuk ke poin di atas, dalam membangun hubungan internasional yang baik, yang menjadi fokus utama adalah persamaan hukum serta penyesuaian terhadap hukum tersebut, bukan perbedaan hukum antara kedua negara.
Contohnya saat menangani kasus tindak pidana korupsi di Indonesia, maka saat berhubungan dengan Singapura, yang
43 Penggunaan terminologi dalam menjelaskan posisi kasus sangat penting. Misalnya di beberapa negara, permintaan bantuan melalui MLA dapat diberikan saat kasus sudah memasuki tahap investigasi, sedangkan arti investigasi di Indonesia dapat berbeda terkait konsep penyelidikan dan penyidikan, sehingg a KPK harus dapat menyamakan persepsi tersebut baik dari sisi hukum dan tahapannya. Poin penting selanjutnya adalah jangan langsung meminta data, informasi, atau hal lainnya di awal, tetapi jelaskan terlebih dahulu posisi kasus tersebut.
ditegaskan bukan unsur kerugian negaranya melainkan suapnya (bribery).
o Urgensi dan implikasi dari bantuan yang diberikan negara asing kepada KPK dan Indonesia.
o Langkah-langkah yang akan dilakukan KPK berdasarkan data, informasi, atau hal lainnya yang diperoleh dari negara asing terkait penanganan perkara di Indonesia.44
o KPK dapat membangun dasar bahwa perkara ini tidak hanya merugikan Indonesia, tetapi juga berimplikasi kepada negara yang dituju, sehingga KPK dapat mengajak negara asing tersebut melakukan penanganan perkara bersama atau investigasi paralel (joint investigation).45
Saat komunikasi melalui konferensi atau rapat bersama baik melalui jaringan internet atau kunjungan langsung personel terkait, KPK tidak hanya menugaskan spesialis kerja sama, penyelidik dan penyidik, tetapi juga melibatkan jaksa di kegiatan dan komunikasinya.
• Strategi Komunikasi dengan Lembaga Asing yang Belum Memiliki Hubungan dengan KPK
Apabila KPK belum pernah memiliki hubungan kerja sama sebelumnya dengan suatu lembaga asing, KPK membangun interaksi awal melalui keikutsertaan KPK pada forum-forum internasional, dan membangun komunikasi melalui perwakilan negara atau lembaga asing yang terlibat dalam forum tersebut.
Contohnya pada awal berdirinya KPK, Direktorat PJKAKI saat itu ditargetkan oleh Pimpinan untuk sudah memiliki MoU di level
44 KPK harus memastikan kepada lembaga asing tersebut bahwa data yang dimintakan penting dan bagaimana pemanfaatannya. Lembaga asing akan menilai keseriusan KPK dalam menangani perkara tersebut.
45 Metode komunikasi seperti ini dilakukan agar negara dan lembaga asing juga mem iliki rasa kepemilikan dan menjadi kepentingan bersama terhadap kasus terkait. KPK harus mempelajari dasar hukum dan syarat -syarat apa saja pada negara asing tersebut untuk melakukan joint investigation, sehingga poin-poin ini harus ditekankan dalam komunikasi awal. Dalam pemaparan, KPK harus memberikan rekomendasi dasar hukum negara asing tersebut untuk membuka kasus terkait di negaranya.
ASEAN. Direktur PJKAKI, Pak Sujanarko, melakukan komunikasi awal dengan negara-negara ASEAN dan selanjutnya pada bulan Desember 2003, perwakilan lembaga asing dari empat negara, yaitu The National Anti-Corruption Commission (NACC) di Thailand, Biro Mencegah Rasuah (BMR) di Brunei Darussalam, Malaysian Anti-Corruption Commission (MACC) di Malaysia, dan Corrupt Practices Investigation Bureau (CPIB) di Singapura melakukan kunjungan kerja ke KPK untuk membahas konsep kerja sama internasional di kawasan ASEAN.
Pada saat itu NACC Thailand hadir dan ikut berdiskusi konsep kerja sama internasional di kawasan ASEAN dan membahas substansi MoU mengenai kerja sama pencegahan dan pemberantasan korupsi di regional ASEAN, yang saat ini disebut sebagai MoU ASEAN-PAC. Namun karena adanya kendala internal di negara Thailand, NACC tidak dapat ikut menandatangani MoU tersebut. Akan tetapi komitmennya dalam membangun inisiatif kerja sama internasional dalam pemberantasan korupsi adalah
Pada saat itu NACC Thailand hadir dan ikut berdiskusi konsep kerja sama internasional di kawasan ASEAN dan membahas substansi MoU mengenai kerja sama pencegahan dan pemberantasan korupsi di regional ASEAN, yang saat ini disebut sebagai MoU ASEAN-PAC. Namun karena adanya kendala internal di negara Thailand, NACC tidak dapat ikut menandatangani MoU tersebut. Akan tetapi komitmennya dalam membangun inisiatif kerja sama internasional dalam pemberantasan korupsi adalah