I.
Kerukunan
Kerukunan antar umat beragama yang akan diperoleh merupakan kerukunan yang bukan karena diatur secara eksternal, tetapi karena tumbuh dan berkembang secara otentik dari dalam diri setiap umat beragama dengan cara penghayatan iman yang bersangkutan dan melalui pengalaman iman bersama antar umat beragama. Kerukunan antar umat beragama merupakan suatu kondisi sosial ketika semua golongan agama mampu hidup bersama tanpa mengurangi hak dasar masing-masing untuk melaksanakan kewajiban agamanya. Masing- masing pemeluk agama yang baik haruslah hidup rukun dan damai.
Oleh karena itu, kerukunan antar umat beragama tidak mungkin akan lahir dari sikap fanatisme buta dan sikap tidak peduli atas keberagaman dan perasaaan orang lain. Agama memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan setiap penganutnya, Keyakinan itulah yang menjadi indentitas individual agar agama mampu membangun nilai-nilai keimanan yang luhur dan bermartabat. Nilai-nilai keimanan yang luhur dan bermartabat itulah pada akhirnya mengantar sikap untuk hidup penuh berdampingan antar sesamanya dengan didasari semangat kebebasan beragama, hal inilah tentunya meliputi kebebasan berpikir, berhati nurani, beragama, yang temasuk kebebasan menghayati keyakinan yang dianutnya. Dasar kerukunan untuk membangun kerukunan antar umat beragama yaitu :
a) Masing-masing mempunyai peranan yang berbeda-beda tetapi dapat saling berkomunikasi dalam hidup bersama penuh persaudaraan.
b) Ada saling dukungan yang semakin menumbuhkan kesetiaan, bahkan meningkatkan mutu dan peranan masing-masing.
c) Hidup bersama yang berorentasi pada nilai cinta kasih dan bukan pada kebutuhan psikologis (seperti ingin diperhatikan, ingin dipuji, dan diakui)
II.
Kasih
dengan rukun dan damai, kendati ada rupa-rupa perbedaan, dan saling menunjang atau bekerjasama dengan baik.
Sejak Konsili Vatikan II (1962-1965), Gereja Katolik sangat menekankan dan turut memperjuangkan kerukunan antar umat beragama, demi keharmonisan, persaudaraan, damai sejahtera, persatuan, dan keselamatan segenap umat manusia. Kerukunan antar umat beragama dilihat sebagai suatu kebutuhan hakiki dan universal di dalam Dignitatis Humanæ atau Pernyataan tentang Kebebasan Beragama . Pernyataan ini disetujui oleh para Uskup dalam sebuah pemungutan suara 2.308 berbanding 70. Nama Dignitatis Humanæ (Martabat Pribadi Manusia; Of the Dignity of the Human Person) diambil dari baris pertama dokumen, sebagaimana umumnya dokumen Gereja Katolik dinamai.
Deklarasi Dignitatis Humanae
Dokumen ini terdiri dari dua bagian dengan jumlah keseluruhan artikelnya ada limabelas buah. Dalam dokumen ini kita akan menemukan alasan mengapa Gereja merasa perlu untuk meneliti dan mengeluarkan sebuah deklarasi tentang kebebasan beragama. Hal ini tidak telepas dari perubahan paradigma dalam teologi dan praksis hidup Gereja Katolik sendiri terhadap agama-agama lain yang berubah sejak Konsili Vatikan II.
Sejak Vatikan II, Gereja mulai menghargai adanya kebenaran di luar agama Katolik. Oleh karena itu, perlu digagas suatu pegangan untuk bagaimana seharusnya bersikap terhadap kenyataan akan adanya pluralisme kebenaran di luar Gereja Katolik sendiri. Salah satunya adalah dekrit tentang “kebebasan beragama”. Dalam artikel pertama domumen ini, kita temukan dasarnya yang pertama yakni: kesadaran dan penghargaan atas martabat pribadi manusia yang semakin meluas. Gereja menyadari bahwa penghargaan terhadap arti penting martabat manusia kian meluas. Hal ini nyata dalam deklarasi PBB akan pentingnya menghargai Hak Asasi Manusia (HAM) yang merupakan hak dasar manusia yang diperoleh sejak lahirnya. Deklarasi tentang HAM ini semakin diterima luas oleh bangsa-bangsa di dunia. Salah satu poin HAM adalah kebebasan seseorang untuk memilih dan memeluk suatu agama tertentu tanpa adanya paksaan dari pihak manapun. Karena itu, Gereja sadar bahwa aspek penghargaan terhadap kebebasan beragama adalah merupakan salah satu upaya untuk menghargai martabat pribadi manusia.
Kedua, dikatakan juga bahwa “makin banyak orang yang menuntut supaya dalam bertindak manusia sepenuhnya menggunakan pertimbangannya sendiri serta kebebasannya yang bertanggung jawab, bukannya terdorong oleh paksaan dari pihak manapun.” Penghargaan terhadap kebebasan yang bertanggung jawab bagi setiap orang dalam bertindak
erat terkait dengan penghargaan terhadap otonomi pribadi dalam memutuskan sesuatu berdasarkan tuntunan suara hatinya. Karena melalui tuntunan suara hatinya, setiap orang bisa mencari sendiri dan menemukan kebenaran bagi dirinya sendiri. Kebenaran yang dianut secara bebas menurut pertimbangan nuraninya secara bertanggung jawab harus dihargai. Dengan demikian, pemaksaan oleh pihak manapun untuk bertindak melawan suara hatinya sendiri termasuk dalam memilih suatu agama maupun menghalang-halangi seseorang mengungkapkan iman dan kepercayaannya baik secara pribadi maupun secara kolektif di depan umum adalah tidak benar.
Ketiga, banyak juga yang menuntut agar wewenang pemerintah dibatasi secara yuridis, agar batas-batas kebebasan yang sewajarnya baik pribadi maupun kelompok jangan dipersempit. Erat terkait dengan hal ini adalah pengamalan agama secara bebas dalam masyarakat yang tidak dibatasi oleh negara. Maksudnya, Konsili mau mengatakan bahwa penting menghargai kebebesan seseorang untuk menuruti suara hatinya dalam mengamalkan ajaran agama sebagai kebenaran yang dianutnya baik secara pribadi maupun kolektif. Karena itu, segala kuasa manusiawi manapun termasuk negara tidak dapat menghalang-halangi ekspresi keagamaan seseorang baik secara individual maupun kolektif. Jika terjadi bahwa seseorang dilarang mengamalkan agamanya secara bebas dalam masyarakat, maka yang terjadi sesungguhnya adalah ketidakadilan terhadap pribadi manusia dan tata sosial yang ditetapkan Allah baginya. Karena bagaimana pun juga tindakan-tindakan keagamaan perseorangan maupun bersama untuk mengarahkan diri kepada Allah “mengatasi tata duniawi yang fana.”
Oleh karena itu, Konsili mengimbau agar pemerintah yang berkewajiban mengusahakan kesejahteraan umum wajib mengakui kehidupan beragama para warganya dan mendukungnya. Apabila pemerintah memberanikan diri mengatur dan merintangi kegiatan- kegiatan religius, maka tindakannya melampaui batas wewenangnya. Itulah ketiga alasan mengapa Konsili mengeluarkan dokumen ini guna mempertimbangkan aspirasi-aspirasi tersebut dan mau menegaskan bahwa semuanya itu selaras dengan asas kebenaran dan keadilan. Dalam kerangka ini, maka seturut spiritnya, Konsili meneliti Tradisi serta ajaran suci Gereja untuk menggali harta baru yang senatiasa selaras dengan khazanah lama. Artinya, Konsili mencoba untuk melihat kebenaran di luar agama lain tanpa harus menegasi tradisi dan keyakinan Gereja Katolik sendiri.