• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kerjasama Desa Paragraf 1

Umum Pasal 131

(1) Dalam rangka meningkatkan kesejahteraan rakyat, Desa dapat mengadakan kerjasama yang didasarkan pada pertimbangan efisiensi dan efektivitas pelayanan publik serta saling menguntungkan.

(2) Kerjasama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup: a. kerjasama antar-Desa dalam kecamatan;

b. kerjasama antar-Desa dalam Daerah;

c. kerjasama antar Desa dan Desa dari kabupaten/kota yang berbeda; dan/atau

d. kerjasama antara Desa dan pihak ketiga.

(3) Pelaksanaan kerjasama antar-Desa diatur dengan Peraturan Bersama Kepala Desa.

(4) Pelaksanaan kerjasama Desa dengan pihak ketiga diatur dengan perjanjian bersama.

(5) Kerjasama sebagaimana dimaksud pada ayat (2) difasilitasi oleh Camat.

Pasal 132

(1) Biaya pelaksanaan kerjasama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 131 pada ayat (2) diperhitungkan dari APBDesa masing-masing Desa yang bersangkutan.

(2) Dalam melaksanakan kerjasama, Desa membentuk badan kerjasama antar Desa.

(3) Pendanaan badan kerjasama sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dibebankan pada APBDesa masing-masing.

(4) Daerah dapat membentuk asosiasi untuk mendukung kerjasama antar-Desa.

(5) Pemerintah Daerah dapat memberikan bantuan dana untuk melaksanakan kerjasama antar-Desa melalui APBD.

Paragraf 2

Kerjasama Antar-Desa Pasal 133

(1) Peraturan Bersama Kepala Desa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 131 ayat (3) disusun berdasarkan Peraturan Desa yang ditetapkan dengan berpedoman kepada keputusan musyawarah Desa.

(2) Musyawarah Desa yang diselenggarakan dalam rangka kerjasama antar-Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) membahas:

a. ruang lingkup dan bidang kerjasama Desa;

b. tata cara dan ketentuan pelaksanaan kerjasama Desa; c. delegasi desa dalam badan kerjasama antar-Desa; d. jangka waktu;

e. hak dan kewajiban; f. pembiayaan;

h. penyelesaian perselisihan; dan i. lain-lain yang diperlukan.

Pasal 134

(1) Ruang lingkup dan bidang kerjasama antar-Desa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 133 ayat (2) huruf a meliputi:

a. pengembangan usaha bersama yang dimiliki oleh Desa untuk mencapai nilai ekonomi yang berdaya saing seperti: 1) pembentukan BUMDesa;

2) pendayagunaan sumber sumber daya alam dan lingkungan;

3) pengembangan pasar antar-Desa;

4) pengembangan sarana prasarana ekonomi antar-Desa; 5) pengembangan komoditas unggulan Desa.

b. kegiatan kemasyarakatan, pelayanan, pembangunan, dan pemberdayaan masyarakat antar-Desa seperti:

1) pengembangan kapasitas Pemerintah Desa, BPD, kelembagaan kemasyarakatan Desa, lembaga adat, BUMDesa, dan unsur masyarakat desa lainnya;

2) pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak; 3) peningkatan koordinasi dan sinkronisasi perencanaan

pembangunan antar-Desa;

4) pengembangan seni dan budaya;

5) peningkatan mutu layanan kebutuhan dasar kepada masyarakat antar-Desa.

c. bidang keamanan dan ketertiban seperti:

1) peningkatan keamanan dan ketertiban masyarakat antar-Desa;

2) pencegahan dan penyelesaian masalah sosial; 3) pencegahan dan penyelesaian konflik antar-Desa; 4) pengembangan sistem perlindungan buruh migran. (2) Selain ruang lingkup dan bidang kerjasama antar-Desa

sebagaimana dimaksud pada ayat (1), musyawarah Desa dapat menentukan ruang lingkup dan bidang kerjasama lain

sesuai dengan kondisi ekonomi dan sosial budaya masyarakat.

Pasal 135

(1) Delegasi Desa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 133 ayat (2) huruf c dipimpin oleh Kepala Desa dan beranggotakan: a. perangkat Desa;

b. anggota BPD;

c. lembaga kemasyarakatan Desa; d. lembaga Desa lainnya; dan

e. tokoh masyarakat dengan mempertimbangkan keadilan gender.

(2) Keputusan musyawarah Desa perihal delegasi Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menjadi lampiran dari berita acara hasil musyarawarah Desa dan untuk selanjutnya ditetapkan dengan keputusan Kepala Desa.

(3) Delegasi Desa dalam badan kerjasama antar-Desa berkewajiban untuk menginformasikan secara terbuka perkembangan tindak lanjut hasil musyawarah Desa di dalam penyusunan dan penetapan peraturan bersama Kepala Desa. (4) Masyarakat berhak menyalurkan aspirasi kepada delegasi

Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dalam rangka menjamin kerjasama antar-Desa sejalan dengan keputusan musyawarah Desa.

Paragraf 3

Kerjasama Desa dengan Pihak Ketiga Pasal 136

(1) Desa dapat menjalin kerjasama dengan pihak ketiga yang dilakukan untuk tujuan mempercepat dan meningkatkan: a. penyelenggaraan pemerintahan Desa;

b. pelaksanaan pembangunan Desa; c. pembinaan kemasyarakatan Desa; dan d. pemberdayaan masyarakat Desa.

(2) Pihak ketiga sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi antara lain: lembaga swadaya masyarakat, perguruan tinggi, organisasi kemasyarakatan, atau perusahaan.

(3) Kerjasama Desa dengan pihak ketiga yang bersifat strategis dan beresiko terhadap aset Desa serta menambah kekayaan/aset Desa dibahas dan disepakati dalam musyawarah Desa.

(4) Hasil/kesepakatan musyawarah Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan Peraturan Desa untuk selanjutnya menjadi dasar dalam penyusunan kesepakatan kerjasama secara tertulis antara Desa dengan pihak ketiga. (5) Kerjasama Desa dengan pihak ketiga yang bersifat sosial,

tidak beresiko terhadap aset Desa dan tidak menambah aset desa dibahas bersama oleh Kepala Desa dan BPD.

(6) Hasil/kesepakatan Kepala Desa dan BPD sebagaimana dimaksud pada ayat (5) ditetapkan dengan berita acara untuk selanjutnya menjadi dasar dalam penyusunan kesepakatan kerjasama secara tertulis antara Desa dengan pihak ketiga.

Pasal 137

(1) Musyawarah Desa yang diselenggarakan dalam rangka kerjasama Desa dengan pihak ketiga sebagaimana dimaksud dalam Pasal 136 ayat (3) membicarakan pokok-pokok bahasan yang meliputi:

a. ruang lingkup dan bidang kerjasama Desa dengan pihak ketiga;

b. tata cara dan ketentuan pelaksanaan kerjasama Desa dengan pihak ketiga;

c. delegasi Desa dalam pembahasan kerjasama Desa dengan pihak ketiga;

d. jangka waktu; e. hak dan kewajiban; f. pembiayaan;

g. tata cara perubahan, penundaan dan pembatalan; h. penyelesaian perselisihan; dan

(2) Peserta musyawarah Desa berhak mendapatkan informasi tentang pokok-pokok bahasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling lambat 1 (satu) minggu sebelum diselenggarakannya kegiatan musyawarah Desa.

Pasal 138

(1) Ruang lingkup dan bidang kerjasama Desa dengan pihak ketiga sebagaimana dimaksud pada dalam Pasal 137 ayat (1) huruf a meliputi

a. meningkatkan pelayanan pemenuhan kebutuhan dasar; b. mengadakan sarana prasarana Desa;

c. melestarikan sumber daya alam dan lingkungan Desa; d. meningkatkan kapasitas Desa dalam menyelenggarakan

Pemerintahan Desa;

e. meningkatkan kualitas perencanaan pembangunan Desa; f. meningkatkan transparansi dan akuntabilitas

penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan Desa; g. meningkatkan partisipasi masyarakat; dan

h. menguatkan peran dan fungsi lembaga kemasyarakatan. (2) Selain ruang lingkup dan bidang kerjasama Desa dengan

pihak ketiga sebagaimana dimaksud pada ayat (1), musyawarah Desa dapat menentukan ruang lingkup dan bidang kerjasama lain yang bersifat strategis sesuai dengan kondisi ekonomi dan sosial budaya masyarakat.

Pasal 139

(1) Delegasi Desa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 137 ayat (2) huruf c dipimpin oleh Kepala Desa dan beranggotakan: a. perangkat Desa;

b. anggota BPD;

c. lembaga kemasyarakatan desa; d. lembaga Desa lainnya; dan

e. tokoh masyarakat dengan mempertimbangkan keadilan gender.

(2) Keputusan musyawarah Desa perihal delegasi Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menjadi lampiran dari berita acara hasil musyarawarah Desa dan untuk selanjutnya ditetapkan dengan keputusan Kepala Desa.

(3) Delegasi Desa dalam pembahasan kerjasama antara Desa dengan pihak ketiga berkewajiban untuk menginformasikan secara terbuka perkembangan tindak lanjut hasil musyawarah Desa di dalam penyusunan dan penetapan kesepakatan kerjasama antara Desa dengan pihak ketiga. (4) Masyarakat Desa berhak menyalurkan aspirasi kepada

delegasi Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dalam rangka menjamin kerjasama desa dengan pihak ketiga sejalan dengan keputusan Musyawarah Desa.

Paragraf 4

Rencana Investasi Masuk Desa Pasal 140

(1) Pengelolaan sumberdaya Desa dapat dilakukan dengan cara kerjasama Desa dengan pihak ketiga melalui kegiatan investasi masuk Desa.

(2) Rencana investasi masuk Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang bersifat strategis harus dibahas dan disepakati dalam musyawarah Desa.

(3) Rencana investasi yang bersifat strategis meliputi:

a. berdampak pada berkurangnya aset Desa, hilangnya aset Desa, atau bertambahnya kekayaan/aset Desa,

b. berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat Desa, atau pada peningkatan kemiskinan masyarakat di Desa.

(4) Rencana investasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) harus dibahas dan disepakati dalam musyawarah Desa.

Pasal 141

(1) Musyawarah Desa yang diselenggarakan dalam rangka perencanaan investasi masuk desa sebagaimana dimaksud

dalam Pasal 140 ayat (2) membicarakan pokok-pokok bahasan yang meliputi:

a. jenis investasi;

b. ruang lingkup dan jenis usaha di desa yang dibiayai dengan dana investasi masuk Desa;

c. dampak positif dan negatif terhadap keberadaan aset Desa, pendapatan asli Desa dan tingkat kesejahteraan masyarakat Desa;

d. delegasi Desa dalam pembahasan teknis rencana investasi dengan pihak swasta/investor;

e. jangka waktu investasi; f. besaran jumlah investasi; g. hak dan kewajiban Desa;

h. hak dan kewajiban pihak ketiga;

i. tata cara perubahan, penundaan dan pembatalan kerjasama investasi;

j. penyelesaian perselisihan; dan k. lain-lain yang diperlukan.

(2) Peserta musyawarah Desa berhak mendapatkan informasi tentang pokok-pokok bahasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling lambat 1 (satu) minggu sebelum diselenggarakannya kegiatan musyawarah Desa.

Pasal 142

(1) Ruang lingkup kegiatan usaha ekonomi yang dapat dibiayai dengan dana investasi masuk Desa meliputi usaha yang dikelola oleh BUMDesa, dan/atau usaha perseorangan atau usaha kelompok masyarakat yang menimbulkan dampak positif atau negatif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 141 ayat (1) huruf c.

(2) Jenis usaha ekonomi yang dibiayai oleh dana investasi meliputi antara lain: hutan, kebun, ternak, perikanan, agroindustri kerakyatan dan usaha-usaha ekonomi lainnya sesuai dengan kondisi obyektif Desa dan masyarakat Desa.

(3) Pola kerjasama Desa dengan pihak ketiga dalam rangka investasi masuk Desa adalah shareholding yang melibatkan desa dan warga Desa sebagai pemegang saham.

Pasal 143

(1) Delegasi Desa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 141 ayat (1) huruf d dipimpin oleh Kepala Desa dan beranggotakan: a. perangkat Desa;

b. anggota BPD;

c. kelompok usaha ekonomi terkait; d. BUMDesa; dan

e. tokoh masyarakat dengan mempertimbangkan keadilan gender.

(2) Keputusan musyawarah Desa perihal delegasi Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menjadi lampiran dari berita acara hasil musyarawarah Desa dan untuk selanjutnya ditetapkan dengan surat keputusan Kepala Desa.

(3) Delegasi Desa dalam pembahasan rencana investasi masuk Desa antara Desa dengan pihak ketiga berkewajiban untuk menginformasikan secara terbuka perkembangan tindak lanjut hasil musyawarah Desa di dalam penyusunan dan penetapan kesepakatan kerjasama investasi antara Desa dengan pihak ketiga.

(4) Masyarakat Desa berhak menyalurkan aspirasi kepada delegasi Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dalam rangka menjamin kerjasama Desa dengan pihak ketiga sejalan dengan keputusan musyawarah Desa.

Pasal 144

(1) Rencana investasi masuk Desa dilakukan dengan cara membangun kerjasama Desa dengan pihak ketiga untuk mengembangkan BUMDesa.

(2) Pengembangan BUMDesa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan:

b. melakukan pendampingan teknis dan akses ke pasar; dan

c. memprioritaskan BUMDesa dalam pengelolaan sumber daya alam di Desa.

Paragraf 5

Pemantauan dan Evaluasi Kerjasama Pasal 145

(1) Camat melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap kerjasama yang dilakukan antar-Desa dalam kecamatan. (2) Bupati melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap

kerjasama antara Desa dan Desa dalam kabupaten, kerjasama antara Desa dan Desa dari kabupaten yang berbeda, dan kerjasama antara Desa dan pihak ketiga.

Bagian Kedua Perselisihan

Pasal 146

(1) Setiap perselisihan yang timbul dalam kerjasama Desa diselesaikan secara musyawarah serta dilandasi semangat kekeluargaan.

(2) Dalam hal terjadi perselisihan dalam penyelenggaraan kerjasama antar-Desa dalam kecamatan, penyelesaiannya difasilitasi dan diselesaikan oleh Camat.

(3) Dalam hal Camat tidak dapat menyelesaikan perselisihan sebagaimana di maksud pada ayat (2), penyelesaiannya dilakukan oleh Bupati.

(4) Dalam hal terjadi perselisihan dalam penyelenggaraan kerjasama antar-Desa dalam Daerah, kerjasama antar-Desa dan Desa dari kabupaten yang berbeda, penyelesaiannya difasilitasi dan diselesaikan oleh Bupati.

(5) Penyelesaian perselisihan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sampai dengan ayat (4) bersifat final dan ditetapkan dalam berita acara yang ditandatangani oleh para pihak dan pejabat yang memfasilitasi penyelesaian perselisihan.

(6) Perselisihan dengan pihak ketiga yang tidak dapat terselesaikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sampai dengan ayat (5) dilakukan melalui proses hukum sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pasal 147

Ketentuan lebih lanjut mengenai kerjasama Desa dan perselisihan yang timbul akibat kerjasama Desa diatur dengan Peraturan Bupati.

BAB VIII

PARTISIPASI MASYARAKAT

Dokumen terkait