BAB III : ANALISIS DATA
III.4 Kerugian Bila Tidak Diberlakukannya Kebijakan Moratorium Logging 65
Menurut WALHI, adapun kebijakan moratorium logging sedapat mungkin harus diterapkan di Indonesia, karena apabila tidak diterapkan maka hutan Indonesia akan terus mengalami kerusakan dan penyusutan yang semakin mengkhawatirkan. dan tentunya masyarakat dan pemerintah jugalah yang akan menanggung akibatnya. Dan adapun kerugian secara spesifik menurut WALHI yaitu :
• Pemerintah tidak dapat memonitor kegiatan penebangan haram secara efektif;
• Distorsi pasar tidak dapat diperbaiki dan pemborosan kayu bulat akan terus terjadi;
• Tidak ada paksaan untuk industri untuk meningkatkan efisiensi pemakaian bahan baku atau untuk mengimpor lebih banyak;
• Industri pulp akan menunda-nunda pembangunan hutan-hutan tanaman dan semakin jauh akan menghancurkan hutan alam;
• Defisit industri kehutanan sebesar US$ 2,5 milyar per tahun dari penebangan liar tidak bisa dihentikan;
• Hutan dataran rendah di Sumatra akan habis dalam 5 tahun, dan hutan dataran rendah Kalimantan akan habis dalam waktu 10 tahun;
• Kita akan kehilangan basis industri yang menghasilkan devisa sebesar US$ 7 milyar pada masa yang akan datang dan bila sumberdaya hutan telah habis, dan ratusan ribu pekerja di sektor ini akan kehilangan pekerjaannya dalam masa 10 tahun mendatang;
Kebutuhan kayu bagi industri dapat diimpor melalui kebijakan membuka keran impor kayu selebar-lebarnya. Margin keuntungan dari industri kayu yang besar memungkinkan menggunakan suplai dari kayu impor. Tujuan jangka panjang pelaksanaan
moratorium logging adalah menyeimbangkan kapasitas industri pada tingkat keberlanjutan
hutan alam.
III.5 Upaya yang Dilakukan WALHI dalam Menyosialisasikan Pencetusan Kebijakan Moratorium Logging
WALHI mengemban misi sebagai wahana perjuangan penegakan kedaulatan dan demokrasi untuk pemenuhan keadilan, pemerataan sosial, pengawasan rakyat atas kebijakan pengelolaan lingkungan hidup dan sumber-sumber kehidupan rakyat, serta penyelengaraan pemerintahan yang adil dan demokratis.
Untuk mewujudkan misi tersebut WALHI memainkan peran : pertama, menggalang sinergi kekuatan antar organisasi non-pemerintah dan organisasi rakyat yang berorientasi pada nilai : (1) Demokrasi, (2) Keadilan antar generasi, (3) keadilan gender, (4) penghormatan terhadap mahkluk hidup, (5) persamaan hak masyarakat adat, (6) solidaritas, (7) anti kekerasan, (8) keterbukaan, (9) keswadayaan dan, (10) profesionalisme.
Kedua, mendorong proses transformasi sosial dengan cara : (1) mengembangkan
menegakkan dan melindungi kedaulatan rakyat, (3) mendekonstruksikan tatanan ekonomi kapitalistik global yang menindas dan ekspolitatis, (4) membangun alternatif tata ekonomi dunia bar, serta (5) mendesakkan kebijakan pengelolaan lingkungan hidup dan sumber-sumber kehidupan rakyat yaang adil dan berkelanjutan.
Ketiga, memfasilitasi komunikasi dan informasi antar organisasi non-pemerintah
dan antar sesama kelompok masyarakat dan individu dalam melakukan advokasi lingkungan hidup dan sumber-sumber kehidupan rakyat.
Oleh karena itu, dari sejak awal memperjuangankan kebijakan moratorium
logging, WALHI berkomitmen akan menempuh berbagai cara agar moratorium logging
ini dapat dilaksanakan di Indonesia dalam sebuah bentuk kebijakan pemerintah.
Adapun upaya-upaya yang dilakukan WALHI dalam menyosialisasikan pemberlaluan kebijakan moratorium logging ini agar menjadi sebuah kebijakan di Indonesia antara lain adalah sebagai berikut : (1) membangun lembaga mitra pemerintah (2) melakukan advokasi (3) melakukan investigasi terhadap kasus-kasus perusakan hutan, (4) melakukan kampanye secara luas dan menyeluruh, (5) mengadakan seminar nasional tentang dampak kerusakan hutan dan perlu kebijakan moratorium logging, (6) Aksi dengan menggunakan massa untuk memberi preassure kepada para pelaku kebijakan.66
Pada tahap awal perjuangannya, WALHI berusaha menjadi lembaga mitra pemerintah. Namun dalam kemitraannya, WALHI hanya terfokus untuk membantu
Dan adapun uraian dari upaya-upaya yang dilakukan WALHI dalam menyosialisasikan kebijakan moratorium logging tersebut adalah sebagai berikut :
1. Membangun lembaga mitra pemerintah
66
pemerintah dengan jalan advokasi dan pengawasan atau kontrol terhadap kelestarian lingkungan hidup khususnya hutan. WALHI yang sangat concern dan serius membantu pemerintah dalam melakukan advokasi dan pengawasan atau kontrol berupaya menunjukkan keseriusannya dengan membangun lembaga mitra pemerintah dalam skala nasional ataupun daerah. Secara internasional, WALHI adalah anggota dari Friends Of the
Earth International (FOEI) yang merupakan federasi lingkungan hidup sedunia dengan 71
organisasi anggota di 70 negara, dan memiliki lebih dari sejuta orang anggota individu.67
1.
Secara nasional WALHI telah berada di 26 provinsi termasuk Sumatera Utara. Saat ini WALHI telah membangun lembaga pemerintah dengan menggabung kan diri pada forum kelompok masyarakat sipil yang sekarang memiliki 45 anggota organisasi yang tersebar diseluruh Indonesia dan juga Sumatera Utara. Dan berikut adalah beberapa organisasi anggota WALHI :
2.
Lembaga Bantuan Hukum dan Advokasi Rakyat Sumatera (BAKUMSU)
3.
Yayasan Pengembangan Sumber Manusiawi (BINA INSANI)
4.
Badan Perjuangan Rakyat Penunggu Indonesia (BPRPI)
5.
Bina Konversi Alam (BINIKA)
6.
Bina Keterampilan Pedesaan (Bitra Indonesia)
7.
Yayasan Pengembangan Masyarakat “EKA BAKTI” (YPM EKA BAKTI)
8.
Lembaga Transformasi Sosial (ELTRANS)
9.
Forum Petani Kreatif (Yayasan IBA Teman Kreatif)
10.
Forum Usaha Informasi Edukasi Sejahtera (FUSIES)
11.
Generasi Pencinta Kelestarian Alam (GENETIKA)
12.
Yayasan Humaniora
67
http://
Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KONTRAS)
a. Berbentuk badan hukum atau yayasan
2. Melakukan advokasi
Berdasarkan perencanaan strategis yang disusun akhir tahun 1999, kegiatan advokasi WALHI sepanjang tahun 2000 mengacu pada rumusan kebijakan eksternal (advokasi kebijakan). Kebijakan advokasi eksternal diantaranya: menyarankan kepada pemerintah daerah dan pusat agar segera memberlakukan kebijakan moratorium logging terhadap hutan Indonesia, demi menyelamatkan hutan Indonesia tersebut. Lalu, mengubah UU yang dianggap merugikan rakyat dan lingkungan hidup, membangun strategi advokasi pro-aktif, terutama pada masyarakat yang terkena bencana dan krisis, membangun kekuatan rakyat agar dapat mengontrol liberalisasi ekonomi, membangun sistem dan memperkuat civil society agar dapat mengontrol akuntabilitas parlemen di tingkat provinsi atau kabupaten dan pelaksanaan otonomi daerah serta memperjuangkan terbentuknya penyelenggaraan negara yang baik dan bersih. Namun, tidak semua organisasi lingkungan hidup dapat mengatasnamakan lingkungan hidup, melainkan harus memenuhi persyaratan tertentu. Adapun syarat yang dimaksud adalah :
b. Dalam anggaran dasar organisasi lingkungan hidup yang bersangkutan menyebutkan dengan tegas bahwa tujuan didirikannya organisasi tersebut adalah untuk kepentingan pelestarian fungsi lingkungan hidup.
c. Telah melaksanakan kegiatan sesuai dengan anggaran dasarnya.
Dengan adanya persyaratan tersebut maka secara selektif keberadaan organisasi lingkungan harus diakui memiliki ”ius standi” agar dapat mengajukan gugatan atas nama lingkungan hidup ke pengadilan. Gugatan yang diajukan organisasi lingkungan hidup ini tidak dapat berupa tuntutan membayar ganti rugi, melainkan hanya gugatan lain, seperti dibawah ini :
- Memohon kepada pengadilan agar seseorang diperintahkan untuk melakukan tindakan hukum tertentu yang berkaitan dengan pelestarian fungsi lingkungan hidup.
- Memohon kepada pengadilan untuk menyatakan seseorang atau lembaga yang melakukan usaha perbuatan melanggar hukum karena telah mencemarkan atau merusak lingkungan hidup.
Dengan adanya kewenangan WALHI dalam melakukan advokasi terhadap seseorang atau lembaga ini, maka WALHI dapat meminta seseorang atau lembaga tersebut untuk menghentikan suatu kegiatan yang dapat merusak lingkungan ataupun hutan. Dengan membawa berbagai isu tentang ancaman terhadap eksistensi kehutanan di Indonesia, maka WALHI melakukan advokasi terhadap pemerintah agar segera memberlakukan kebijakan moratorium logging terhadap hutan Indonesia demi menyelamatkan hutan Indonesia itu sendiri secara nasional.
3. Melakukan investigasi terhadap kasus-kasus perusakan hutan
Dalam upaya ini WALHI melakukan penelitian tentang seberapa parah kerusakan hutan di wilayah. Dengan dilakukannya penelitian ini dapat ditentukan juga kawasan mana yang bernilai ekologi tinggi. Investigasi dilakukan dalam bentuk langsung turun ke lapangan atau melalui investigasi satelit. Hutan dalam pandangan LSM ini adalah kawasan yang bukan bernilai ekonomi tinggi, melainkan bernilai ekologi tinggi. Paradigma yang terbangun di masyarakat saat ini adalah hutan sebagai kawasan bernilai ekonomi tinggi karena menghasilkan kayu dan lahan yang dapat menghasilkan keuntungan. Oleh sebab itu lah pembalakan sering terjadi. Sedangkan hutan sebagai kawasan bernilai ekologi tinggi adalah merupakan kawasan atau hutan yang dapat digunakan sebagai penyangga kehidupan, karena dapat membantu kehidupan orang banyak, kegunaannya seperti :
a.hutan sebagai penyangga pertanian b. hutan sebagai sumber mata pencaharian c.hutan sebagai penyumbang udara bersih
d. hutan sebagai penyangga ekosistem, yang dapat menyimpan air dan penyangga bencana
Dalam upaya ini WALHI melakukan penelitian tentang kasus-kasus kehutanan yang terjadi di Indonesia. Motif-motif apa saja yang menyebabkan terjadinya illegal
logging di wilayah Indonesia sampai pada investigasi sistem hukum dan sistem
pengelolaan hutan yang penuh dengan korupsi. Investigasi ini berguna untuk menginformasikan bahwa begitu banyak dampak kerugian dari pembalakan hutan dari tangan-tangan penjahat lingkungan. Hasil dari investigasi kasus-kasus kehutanan ini juga sangat berguna untuk dijadikan landasan dalam pencetusan maupun pemberlakuan
moratorium logging Indonesia.
4. Melakukan kampanye secara luas dan menyeluruh
Dari hasil investigasi diatas, dilakukanlah kampanye/sosialisasi secara luas kepada masyarakat. Data yang didapat dari hasil investigasi tadi menjadi referensi pokok yang dijadikan oleh WALHI untuk diberitahukan secara luas dan menyeluruh kepada masyarakat melalui berbagai media, baik media massa, media elektronik dan media internet. Kampanye WALHI ini dilakukan untuk merubah pola pikir masyarakat dalam mengelola hutan Indonesia. Dan membuat masyarakat menjadi lebih tahu tentang permasalahan melalui media data seyogyanya akan menambah wacana yang mengundang perhatian dan apresiasi dari masyarakat. Hasil investigasi merupakan hasil pengusutan yang terencana dan sistematis dan diteliti secara mendetail yang kemudian menjadi sebuah
pengetahuan baru (new knowledge) yang disebarkan melalui berbagai media termasuk melalui kampanye.
Melalui kampanye/sosialisasi ini WALHI mengenalkan konsep moratorium
logging kepada masyarakat luas di Indonesia. Dan menyerukan agar masyarakat di
Indonesia mendukung moratorium logging ini untuk dijadikan kebijakan di Indonesia. Melalui kampanye ini WALHI juga ingin menciptakan sensitivitas masyarakat terhadap kerusakan hutan sehingga diharapkan masyarakat akan memberikan dukungan penuh terhadap WALHI dalam upaya mendesak pemerintah agar segera memberlakukan
moratorium logging terhadap hutan Indonesia.
5. Mengadakan seminar Nasional tentang perlunya kebijakan moratorium
logging
Setelah bererapa tahapan pengumpulan data dilakukan, lalu WALHI meningkatkan pembahasan konsep dari kebijakan moratorium logging ini melalui seminar. Melalui seminar ini WALHI mengundang berbagai kalangan yang dianggap berhubungan dengan sektor kehutanan. Seperti misalnya Departemen Kehutanan, Pengusaha HPH, Anggota DPR-RI dari Komisi Kehutanan dan masyarakat umum.
Menurut WALHI, tahapan seminar ini merupakan tahapan yang sangat krusial. Hal ini dikarenakan, melalui seminar tersebut WALHI dapat menyampaikan dan menjelaskan tentang dengan gamblang tentang konsep dari kebijakan moratorium logging tersebut langsung kepada pemerintah secara khusus. WALHI juga dapat menyampaikan kepada permerintah Indonesia (melalui Departemen Kehutanan) hasil temuan dari kasus-kasus kehutanan di Indonesia, yang dikumpulkan WALHI melalui tahapan-tahapan yang
dilakukan WALHI tersebut diatas sebagai dasar untuk mengajak pemerintah agar segera memberlakukan kebijakan moratorium logging di Indonesia.68
Setiap tahun, sejak dicetuskannya moratorium logging tersebut, WALHI sanagt gencar mengadakan seminar tentang perlunya kebijakan moratorium logging. Hal ini pun dilakukan agar kebijakan moratorium logging yang dicetuskan WALHI tersebut diharapkan agar mendapatkan respon yang positif baik dari pemerintah ataupun masyarakat luas. Adapun salah satu seminar yang diadakan WALHI untuk mengkampanyekan moratorium logging tersebut ialah seminar yang diadakan pada tanggal 30-Juni-2008. Adapun tema dari seminar tersebut yaitu “Kejahatan Lingkungan dan Sosialisasi Moratorium Logging”. Seminar ini diadakan digedung Wisma Dahlia, Universitas Lampung, Provinsi Lampung. Seminar ini menghadirkan badan pengelolaan lingkungan hidup, dan mengundang semua pihak eksekutif terkait, legislatif, unsur kepolisian, NGO/LSM, ormas , mahasiswa, akademisi, serta para wartawan.
69
Metode pressure yang dilakukan WALHI terhadap para pelaku kebijakan salah satunya dengan cara demonstrasi turun ke jalan. Dengan mengangkat isu tentang kerusakan dan penyusutan hutan Indonesia yang semakin mengkhawatirkan, sehingga pemerintah didesak agar segera memberlakukan kebijakan moratorium logging terhadap hutan Indonesia. Menurut salah satu anggota WALHI-Sumut, Preassure dengan demonstrasi turun ke jalan ini dilakukan tidak hanya yang berkaitan langsung dengan
moratorium logging tetapi juga kasus-kasus hasil investigasi, pelaku kejahatan ilegal 6. Melakukan demonstrasi dengan menggunakan massa untuk memberi pressure
kepada pemerintah.
68
Wawancara dengan Ibrahim Nainggolan, (Ketua Dewan Daerah WALHI-Sumut), pada tanggal 13 Mei 2009
69
logging, seperti kasus Adelin Lis (Senin 23 Juli 2007) dan yang terbaru adalah aksi
tentang KTT climate change di Bali.70
Setelah berbagai tahapan dan upaya dilakukan WALHI dalam menyuarakan kebijakan moratorium logging tersebut, maka segala sesuatunya tentunya dikembalikan kepada pemerintah. Karena pemerintah lah yang berhak memberlakukan kebijakan
moratorium logging tersebut. Namun, menurut WALHI, dari sejak dicetuskan pada tahun
2000 lalu hingga saat ini, kebijakan moratorium logging tersebut sepertinya belum mendapat respon yang positif dari pemerintah. Indikasinya yaitu, secara empiris WALHI
Lalu WALHI juga melakukan demonstrasi disela-sela pertemuan lima menteri lingkungan hidup asean yaitu Indonesia, singapura, maslaysia, Brunei,Thailand, pada tanggal 20-6-2007 dijambi. Kala itu WALHI mendesak agar pertemuan lima menteri lingkungan hidup itu harus menghasilkan komitmen yang kongkret dan jangan hanya penandatanganan kontrak tanpa action. Menurut direktur WALHI Sumatera Utara, Indonesia selama ini gagal dalam menangulangi kerusakan hutan, dikarenakan kebijakan-kebijakan pemerintah yang tidak kurang efektif dalam melindungi hutan, oleh karena itu sebaiknya pemerintah segera memberlakukan kebijakan
moratorium logging.
Dan yang terakhir, WALHI juga melakukan demonstrasi pada saat debat calon presiden putaran terakhir yang dilakukan pada tanggal 2 juli 2009 dibalai Sarbini Jakarta. Pada saaat itu WALHI mendesak agar calon presiden yang terpilih pada pemilu 2009 nantinya harus seggera memberlakukan kebijakan moratorium logging terhadap hutaan Indonesia.
70
belum pernah mendengar adanya pemberlakuan kebijakan moratorium logging terhadap hutan Indonesia secara nasional.71
Menurut WALHI, sikap pemerintah ini menunjukkan bahwa pemerintah masih kurang sensitif terhadap kondisi hutan Indonesia. WALHI menilai sikap pemerintah ini merupakan wujud dari inkosistensi pemerintah dalam menyelesaikan permasalahan hutan di Indonesia. Komitmen reformasi dibidang kehutanan di Indonesia hanya dijadikan lips
service demi menutupi keengganan pemerintah dalam menyelesaikan masalah hutan di
Indonesia.
72
Kalau saja pemerintah memang serius dalam menyelesaikan permasalahan hutan di Indonesia, maka seharusnya pemerintah memberikan respon yang positif terhadap tawaran kebijakan moratorium logging tersebut dan sesegera mungkin dapat memberlakukanya 73
Kebijakan moratorium logging tentu tidak sepenuhnya didukung oleh berbagai pihak, keputusan yang tidak popular bagi pelaku bisnis perkayuan, tetapi secara umum dapat disimpulkan bahwa pihak yang tidak mendukung kebijakan moratorium logging adalah pengusaha HPH yang gemar melakukan illegal logging, pihak-pihak yang menggunakan jalur illegal, menabrak rambu hukum, dan tidak berpikir dampak kerusakan hutan.
Pada dasarnya WALHI mengerti dan sadar, sesungguh pemerintah mampu menyelesaikan permasalahan hutan Indonesia yang sangat kompleks ini. Namun berbagai kepentingan baik itu dari pengusaha kayu ataupun oknum pemerintah itu sendiri, menjadi pertimbangan dan kendala besar bagi pemerintah dalam menerima kebijakan moratorium
logging tersebut untuk dijadikan suatu kebijakan di Indonesia.
71
Wawancara dengan Syahrul Isman, Loc Cit
72
Ibid
73
Moratorium logging tidak sama dengan larangan memanfaatkan hasil hutan, tetapi
perlu diatur agar tidak menimbulkan konflik kepentingan melalui penyusunan kembali tata kelolanya. Hutan juga perlu istirahat dari daya rusak eksploitasi yang berlebihan, reforestrasi atau penanaman kembali merupakan pilihan yang paling bijaksana, menguras habis hasil hutan kayu tanpa pernah memikirkan penanaman kembali merupakan tindakan yang akan merugikan orang banyak.
Oleh karena itu hingga saat ini WALHI belum berhenti memperjuangkan kebijakan moratorium logging ini hingga dijadikan suatu kebijakan di Indonesia. Untuk itu, WALHI tetap konsisten pada titik perjuangannya, yakni membantu pemerintah Indonesia dalam mengaktualisasikan dan mengawasi kebijakan lainnya yang berkenaan dengan penyelematan hutan di Indonesia sambil terus menyuarakan kebijakan moratorium
logging tersebut dan juga mendorong diberikannya hak rakyat untuk mengakses hutan
BAB IV PENUTUP