HASIL DAN PEMBAHASAN
C. Kerugian Ekonomis Akibat Serangan Rayap Tanah dan Rayap Kayu Kering pada Tiap-Tiap Konstruksi pada Tiap-Tiap Konstruksi
C. Kerugian Ekonomis Akibat Serangan Rayap Tanah dan Rayap Kayu Kering pada Tiap-Tiap Konstruksi
Setiap rayap akan membuat koloni di suatu lokasi yang dapat membantu dalam perkembangan hidup koloninya. Nandika; dkk (2003) menyebutkan faktor lingkungan yang mempengaruhi perkembangan populasi rayap meliputi curah hujan, suhu, kelembaban, ketersediaan makanan dan musuh alami. Faktor-faktor tersebut saling berinteraksi dan saling mempengaruhi satu sama lain. Kelembaban dan suhu merupakan faktor yang secara bersama-sama mempengaruhi aktifitas rayap. Perubahan kondisi lingkungan menyebabkan perubahan perkembangan, aktifitas, dan perilaku rayap.
Berdasarkan sifat penyerangannya rayap tanah cenderung menyukai lokasi yang memiliki kelembaban yang tinggi. Dalam suatu rumah, bahan-bahan konstruksi kayu yang diduga sering terkena bocoran air hujan serta lokasi yang lembab seperti di daerah kamar mandi merupakan bagian yang dominan terkena serangan rayap tanah. Sementara itu, rayap kayu kering tidak terlalu memerlukan kondisi yang lembab pada daerah serangannya karena jenis rayap ini mampu membuat kelembaban di dalam kayu yang diserang. Daftar kerugian komponen dapat dilihat pada Lampiran 9.
Terkait dengan sifat serangan rayap tanah dan rayap kayu kering di atas, setiap daerah cenderung memiliki faktor lingkungan yang mendukung untuk berkembangnya rayap. Besarnya kerugian yang ditimbulkan akibat serangan rayap tanah dan rayap kayu kering untuk masing-masing jenis konstruksi pada menunjukkan hasil yang bervariasi.
Tabel 7. Kerugian Ekonomis Akibat Serangan Rayap Tanah dan Rayap Kayu Kering pada Tiap-Tiap Konstruksi
Komponen Rayap Tanah
Rayap Kayu Kering Gabungan RT + RKK Konstruksi (Rp) (Rp) (Rp) Dinding 1.097.900 1.184.600 2.198.200 Daun pintu 1.177.100 1.724.100 2.901.200 Kusen pintu 5.433.450 3.428.700 8.862.150 Daun jendela 339.800 696.900 1.036.700 Kusen jendela 1.833.500 2.118.300 3.951.800 Lisplang 890.600 0 890.600 Plafon 248.100 32.500 280.600 Tiang 1.970.600 715.200 2.685.800 Total 12.532.650 9.900.300 22.432.950
Pada Tabel 7 dapat diketahui kerugian ekonomis yang terbesar terjadi pada komponen kusen pintu dengan nilai kerugian Rp 8.862.150, kemudian di susul oleh kusen jendela dengan nilai kerugian Rp 3.951.800. Aksesibilitas rayap diperkirakan berasal dari tiang-tiang pondasi rumah yang lembab.
Dilihat dari bentuk kontruksinya, kusen pintu dan kusen jendela pada rumah contoh tingginya tidak begitu jauh dari tanah, sehingga akan memudahkan bagi rayap untuk naik ke komponen bangunan tersebut. Hal ini sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Prasetyo (2005) bahwa rayap tanah akan mudah merambat ke bagian bangunan yang tingginya lebih rendah dari 15 cm sekalipun. Rayap tanah
biasanya menyerang kusen pintu yang berada di daerah yang lembab seperti di dapur dan di kamar mandi. Hal ini juga tidak jauh berbeda dengan kusen jendela. Kusen jendela yang terserang umumnya berada di daerah belakang rumah. Sedangkan rayap kayu kering biasanya menyerang kusen pintu yang berada di ruang tengah rumah contoh seperti kusen pintu kamar dan kusen pintu depan. Kusen jendela yang terserang umumnya adalah kusen jendela yang berada di depan dan disamping rumah. Selain itu, besarnya kerugian juga disebabkan besarnya intensitas serangan rayap yang terdapat pada tiap rumah contoh yang dialami.
Berdasarkan data yang di dapat, intensitas serangan rayap yang paling kecil terdapat pada lisplang dan plafon. Hal ini mungkin dikarenakan letaknya yang strategis yaitu menyangkut keindahan rumah. Berdasarkan wawancara yang telah dilakukan, kayu yang biasa dijadikan sebagai bahan baku lisplang ini adalah kayu damar. Kayu adalah kayu yang memiliki kelas awet I-II. Nandika; dkk (2003) menyatakan bahwa kayu ulin, merbau, damar dan jati merupakan jenis kayu yang di golongkan tahan terhadap serangan rayap. Mekanisme ketahanan alaminya tersebut dikendalikan oleh kandungan estraktif yang terdapat pada kayu teras, seperti
ieusiderin dan tectoquinon. Umumnya, serangan rayap yang terjadai pada komponen
ini hanya tergolong kepada kerusakan kecil. Kerugian ekonomis yang terdapat pada lisplang hanya mencapai Rp 890.600 dan kerugian ekonomis pada plafon yaitu sebesar Rp 280.600.
Kerugian Ekonomis Akibat Serangan Rayap Tanah dan Rayap Kayu Kering pada Tiap-Tiap Konstruksi 0 1000000 2000000 3000000 4000000 5000000 6000000 7000000 8000000 9000000 10000000
Dinding Daun pintu Kusen pintu Daun jendela Kusen jendela Lisplang Plafon Tiang Komponen Konstruksi K er ug ia n ( R p) Rayap Tanah (Rp) Rayap Kayu Kering (Rp) Gabungan RT + RKK (Rp)
Gambar 8. Histogram Kerugian Ekonomis Akibat Serangan Rayap Tanah dan Rayap Kayu Kering pada Tiap-Tiap Konstruksi
Pada histogram di atas, kita dapat melihat jelas bahwa komponen kusen pintu merupakan komponen yang paling besar mengalami kerugian ekonomi akibat serangan rayap tanah maupun akibat serangan rayap kayu kering. Selanjutnya di susul oleh kusen jendela. Komponen yang paling sedikit mengalami kerugian terlihat jelas adalah plafon dan lisplang.
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan, lisplang dan plafon pada umumnya baru terkena serangan pada umur bangunan rumah contoh 11-20 tahun. Kerusakan yang ditimbulkan juga belum tergolong kepada kerusakan berat. Pada lisplang serangan rayap diduga karena tetesan-tetasan air hujan yang akhirnya menyebabkan kayu menjadi lembab. Umumnya kayu yang lembab ini terlebih dahulu diserang oleh jamur pelapuk kayu dan akhirnya memancing rayap tanah untuk datang dan memakan
kayu. Hal ini sesuai dengan apa yang dikemukakan Nandika dkk.,(2003) yang menyatakan bahwa jamur menghasilkan substansi yang menarik rayap dan memudahkan pencernaannya. Serangan rayap yang terjadi pada plafon diduga karena adanya rembesan air hujan serta atap yang bocor sehingga kondisi plafon menjadi lembab sehingga kondisi ini sangat disenangi oleh rayap.
Pada Tabel 7 terlihat kerugian ekonomis akibat serangan ayap tanah lebih besar daripada kerugian ekonomis yang disebabkan oleh rayap kayu kering. Kerugian ekonomis akibat serangan rayap tanah mencapai Rp 12.532.650sedangkan kerugian ekonomis akibat serangan rayap kayu kering mencapai Rp 9.900.300. Perbedaan ini dikarenakan intensitas serangan cenderung lebih besar terjadi pada daerah penelitian yang memiliki kelembaban tinggi. Prasetyo, Sulaiman (2005) menyatakan bahwa rayap tanah sangat memerlukan kondisi lingkungan yang memiliki kelembaban yang tinggi.
Kisaran interval kerugian ekonomis dan persentase serangan pada 120 rumah contoh yang berada di kawasan Kecamatan Medan Denai dan Kecamatan Medan Labuhan ini dapat dilihat pada Tabel 8. Pada tabel tersebut juga dicantumkan rata-rata kerugian per rumah contoh baik yang kerugian yang disebabkan oleh rayap tanah maupun kerugian yang disebabkan oleh rayap kayu kering serta gabungan kerugian yang disebabkan keduanya.
Tabel 8. Rangkuman Kerugian Akibat Serangan Rayap di Dua Wilayah Kota Medan (Medan Bagian Timur dan Medan Bagian Utara) Studi Kasus di Kecamatan Medan Denai dan Kecamatan Medan Labuhan
No Parameter Rayap Tanah Rayap Kayu
Gabungan RT + Kering RKK 1 Jumlah (Rp) 12.532.650 9.900.300 22.432.950 2 Rata-Rata Kerugian (Rp) 104.438,8 82.502,5 186.941,3 3 Standart Deviasi (Rp) 137.411,1 112.021,6 249.432,6 4 Interval Rata-rata 116.983,1; 92.729,1; 209.712,2; Kerugian (Rp) 91.894,4 72.275,9 164.170,3 5 Rata-rata Persentase (%) 55,9 44,1 100
Pada tabel 8 dapa dilihat bahwa serangan rayap tanah lebih besar daripada serangan rayap kayu kering. Kerugian akibat serangan rayap tanah mencapai Rp12.532.650 dengan rata-rata kerugian per bangunan rumah contoh mencapai Rp104.438,8. Interval kerugian pada 120 rumah contoh ini akibat serangan rayap tanah berkisar Rp 116.983,1 hingga Rp 91.894,4 dengan persentase serangan 53,9%. Kerugian akibat serangan rayap kayu kering mencapai Rp 9.900.300 dengan rata-rata kerugian per bangunan rumah contoh Rp 91.894,4. Interval kerugian pada 120 rumah contoh ini akibat serangan rayap kayu kering berkisar Rp 92.729,1; hingga Rp72.275,9 dengan persentase serangan 44,1%.
Nilai yang tertera diatas mungkin jauh lebih kecil dari nilai sebenarnya karena untuk menaksir nilai kerugian dengan tepat sangatlah sulit, mengingat banyak faktor yang mempengaruhinya, seperti faktor rayap itu sendiri, manusia mapun faktor lingkungan. Nilai-nilai kerugian yang dikonversi dalam bentuk rupiah ini mungkin kecil jumlahnya untuk ukuran kerugian per bangunan rumah contoh itu sendiri karena
kerugian ini baru dihitung pada satu kali periode penelitian saja dan belum ditambahkan dengan nilai investasi sebelumnya. Untuk mengurangi besarnya kerugian yang terjadi akibat serangan rayap ini kedepan, kiranya diperlukan adanya penyuluhan-penyuluhan tentang pengendalian serangan rayap terhadap perumahan masyarakat. Tentunya diperlukan campur tangan pemerintah setempat, badan atau organisasi yang berkepentingan utnuk melaksanakan hal ini.
Jenis Rayap Perusak Bangunan
Rayap memiliki ciri khas tersendiri yang membedakannya dengan rayap jenis lain. Ciri-ciri ini kemudian dijadikan acuan para peneliti ketika menentukan spesies rayap yang ditemukan di suatu daerah tertentu.
Pada saat penelitian, tidak semua bangunan rumah contoh yang mengalami kerusakan ditemukan serangga perusaknya. Hal ini dimungkinkan serangan sudah lama terjadi dan rayap telah pindah ke objek lain. Seperti halnya rayap kayu kering yang memiliki sifat pola penyerangan yang cenderung melakukan invasi kedalam kayu tanpa memperlihatkan kerusakan permukaan kayu tersebut. Rayap kayu kering yang menyerang diduga adalah rayap kayu kering jenis Cryptotermes cynocephalus. Nandika; dkk (2003) menyatakan bahwa serangga ini memiliki kemampuan hidup pada kayu-kayu kering di dalam bangunan gedung. Tidak membangun sarang atau liang-liang kembara di atas permukaan kayu, tetapi hanya membangun liang-liang kembara atau sarangnya hanya di dalam kayu. Namun bekas-bekas serangannya masih dapat ditandai. Jalur-jalur liang kembara pada umumnya belum rusak. Begitu
juga dengan ekskremen-eksremen yang masih dapat ditemukan karena banyak komponen yang terserang belum mengalami pergantian.
Pada empat kelurahan yang dijadikan lokasi penelitian di ambil beberapa sampel jenis rayap. Selanjutnya sampel yang didapat diidentifikasi jenisnya dengan melihat ciri-ciri khas yang membedakan satu dengan yang lainnya seperti dengan melihat perbedaan kapsul kepala dan abdomen masing-masing sampel yang dilihat melalui microscope yang selanjutnya dicocokkan dengan buku identifikasi Nandika,.
(2003) dan buku pengenalan serangga Borror; dkk (1993). Kasta yang dijadikan
acuan untuk pengidentifikasian adalah kasta prajurit. Menurut Nandika; dkk (2003), kasta prajurit memiliki ciri-ciri khas yang mudah dibedakan bila dibandingkan dengan kasta lain.
Dari hasil identifikasi yang dilakukan akhirnya dapat diketahui jenis rayap yang menyerang sebagaimana yang tercantum pada tabel berikut.
Tabel 9. Jenis Rayap Perusak Kayu pada Masing-masing Lokasi Penelitian
Lokasi Antar Kecamatan Nama Spesies Rayap Famili
Kec. Medan Denai 1. Kelurahan Binjai 2. Kelurahan Medan Tenggara Neotermes tectonae Cryptotermes cynocephalus Coptotermes curvignatus Cryptotermes cynocephalus Kalotermitidae Kalotermitidae Rhinotermitidae Kalotermitidae Kec. Medan Labuhan
1. Kelurahan Tangkahan
2. Kelurahan Nelayan Indah
Coptotermes curvignatus Cryptotermes cynocephalus Coptotermes curvignatus Cryptotermes cynocephalus Rhinotermitidae Kalotermitidae Rhinotermitidae Kalotermitidae
Pada Tabel 9 diketahui bahwa rayap tanah Coptotermes curvignatus dan rayap kayu kering Cryptotermes cynocephalus mendominasi serangan pada masing-masing wilayah penelitian yaitu pada Kelurahan Binjai, Kelurahan Medan Tenggara, Kelurahan Tangkahan dan Kelurahan Nelayan Indah. Rayap tanah Coptotermes
curvignatus ini memiliki ciri-ciri morfologi kasta prajurit kepala berwarna kuning,
dengan antena dan lambrum berwarna pucat. Mandibel berbentuk seperti arit dan melengkung diujungnya. Panjang kepala dengan mandibel 1,56-1,68 mm. Lebar kepala 1,40-1,44 mm. Panjang badan 5,5-6 mm (Gambar 9) . Spesies dari famili Rhinotermitidae ini menyerang semua kayu, baik pohon-pohon yang masih hidup maupun kayu yang sudah digunakan menjadi bahan bangunan.
Gambar 9. Bentuk Tubuh Kasta Prajurit Rayap Coptotermes curvignatus
Dominansi serangan rayap ini sepadan dengan apa yang dikemukakan oleh Prasetyo (2005) bahwa rayap Coptotermes curvignatus merupakan rayap perusak yang menimbulkan tingkat serangan yang paling ganas. Tidak mengherankan kalau rayap ini mampu menyerang hingga ke lantai atas suatu bangunan bertingkat.
Serangan tersebut bisa terjadi walaupun tidak ada hubungan langsung dengan tanah, setelah menyerang rayap perusak bangunan ini akan membuat sarang yang cukup lembab karena rayap jenis ini sangat memerlukan kelembaban yang cukup tinggi. Nandika.,dkk (2003) menyebutkan bahwa perkembangan optimum rayap ini dicapai pada kisaran kelembaban 75-90%. Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan, daerah penelitian seperti Kelurahan Tangkahan dan Kelurahan Nelayan Indah merupakan daerah yang relatif lebih lembab dari daerah penelitian lainnya karena lokasi ini berada agak jauh dari perkotaan dan berada di kawasan dekat pantai.
Menurut Nandika; dkk (2003) rayap Cryptotermes curvignatus memiliki ciri-ciri morfologis kepala berwarna coklat gelap kemerah-merahan. Antena memiliki 11 segmen. Panjang kepala dengan mandibel 0,87-0,97mm. panjang mandibel 0,57-0,57 mm.
Perubahan kelembaban sangat mempengaruhi aktifitas jelajah suatu rayap. Perbedaan wilayah jelajah dipengaruhi oleh sifat-sifat khas dari setiap jenis rayap, kemampuan bergerak, dan kualitas habitatnya. Rayap yang menggunakan kayu sebagai sumber makanan dan sekaligus sebagai tempat hidupnya, umumnya memiliki aktifitas jelajah yang terbatas seperti pada genus Neotermes.
Pada wilayah penelitian Kelurahan Binjai rayap yang ditemukan adalah spesies Neotermes tectonae. Rayap yang berasal dari famili Kalotermitidae ini memiliki ciri-ciri morfologi kasta prajurit kepala berwarna coklat kemerah-merahan. Antena dan labrum berwarna coklat kekuning-kuningan. Mandibel berwarna coklat kemerah-merahan. Bentuk kapsul kepala segi empat. Panjang kepala dengan mandibel 2,50-2,75 mm. lebar kepala 1,75-2,12 mm. panjang mandibel 1,50-1,72 mm
(Gambar 10). Nandika; dkk (2003) menyatakan jenis rayap ini merupakan rayap yang memiliki aktifitas jelajah yang rendah.
Nandika., dkk (2003) menyatakan bahwa rayap jenis ini memiliki kisaran suhu optimum antara 15-38oC. Laron Neotermes tectonae tidak akan keluar bila turun hujan pada malam hari sebelum masa penerbangan. Besar kemungkinan karena suhu yang rendah pada saat hujan turun karena rayap jenis ini tidak terlalu memerlukan kelembaban yang tinggi seperti halnya rayap genus Coptotermes. Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan, Kelurahan Binjai yang terserang jenis rayap ini berada pada kawasan pinggiran Kota Medan. Kawasan ini tidak terlalu lembab dibandingkan dengan kawasan lokasi penelitian lainnya.
Gambar 10.Bentuk Tubuh Kasta Prajurit Rayap Neotermes tectonae Kerugian yang ditimbulkan oleh rayap tanah Coptotermes curvignatus lebih besar dari kerugian yang ditimbulkan oleh rayap Neotermes tectonae dan rayap
Cryptotermes cynocepalus. Hal ini dimungkinkan karena Kota Medan beriklim tropis
dengan suhu minimum 22,5o C – 23,9o C dan suhu maksimum adalah 30,8o C - 33,7o C berada di ketinggian 2,5 – 37,5 m dari permukaan laut. Rata-rata curah hujan berkisar 120,9 mm/bulan – 169,6 mm/bulan. Kelembaban mencapai 84%-85%
dengan kecepatan angin 0,48 m/detik. Kondisi fisik diatas merupakan habitat yang cocok bagi perkembangan hidup rayap tanah . hal ini sesuai dengan pendapat nandika; dkk (2003) yang menyatakan bahwa kelembaban optimum pada rayap tanah mencapai kisaran 75 sampai 90%.
Tindakan Pengendalian
Pengendalian serangan rayap pada bangunan meliputi upaya pencegahan serangan rayap dan pemberantasan atau menyembuhkan bangunan yang terserang rayap. Dari data yang didapat selama penelitian, pada umumnya tingkat kesadaran masyarakat terhadap serangan rayap belum begitu tinggi. Hal ini terlihat dari minimnya tindakan yang diambil untuk menyikapi serangan rayap. Minimnya pengetahuan masyarakat tentang pengendalian rayap terlihat dari banyaknya tumpukan kayu bekas yang sering diletakkan di dekat rumah.
Berdasarkan wawancara yang dilakukan, tindakan pengendalian yang dilakukan masyarakat pada umumnya bersifat pengendalian setelah rumah dibangun
(pasca contruction). Biasanya masyarakat hanya melapisi bagian permukaan kayu
dengan cat atau minyak oli, sedangkan tindakan yang paling ekstrem yang dilakukan adalah dengan mengganti komponen yang rusak dengan komponen yang baru.
Kesadaran masyarakat Kota Medan untuk menggunakan jasa pengendali hama
(pest control) untuk kalangan perumahan masyarakat biasa belum begitu tinggi. Hal
ini dimungkinkan karena mahalnya jasa tersebut sehingga masyarakat lebih memilih cara yang yang lebih murah dan mudah yaitu dengan melapisi permukaan kayu rumah dengan cat ataupun minyak oli.
Untuk sekedar diketahui, di Kota Medan biaya perlakuan anti rayap dengan sistem pengumpanan (termite baiting) pada saat penelitian berkisar Rp 200.000 – Rp 220.000/m. Mengapa dengan pengumpanan? Karena dengan teknik ini kita tidak perlu merusak struktur bangunan seperti tidak adanya pengeboran di lantai untuk sistem konvensional atau injeksi. Cara perhitungannya adalah dengan memperhitungkan keliling bangunan yaitu dua kali panjang tambah dua kali lebarnya (2p+2l). Misalkan; uakuran bangunan tersebut adalah 20 m x 10 m, maka didapatkan kelilingnya adalah 60 m. Sehingga biaya yang diperlukan untuk memberikan perlakuan anti rayap dengan teknk ini sebesar Rp 12.000.000 dengan masa garansi selama 3 tahun dimana nilai itu hanya untuk kerugian 1 (satu) bangunan saja.