• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

II. 3..2.Tujuan Keselamatan Kerja

II.4.3. Kerugian Kecelakaan Kerja

Tiap kecelakaan pasti ada kerugian, kerugian ini dilihat dari adanya dan besarnya biaya kecelakaan. Biaya kecelakaan dapat dibagi menjadi :

1. Biaya langsung

Ialah biaya atas pertolongan pertama pada kecelakaan, pengobatan dan perawatan, biaya rumah sakit, biaya angkutan, upaya selama pekerja tak mampu bekerja, cacat dan biaya atas kerusakan bahan, alat dan mesin.

2. Biaya tersembunyi

Yang meliputi segala sesuatu yang tidak terlihat pada waktu dan beberapa waktu setelah terjadinya kecelakaan. Biaya ini meliputi berhentinya operasi perusahaan oleh karena pekerja – pekerja lainnya menolong / tertarik oleh peristiwa kecelakaan itu, biaya untuk membantu orang – orang yang sedang menderita karena kecelakaan dengan orang baru yang belum bias bekerja di tempat itu dan lain – lainnya (Suma’mur 1994).

II.4.4.Klasifikasi Kecelakaan Kerja

Menurut organisasi perburuhan internasional pada tahun 1962 klasifikasi kecelakaan kerja akibat kerja adalah sebagai berikut :

1. Klasifikasi menurut jenis kecelakaan - Terjatuh

- Tertimpa benda jatuh

- Tertimbun / kena benda – benda terkecuali benda jatuh - Terjepit oleh benda

- Gerakan – gerakan melebihi kemampuan - Pengeruh suhu tinggi

- Kontak dengan bahan – bahan berbahaya / radiasi

- Jenis – jenis lain termasuk kecelakaan yang datangnya tidak cukup atau kecelakaan – kecelakaan yang belum masuk klasifikasi.

2. Klasifikasi menurut sebab - Mesin

- Alat angkut dan alat angkat - Peralatan

- Bahan – bahan, zat – zat radiasi - Lingkungan kerja, dll

3. Klasifikasi menurut sifat luka atau kelainan - Patah tulang

- Dislokasi / keseleo - Regang / otot

- Memar dan luka dalam lain - Amputasi

- Luka – luka lain - Luka di permukaan - Gegar dan remuk - Luka baker

- Keracunan – keracunan mendadak - Akibat cuaca

- Mati lemas

- Pengaruh radiasi

- Luka – luka yang banyak berlainan sifatnya, dll 4. Klasifikasi menurut kelainan / luka di tubuh

- Kepala - Leher - Badan - Anggota atas - Anggota bawah

- Letak lain yang tidak dapat dimasukkan dalam klasifikasi tersebut (Suma’mur, 1989)

II.4.5.Dampak Kecelakaan Kerja

Ada beberapa macam potensi bahaya kecelakaan kerja yang dapat terjadi pada karyawan, diantaranya :

1. Potensi bahaya fisik mesin / perkakas / peralatan tanpa pengaman Bahaya pada mesin antara laian :

Titik Operasi

Bagian Penyalur Tenaga

Gambar 2.3. Prilaku yang berpotensi menyebabkan kecelakaan kerja

Gambar 2.4. Potensi bahaya akibat terjepit gear

Gambar 2.5. Potensi bahaya kecelakaan akibat kerusakan perkakas

Perkakas Rusak

Belt and pulley

Chain and sprocket Rack and pinion Nip / Pinch Point Operation

2. Potensi bahaya fisik dari listrik

Ada beberapa macam potensi bahaya yang terjadi akibat listrik, diantaranya :

Kontak dengan arus / aliran listrik Instalasi yang tidak memenuhi syarat Isolasi dan sambungan tidak memadai Pembebanan berlebihan pada instalasi listrik Kerusakan pada instalasi listrik dan peralatan Kesalahan dalam penggunaan APD dan peralatan Bahaya lingkungan kerja (basah, flammable dsb) Dampak yang ditimbulkan dapat berupa :

- Langsung :

Kematian akibat sengatan listrik Luka bakar

- Tidak Langsung : Jatuh dari ketinggian

II.4.6.Pencegahan Kecelakaan Kerja

Pencegahan kecelakaan kerja dapat dilaksanakan berdasarkan sebab – sebab kecelakaan. Sebab – sebab kecelakaan di perusahaan dapat diketahui dengan mengadakan analisa kecelakaan. Oleh karena itu, kecelakaan dan cara analisisnya harus betul – betul diketahui. Kecelakaan – kecelakaan akibat kerja dapat dicegah dengan :

1. Perturan perundangan, yaitu ketentuan – ketentuan yang diwajibkan mengenai kondisi – kondisi kerja pada umumnya, perencanaan, konstruksi perawatan dan pemeliharaan, pengawasan, pengujian dan cara kerja peralatan industri, tugas – tugas pengusaha dan buruh, latihan, supervise medis, pertolongan pertama pada kecelakaan dan pemeriksaan kesehatan. 2. Standarisasi, yaitu penerapan standar resmi, setengah resmi / tak resmi

mengenai konstruksi yang memenuhi syarat – syarat kesehatan, jenis – jenis peralatan industri tertentu, praktek – praktek keselamatan hygiene umum / alat – alat perlindungan dini.

3. Pengawasan, yaitu pengawasan tentang dipatuhinya ketentuan – ketentuan perundang – undanagn yang diwajibkan.

4. Penelitian bersifat teknis, yang meliputi sifat dan ciri – cirri bahan – bahan yang berbahaya, penyelidikan tentang pagar pengaman, pengujian alat – alat pelindung diri, penelitian tentang pencegahan peledakan gas dan debu penelaah tentang bahan – bahan dan desain yang paling tepat untuk tambang – tambang pengangkutan dan peralatan pengangkut lainnya.

5. Riset medis, yaitu meliputi penelitian efek – efek fisiologi dan patologi faktor – faktor lingkungan tehnologis dan keadaan – keadaan fisik yang mengakibatkan kecelakaan.

6. Penelitian Psikologis, yaitu penelitian tentang pola – pola kejiwaan yang menyebabkan terjadinya kecelakaan.

7. Penelitian secara statistic untuk menetapkan jenis – jenis kecelakaan yang terjadi, mengenai siapa saja dalam pekerjaan dan apa sebab – sebabnya.

8. Pendidikan yang menyangkut pendidikan keselamatan dan kurikulum teknik, sekolah – sekolah perniagaan / kursus – kursus pertukangan.

9. Latihan – latihan, yaitu latihan praktek bagi tenaga kerja, khususnya tenaga kerja yang baru dalam keselamatan kerja.

10. Pengarahan, yaitu penggunaan aneka cara penyuluhan atau pendekatan lain untuk menimbulkan sikap untuk selamat.

11. Asuransi, yaitu insentif financial untuk menciptakan pencegahan kecelakaan kerja, misalnya dalam bentuk pengurangan premi yang dibayar oleh perusahaan jika tindakan – tindakan keselamatan sangat baik.

12. Usaha keselamatan pada tingkat perusahaan yang merupakan ukuran utama efektif tidaknya pola penerapan keselamatan kerja pada perusahaan. Sedangka pola – pola kecelakaan pada suatu perusahaan sangat tergantung pada tingkat kesadaran akan keselamatan kerja oleh semua pihak yang bersangkutan.

Jelaslah bahwa untuk pencegahan kecelakaan akibat kerja diperlukan kerjasama aneka keahlian dan profesi seperti ahli – ahli teknis, dokter, ahli ilmu jiwa, ahli statistic, guru – guru dan sudah barang tentu pengusaha dan buruh (Suma’mur, 1989).

Pencegahan ditunjukkan pada lingkungan, mesin – mesin, alat – alat kerja, perkakas kerja dan manusia. Lingkungan harus memenuhi syarat lingkungan kerja yang baik, keadaan gedung yang selamat dan perencanaan yang baik. Syarat – syarat lingkungan kerja meliputi ventilasi, penerangan cahaya, sanitasi, dan suhu udara.

II.4.7.Pencegahan Kebakaran

Untuk memulai kebakaran, harus ada tiga unsur yaitu oksigen ( dari udara ), bahan yang dapat menyala ( bahan bakar ), dan panas ( ini penting untuk menyalakan api, tetapi bila api telah timbul, dengan sendirinya menimbulkan panas untuk tetap menyala ). Bila salah satu unsur ini disingkirkan, api tidak dapat menyala, dan bila sudah / sedang berlangsung, akan terpadamkan.

Jadi, metode pencegahan kebakaran pada dasarnya meliputi pengurangan atau penghapusan salah satu unsur ini. Dalam hampir semua situasi dalam industri, dua dari tiga unsur ini telah ada, yaitu oksigen dan bahan bakar.

Dari kasus kebakaran yang terjadi, sebanyak 23 % kasus disebabkan oleh gangguan listrik, 18 % karena rokok, gesekan karena mesin 10 %, 8 % karena bahan kelewat – panas ( overhead materials ), dan sebab – sebab lain sebanyak 41 %. ( Anonim, 1989 ).

Bila kebakaran telah / sedang berlangsung, maka perlu adanya sarana dan pra sarana yang berfungsi untuk melindungi pekerja dan upaya pencegahan kebakaran agar tidak semakin membesar. Antara lain :

1. Struktur bangunan dan pintu penyelamat

Garis pertama dari pencegahan kebakaran adalah dari konstruksi gedung itu sendiri. Konstruksi tahan api harus dapat menjamin bahwa api tidak akan dapat menjalar baik secara vertikal maupun horisontal. Pintu keluar pun harus memenuhi aturan :

a. Tidak boleh ada bagian bangunan terlalu jauh dari pintu ke luar, jarak tergantung pada tingkat bahayanya.

b. Setiap lantai harus sekurang – kurangnya mempunyai dua pintu keluar, cukup lebar, aman terhadap api dan asap serta terpisah cukup jauh antara satu dengan lainnya.

c. Tangga kayu, tangga putar, lift dan tangga jenjang tak dapat dihitung sebagai pintu keluar.

d. Pintu keluar harus diberi rambu dan cukup terang. e. Pintu keluar harus selalu dijaga tetap bebas hambatan

f. Tangga keluar dan lubang penyelamat tak boleh menuju halaman dalam atau lorong pintu.

2. Peralatan pemadam api

Peralatan pemadam api dapat dimulai dari ember air atau pasir sampai sistem penyemprot lengkap. Jenis dan banyaknya peralatan yang dibutuhkan tergantung pada ukuran dan konstruksi bangunan yang dilindungi oleh proses di dalamnya. Beberapa jenis alat pemadam kebakaran dapat dilihat pada gambar di bawah

Gambar 2.8. Smoke & Thermal Detector Gambar 2.9. Sprinkler 3. Tanda Bahaya Kebakaran ( Alarm )

Setiap tempat kerja harus memiliki system alarm untuk memperingatkan orang – orang bila kebakaran timbul. Sistem alarm dapat otomatis, atau lonceng alarm, peluit atau sirine, di pasang di beberapa tempat di pabrik, dan menggunakan tombol atau tangkai untuk mengoperasikan alarm bila diperlukan. Alarm harus terdengar di semua tempat di pabrik, termasuk ruang kerja, gudang, ruang ganti, kamar kecil dan kamar mandi.

Dokumen terkait