BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
5.4 Kerusakan Tegakan Tinggal Akibat Kegiatan Penebangan
Tingkat kerusakan tegakan tinggal merupakan suatu indeks yang menunjukkan perbandingan jumlah tegakan yang rusak akibat penebangan pohon terhadap jumlah tegakan sebelum kegiatan penebangan. Menurut Rohidayanti (2012), faktor yang mempengaruhi kerusakan tegakan tinggal adalah intensitas penebangan. Semakin tinggi intensitas penebangan, maka semakin tinggi pula kerusakan tegakan tinggal yang terjadi.
Penebangan pohon konvensional yang dimaksud disini adalah kegiatan penebangan yang sehari-hari dilaksanakan di PT. MAM yang tidak menerapkan teknik reduce impact logging. Rata-rata intensitas penebangan konvensional yang dipraktekan di lapangan pada plot contoh adalah 13 pohon/plot atau 11 pohon/ha. intensitas penebangan ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan penelitian Indriyati (2010) di Sumatera Barat dan Sitanggang (2011) di Kalimantan Timur, yang besarnya berturut-turut 7 pohon/ha dan 5 pohon/ha. Kuswandi (2003) melaporkan bahwa intensitas penebangan di Papua mencapai 14 pohon/ha. Putz et al (2000) menyatakan bahwa intensitas penebangan di hutan hujan tropika Asia dan Pasifik lebih tinggi dibandingkan dengan wilayah lain, untuk intensitas penebangan di Malaysia dapat mencapai 14 pohon/ha. Tingkat kerusakan tegakan tinggal di PT. MAM berdasarkan perbedaan intensitas penebangan disajikan pada Tabel 12.
Tabel 12 Kerusakan tegakan tinggal akibat kegiatan penebangan berdasarkan intensitas penebangan.
Keterangan : n = jumlah
̅ = jumlah rata-rata per ha % = persentase kerusakan
Intensitas Tingkatan Pohon
Tebang Tiang Pohon
(pohon/ha) Sebelum Sesudah Pohon Sebelum Sesudah Pohon
Penebangan Penebangan Rusak Penebangan Penebangan Rusak
(n) ( ̅) (n) ( ̅) (n) ( ̅) (%) (n) ( ̅) (n) ( ̅) (n) ( ̅) (%)
1 4845 131.82 4732 128.74 113 3.07 2.33 5204 141.58 5110 139.03 94 2.56 1.81 11 4845 131.82 3560 96.86 1285 34.96 26.52 5204 141.58 4111 111.85 1093 29.74 21.00
31
Kerusakan tegakan tinggal akibat kegiatan penebangan konvensional pada tiang adalah tingkat kerusakan sedang dengan persentase sebesar 26.52%, sedangkan pada pohon adalah tingkat kerusakan ringan (21%). Penebangan pohon konvensional mengakibatkan tingkat kerusakan tiang sebesar kurang lebih 11 kali lipat dan untuk tingkat pohon sebesar 11.6 kali lipat (Tabel 13). Idris dan Suhartana (1996b) melaporkan bahwa kerusakan tiang di Kalimantan Timur sebesar 11.97%, sedangkan Elias (1994) melaporkan kerusakan tiang yang lebih besar (33.26%). Sementara untuk tingkat pohon, tingkat kerusakan tegakan tinggal yang terjadi di Papua lebih besar dibandingkan dengan hasil penelitian Idris dan Suhartana (1996a) di Riau dengan persentase kerusakan tingkat pohon sebesar 11.5% dan Elias (1994) di Kalimantan dengan persentase kerusakan pohon sebesar 12.62%. Perbedaan tingkat kerusakan tegakan tinggal ini dikarenakan perbedaan intensitas penebangan. Idris dan Suhartana (1996a, 1996b) melaporkan bahwa intensitas penebangannya 7 pohon/ha dan 9 pohon/ha.
Berdasarkan kelompok jenisnya, persentase kerusakan tegakan tinggal untuk kelompok jenis meranti sebesar 21.35%, yang terdiri atas 10.94% kerusakan pada kelas diameter 10-19 cm, 4.33% pada kelas diameter 20-29 cm, 3.59% pada kelas diameter 30-39 cm, 1.57% pada kelas diameter 40-49 cm, dan 0.92% pada kelas diameter ≥ 50 cm. Kerusakan terbesar terjadi pada kelas diameter 10-19 cm, yaitu sebesar 10.94%. Hal ini terjadi karena pada kelas diameter 10-19 cm memiliki kerapatan pohon tertinggi.
Pada kelompok jenis non meranti persentase kerusakan yang terjadi sebesar 24.35%, terdiri atas persentase kerusakan pada kelas diameter 10-19 cm, 20-29 cm, 30-39 cm, 40-49 cm, dan ≥ 50 cm berturut-turut sebesar 13.33%, 7.07%, 3.34%, 0.43%, dan 0.18%. Kerusakan terbesar terjadi pada kelas diameter 10-19 cm (13.43%), hal ini disebabkan pada kelas diameter 10-19 cm memiliki kerapatan pohon tertinggi. Tingkat kerusakan pada kelompok jenis meranti dan non meranti disajikan pada Tabel 13.
Tabel 13 Kerusakan tegakan tinggal untuk kelompok jenis meranti dan non meranti akibat kegiatan penebangan pohon konvensional.
Kelompok Jumlah Tegakan Total
Jenis Diameter (cm) 10-19 20-29 30-39 40-49 50-up (n0) 946 695 366 197 82 2286 ( ̅) 25.74 18.91 9.96 5.36 2.23 62.20 (n1) 696 596 284 161 61 1798 Meranti ( ̅) 18.94 16.22 7.73 4.38 1.66 48.92 (nr) 250 99 82 36 21 488 ( ̅) 6.80 2.69 2.23 0.98 0.57 13.28 (%) 10.94 4.33 3.59 1.57 0.92 21.35 (n0) 3899 2192 1051 369 252 7763 ( ̅) 106.08 59.64 28.59 10.04 6.86 211.21 (n1) 2864 1643 792 336 238 5873 Non Meranti ( ̅) 77.92 44.70 21.55 9.14 6.48 159.79 (nr) 1035 549 259 33 14 1890 ( ̅) 28.16 14.94 7.05 0.90 0.38 51.42 (%) 13.33 7.07 3.34 0.43 0.18 24.35
Keterangan : n0 = jumlah pohon sebelum penebangan n1 = jumlah pohon setelah penebangan nr = jumlah pohon rusak
̅ = jumlah rata-rata per ha % = persentase kerusakan
5.4.2 Tipe-Tipe Kerusakan Tegakan Tinggal
Pada tingkat tiang, tipe kerusakan akibat penebangan konvensional berupa patah batang, pecah batang, roboh, rusak tajuk, luka batang, rusak banir, dan miring dengan persentase kerusakan masing-masing sebesar 40.7%, 1.87%, 23.5%, 16.34%, 10.89%, 0%, dan 6.69%. Tipe kerusakan terbesar adalah tipe kerusakan patah batang dan roboh. Presentase tipe kerusakan patah batang adalah 40.7% dan roboh sebesar 23.5%.
Pada pohon berdiameter ≥ 20 cm, tipe kerusakan yang terjadi adalah patah batang, pecah batang, roboh, rusak tajuk, luka batang, rusak banir, dan miring dengan kerusakan berturut-turut sebesar 22.87%, 12.72%, 28.73%, 25.43%, 8.87%, 0.37%, dan 1.01%. Tipe kerusakan terbesar adalah tipe kerusakan roboh (28.73%) dan rusak tajuk (25.43%). Elias (2002) dan Kuswandi (2001)
33
melaporkan bahwa kerusakan terbesar terjadi pada rusak tajuk dan patah batang. Elias (2002) melaporkan bahwa persentase bentuk kerusakan rusak tajuk sebesar 49.45% dan patah batang sebesar 23.08%, sedangkan Kuswandi (2001) mendapatkan hasil untuk kerusakan rusak tajuk sebesar 38.6% dan patah batang sebesar 33.33%. Perbedaan tersebut dikarenakan adanya perbedaan kerapatan tegakan dan intensitas penebangan yang berbeda. Elias (2002) dan Kuswandi (2001) melaporkan bahwa intensitas penebangannya 8 pohon/ha dan 6 pohon/ha, dan kerapatan tegakan sebesar 688 pohon/ha dan 239 pohon/ha. Kerusakan pohon dari setiap tipe kerusakan pada seluruh plot contoh yang diamati disajikan pada Gambar 8.
Gambar 8 Kerusakan tiang dan pohon dari setiap tipe kerusakan akibat penebangan pohon konvensional pada seluruh plot contoh yang diamati.
5.4.3 Tingkat Kerusakan Berdasarkan Besarnya Luka
Pada penebangan konvensional tingkat kerusakan berdasarkan besarnya luka pada tiang meliputi kerusakan berat (80.47%), sedang (15.02%), dan ringan (4.51%). Tingkat kerusakan terbesar adalah tingkat kerusakan berat, yaitu
40.7 22.87 1.87 12.72 23.5 28.73 16.34 25.43 10.89 8.87 6.69 1.01 0 0.37 0% 10% 20% 30% 40% 50% 60% 70% 80% 90% 100% Tiang Pohon P e rs e n ta se
Patah Batang Pecah Batang Roboh Rusak Tajuk
80.47%, kemudian diikuti oleh tingkat kerusakan sedang dengan persentase sebesar 15.02% dan tingkat kerusakan ringan sebesar 4.51%.
Pada pohon berdiameter ≥ 20 cm, tingkat kerusakan yang terjadi berupa kerusakan berat (88.38%), sedang (5.22%), dan ringan (6.40%). Tingkat kerusakan terbesar adalah tingkat kerusakan berat, yaitu 88.38% dari jumlah keseluruhan pohon yang rusak, kemudian diikuti oleh tingkat kerusakan ringan sebesar 6.40% dan tingkat kerusakan sedang sebesar 5.22%. Hasil penelitian di PT. MAM tidak berbeda jauh dengan penelitian Indriyati (2010) yang melaporkan bahwa kerusakan berat mencapai 67.74%, kemudian diikuti kerusakan ringan sebesar 24.73% dan tipe kerusakan sedang sebesar 7.53%. Sementara Sitanggang (2011) melaporkan bahwa kerusakan berat mencapai 66.18%, kemudian diikuti oleh kerusakan sedang sebesar 20.59% dan kerusakan ringan sebesar 13.24%. Perbedaan besarnya kerusakan ini disebabkan perbedaan intensitas penebangan dan kerapatan tegakan. Indriyati (2010) dan Sitanggang (2011) melaporkan bahwa intensitas penebangan yang terjadi adalah 7 pohon/ha dan 5 pohon/ha, dan kerapatan untuk pohon berdiameter ≥ 20 cm sebesar 77 pohon/ha dan 39 pohon/ha. Tingkat kerusakan berdasarkan besarnya luka untuk tiang dan pohon akibat kegiatan penebangan pohon ditampilkan pada Tabel 14.
Tabel 14 Tingkat kerusakan tegakan tinggal berdasarkan besarnya luka untuk tiang dan pohon akibat kegiatan penebangan pohon konvensional.
Tipe Kerusakan Tingkat Kerusakan
Tiang Pohon
Berat Sedang Ringan Berat Sedang Ringan
Rusak Tajuk 127 65 18 199 25 54 Luka Batang 58 42 40 64 21 12 Rusak Banir 0 0 0 0 0 4 Miring 0 86 - 0 11 - Patah Batang 523 - - 250 - - Pecah Batang 24 - - 139 - - Roboh 302 - - 314 - - Jumlah 1034 193 58 966 57 70 Rata-rata (pohon/ha) 28.13 5.25 1.58 26.28 1.55 1.90 Presentase (%) 80.47 15.02 4.51 88.38 5.22 6.40