BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.2 Parameter Air
2.2.2 Parameter Kimia
2.2.2.1 Sistem Asam dan Basa
2.2.2.1.3 Kesadahan Air
Kesadahan air (hardness) merupakan petunjuk kemampuan air untuk membentuk bisa apabila dicampur dengan sabun. Disamping itu, kesadahan juga merupakan petunjuk yang penting dalam hubungannya dengan usaha untuk memanipulasi nilai pH (Apriani, dkk., 2019).
Air yang mempunyai tingkat kesadahan terlalu tinggi sangat merugikan karena beberapa hal diantaranya:
1. Dapat menimbulkan karatan/korosi pada alat-alat yang terbuat dari besi.
2. Menyebabkan sabun kurang berbusa sehingga meningkatkan konsumsi sabun
11
3. Dapat menimbulkan endapan atau kerak-kerak di dalam wadah-wadah pengolahan (Apriani, dkk., 2019).
Penanganan kesadahan dapat dilakukan beberapa cara sebagai berikut :
1. Cara yang paling baik adalah dengan menggunakan reverse osmosis (RO) atau deionise (DI) yaitu alat yang memanfaatkan membrane yang dapat memisahkan unsur H2O atau bukan.
2. Resing pelunak air komersial dapat digunakan dalam skala kecil, meskipun demikian tidak efektif digunakan untuk skala besar. Dalam proses ini Natrium (Na) pada umumnya digunakan sebagai ion penukarr sehingga pada akhirnya Natrium akan berakumulasi pada hasil air hasil olahan.
3. Pengenceran dengan menggunakan air destilasi (air suling/aquades) dapat pula dilakukan untuk menurunkan kesadahan.
4. Proses dengan gambut dan bahan organic lain biasanya akan menghasilkan warna air kecoklatan seperti air the.
5. Menurunkan kesadahan dapat pula dilakukan dengan menanam tanaman duckweed atau Egeria densa.
6. Untuk meningkatkan kesadahan biasanya dilakukan dengan memberikan dekorasi berbahan dasar kapur, seperti tufa atau pasir koral (Apriani, dkk., 2019).
Kesadahan umum atau “General Hardness” merupakan ukuran yang menunjukkan jumlah ion kalsium (Ca++) dan ion magnesium (Mg++) dalam air.
Ion-ion lain sebenarnya ikut pula mempengaruhi nilai GH, akan tetapi pengaruhnya diketahui sangat kecil dan relatif sulit diukur sehingga diabaikan (Apriani, dkk., 2019).
12 2.2.2.1.4 Sistem Buffer
Dalam hubungan dengan mengikat keasaman, Kalium Hipoklorit (KH) berperan sebagai agen pembufferan yang akan berfungsi untuk menjaga kestabilan pH. Kenaikan pH yang terjadi pada saat KH ditambahkan akan diimbangi oleh kadar CO2 terlarut dalam air. Alam diberkahi dengan mekanisme pertahanan sedemikian rupa sehingga dapat bertahan terhadap berbagai perubahan, begitu juga dengan pH air. Mekanisme pertahanan pH terhadap berbagai perubahan dikenal dengan istilah kapasitas pembufferan pH (Apriani, dkk., 2019).
2.2.2.2 Gas Terlarut di dalam Air 2.2.2.2.1 Karbondioksida
Karbondioksida (CO2) yang terkandung dalam air berasal dari udara dan hasil dekomposisi zat organic didalam air.Menurut Apriani (2019), bentuk CO2 dalam air dapat dibedakan dalam :
1. CO2 bebas, yaitu banyaknya CO2 yang larut dalam air.
2. CO2 Keseimbangan atau disebut pula CO2 bikarbonat yaitu CO2 yang dalam air seimbang dengan HCO3
3. CO2 agresif, yaitu CO2 yang dapat merusak bangunan perpisahan dalam distribusi air minum.
2.2.2.2.2 Oksigen terlarut
Oksigen terlarut merupakan kebutuhan dasar untuk kehidupan tanaman dan hewan di dalam air. Konsentrasi oksigen terlarut yang rendah akan mengakibatkan ikan-ikan dan binatang air lainnya yang membutuhkan oksigen akan mati.
Sebaliknya konsentrasi oksigen terlarut yang terlalu tinggi juga mengakibatkan
13
proses pengkaratan semakin cepat karena oksigen akan mengikat hidrogen yang melapisi permukaan logam (Apriani, dkk., 2019).
2.2.2.3 Bahan Organik dalam Air
2.2.2.3.1 Biochemical Oxygen Demand (BOD)
BOD (Biochemical Oxygen Demand) atau kebutuhan oksigen menunjukkan jumlah oksigen terlarut yang dibutuhkan oleh organisme hidup untuk memecah atau mengoksidasi bahan-bahan buangan di dalam air. Jika konsumsi oksigen tinggi yang ditunjukkan dengan semakin kecilnya sisa oksigen terlarut, maka kandungan bahan-bahan buangan yang membutuhkan oksigen tinggi. Konsumsi oksigen dapat diketahui dengan mengoksidasi air pada suhu 20o selama 5 hari, dan nilai BOD yang menunjukkan jumlah oksigen yang dapat dikonsumsi dapat diketahui dengan menghitung selisih konsentrasi oksigen terlarut sebelum dan setelah inkubasi (Apriani, dkk., 2019).
2.2.2.3.2. Chemical Oxygen Demand (Chemical Oxygen Demand)
Untuk mengetahui jumlah bahan organic didalam air dapat berdasarkan reaksi kimia dari suatu bahan oksidan. Uji tersebut disebut uji COD (Chemical Oxygen Demand) yaitu, suatu uji yang menentukan jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh bahan oksidan, misalnya kalium dikromat untuk mengoksidasi bahan-bahan organic yang terdapat di dalam air, 96% hasil uji COD yang dilakukan selama 10 menit kira-kira akan setara dengan hasil uji BOD selama 5 hari (Apriani, dkk., 2019).
14 2.2.2.4 Bahan Berbahaya dan Beracun 2.2.2.4.1 Pestisida
Pestisida dalam peraturan pemerintah No.7 Tahun 1973, dipergunakan untuk :
1. Memberantas atau mencegah hama atau penyakit yang merusak tanaman, bagian tanaman atau hasil pertanian.
2. Memberantas gulma
3. Mematikan daun dan mencegah pertumbuhan tanaman yang tidak diinginkan
4. Mengatur atau merangsang pertumbuhan tanaman atau bagian tanaman, kecuali yang tergolong pupuk
5. Memberantas dan mencegah hama luar pada ternak dan hewan peliharaan 6. Memberantas dan mencegah hama air
7. Memberantas dan mencegah binatang dan jasad renik dalam rumah tangga 8. Memberantas dan mencegah binatang yang menyebabkan penyakit pada
manusia atau binatang yang dilindungi dengan penggunaan pada tanaman, tanah, dan air (Apriani, dkk., 2019).
2.2.2.4.2 Logam Berat
Beberapa logam berat ternyata telah mencemari lingkungan melebihi batas yang berbahaya bagi kehidupan lingkungan, yaitu timbal dan merkuri. Polusi timbal (Pb) dapat terjadi di udara, air maupun tanah. Kandungan timbal di dalam tanah rata-rata 16 ppm, tetapi pada daerah-daerah tertentu mungkin dapat mencapai beberapa ribu ppm. Timbal yang mencemari udara terdapat dalam dua bentuk, yaitu berbentuk gas dan partikel-partikel. Gas timbal terutama berasal dari pembakaran
15
bahan aditif bensin dari kendaraan bermotor yang terdiri dari tetrastil Pb dan tetrametil Pb (Apriani, dkk., 2019).
Merkuri merupakan elemen alami, oleh karena itu sering mencemari lingkungan. Komponen merkuri banyak tersebar dikarang-karang, tanah, udara, air dan organisme hidup melalui proses-proses fisi, kimia dan biologi yang kompleks (Apriani, dkk., 2019).
2.2.2.4.3 Minyak dan Lemak
Minyak tidak larut oleh air, Oleh karena itu jika air tercemar oleh minyak maka minyak tersebut akan tetap mengapung. Pencemaran air oleh minyak sangat merugikan karena dapat menimbulkan hal-hal sebagai berikut :
1. Adanya minyak menyebabkan penetrasi sinar ke dalam air berkurang 2. Konsentrasi oksigen terlarut menurun dengan adanya minyak karena lapisan
film minyak menghambat pengambilan oksigen oleh air
3. Adanya lapisan minyak pada permukaan air akan mengganggu kehidupan burung-burung air karena burung yang berenang dan menyelam bulu-bulunya akan ditutupi oleh minyak sehingga kemampuannya untuk terbang juga menurun.
4. Penetrasi sinar dan oksigen yang menurun dengan adanya minyak dapat mengganggu kehidupan tanaman-tanaman laut, termasuk ganggang dan ikan (Apriani, dkk., 2019).
2.2.3 Parameter Biologi
Risiko terbesar dari mikroba di dalam air terkait kontaminasi air minum yang terkontaminasi tinja manusia dan binatang walaupun sumber dan jalur pajanan lain mungkin juga signifikan (Apriani, dkk., 2019).
16
Penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri patogen, virus, dan parasite merupakan risiko Kesehatan terkait air minum yang paling umum dan tersebar luas.
Beban kesehatan masyarakat ditentukan oleh tingkat keparahan penyakit yang dikaitkan dengan patogen, infektivitasnya dan populasi yang terpajan (Apriani, dkk., 2019).
2.2.3.1 Phytoplankton
Phytoplankton Sebagian besar bersel satu dan mikroskopik membentuk sejumlah besar rangkaian tumbuhan. Yang termasuk dalam phytoplankton adalah alga kuning-hijau, alga biru-hijau, dan alga coklat. Alga ini meliputi diatom, kokolitofoe, dan dinofiagell ta (Apriani, dkk., 2019).
Diatom keberadaan di perairan laut banyak jumlahnya hampir disemua lapisan lautan terutama di daerah dingin. Sedangkan kokolitofor berukuran nanoplankton (sangat kecil), umumnya berbentuk lempengan saling menjalin.
Dinoflagell ta keberadaan diperairan beraneka ragam yang memiliki flagell ta, yaitu cambuk yang memungkinkan untuk bergerak lemah (Apriani, dkk., 2019).
2.2.3.2 Zooplankton
Yaitu biota yang hidup dari lahir sampai mati sebagai plankton. Sebagai contoh mahluk hidup Crustacea yaitu, udang plankton, udang rebon, udang lusifer, atau udang korek api. Jenis crustacea yang termasuk dalam kelompok zooplankton adalah Cladocera, Ostracoda, dan copepoda (kutu laut) (Apriani, dkk., 2019).
2.2.3.3 Nekton
Adalah biota perairan yang dapat berpindah tempat dengan berenang atau dengan kata lain untuk mendapatkan makanan mereka harus memburu dan memangsa biota lain. Umumnya ukurannya lebih besar dari plankton, sebagai
17
contoh yang termasuk kedalam kelompok nekton adalah ikan bertulang rawan, ikan bertulang keras, penyu, ular air, dan hewan mamalia air. Kelompok nekton hanya terdiri dari hewan air tidak ada tumbuhan air karena tumbuhan tidak ada yang mampu berenang (Apriani, dkk., 2019).
2.2.3.4 Benthos
Adalah biota yang menempel, merayap dan membuat liang didasar perairan.
Maka untuk mengidentifikasi harus menggunakan alat khusus yang disebut grab.
Alat tersebut cukup berat karena terbuat dari besi baja (Apriani, dkk., 2019).
2.2.3.5 Bakteri dan Virus
Adalah mikroorganisme yang merugikan atau dengan kata lain keberadaannya mengganggu kehidupan lain atau juga disebut mikroorganisme patogen. Patogen yang sering ditemukan di dalam air adalah bakteri-bakteri penyebab infeksi saluran pencernaan seperti (Apriani, dkk., 2019).
a. Vibrio chlerae – penyebab penyakit kolera b. Shigella dysentreriae – penyebab disentri basile c. Salmonella thphosa – penyebab tifus
d. S.paratyphi – penyebab paratifus, virus polio dan hepatitis e. Entamoeba hisfolytica – penyebab disentri amuba.
Jumlah dan jenis mikroorganisme yang terdapat di dalam air bervariasi tergantung dari berbagai faktor. Faktor-faktor tersebut adalah :
a. Sumber air
b. Komponen nutrisi c. Komponen beracun d. Organisme air
18 e. Faktor fisi
Jumlah dan jenis mikroorganisme didalam air buangan selain dipengaruhi oleh faktor-faktor diatas juah dipengaruhi oleh jenis polutan air. Misalnya bakteri yang berasal dari kotoran hewan dan manusia seperti: Escherichia coli, sfreptokoki fekal, atau clostridium perfringens. Selanjutnya mikroorganisme yang terdapat pada air permukaan terutama adalah bakteri kromogenik seperti Serratia marcescens (merah), Flavobacterium aurantacum (oranye), Chromobacterrium violaceum (violet) dan Pssudomonas fluorescens (Apriani, dkk., 2019).
2.3 Kesadahan
Kesadahan merupakan suatu parameter untuk kualitas air bersih karena kesadahan menunjukkan ukuran tingkat pencemaran oleh kandungan mineral-mineral tertentu di dalam air, umumnya ion kalsium dan magnesium dalam bentuk garam karbonat. Kesadahan di dalam air sangat tidak dikehendaki baik untuk penggunaan industri. Kesadahan air dapat dibedakan atas 2 macam antara lain kesadahan sementara (temporer) atau kesadahan tetap (permanen) (Asmaningrum dan Pasaribu, 2016).
Kandungan Ca yang berlebih dalam air sumur akan menimbulkan tingkat kesadahan air. Air sadah akan menimbulkan penyakit ginjal pada manusia, dan terjadi pengendapan pada ketel tempat air direbus dan akan menghilangkan busa pada sabun, sehingga waktu mandi akan selalu licin. Kesadahan didefinisikan sebagai kemampuan air dapat mengendapkan sabun, sehingga keaktifan atau daya bersih sabun menjadi berkurang atau hilang sama sekali. Sabun adalah zat aktif permukaan yang dapat menurunkan tegangan permukaan air.sehingga air sabun dapat berbusa (Asmaningrum dan Pasaribu, 2016).
19
Kesadahan sementara disebabkan oleh garam-garam karbonat (CO2-) dan bikarbonat (HCO3-) dari kalsium atau magnesium. Kesadahan ini dapat dihilangkan dengan pemanasan atau penambahan kapur tohor. Kesadahan tetap disebabkan oleh garam-garam klorida (Cl-) dan sulfat (SO42-) dari kalsium atau magnesium. Kesadahan ini tidak dapat dihilangkan dengan pemanasan, tetapi hanya dapat dihilangkan dengan pertukaran ion. Menurut standar persyaratan kualitas air untuk diminum kandungan kalsium maksimum yang diperbolehkan sehingga air dapat dinyatakan sebagai air bersih adalah 500 mg/L(Asmaningrum dan Pasaribu, 2016).
Kesadahan yang disebabkan oleh kalsium dan magnesium biasanya menandakan adanya presipitasi (pengendapan) lapisan sabun dan kotoran (scum) dan kebutuhan untuk menggunakan sabun lebih banyak agar lebih bersih (Musiam, dkk., 2015).
Kesadahan merupakan sifat air yang disebabkan oleh adanya ion-ion (kation) logam valensi dua yang mampu bereaksi dengan sabun membentuk kerak air. Definisi dari kesadahan total adalah kesadahan yang disebabkan oleh adanya ion Ca2+ dan Mg2+ secara bersama-sama(4). Air berdasarkan tingkat kesadahannya diklasifikasikan sebagai berikut: kesadahan < 50 mg/L tergolong air lunak, 50-150 mg/L tergolong air menengah, 150-300 mg/L tergolong air sadah, dan > 300 mg/L merupakan air sangat sadah(5). Dampak yang ditimbulkan air sadah bagi kesehatan antara lain dapat menyebabkan penyumbatan pembuluh darah jantung, batu ginjal, dan hyperparatiroidsm (Musiam, dkk., 2015).
20 2.4 Titrimetri
Titrasi dilakukan dengan cara menambahkan sejumlah volume tertentu larutan standar yang diperlukan untuk bereaksi secara sempurna dengan larutan yang belum diketahui konsentrasinya. Untuk mengetahui bahwa reaksi berlangsung sempurna, maka digunakan larutan indikator yang ditambahkan kedalam larutan yang dititrasi (Wiryawan, dkk., 2008).
Metode ini masih digunakan karena tidak mudah terpengaruh oleh perubahan lingkungan yang kecil, mudah, dan mampu memberikan presisi yang tinggi. Keuntungan dari metode ini adalah tidak diperlukan tujukan berbeda dengan metode instrumental yang mengharuskan keberadaan bahan rujukan. Keterbatasan metode ini ialah kurang spesifik dan kurang sensitif sehingga memerlukan sampel dalam jumlah yang relatif banyak (Rohman, dkk., 2020).
Selesainya titrasi harus dapat diamati dengan perubahan yang dapat dilihat jelas, yakni dengan berubahnya warna atau terbentuknya endapan. Perubahan ini dapat diamati karena warna larutan bakunya sendiri atau dengan bantuan larutan yang disebut sebagai indikator. Saat terjadinya perubahan yang terlihat dan menandakan titrasi harus diakhiri disebut titik akhir titrasi yang menyatakan volume larutan baku yang terpakai dari buret sekian mililiter. Volume pada saat titik akhir titrasi inilah yang digunakan untuk perhitungan kadar analit secara titrimetri (Rohman, dkk., 2020).
21 BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN
3.1 Waktu dan Tempat Pengujian
Pengujian kesadaahan pada sampel air minum isi ulang di Jl. Susuk Padang Bulan, Kecamatan Medan Baru Kota Medan Sumatera Utara dilakukan Laboratorium Kesehatan Daerah Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara Jl.
Williem Iskandar Pasar V Barat No.4 pada tanggal 29-30 Juni 2021.
3.2 Metode Pengambilan Sampel
Pengambilan sampel dilakukan pada tanggal 26 Juni 2021, pengambilan sampel dilakukan secara acak sederhana, dikarenakan terbatasnya pengetahuan terhadap unsur-unsur populasi. Tidak terdapat keterangan sebelumnya yang dapat digunakan untuk menilai keadaan air minum isi ulang di jalan susuk (Sumargo, 2020)
3.3 Alat
Alat yang digunakan pada pengujian kesadahan yaitu beaker glass, buret 50 mL, erlenmeyer, gelas ukur 50 ml, pipet, pipet tetes, spatula, statif dan klem.
3.4 Bahan
Bahan yang digunakan adalah aquadest, indikator EBT, larutan baku Na2EDTA, larutan Buffer penyangga pH 10, sampel air minum isi ulang.
3.5 Prosedur
3.5.1 Prosedur Pembuatan Indikator Erichrome Black T
Ditimbang 200 mg Erichrome Black T dan 100 g Kristal NaCl, dicampur Erichrome Black T dengan Kristal NaCl, digerus campuran hingga mempunyai
22
ukuran 40 mesh sampai dengan 50 mesh, disimpan dalam botol yang tertutup rapat (SNI 06-6989.2004).
3.5.2 Prosedur Pembuatan Larutan Penyangga pH 10
Dilarutkan 16,9 g amonium klorida (NH4Cl) dalam 143 mL ammonium hidroksida (NH4OH) pekat, ditambahkan 1,25 g magnesium etilen diamin tetra asetat (Mg-EDTA), diencerkan dengan air suling hingga volumenya menjadi 250 mL (SNI 06-6989.2004).
3.5.3 Prosedur Pembuatan Larutan Na2EDTA 3.5.3.1 Pembuatan Larutan Na2EDTA
Dilarutkan 3,723 g Na2EDTA dihidrat dengan air suling di dalam labu ukur 1000 mL, ditambahkan air sampai 1000 mL (SNI 06-6989.2004).
3.5.3.2 Standarisasi Larutan Na2EDTA
Dipipet 10 ml larutan CaCO3 0,01 M, dimasukkan kedalam labu erlenmeyer 250 mL, ditambahkan 40 mL air suling dan 1 mL larutan penyangga pH 10, ditambahkan 30 sampai 50 mg indikator EBT, kemudian dititrasi dengan larutan Na2EDTA 0,01M sampai terjadi perubahan warna dari merah keunguan menjadi biru, dicatat volume larutan Na2EDTA yang digunakan, diulangi titrasi tersebut 3 kali, kemudian volume Na2EDTA yang digunakan dirata-ratakan, dihitung molaritas larutan baku Na2EDTA dengan menggunakan rumus (SNI 06-6989.2004).
23
𝑀𝐸𝐷𝑇𝐴 =𝑀𝐶𝑎𝐶𝑂3 𝑋 𝑉𝐶𝑎𝐶𝑂3 𝑉𝐸𝐷𝑇𝐴
Keterangan :
MEDTA = Molaritan larutan baku Na2EDTA VEDTA = Volume rata-rata larutan baku Na2EDTA
VCaCO3 = Volume rata-rata larutan CaCO3 yang digunakan MCaCO3 = Molaritas larutan CaCO3 yang digunakan
3.5.4 Prosedur Pengujian Kadar Kesadahan
Diambil 25 ml contoh uji secara duplo, kemudian dimasukkan kedalam Erlenmeyer 250 ml, diencerkan dengan air suling sampai volume 50 ml, ditambahkan 1 ml – 2 ml larutan penyangga pH 10 ± 0,1, ditambahkan seujung spatula 30 mg – 50 mg indikator EBT, lalu dilakukan titrasi dengan larutan Na2EDTA 0,01 M secara perlahan sampai terjadi perubahan warna merah keunguan menjadi biru, dicatat volume larutan baku Na2EDTA yang digunakan, diulangi
V cu : Volume larutan contoh uji (ml)
V EDTA : Volume rata rata larutan EDTA untuk titrasi M EDTA : Molaritas larutan baku EDTA untuk titrasi
24
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Hasil analisa kesadahan pada sampel air minum isi ulang Jl. Susuk yang dilakukan di UPT laboratorium Kesehatan Daerah Sumatera Utara adalah sebagai berikut :
Tabel 1. Hasil Perhitungan Kesadahan No Sampe
l
Volume EDTA Hasil Keterangan
1 A 1,6 64 mg/L Memenuhi Syarat
2 B 1,7 68 mg/L Memenuhi Syarat
3 C 1,6 64 mg/L Memenuhi Syarat
4,2 Pembahasan
Pada hasil pengujian kesadahan total yang terdapat pada ketiga sampel adalah 64 mg/L, 68 mg/L dan 64 mg/L. Kadar yang diperoleh memenuhi syarat menurut Permenkes RI No.492/MENKES/PER/IV/2010 yaitu tidak lebih dari 500 mg/L. Ini menunjukkan bahwa sampel air minum isi ulang yang terdapat diJl. Susuk Padang Bulan, Kecamatan Medan Baru Kota Medan Sumatera Utara layak dikonsumsi oleh masyarakat.
Tujuan dari penambahan pereaksi pada penelitian ini yaitu: dinatrium etilen diamin tetra asetat (EDTA) berfungsi untuk mengikat kation logam tertentu sehingga membentuk senyawa kompleks, sedangkan fungsi penambahan larutan penyangga pH 10 untuk membuat ion kalsium dan ion magnesium bereaksi dengan
25
indikator Eriochrome Black T (EBT) dan membentuk warna merah keunguan. (SNI 06-6989.2004).
Penelitian dilakukan secara duplo untuk kontrol ketelitian pada hasil yang didapatkan pada penelitian kesadahan pada air minum isi ulang (SNI 06-6989.2004).
Kesadahan sementara disebabkan oleh garam-garam karbonat (CO2-) dan bikarbonat (HCO3-) dari kalsium atau magnesium. Kesadahan ini dapat dihilangkan dengan pemanasan atau penambahan kapur tohor. Kesadahan tetap disebabkan oleh garam-garam klorida (Cl-) dan sulfat (SO42-) dari kalsium atau magnesium. Kesadahan ini tidak dapat dihilangkan dengan pemanasan, tetapi hanya dapat dihilangkan dengan pertukaran ion. Menurut standar persyaratan kualitas air untuk diminum kandungan kalsium maksimum yang diperbolehkan sehingga air dapat dinyatakan sebagai air bersih adalah 500 mg/L (Asmaningrum dan Pasaribu, 2016).
Penelitian mengenai uji kesadahan pada air minum pernah dilakukan oleh Mairzki (2016) di sekitar kampus Universitas Islam Riau dengan nilai kesadahan air minum berkisar 0,318-39,179 mg/L. Kadar kesadahan air minum ini lebih rendah dibandingkan hasil yang didapatkan pada penelitian ini sekitar 64-68 mg/L dan kedua kadar kesadahan ini masih memenuhi syarat yang terdapat pada Permenkes RI No.492/MENKES/PER/IV/2010 yaitu tidak lebih dari 500 mg/L.
26
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Hasil Analisis yang dilakukan terhadap ketiga sampel air minum isi ulang kesadahan total adalah 64 mg/L, 68 mg/L dan 64 mg/L dimana hasil dari kadar kesadahan ini memenuhi syarat kesadahan total dalam air minum menurut Permenkes RI No.492/MENKES/PER/IV/2010 yaitu tidak melebihi 500 mg/L.
5.2 Saran
1. Sebaiknya dalam percobaan analisis selanjutnya menggunakan sampel yang berbeda seperti air bersih pada parameter kesadahan total.
2. Sebaiknya dalam percobaan berikutnya dapat menggunakan sampel air minum isi ulang di daerah yang berbeda menggunakan metode yang berbeda seperti metode spektrofotometri uv-vis
27
DAFTAR PUSTAKA
Apriani, I .,Lestari, W., Abdillah, H .,Wawan.,Yusi.,R.R, A.,Amda, K. (2019).
Pengelolaan Kualitas Air. Temanggung.DESA PUSTAKA INDONESIA 1-3,30-55, 73-88, 144-145
Asmaningrum,H.P dan Pasaribu,Y.P. (2016). Penentuan Kadar Besi (Fe) dan Kesadahan pada Air Minum Isi Ulang di Distrik Merauke. MAGISTRA. 3(2) [BSN] Badan Standarisasi Nasional. (2004). SNI 06-6989-2004. Cara Uji
Kesadahan Total Kalsium (Ca) dan Magnesium (Mg) dengan Metode Titrimetri. Badan Standarisasi Nasional
Kusnaedi. (2010). Mengolah Air Kotor untuk Air Minum. Jakarta : Swadaya Mairziki, F. (2017). Analisis Kualitas Air Minum Isi Ulang Di Sekitar Kampus
Universitas Islam Riau. Jurnal Katalisator 2(1)
Musiam, S., Darmiani, S dan Putra, A.M.P. (2015). Analisis Kuantitatif Kesadahan Total Air Minum Isi Ulang Yang dijual di Wilayah Kayu Tangi Kota Banjarmasin. Jurnal Ilmiah Manuntung 1(2)
Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 492 tahun 2010, PERMENKES RI No 492/MENKES/PER/IV/2010 tentang Persyaratan Kualitas Air Minum Rahayu, A. (2010). Deteksi Adanya Bakteri Pada Air Minum Dalam Kemasan
Galon.
Rohman, A .,Martono, S .,Subjadi .,Mursyidi,A. (2020). Analisis Obat Secara Volumetir. Yogyakarta. Gadjah Mada University Press
Sasongko, E. B., Endang, W., dan Rawuh, E. P. (2014). Kajian kualitas air dan Penggunaan sumur gali oleh masyarakat di sekitar sungai kaliyasa kabupaten cilacap. Jurnal Ilmu Lingkungan. Volume 12 (2). Halaman : 72- 73.
Sumargo, B. (2020). Teknik Sampling. Jakarta Timur. UNJ PRESS
Wiryawan, A ., Retnowati,R dan Sabarudin A. (2008). Kimia Analitik. Jakarta.
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan
Wulandari, D.D. (2017). Analisa kesadahan total dan Kadar klorida air di kecamatan tanggulangin sidoarjo. MTPH Journal. Volume 9 (1).
Halaman : 15
28 Lampiran 1 Perhitungan Uji Kesadahan
1000
𝑉 𝑐𝑢 𝑋 𝑉 𝐸𝐷𝑇𝐴 𝑥 𝑀 𝐸𝐷𝑇𝐴 𝑋 100 Keterangan :
V cu : Volume larutan contoh uji (ml)
V EDTA : Volume rata rata larutan EDTA untuk titrasi M EDTA : Molaritas larutan baku EDTA untuk titrasi
Perhitungan
Sampel A = 1000
25 𝑋 1,6 𝑋 0,01 𝑋100
= 64mg/L
Sampel B = 1000
25 𝑋 1,7 𝑋 0,01 𝑋100
= 68mg/L
Sampel C = 1000
25 𝑋 1,6 𝑋 0,01 𝑋100
= 64mg/L
29
Lampiran 2 PERMENKES NO 492 TAHUN 2010
30 Lampiran 3 SNI 06-6989.12-2004
31 Lampiran 4 Bagan Alir
Penentuan Kadar Kesadahan pada Air Minum
Penentuan Kadar Kesadahan pada Air Minum
- Diambil 25 ml Sampel secara duplo - Dimasukkan kedalam Erlenmeyer 250 ml
- Diencerkan dengan air suling sampai 50 ml
- Ditambahkan larutan penyangga pH 10
± 0,1
- Ditambahkan Indikator EBT
- Dititrasi dengan larutan Na2EDTA 0,01 M
- Dicatat volume yang digunakan Hasil
Sampel A : 1,6 mg/L Sampel B : 1,7 mg/L Sampel C : 1,6 mg/L
32 Lampiran 5 Gambar Alat
Erlenmeyer 250 ml Pipet Matt
Gelas Ukur 50 ml
33 Lampiran 6 Gambar Bahan
Larutan penyangga pH 10 Larutan Na EDTA 0,01M
Sampel Air Indikator Eriochrome Black T
Hasil Titrasi