• Tidak ada hasil yang ditemukan

44

Budiman, “Pelaksanaan Salat Lima Waktu dan Mabit (Malam Bina Iman dan Taqwa) Untuk Meningkatkan Kesadaran Beribadah Siswa Studi di Mi Ulul Albaab Kelapadua Tangerang”. Skripsi, Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin, Banten, 2017, 82-83.

45

Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren Studi Tentang Pandangan hidup Kyai (Jakarta: LP3ES, 1990), 42.

37

Kesadaran adalah kesiagaan seseorang terhadap peistiwa-peistiwa di lingkungannya seperti pemandangan dan suara- suara dari lngkungan sekitarnya, serta peristiwa- peristiwa kognitif yang meliputi memori, pikiran, perasaan, dan sensasi-sensai fisik..46

Zeman (2001) menjelaskan tiga arti pokok kesadaran, yaitu (a) kesadaran sebagai kondisi bangun/terjaga. Kesadaran secara umum disamakan dengan kondisi bangun serta implikasi keadaan bangun. Implikasi keadaan bangun akan meliputi kemampuan mempersepsi, berinteraksi, serta berkomunikasi dengan lingkungan maupun dengan orang lain secara terpadu.Pengertian ini menggambarkan kesadaran bersifat tingkatan yaitu dari kondisi bangun, tidur sampai koma, (b) kesadaran sebagai pengalaman. Pengertian kedua ini menyamakan kesadaran dengan isi pengalaman dari waktu ke waktu: seperti apa rasanya menjadi seorang tertentu sekarang. Kesadaran ini menekankan dimensi kualitatif dan subjektif pengalaman, serta (c) kesadaran sebagai pikiran (mind). Kesadaran digambarkan sebagai keadaan mental yang berisi dengan halhal proposisional, seperti misalnya keyakinan, harapan, kekhawatiran, dan keinginan.47

b. Fungsi kesadaran

46

Robert L. solso, dkk, Psikologi Kognitif (Jakarta: Erlangga, 2007), 241.

47

38

Baars dan McGovern mengajukan sejumlah fungsi kesadaran. Fungsi yang pertama adalah fungsi konteks-setting, yakni fungsi di mana sistem-sistem bekerja untuk mendifinisikan konteks dan pengetahuan mengenai sebuah stimuli yang datang kesebuah memori. Fungsi berperan untuk menjernihkan pemahaman mengenai stimulus yang bersangkutan. Fungsi kedua adalah adaptasi dan pembelajaran, yang mendalilkan bahwa keterlibatan sadar diperlukan untuk menangani informasi baru dan sukses. Fungsi ketiga adalah fungsi prioritasi dan fungsi akses di mana kesadaran diperlukan untuk mengakses besarnya jumlah informasi yang tersedia di tingkat kesadaran. Fungsi yang ke empat adalah rekrutmen dan kontrol di mana kesadaran memasuki sistem-sistem motorik untuk menjalankan tindakan-tindakan sadar. Kelima adalah fungsi pengambilan keputusan dan fungsi eksekutif yang berperan membawa informasi dan sumber daya keluar dari ketidaksadaran untuk membantu pengambilan keputusan dan penerapan kendali. Fungsi keenam adalah deteksi dan penyunting kekeliruan. Fungsi ini berfokus pada kesadaran yang memasuki sistem norma kita yang berada ditataran tidak sadar. Sehingga kita dapat mengetahui saat kita membuat kekeliruan. Fungsi ketujuh monitor diri, dalam bentuk refleksi diri, percakapan internal, membantu kita mengendalikan fungsi-fungsi dan fungsi-fungsi tidak sadar dalam diri kita. Fungsi kedelapan, fungsi pengorganisasian dan fleksibilitas, fungsi ini memungkinkan kita mengandalkan fungsi-fungsi otomatis dalam situasi

39

yang telah dapat diprediksikan, namun sekaligus memungkinkan kita memasuki sumber daya pengetahuan yang terspesialisasi dalam situasi tidak terduga.48

c. Pengertian Ibadah

Secara bahasa ibadah berasal dari bahasa Arab ibadah bentuk masdar

dari ‘abada yang berarti taat, tunduk, mengikuti.49 Adapun ibadah menurut istilah berarti penghambaan diri yang sepenuh-penuhnya untuk mencapai keridhaan Allah dan mengharap pahala-Nya di akhirat. Menurut Ibnu Katsir, ibadah merupakan himpunan kesempurnaan cinta, tunduk, dan takut kepada Allah50

Ibadah dalam pengertian umum adalah menjalani kehidupan untuk memperoleh keridhaan Allah dengan menaati syariat-Nya. Apabila dikerjakan dengan tujuan memperoleh keridhoan Allah, segala perbuatan merupakan ibadah dalam arti umum. Menunaikan hak individu sesuai dengan perintah Allah dan Rasul-Nya seperti makan, minum, menuntut ilmu adalah ibadah. Menunaikan kewajiban-kewajiban kemasyarakatan sesuai dengan perintah Allah adalah ibadah. Member makan binatang yang

48Ibid., 251-252

49

Isnatin Ulfah, Fiqih Ibadah (Ponorogo: STAIN Po Press, 2009), 1.

50

Aunur Rahim Faqih dan Amir Mu’allim, Ibadah dan Akhlak dalam Islam (Yogyakarta: UII Press Indonesia, 1998), 2-3.

40

kelaparan adalah ibadah. Bekerja mencari nafkah untuk mencukupi kebutuhan adalah ibadah, dan lain sebagainya.51

d. Ruang Lingkup Ibadah

Ruang lingkup ibadah pada dasarnya digolongkan menjadi dua yaitu: 1) Ibadah umum, artinya ibadah mencakup segala aspek kehidupan dalam

rangka mencari keridhaan Allah. Unsur terpenting dalam melaksanakan segala aktivitas kehidupan di dunia ni agar benar-benar bernilai ibadah adalah niatyang ikhlas untuk memenuhi tuntutan agama dengan menempuh jalan yang halal dan menjauhi jalan yang haram.

2) Ibadah khusus, artinya ibadah yang macam dan cara pelaksanaannya

ditentukan dalam syara’ (ditentukan oleh Allah dan Nabi Muhammad

Saw.) ibadah khusus ini bersifat tetap dan utlak, manusia tinggal melaksanakan sesuai dengan peraturan dan tuntunan yang ada, tidak boleh mengubah, menambah, dan mengurangi, seperti tuntunan bersuci (wudhu), shalat, puasa ramadhan, ketentuan nisab zakat.52

Dalam pembahasan kali ini akan membahas tentang shalat dan shalat berjamaah, 1) Pengertian Shalat 51Ibid., 6. 52 Ibid., 7.

41

Kata shalat secara bahasa berarti do’a. sedangkan secara istilah

yaitu ucapan-ucapan dan gerakan-gerakan yang dimulai dengan takbiratul ikhram dan diakhri dengan salam. Adapun syarat-syarat shalat ada dua yaitu syarat wajib dan syarat sah shalat. Yang dimaksud syarat wajib shalat adalah suatu kondisi seseorang sehingga seseorang berkewajiban melaksanakan shalat. Ulama sepakat bahwa shalat hanya diwajibkan kepada orang yang beragama Islam, baik laki-laki maupun perempuan.53

Syarat sah shalat, ialah suatu kondisi di mana shalat seseorang dianggap sah jika ia melakukan syarat tersebut. Seseorang baru dianggap sah shalatnya jika ia: (a) mengetahui waktu shalat,(b) suci dari dua hadast baik kecil maupun besar, (c) suci badan, pakaian dan tempat dari najis, (d) menutup aurat, (e) menghadap kiblat.

2) Shalat Jama’ah

Shalat adalah kewajiban bersifat individual (fardl’ain) yang penyelenggaraannya disunatkan berjamaah (khususnya untuk salat

wajib-ed) seperti tercemin dalam hadis yang artinya,”salat berjamaah lebih

utama dengan nilai dua puluh tujuh derajat ketimbang shalat sendiri.”54 Dalam berbagai ayat Allah menyerukan kepada kita untuk memperkokoh jalinan tali silahturahmi, menanamkan kepekaan sosial.

53

Isnatin Ulfah, Fiqih Ibadah, 59-60.

54

Asep Muhyiddin, Salat Bukan Sekadar Ritual (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2006), 246.

42

Berjamaah adalah pintu masuk untuk menggapai solidaritas dan jalinan sosial itu untuk menompang Ukhuwah dan Ummah wahidah. “ Wahai

manusia, sesungguhnya kami telah menciptakan kamu dari seseorang laki-laki dan seorang perempuan, dan Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu menjadikan kamu saling mengenal. sesungguhnya yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah adalah yang

paling bertakwa” (QS. al- Hujurat/49:13).55

Hukum shalat berjamaah ialah sunat muakkadah (sunat yang dikuatkan), yaitu dibawah wajib dan di atas sunat biasa. Jadi bisa disimpulkan bahwa Shalat berjamaah itu lebih baik daripada sendirian dengan dua puluh tujuh derajat

e. Faktor kesadaran beribadah

Kesadaran ibadah adalah bagian atau segi yang hadir atau terasa dalam pikiran dan dapat dilihat gejalanya melalui introspeksi. Dapat dikatakan bahwa kesadaran beribadah adalah aspek mental atau aktivitas ibadah. Dari kesadaran beribadah tersebut akan muncul sikap keagamaan yang ditampilkan seseorang anak yang mendorongnya untuk bertingkah laku sesuai dengan ketaatannya pada agama yang dianutnya. Sikap tersebut muncul karena konsistensi antara kepercayaan terhadap agama sebagai unsur kognitif yang merupakan integrasi secara kompleks antara pengetahuan, perasaan serta tindakan beribadah dalam diri seorang anak.

55

43

Hal ini menujukkan bahwa kesadaran beribadah menyangkut dengan segala kejiwaan.56Faktor-faktor yang mempengaruhi kesadaran beribadah yaitu faktor pembawaan dan faktor lingkungan.

Dokumen terkait